← Daftar isi Hayat yang Diperlihatkan dalam Kejadian Pasal Satu · bab 1/16

HAYAT YANG DIPERLIHATKAN DALAM KEJADIAN PASAL SATU

Pembacaan Alkitab :

Kej. 1:1-31

BUMI MENJADI TANDUS DAN KOSONG

Kejadian pasal 1, sesungguhnya, bukanlah catatan tentang penciptaan. Konsep yang menyatakan bahwa Kejadian pasal 1 merupakan catatan tentang penciptaan tidaklah benar. Kejadian pasal 1 adalah catatan tentang hayat. Ketika masih muda, saya diberi tahu bahwa ayat 1 merupakan pokok pembicaraan pasal 1. Tetapi ayat 2 dimulai dengan kata sambung "dan". Kata sambung ini membuktikan bahwa ayat 1 bukanlah pokok pembicaraannya, tetapi hanya pembukaan dari catatan tersebut. Ayat 1 mengatakan, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Ayat 2 melanjutkan, "Dan bumi belum berbentuk (menjadi tandus-T1.) dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang (mengerami-T1.) di atas permukaan air." Istilah Ibrani yang diterjemahkan "menjadi" dalam ayat ini sama dengan istilah "menjadi" yang digunakan dalam Kejadian 19:2. Ayat itu mengatakan bahwa istri Lot menjadi tiang garam. Istri Lot adalah seorang perempuan, tetapi ia menjadi sesuatu yang lain. Pada mulanya bumi diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang baik, tetapi bumi telah menjadi tanpa bentuk; telah menjadi tandus dan kosong. Yesaya 45:18 memberi tahu kita bahwa Allah tidak menciptakan bumi dengan "sia-sia". Dalam bahasa Ibrani, istilah "sia-sia" ini sama dengan istilah "tandus" dalam Kejadian 1:2. Allah tidak menciptakan bumi yang tandus, tetapi bumi telah menjadi tandus. Hal ini dikarenakan pemberontakan Satan yang tercatat dalam Yesaya 14:9-14 dan Yehezkie128:12-18. Sebagai akibatnya, seluruh alam semesta dihakimi Allah. Karena penghakiman itulah bumi menjadi tandus dan kosong.

Dalam Kejadian 1:2 ada empat kata yang menggambarkan hancurnya bumi di bawah penghakiman Allah : tandus, kosong, gelap gulita, dan samudera raya. Bumi menjadi tandus dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya. Samudera raya menutupi bumi dan gelap gulita menutupi samudera raya. Hal ini menunjukkan bahwa di sana tidak ada hayat, yang ada hanya kematian. Bumi yang menjadi tandus dan kosong serta gelap gulita di atas permukaan samudera raya merupakan gambaran kematian.

ROH YANG MENGERAM

Dengan latar belakang kematian ini, Alkitab melanjutkan, "Dan Roh Allah melayang-layang (mengeram—Tl) di atas permukaan air." Istilah mengeram sama dengan istilah melayang-layang dalam Ulangan 32:11. Ayat ini mengatakan bahwa Allah seperti seekor burung rajawali yang mengembangkan kedua sayapnya dan melayang-layang di atas anak-anaknya. Roh Allah mengeram, merentangkan sayap-sayap-Nya di atas situasi kematian demi menghasilkan hayat. Induk ayam mengerami telur untuk menghasilkan sesuatu yang hidup. Dalam Alkitab, Roh Allah disebut untuk kali pertama sebagai Roh yang mengeram. Roh yang mengeram ini menunjukkan bahwa Kejadian 1 bukan hanya catatan tentang penciptaan Allah melainkan catatan tentang hayat. Roh Allah mengeram di atas air kematian untuk menghasilkan hayat.

PEKERJAAN ALLAH ATAS PEMULIHAN DAN

PENCIPTAAN YANG LEBIH LANJUT

UNTUK MENGHASILKAN HAYAT

Ayat 3 mengatakan, "Berfirmanlah Allah : jadilah terang. Lalu terang itu jadi." Terang datang untuk menghasilkan hayat. Di mana ada kegelapan, di sana ada kematian. Di mana ada terang di sana ada hayat. Dalam Kejadian pasal 1 terang datang terutama adalah untuk hayat, bukan untuk penciptaan. Kejadian pasal 1 bukan catatan tentang penciptaan tetapi catatan tentang hayat. Ayat 4 mengatakan, "Allah melihat terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap." Pemisahan terang dari gelap adalah untuk menghasilkan hayat. Ketika kita beroleh selamat, terang ilahi masuk ke dalam kita, dan terang tersebut melakukan pekerjaan pembedaan atau pemisahan. Hal-hal milik terang dibedakan dari hal-hal kegelapan. Terang datang untuk hayat dan terang ini memisahkan atau membedakan hal-hal yang positif dari yang negatif. Ayat 5 mengatakan, "Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama." Hari ini, kita menghitung hari-hari kita dari pagi sampai petang, tetapi Alkitab menghitung hari dari petang sampai pagi. Cara Alkitab lebih baik daripada cara manusia. Cara manusia adalah turun dari pagi ke petang, tetapi cara Alkitab adalah naik dari petang ke pagi. Dulu ada petang, tetapi kini ada pagi. Dulu ada gelap, tetapi kini ada terang. Dulu ada kematian, tetapi kini ada hayat.

Ayat 6-8 mencatat apa yang terjadi pada hari kedua : "Berfirmanlah Allah : Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air. Maka Allah menjadikan cakrawala dan la memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit." Istilah "cakrawala" dapat diterjemahkan "permukaan yang sangat luas (bentangan)." Permukaan yang sangat luas adalah suatu ruang yang penuh dengan udara yang memisahkan air yang ada di bawah dari air yang ada di atas untuk menghasilkan hayat. Pertama, terang dipisahkan dari gelap, lalu udara memisahkan air yang ada di bawah dari air yang ada di atas. Sebelumnya, air yang ada di bawah menyatu dengan air yang ada di atas, tetapi udara datang untuk memisahkan air tersebut. Pemisahan ini bukan untuk penciptaan tetapi untuk menghasilkan hayat.

Pada hari ketiga, ada pemisahan langkah ketiga. Segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering (ay. 9). Segala air harus dikumpulkan sehingga daratan dapat muncul dari air kematian. Pemisahan langkah pertama adalah memisahkan terang dari gelap. Langkah kedua adalah memisahkan air yang ada di bawah cakrawala dari air yang ada di atasnya.

Kemudian langkah ketiga adalah memisahkan daratan dari air yang ada di bawah cakrawala. Terang, udara, dan daratan adalah untuk menghasilkan hayat. Setelah tiga langkah pemisahan ini, berbagai jenis hayat muncul dari daratan. Ayat 11 menyinggung soal rumput, herba, dan pepohonan. Pada hayat tumbuhan, rumput adalah bentuk hayat yang paling rendah dan pepohonan adalah bentuk hayat yang paling tinggi. Rumput, herba, dan pepohonan adalah berbagai jenis tumbuhan atau hayat tumbuhan, hayat yang tidak memiliki kesadaran.

Karena hayat yang lebih tinggi yang memiliki kesadaran diperlukan maka dibutuhkan terang yang lebih kuat. Tanpa terang yang lebih kuat tidak akan ada hayat yang lebih tinggi. Maka pada hari keempat terang menjadi lebih padat, lebih kuat. Ada dua terang besar: yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam (ay. 16). Selain kedua terang besar ini, ada bintang-bintang. Pada hari keempat, terang diperkuat. Terang pada hari keempat adalah untuk hayat yang lebih tinggi.

Pada hari kelima, ada hayat yang lebih tinggi yang memiliki kesadaran—hayat binatang yang terdapat dalam air kematian dan hayat yang dapat terbang di udara (ay. 20-21). Hayat yang mampu bergerak di udara adalah hayat yang lebih unggul dan lebih tinggi daripada hayat yang berada dalam air kematian.

Pada hari keenam, bumi menghasilkan semua makhluk ciptaan yang hidup. Makhluk-makhluk ciptaan ini dibagi nnenjadi tiga kelompok : ternak, binatang melata, dan segala jenis binatang liar (1:24). Pada hari keenam, Allah telah menjadikan bentuk hayat yang paling tinggi di antara hayat binatang. Pada hari keenam juga ada hayat yang paling tinggi, yaitu hayat manusia. Pertama, ada hayat tumbuhan, kemudian hayat binatang, dan akhirnya hayat manusia. Hayat manusia tidak saja memiliki kesadaran tetapi juga memiliki gambar Allah, rupa Allah, dan diberi otoritas Allah (Kej. 1:26). Hayat ciptaan yang paling tinggi adalah hayat manusia. Tetapi pada akhirnya, Kejadian 2 mewahyukan hayat yang paling tinggi, yaitu hayat ilahi (ay. 9).

Dalam pemulihan dan penciptaan Allah yang lebih lanjut dalam alam semesta, segala hal yang diadakan oleh Allah dikatakan "baik". Pada hari pertama, "Allah melihat bahwa terang itu baik" (Kej. 1:4). Pada hari ketiga, daratan muncul; dan dari daratan itu tumbuh hayat tumbuhan. Allah juga berfirman bahwa itu baik. Daratan yang berasal dari air kematian melambangkan Kristus dalam kebangkitan. Sama seperti daratan yang muncul pada hari ketiga, Kristus juga bangkit dari air kematian pada hari ketiga, dan semua aspek hayat muncul dari Kristus yang bangkit ini. Pada hari keempat, muncullah matahari, bulan, dan bintang-bintang dan Allah melihat bahwa hal itu baik. Pada hari kelima, diciptakan hayat binatang. Allah tidak hanya mengatakan bahwa itu bail() tetapi Dia juga memberkati binatang-binatang tersebut supaya berkembang biak dan bertambah banyak. Akhirnya, dalam Kejadian pasal 1 ayat terakhir, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Terhadap semua ciptaan yang lain Allah hanya melihat dan mengatakan bahwa itu baik. Pada akhir Kejadian pasal 1, Allah berkata "sungguh amat baik" karena manusia ada di sana. Dalam penciptaan Allah, manusia adalah ciptaan yang amat balk karena manusia adalah inti ciptaan-Nya. Allah mengatakan "sungguh amat baik" karena pada saat itu Dia memiliki manusia untuk menggenapkan tujuan-Nya dengan hayat dan dalam hayat.

TERANG YANG LEBIH KUAT

UNTUK HAYAT YANG LEBIH TINGGI

Kejadian pasal 1 mewahyukan bahwa terang yang lebih kuat selalu datang untuk hayat yang lebih tinggi. Pada hari pertama, berfirmanlah Allah, "Jadilah terang." Pada hari keempat, ada terang yang diperkuat. Akhirnya, pada hari ketujuh, ada terang yang paling besar, yaitu Allah sendiri. Terang yang mula-mula adalah untuk hayat yang tidak memiliki kesadaran, terang yang lebih besar adalah untuk hayat yang memiliki kesadaran, dan terang yang paling besar adalah untuk hayat ilahi. Kejadian pasal 1 adalah catatan tentang hayat yang sedemikian.

Kita juga telah menunjukkan bahwa dalam Kejadian pasal 1 ada empat langkah pemisahan: terang dipisahkan dari gelap, air yang ada di bawah cakrawala dipisahkan dari air yang ada di atasnya, daratan dipisahkan dari air kematian, dan pada hari keempat siang dipisahkan dari malam. Sebelum hari keempat, siang hari tidak begitu terang. Pada hari keempat, Allah menjadikan benda penerang yang lebih besar untuk menguasai siang dan benda penerang yang lebih kecil untuk menguasai malam. Maka siang dengan tegas dipisahkan dari malam.

Hayat manusia muncul setelah hari keempat, yaitu setelah keempat langkah pemisahan yang dilakukan sebelumnya. Setelah langkah-langkah pemisahan itu selesai, Allah dapat menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Hayat manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah adalah hayat ciptaan yang paling tinggi. Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Semua makhluk hidup lain diciptakan menurut jenis mereka. Tetapi hayat manusia diciptakan bukan menurut jenis manusia, melainkan menurut jenis Allah.

PENCIPTAAN YANG LEBIH LANJUT DARI ALLAH

MENURUT URUTAN HAYAT

Allah menciptakan segala sesuatu menurut urutan hayat. Hayat tumbuhan, hayat binatang, hayat manusia, dan hayat ilahi adalah empat tingkat hayat dalam Kejadian pasal 1 dan 2. Hayat-hayat ini disebut menurut urutannya, yaitu dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Jenis-jenis hayat tumbuhan dan hayat binatang juga disebutkan menurut tingkatannya, yaitu dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tingkat terendah dari hayat tumbuhan adalah rumput. Kemudian herba dan pepohonan. Pada hayat binatang, pertama-tama ada ikan lalu unggas, burung. Hayat manusia adalah hayat yang menakjubkan karena hayat ini serupa dengan Allah. Hayat ini adalah hayat yang serupa dengan Allah, hayat yang menurut jenis Allah, yang memiliki gambar dan rupa Allah, serta diserahi dan dianugerahi otoritas ilahi untuk menjadi wakil Allah di bumi. Hayat manusia adalah hayat yang paling tinggi di antara semua hayat ciptaan. Hayat ini hanya lebih rendah daripada hayat bukan ciptaan, yaitu hayat ilahi.

MAKSUD ALLAH

Setelah mempelajari semuanya ini, kita dapat memahami maksud Allah dalam Kejadian pasal 1, yaitu bahwa Allah sangat memperhatikan perkara hayat. Akhirnya, dalam Kejadian pasal 2, pohon kehidupan (pohon hayat) dihadapkan kepada manusia ciptaan. Catatan dalam Kejadian pasal 1 dan 2 mengarahkan kita kepada satu fokus ini, yaitu hayat. Allah menghendaki manusia menerima Dia sebagai hayat ilahi. Catatan tentang penciptaan Allah sangat sederhana karena Allah tidak terlalu menaruh perhatian pada setiap butir dan aspek dari penciptaan-Nya. Maksud Allah bukan itu. Allah menaruh perhatian pada satu perkara—hayat. Sejak semula Allah menghendaki manusia menerima Dia sebagai hayat ilahi sehingga manusia dapat menjadi ekspresi Allah dalam alam semesta.