← Daftar isi Efesus (1) · bab 10/24

ALLAH DIMULIAKAN DI DALAM GEREJA DAN DI DALAM KRISTUS

Dalam berita ini kita akan membahas 3:20-21 “Bagi Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” Ayat-ayat ini merupakan suatu puji-pujian, suatu puji-pujian yang tinggi, bahkan yang tertinggi yang terdapat dalam Surat-surat Kiriman Perjanjian Baru. Puji-pujian semacam ini tidak dapat diucapkan sebelum gereja terwujud secara riil.

Seperti telah kita tunjukkan dalam berita-berita yang lalu, dalam ayat 19 kita nampak gereja sebagai kepenuhan Allah. Kepenuhan Allah di sini merupakan hasil dari pengalaman kita atas kekayaan Kristus. Setelah gereja yang sedemikian terwujud, barulah Rasul Paulus mengucapkan puji-pujian dalam ayat 20 dan 21, mempermuliakan Allah di dalam gereja dan di dalam Kristus Yesus. Hanya setelah gereja terwujud sebagai kepenuhan Allah, barulah kemuliaan Allah dapat dinyatakan.

KEGENAPAN SABDA ALLAH

MENGENAI GEREJA

Meskipun gereja telah berada di bumi lebih dari 19 abad, tetapi ia masih belum mencapai tahap menjadi kepenuhan Allah. Definisi gereja yang tertinggi ialah gereja sebagai kepenuhan Allah. Kita harus mengakui bahwa di antara kita hari ini, gereja masih belum menjadi kepenuhan Allah, belum menjadi ekspresi Allah yang sepenuhnya. Akan tetapi, kita yakin gereja akan mencapai tahap tersebut. Fakta diucapkannya perkataan yang demikian oleh Tuhan tentang gereja menandakan bahwa Ia akan melaksanakan apa yang telah Ia katakan itu. Firman Tuhan tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia (Yes. 55:11). Apa yang Ia katakan, akan Ia laksanaan. Sebagai contoh: ketika Allah mengatakan sesuatu dalam Kejadian 1, maka jadilah demikian. Karena itu, kita percaya bahwa firman Tuhan tentang gereja sebagai kepenuhan Allah pasti akan digenapkan. Kita tidak saja percaya firman ini, bahkan menuntutnya dan berdoa menurut firman ini. Kita perlu berdoa, “Tuhan, Engkau telah mengatakan bahwa gereja adalah kepenuhan Allah. Sekarang genapkanlah apa yang sudah Kaukatakan itu.” Ketika gereja di bumi mencapai tahap menjadi kepenuhan Allah, kita akan berkata bersama Paulus, “Bagi Dia-lah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus.”

CARA ALLAH DIMULIAKAN DI DALAM GEREJA

Kata “bagi Dia/Dialah” dalam ayat 20-21 menyiratkan bahwa kemuliaan Allah, yang telah digarapkan ke dalam orang-orang kudus, kembali kepada Allah. Dalam doanya, Paulus berdoa supaya Bapa menguatkan orang-orang kudus menurut kekayaan kemuliaan-Nya. Ini mengandung arti bahwa kemuliaan Allah dapat digarapkan ke dalam orang-orang kudus. Dalam puji-pujian, dia berkata, “Bagi Dialah kemuliaan” (ayat. 21), menyiratkan bahwa kemuliaan Allah, yang telah digarapkan ke dalam orang-orang kudus, kembali kepada Allah. Pertama, kemuliaan Allah digarapkan ke dalam kita, kemudian kemuliaan itu kembali kepada Allah bagi kemuliaan-Nya. Kekayaan Ishak pertama-tama diberikan kepada Ribka sebagai perhiasannya; kemudian, semua harta kekayaan kembali kepada Ishak, dengan Ribka, bagi kemuliaannya (Kej. 24:47, 53, 61-67). Rasul berdoa supaya Allah menguatkan orang-orang kudus menurut kemuliaan-Nya, “tetapi” akhirnya kemuliaan Allah setelah digarapkan ke dalam mereka, kembali kepada-Nya bersama dengan orang-orang kudus yang telah dikuatkan itu. Inilah cara Allah dimuliakan di dalam gereja.

Kita telah nampak, dalam ayat 16 Paulus berdoa agar Bapa, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kita ke dalam manusia batiniah kita. Dikuatkan menurut kekayaan kemuliaan berarti memiliki kemuliaan Allah yang digarapkan ke dalam diri kita. Itulah satu-satunya jalan untuk dikuatkan menurut kemuliaan Allah. Misalkan seorang yang tubuhnya sangat lemah dapat dikuatkan oleh seseorang yang tubuhnya kuat. Ini berarti kekuatan orang yang kuat itu digarapkan ke dalam jaringan orang yang lemah. Seasas dengan itu, dikuatkan ke dalam manusia batiniah menurut kemuliaan Bapa berarti memiliki kemuliaan-Nya yang digarapkan ke dalam diri kita. Pertama, kemuliaan datang kepada kita, lalu kemuliaan itu kembali kepada Allah. Ketika kemuliaan masuk ke dalam diri kita, kita dipenuhi dan dikuatkan. Ketika kemuliaan itu kembali kepada Allah, Ia pun dimuliakan di dalam gereja.

Menurut bahasa aslinya pada awal ayat 20 tercantum kata “tetapi” yang juga dapat diterjemahkan sebagai “kini”. Dalam keadaan yang sedemikian, “kini” di sini berarti “mengingat fakta bahwa” atau “berdasarkan yang terdahulu”. Dalam ayat 20 dan 21 Paulus seolah-olah berkata, “Kini, karena gereja telah terwujud sebagai kepenuhan Allah, Allah dapat dimuliakan di dalam gereja. Sebelum waktu ini, tidak mungkin kemuliaan itu kembali kepada Allah. Tetapi berhubung gereja telah menjadi kepenuhan Allah secara riil, maka kini hal itu mungkin.”

Tidak salah jika istilah Yunani di sini diterjemahkan “tetapi” atau “kini”. Istilah tersebut dalam keadaan mana pun bukan merupakan sisipan yang tanpa arti. Kata “tetapi” mengisyaratkan kemuliaan yang datang kepada kita dan yang digarapkan ke dalam kita, kini kembali bersama kita kepada Allah. Kata “kini” mengisyaratkan hal itu, mengingat fakta bahwa gereja telah terwujud sebagai kepenuhan Allah, maka kini Allah dapat dimuliakan di dalam gereja. Kedua-duanya benar.

Gereja ialah kemuliaan Allah yang datang kepada kita beserta Allah dan kembali kepada Allah beserta kita. Dalam gereja semacam ini terdapat lalu-lintas dua arah di antara Allah dengan kita dan kita dengan Allah. Melalui lalu-lintas dua arah ini, kemuliaan Allah digarapkan ke dalam kita dan Allah dimuliakan di dalam kita. Lalu-lintas ini dinyatakan melalui istilah kecil “tetapi” tadi.

JAUH LEBIH BANYAK DARIPADA YANG KITA

DOAKAN ATAU PIKIRKAN

Dalam ayat 20 Paulus mengatakan tentang “Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan.” Secara tegas, kata “doakan atau pikirkan” di sini berhubungan dengan hal-hal rohani yang berkaitan dengan gereja, bukan dengan hal-hal materi. Mengenai hal-hal rohani ini, kita tidak hanya perlu berdoa (meminta), tetapi juga perlu memikirkannya. Kita mungkin lebih banyak berpikir daripada berdoa. Allah menggenapkan bukan hanya apa yang kita minta bagi ge-reja, tetapi juga apa yang kita pikirkan mengenai gereja, dan Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan, menurut kuasa yang bekerja di dalam kita.

Kemampuan Allah untuk melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang diwahyukan dalam ayat 20 ini, berbeda dengan kemampuan-Nya dalam penciptaan. Ayat 20 bukan ditujukan pada penciptaan, melainkan pada gereja. Saya sering kali mendengar kaum saleh mengutip ayat 20 ini untuk mempersaksikan pengalaman mereka atas berkat Allah yang bersifat material, itu keliru. Konsepsi Paulus di sini bukan berkaitan dengan apa yang dilakukan Allah di luar kita, melainkan yang dilakukan Allah di dalam kita. Ia khusus mengatakan, “Kuasa yang bekerja di dalam kita.” Ini adalah kuat kuasa dalam batin, yakni kuasa kebangkitan seperti yang dikatakan dalam 1:19 dan 20.

Kuasa penciptaan Allah menghasilkan hal-hal materi dalam lingkungan kita (Rm. 8:28), sedangkan kuasa kebangkitan Allah menggenapkan hal-hal rohani di dalam diri kita bagi gereja. Kalau menginginkan Allah memberi kita pekerjaan yang baik, tidak perlu kuasa kebangkitan yang beroperasi di dalam kita. Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, tetapi hal itu tidak berhubungan dengan perbuatan-Nya dalam lingkungan hidup kita, melainkan berhubungan dengan pekerjaan-Nya yang organik dan metabolis di batin kita. Berkenaan dengan lingkungan hidup, sering kali Allah seolah-olah tidak berbuat apa-apa bagi Anda. Anda mungkin berdoa untuk pengangkatan (promosi) jabatan, tetapi Ia malah mengizinkan Anda diberhentikan dari pekerjaan Anda yang sekarang. Selama Anda menganggur, Allah mungkin beroperasi di batin Anda, untuk membuat Kristus berumah di dalam Anda. Ketika kita berada dalam keadaan lingkungan yang menyenangkan, mungkin sedikit kesempatan bagi Kristus untuk meluaskan diri-Nya ke dalam hati kita. Tetapi ketika kita ditempatkan dalam suatu lingkungan hidup yang serba sulit, Tuhan mungkin akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berkembang dalam manusia batiniah kita. Ditinjau dari aspek kita, kelihatannya berfaedah bagi kita kalau berada dalam lingkungan hidup yang baik, tetapi dari aspek Tuhan, lingkungan hidup yang sulitlah yang lebih baik bagi kita, sebab Ia akan mendapat kesempatan yang lebih besar untuk bekerja di dalam kita.

Doakan dan pikirkan yang tercantum dalam ayat 20 seharusnya diterapkan kepada gereja. Kita harus berdoa dan berpikir tentang gereja, bukan tentang perkara-perkara yang sepele yang berhubungan dengan lingkungan hidup kita. Doa dan pikiran kita seharusnya terpusat pada ekonomi Allah untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita guna menghasilkan gereja sebagai ekspresi Kristus. Ketika doa dan pikiran kita memperhatikan gereja, Allah akan selalu melakukan jauh lebih banyak dari-pada semua yang kita doakan atau pikirkan. Kita wajib berdoa dan berpikir bagi berumahnya Kristus di dalam hati kita dan dipenuhinya gereja kepada segala kepenuhan Allah. Bila kita berdoa dan berpikir demikian, niscaya kita akan berada di dalam roh. Kemudian, apa saja yang kita doakan tentang gereja, akan dijawab dengan berlimpah-limpah. Betapa kita perlu berdoa dan berpikir tentang gereja!

ALLAH DIMULIAKAN DI DALAM KRISTUS

Ayat 21 mengatakan, “Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” Kemuliaan Allah digarapkan ke dalam gereja, dan Dia diekspresikan dalam gereja. Karena itu, bagi Allahlah kemuliaan di dalam gereja; yaitu Allah dimuliakan di dalam gereja.

Allah dimuliakan bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga di dalam Kristus. Kata “dan” digunakan di sini untuk menekankan butir ini secara tegas. Dalam gereja, ruang lingkup kemuliaan Allah sempit, terbatas pada keluarga iman. Tetapi dalam Kristus, ruang lingkupnya jauh lebih luas, karena Kristus adalah Kepala semua keluarga di surga dan di bumi (1:22; 3:15). Karena itu, kemuliaan Allah dalam Kristus ada di dalam wilayah semua keluarga yang diciptakan Allah, bukan hanya di bumi, tetapi juga di surga. Tidak saja lingkungan dalam Kristus jauh lebih luas daripada yang di dalam gereja, tetapi cakupan di dalam Kristus itu pun kekal, seperti yang ditunjukkan dalam frase “turun-temurun sampai selama-lamanya”. Turun-temurun selama-lamanya membentuk kekekalan. Kemuliaan Allah dalam gereja terutama terlaksana dalam zaman ini, sedangkan kemuliaan Allah dalam Kristus terlaksana sampai kekal.

Gereja adalah satu di antara sekian banyak keluarga dalam alam semesta. Keluarga lainnya termasuk keluarga malaikat, keluarga umat manusia, dan keluarga Israel. Berdasarkan ayat 15, Allah adalah sumber keluarga malaikat di surga dan seluruh keluarga umat manusia di bumi. Tentu saja, Ia juga sumber gereja, yakni keluarga (rumah tangga) kaum beriman. Jadi, mengatakan Allah telah dimuliakan di dalam gereja berarti Ia dimuliakan di dalam salah satu dari banyak keluarga. Namun, mengatakan Allah dimuliakan di dalam Kristus itu berarti Ia dimuliakan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu. Kristus adalah Kepala atas malaikat, umat manusia, Israel, dan juga gereja. Bila Allah hanya dimuliakan di dalam gereja saja, Ia tidak dapat dimuliakan secara almuhit. Jika Ia ingin dimuliakan di dalam segala sesua-tu, Ia juga harus dimuliakan di dalam Kristus.

Allah tidak saja dimuliakan dalam zaman ini, zaman gereja, juga di zaman yang akan datang, zaman kerajaan, dan dalam zaman dari segala zaman, yakni kekekalan. Agar Allah dimuliakan di segala zaman, dari zaman sekarang sampai kekekalan, Ia harus dimuliakan baik dalam gereja maupun dalam Kristus.

GEREJA MEMELOPORI MEMULIAKAN ALLAH

Sebagai keluarga kaum beriman, gereja memelopori memuliakan Allah Bapa melalui menggarapkan kemuliaan Allah ke dalam diri kita. Agar kemuliaan Allah dapat tergarap ke dalam kita, kita harus dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita menurut kekayaan kemuliaan Allah. Kemudian barulah kemuliaan ini mencapai kita bersama Allah, dan setelah tergarap ke dalam kita, akan kembali kepada Allah bersama kita. Melalui lalu-lintas dua arah ini gereja memelopori memuliakan Allah. Dalam alam semesta ini, sebagai kaum beriman, kita adalah buah sulung. Jika kita mengepalai memuliakan Allah, maka seluruh keluarga lainnya, yang di surga maupun di bumi akan mengikuti kita memuliakan Allah pula.