DASAR KESATUAN KITA
Dalam menasihati kita untuk melindungi kesatuan (Ef. 4:3), rasul menunjukkan tujuh hal yang membentuk dasar kesatuan kita: satu Tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa. Tujuh “satu” ini terbagi menjadi tiga kelompok. Tiga yang pertama membentuk kelompok pertama, yaitu tentang Roh dengan Tubuh sebagai ekspresi-Nya, dan berkaitan dengan satu pengharapan. Setelah dilahirkan kembali dan dijenuhi dengan Roh sebagai esensnya, Tubuh ini memiliki pengharapan diubah ke dalam keserupaan yang penuh akan Kristus. Tiga yang berikutnya membentuk kelompok kedua, yaitu tentang Tuhan dengan iman dan baptisan, supaya kita dapat disatukan dengan-Nya. Yang terakhir membentuk kelompok ketiga, satu Allah dan Bapa, yang merupakan Perintis dan sumber dari segala sesuatu. Roh sebagai Pelaksana Tubuh, Putra sebagai Pencipta Tubuh, dan Allah Bapa sebagai Perintis Tubuh — ketiga dari Allah Tritunggal — semuanya berhubungan dengan Tubuh. Yang Ketiga dari Trinitas disebutkan lebih dulu, karena perhatian utama di sini adalah Tubuh, dan Roh itu merupakan esens, hayat, dan suplai hayat Tubuh. Aliran itu kemudian menyusur kembali kepada Putra dan kepada Bapa.
I. KELOMPOK PERTAMA,
BERKAITAN DENGAN ROH
A. Satu Tubuh
Ayat 4 mengatakan, “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu.” Tubuh disebut mendahului Roh, karena kesatuan di antara kita berkaitan dengan Tubuh, bahkan untuk Tubuh. Alasan perlunya kita memelihara kesatuan adalah karena kita semua merupakan satu Tubuh.
B. Satu Roh
Antara satu Roh dengan satu pengharapan terdapat suatu kaitan yang dalam. Jika kita tidak nampak kaitan ini, kita tidak mungkin mengetahui mengapa Paulus menempatkan satu Roh dan satu pengharapan bersama-sama dengan satu Tubuh. Roh adalah esens dari satu Tubuh itu. Tanpa Roh, Tubuh akan hampa dan tidak memiliki hayat. Tubuh di sini adalah Tubuh Kristus, dan esens Tubuh Kristus adalah Roh itu. Karena itu, Tubuh dan esens Tubuh adalah satu. Tubuh Kristus tidak mungkin memiliki lebih dari satu esens. Esens Tubuh yang unik ialah Roh.
Roh berada dalam Tubuh. Satu Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Ayat ini mewahyukan bahwa satu Roh itu tidak saja sebagai esens Tubuh, juga sebagai hayat dan suplai hayat Tubuh. Tanpa satu Roh itu, Tubuh akan menjadi satu mayat.
C. Satu Pengharapan
Pengharapan dalam ayat 4 adalah pengharapan kemuliaan (Kol. 1:27). Sebagai orang yang telah diselamatkan, kita mempunyai pengharapan bahwa pada suatu hari Tuhan Yesus akan datang sebagai pengharapan kemulia-an, dan melalui Dia tubuh kita yang hina akan ditransfigurasi (diubah bentuk) (Flp. 3:21). Di satu pihak, kita menghargai tubuh kita karena ia berguna, dan tanpa tubuh, kita tidak dapat hidup di dunia ini. Tetapi di pihak lain, tubuh kita juga sangat mengganggu, karena sering lemah dan mudah sakit. Karena itu, kita, kaum beriman dalam Kristus mempunyai pengharapan, pada suatu hari tubuh kita yang mengganggu ini akan ditransfigurasi (diubah bentuk) secara metabolis oleh Kristus, menjadi tubuh yang mulia.
Kalau Anda sulit mempercayai bahwa tubuh kita yang hina akan ditransfigurasi (diubah bentuk) menjadi tubuh yang mulia, saya minta Anda memikirkan proses yang dialami sebutir benih bunga anyelir untuk menghasilkan bunga. Benih itu sendiri tidak cantik, tetapi melalui tertanam ke dalam tanah dan bertumbuh dengan normal, benih itu akan berubah bentuk menjadi satu tanaman yang berbunga indah. Berbicara tentang transfigurasi Tubuh dalam 1Korintus 15, Paulus mengumpamakan tubuh kita seperti benih (ayat 35-44). Kita mempunyai pengharapan yang pasti bahwa suatu hari, “benih” ini akan berbunga.
Menurut Roma 8, pengharapan kita juga menyiratkan penyataan kita sebagai putra-putra Allah. Hari ini kita menjadi putra-putra Allah, namun keputraan kita masih tersembunyi, bahkan agak misterius. Karena demikian, maka orang dunia memperlakukan kita sama seperti orang lainnya. Mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa kita ini putra-putra Allah. Namun saatnya akan tiba, keputraan kita itu akan dinyatakan. Ketika itu, tidak perlu lagi kita memberi tahu orang lain bahwa kita adalah orang Kristen. Semua orang akan nampak dengan jelas bahwa kita adalah putra-putra Allah dalam kemuliaan. Penyataan putra-putra Allah ini juga berarti pemuliaan putra-putra Allah. Inilah pengharapan kita.
Baik transfigurasi tubuh kita maupun penyataan kita sebagai putra-putra Allah, semua bukan suatu kejadian yang mendadak atau yang di luar dugaan. Sebaliknya, keduanya itu sudah berlangsung secara bertahap pada hari ini juga. Ya, memang transfigurasi dan penyataan itu di satu pihak akan terjadi secara mendadak, tetapi menurut kebenaran Perjanjian Baru dan menurut pengalaman kita, hal tersebut juga merupakan suatu proses bertahap, yang hari ini melibatkan diri kita. Proses ini berlangsung melalui satu Roh, yang menjadi esens, hayat, dan suplai hayat Tubuh Kristus. Roh itu sekarang juga sedang bekerja di batin kita untuk mentransfigurasi kita dan menyatakan keputraan kita. Itulah sebabnya Paulus mengaitkan satu pengharapan dan satu Roh dengan satu Tubuh.
Sebagai kaum beriman, kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus. Walaupun Anda menjadi salah satu anggota Tubuh, sudah puaskah Anda dengan keadaan Anda? Kalau kita jujur, kita akan mengakui situasi dewasa ini, baik pada diri kita sendiri maupun pada gereja sungguh kurang memuaskan. Kita perlu ditransfigurasi. Dalam kita sebagai anggota Tubuh dan dalam Tubuh keseluruhannya terdapat satu Roh yang menjadi esens Tubuh, hayat, dan suplai hayat Tubuh. Roh itu tidak tidur atau malas, sebaliknya Ia sedang aktif bekerja dengan kuatnya dalam batin kita untuk membawa kita menuju sasaran, yaitu penggenapan pengharapan panggilan kita. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa transfigurasi tubuh bukan terjadi secara mendadak. Hari ini Roh yang berhuni di batin kita sedang terus melaksanakan transfigurasi tubuh dan penyataan putra-putra Allah. Karena kita berada dalam proses transfigurasi dan penyataan, maka pengangkatan tidak seharusnya merupakan suatu kejutan, melainkan suatu pengalaman yang normal.
Ayat 4 menyiratkan Roh yang berhuni di batin kita hari ini sedang melaksanakan proses membawa Tubuh Kristus ke dalam kemuliaan sebagai penggenapan pengharapan kita. Karena itu, dalam ayat ini kita memiliki satu Tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan. Berhubung kita semua berada dalam satu Tubuh dengan satu Roh dan memiliki satu pengharapan, maka kita adalah satu. Tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi berbeda, kita adalah satu Tubuh, dan kita memiliki satu Roh yang sedang bekerja di batin kita untuk membawa kita ke sasaran pengharapan kita.
II. KELOMPOK KEDUA,
BERKAITAN DENGAN TUHAN
A. Satu Tuhan
Ayat 5 mengatakan, “Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.” Ayat ini tidak mengatakan “satu Putra”, tetapi “satu Tuhan”. Dalam Injil Yohanes, kita percaya ke dalam Putra (Yoh. 3:16), tetapi dalam Kisah Para Rasul kita percaya ke dalam Tuhan (Kis. 16:31). Dalam surat-surat Yohanes, Putra adalah untuk membagikan hayat (1Yoh. 5:12), sedangkan dalam Kisah Para Rasul, setelah kenaikan-Nya, Tuhan adalah untuk melaksanakan kekuasaan (Kis. 2:36), masalah yang menyangkut jabatan-Nya sebagai Kepala. Di sini, sebagai Kepala Tubuh (Ef. 1:22), Dialah Tuhan. Jadi kepercayaan kita kepada Kristus berkaitan dengan hayat dan otoritas. Tetapi, jarang orang Kristen yang memahami bahwa mereka harus percaya Tuhan sebagai otoritas maupun hayat. Sebagai orang-orang dosa yang tersesat, kita tidak saja telah mati secara rohani, kita juga tanpa Tuhan, yakni tanpa kepala. Namun setelah kita percaya Tuhan, kita memiliki keduanya — hayat dan kepala.
Dalam Kitab Efesus, keesaan Tubuh tidak hanya berhubungan dengan hayat juga dengan jabatan kepala. Orang-orang Kristen terbagi-bagi karena mereka mengabaikan Kepala. Dalam ayat 4 Paulus membahas hayat yang erat hubungannya dengan Roh. Tetapi dalam ayat 5 ia membahas otoritas. Hari ini, tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan hayat, dan lebih sedikit lagi yang memperhatikan otoritas. Demi rahmat dan anugerah Tuhan, dalam pemulihan Tuhan kita memperhatikan hayat dan jabatan kepala. Kita tidak hanya memiliki satu Tubuh dengan satu Roh dan satu pengharapan, tetapi juga satu Tuhan dengan satu iman dan satu baptisan.
B. Satu Iman
Dalam Perjanjian Baru iman mengacu kepada tindakan percayanya kita dan isi dari apa yang kita percayai. Sebagai tindakan percayanya kita, iman itu bersifat personal dan subyektif. Namun sebagai isi dari apa yang kita percayai, iman bersifat obyektif. Satu iman yang tercantum dalam ayat 5 bukan tindakan percayanya kita secara pribadi, melainkan sasaran iman kita.
Sebagai orang Kristen mungkin kita berbeda dalam berbagai macam doktrin, tetapi kita semua memiliki satu iman. Kita semua percaya Persona Tuhan Yesus dan pekerjaan penebusan-Nya. Kita percaya bahwa Kristus itu Putra Allah dan telah berinkarnasi menjadi seorang ma-nusia, dan Ia telah mati di atas salib untuk menebus kita, lalu pada hari ketiga Ia telah bangkit, dan Ia telah naik ke surga. Iman yang unik ini dimiliki oleh segenap orang Kristen yang sejati.
Melalui iman inilah kita disatukan dengan Kristus. Asalkan seorang percaya kepada Persona dan pekerjaan Yesus Kristus, Putra Allah, ia telah menjadi satu dengan Kristus. Sebelumnya ia berada di luar Kristus, tetapi kini ia berada dalam Kristus. Kristus ini adalah Tuhan kita, Kepala kita, dan kita berada di bawah otoritas-Nya. Kita adalah anggota-anggota Tubuh-Nya, dan Dia adalah Kepala kita.
Jika kita ingin memelihara kesatuan, kita harus memperhatikan hayat dan otoritas. Roh pemberi-hayat sedang bekerja di batin kita, agar kita dapat ditransformasi dalam jiwa, ditransfigurasi dalam tubuh, dan dinyatakan sepenuhnya sebagai putra-putra Allah. Semua ini adalah masalah hayat. Tetapi dalam batin kita tidak saja ada Roh pemberi-hayat, juga ada Tuhan sebagai Kepala Tubuh. Karena itu, kita harus taat kepada wewenang dan kekepalaan Kristus.
C. Satu Baptisan
Melalui iman, kita percaya ke dalam Tuhan (Yoh. 3:36), dan melalui baptisan kita dibaptis ke dalam-Nya (Gal. 3:27; Rm. 6:3), dan diakhiri dalam Adam (Rm. 6:4). Melalui iman dan baptisan, kita telah dipindahkan keluar dari Adam ke dalam Kristus, dan dengan demikian menjadi satu dengan Tuhan (1Kor. 6:17).
Realitas baptisan terdapat dalam mengenal dan mengakui bahwa insan alamiah kita telah disalibkan dan dikubur. Maka baptisan ialah realisasi kematian, penguburan, dan kebangkitan. Melalui iman kita bersatu dengan Kristus, dan dalam Kristus kita disalibkan, dikubur, dan bangkit. Segera setelah kita percaya ke dalam Kristus, kita harus dibaptis sebagai satu kesaksian dari realisasi kita atas fakta tersebut. Baptisan selalu mengikuti iman. Melalui baptisan kita mengalami perpindahan yang lengkap dan menyeluruh dari Adam ke dalam Kristus. Sekarang kita berada dalam Kristus. Sekarang kita berada dalam Kristus yang menjadi hayat dan Tuhan kita, tidak lagi berada dalam Adam atau dengan Adam sebagai kepala kita. Kita berada dalam Kristus, dengan Kristus sebagai Kepala kita. Berhubung Tuhan, iman, dan baptisan berkaitan sedemikian rupa, maka Paulus menyebut mereka berurutan dalam ayat 5.
III. SATU ALLAH DAN BAPA DARI SEMUA
Ayat 6 mengatakan, “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Allah adalah Perintis segala sesuatu, dan Bapa adalah sumber hayat bagi Tubuh Kristus. Dalam ayat 4 kita mempunyai hayat; dalam ayat 5 kekepalaan, dan ayat 6 asal-usul atau sumber. Karena setiap perkara ada sumbernya, maka dapatlah kita menyusurinya hingga ke asalnya. Akan tetapi, hari ini kebanyakan orang Kristen sangat dangkal, mereka tidak memperhatikan asal-usul atau sumber perkaranya. Sebaliknya, dalam kehidupan gereja kita harus memiliki pembedaan yang bijaksana. Ini berarti kita harus memperhatikan masalah hayat, kekepalaan, dan sumber atau asal-usul. Jika kita menyusuri sesuatu hingga ke sumbernya, kita tidak sampai tertipu atau tersesat.
Rasul Paulus adalah seorang pengamat yang bijaksana, karena ia menerima daya pembeda yang tajam dari Tuhan. Mulai dari satu Tubuh, Paulus menyusurinya hingga ke satu Allah dan Bapa. Ini berarti ia kembali kepada sumber dan asal-usul itu sendiri.
Dalam ayat 6 Paulus mengatakan tentang satu Allah dan Bapa, “Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Pemikiran Trinitas tersirat di sini. “Di atas semua” terutama mengacu kepada Bapa, “melalui semua” mengacu kepada Putra, dan “di dalam semua” mengacu kepada Roh itu. Allah Tritunggal akhirnya masuk ke dalam kita semua dengan mencapai kita sebagai Roh itu. Kesatuan Tubuh Kristus disusun oleh Trinitas ke-Allahan: Bapa adalah sumber dan pemula sebagai Perintis, Putra adalah Tuhan dan Kepala sebagai Penggenap, Roh adalah Roh pemberi-hayat, sebagai Pelaksana. Bila kita nampak hal ini, tidak ada apa pun yang dapat menyelewengkan atau menyesatkan kita. Kita akan memiliki daya pembeda untuk kesatuan dan cara pemeliharaannya.
Memelihara kesatuan adalah masalah dalam Allah Tritunggal. Ini berarti Allah Tritunggal adalah dasar kesatuan kita, dasar yang fundamental dan fondasinya itu sendiri. Perintis kesatuan kita ialah Bapa, Penggenap kesatuan kita ialah Tuhan, dan Pelaksana kesatuan kita ialah Roh. Tetapi, dalam pengalaman kita, Roh itulah yang pertama, karena Ia langsung berkaitan dengan kesatuan dan pelaksanaan kesatuan dalam satu Tubuh. Selanjutnya, kita memiliki Tuhan sebagai Penggenap dan Bapa sebagai sumber. Jadi, kesatuan kita adalah Allah Tritunggal yang direalisasikan oleh kita di dalam kehidupan kristiani kita.
Walau banyak di antara kita telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun lamanya, tetapi kita tidak pernah mendengar bahwa kesatuan itu pada hakekatnya adalah Allah Tritunggal menjadi pengalaman kita. Kesatuan kita adalah Allah Tritunggal — Roh, Tuhan, dan Bapa — yang digarapkan ke dalam Tubuh. Seiring dengan Allah Tritunggal, kita memiliki iman, baptisan, dan harapan. Suatu hari, kita menerima iman dan kita pun dibawa ke dalam Kristus! Alangkah mulianya kedatangan iman ini! Setelah kita percaya ke dalam Kristus, kita lalu dibaptis. Kita telah menjadi anggota Tubuh dengan pengharapan kemuliaan. Inilah kesatuan kita. Kesatuan ini ialah Allah Tritunggal digarapkan ke dalam Tubuh, yang terwujud melalui iman dan baptisan, dan yang memiliki pengharapan, pada suatu hari kita akan dimuliakan. Semoga kita memiliki hati yang memperhatikan kesatuan ini.