ANAK DOMBA, MANNA, DAN HASIL TANAH UNTUK MAKANAN
Pembacaan Alkitab :
Kel. 12:2-11; 13:4; 16:13b-15, 31, 35;
Bil. 11:7-8; Yos. 5:10-12
Kitab Kejadian adalah kitab penciptaan, dan kitab Keluaran adalah kitab penebusan. Dad dua pasal pertama kitab Kejadian, kita telah melihat bahwa sejak semula Allah bermaksud agar manusia makan pohon kehidupan (pohon hayat). Pohon hayat melambangkan did Allah sebagai hayat untuk diberikan kepada kita dalam bentuk makanan. Semakin kita makan Dia, menikmati Dia, berbagian dalam diri-Nya sebagai hayat kita, Dia akan semakin tercerna ke dalam kita, bersatu dengan kita dengan cara berbaur. Dalam Kejadian 3 tercatat bahwa manusia jatuh. Si jahat masuk ke dalam manusia yang diciptakan Allah demi tujuan-Nya sehingga manusia menjadi rusak dan hancur. Pada din manusia ada masalah yang serius, karena itu diperlukan pembebasan. Itulah sebabnya perlu ada kitab Keluaran.
Kejadian 3 sampai Keluaran 12 merupakan kurun waktu yang panjang dan memiliki sejarah yang panjang. Dalam kurun waktu yang panjang ini, tercatat kejatuhan manusia. Kejatuhan ini dimulai dari Adam dan berlangsung terus sampai bangsa Israel. Akhir kitab Kejadian menunjukkan kepada kita di manakah manusia berada. Kejadian 50:26 memberi tahu kita bahwa manusia berakhir "dalam peti mati di Mesir". Inilah tempat kejatuhan manusia. Mula-mula, Allah menciptakan langit dan bumi, lalu Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat dengan maksud agar manusia makan pohon ini. Tetapi manusia jatuh dan jatuh dan jatuh lagi sehingga berakhir "dalam peti mati di Mesir". Ayat pertama dalam kitab Kejadian mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan...", dan ayat terakhir mengatakan bahwa sekarang manusia "dalam peti mati di Mesir". Karena sekarang manusia berada dalam peti mati di Mesir, maka manusia perlu penebusan dan pembebasan. Itulah sebabnya kitab Keluaran diperlukan.
ANAK DOMBA
Bagian pertama dari kitab Keluaran memberi tahu kita bahwa manusia berada dalam perbudakan, bekerja untuk Satan. Firaun, yang melambangkan Satan, yaitu musuh Allah, memaksa bangsa Israel untuk membangun dua kota perbekalan baginya (Kel. 1:11). Pekerjaan ini adalah pekerjaan kematian, pekerjaan yang mematikan. Dalam pandangan Allah, bangsa Israel sedang bekerja dalam peti mati di Mesir, karena itu mereka memerlukan pembebasan. Keluaran 12 memberi tahu kita bagaimana Allah datang untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan musuh-Nya. Dalam Keluaran 12, Allah tidak menyajikan pohon hayat kepada bangsa Israel melainkan seekor Anak Domba. Pohon hayat berubah menjadi Anak Domba karena manusia telah jatuh.
Perlunya Hayat dan Penebusan
Dalam kitab Keluaran, Allah datang untuk memulihkan manusia yang telah jatuh dalam peti mati di Mesir. Sebelum kita diselamatkan, kita juga berada dalam peti mati di Mesir. Ketika kita berada dalam situasi yang demikian, Tuhan mendatangi kita dan Ia memberikan diri-Nya kepada kita sebagai Anak Domba Allah. Sejak manusia jatuh, pohon hayat saja tidak cukup untuk membebaskan manusia. Untuk menyelesaikan masalah kejatuhan manusia, diperlukan hayat dan penebusan. Penebusan memulihkan manusia yang jatuh, dan hayat mempertahankan tujuan Allah yang sebermula. Kita semua harus berkata, "Haleluya bagi Anak Domba," karena Anak Domba menggenapkan tujuan penebusan dan tujuan hayat. Anak Domba memberikan baik darah maupun daging kepada kita. Darah Anak Domba adalah untuk penebusan (12:7, 13), dan daging Anak Domba adalah untuk hayat (12:4, 8-11). Allah tidak melepaskan tujuan sebermula-Nya, tetapi karena kejatuhan manusia, sesuatu yang lain ditambahkan. Hayat saja tidak cukup, sekarang diperlukan penebusan, sebab itu pohon hayat berubah menjadi Anak Domba.
Baik Anak Domba maupun pohon hayat terdapat dalam Injil Yohanes. Injil Yohanes memberi tahu kita bahwa pada mulanya adalah Firman (1:la), Firman itu adalah Allah (1:1b), dan Firman itu telah menjadi daging (1:14). Firman yang telah menjadi daging, yaitu manusia Allah, adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (ay. 29). Yohanes 15 mewahyukan pohon anggur, yaitu pohon hayat yang menyuplaikan hayat. Anak Domba adalah Kristus untuk penebusan dan pohon adalah Kristus untuk hayat.
Abib—Permulaan Baru
Tuhan memberi tahu Musa dan Harun bahwa mereka harus menjadikan bulan pembebasan mereka sebagai permulaan segala bulan, bulan pertama tiap-tiap tahun (Kel. 12:2). Bulan pada waktu mereka keluar dari Mesir adalah bulan Abib (13:4). Sebenarnya, bulan ini adalah bulan ketujuh, tetapi Allah membuatnya menjadi bulan pertama tiap-tiap tahun, permulaan segala bulan. Pada mulanya Allah menciptakan, tetapi apa yang telah diciptakan Allah berada dalam peti mati di Mesir. Jadi, diperlukan permulaan yang lain. Permulaan pada Kejadian 1 sudah terkubur dalam peti mati. Tetapi dalam Keluaran 12, Allah membuat permulaan yang lain. Permulaan pertama ada dalam Kejathan 1, dan permulaan ini adalah untuk penciptaan. Permulaan kedua ada dalam Keluaran 12, dan permulaan ini adalah untuk penebusan. Permulaan pertama adalah untuk penciptaan dengan tujuan hayat. Permulaan kedua adalah untuk penebusan dengan tujuan hayat pula. Pada kedua permulaan tersebut, Allah mempunyai tujuan yang sama. Kita semua perlu menyadari bahwa kita mempunyai dua permulaan. Ketika menerima Tuhan, kita mempunyai permulaan yang lain.
Bulan pertama dari tiap-tiap tahun disebut bulan Abib. Konkordansi Strong memberi tahu kita bahwa kata Abib berarti sebulir padi yang muda atau bulir-bulir jagung yang belum masak. Bulir jagung yang muda, belum masak, dan lunak mengacu kepada permulaan yang baru. Konkordansi Young memberi tahu kita bahwa Abib mengacu kepada sesuatu yang bertumbuh dan bertunas. Inilah permulaan hayat. Ketika beberapa orang bertanya kepada saya kapan saya dilahirkan, saya lebih suka memberi tahu mereka bahwa hari ulang tahun saya adalah bulan Abib. Abib adalah permulaan kita. Permulaan ini bukanlah permulaan penciptaan tetapi permulaan hayat baru. Sesuatu yang bertumbuh, bertunas, bulir yang belum masak, muda, dan lunak melambangkan hayat baru dan juga menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari pohon hayat. Hayat baru adalah sesuatu yang bertunas, sesuatu yang bertumbuh, sesuatu yang menghasilkan bulir yang belum masak, lunak, muda, dan sesuatu yang berkembang. Kita harus belajar memahami Alkitab dengan melihat lambanglambang dalam Perjanjian Lama. Sebuah lambang lebih baik daripada ribuan kata. Permulaan kedua ini adalah permulaan hayat dan hayat ini adalah hayat yang bertunas, bertumbuh.
Anak Domba untuk Hayat
Bangsa Israel berada dalam peti mati di Mesir. Meskipun telah dibawa keluar dari Mesir dan masuk ke tanah Kanaan, mereka masih tetap mati, tanpa hayat. Mereka perlu dibawa keluar dari dalam peti mati, keluar dari Me-sir, dan mereka perlu hayat yang masuk ke dalam mereka. Hayat ini dilambangkan dengan daging anak domba.
Keluaran 12 memberi tahu kita bahwa Tuhan menyuruh bangsa Israel menyiapkan anak domba menurut keperluan tiap-tiap orang (ay. 4). Jika seseorang dapat makan lebih banyak, ia harus menyiapkan anak domba lebih banyak. Ini berarti anak domba tidak dipersiapkan berdasarkan penebusan, tetapi berdasarkan kapasitas hayat. Hal ini dikarenakan anak domba bukan hanya untuk penebusan, tetapi yang lebih penting adalah untuk hayat. Anda perlu anak domba yang lebih besar ataukah anak domba yang lebih kecil? Anda mungkin berpikir bahwa Anda begitu berdosa dan dosa-dosa Anda lebih besar daripada oranglain sehingga Anda perlu Kristus yang lebih besar. Inilah konsep manusia, bukan konsep ilahi. Konsep ilahi adalah kita harus menyiapkan anak domba menurut keperluan kita. Kristus memberi kita sesuai dengan keperluan, kapasitas hayat.
Kami tidak bermaksud merendahkan nilai penebusan Kristus, tetapi banyak orang Kristen yang terlalu menekankan penebusan sehingga melupakan perkara hayat. Ketika masih muda, saya mendengar sejumlah berita mengenai perayaan Paskah. Berita itu selalu menekankan bahwa darah Anak Domba telah menebus kita sehingga Allah mengampuni kita. Ini baik dan benar, tetapi kita perk' sadar bahwa darah bukanlah sasaran. Darah adalah sarana untuk mencapai sasaran. Sasarannya tidak lain adalah hayat. Sasarannya adalah agar kita memperoleh anak domba untuk masuk ke dalam kita, sehingga kita memiliki Anak Domba di dalam kita sebagai hayat.
Karena kita berdosa di pandangan Allah, maka kita perlu darah. Bangsa Israel telah jatuh dan berdosa seperti bangsa Mesir. Pada malam perayaan Paskah, Allah datang ke bumi untuk menghakimi orang-orang berdosa. Tanpa penudungan darah, bangsa Israel akan dibunuh oleh Allah sama seperti bangsa Mesir. Tetapi Allah telah memberikan jalan kepada mereka agar bisa diampuni. Mereka perlu penudungan darah, karena itu mereka perlu menyembelih anak domba menurut perintah Allah. Mereka lalu mengambil darah anak domba dan membubuhkannya pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah-rumah mereka (Kel. 12:7). Waktu itulah rumah-rumah mereka dipercik dengan darah penebusan dan mereka juga makan daging anak domba di dalam rumah-rumah mereka. Ini berarti mereka berada di bawah penudungan darah. Lalu Allah datang untuk menghakimi bangsa Mesir dan membunuh setiap orang yang tidak berada di bawah penudungan darah anak domba. Tetapi Allah mengampuni bangsa Israel yang berada di bawah penudungan ini. Ketika bangsa Mesir dibunuh oleh Allah, bangsa Israel sedang menikmati daging anak domba di bawah penudungan darah. Jadi, darah adalah untuk daging, dengan kata lain, penebusan adalah untuk hayat.
Tidak Dimakan Mentah atau Direbus
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan cara makan daging anak domba. Tuhan memberi tahu bangsa Israel bahwa mereka tidak boleh memakannya secara mentah atau direbus dalam air. Anak domba tersebut harus dipanggang di api (Kel. 12:9). Mentah berarti tidak melalui penderitaan dan direbus berarti hanya menderita di tangan manusia. Aliran modern mengatakan bahwa kematian Kristus hanyalah mati martir. Bagi mereka, Kristus hanya menderita siksaan manusia. Inilah yang dimaksud dengan anak domba yang direbus dalam air. Tetapi dipanggang di api berarti menderita di bawah penghakiman pembakaran Allah. Api menyatakan murka kudus Allah. Anak domba yang dip anggang di api berarti Kristus harus dihakimi oleh Allah. Kristus tidak hanya menderita di tangan manusia sebagai suatu penyiksaan, tetapi di bawah tangan Allah sebagai penghukuman ilahi, penghakiman ilahi. Inilah yang dimaksud dengan dipanggang di bawah api ilahi. Kristus bukan anak domba yang mentah atau anak domba yang direbus dalam air. Anak domba kita, Kristus, adalah anak domba yang dipanggang di bawah api ilahi. Kita makan Kristus yang sedemikian ini.
Menjadi Satu dengan Anak Domba
melalui makan Anak Domba
Ketika masih muda, saya selalu diajar bahwa kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan kita. Karena Kristus mengasihi manusia, kita harus meniru Dia dengan mengasihi orang lain. Karena ketika berada di bumi, Kristus baik dan rendah hati, kita mengira bahwa kita juga harus demikian. Meneladani Kristus dengan cara ini adalah tidak mungkin. Cara yang terbaik untuk mengikuti Tuhan adalah mendapatkan diri-Nya masuk ke dalam kita melalui makan Dia. Kita perlu bersatu dengan Anak Domba melalui makan Anak Domba. Dengan demikian, kita akan tersusun oleh anal domba. Allah tidak menyuruh bangsa Israel menyembelih seekor anak domba untuk diambil darahnya dan mengambil anal domba lain agar mereka dapat belajar meneladaninya. Allah menyuruh mereka menyembelih satu anak domba, mengoleskan darahnya pada rumah; dan di bawah penudungan darah, mereka makan anal domba yang tersembelih dan dipanggang. Dengan demikian, anak domba itu akan menjadi satu dengan bangsa Israel, akan berada di dalam mereka, dan akan menjadi unsur pokok mereka. Pemahaman ini sangat dalam. Hidup kristiani bukanlah perkara meneladani Kristus, snengikuti Kristus secara luaran. Hidup kita adalah perkara makan Kristus, menerima Kristus ke dalam kita, dan mencerna apa adanya Kristus ke dalam diri kita.
DIMAKAN DENGAN ROTI YANG TIDAK BERAGI
DAN SAYUR PAHIT
Bangsa Israel juga harus makan anal domba dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit (Kel. 12:8). Roti dan sayur menyatakan bahwa perayaan Paskah bukan hanya terdiri atas hayat binatang tetapi juga hayat tumbuhan. Pohon hayat adalah hayat tumbuhan, tetapi anak domba adalah hayat binatang. Mula-mula, anak domba adalah untuk penebusan, tetapi setelah penebusan dirampungkan dan dialami, anak domba menjadi pohon hayat untuk memberi kita hayat.
Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa Dia adalah roti hidup (ay. 35). Ia juga memberi tahu kita bahwa darah-Nya dapat diminum dan daging-Nya dapat dimakan (ay. 55). Dalam Yohanes 6:51, Tuhan berfirman bahwa roti yang Dia berikan adalah daging-Nya. Dalam Yohanes 6, roti jelai juga adalah roti darah dan daging. Kristus adalah Anal Domba yang tersembelih bagi kita, dan pada-Nya ada darah dan daging. Kristus juga adalah hayat bagi kita, jadi Ia adalah roti hayat, pohon hayat, hayat tumbuhan. Dalam Yohanes 1, Kristus adalah Anak Domba, dan dalam Yohanes 15, Kristus adalah pohon hayat. Di antara dua pasal ini, yaitu dalam pasal 6, Kristus adalah roti hidup yang memiliki darah dan daging. Di satu pihak, Kristus adalah hayat yang menebus, hayat binatang, tetapi di pihak lain, Kristus adalah hayat yang melahirkan kembali, hayat tumbuhan. Ia adalah anak domba, hayat binatang, untuk menebus; dan pohon, hayat tumbuhan, untuk melahirkan kembali. Jadi, ada perkara penebusan dan hayat.
Roti adalah hayat tumbuhan dan hanya untuk memberi makan; daging adalah hayat binatang dan bukan hanya untuk memberi makan tetapi juga untuk menebus. Sebelum kejatuhan manusia, Tuhan adalah pohon hayat (Kej. 2:9), hanya untuk memberi makan manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Tuhan menjadi Anak Domba (Yoh. 1:29), bukan hanya untuk memberi makan manusia tetapi juga untuk menebus manusia (Kel. 12:4, 7-8, 12-13).
Makan untuk Pergi
Keluaran 12 juga memberi tahu kita bahwa mereka makan anak domba dengan pinggang berikat, kasut pada kaki mereka, dan tongkat di tangan mereka (ay. 11). Bangsa Israel tidak makan anak domba dengan pelanpelan atau santai. Mereka makan anak Domba dengan tergesa-gesa. Saya yakin bahwa mereka semua makan sambil berdiri. Pinggang mereka berikat, mereka memakai kasut pada kaki mereka, dan mereka memegang tongkat di tangan mereka. Andaikata mereka hanya mempunyai darah yang menudungi tanpa daging untuk dimakan, dan Allah memberi perintah kepada mereka untuk mengikat pinggang mereka, memakai kasut, memegang tongkat, dan dengan tergesa-gesa keluar dari Mesir, maka mereka pasti akan merasa lapar. Meskipun mereka telah mempunyai darah yang menudungi mereka, di dalam mereka masih tetap kosong. Tanpa makan, mereka tidak akan mempunyai kekuatan untuk segera meninggalkan Mesir. Gambaran ini menunjukkan kepada kita bahwa makan anak domba adalah untuk pergi. Bagi kita, hayat adalah untuk pergi. Mereka makan anak domba dengan tergesa-gesa. Saat mereka makan, mereka telah siap untuk keluar dari Mesir. Ketika kita makan, biasanya kita duduk dengan santai. Tetapi selama Paskah, bangsa Israel makan dengan terburu-buru karena bagi mereka makan adalah untuk pergi. Ini adalah permulaan baru, bukan untuk penciptaan tetapi permulaan penebusan untuk hayat.
MANNA
Catatan sejarah umat Allah terus-menerus berkaitan dengan makan. Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, makan menjadi keperluan pokok di padang gurun. Mereka mulai makan manna.
Sebuah Rahasia
Istilah manna dalam bahasa Ibrani berarti "Apakah itu?" atau "Apakah ini?" Pada pagi hari ketika bangsa Israel untuk kali pertama melihat sesuatu yang kecil, bundar, putih di atas tanah, mereka tidak tahu benda apakah itu. Jadi, mereka saling bertanya, "Apakah ini?" Jadi, "Apakah ini?" adalah arti kata manna. Kita mungkin tahu bentuk jagung dan gandum, tetapi apakah ini? Terhadap orangorang dunia, Kristus adalah manna, yaitu, la adalah "Apakah ini?" Profesor-profesor memahami fisika, matematika, sejarah, dan geografi; tetapi jika membicarakan Kristus, mereka akan bertanya, "Apakah ini?" Kristus adalah manna yang sesungguhnya, "Apakah ini" yang sesungguhnya. Kristus adalah roti surgawi di bumi. Di bumi tidak ada satu pun yang seperti manna. Manna, Kristus yang surgawi sebagai makanan surgawi kita, adalah sebuah rahasia (misteri).
Rasa kue Madu dan Panganan yang Digoreng
(minyak segar)
Manna mempunyai rasa kue madu dan panganan yang digoreng (minyak segar) (Kel. 16:31, Bil. 11:8-9). Ketika kita makan manna, kita menikmati madu dan minyak. Minyak dalam Alkitab melambangkan Roh itu. Dalam manna mengandung rasa Roh itu dan rasa madu. Madu adalah perbauran antara dua hayat, hayat binatang dengan hayat tumbuhan. Lebah madu yang menghasilkan madu menerima suplai dari bunga-bunga, yaitu hayat tumbuhan. Sebagai manna, Kristus mempunyai elemen perbauran antara hayat binatang, hayat yang menebus, dengan hayat tumbuhan, hayat yang melahirkan kembali. Perbauran ini adalah makanan kita yang manis.
Kecil dan Bundar
Kitab Keluaran juga memberi tahu kita bahwa bentuk manna itu kecil dan bundar (16:14). Terjemahan Darby menggunakan istilah "halus" untuk kecil dan istilah "butiran (seperti sisik—LAI)" untuk bundar. Kehalusan atau kecilnya manna berarti bahwa manna siap dan tersedia untuk dimakan oleh umat Allah. Makanan yang kita makan harus cukup kecil untuk dimakan. Segala sesuatu yang halus, seperti tepung halus, gula halus, atau garam halus, siap dan tersedia untuk kita gunakan. Bundarnya manna menandakan Kristus yang kekal, sempurna, dan utuh, tanpa awal dan akhir. Kristus adalah makanan yang kekal dengan sifat kekal untuk perawatan kekal tanpa batas. Makanan kekal tanpa awal dan tanpa akhir ini adalah hayat kekal.
Putih dan seperti Embun Baku
Selanjutnya, Keluaran 16:31 menunjukkan bahwa manna itu berwarna putih. manna itu bersih dan murni, tanpa campuran apa pun. Kristus sebagai hayat kita dan suplai hayat kita begitu murni, begitu putih. Manna juga seperti embun beku (16:14). Embun beku adalah sesuatu di antara embun dan salju. Baik embun maupun embun beku menyegarkan. Tetapi meskipun embun menyegarkan, em-bun tidak membunuh kuman. Sedangkan, embun beku membunuh kuman. Hayat Kristus begitu menyegarkan, begitu menyejukkan, dan membunuh perkara negatif di dalam kita.
Datang Bersama Embun
Menurut catatan Keluaran 16:13-14 manna juga datang bersama embun di pagi hari. Embun bukan Minya menyegarkan tetapi juga membasahi. Hayat (yang adalah Kristus) adalah hayat yang membasahi. Embun lebih lunak daripada hujan dan tidak sedingin embun beku.
Kelihatannya seperti Damar Bedolah
Dalam Bilangan 11:7 kita diberi tahu bahwa bentuk manna adalah seperti bentuk damar bedolah (Ibrani). Ini berarti Kristus sebagai suplai hayat sehari-sehari kita begitu jernih. Selain itu, di sini tersirat arti transformasi. Semakin menikmati Kristus sebagai makanan surgawi, kita akan semakin jernih dan ditransformasi menjadi bahan bangunan Allah.
Dimakan sebagai Roti,
Roti Bundar, dan Kue Madu
Manna dimakan sebagai roti (Kel. 16:15), sebagai roti bundar (Bil. 11:8), dan sebagai kue madu (biskuit tipis—Kel. 16:31). Sebagai manna kita, Kritus mempunyai aspek yang berbeda-beda dan Ia juga memberi kita makan dengan cara yang berbeda-beda. Ketika kita makan Dia sebagai manna kita, adakalanya Ia terasa seperti roti dan adakalanya Ia terasa seperti roti bundar atau kue madu yang tipis serta mudah untuk dimakan dan dicerna.
Tidak Dibatasi oleh Hukum Tertentu
Akhirnya, sebagai manna, Kristus tidak dibatasi oleh hukum tertentu. Bilangan 11:8 mengatakan, "Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar." Kristus dapat digiling, ditumbuk dalam lumpang, atau dimasak dalam periuk. Jika Anda mengalami Kristus dengan cara tertentu, Anda menjadikannya suatu hukum. Tetapi Kristus tidak dibatasi oleh hukum tertentu. Ia dapat kita makan dan alami dengan banyak cara.
Kelanjutan Anak Domba Paskah
Kita harus menyadari bahwa manna adalah kelanjutan anak domba Paskah. Anak domba Paskah merupakan permulaan makan bangsa Israel, dan manna adalah kelanjutan dari makan tersebut selama empat puluh tahun. Setiap pagi, selama empat puluh tahun, ke mana saja mereka pergi, di mana saja mereka berada, manna selalu tersedia untuk dimakan oleh bangsa Israel. Ini adalah mujizat yang sesungguhnya. Fakta bahwa kita dapat makan Kristus dari hari ke hari adalah suatu mujizat. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, kita hanya makan satu makanan—Kristus sebagai manna surgawi kita.
Tidak Basi (Tidak Usang)
Berkenaan dengan makan, tidak ada perihal basi (usang). Ketika bangsa Israel makan anak domba, mereka tidak meninggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi (Kel. 12:10). Ketika mereka makan manna di padang gurun, manna yang sama selalu baru setiap hari. Tidak seorang pun pernah makan manna yang basi. Tetapi, bangsa Israel tidak mempunyai iman. Mereka mencoba menyimpan manna dan menentang apa yang diperintahkan Musa kepada mereka. Manna yang mereka simpan "berulat dan berbau busuk" (Kel. 16:20). Kita tidak dapat menyimpan manna, kita perlu setiap pagi makan Kristus dengan cara yang baru dari hari ke hari. Beberapa orang membeli bahan makanan sekali seminggu dan menyimpannya di dalam lemari es mereka, tetapi kita tidak mungkin menyimpan manna dengan cara ini. Dari hari ke hari makanan surgawi yang sama turun dari surga, baru, dan segar. Kita harus selalu mendapatkan yang terbaru (up to date) dari Tuhan. Kita juga harus selalu makan manna hari ini.
HASIL TANAH PERMAI
Akhirnya, bangsa Israel masuk ke tanah permai untuk menikmati hasil tanah tersebut. Anak Domba, manna, dan hasil tanah permai adalah lambang-lambang Kristus. Kristus adalah Anak Domba kita, manna kita, dan tanah kita. Sebagai tanah, Kristus kaya hingga tak terbatas. Tanah ini adalah, "suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun" (Ul. 8:8-9). Semua hasil tanah permai ini adalah Kristus sendiri sebagai kenikmatan kita. Yosua 5:10-12 mengatakan, "Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho. Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga. Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan basil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan." Dalam potongan ayat yang singkat ini, Yosua menempatkan ketiga butir ini bersamasama. Ia menyebutkan anak domba Paskah, manna, dan hasil tanah permai. Butir-butir ini adalah Kristus sebagai makanan kita untuk hayat. Syukur kepada Tuhan atas anak domba, manna, dan tanah permai dengan semua hasilnya yang kaya.