← Daftar isi Efesus (1) · bab 15/24

JALAN UNTUK MENCAPAI STANDAR

Dalam berita yang lalu kita telah melihat standar orang beriman. Sekarang akan kita lihat jalan untuk mencapai standar ini.

Efesus 3:1 mengatakan, “Itulah sebabnya aku ini, Paulus, dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang bukan Yahudi.” Ayat ini bukan satu kalimat yang lengkap, mempunyai satu subyek, tetapi tanpa predikat. Semua ayat, dari 3:2 hingga 3:21 merupakan kata-kata sisipan, J.N. Darby menempatkan kata-kata itu da-lam tanda kurung dalam terjemahannya. Ini berarti 4:1 melanjutkan jalan pikiran Paulus dalam 3:1. Sewaktu Paulus menulis Surat Kiriman ini, suatu beban timbul di batinnya, karena itu dalam 3:2 ia menuturkan kata-kata sisipan tersebut. Setelah itu dilanjutkannya dalam 4:1, “Sebab itu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Di sini Paulus melengkapi pemikiran yang mulai diekspresikannya dalam 3:1. Jadi, bila kita menggabungkan 3:1 dengan 4:1, barulah kita beroleh suatu jalan pikiran yang lengkap. Kata-kata sisipan yang panjang di antara 3:1 hingga 4:1 merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan dalam Kitab Efesus. Dalam bagian ini Paulus menunjukkan betapa ia mendambakan semua orang beriman menjadi serupa dengannya. Sebagai orang-orang yang hidup sepadan dengan panggilan Allah, kita harus mengambil Paulus sebagai standar kita. Untuk berbuat demikian, Paulus menampilkan dirinya sendiri sebagai satu contoh. Dalam pasal 3 Paulus tidak berbicara sebagai seorang rasul yang dipanggil Allah, tetapi sebagai seorang tawanan Tuhan. Sebagai tawanan yang sedemikian, dia adalah contoh standar dari setiap orang yang hidupnya sepadan dengan panggilan Allah. Dalam Efesus 3 Paulus tidak hanya menampilkan standarnya, tetapi juga menunjukkan jalan untuk mencapai standar itu. Marilah kita lihat lebih rinci berbagai aspek dari jalan tersebut.

KEPENGURUSAN YANG UNIVERSAL

Pertama-tama haruslah kita semua menjadi pengurus rumah tangga Allah, seperti halnya Paulus (3:2). Kepengurusan tidak terbatas pada para rasul utama, melainkan bersifat universal, yakni untuk semua murid Tuhan. Sebagai contoh, perumpamaan pengurus dalam Lukas 16 dikatakan kepada murid-murid. Ini menandakan bahwa setiap orang beriman, termasuk kita harus menjadi pengurus. Saya percaya, ketika Paulus mengatakan masalah kepengurusan dalam 3:2, ia menyadari dalam batin bahwa hal itu untuk seluruh orang beriman.

Dalam Efesus 3 Paulus mengembangkan satu konsepsi yang dikemukakan Tuhan Yesus dalam keempat kitab Injil. Keempat kitab Injil mewahyukan bahwa seluruh orang beriman adalah pengurus dan hamba (Mat. 25:14-30). Menurut keempat kitab Injil, seorang budak tidak berbeda dengan seorang hamba dan pengurus. Maka menurut konsepsi dalam Efesus 3, bukan para rasul saja yang pengurus dan hamba, semua orang beriman pun pengurus dan hamba.

Karena pengaruh latar belakang dan lingkungan agamawi, maka tidak banyak orang Kristen yang menganggap diri mereka sebagai pengurus. Apakah Anda nampak bahwa Anda tidak saja seorang beriman, yang percaya Tuhan agar beroleh selamat? Tidak hanya demikian, apakah Anda nampak bahwa Anda pun tidak hanya seorang murid yang berdisiplin dan dilatih? Apakah Anda nampak bahwa Anda seorang pengurus yang melayani orang lain dengan kekayaan Kristus? Kita semua wajib menganggap diri kita sendiri para pengurus. Jika kita memiliki konsepsi ini, seluruh hidup kristiani kita akan berubah. Kita semua adalah pengurus, bahkan kita dapat disebut pelayan yang menyalurkan (membagi-bagikan) kekayaan Kristus sebagai makanan kepada orang lain. Gereja adalah “dapur” di mana semua makanan ini dipersiapkan. Kalau Anda tidak memiliki apa-apa untuk melayani atau menyuplai orang lain, Anda boleh datang ke “dapur” ini untuk menerima suplai.

MENERIMA ANUGERAH

Karena kepengurusan kita adalah kepengurusan anugerah Allah, maka kita perlu menerima anugerah, bahkan anugerah yang melimpah. Ya, kita semua memang dapat menjadi utusan Allah dan juru bicara-Nya. Namun, untuk memenuhi fungsi demikian, kita wajib memiliki anugerah. Yohanes 1:16 mengatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.”

Kita sudah menunjukkan bahwa semua orang beriman adalah pengurus. Lagi pula, sebagai pengurus, kita telah menerima suplai yang berasal dari “dapur” yang terbaik. Akan tetapi, ketika kita berkontak dengan para “pelanggan”, apakah yang akan kita suplaikan? Kita harus menyuplai mereka dengan anugerah yang telah kita terima itu.

Mungkin Anda bertanya bagaimana Anda dapat me-nerima anugerah secara riil. Untuk ini kita harus masuk ke dalam firman Tuhan dan berdoa dengan firman itu. Masuk ke dalam firman berarti menerima anugerah, dan berdoa dengan firman berarti menjamah realitas. Setelah masuk ke dalam firman dan berdoa dengan firman, kita perlu berjalan dalam roh menurut firman. Jika kita setiap hari melakukan ketiga hal ini, kita akan menerima suplai anugerah yang terus-menerus. Dengan anugerah ini, kita akan diterangi dan akan mengalami realitas Allah sebagai anugerah. Anugerah ini dengan spontan akan menghubungkan kita dengan gereja, dan memberi kita suatu hubungan vital dengan “dapur” itu. Dengan cara inilah kita akan menjadi seorang pengurus yang tepat.

Kalau kita mengatakan kita adalah rasul, nabi, penginjil dan gembala serta pengajar, tetapi kita tidak memasuki firman, berdoa, dan berjalan dalam roh menurut firman, kita hanya memiliki suatu sebutan yang kosong. Kita tidak akan mempunyai realitas, dan mustahil mencapai standar yang Paulus tetapkan itu.

Dalam berdoa, kita tidak seharusnya memperhatikan hal-hal yang sepele. Sebagai contoh, jangan berdoa untuk soal kecil tentang kesehatan atau temperamen Anda. Se-makin Anda berdoa untuk temperamen Anda, Anda akan semakin diganggu olehnya. Berdoalah dengan firman, khususnya dengan pasal-pasal seperti Efesus 3 ini. Kita harus berdoa sampai firman ini masuk dan memenuhi kita. Ketika firman masuk ke dalam kita dan Roh itu memenuhi roh kita, dengan spontan hidup sehari-hari kita akan menjadi sepadan dengan panggilan Allah. Kemudian kita akan berjalan dalam roh menurut firman itu, dan kita akan menerima dan mengalami anugerah. Melalui menerima anugerah secara demikian, barulah kita akan dibawa ke standar yang didirikan oleh Paulus itu.

MENERIMA WAHYU

Untuk mencapai standar, kita perlu menerima wahyu (3:3, 5). Seorang nabi adalah seorang yang penuh terang, dan yang melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Mereka yang dalam kegelapan tidak dapat mengatakan apa-apa, tetapi mereka yang ada di dalam terang pasti memiliki banyak hal untuk dikatakan. Kapan saja kita nampak sesuatu melalui wahyu, dengan otomatis kita akan mempunyai sesuatu untuk dibicarakan. Bila kita ingin menjadi seorang utusan dan nabi hari ini, kita harus menerima anugerah dan wahyu.

Melalui menerima anugerah dan wahyu, dengan spontan kita akan berbeban untuk berkontak dengan orang lain. Seorang yang setiap hari masuk ke dalam firman dan yang senantiasa berdoa akan berbeban untuk berbicara kepada orang lain tentang apa yang telah dilihat dan dialaminya. Paling tidak ia akan ingin sekali menelepon seseorang. Jangan mengira anugerah dan wahyu yang Anda terima mengizinkan Anda menjadi pasif atau tidak aktif. Tidak, anugerah dan wahyu akan memberi Anda beban untuk pergi kepada orang lain dan melayani mereka. Inilah dengan riil menjadi seorang rasul dan nabi. Tidak ada gunanya saya atau orang lain menyuruh Anda menjadi utusan atau juru bicara yang sedemikian. Satu-satunya hal yang berguna adalah masukilah firman, berdoalah, dan terimalah anugerah dan wahyu. Begitu Anda diterangi Tuhan, Anda akan sangat ingin memberi tahu orang lain tentang apa yang telah Anda lihat.

Jadi cara untuk menerima wahyu ialah memasuki firman. Saya yakin Paulus menerima wahyu melalui mempelajari Perjanjian Lama. Karena ia meluangkan begitu banyak waktu dalam firman Tuhan, maka wahyu itu diterimanya melalui firman. Akan tetapi, orang-orang Farisi tidak dapat menerima wahyu dari firman, karena mereka tertutup dan tidak taat. Namun Paulus terbuka. Semua selubung yang menutupinya telah disingkapkan oleh Tuhan. Ketika kita menghampiri firman, kita harus mohon Tuhan menyingkirkan selubung dari mata kita. Walau kita tidak tahu selubung apa yang masih ada pada diri kita, Tuhan tahu, dan Ia berkenan menyingkirkannya. Kita perlu berdoa “Tuhan, aku menghampiri firman-Mu. Singkirkanlah segala sesuatu yang menyelubungi mataku, dan buatlah firman-Mu terbuka kepadaku.” Jika kita berdoa demikian, terang akan masuk ke dalam kita, dan kita akan menerima wahyu. Kemudian, kita akan berbicara kepada orang lain menurut terang yang telah kita terima dari Tuhan. Pembicaraan yang demikian akan penuh dengan terang ilahi, dan sangat mengejutkan orang yang agamis. Oh, orang-orang dalam gereja perlu dipenuhi te-rang dan wahyu!

MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG WAJAR

Setelah kita menerima wahyu, kita tidak boleh memperhatikan hal-hal kecil, misalnya pembasuhan kaki, cara pembaptisan, atau ukuran cawan dalam perjamuan Tuhan, dan sebagainya. Saya merasa tidak nyaman ketika orang kudus hanya bertanya tentang hal-hal yang sekunder, namun mengabaikan masalah kehendak kekal Allah dan ekonomi Allah. Suatu kali saya mengunjungi tempat tertentu, yang orang-orangnya semestinya sangat rohani. Selama sidang persekutuan yang diadakan untuk tanya jawab, saya sangat dikecewakan oleh pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Saya diminta menjawab pertanyaan tentang hal-hal sepele, tetapi tidak seorang pun yang menanyakan hal-hal yang bermakna, misalkan tentang perbedaan antara rahasia Kristus dan rahasia Allah.

Pertanyaan yang kita tanyakan menunjukkan di mana dan apa kita ini. Sebagai contoh, banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh cucu-cucu saya yang kecil yang tidak bermakna. Saya tidak bisa berharap mereka bertanya tentang masalah yang dalam. Untuk mengajukan suatu pertanyaan yang tinggi, kita harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup banyak. Ketika kita membaca Efesus 3, kita perlu mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Di sini ada beberapa pertanyaan yang harus kita ajukan: Apa itu kepengurusan anugerah? Apa itu rahasia Kristus? Apa itu ahli waris bersama? Apa itu kekayaan Kristus yang tidak terduga? Apa itu ekonomi rahasia? Apakah perbedaan antara zaman dan angkatan? Apakah tujuan zaman? Apakah artinya dikuatkan ke dalam insan batiniah? Bagaimana Kristus dapat berumah di dalam hati kita? Bila kita mencari jawaban dari semua pertanyaan seperti ini, kita akan menerima wahyu.

Setelah kita menerima terang dan wahyu untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kita akan memiliki banyak perkataan untuk dibagikan kepada orang lain. Kita yang berada dalam pemulihan Tuhan harus menjadi orang-orang yang berbicara, yaitu yang berbicara dari hari ke hari, karena kita telah nampak wahyu. Semakin kita nampak, kita akan semakin senang berbicara. Inilah sebabnya saya selalu mempunyai sesuatu untuk dibicarakan dalam ministri ini. Sesungguhnya, semakin saya berbicara, semakin banyak perkataan untuk saya bicarakan. Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berbicara demikian, kita perlu menerima wahyu. Semua orang kudus harus menerima wahyu, bukan hanya para rasul utama itu saja.

PELAYAN INJIL

Dalam 3:7 Paulus mengatakan, “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya (minister) menurut pemberian (karunia) anugerah Allah...” Seperti telah kita tunjukkan dalam berita terdahulu, seorang minister adalah orang yang melayani. Karena itu kita bukan hanya menjadi pengurus, juga menjadi minister yang melayani orang lain.

Kata “Injil itu” dalam ayat 7 ditujukan kepada Injil dalam ayat 6. Ini menunjukkan bahwa Paulus menjadi minister Injil, orang yang melayani orang lain dengan Injil. Kita pun menjadi minister-minister Injil. Injil ini tidak berhubungan dengan surga, melainkan dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah (bukan Yahudi) yang menjadi “ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (3:6). Injil yang dikatakan dalam ayat 6 berhubungan dengan hal turut menjadi ahli waris, anggota Tubuh, dan peserta janji. Semua orang kudus dapat menjadi minister Injil yang demikian tinggi dan kaya.

Kita perlu memberitakan Injil yang tinggi kepada orang tua, tetangga, dan teman-teman kita, memberi tahu mereka tentang turut menjadi ahli waris dan peserta janji dalam Kristus. Bila mereka mendebat Anda secara negatif, teruslah berbicara dengan positif tentang apa yang telah Anda lihat dalam Kitab Efesus. Jangan khawatir kalau mereka tidak dapat mengerti Anda. Kalau Anda secara teratur berbicara kepada mereka dengan wajar, pada akhirnya mereka akan mengerti juga apa yang Anda katakan. Marilah kita berbicara kepada orang lain dengan Kitab Efesus.

DIKUATKAN KE DALAM INSAN BATINIAH

Bila kita ingin mencapai standar yang ditetapkan Rasul Paulus, seluruh diri kita perlu dikuatkan ke dalam insan batiniah. Melalui diteguhkan ke dalam insan batiniah, kita akan berakar dan berdasar dalam kasih, dan akan menjadi kuat untuk memahami dimensi-dimensi Kristus, memahami kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan, dan dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah (3:16-19). Paulus adalah orang yang seluruh dirinya dikuatkan ke dalam insan batiniah. Karena itu, ia telah berakar dan berdasar dalam kasih, dan memahami dimensi-dimensi Kristus serta kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan. Bagaimana kita? Paulus berdoa agar kita dapat dikuatkan ke dalam insan batiniah, supaya pada akhirnya kita dapat dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Dalam Efesus 3 kita nampak bahwa Paulus mendambakan semua orang kudus menjadi serupa dengannya. Dalam ayat 2 hingga 9 ia mengatakan hal ini dari satu sudut, dan dalam ayat 16 hingga 19 ia menjelaskannya dari sudut lain. Ditinjau dari satu sudut, kita adalah pengurus, kita telah menerima anugerah, kita telah nampak wahyu rahasia dan kita adalah minister-minister Injil yang tinggi. Kita menyuplaikan kekayaan Kristus agar gereja dapat terwujud dengan riil. Ditinjau dari sudut lain, kita perlu dikuatkan ke dalam insan batiniah, supaya kita dapat berakar dan berdasar dalam kasih dan dapat menjadi kuat untuk memahami dimensi-dimensi Kristus, memahami kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan, dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Dari kedua sudut ini, kita perlu serupa dengan Paulus. Bila kita serupa dengannya, hidup kita akan sepadan dengan panggilan Allah, sebab kita akan mencapai standar sebagai seorang beriman.

Ketika akan menasihati orang kudus untuk hidup sepadan dengan panggilan Allah, Paulus berbeban memberikan kata-kata sisipan yang tercantum dalam 3:2-21. Dalam bagian sisipan ini Paulus menampilkan dirinya sendiri sebagai standar orang beriman yang normal dan wajar dalam Kristus. Dialah orang yang telah menerima anugerah, seorang pengurus, yang telah nampak wahyu, dan yang telah menjadi minister Injil yang tinggi. Dialah yang memberitakan kekayaan Kristus sebagai Injil untuk menghasilkan gereja. Sebagai orang yang sedemikian, ia telah diteguhkan ke dalam insan batiniah, ia telah berakar dan berdasar dalam kasih, ia telah memahami dimensi-dimensi Kristus dan kasih Kristus, dan ia telah dipenuhi di dalam kepenuhan Allah, yaitu gereja, ekspresi Allah Tritunggal. Hari ini kita semua dapat menjadi orang-orang yang sedemikian. Terpujilah Tuhan, dalam Efesus 3 kita tidak saja ada standar, juga ada jalan untuk mencapai standar itu!