← Daftar isi Efesus (1) · bab 11/24

MEMELIHARA KESATUAN ROH ITU

Efesus 4:1 mengatakan, “Sebab itu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Ayat ini sebagian mengulang Efesus 3:1, di mana nasihat rasul dalam Efesus 4 sampai 6 dimulai. Ini menunjukkan bahwa Efesus 3:2-21 adalah sisipan.

HIDUP YANG BERPADANAN DENGAN

PANGGILAN ALLAH

Kitab Efesus dibagi menjadi dua bagian utama. Yang pertama terdiri atas pasal 1—3, mewahyukan berkat-berkat dan kedudukan yang telah didapatkan oleh gereja dalam Kristus di surga. Pasal 3 khususnya mewahyukan bagaimana gereja terwujud dengan riil melalui tersusun dengan kekayaan Kristus yang hidup. Yang kedua terdiri atas pasal 4—6, menasihati kita mengenai kehidupan dan tanggung jawab yang seharusnya dilaksanakan gereja dalam Roh itu di bumi. Perintah mendasar adalah bahwa kita harus hidup berpadanan dengan panggilan Allah, yang merupakan totalitas dari berkat-berkat yang dilimpahkan kepada gereja, seperti yang dinyatakan dalam Efesus 1:3-14. Dalam gereja, di bawah berkat Allah Tritunggal yang berlimpah, orang-orang kudus harus hidup berpadanan dengan pemilihan dan penentuan Bapa, penebusan Putra, serta pemeteraian dan penjaminan Roh itu.

Untuk hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah, gereja harus memiliki semacam kehidupan dan juga harus mengemban kewajiban sepenuhnya. Karena itu, dalam pasal 4—6 kita nampak, di satu aspek, kehidupan yang seharusnya ditempuh gereja, dan di aspek lain, kewajiban yang seharusnya dipikul gereja.

Dalam menganjuri kaum saleh untuk hidup berpadanan dengan panggilan Allah, Paulus mengucapkannya dari statusnya sebagai seorang yang dipenjarakan dalam Tuhan. Statusnya sebagai rasul Kristus melalui kehendak Allah memberinya kuasa untuk mewahyukan hal-hal tentang gereja dan membicarakan rahasia Kristus. Akan tetapi, statusnya sebagai tahanan dalam Tuhan melayakkan dia menasihati kita untuk hidup berpadanan dengan panggilan Allah. Tidak hanya demikian, ia pun mengemban tanggung jawab yang dituntut oleh panggilan ini.

Dalam Efesus 3:1 Paulus berbicara tentang dirinya sendiri sebagai “orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus,” tetapi dalam Efesus 4:1 dia berkata bahwa dia adalah “orang yang dipenjarakan karena (dalam) Tuhan.” Menjadi seorang yang dipenjarakan dalam Tuhan lebih dalam daripada menjadi seorang tahanan Tuhan. Sebagai seorang tahanan yang demikian, Paulus adalah teladan bagi mereka yang hidupnya berpadanan dengan panggilan Allah.

MEMELIHARA KESATUAN ROH ITU

Untuk menempuh hidup yang berpadanan dengan panggilan Allah, untuk menempuh kehidupan Tubuh yang wajar, kita terlebih dulu perlu memperhatikan kesatuan. Kita harus memelihara kesatuan Roh itu. Ini penting dan vital bagi Tubuh Kristus.

Kesatuan jelas berbeda dengan persatuan. Persatuan adalah keadaan yang terbentuk dari banyak orang yang bergabung bersama, sedangkan kesatuan adalah satu entitas (satuan) Roh itu di dalam batin kaum beriman, yang menyatukan mereka semua. Ada orang-orang Kristen yang mungkin memiliki semacam persatuan tertentu, namun dalam pemulihan Tuhan kita lebih mengapresiasi kesatuan daripada persatuan atau gabungan. Dalam pemulihan Tuhan kita bukan bergabung, bukan membentuk sejenis persatuan, melainkan kita adalah satu. Kesatuan kita adalah satu Persona, yaitu Tuhan Yesus sendiri sebagai Roh pemberi-hayat. Hari ini Tuhan adalah Roh pemberi-hayat di batin kita, dan Roh ini adalah kesatuan kita. Jadi, kesatuan kita bukan satu Persona obyektif yang jauh di surga, melainkan satu Persona subyektif yang berhuni di batin kita sebagai hayat kita.

Kesatuan ini ibarat listrik dalam banyak lampu, yang menyatukan mereka dalam memancarkan cahaya. Walau dalam sebuah kamar besar terdapat banyak lampu, tetapi lampu-lampu itu adalah satu dalam listrik yang mengalir di dalam mereka. Dalam diri mereka masing-masing, lampu-lampu itu bukan satu, bukan pula bergabung menjadi satu wujud. Listrik yang unik dalam lampu-lampu itu adalah kesatuan mereka. Listrik tidak menggabungkan lampu-lampu itu, melainkan sebagai kesatuan di da-lam mereka. Dalam diri mereka sendiri, lampu-lampu itu bersifat individual dan terpisah, namun dalam listrik mereka memiliki kesatuan. Kaum beriman dalam Kristus juga seprinsip dengan itu. Roh yang berhuni di batin kita itulah kesatuan kita.

Dalam Efesus 4:3 kesatuan ini disebut “kesatuan Roh”. Kesatuan Roh sebenarnya adalah Roh itu sendiri. Dalam ilustrasi listrik dan lampu tadi, kesatuan listrik ialah listrik itu sendiri. Tidak ada unsur lain di luar listrik yang menjadi kesatuan listrik. Kesatuan listrik justru adalah listrik itu sendiri. Seasas dengan itu, kesatuan Roh bukanlah sesuatu yang di luar Roh itu. Sebaliknya, kesatuan itu adalah Roh itu sendiri. Kesatuan dalam batin dan di antara kita adalah Roh pemberi-hayat. Karenanya, memihara kesatuan berarti memelihara Roh pemberi-hayat.

Banyak orang Kristen memperbincangkan persatuan atau kesatuan, namun mengabaikan Roh itu. Ini menunjukkan bahwa mereka ingin membuat kesatuan yang terpisah dari Roh itu. Semakin membicarakan kesatuan, mereka menjadi semakin tercerai-berai. Malah ada orang yang saling berdebat dalam daging atas masalah persatuan. Kita tidak perlu terlampau banyak membicarakan kesatuan. Kesatuan bagaikan seekor merpati. Jika kita tidak memperbincangkannya, merpati itu beserta kita. Tetapi jika kita memperbincangkannya, ia akan terbang. Bila kita membicarakan kesatuan terlalu banyak, kita akan berada dalam bahaya kehilangan kesatuan. Kita tidak dapat memelihara kesatuan melalui memperbincangkannya, melainkan melalui tinggal dalam Roh pemberi-hayat. Asalkan kita mengasihi Tuhan dan memeluk-Nya, kita akan memelihara kesatuan, sebab seperti yang kita tekankan, kesatuan ialah Persona Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Kita memelihara kesatuan Roh itu menyiratkan bahwa kita sudah memiliki Roh itu. Jika kita tidak memiliki Dia, mana mungkin kita memelihara-Nya? Namun, kebanyakan orang Kristen menggunakan sebagian besar waktunya untuk hidup di luar Roh itu. Tindakan apa pun yang dilakukan di luar Roh pemberi-hayat berarti perpecahan. Kapan kala kita bersatu dengan Roh itu, hidup menurut Dia dan melakukan segala hal di dalam-Nya, kita akan memelihara kesatuan tanpa sengaja berusaha berbuat demikian. Tetapi bila kita bertindak di luar Roh itu, kita akan terpecah-belah dan kehilangan kesatuan. Karena itu, daripada menyuruh kalian membicarakan kesatuan, lebih baik saya menganjuri kalian memperhatikan Roh pemberi-hayat, yaitu Tuhan sendiri yang menja-di hayat di batin Anda.

RENDAH HATI, LEMAH LEMBUT, DAN SABAR

Ayat 2 mengatakan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu.” Rendah hati berarti tinggal dalam keadaan yang rendah, lemah lembut berarti tidak membela diri sendiri. Kita harus melatih dua kebajikan ini dalam menanggulangi diri kita. Panjang sabar berarti sabar terhadap perlakuan yang tidak baik. Kita harus melatih kebajikan ini dalam berhubungan dengan orang lain. Dengan kebajikan-kebajikan ini kita saling memikul (tidak hanya bertoleransi), tidak meninggalkan mereka yang sering mendatangkan kesulitan, tetapi memikul mereka dalam kasih. Inilah ekspresi hayat.

Kata “selalu” di sini menerangkan rendah hati dan lemah lembut. Bukan berarti ada banyak macam rendah hati dan lemah lembut, melainkan berarti kita harus memiliki rendah hati dan lemah-lembut dalam segala perkara. Jadi, kita wajib memelihara kesatuan Roh itu dengan segala rendah hati dan lemah lembut.

Akan tetapi problemnya ialah di dalam diri kita sendiri kita tidak dapat rendah hati maupun lemah lembut. Jika kita jujur dan tulus hati, kita harus mengakui bahwa rendah hati dan lemah lembut yang sejati tidak terdapat dalam diri kita. Sebaliknya, kita condong meninggikan diri sendiri dan membela diri. Sebagaimana kita tidak memiliki rendah hati atau lemah lembut, kita pun tidak memiliki kesabaran dan kita tidak dapat saling menanggung di dalam kasih. Namun demikian, Paulus menyuruh kita memiliki hidup atau perilaku yang layak.

Bila kita ingin memelihara kesatuan Roh itu, kita wajib memiliki suatu sifat insani yang wajar, yaitu rendah hati, lemah lembut, dan sabar, serta sifat insani yang bisa saling menanggung dalam kasih. Jika kita tidak memiliki sifat insani yang sedemikian sebagai “modal”, niscayalah kita tidak dapat menjalankan “bisnis” memelihara kesatuan Roh itu. Fakta bahwa kebajikan-kebajikan disebutkan dalam ayat 2 ini sebelum kesatuan Roh itu dalam ayat 3, mewujudkan bahwa kita harus memiliki kebajikankebajikan ini untuk memelihara kesatuan Roh itu.

SIFAT INSANI YANG TELAH DIUBAH

Jika kita ingin memiliki kebajikan-kebajikan yang disebut dalam ayat 2, kita perlu suatu sifat insani yang diubah. Dalam sifat insani alamiah kita tidak ada sifat rendah hati, lemah lembut, atau sabar, tetapi kebajikan-kebajikan itu ada dalam sifat insani kita yang telah diubah, yaitu dalam sifat insani Yesus. Dalam Matius 11:29, Tuhan Yesus mengatakan betapa Ia lemah lembut dan rendah hati. Lemah-lembut dan rendah hati merupakan ciri-ciri sifat insani Yesus. Lemah lembut atau rendah hati yang seolah-olah kita miliki dalam diri kita sendiri hanyalah suatu kepura-puraan dan tidak dapat menahan setiap ujian yang sesungguhnya. Terpujilah Tuhan, karena sifat insani Yesus dalam hayat kebangkitan-Nya telah kita miliki hari ini! Semakin kita diubah, semakin banyak sifat insani Yesus yang kita miliki. Melalui memiliki sifat insani Kristus yang telah bangkit, kita akan dengan spontan memiliki kebajikan-kebajikan yang diperlukan untuk memelihara kesatuan Roh itu.

SEBUAH LUKISAN KESATUAN YANG SEJATI

Kesatuan yang sejati dalam Allah Tritunggal ini tertampak dalam lukisan tabernakel serta keempat puluh delapan papan kayu penaga yang berlapis emas. Papanpapan itu sendiri terpisah satu sama lain, namun mereka menjadi satu di dalam emas. Pasak-pasak yang menyengkang papan-papan itu juga terbuat dari kayu penaga yang berlapis emas. Seperti pernah kita tunjukkan di tempat lain, pasak emas melambangkan Roh penyatuan. Kayu penaga melambangkan sifat insani, dan emas melambangkan sifat ilahi. Dalam Roh penyatuan ini terdapat unsur sifat insani. Ini menunjukkan betapa Roh penyatuan bukan hanya Roh Kudus Allah, tetapi juga Roh Kudus yang telah berbaur dengan roh kita.

Roh yang berbaur ini terdapat dalam Roma 8:4 — “Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Roh di sini adalah roh insani kita yang berbaur dengan Roh Kudus Allah. Lagi pula Roma 8:16 mengatakan, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Ayat ini dengan jelas menunjukkan roh yang berbaur itu, yakni Roh itu dengan roh kita. Dalam roh yang telah berbaur yang membentuk pasak-pasak penyatu, terdapat sifat insani yang telah diubah berikut kebajikan-kebajikan rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

Bertahun-tahun saya mencoba menjadi orang yang rendah hati dan lemah lembut, tetapi sekali demi sekali saya gagal. Akhirnya saya belajar bahwa rendah hati, lemah lembut, dan sabar dalam Efesus 4:2 tidak terdapat dalam sifat insani alamiah kita, itu adalah ciri-ciri sifat insani yang telah diubah, yang juga adalah sifat insani Yesus Kristus. Sifat insani yang telah diubah ini berikut kebajikan-kebajikannya dilambangkan oleh kayu penaga di dalam pasak-pasak penyatuan. Ini menunjukkan bahwa di dalam Roh penyatuan terdapat sifat insani yang telah diubah, yaitu sifat insani kita yang diubah oleh hayat kebangkitan Kristus.

TRANSFORMASI DAN KESATUAN

Memelihara kesatuan Roh itu memerlukan transformasi (pengubahan). Sebab itu, kita tidak bisa mengharapkan seorang beriman yang baru memelihara kesatuan Roh. Tidak ada gunanya menyuruh orang baru memelihara kesatuan, karena memelihara kesatuan Roh memerlukan transformasi. Bila Anda belum ditransformasi, Anda tidak akan memiliki sifat rendah hati, atau lemah lembut yang dibutuhkan untuk memelihara kesatuan. Semakin banyak transformasi kita, dengan spontan kita akan semakin mewarisi sifat rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Seluruh kebajikan ini merupakan warisan kita me-lalui transformasi.

Kesatuan Roh tidak dapat dipelihara oleh orang Kristen yang masih bayi atau anak-anak, hanya dapat dipelihara oleh mereka yang telah ditransformasi. Mereka yang masih alamiah dan bersifat daging tidak mungkin menjadi orang yang lemah lembut, rendah hati, atau sabar. Mereka tidak dapat memelihara kesatuan, karena dalam manusia alamiah mereka tidak ada suatu apa pun yang dapat memungkinkan mereka memeliharanya. Karena itu, saya ingin menekankan faktanya sekali lagi bahwa Efesus 4:2 menyiratkan kebutuhan akan transformasi. Kita mempunyai problem dalam hal kesatuan, karena kita begitu alamiah, bersifat daging, dan begitu banyak hidup dalam diri sendiri. Namun, jika kita telah ditransformasi, kita akan dengan spontan dapat memelihara kesatuan, sebab dalam sifat insani kita yang telah ditransformasi itu terkandung sifat rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

IKATAN DAMAI SEJAHTERA

Ayat 3 mengatakan tentang memelihara kesatuan Roh “dalam ikatan damai sejahtera”. Di atas salib Kristus telah menghapus segala perbedaan yang disebabkan oleh ketetapan-ketetapan, dengan ini Dia mengadakan damai sejahtera bagi Tubuh-Nya. Damai sejahtera ini harus mengikat seluruh orang beriman dan menjadi ikatan yang menyatukan.

Sebelum Kristus tersalib, tidak ada damai sejahtera di antara orang Yahudi dengan orang kafir. Menurut Efesus 2:15, melalui dihapuskannya ketentuan-ketentuan pemisah oleh Kristus di dalam daging-Nya dan melalui menciptakan kaum beriman Yahudi dan kafir menjadi satu manusia baru, maka damai sejahtera itu telah terjadi di antara segenap kaum beriman. Lagi pula, di atas salib, Kristus telah menanggulangi hal-hal negatif yang terdapat di antara kita dengan Allah. Ini berarti Ia juga telah membuat perdamaian antara manusia dengan Allah. Maka kini tidak ada lagi pemisahan atau sekatan antara kaum beriman Yahudi dengan kaum beriman kafir, tidak ada pula sekatan di antara kita dengan Allah. Namun, pada waktu Kitab Efesus ditulis, masih ada orang-orang beriman Yahudi yang berpegang pada konsepsi bahwa mereka harus dipisahkan dari kaum beriman kafir. Sebab itu, Paulus menegaskan bahwa tembok pemisah telah dirubuhkan, dan kaum beriman Yahudi dan kafir harus menjadi satu. Jika tidak, tidak mungkin terjadi kesatuan. Tanpa kesatuan tidak mungkin pula ada satu Tubuh. Karena itu, dalam Efesus 4:3 Paulus dengan keras mengatakan bahwa kita harus berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Bila kita mau melakukan hal ini, kita harus nampak bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita semua telah terhapus di atas salib.

Ikatan damai sejahtera ini sesungguhnya adalah pekerjaan salib. Melalui pengalaman kita tahu bahwa bila kita menuju ke atas salib, tidak ada perbedaan-perbedaan di antara kita dengan orang lain. Namun, begitu kita turun dari salib, perbedaan-perbedaan akan muncul kembali. Hal ini tidak saja terjadi dalam hidup gereja, tetapi juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Sering kali kasih antara suami istri terkubur di bawah perbedaan-perbedaan yang muncul karena mereka turun dari salib. Satu-satunya cara untuk melenyapkan perbedaan-perbedaan itu ialah naik ke atas salib. Ketika kita naik dan tinggal di atas salib, lenyaplah semua perbedaan itu dan damai sejahtera akan kita miliki. Ketika kita tinggal di atas salib, damai sejahtera ini akan menjadi ikatan yang di dalamnya kita memelihara kesatuan Roh. Karena itu, untuk memelihara kesatuan Roh itu, perlulah kita mengalami transformasi dan salib.

Efesus 4:2 menunjukkan perlunya transformasi, dan Efesus 4:3 menunjukkan perlunya salib. Kita perlu ditransformasi agar kita memiliki sifat rendah hati, lemah lembut, dan sabar; kita pun perlu disalibkan agar kita memiliki ikatan damai sejahtera. Setelah itu barulah kita dapat memelihara kesatuan Roh itu.