← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 9/31

PENGALAMAN HAYAT (5)

Pembacaan Alkitab:

Rm. 8:2, 10, 6, 11, 13

Dalam berita ini, saya akan mengulangi butir-butir utama dari berita sebelumnya mengenai pengalaman dan pertumbuhan hayat.

HAYAT ADALAH ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES

Hayat adalah Allah sendiri, hayat adalah Kristus, dan hayat adalah Roh itu, tetapi hanya berkata demikian tidaklah cukup. Hayat adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah yang adalah hayat bagi kita adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Jika Allah dalam ke-trinitasan-Nya tidak pernah melalui proses, Dia hanyalah hayat bagi diri-Nya sendiri, tetapi Dia tidak pernah menjadi hayat bagi kita. Agar Allah menjadi hayat bagi kita, Dia harus tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh.

Sebagai Allah Tritunggal, Dia melalui beberapa tahap proses: inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Tanpa langkah-langkah ini, Allah Tritunggal tidak dapat menjadi hayat bagi kita. Inkarnasi membuat Bapa beserta semua kepenuhan ilahi-Nya, melalui Roh (Luk. 1:35), terwujud di dalam Putra (Kol. 2:9), agar Dia dapat memiliki keinsanian yang ditambahkan kepada keilahian-Nya. Dalam inkarnasi, Putra adalah perwujudan Bapa, dan Roh adalah esens ilahi dari inkarnasi Putra. Putra adalah perwujudan Allah Tritunggal dengan Roh sebagai esensnya.

Kemudian Putra pergi ke atas salib bersama Bapa dan melalui Roh. Wafat-Nya di atas salib bukanlah penyaliban Bapa ataupun penyaliban Roh. Wafat-Nya adalah penyaliban Putra, namun Putra tidak sendirian. Dia tersalib bersama Bapa dan melalui Roh. Di atas salib, Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah melalui Roh yang kekal (Ibr. 9:14). Proses penyaliban ini adalah dari Putra, bersama Bapa, dan melalui Roh.

Kebangkitan adalah kebangkitan Sang Putra untuk menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Dalam kebangkitan, Putra menjadi Roh (2 Kor. 3:17). Putra, Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan. Putra yang wafat melalui salib, bangkit di dalam Roh, dan bahkan adalah Roh itu.

Inilah proses yang dilalui Allah Tritunggal agar menjadi hayat bagi kita. Hayat ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses, Putra sebagai perwujudan Bapa dan Roh yang telah rampung sempurna sebagai perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Hayat yang sedemikian ini sekarang terwujud di dalam firman. Ketika firman mencapai kita, itulah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Sekarang kita memiliki hayat. Kita memiliki Bapa terwujud di dalam Putra, rampung sempurna sebagai Roh, dan terwujud di dalam firman, mencapai kita untuk menjadi hayat kita.

WAHYU MENGENAI HAYAT DALAM ROMA 8

Lima ayat penting mengenai hayat dalam Roma 8, ayat 2, 10, 6, 11, dan 13, menyingkapkan kepada kita lima butir penting, sesuai dengan urutan makna mereka, yaitu:

Hukum Roh Hayat

Roma 8:2 mengatakan, “Sebab hukum Roh Hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Dalam ayat ini frase “hukum Roh hayat” terdiri dari tiga unsur. Urutan unsur-unsur ini menurut makna mereka adalah Roh, hayat, dan hukum. Tanpa Roh, tidak akan ada hayat. Tanpa hayat, tidak ada hukum. Hukum berasal dari hayat, dan hayat adalah dari Roh itu. Dalam Roma 8, Paulus tidak mengatakan Roh Kudus, karena “Roh itu” dipahami sebagai Roh yang telah rampung sempurna. Roh itu dalam Perjanjian Baru tidak saja mengacu kepada Roh Allah dan Roh Kudus, tetapi juga kepada Roh yang telah rampung sempurna. Kata “rampung sempurna” menyiratkan adanya suatu proses. Sebelum sesuatu menjadi rampung sempurna atau melewati suatu proses, sesuatu itu mungkin masih mentah. Ketika beras belum dimasak, berarti beras tersebut masih mentah, tetapi begitu beras tersebut dimasak, diproses, atau rampung sempurna, beras itu menjadi nasi yang siap disajikan di meja makan. Demikian pula, Allah Tritunggal telah rampung sempurna. Roh yang adalah hayat bagi kita adalah Roh yang telah rampung sempurna, yaitu perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

Roh itu adalah unsur penting dari frase “hukum Roh hayat”. “Roh hayat” berarti Roh adalah hayat dan hayat adalah Roh. Roh adalah Allah yang telah rampung sempurna, berarti Roh itu berasal dari Allah. Allah sendiri juga adalah Roh (Yoh. 4:24). Roh itu adalah esens Allah, dan Dia juga adalah perampungan sempurna Allah.

Hukum Roh hayat bukanlah hukum yang tertulis, seperti Sepuluh Perintah Allah, mengatur kita mengenai yang jahat dan yang baik. Hukum Roh hayat seperti hukum alam dalam ilmu alam. Jika Anda melempar sesuatu ke udara, benda itu akan jatuh ke tanah. Inilah hukum gravitasi. Hukum gravitasi bukanlah peraturan yang tertulis, melainkan suatu kekuatan alam, hukum alam, yang bekerja sesuai dengan prinsip. Roma 8:2-3 memiliki dua macam hukum. Hukum pertama terdapat dalam ayat 2, yaitu hukum alam. Hukum kedua ada dalam ayat 3, yaitu hukum tertulis, hukum Musa. Karena kelemahan tubuh daging kita, hukum tertulis tidak mungkin melakukan sesuatu bagi kita, tetapi hukum Roh hayat sebagai hukum alam justru adalah hayat ilahi itu sendiri.

Hayat tumbuhan, hayat binatang, dan hayat manusia, semuanya memiliki hukumnya masing-masing. Hayat tidak hanya memiliki hukum; hayat adalah hukum. Ketika suatu pohon masih kecil, mungkin susah untuk menentukan pohon apakah itu. Ketika pohon tersebut bertumbuh, jenis pohon itu menjadi nyata. Pohon kenari menghasilkan buah kenari, dan pohon persik menghasilkan buah persik. Pertumbuhan, pembentukan, dan buah dari kedua pohon itu diatur oleh hukumnya masing masing. Hayat kenari atau hayat persik adalah hukum.

Roh itu sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses juga adalah hukum. Dia adalah hayat, karena itu Dia juga adalah hukum. Dalam ayat 2, menurut maknanya, Roh itu adalah yang pertama, hayat adalah yang kedua, dan hukum adalah yang terakhir. Tetapi dalam Roma 8, ketika hayat diterapkan, hukum menjadi yang pertama. Dalam Roma 8:2 “hukum” adalah subyek kalimat, dan “telah memerdekakan” adalah predikat. Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut. Ini bukan hukum Musa, tetapi hukum alam yang terkuat. Hukum ini adalah hukum yang terkuat, karena hukum ini bukan hanya Allah, lebih-lebih adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses.

Dalam kekekalan yang lampau, sebelum Dia melewati suatu proses (Yoh. 1:1), Allah adalah “mentah”, hanya memiliki keilahian. Melalui inkarnasi, tahap pertama dari proses-Nya, keinsanian ditambahkan kepada-Nya. Sesudah inkarnasi Dia memiliki dua unsur, keilahian dan keinsanian. Kemudian Dia pergi ke atas salib dan merampungkan kematian yang almuhit. Unsur kematian-Nya ditambahkan kepada-Nya. Tiga hari setelah penyaliban-Nya, Dia masuk ke dalam kebangkitan; jadi, unsur lain, yaitu kebangkitan, juga ditambahkan kepada-Nya. Keilahian, keinsanian, penyaliban, dan kebangkitan, semuanya adalah unsur dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Sebagai Allah yang “mentah”, Dia hanyalah hayat bagi diri-Nya sendiri, tetapi sebagai Allah yang telah melalui proses, “Allah yang telah dimasak”, Dia dapat menjadi hayat bagi kita. Dalam kebangkitan, Dia adalah Roh yang telah rampung sempurna, adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses, untuk menjadi hayat bagi kita. Roh ini disebut Roh hayat. Sebagai Roh hayat, Dia tidak hanya memiliki hukum; Dia adalah hukum. Hari ini, hukum inilah yang bekerja di dalam kita.

Roh Kita Adalah Hayat

Ayat penting selanjutnya dalam Roma 8 adalah ayat 10, yang mengatakan, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan (hayat) oleh karena kebenaran.” Ayat ini menyinggung Kristus, bukan Roh itu, karena Roh yang telah rampung sempurna itu sesungguhnya adalah Kristus itu sendiri. Ketika Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat berada di dalam kita, roh kita menjadi hayat.

Pikiran Kita yang Diletakkan di Atas Roh Adalah Hayat

Pada tahap awal keselamatan, bagian terdalam dari diri kita — yaitu roh kita — menjadi hayat. Bagian lain dari diri kita masih bukan hayat. Roma 8:6, ayat penting lainnya, mengatakan, “Pikiran diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran diletakkan di atas Roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Ketika pikiran kita diletakkan di atas roh, maka dari roh kita, Roh itu yang adalah hayat menyebar ke dalam pikiran kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus meletakkan pikiran kita di atas roh. Kita harus menjadi orang yang selalu meletakkan pikiran di atas roh, bukan di atas perkara-perkara yang lain. Untuk hidup, kita harus memikirkan sesuatu. Pikiran yang kita letakkan di atas roh adalah hayat. Inilah pengubahan (transformasi).

Memberikan Hayat kepada Tubuh Kita yang Fana

Ayat penting keempat adalah Roma 8:11 yang mengatakan, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga (memberikan hayat kepada) tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Dalam ayat yang panjang ini, seluruh trinitas ilahi — Bapa yang terwujud dalam Putra dalam inkarnasi, Putra yang tersalib, dan Roh itu di dalam kebangkitan — memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana. Ketika trinitas ilahi berhuni di dalam kita, Dia memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana. Akhirnya, ini akan rampung dalam transfigurasi, penebusan, dan pemuliaan tubuh kita (Rm. 8:23, 30; Flp. 3:21).

Roma 8 mewahyukan keselamatan Allah dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah menghidupkan roh kita (ayat 10). Tahap kedua adalah menghidupkan pikiran kita (ayat 6), bagian utama dari jiwa kita. Tahap terakhir adalah menghidupkan tubuh kita yang berangsur-angsur mati (ayat 11). Hal ini membuat seluruh diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — menjadi hayat.

Penerapan Keselamatan Allah

Ayat penting terakhir memperlihatkan penerapan keselamatan ini. Roma 8:13 mengatakan, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Ini adalah kesimpulannya. Sekarang, Allah Tritunggal yang telah melalui proses telah siap. Yang perlu kita lakukan adalah “datang dan menikmati”. Datang dan menikmati adalah menerapkan keselamatan ini. Jalan untuk menerapkan keselamatan ini bukan hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Roh yang disinggung dalam ayat 13 mengacu kepada roh perbauran; karena itu, tidak seharusnya dicetak dengan huruf besar. Roh ini adalah roh manusia yang berbaur dan dijenuhi dengan Roh ilahi yang telah rampung sempurna. Kita harus hidup menurut roh ini.

Dalam ayat 5 dan 6 ada dua hal yang penting, daging dan roh. Hal yang paling penting dalam menerapkan suplai Allah adalah hidup menurut roh. Jika kita hidup menurut daging, kita akan mati; tetapi jika kita hidup menurut roh perbauran, kita akan hidup. Orang yang tidak percaya hanya memiliki suplai negatif dari daging. Tetapi kita, orang Kristen, memiliki keduanya, baik suplai negatif dari daging maupun suplai positif dari roh perbauran. Suplai negatif berasal dari kejatuhan kita, dan suplai positif berasal dari keselamatan Allah. Sekarang kita berada di tengah-tengah, dan hasil kehidupan kita tergantung pada pilihan kita. Jika kita hidup menurut daging, kita mati. Jika kita hidup menurut roh, kita hidup. Ini berarti seluruh diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — hidup.

TANYA JAWAB

Tanya: Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah kebangkitan, lalu apakah yang dimaksud dengan unsur kebangkitan ditambahkan kepada Allah Tritunggal? Apakah bedanya Dia sebagai kebangkitan dan unsur kebangkitan ditambahkan ke dalam Allah Tritunggal pada saat kebangkitan?

Jawab: Dalam pikiran manusia ada unsur waktu. Kita selalu bertanya apakah yang pertama, kedua, atau terakhir, tetapi di dalam ruang lingkup ilahi tidak ada unsur waktu. Sebuah lingkaran biasanya digunakan untuk menggambarkan kekekalan atau perkara kekal, karena lingkaran tidak memiliki titik awal atau titik akhir. Jika kita menandai dua titik pada keliling lingkaran tersebut yang menunjukkan penyaliban dan kebangkitan Kristus, maka akan sukar untuk mengatakan manakah yang terjadi lebih dahulu. Menurut Wahyu 13:8, Kristus disalibkan sejak dunia dijadikan. Ini berarti bahwa pada saat dunia dijadikan, Kristus sudah disalibkan; tetapi menurut pikiran kita, penyaliban Kristus terjadi lama sesudah dasar dunia dijadikan. Inilah cara kita berpikir karena unsur waktu.

Menurut konsepsi ilahi, tidak ada unsur waktu; hanya ada fakta. Ketika inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan terjadi dalam waktu, tidak ada perbedaan yang terjadi dalam ruang lingkup ilahi yang berada di luar waktu.

Tanya: Apakah artinya meletakkan pikiran di atas roh?

Jawab: Pertama, seharusnya yang menjadi masalah bukanlah meletakkan pikiran kita di atas roh, melainkan apakah pikiran kita berada di atas roh. Kedua, kita harus memiliki gambaran yang jelas bahwa kita adalah manusia jatuh yang telah diselamatkan; karena itu, kita memiliki dua suplai. Pertama adalah suplai negatif dari manusia lama, dan yang lain adalah suplai positif dari manusia baru, roh perbauran. Manusia lama dilambangkan dan diwakili oleh daging. Manusia baru dilambangkan dan diwakili oleh Roh. Jika kita hidup menurut daging, maka pikiran ada di atas daging. Jika kita hidup menurut roh, pikiran kita berada di atas roh. Jika kita mencoba meletakkan pikiran kita di atas roh, hal ini menunjukkan bahwa kita tidak hidup menurut roh. Jika Anda hidup menurut roh, pikiran Anda secara spontan berada di atas roh. Dalam keadaan ini, Anda hidup. Jika Anda tidak berada dalam keadaan ini, Anda pasti mati.

Tanya: Apakah yang dimaksud dengan menuruti daging atau menuruti roh?

Jawab: Untuk menganalisis atau menjelaskan arti hidup menurut roh sangatlah sulit. Kita mungkin tidak begitu jelas bahwa kita hidup menurut roh, tetapi ketika kita hidup menurut daging, kita akan tahu dengan pasti. Selama kita tahu bahwa kita hidup menurut daging, maka kita juga tahu bahwa kita tidak hidup menurut roh.

PERLU MEMILIKI VISI YANG JELAS TERHADAP HAYAT DALAM ROMA 8

Jika Anda memiliki visi yang jelas terhadap hayat dalam Roma 8, Anda berada dalam pengalaman dan pertumbuhan hayat. Ketika saya sebagai seorang Kristen muda, saya telah membaca Alkitab berkali-kali, berusaha untuk menemukan cara bertumbuh dalam hayat. Akhirnya, saya menyadari bahwa jawaban ini tersirat dalam berbagai butir yang berbeda dari teologi ilahi dalam Perjanjian Baru. Itulah sebabnya saya menyajikan pengalaman hayat dan pertumbuhan hayat dalam berita-berita ini. Keperluan kita adalah melihat visi mengenai pengalaman atas Kristus. Ketika Anda membaca butir-butir teologi ilahi sekali demi sekali, suatu hari Anda akan diterangi hingga nampak dengan jelas bagaimana mengalami Kristus. Kita mungkin telah mempelajari teologi pemulihan, tetapi keperluan kita adalah membuat teologi ini menjadi visi kita. Ketika memiliki visi, Anda tidak lagi hanya menghafal hal-hal ini; sebaliknya Anda dapat menunjukkan kepada orang apa yang Anda lihat dalam pemandangan ilahi menurut sudut pandang ilahi.

Menyampaikan berita perihal hayat sangatlah sulit, karena hayat adalah hal yang spontan. Misalkan, ada sebatang pohon kecil bertumbuh di depan saya. Jika saya tidak menyentuhnya, ia akan bertumbuh, tetapi ketika saya menyentuhnya, pertumbuhannya akan terusik. Karena itu lebih baik saya tidak menyentuhnya. Demikian juga ketika saya bersekutu dengan Anda mengenai pengalaman hayat. Ketika saya mendorong Anda untuk mengalami hayat, Anda mungkin tidak mengalami hayat. Mengalami hayat adalah seperti menyalakan listrik yang telah dipasang di dalam sebuah gedung. Ketika Anda membutuhkan listrik untuk lampu, Anda hanya perlu menyalakan sakelar, maka terang datang. Ketika Anda mematikan sakelar, maka listrik berhenti, dan lampu tidak lagi memiliki terang. Pengalaman hayat Anda pun demikian. Jika Anda merasa bahwa terang telah padam, Anda perlu berdoa, tetapi doa Anda mungkin juga menjadi masalah. Jika Anda berdoa, “Tuhan, letakkanlah pikiranku di atas roh,” doa ini mungkin tidak manjur. Anda harus berdoa dengan mengizinkan Roh doa yang ada di dalam Anda berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Rm. 8:26). Dengan doa yang semacam ini, sakelar akan dinyalakan lagi.

Sebelum datang ke dalam pemulihan Tuhan, kita mungkin tidak memiliki pengetahuan apa pun mengenai sakelar dari roh perbauran. Kadang-kadang kita tidak sengaja menekan sakelar sehingga menyala, tetapi secepat itu pula memadamkannya kembali. Tetapi hari ini dalam pemulihan Tuhan, kita tidaklah segelap itu. Kita mengenal bahwa Kristus adalah Roh itu di dalam roh kita dan Kristus ini adalah Roh yang telah rampung sempurna. Ketika Dia ada di sini, hayat pun ada di sini. Sekarang kita harus hidup menurut hayat ini. Mengetahui sebanyak ini saja sudah menghidupkan sakelar. Masalah kita adalah kita tidak terus tinggal di dalam roh. Kita perlu kembali dan berdoa. Dalam doa kita, lebih baik tidak berkata-kata terlalu banyak. Kita seharusnya hanya berkeluh kesah. Segera sakelar itu akan dinyalakan lagi, dan kita juga akan bersukacita lagi.

Roma 8 memperlihatkan visi surgawi kepada kita, gambaran demi gambaran. Hampir setiap ayat adalah suatu gambaran. Ayat 2 adalah gambaran yang memperlihatkan kepada Anda bagaimana Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna hari ini adalah hayat Anda, dan hayat ini adalah hukum. Ayat 10 memperlihatkan kepada Anda gambaran lain, yaitu Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna sebagai Kristus di dalam roh Anda. Sekarang, roh Anda adalah hayat. Ayat 6 menyajikan gambaran lain mengenai pikiran di atas roh. Kemudian ayat 11 menyajikan gambaran bahwa Roh hayat adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang berhuni di dalam Anda untuk memberikan hayat kepada tubuh Anda. Dengan demikian, Anda menjadi manusia hayat. Anda adalah hayat di dalam roh Anda, Anda adalah hayat di dalam pikiran dan jiwa Anda, dan Anda adalah hayat di dalam tubuh Anda. Begitu Anda telah nampak semua gambaran ini, Anda perlu menerapkannya. Apakah Anda dalam keadaan mati atau hidup, tergantung pada apakah Anda hidup menurut daging atau menurut roh. Kita harus belajar untuk tidak hidup menurut manusia lama, daging, tetapi hidup menurut roh, manusia baru.