← Daftar isi Hayat yang Diperlihatkan dalam Kejadian Pasal Satu · bab 4/16

ASPEK-ASPEK MINUM DALAM PERJANJIAN LAMA

Pembacaan Alkitab :

Kel. 15:22-27; 17:1-7;

Bil. 20:1-13; 21:16-18; 1 Kor. 10:3-4

Dalam bab sebelumnya, kita telah melihat bahwa sejarah bangsa Israel adalah sejarah makan. Dalam bab ini, kita akan melihat bahwa sejarah bangsa Israel bukan hanya sejarah makan tetapi juga sejarah minum. Dalam Kejadian 2, ada pohon hayat untuk makanan dan sungai untuk minuman. Keduanya menghasilkan bahan-bahan berharga yang baik bagi bangunan Allah. Mulai Kejadian 2 dan seterusnya, sejarah umat pilihan Allah selalu berkaitan dengan perihal makan dan minum. Kedua hal ini terlihat dalam seluruh Alkitab. Di antara umat pilihan Allah hari ini, pasti juga ada perihal makan dan minum, karena keduanya adalah aspek utama untuk melangsungkan hidup. Untuk hidup, kita perlu makan dan minum. Makan dan minum memungkinkan kita menikmati dan melangsungkan hidup.

AIR PAHIT DIJADIKAN MANIS

OLEH KRISTUS YANG BANGKIT

Sejarah bangsa Israel dimulai dengan makan anak domba Paskah dalam Keluaran 12. Segera setelah mereka mengalami Paskah dan menyeberangi laut Merah untuk keluar dari Mesir, mereka kekurangan air. Keluaran 15:22 memberi tahu kita, "Tiga hari lamanya mereka berjalan di Padang gurun itu dengan tidak mendapat air." Sampailah mereka di Mara, yang berarti pahit, karena air di Mara pahit dan tidak dapat diminum. Ini berarti perjalanan dari laut Merah menuju Mara berlangsung tepat tiga hari. Mereka kehausan selama tiga hari di padang gurun berarti mereka terkubur selama tiga hari, mereka berada dalam kematian. Hari ketiga dapat dianggap sebagai hari kebangkitan karena Tuhan Yesus dibangkitkan pada hari ketiga (1 Kor. 15:4). Ketika bangsa Israel tiba pada air pahit di Mara pada hari ketiga, Tuhan menunjukkan sepotong kayu kepada Musa, dan ketika Musa melemparkan kayu ini ke dalam air, air itu menjadi manis (Kel. 15:25). Kita bisa mengatakan bahwa kayu itu adalah Kristus yang bangkit, sebab kayu ini dilemparkan ke dalam air pahit di Mara setelah bangsa Israel menempuh perjalanan selama tiga hari di padang gurun.

Karena bangsa Israel kekurangan air dan tiba di tempat air pahit, mereka mulai bersungut-sungut dan mengeluh. Ini adalah suatu gambaran yang baik mengenai umat Allah ketika mereka kekurangan air. Jika sebuah gereja lokal kekurangan air rohani, dapat dipastikan bahwa di sana akan ada pertengkaran, caci maki, sungut-sungut, dan keluhan. Jika dalam sebuah gereja lokal ada caci maki, keluhan, dan sungut-sungut, keadaan tersebut adalah bukti adanya kekeringan, kehausan. Jika kita tidak memiliki air untuk diminum selama tiga hari, tidak diragukan lagi, banyak di antara kita akan mencaci maki, bertengkar, dan bersungut-sungut karena kekurangan air. Kita perlu menyadari bahwa kita memiliki kayu yang hidup, Kristus yang bangkit. Jika kita meletakkan Kristus yang bangkit ini ke dalam kepahitan kita, membiarkan Kristus yang bangkit datang ke dalam situasi kita, air pahit itu akan menjadi air manis.

Bahkan sebelum hukum Taurat diberikan, di Mara, Tuhan telah memberikan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan (15:25). Hal ini menggambarkan bahwa jika kita mempunyai air hidup manis yang dapat diminum di tengah-tengah kita, dari air hidup ini secara spontan akan keluar ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan hidup. Semakin kita minum air hidup, yaitu air manis dari Kristus yang bangkit, kita akan semakin diatur. Ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan tersebut bukan berasal dari hukum Taurat yang tertulis tetapi berasal dari minum air hidup.

Saya percaya bahwa ketetapan-ketetapan tersebut dibuat di Mara setelah di sana tidak ada caci maki atau sungut-sungut. Setelah air pahit menjadi manis, bangsa Israel mungkin mengatakan bahwa mereka tidak perlu lagi mencaci maki atau bersungut-sungut, itulah sebabnya mereka membuat sebuah ketetapan untuk hasil itu. Ketika tersedia banyak air dan ketika air tersebut manis, tidak perlu mencaci maki atau bersungut-sungut. Jika dalam sebuah gereja lokal terdapat banyak caci maki dan sungutsungut, maka akan ada banyak penyakit dalam gereja tersebut. Jika kita bersungut-sungut sepanjang waktu, kita akan menjadi sakit. Bersungut-sungut berarti membuka pintu bagi musuh untuk membawa masuk segala macam penyakit. Jika kita adalah orang yang bersungut-sungut, inongeluh, dan mencaci maki, kita sama seperti orangorang Mesir, orang-orang duniawi. Dalam setiap perkumpulan duniawi atau masyarakat duniawi, banyak orang bersungut-sungut, mencaci maki, bahkan bertengkar satu sama lain. Haruskah di tengah-tengah umat Allah dalam sebuah gereja lokal terdapat situasi atau kondisi sedemikian?

Caci maki atau sungut-sungut kita adalah sejenis penyakit. Kita sakit secara rohani, dan penyakit rohani ini bahkan dapat mengakibatkan penyakit jasmani. Dalam 1 Korintus 11 Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa banyak di antara mereka yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal (ay. 30) karena sungut-sungut, caci maki, dan kepicikan (yang mengakibatkan perpecahan) mereka. Orang-orang Korintus bertentangan satu sama lain karena mereka kekurangan air manis dengan Kristus yang bangkit. Jika kita memiliki Kristus yang bangkit dalam situasi kita, situasi kita akan menjadi begitu manis, penuh dengan air hidup. Kemudian kita akan memiliki sebuah ketetapan bahwa kita tidak akan pernah mencaci maki, bersungut-sungut, mengeluh, atau saling bertengkar. Peraturan kita adalah memuji Tuhan dan bersorak sorai penuh kegirangan tanpa caci maki dan sungut-sungut. Peraturan ini adalah basil dari air manis. Jika kita menikmati Kristus yang bangkit dan air hidup yang manis di dalam situasi kita, kita tidak akan mendapat segala macam penyakit.

Jika dalam sebuah gereja lokal ditemukan sungut-sungut dan caci maki, hal ini membuktikan bahwa di sana ada penyakit orang Mesir. Jika tidak ada sungut-sungut dan caci maki, maka akan ada ketetapan hidup yang berasal dari air hidup yang manis yang mengajar kita untuk tidak mengeritik, mencaci maki, bersungut-sungut, mengeluh, atau bertengkar satu satin lain. Ketetapan ini tidak diberikan di Sinai tetapi dibuat di Mara tempat bangsa Israel memiliki air manis. Keluaran 15:26 mengatakan, "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." Kita tidak seharusnya memiliki penyakit atau keadaan sakit karena Tuhan adalah penyembuh bagi kita, dan penyembuhan-Nya ada dalam air maths. Kita memiliki Tuhan sebagai penyembuh kita.

Setelah pengalaman mereka di Mara, bangsa Israel sampai di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma (Kel. 15:27). Dalam Alkitab, pohon korma melambangkan kemenangan hayat yang tidak usang. Kita harus bersyukur kepada Tuhan atas pohon korma, hayat yang menang. Angka tujuh puluh sama dengan sepuluh kali tujuh. Tujuh merupakan angka kegenapan dan sepuluh merupakan angka kesempurnaan, karena itu Elim adalah sebuah tempat yang penuh dengan kemenangan atas hayat. Di Elim juga ada dua belas mata air. Angka dua belas sama dengan empat kali tiga. Angka empat melambangkan makhluk ciptaan, khususnya umat manusia, dan angka tiga melambangkan Allah Tritunggal. Karena itu, empat kali tiga, angka dua belas, merupakan perbauran antara keilahian dan keinsanian. Mata air-mata air di Elim adalah bagi perbauran antara keilahian dan keinsanian. Allah sebagai air hidup sedang mengalir ke dalam umat pilihan-Nya untuk berbaur dengan mereka. Hayat kebangkitan di Elim mengalir dan bertumbuh. Hayat ini mengalir keluar dari Allah masuk ke dalam kita, dan melalui pengaliran ini hayat bertumbuh ke atas untuk mengekspresikan kekayaan dan kemenangan hayat ilahi.

Kita memerlukan Kristus sebagai kayu, sang Bangkit, untuk diletakkan dalam situasi kita. Dengan demikian kita akan memiliki air manis. Dari air manis ini akan dihasilkan sebuah ketetapan dan peraturan untuk tidak bersungut-sungut atau mencaci maki melainkan memuji. Situasi kita tidak seharusnya penuh dengan sungut-sungut, melainkan penuh pujian. Kita memerlukan peraturan untuk mengatakan, "Oh, Tuhan, Amin, Haleluya." Peraturan dan ketetapan kita bukanlah mencaci maki, mengeritik, bersungut-sungut, atau mengeluh, melainkan selalu memuji. Ketetapan dan peraturan ini bukan berasal dari hukum Taurat yang tertulis, tetapi dari minum air manis. Akhirnya kita dibawa kepada suatu situasi di Elim yang memiliki dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma. Situasi ini penuh dengan aliran hayat bagi perbauran antara keilahian dan keinsanian dan penuh dengan kemenangan hayat untuk memuji Tuhan. Elim merupakan sebuah tempat yang penuh dengan pujian yang berasal dari hayat.

MINUM KRISTUS SEBAGAI BATU KARANG ROHANI

Dalam Keluaran 15, bangsa Israel menikmati air manis dan dalam pasal 16, mereka makan manna surgawi. Dalam pasal 17, mereka sampai pada suatu tempat. Di sana mereka sekali lagi kekurangan air. Kapankala mereka kekurangan air, di antara mereka terdapat caci maki, sungut-sungut, keluhan, dan pertengkaran (17:1-4). Mereka menjadi sakit lagi karena mereka kekurangan air. Pada waktu-waktu tertentu, aturan memuji dalam sebuah gereja lokal telah hilang. Bukannya memuji, mereka malahan bersungut-sungut dan mengeritik. Pada saat itu, gereja akan sakit. Hari ini kita memiliki aturan memuji, tetapi di kemudian hari kita memiliki peraturan mengeritik.

Karena bangsa Israel kekurangan air, mereka sekali lagi bertengkar dengan Musa dan bersungut-sungut kepadanya. "Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata : Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan? Lalu berseru-serulah Musa kepada Tuhan, katanya : Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu! Berfirmanlah Tuhan kepada Musa : Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai untuk memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum. Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan : Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" (17:3-7).

Seolah-olah Tuhan berkata kepada Musa, "Ambillah tongkatmu untuk melakukan sesuatu. Aku telah memberimu kuasa, otoritas. Tongkat ada di tanganmu. Bukankah engkau telah menggunakan tongkat itu untuk melakukan banyak hal dengan otoritas-Ku, dengan kuasa-Ku? Sekarang ambillah tongkat itu dan pukulkanlah pada batu karang itu." Hal ini menandakan bahwa Kristus sebagai batu karang hidup telah dipukul oleh hukum Taurat. Musa mewakili hukum Taurat. Kristus di atas salib telah dipukul oleh otoritas, kuasa hukum Taurat. Sehingga air hidup mengalir keluar dari Kristus, batu karang yang dipukul. Yohanes 19:34 memberi tahu kita bahwa dari lambung Kristus yang tersalib mengalir keluar darah dan air. Darah adalah untuk penebusan, dan air adalah untuk pembagian hayat. Kristus sebagai batu karang hidup harus dipukul oleh hukum Taurat supaya air hidup mengalir keluar dari Dia.

Sebenarnya, sebagai anggota-anggota Kristus, kita semua harus dipukul oleh hukum Taurat. Kita harus ditanggulangi oleh otoritas Allah. Kristus telah ditanggulangi oleh kuasa hukum Taurat, dan hari ini sebagai anggota-anggota Kristus kita semua juga harus ditanggulangi oleh otoritas Allah. Dengan demikian kita akan memiliki air hidup.

Dalam Keluaran 15, Kristus adalah kayu dan dalam pasal 17, Kristus adalah batu karang. Kayu melambangkan Kristus yang bangkit, dan batu karang melambangkan Kristus yang telah dipukul, disalib. Dalam gereja-gereja lokal, jika kita mau memiliki air hidup, air manis, air yang mengalir, kita harus memahami dan mengalami Kristus yang tersalib dan bangkit. Kristus yang bangkit adalah kayu bagi kita, dan Kristus yang tersalib adalah batu karang bagi kita. Satu Korintus 10:4 memberi tahu kita bahwa bangsa Israel minum- minuman rohani yang sama dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, yaitu Kristus.

BERBICARA KEPADA BATU KARANG

UNTUK MINUM AIR HIDUP

Bilangan 20:1-13 memberi tahu kita bahwa setelah sejangka waktu, bangsa Israel kembali lagi ke Masa dan Meriba. Peristiwa minum yang ketiga dari bangsa Israel ini merupakan pengulangan dari yang kedua. Masa berarti pencobaan dan Meriba berarti caci maki atau perselisihan. Di Masa dan Meriba, bangsa Israel mencobai Tuhan dan berselisih dengan Tuhan. Pada waktu itu, bangsa Israel sedang berputar-putar dalam perjalanan mereka. Mereka sedang mengembara di padang gurun dan kembali lagi ke tempat yang sama. Jika mereka tidak berputar-putar, melainkan berjalan maju terus, mereka tidak akan pernah mengulangi pengalaman mereka di Masa. Karena mereka berputar-putar dan tidak berjalan maju, mereka kembali lagi ke tempat mereka mencobai Tuhan dan berselisih dengan Tuhan. Jika sebuah gereja lokal tidak maju melainkan berputar-putar, cepat atau lambat gereja tersebut akan mengulangi pengalaman yang menyedihkan ini.

Bangsa Israel sekali lagi mencaci maki Musa dan kali mi mereka benar-benar menyakiti Musa. Musa pergi kepada Tuhan, dan Tuhan memberi tahu Musa untuk berkata kepada batu karang itu sehingga air dapat mengalir keluar darinya. Musa tidak perlu lagi memukul batu karang terse-but karena batu karang itu sudah dipukul dan sudah terbelah. Tetapi Musa marah terhadap bangsa Israel dan menyebut mereka orang-orang durhaka (Bil. 20:10). Peristiwa ini menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu berhati-hati dalam memperlakukan dan berkata-kata tentang anak-anak Tuhan. Meskipun keadaan mereka tidak baik, kita tidak seharusnya begitu marah. Bahkan jika keadaan mereka sangat tidak baik, akan lebih aman bila kita mengatakan bahwa mereka sangat baik. Jika Anda bijaksana, Anda tidak akan datang kepada orang tua anak tertentu untuk mengatakan sesuatu yang buruk mengenai anak itu. Tidak peduli betapa jelek atau buruknya anak-anak mereka, jangan datang kepada orang tua mereka untuk mengatakan sesuatu yang buruk mengenai mereka. Yang paling baik adalah memberi tahu para orang tua sesuatu yang baik mengenai anak-anak mereka.

Kitab Bilangan mengisahkan tentang Balak mengupah Bileam untuk mengutuk bangsa Israel. Pada waktu itu, keadaan bangsa Israel sangat kasihan. Balak mengira bahwa inilah waktu yang tepat baginya untuk mengupah Bileam agar mengutuk mereka karena keadaan mereka benar-benar kasihan. Namun, apa yang dapat dilakukan oleh Bileam adalah memberkati bangsa Israel. Ia mengatakan bahwa Tuhan tidak melihat kepincangan atau kesukaran di antara orang Israel (23:21). Nubuat Bileam mengejutkan Balak, karena itu ia membawa Bileam ke tempat lain untuk mengutuk bangsa Israel. Jika Bileam melihat bangsa Israel dari sudut lain, dari arah lain, ia akan melihat situasi yang sebenarnya dan mengutuk mereka. Akhirnya Bileam mengatakan, "Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!" (24:5). Semua yang dapat dikatakan Bileam mengenai bangsa Israel hanyalah sesuatu yang positif. Jangan mengatakan bahwa gereja lokal di lokalitas Anda begitu kasihan. Jika Anda berkata demikian, Anda akan kehilangan sesuatu.

Musa kehilangan hak untuk masuk ke dalam tanah permai dikarenakan kesalahannya saat marah di Meriba. Karena ia marah, ia melakukan kesalahan. Tuhan tidak menyuruhnya memukul batu karang itu sekali lagi. Tuhan menyuruhnya pergi dan berkata kepada batu karang yang sudah dipukul itu. Ketika orang-orang marah, sangat mudah bagi mereka untuk melakukan kesalahan. Ketika Anda marah, Anda harus belajar kiat untuk lari dari situasi yang membuat Anda marah tersebut. Jangan mengatakan apaapa dan jangan melakukan apa pun. Larilah dari situasi tersebut dan jauhkanlah diri Anda sampai kemarahan Anda reda. Setelah itu Anda baru boleh kembali untuk mengatakan sesuatu. Bahkan Musa, seorang yang tua, berpengalaman, rendah hati, lembut, sabar, dapat melakukan kesalahan dalam kemarahannya.

Sangat sulit untuk lulus ujian dari gereja-gereja lokal. Dalam gereja-gereja lokal, saudara-saudara yang memimpin selalu diuji oleh orang-orang kudus. Mereka telah melakukan banyak hal yang baik kepada orang-orang kudus dan untuk orang-orang kudus, tetapi. orang-orang kudus mungkin melupakan semuanya itu. Mereka mungkin memaki saudara-saudara yang memimpin, bertengkar dengan mereka, dan mengatakan sesuatu yang jelek mengenai mereka. Hal tersebut menyebabkan saudara-saudara yang memimpin menjadi marah. Tetapi kita perlu berhati-hati dan tidak marah. Jangan menyebut orang-orang kudus sebagai orang-orang durhaka melainkan selalu katakanlah yang baik mengenai mereka. Jika Anda mengatakan bahwa para saudara sangat baik dan para saudari sangat menyenangkan, Anda akan mendapatkan sesuatu. Meskipun Musa melakukan kesalahan dengan memukul batu karang tersebut, Tuhanpenuh belas kasihan sehingga air masih keluar dari batu karang itu. Fakta bahwa batu karang masih mengeluarkan air walaupun Musa melakukan kesalahan adalah bukti betapa Tuhan penuh dengan belas kasihan.

Kita mempunyai fakta bahwa Kristus telah dipukul dan terbelah di atas salib sekali untuk selamanya. Dia tidak perlu dipukul lagi. Kita perlu menyadari fakta yang telah rampung yaitu bahwa Kristus telah dipukul di atas salib dua ribu tahun yang lalu. Kita tidak perlu memukul-Nya lagi, kita hanya perlu berbicara kepada-Nya. Ketika kita berbicara kepada-Nya, Dia akan memberi kita air hidup. Hymn 248 sangat bagus dalam mengutarakan hal ini :

Di padang b'lantara, bani Israel

haus hampir mati, p'rintah Allah b'ri;

ASPEK-ASPEK MINUM DALAM PERJANJIAN LAMA 45

pukul batu, air hayat ngalir.

Jangan ulangi, t'lah pecah kini,

alirkan air hayat abadi.

Koor : Batu pecah, ngalir air hayat;

Rohulkudus-Nya sertamu tiasa,

s'mua k'limpahan-Nya tersedia lengkap,

asal Kau taat, pasti men'rima.

Hayat Tuhan Yesus masih tersedia,

Roh Allah yang kekal, aku benamlah;

hingga aku tidak meronta, mati serta-Nya

lepaskan haus ke Golgota jumpa Roh Kudus.

Dengan hati murni percaya Tuhan

Dengan hati damai men'rima Tuhan

Sepri kanak di pangkuan-Nya, putuskan dunia

kenal kasih-Nya t'rima berkat, that p'rintah-Nya.

Semakin Anda menyanyikan kidung ini, Anda akan semakin jatuh cinta kepada-Nya. Kristus telah disalibkan dan terbelah bagi kita. Kita tidak perlu memukul Dia, kita hanya perlu berseru kepada-Nya, berbicara kepada-Nya, memohon kepada-Nya untuk memberi kita air hidup.

MENGGALI KELUAR KOTORAN-KOTORAN

UNTUK MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI MATA AIR

Perihal minum yang keempat dari bangsa Israel tercatat dalam Bilangan 21:16-18. Mereka datang ke tempat yang disebut Beer, yang berarti mata air. Ketika bangsa Israel tiba di Beer, mereka tiba di mats air (sumur). Hal ini melambangkan Kristus sebagai mata air di dalam kita. Dia bukan hanya bate karang yang terbelah tetapi juga sebuah math air. Dalam Yohanes 4:14, Tuhan Yesus memberi tahu kita, jika kita minum Dia, kita akan memiliki mata air di dalam kita. Di luar kita, Kristus adalah batu karang, dan di dalam kita, Dia adalah mata air. Sebagai batu karang di luar kita, Dia perlu dipukul. Karena Kristus adalah math air di dalam kita, kita perlu digali. Kristus tidak perlu dipukul lagi, tetapi kita perlu digali sehingga Kristus sebagai mata air dapat memancar dari dalam insan batin kita. Dalam insan batin kita banyak kotoran yang menyumbat aliran Kristus. Semua kotoran ini perlu digali keluar.

Bilangan 21:17b, 18 mengatakan, "Karena sumur yang digali oleh raja-raja, yang dikorek oleh kaum bangsawan di antara bangsa itu dengan tongkat-tongkat kerajaan (dengan pimpinan para pembuat hukum—T1.), dengan tongkat-tongkat mereka." Alkitab versi The American Standard memberi tahu kita bahwa kaum bangsawan di antara bangsa itu menggali math air "dengan tongkat-tongkat kerajaan, dengan tongkat-tongkat mereka" (ay. 18). Tongkat kekuasaan adalah tongkat kerajaan dalam tangan penguasa dan berkenaan dengan otoritas. Mazmur 23 menunjukkan bahwa gada atau tongkat adalah untuk membimbing (ay. 4). Karena itu, tongkat kekuasaan adalah untuk otoritas, dan tongkat-tongkat adalah untuk membimbing. Kita perlu digali di bawah otoritas Tuhan dan menurut bimbingan-Nya.

Pada umumnya, para pangeran dan bangsawan di antara bangsa itu bukanlah orang-orang yang menggali math air. Orang-orang dari kelas bawahlah yang seharusnya melakukan penggalian. Tetapi Bilangan 21 memberi tahu kith bahwa para bangsawan dan para pangeran di antara umat kepunyaan Allah menggali math air di Beer. Jika kita mau menikmati Kristus sebagai math air yang memancar sepanjang waktu dalam gereja-gereja lokal, semua saudara-saudara yang memimpin harus memelopori menggali kotorankotoran di bawah otoritas Tuhan dan menurut pimpinan-Nya. Dengan demikian, kita akan memiliki sebuah math air yang memancarkan air hidup sepanjang waktu dalam gereja-gereja, karena kita mempunyai penggalian yang dilakukan oleh para pangeran dan para bangsawan dengan tongkat-tongkat kerajaan dan dengan tongkat-tongkat.

BERSERU KEPADA TUHAN

UNTUK MINUM AIR HIDUP

Kisah Simson dalam kitab Hakim-hakim 15 adalah perihal minum yang kelima dalam Perjanjian Lama. Roh Tuhan berkuasa atas Simson, membuatnya mampu membunuh seribu orang Filistin dengan tulang rahang keledai. Sesudah itu, Simson kehausan, sehingga berserulah ia kepada Tuhan (15:18) dan "kemudian Allah membelah liang batu yang di Lehi itu, dan keluarlah air dari situ. Ia minum, lalu menjadi kuat dan segar kembali. Sebab itu dinamailah mata air itu Mata Air Penyeru (En-Hakkore), yang sampai sekarang masih ada di Lehi" (ay. 19). ,En-Hakkore berarti mata air penyeru atau sumber penyeru. Ketika kita menyeru nama Tuhan, kita minum air hidup dan kita disegarkan. Bagian-bagian dari kitab suci yang telah kita bahas dalam bab ini meliputi lima peristiwa yang memberikan gambaran utuh mengenai minum dalam Perjanjian

Lama.