HAYAT UNTUK GAMBAR DAN KEKUASAAN
Pembacaan Alkitab :
Kej. 1:21, 26-28, 31; Mat. 6:10; Kol. 1:15;
Rm. 8:29; 12:2; 2 Kor. 3:18; 1 Yoh. 3:2; Luk. 10:19;
Why. 2:26-27; Kej. 2:10-12, 18-24
HASRAT ALLAH
UNTUK MENGEKSPRESIKAN DIRI-NYA SENDIRI
DAN MENANGGULANGI MUSUH-NYA
Hayat adalah untuk ekspresi Allah. Hayat diperlukan karena Allah bermaksud untuk mengekspresikan diri-Nya dan hayat adalah sarana untuk mengekspresikan Allah. Dalam penciptaan, semua hayat yang lebih rendah adalah untuk hayat yang lebih tinggi, semua hayat yang lebih tinggi adalah untuk hayat ciptaan yang paling tinggi, dan hayat ciptaan yang paling tinggi adalah untuk hayat ilahi. Sebagai hayat ciptaan yang paling tinggi, manusia hidup untuk mengekspresikan Allah. Kita harus ingat bahwa manusia adalah jenis Allah. Manusia diciptakan bukan menurut rupanya sendiri, tetapi menurut rupa Allah; juga bukan menurut gambarnya sendiri, tetapi menurut gambar Allah. Yakobus memberi tahu kita bahwa manusia menggunakan lidahnya bukan hanya untuk memuji Tuhan tetapi juga untuk "mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah" (3:9). Kita harus menyadari bahwa setiap manusia dieiptakan menurut rupa Allah, karena itu kita tidak seharusnya memandang rendah manusia mana pun. Satu Korintus 11:7 mengatakan, "Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah." Manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26), untuk mengekspresikan Allah dan memuliakan Dia. Kita mungkin mengatakan bahwa Allah adalah kemuliaan kita, tetapi ayat ini mengatakan bahwa kita adalah kemuliaan Allah. Kita menyadari bahwa Allah adalah kemuliaan kita dan kita ingin mengalami Allah sebagai kemuliaan kita. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa kita adalah kemuliaan Allah karena kita akan mengekspresikan Allah dengan hayat-Nya. Tanpa hayat, manusia tidak pernah dapat mengekspresikan Allah. Jadi, hayat adalah sarana kita untuk mengekspresikan Allah. Hayat tumbuhan dan hayat binatang adalah untuk hayat manusia agar manusia hidup bagi Allah. Hayat manusia, hayat ciptaan yang paling tinggi, adalah untuk hayat ilahi, hayat bukan ciptaan.
Manusia diciptakan bukan hanya untuk mengekspresikan Allah tetapi juga untuk mewakili Allah. Kita telah diberi, diserahi otoritas Allah. Ini berarti Allah memberi kita kuasa untuk menjadi wakil-wakil-Nya. Jadi, kita memiliki kuasa atas segala sesuatu di bumi kecuali atas Allah (Kej. 1:26). Allah lebih tinggi daripada kita; kita berada di bawah Allah, tetapi kits lebih tinggi daripada segala sesuatu yang lain. Kita lebih tinggi daripada segala sesuatu yang ada di dalam air, segala sesuatu yang ada di bumi, dan segala sesuatu yang ada di udara. Manusia adalah panglima tertinggi yang sesungguhnya atas daratan, lautan, dan udara, dan manusia diciptakan untuk mewakili Allah dengan hayat.
Tujuan kekal Allah adalah mengekspresikan diri-Nya melalui hayat manusia ciptaan, tetapi Satan datang untuk menghalangi. Satan berbuat sebisanya untuk menghancurkan tujuan Allah, menghalangi Allah merampungkan maksud kekal-Nya. Dalam alam semesta, ada perselisihan, peperangan antara Satan dengan Allah. Tujuan Allah selalu berkaitan dengan ekspresi diri-Nya, dan tujuan Satan adalah menentangnya. Karena itu, dalam alam semesta ada dua tujuan: tujuan ilahi dan tujuan setan. Kedua tujuan ini saling berlawanan. Allah sedang menggenapkan tujuan-Nya, dan Satan sedang berbuat sebisanya untuk menggagalkan tujuan Allah. Inilah peperangan dan perselisihan yang unik dalam alam semesta dan peperangan ini juga sedang terjadi di dalam diri kita. Di dalam diri kita, ada perselisihan antara Satan dengan Allah. Allah ingin mengekspresikan diri-Nya melalui kita, dan Satan sedang berbuat sebisanya untuk menggagalkannya.
Sebelum manusia diciptakan, Satan memberontak melawan Allah dan menghancurkan serta merampas bumi. Boleh dikatakan, hak Allah atas bumi telah dirampas oleh Satan. Karena itu, sejak dahulu hingga saat fin, bumi berada di bawah tangan perampas musuh (1 Yoh. 5:19). Di surga tidak ada masalah bagi Allah, tetapi di bumi ada masalah yang serius bagi Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berdoa, "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:10). Di surga, tidak ada masalah bagi kehendak Allah; tetapi di bumi, ada masalah yang serius bagi kehendak Allah. Karena itu, kita perlu berdoa supaya kehendak Bapa terlaksana di bumi seperti di surga. Masalah sebenarnya adalah hari ini Satan sedang menduduki bumi. Bumi berada di bawah tangan si perampas. Itulah sebabnya dalam Kejadian 1 Allah berfirman bahwa hayat yang menyerupai Dia harus menaklukkan bumi, menguasai bumi (ay. 28). Bumi harus dikalahkan dan ditaklukkan karena di bumi ada pemberontakan melawan Allah yang dihasut oleh Satan. Bumi yang memberontak perlu ditaklukkan oleh manusia yang hidup dengan hayat Allah. Untuk menaklukkan, mengalahkan bumi, kita memerlukan hayat ilahi.
Kejadian 1:26 memberi tahu kita bahwa manusia harus berkuasa "atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Di antara binatang melata ini terdapat ular. Ular melambangkan Satan, si pendakwa, yaitu pemimpin atas segala binatang melata (cf. Luk. 10:19). Berkuasa atas segala binatang melata berarti berkuasa atas Satan. Menaklukkan berarti menaklukkan pemberontakan Satan. Karena Allah itu mahakuasa, mahakuat, maka Ia dapat dengan mudah membasmi Satan. Namun Allah tidak ingin membasmi Satan secara langsung. Allah menginginkan ciptaan yang lain, yaitu manusia, yang dapat digunakan-Nya untuk membasmi Satan. Jadi, hayat manusia adalah sarana Allah untuk membasmi Satan.
Ketika menciptakan manusia, Allah berhasrat merampungkan dua hal : mengekspresikan diri-Nya dan membasmi musuh-Nya, yaitu Satan. Allah menggunakan manusia untuk mengekspresikan diri-Nya dan untuk membasmi Satan.
Allah Bermaksud
Agar Manusia Mengekspresikan Diri-Nya
Menurut Gambar-Nya
Kejadian 1:26 memberi tahu kita bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Di satu pihak, Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa Allah tidak dapat dilihat, tetapi di pihak lain, Alkitab juga memberi tahu kita bahwa Allah mempunyai sebuah gambar. Dalam Kejadian 1:26 Allah berfirman, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita." Tetapi ayat 27 mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia "menurut gambar-Nya." Ayat 26 menggunakan kata ganti jamak "kita" dan ayat 27 menggunakan kata ganti tunggal "Nya", hal ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal. Kolose 1:15 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Jadi, manusia diciptakan menurut Kristus karena Kristus adalah gambar Allah.
Allah bermaksud agar kita diserupakan dengan gambaran Anak-Nya (Rm. 8:29). Dua Korintus 3:18 memberi tahu kita bahwa kita harus ditransformasi serupa dengan gambar Tuhan dari satu tingkat kemuliaan kepada tingkat kemuliaan yang lain. Kita diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal, yaitu Kristus, dan pada akhirnya kita akan menjadi gambar Allah. Kita telah menerima Kristus ke dalam kita, dan secara perlahan-lahan Dia mentransformasi kita menurut gambar-Nya. Sebagai Yerusalem Baru dalam kekekalan, semua orang tebusan Allah akan diserupakan dengan gambaran Anak Allah untuk mengekspresikan Allah sepenuhnya. Kristus adalah gambar Allah maka Dia adalah model, pola, dan cetakan. Ketika tanah hat atau adonan diletakkan ke dalam sebuah cetakan maka tanah hat atau adonan tersebut akan diserupakan dengan gambar cetakan itu. Kita diciptakan menurut Kristus dan kita telah menerima Kristus ke dalam kita, dengan demikian kita dapat ditransformasi dan diserupakan dengan gambar Kristus hingga mengekspresikan Kristusmenurut gambar-Nya dalam kekekalan. Dalam kekekalan, kita akan mutlak seperti Dia. Satu Yohanes 3:2 mengatakan, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." Tujuan Allah baru tercapai pada saat kita sepenuhnya ditransformasikan dan diserupakan dengan gambar-Nya. Pada waktu itu, kita akan mutlak bersatu dengan Allah dan mutlak adalah jenis Allah. Kita akan menjadi ekspresi Allah, mengekspresikan Dia sepenuhnya menurut gambar-Nya.
Allah Bermaksud
Agar Manusia Mewakili Dia Dan Memiliki Otoritas-Nya
Selain itu, Allah bermaksud agar manusia mewakili Dia dan memiliki otoritas-Nya. Dia berhasrat agar manusia memerintah dalam hayat-Nya (Rm. 5:17). Setelah kebangkitan, Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid bahwa kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi (Mat. 28:18). Karena segala otoritas telah diberikan kepada-Nya, Kritus sebagai raja surgawi mengutus muridmurid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (ay. 19). Sebagai murid-murid-Nya, kita pergi dengan membawa otoritas-Nya. Kristus bukan hanya telah memberi kita kekuatan-Nya tetapi juga otoritas-Nya untuk memerintah atas Satan. Dalam Lukas 10:19 Tuhan berkata, "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang membahayakan kamu." Ular mengacu kepada Satan dan malaikat-malaikatnya (Ef. 2:2; 6:11-12); kalajengking mengacu kepada roh-roh jahat (Luk. 10:17, 20). Murid-murid menaklukkan kekuatan jahat mereka dengan otoritas Tuhan.
Suatu hari para pemenang akan memiliki otoritas untuk memerintah bumi sama seperti Kristus. Wahyu 2:26-27 mengatakan, "Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa, dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk—sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku." Mazmur 2:8-9 memberi tahu kita bahwa Allah memberi Kristus otoritas untuk memerintah atas bangsa-bangsa; dan di sini, dalam Wahyu 2, Kristus mengaruniakan otoritas yang sama kepada para pemenang-Nya. Wahyu 20:4-5 memberi tahu kita bahwa para pemenang duduk di takhta dan kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Para pemenang ini memerintah bersama Kristus selama seribu tahun. Kebangkitan dari jabatan raja adalah pahala bagi para pemenang sehingga mereka dapat meraja bersama Kristus dalam kerajaan seribu tahun (cf. Why. 20:6). Akhirnya, semua orang tebusan Allah akan "memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya" (Why. 22:55) sebagai unsur pokok Yerusalem Baru. Meraja selama-lamanya akan menjadi berkat akhir bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan.
HASIL ALIRAN HAYAT
Kita telah melihat bahwa Allah berhasrat agar manusia diisi dengan hayat-Nya sehingga manusia bisa mengekspresikan Dia menurut gambar-Nya dan memerintah dalam Dia dengan kuasa-Nya. Hasrat Allah agar manusia mengekspresikan Dia dan memiliki kuasa atas musuh-Nya hanya dapat diwujudkan dengan hayat Allah. Karena itu, dalam Kejadian 2 kita melihat bahwa Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat dengan maksud agar manusia mengambil Allah sebagai hayat masuk ke dalam dirinya (ay. 8-9). Kejadian 2 juga mengatakan bahwa sebuah sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu (ay. 10), hal ini menunjukkan bahwa ketika kita makan Allah sebagai hayat, kita dibawa masuk ke dalam persekutuan, aliran, dari hayat ini.
Ditransform menjadi Bahan-bahan Berharga
bagi Bangunan Allah
Seperti yang diperlihatkan dalam Kejadian 2, hasil dari aliran hayat adalah emas, damar bedolah (sejenis mutiara), dan batu krisopras (ay. 11-12). Ketika kita menikmati Allah Tritunggal, yaitu aliran hayat ilahi yang di dalam kita, kita akan ditranform menjadi bahan-bahan berharga bagi bangunan Allah dalam alam semesta. Hasil dari aliran ini adalah transformasi dan pembangunan.
Tiga bahan berharga dalam kitab Kejadian sesuai dengan tiga persona ke-Allahan. Emas melambangkan Allah Bapa dalam sifat ilahi-Nya. Ketika kita diselamatkan, kita dilahirkan dari Bapa dan sifat ilahi Bapa diberikan ke dalam kita. Kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi Allah Bapa (2 Ptr. 1:4).
Untuk memahami arti mutiara, kita perlu memperhatikan bagaimana suatu mutiara terbentuk. Mula-mula, seekor tiram terluka oleh butiran pasir. Butiran itu tinggal dalam luka tiram, dan tiram itu mengalirkan cairan hayatnya menyelubungi pasir tersebut untuk menghasilkan mu-tiara. Butiran pasir berubah menjadi sebuah mutiara melalui proses pengaliran cairan Mi. Hal ini menggambarkan Kristus sebagai sang Hayat masuk ke dalam air kematian, terluka oleh kita, dan mengalirkan hayat-Nya kepada kita agar kita menjadi mutiara-mutiara yang berharga bagi pembangunan ekspresi kekal Allah. Kristus adalah tiram yang sejati, yang hidup, yang masuk ke dalam air kematian. Ia terluka karena pelanggaran-pelanggaran kita, dan kita percaya kepada kematian penebusan-Nya. Dengan demikian, Ia dapat mengalirkan hayat-Nya kepada kita agar kita menjadi mutiara-mutiara. Di satu pihak, kita memiliki darah Kristus untuk menyucikan kita, dan di pihak lain, kita memiliki hayat Kristus yang mengalir sepanjang waktu di dalam kita dan di atas kita agar kita menjadi mutiara-mutiara bagi bangunan Allah.
Batu-batu permata dihasilkan oleh tekanan dan panas yang sangat tinggi. Ketika sepotong batu bara hitam mendapat tekanan dan panas yang sangat tinggi selama bertahun-tahun, ia akan berubah menjadi permata. Boleh dikatakan, kita seperti batu bara hitam yang berada di bawah tekanan dan panas. Ayub, Daud, dan semua orang kudus yang mengikuti Tuhan sesuai dengan hasrat hati-Nya mengalami panas dan tekanan sehingga mereka dapat ditransformasi menjadi batu-batu berharga. Semua penderitaan yang dialami Ayub telah ditakar oleh Allah. Allah hanya mengijinkan Satan untuk mencobai Ayub sampai sejauh itu. Apa yang akan dialami Ayub ada batasnya. Kita semua harus mengalami tekanan dan panas. Dengan demikian, kita akan ditransformasi menjadi batu-batu berharga.
Jika terpisah dari Tuhan, maka sebagai manusia, kita bukanlah batu melainkan bejana-bejana tanah liat. Tanah hat hanya berguna untuk membuat batu bata, yaitu gumpalan-gumpalan tanah hat yang telah dibakar. Dalam Alkitab, bangunan yang dibangun Satan terbuat dari batu bata, seperti Babel (Kej. 11:3-4) dan kota perbekalan Mesir (Kel. 1:11, 14). Di pihak lain, bangunan yang dibangun Allah dibangun dengan batu-batu permata (1 Kor. 3:12, Why. 21:19-20). Dalam Matius 16, ketika Simon Petrus mengenali Tuhan sebagai Kristus dan sebagai Anak Allah yang hidup, Tuhan mengubah nama Simon bin Yunus menjadi Petrus, yang berarti sebuah batu, bahan untuk bangunan Allah (1 Ptr. 2:5). Sebenarnya Simon adalah manusia tanah hat, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi batu hidup. Akhirnya, sebagai kaum beriman, kita semua adalah batubatu hidup yang ditransformasi menjadi batu-batu permata. Betapa banyak tranformasi yang kita perlukan!
Pekerjaan Roh Kudus dalam lingkungan kita adalah untuk membakar dan menekan kita. Tidak peduli apakah kita suka atau tidak, kita memerlukannya, dan Roh Kudus harus mengerjakannya. Dari hari ke hari Roh Kudus sedang membakar kita dan meletakkan tekanan-tekanan ke atas kita. Ketika seorang saudara menikah, ia dibawa masuk ke dalam tungku pembakaran. Suami menjadi tungku pembakaran bagi istrinya, dan istri menjadi tungku pembakaran bagi suaminya. Istri dan suami sang membakar. Lagipula, sering kali suami tidak membuat istrinya senang malahan menjadi tekanan bagi istrinya dan istri merupakan tekanan yang sesungguhnya bagi suaminya.
Ketika sepasang suami istri mempunyai anak, anak-anak kecil ini akan meningkatkan tekanan dan panas. Semua saudara dan saudari yang telah menikah mengetahui apa yang sedang saya bicarakan ini. Inilah cara Tuhan untuk mentransformasi kita. Allah Tritunggal sedang bekerja di dalam kita dan di atas kita untuk mentransformasi kita menjadi emas, mutiara, dan batu-batu permata. Transformasi ini adalah untuk mempersiapkan mempelai perempuan Kristus, untuk pembangunan gereja.
Gereja tidak dapat dibangun hanya dengan ajaranajaran atau dengan organisasi. Gereja hanya dapat terbentuk oleh aliran hayat ilahi yang mentransformasi kita menjadi emas, mutiara, dan batu-batu permata. Tanpa mengalami dan menikmati aliran hayat batin di tengahtengah situasi yang penuh dengan panas dan tekanan, kita akan tetap menjadi manusia tanah liat. Tanah liat bukan bahan yang tepat bagi pekerjaan pembangunan Allah yang ilahi, rohani, dan surgawi. Sebuah gereja lokal tidak dapat diwujudkan dengan pengajaran atau dengan organisasi. Satu-satunya cara agar gereja lokal dapat dibangun adalah dengan hayat. Itulah sebabnya setiap saat kami harus menekankan dan memusatkan perhatian pada hayat ilahi. Bersandar rahmat dan kasih karunia-Nya, kita harus berusaha sekuatnya untuk melayankan hayat kepada orang lain. Dari hari ke hari, kita harus makan pohon hayat (pohon kehidupan) dan minum sungai air hayat (air kehidupan) agar kita dapat ditransformasi menjadi bahanbahan berharga. Apa yang diperlukan gereja hari ini adalah pelayanan (ministrti) hayat. Hayat adalah satu-satunya cara, satu-satunya jalan, agar gereja dapat dibangun.
Bagaimana Mempelai Perempuan Kristus Terbentuk
Dalam Kejadian 2 ada gambaran mengenai bagaimana mempelai perempuan Kristus terbentuk. Sebelum Allah menyediakan pasangan untuk Adam, Ia membawa semua binatang kepada Adam dan Adam memberi nama kepada setiap binatang tersebut. Tetapi tidak ada satu pun dari makhluk ciptaan itu yang sepadan dengan Adam, dengan demikian, mereka tidak dapat menjadi pasangannya (ay. 19-20). Kemudian Allah membuat Adam tidur nyenyak (ay. 21). Adam melambangkan Kristus (Rm. 5:14), dan tidurnya melambangkan kematian Kristus. Dalam Alkitab, tidur berarti mati (1 Kor. 15:18; 1 Tes. 4:13-16; Yoh. 11:11-14).
Pada saat Adam tertidur, Allah mengambil salah satu tulang rusuknya. Demikian juga, ketika Kristus tersalib di kayu salib, sesuatu keluar dari diri-Nya. Yohanes 19:34 memberi tahu kita bahwa ketika prajurit menikam lambung-Nya, keluarlah darah dan air. Pada zaman Adam, tidak ada dosa sehingga tidak diperlukan penebusan. Penebusan baru diperlukan ketika dosa masuk dalam Kejadian 3. Jadi, yang keluar dari diri Adam adalah tulang rusuk tanpa darah. Tetapi, ketika Kristus mati di kayu salib, ada masalah dosa. Karena itu, kematian-Nya harus membereskan masalah dosa. Darah yang keluar dari diri Kristus adalah untuk penebusan. Setelah darah, keluarlah air, yaitu aliran hayat untuk menghasilkan gereja. Hayat yang ilahi, bukan ciptaan dan yang mengalir ini dilambangkan oleh tulang rusuk yang diambil dari diri Adam.
Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, dua orang lain mati bersama-Nya. Kaki mereka dipatahkan, tetapi ketika prajurit mendatangi Tuhan Yesus, Ia sudah mati sehingga tidak perlu mematahkan tulang-tulang-Nya. Hal ini menggenapkan nubuat yang mengatakan bahwa tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan (Yoh. 19:31-33). Jadi, tulang yang diambil dari diri Adam melambangkan hayat kekal Tuhan, hayat yang tidal dapat rusak, hayat kebangkitan. Hayat kebangkitan Tuhan tidal dapat rusak. Tulang rusuk yang diambil dari diri Adam melambangkan hayat kebangkitan, dan Allah membangun seorang perempuan dari tulang rusuk Adam. Sekarang, Allah membangun gereja dengan hayat kebangkitan Kristus. Sama seperti Hawa adalah bagian dari Adam, maka gereja adalah bagian dari Kristus. Hawa adalah tulang dari tulang Adam dan daging dari daging Adam. Hari ini, sebagai gereja kita adalah bagian dari Kristus (Ef. 5:30-32). Wahyu yang menakjubkan ini dapat dilihat dengan membandingkan Kejadian 2, Yohanes 19, dan Efesus 5.
Ketika kita menerima Tuhan Yesus, Ia masuk ke dalam kita sebagai hayat kebangkitan, hayat yang tidal dapat rusak. Inilah hayat yang mentransformasi kita. Hayat ini adalah pohon hayat, sungai hayat, hayat yang menyuplai kita dan mengalir di dalam kita untuk mentransformasi kita. Hari demi hari, ketika kita menikmati hayat yang mengalir, ilahi, bukan ciptaan, dan tidak dapat rusak ini, kita akan ditransformasi. Transformasi ini disebutkan dan diwahyukan dalam Roma 12:2 dan 2 Korintus 3:18. Ketika kita ditransformasi, kita juga dibangun menjadi gereja, menjadi mempelai perempuan, sebagai pasangan-Nya untuk memuaskan Kristus. Pada akhir Kejadian 2 ada Hawa, dan pada akhir seluruh Alkitab ada Yerusalem Baru, yaitu Hawa yang sempurna, mempelai perempuan universal yang sudah rampung sempurna, dibangun dengan bahanbahan berharga yang dihasilkan oleh hayat kebangkitan Kristus.
Hayat yang diperlihatkan dalam Kejadian 2 adalah hayat yang mengalir, hayat yang mentransformasi, dan hayat yang membangun. Hayat ini mengalir di dalam kita, mentransformasi kita, dan akhirnya membangun kita menjadi mempelai perempuan Kristus. Mempelai perempuan ini, Yerusalem Baru, akan menggenapkan dua aspek dari tujuan Allah. Pertama, Yerusalem Baru akan menjadi ekspresi penuh Allah menurut gambar Allah yang utuh (Why. 21:11; cf. 4:3). Kedua, Yerusalem Baru ini akan mengalahkan musuh, menaklukkan bumi, dan menjalankan otoritas Allah di seluruh alam semesta, khususnya atas binatangbinatang yang melata di bumi (Why. 22:5; 21:15; cf. 21:8; 20:10, 14-15). Kekuasaan Allah akan terwujud di bumi melalui Yerusalem Baru. Jadi, tujuan Allah sepenuhnya digenapkan oleh Yerusalem Baru, yang merupakan akibat, hasil, perampungan sempurna dari hayat. Apa yang diperlukan kaum beriman adalah hayat dan hayat ini tidal( lain adalah Allah Tritunggal sendiri, Bapa dalam Putra dan Putra sebagai Roh itu. Semoga kita semua dibawa masuk ke dalam kenikmatan dan pengalaman dari hayat yang mengalir, mentransformasi, dan membangun ini untuk dipersiapkan menjadi mempelai perempuan yang akan menarik Kristus datang.