← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 8/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (4)

Pembacaan Alkitab:

Rm. 8:2, 6, 10, 11, 13, 4

OLEH ROH MEMATIKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUBUH

Roma 8 membicarakan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan kini sebagai Roh hayat (ayat 2) menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia tripartit yang telah diubah. Ketika Roh hayat, yang adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal, masuk ke dalam kita, Ia masuk ke dalam roh kita. Dengan demikian Ia membuat roh kita menjadi hayat (ayat 10 Tl.). Kemudian, ketika pikiran kita, bagian terpenting dari jiwa, diletakkan di atas roh yang berbaur, pikiran kita juga dijadikan hayat (ayat 6). Ketika Roh hayat di dalam roh kita mencapai tubuh melalui pikiran, Ia memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana (ayat 11). Inilah yang membuat tubuh kita menjadi hayat.

Ayat 13a mengatakan, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati.” Hidup menurut daging adalah hidup menurut apa adanya kita di dalam manusia lama, entah itu baik atau buruk. Apa adanya kita di dalam manusia lama mungkin sangat baik. Kita mungkin adalah orang yang mengasihi orang lain. Tetapi walaupun kita mengasihi orang lain, kasih ini berasal dari manusia lama. Paulus tidak mengatakan, “Sebab, jika kamu hidup menurut hawa nafsumu, kamu akan mati.” Hawa nafsu mengacu kepada hal-hal yang jelek dan dosa, hal-hal yang buruk dari manusia lama kita. Minum anggur berlebihan adalah menuruti hawa nafsu. Minum segelas air murni mungkin bukan berasal dari hawa nafsu, tetapi itu tetap berasal dari manusia lama kita.

Saat Injil diberitakan kepada kita, kita masih sebagai orang yang mati (Ef. 2:1, 5; Kol. 2:13) yang perlu dihidupkan. Karena diri (ego) kita adalah mati, maka ketika kita hidup menurut diri kita, apa pun yang kita lakukan, kita akan mati. Makan beberapa kali sehari itu benar, tetapi biasanya orang makan menurut daging mereka, yaitu menurut diri mereka sendiri. Semakin mereka makan secara demikian, mereka semakin mati. Ditinjau dari aspek daging, hari demi hari setiap orang sedang mati. Semakin hidup, mereka semakin dekat dengan kematian.

Roma 8:13b mengatakan, “Tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Kita harus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita. Mematikan perbuatan-perbuatan tubuh adalah menyalibkannya. Kita tidak dapat melakukannya bersandarkan diri sendiri. Kita hanya dapat melakukannya bersandarkan Roh itu. Seseorang dapat membunuh diri dengan banyak cara, tetapi seseorang tidak dapat menyalibkan dirinya sendiri. Penyaliban harus dilakukan oleh orang lain. Bersandarkan Roh itulah kita dapat mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita. Ini berarti kita harus menyerahkan diri kita kepada Roh itu. Kita tidak dapat menyalibkan diri sendiri, tetapi dapat menyerahkan diri kita kepada Dia, persona lain itu. Persona itu adalah orang yang paling dekat dengan kita karena Dia ada di dalam kita. Dia ada di dalam roh kita, dan pada tingkat tertentu, Dia juga ada di dalam pikiran kita. Ia ada di dalam kita, Dia satu dengan kita, dan kita satu dengan Dia. Jika kita berkata, “Tuhan, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,” Ia akan menyalibkan kita. Ini bukan menjadi agamawan; bukan sekadar berdoa dan bertobat. Dengan menyerahkan diri sendiri kepada Roh yang menyalibkan, Roh yang mematikan, kita akan diakhiri. Lalu kita akan hidup menurut roh, dan Roh yang berhuni di dalam kita akan memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana.

Kita harus belajar mengalami Kristus sampai tahap sedemikian sehingga kita bahkan tidak mengizinkan tubuh kita melakukan hal-hal yang baik di luar Roh itu. Ketika tubuh kita mencoba melakukan hal-hal yang baik secara mandiri, kita harus berkata, “Tuhan, salibkanlah perbuatan-perbuatan tubuhku.” Kita tidak seharusnya pergi ke mana pun atau melakukan apa pun menurut daging. Sebaliknya, kita harus menurut roh. Kita harus melakukan apa saja, entah itu baik atau buruk, menurut roh. Kita harus terus-menerus menyerahkan diri kepada Roh yang menyalibkan. Dengan demikian kita akan hidup dan selalu menikmati Kristus sebagai hayat. Roma 8:4 mengatakan bahwa kita tidak hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Inilah hasil dari mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita oleh Roh. Apa yang kita perbuat meliputi semua hal dalam kehidupan kita, apa adanya kita, dan pemikiran kita. Kita harus melakukan segala sesuatu menurut roh.

TANYA JAWAB

Tanya: Jika dalam segala hal yang kita lakukan, kita berkata, “Tuhan, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,” apakah hal ini akan membantu kita mengenal Tuhan dalam hal-hal tersebut?

Jawab: Tidak perlu berkata begitu banyak. Menyerahkan diri kepada Tuhan adalah tinggal, diam, di dalam Tuhan (Yoh. 15:4). Ketika tinggal di dalam Tuhan, diam di dalam-Nya, kita menyerahkan diri kepada-Nya. Selama tinggal di dalam Tuhan, kita tidak perlu berkata demikian banyak. Jadilah sederhana dan diam di dalam Tuhan.

Sebagai umat yang jatuh, kita sangat mudah menjadi mandiri. Inilah kebiasaan kita. Ketika mandiri, kita tidak berada dalam tangan Tuhan. Tetapi, karena kita beragama, kita tidak akan melakukan hal-hal yang salah. Sebaliknya, kita akan melakukan banyak hal yang baik secara mandiri bahkan dengan berani. Mengasihi saudara, pergi bersidang, atau membaca Alkitab tidaklah salah. Tetapi kita mungkin melakukan hal itu menurut diri sendiri, mandiri dari Tuhan, dan tidak menurut roh. Merdeka dari Tuhan sangat berbahaya. Kita tidak seharusnya memikirkan ke mana kita pergi atau untuk apa kita pergi. Kita seharusnya hanya memperhatikan bahwa ke mana pun kita pergi atau apa pun yang kita lakukan adalah oleh dan bersama Roh itu, bukan oleh diri sendiri.

Tanya: Kita telah melihat bahwa kita harus terlatih dalam memberitakan Injil, dan kita juga telah melihat bahwa kita harus fleksibel. Bagaimana menyatukan kedua cara ini?

Jawab: Keduanya tidak perlu disatukan. Di wajah kita, mata adalah mata dan hidung adalah hidung. Kita juga memiliki mulut, gigi, dan lidah. Kita tidak dapat “menyatukan” mereka, mereka adalah apa adanya mereka. Ketika mendengar seorang pengajar Kristen membicarakan “lidah”, kita ingin membuat semua bagian wajah kita menjadi “lidah”. Tetapi kita masih perlu “mata”, “hidung”, dan “telinga”. Kita pernah mengatakan bahwa saat mengunjungi orang, kita harus membentuk kelompok; tidak seharusnya pergi sendiri. Kita harus mengikuti beberapa peraturan dan bukan opini kita, dan kita diberkati jika pergi dengan cara demikian. Tetapi mudah sekali kita menjadikan hal ini sebagai suatu keharusan. Membentuk kelompok untuk mengunjungi orang dari golongan yang lebih rendah itu memang efektif, tetapi jika selalu pergi dengan cara ini, kita hanya akan mendapat orang dari golongan yang lebih rendah; kita akan kehilangan golongan yang lain. Mungkin keluarga dari golongan menengah atau golongan atas tidak mau menerima satu kelompok. Dalam hal ini kita harus mengubah cara kita. Kita mengasihi semua golongan. Kita harus menggunakan cara yang berbeda untuk mendapatkan orang yang berbeda. Jalan untuk mencapai orang harus fleksibel. Cara yang digunakan di Taiwan baik untuk Taiwan, tetapi mungkin tidak dapat dipakai di Amerika. Kita semua, terutama sekerja dan yang memimpin dalam semua gereja, harus mempelajari cara yang fleksibel.

Orang-orang China telah menjadi konservatif selama berabad-abad, tetapi mereka perlahan-lahan mengubah konsepsi mereka ketika datang ke Taiwan. Hari ini banyak pedagang Taiwan yang sangat fleksibel. Mereka dapat memproduksi bermacam-macam barang sesuai dengan pola yang sudah diberikan kepada mereka. Mereka tidak memproduksi barang-barang sesuai dengan selera mereka sendiri, tetapi sesuai dengan selera pembeli. Mereka membuat pakaian untuk Amerika Selatan sesuai dengan selera Amerika Selatan, dan mereka membuat pakaian untuk orang-orang Eropa bagian utara sesuai dengan selera orang-orang Eropa. Kita tidak seharusnya menjadi begitu kaku. Jika kita fleksibel, kita pasti akan dapat mencapai orang dari semua golongan.

Setiap orang dapat dijangkau dan dijamah, tetapi kita harus menemukan jalan untuk menjangkau mereka. Kalau kita hidup di lingkungan orang-orang yang senang memancing, mungkin kita perlu pergi memancing bersama mereka. Pergi memancing tanpa mendapatkan para pemancing sebagai sasaran kita adalah jatuh ke dalam dunia. Tetapi kalau kita pergi untuk mendapatkan orang, berarti kita bukan pergi memancing; tetapi pergi memberitakan. Setelah kita pergi memancing dengan mereka tiga kali, mereka akan terbuka sepenuhnya kepada kita, dan kita memiliki jalan untuk masuk ke dalam perkumpulan mereka. Melalui ini kita dapat melihat bahwa untuk mendapatkan orang ada banyak jalan. Kita harus fleksibel. Menghubungi orang dari kalangan apa saja pasti ada caranya.

Tanya: Apakah ada buku yang menggolongkan orang-orang untuk pemberitaan Injil sehingga dapat membantu kita menjangkau orang dari kelompok yang berbeda?

Jawab: Kita memilikinya dalam bahasa Mandarin yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bahan itu membantu secara umum, tetapi kalau kita terlalu tergantung kepada bahan itu, kita akan menghalangi Roh. Kita harus sungguh-sungguh memberitakan Injil karena kita semua akan berdiri di depan takhta pengadilan Kristus (2 Kor. 5:10). Jika kita tidak sungguh-sungguh, kita akan memiliki masalah dengan Tuhan baik di zaman ini maupun di zaman yang akan datang. Kita harus berjerih lelah dan sungguh-sungguh mencari orang untuk mendapatkan semua golongan orang. Kita harus berdoa agar Tuhan memberi beban kepada semua orang kudus dan membuat mereka bersungguh-sungguh mendapatkan orang.

Tanya: Setelah saya memberitakan Injil kepada majikan saya, ia diselamatkan, tetapi tidak ada kelanjutannya. Mengapa demikian?

Jawab: Kita tidak seharusnya memberitakan Injil tanpa datang kepada orang. Kita harus menjangkau dan mendekati mereka. Jika kita hanya memberitakan Injil kepada mereka, mereka mungkin diselamatkan, tetapi jika kita tidak datang kepada mereka, mereka tidak akan pernah dapat sepenuhnya dibawa kepada Tuhan. Mula-mula kita harus meletakkan dasar yang baik melalui mengunjungi mereka. Tidaklah cukup hanya mengundang mereka datang ke balai sidang. Mereka dapat mendengarkan berita, tetapi walaupun mereka percaya, mereka mungkin tetap akan pergi juga. Cara terbaik mendekati seseorang adalah pergi ke rumah mereka. Akan sangat berbeda jika kita pergi ke rumah mereka untuk memberitakan Injil. Membagikan traktat tidak seefektif memberitakan Injil melalui mengunjungi orang. Mencari orang melalui mengunjungi mereka benar-benar bisa berhasil.

Untuk mencapai orang, kita harus mutlak bagi kepentingan pemberitaan Injil. Jika kita mengajar di sekolah, kita tidak sekadar mengajar; kita hidup untuk memberitakan Kristus. Inilah kekurangan kita hari ini. Syukur kepada Tuhan bahwa hari ini banyak orang beriman baru di antara kita adalah hasil penginjilan dari rumah ke rumah; dan beberapa gereja baru telah dibangkitkan. Dulu, ketika kita berusaha membawa orang ke balai sidang, kita tidak membaptiskan begitu banyak. Tetapi, dengan jalan baru, banyak orang telah dibaptiskan. Saya harap kita semua dapat digerakkan untuk memberitakan Injil sebagai imam-imam Injil dalam jalan baru.