← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 7/31

PENGALAMAN HAYAT (4)

Pembacaan Alkitab:

Rm. 8:2, 6, 9-11

Doa: Tuhan, kami memerlukan Engkau. Kami memerlukan diri-Mu setiap saat. Tuhan, urapilah kami dengan kehadiran-Mu. Urapilah pembicara dan pendengar dengan kehadiran-Mu. Tuhan, terlepas dari-Mu, kami tidak memiliki apa-apa dan kami bukan apa-apa. Tuhan, kami percaya kepada-Mu. Datanglah untuk memenuhi keperluan kami. Amin.

Dalam berita ini, kita akan melanjutkan persekutuan kita mengenai Roma 8.

HUKUM ROH HAYAT

Roma 8:2, salah satu dari ayat-ayat penting dalam pasal 8 mengatakan, “Hukum Roh Hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Topik utama ayat ini bukanlah Roh hayat, tetapi hukum Roh hayat di dalam Kristus Yesus. Walaupun hukum bukanlah satu persona, hukum Roh hayat di sini dianggap sebagai satu persona. Hukum Roh hayat memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut.

Frase “hukum Roh hayat” terdiri dari tiga hal: hukum, Roh, dan hayat. “Hukum Roh” berarti hukum adalah Roh. Frase lain dengan susunan semacam itu adalah “hayat Allah” dan “terang Allah”. Kedua kata benda dalam frase ini bersifat saling menerangkan. Hayat Allah berarti bahwa hayat adalah Allah, dan terang Allah berarti bahwa terang adalah Allah. Ketika Alkitab mengatakan “Roh Allah” atau “Anak Allah”, bukan berarti bahwa Anak dan Allah adalah dua pribadi yang berbeda atau Roh dan Allah adalah dua pribadi yang berbeda. Frase “Anak Allah” berarti bahwa Anak adalah Allah. Demikian juga “Roh Allah” berarti Roh adalah Allah.

“Hukum Roh” berarti hukum adalah Roh. Demikian juga, “Roh hayat” berarti Roh adalah hayat. Hukum adalah Roh, dan Roh adalah hayat. Ketiga kata benda di dalam frase ini bersifat saling menerangkan. Mereka tidak mengacu kepada tiga hal yang berbeda; sebaliknya, mereka adalah tiga aspek dari satu hal. Ketiganya dibaurkan menjadi satu.

Hari ini Roh itu adalah Roh majemuk yang dilambangkan sebagai minyak urapan dalam Keluaran 30, yang merupakan perbauran antara empat macam rempah-rempah dengan minyak zaitun (Kel. 30:22-25). Minyak urapan ini melambangkan Roh pemberi-hayat, yang berhuni di dalam, yang almuhit, dan majemuk. Tanpa perlambangan yang demikian dalam Perjanjian Lama, maka akan sangat sulit untuk mengerti berbagai aspek dari satu Roh itu dalam Perjanjian Baru. Hari ini Roh itu bukan hanya Roh majemuk, tetapi juga adalah Roh yang sudah rampung sempurna. Roh yang sudah rampung sempurna adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal.

ISTILAH BARU UNTUK MENGIMBANGI PENEMUAN BARU

Untuk mengerti Alkitab, kita harus banyak belajar istilah-istilah baru yang berkenaan dengan Alkitab. Menurut teologi yang sesuai dengan Alkitab, banyak istilah baru yang telah diperkenalkan belakangan ini, seperti ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sebagai seorang muda, ketika belajar Alkitab, saya diperingatkan oleh buku-buku yang saya baca agar tidak menciptakan istilah-istilah baru untuk menghindari timbulnya ajaran sesat. Tetapi saya sering menerima terang baru yang menyebabkan saya menyadari adanya keperluan akan istilah-istilah baru. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan kebudayaan manusia. Istilah vitamin dan komputer adalah istilah-istilah baru yang diciptakan untuk mengekspresikan beberapa perkembangan dalam kebudayaan manusia. Hari ini, teologi juga perlu beberapa istilah baru karena adanya beberapa penemuan baru. Karena itu, saya menciptakan banyak istilah baru. Ada banyak istilah baru dalam teologi kita. Saudara Watchman Nee menciptakan beberapa, dan selama lebih dari tiga puluh tahun berselang, saya juga menciptakan cukup banyak.

ALLAH TRITUNGGAL DI DALAM TRINITAS ILAHI-NYA

DISALURKAN KE DALAM MANUSIA TRIPARTIT

Subyek dari Roma 8 adalah Allah Tritunggal di dalam trinitas ilahi-Nya disalurkan ke dalam manusia tripartit. Dalam seluruh Alkitab, hanya Roma 8 yang membicarakan subyek yang sangat penting ini. Dalam ayat 9-11, istilah “Roh Allah”, “Roh Kristus”, dan “Kristus” digunakan secara bergantian. Ini membuktikan bahwa Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus adalah satu. Roma 8:9-11 mewahyukan Allah Tritunggal.

Ayat 10 mengatakan dengan jelas bahwa ketika Kristus ada di dalam kita, roh kita adalah hayat. Dalam ayat ini juga ada perbandingan antara roh kita dan tubuh kita. Tubuh kita mati, tetapi roh kita adalah hayat. Berkenaan dengan tubuh, digunakan kata sifat “mati”, tetapi berkenaan dengan roh, digunakan kata benda “hayat”. Roh kita bukan hanya hidup atau telah dihidupkan, lebih-lebih adalah hayat itu sendiri. Ketika Allah Tritunggal yang diwujudkan di dalam Kristus masuk ke dalam kita, maka roh kita menjadi hayat. Roh kita bukan hanya dihidupkan, tetapi juga menjadi hayat itu sendiri.

Ayat 6 menunjukkan bahwa ketika pikiran, bagian utama dari jiwa, diletakkan di atas roh, maka pikiran juga menjadi hayat. Lalu mengenai tubuh kita, ayat 11 mengatakan bahwa jika Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kita, Ia juga akan memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana. Fana berarti berangsur-angsur mati. Roh yang diam di dalam kita juga akan memberikan hayat kepada tubuh kita yang berangsurangsur mati. Pada akhirnya, tubuh kita yang berangsurangsur mati juga menjadi hayat. Ketiga ayat ini menunjukkan bahwa setiap bagian diri kita, yang terdiri dari tiga bagian, akan menjadi hayat. Roh kita telah menjadi hayat, pikiran kita, yang adalah bagian utama dari jiwa, menjadi hayat, dan bahkan tubuh kita yang fana juga akan menjadi hayat.

Untuk mengalami Kristus sebagai hayat rohani, kita harus mengerti Roma 8 menurut subyeknya: Allah Tritunggal di dalam trinitas ilahi-Nya disalurkan ke dalam manusia tripartit. Pertama, Kristus masuk ke dalam kita sehingga membuat roh kita menjadi hayat. Haleluya! Inilah kelahiran kembali, dan hal ini terjadi dengan sekejap. Ada orang berkata bahwa tiga menit itu terlalu singkat bagi seseorang untuk dilahirkan kembali. Sebenarnya, tiga menit itu terlalu panjang. Ketika listrik dipasang di dalam sebuah gedung, para tukang listrik menyiapkan jaringan kabel-kabel di dalam, dan kabel-kabel ini dihubungkan dengan kabel panjang yang membentang dari pusat pembangkit tenaga listrik sampai ke gedung itu. Begitu pemasangan listrik sudah selesai, yang diperlukan hanyalah menekan tombol untuk menyalakannya. Demikian juga halnya dengan memberitakan Injil. Pemasangan kabel-kabel adalah pemberitaan Injil kita kepada teman Injil. Anda mungkin berkata, “Tuan, Anda diciptakan Allah sebagai sebuah bejana untuk menampung Dia. Anda sekarang kosong tanpa Dia. Allah mau masuk ke dalam Anda. Hari ini, Dia adalah Roh itu. Ia ada di sini sekarang. Jika Anda membuka mulut dan berkata, ‘O, Tuhan Yesus,’ dan Anda percaya di dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, Ia akan masuk ke dalam Anda.’” Begitu ia mengikuti Anda dengan berkata, “O, Tuhan Yesus,” ia segera dilahirkan kembali. Ini sesuai dengan kebenaran Injil. Di denominasi mungkin perlu waktu tiga bulan atau lebih untuk melahirkan kembali seseorang; untuk membaptiskannya bahkan perlu waktu lebih lama lagi.

Sebelum pergi memberitakan Injil, kita harus penuh dengan iman, percaya mutlak. Kita harus berdoa, melatih iman kita dengan penuh keyakinan. Karena itu ketika pergi, kita memiliki arus listrik ilahi untuk menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang. Ini bukan sekadar pemberitaan Injil, melainkan penyaluran Kristus ke dalam orang-orang. Sama seperti tukang listrik yang memasang arus listrik ke dalam gedung, kita membawa Kristus ke dalam orang-orang yang tersesat.

Tuhan menyalurkan hayat kebangkitan-Nya kepada anak seorang janda yang telah meninggal. Hal itu melambangkan penyaluran Kristus kepada orang-orang untuk kelahiran mereka kembali (Luk. 7:11-17). Itu bukan fakta kelahiran kembali, tetapi dapat dianggap sebagai lambang kelahiran kembali, yaitu menyalurkan hayat kepada orang yang mati. Peristiwa Lazarus dalam Yohanes 11 dan anak kecil yang mati dalam Yohanes 4 menunjukkan bahwa umat manusia yang telah jatuh bukan hanya berdosa, tetapi juga mati. Mereka perlu penyaluran hayat. Ketika pergi mengunjungi orang untuk memberitakan Injil, pembicaraan kita mengenai Kristus adalah untuk menyalurkan hayat kepada mereka. Kita harus percaya bahwa kita bukan sekadar memberitakan, tetapi juga menyalurkan Kristus yang hidup, yaitu hayat kepada orang lain.

Segera setelah membaptis seseorang, kita perlu memberinya berita yang baik mengenai dua roh. Kita perlu memberi tahu dia bahwa ketika kita dilahirkan kembali di dalam roh, roh kita dijadikan hayat (Rm. 8:10). Roh yang melahirkan kembali, yang adalah hayat, masuk ke dalam roh kita, menjadi satu dengan roh kita yang dilahirkan kembali, sehingga membuat roh kita menjadi hayat. Kedua roh ini telah menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Ini tidak terlalu dalam untuknya. Persekutuan semacam ini adalah ABCnya kehidupan orang Kristen. Karena kemerosotan kekristenan hari ini, kita mungkin berpikir bahwa hal-hal seperti ini terlalu dalam dan rahasia. Demikian adalah konsepsi yang salah. Kita benar-benar perlu belajar bagaimana membicarakan hal-hal ini. Kita harus belajar menghargai kemampuan orang-orang yang baru percaya. Roh mereka kita jamah ketika kita memberitakan Injil kepada mereka; kalau tidak, mereka tidak mungkin mengizinkan kita membaptiskan mereka dalam bak mandi mereka. Masuk ke dalam bak mandi dan dibaptis bukanlah hal yang kecil. Kita perlu melatih iman dengan penuh keyakinan.

Ketika memberitakan Injil dengan cara yang tepat, pemberitaan kita berasal dari pengalaman hayat kita. Pada saat memberitakan Injil, kita tahu dengan yakin bahwa Kristus ada di dalam roh kita dan roh kita adalah hayat. Selain itu, ketika kita membicarakan Kristus kepada orang dosa, pikiran kita pasti diletakkan di atas roh, dan pikiran kita juga adalah hayat. Mungkin tubuh kita yang fana sedang lemah atau sakit, tetapi ketika membicarakan Kristus dengan cara menyalurkan Dia kepada orang, bukan hanya roh dan pikiran kita adalah hayat, tubuh kita yang fana pun adalah hayat.

Pengalaman hayat kita begitu rahasia, karena Allah kita juga sepenuhnya rahasia. Dia yang rahasia ini sekarang ada di dalam kita, membuat kita juga menjadi rahasia. Kita adalah rahasia. Karena kita memiliki Allah yang rahasia ini di dalam kita, maka kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita sangat lemah, tidak mampu mengalahkan dosa seperti kemarahan kita. Semakin mengatakan bahwa kita tidak dapat menang, kita semakin tidak dapat menang. Bagaimanapun situasi kita sekarang, kita harus selalu percaya bahwa kita mampu mengalahkan segala situasi. Kita harus percaya kepada semua perkara positif dari Kristus dan tidak percaya kepada kekalahan. Allah yang rahasia bekerja dengan iman. Ketika memberitakan Injil, kita harus melatih roh iman kita (2 Kor. 4:13).

D. L. Moody mengatakan bahwa keajaiban terbesar diseluruh alam semesta adalah kelahiran kembali. Saya setuju dengannya. Pada satu saat, seseorang mungkin adalah orang yang paling berdosa; dan pada saat berikutnya, dia mungkin menjadi seorang kudus. Injil yang kita beritakan penuh dengan kekuatan dan kuasa. Injil ini bukan sekadar ajaran dalam kata-kata. Ketika pergi memberitakan Injil kepada orang lain dengan kuat kuasa, kita mengalami Kristus, Allah Tritunggal, dan hayat. Mengalami hayat adalah mengalami Allah Tritunggal yang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam ketiga bagian kita. Ketika mengalami penyaluran ini, roh kita adalah hayat, pikiran kita adalah hayat, dan tubuh kita juga adalah hayat.