PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (3)
Pembacaan Alkitab:
Rm. 8:1-6
DIMERDEKAKAN DARI HUKUM DOSA DAN HUKUM MAUT
Berada di Dalam Kristus Yesus
Roma 7 membicarakan keterkaitan kita dengan beberapa persona. Dalam pasal ini ada seorang istri (ayat 2-3), dua orang suami (ayat 2-4), “aku” (ayat 7-24), dan dosa (ayat 8-9, 11, 13-14, 17, 20). Pasal 8 menunjukkan kepada kita persona yang lain lagi. Ayat 1 mengatakan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Kita sekarang ada di dalam Kristus Yesus, bukan di dalam suami yang lama, “aku”, atau dosa. Tetapi jika di dalam pengalaman kita masih tinggal di dalam suami lama atau “aku”, kita masih ada di bawah dosa. Menurut Roma 7, dosa adalah suatu persona (ayat 8-9, 11, 17, 20). Sangat sukar untuk mengatakan apakah persona ini adalah Iblis atau diri kita sendiri, karena keduanya adalah satu. Dalam Matius 16, ketika Petrus menegur Tuhan dengan mengatakan, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu,” Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis” (ayat 22-23). Pada saat itu, Petrus dan Iblis adalah satu. “Aku” dalam Roma 7 bukan saja disamakan dengan Iblis; bahkan “aku” dan Iblis adalah satu. Dalam seluruh alam semesta hanya Yesus Kristuslah satusatunya persona yang tidak bersatu dengan Iblis.
Di satu pihak, dosa adalah Iblis itu sendiri. Di pihak lain, karena Iblis menyuntikkan dirinya ke dalam umat manusia, maka seluruh manusia juga menjadi dosa, yaitu seluruh manusia menjadi satu dengan Iblis. Dalam pandangan Allah, Iblis, dosa, dan umat manusia adalah satu. Jika kita hidup berdasarkan “aku”, kita tidak dapat terlepas dari dosa, karena “aku” adalah dosa. Kita tidak pernah dapat lepas dari dosa dan tidak pernah dapat menang dari dosa karena kita sendiri adalah dosa. Bagaimanapun baiknya seseorang di mata orang lain, di pandangan Allah dia adalah dosa.
Pengalaman dosa dalam Roma 7 membawa kita kepada penghukuman (7:24; 8:1). Penghukuman dalam Roma 8:1 bukanlah penghukuman terhadap perkara yang kita lakukan di masa lampau, tetapi penghukuman untuk situasi kita sekarang. Tidak seorang pun menghukum dirinya sendiri sebanyak seperti seorang Kristen yang menuntut Tuhan. Sebelum menuntut Kristus, kita tidak menghukum diri kita sedemikian rupa. Setelah melakukan penanggulangan yang tegas dengan Allah, kita membulatkan tekad kita untuk menjadi sempurna, murni, dan benar dalam segala sesuatu. Hasilnya, kita mungkin terus-menerus menghukum diri kita. Orang-orang yang menuntut Tuhan mungkin saja berada di bawah penghukuman dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam. Kita menghukum diri sendiri atas sikap kita yang salah, atas cara berbicara yang salah, dan atas penggunaan kata-kata yang salah. Jika seseorang sungguhsungguh menuntut Kristus, dia mungkin menjadi orang yang menghukum dirinya terus-menerus. Inilah persona terhukum yang disingkapkan dalam Roma 7 yang akhirnya berkata, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ayat 24).
Dalam Roma 7 Paulus tidak dapat melepaskan diri dari dosa. Tetapi dalam pasal 8 ia mendeklarasikan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (ayat 1). Paulus tidak lagi berada di dalam dirinya sendiri. Karena itu, dia tidak berada di dalam dosa, yaitu dia tidak berada di dalam Iblis. Ia berada di dalam persona yang lain, yaitu Kristus Yesus, yang di dalam pengalaman hayat kita adalah Roh hayat. Kristus Yesus dalam ayat 1 dan Roh hayat dalam ayat 2 adalah persona yang sama. Tanpa menjadi Roh hayat, Kristus tidak riil bagi kita. Di dalam Kristus, kita dimerdekakan dari penghukuman, karena hari ini Kristus Yesus adalah Roh hayat.
Hukum Roh Hayat
Roma 8:2 mengatakan, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Dengan tegas saya katakan, dalam Roma 8:2, bukan persona Kristus yang memerdekakan kita; melainkan hukum persona ini. Dalam persona hayat ini ada hukum, hukum Roh hayat, yang memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut.
Semua hayat memiliki hukum dan bahkan hayat itu sendiri adalah hukum. Serangga yang kecil sekalipun tahu bagaimana harus terbang karena hukum hayat mereka. Hayat ciptaan yang tertinggi, hayat manusia, juga adalah hukum. Tidaklah tepat jika mengatakan bahwa kehidupan kita yang penuh dosa adalah hasil dari kebiasaan kita. Kehidupan kita bukan karena kebiasaan kita, melainkan berasal dari hayat kita yang adalah hukum. Jika seseorang membentak meja, meja itu tidak akan bereaksi, karena benda-benda mati tidak memiliki hukum. Tetapi kalau kita dibentak, kita akan marah karena hukum hayat alamiah kita, yang adalah diri kita sendiri.
Hukum Roh hayat (Rm. 8:2), hukum akal budi di dalam pikiran kita (7:23), serta hukum dosa dan hukum maut (7:23; 8:2) adalah hukum-hukum alam, bukan hukum yang berupa peraturan-peraturan tertulis. Hukum alam bukanlah peraturan, melainkan tenaga alam. Daya tarik bumi adalah contoh dari hukum alam. Jika suatu benda dilemparkan ke udara, benda itu akan jatuh karena hukum gaya tarik bumi. Suatu benda pasti akan jatuh kecuali ada kekuatan yang lebih besar menahannya. Pesawat terbang dapat terbang tanpa terpengaruh oleh gaya tarik bumi karena ia memiliki hukum aerodinamika yang mengalahkan hukum gaya tarik bumi. Tanpa kekuatan lain yang menahan kita, kita akan secara spontan berbuat dosa, sama seperti benda yang menuju ke bawah ketika jatuh. Berbohong tidak perlu latihan. Ketika seseorang berbohong, ia melakukannya secara spontan. Petrus tidak perlu berlatih berbohong ketika ia menyangkal Tuhan dengan mengatakan, “Aku tidak kenal orang itu!” (Mat. 26:72). Ia melakukannya dengan spontan.
Dosa berkawan dengan maut. Ketika yang satu ada, yang lain pasti ada juga. Hukum dosa juga merupakan hukum maut. Tetapi di dalam kita ada persona yang lebih kuat, yaitu Yesus Kristus sebagai Roh hayat. Persona yang lebih kuat ini adalah hukum yang lebih kuat, dan hukum yang lebih kuat ini mengalahkan kita sebagai hukum yang lebih lemah. Dengan demikian, hukum yang lebih kuat memerdekakan kita dari hukum yang lebih lemah.
Menaruh Pikiran Kita di Atas Roh
Kita seharusnya tidak lagi mempercayai diri sendiri dan tidak seharusnya mencoba mengalahkan dosa. Kita tidak dapat mengalahkannya. Sebaliknya, kita harus menaruh pikiran di atas roh. Roma 8:6 mengatakan, “Karena pikiran diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran diletakkan di atas Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Tl.). Hari ini Roh itu, yang adalah Roh hayat, Kristus Yesus sendiri, bersatu dengan kita di dalam roh kita. Sepanjang hari kita perlu meletakkan pikiran kita hanya di atas roh, bukan pada hal-hal yang lain. Pikiran diletakkan di atas roh adalah hayat, dan hayat ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses — Bapa, Putra, dan Roh. Roh itu adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Tidak hanya demikian, seseorang yang pikirannya diletakkan di atas roh, ia akan hidup menurut roh (Rm. 8:4). Kita harus belajar untuk nampak kebenaran ini dan belajar mempraktekkannya, yaitu meletakkan pikiran di atas roh sepanjang waktu. Inilah pengalaman hayat yang menghasilkan pertumbuhan hayat.
TANYA JAWAB
Tanya: Pengalaman yang disebutkan Paulus dalam Roma 7 merupakan pengalaman orang yang sudah percaya atau orang yang belum percaya?
Jawab: Roma 7 menggambarkan pertempuran antara dua hukum: hukum dosa dan hukum akal budi. Ketika percaya kepada Tuhan Yesus, kita dilahirkan kembali dan menjadi ciptaan baru. Setelah diselamatkan, setiap orang yang percaya bertekad untuk berbuat baik. Seorang yang baru percaya mungkin berkata, “Aku adalah orang yang penuh dosa di masa lampau, tetapi sekarang aku telah bertobat dan mengaku dosa kepada Allah, dan aku telah percaya kepada Tuhan Yesus. Sekarang, setelah beroleh selamat, aku harus mencoba sedapat mungkin untuk berbuat baik.” Begitu seseorang memutuskan demikian, segera ia dibawa kembali kepada pengalaman orang yang belum percaya. Ketika Paulus menulis Roma 7, ia adalah seorang yang sudah diselamatkan. Setelah diselamatkan, ia mungkin kembali kepada kedudukan yang lama sebagai orang yang tidak percaya dengan mencoba menaati hukum. Ketika seorang beriman kembali lagi pada kedudukan orang yang tidak percaya di bawah hukum, mencoba melakukan yang baik untuk mencari perkenan Allah, ia akan mengalami Roma 7.
Selama bertahun-tahun para penyelidik Alkitab telah memperdebatkan apakah Roma 7 adalah pengalaman orang yang belum percaya atau pengalaman orang Kristen. Tetapi, setelah beroleh selamat, setiap orang beriman justru mengalami dibawa kembali kepada kedudukan orang yang tidak percaya. Mereka membulatkan tekad untuk mencari perkenan Allah, berbuat baik, dan menjadi sempurna, tetapi akhirnya kalah. Di waktu pagi, mereka melakukan penyegaran pagi, dan setelah penyegaran pagi mereka membulatkan tekad untuk menjadi sempurna sepanjang hari. Tetapi pada tengah hari, mereka melakukan beberapa kesalahan, dan pada sore hari mereka telah dikalahkan sepenuhnya. Malam harinya mereka mencoba melakukan ganti rugi, mengaku dosa atas kegagalan mereka, dan keesokan paginya mereka mencoba lagi. Sejarah ini sering kali terulang terus.
Tanya: Apakah mencoba meletakkan pikiran kita di atas roh merupakan contoh dari berusaha melakukan sesuatu yang baik ?
Jawab: Pada masa muda saya, saya mendengar suatu pepatah, “mengetahui dosa adalah berdosa”. Sebelum Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereka suci tanpa dosa; pada saat itu tidak ada dosa. Setelah mereka memakan buah itu, mata mereka terbuka dan mulai mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Mencoba melakukan yang baik adalah dosa. Demikian juga mencoba meletakkan pikiran kita di atas roh adalah dosa. Jangan mencoba melakukan apa-apa. Letakkan saja pikiran Anda di atas roh. Paulus tidak menyuruh kita untuk mencoba meletakkan pikiran kita di atas roh. Ia hanya berkata, “Pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Rm. 8:6b Tl.). Setelah mendengar berita mengenai meletakkan pikiran di atas roh, beberapa orang mungkin berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya. Kita perlu berhenti berusaha. Begitu kita berusaha untuk menang, kita telah kalah. Iman bukanlah melakukan atau berusaha; iman hanyalah percaya kepada apa yang telah Allah katakan, dan berkata, “Amin.”Iman ini menjaga kita dalam perhentian.
Tanya: Bagaimana Anda menerapkan hukum Roh hayat?
Jawab: Menerapkan hukum hayat dapat juga merupakan usaha kita. Jangan memikirkan bagaimana menerapkan hukum Roh hayat atau bagaimana menghentikan hukum dosa. Jika Anda telah nampak hukum Roh hayat, berkatalah, “Haleluya, Amin!” Hukum Roh hayat akan bekerja dengan sendirinya; ia tidak membutuhkan Anda menerapkannya. Iman menghentikan segala jenis aktivitas. Ia menghentikan Anda dari mencoba dan berusaha. Kita tidak tahu bagaimana Tuhan akan melakukannya, tetapi kita percaya bahwa Ia akan melakukannya.
Tanya: Apakah contoh praktis (nyata) dari meletakkan pikiran kita di atas roh?
Jawab: Mendefinisikan cara meletakkan pikiran kita di atas roh berarti menerima pencobaan. Paulus tidak menyuruh kita dengan mengatakan, “Letakkan pikiranmu di atas roh.” Kita tidak perlu bertekad melakukan hal ini. Iman menghentikan seluruh usaha kita. Iman selalu memuji Allah. Contoh dari Yosua dan Kaleb dalam Alkitab menunjukkan apa yang dimaksud percaya. Dalam Bilangan 13 dan 14, bukan Yosua dan Kaleb yang menang, melainkan Dia yang mereka percayai. Allah mengerjakan segala sesuatu. Mereka hanya menikmati apa yang telah Allah lakukan. Dalam Yosua 3 mereka menyeberangi Sungai Yordan, tetapi Allahlah yang menghentikan air. Mereka hanya berjalan menyeberang.
Jangan mencoba mengalahkan dosa Anda, percaya saja. Haleluya! Kita ada di dalam Kristus. Kristus adalah “Aku adalah kita yang agung, dan Dia adalah Roh hayat. Kita mempunyai Juruselamat. Kalau kita melakukan sesuatu untuk diri sendiri, kita mencoba menjadi juruselamat bagi diri sendiri; kita sepertinya berkata bahwa kita tidak membutuhkan Dia. Jika kita menyatakan bahwa kita menderita (malang) dan tidak berpengharapan, tidak dapat melakukan apa-apa untuk menyelamatkan diri sendiri, maka kita menyatakan bahwa kita perlu Juruselamat.
Tanya: Jika di dalam sifat yang jatuh kita adalah Iblis, bagaimana kita dapat memperhidupkan hayat yang diokulasikan sehingga Tuhan mengalir melalui kita untuk mengekspresikan diri-Nya?
Jawab: Kita adalah cabang yang diokulasikan kepada Kristus yang dibudidayakan. Ia adalah hayat yang lebih kuat, dan kita adalah hayat yang lebih lemah. Apa pun yang akan Iblis lakukan, Kristus lebih kuat. Asal kita tinggal di dalam Dia, kita tinggal di tempat kita diokulasikan. Kristus akan melakukan segalanya. Kita tidak perlu menganalisis. Antibiotik lebih kuat daripada bakteri. Kita hanya tahu bahwa antibiotik itu mengalahkan bakteri, kita tidak tahu bagaimana dan tidak perlu tahu bagaimana.
Iman menghentikan aktivitas kita. Iman bahkan “membutakan” kita. Jika kita memiliki iman, kita seperti orang buta. Abraham tidak tahu ke mana Tuhan memimpin dia atau jalan mana yang harus ditempuhnya. Ia hanya tahu bahwa Tuhan memimpin dirinya. Inilah iman. Menjadi terlalu jelas berarti tidak percaya.
Tanya: Sepertinya sangat mudah untuk memiliki iman ketika saya berada di dalam sidang. Tetapi begitu saya pulang, ada “raksasa” yang siap memakan habis apa yang telah saya nikmati. Apa yang harus saya perbuat?
Jawab: Iman selalu riil dan sejati. Lingkungan adalah bohong. Dengarkan iman, jangan mendengarkan kebohongan. Jika lingkungan kita baik, kita tidak perlu iman. Kita perlu iman ketika kita berada dalam lingkungan yang sulit. Kecemasan, kekhawatiran, dan bahkan sakit jasmani, semuanya adalah bohong. Iman selalu memberi tahu bahwa lingkungan itu adalah bohong, bukan raksasa. Menyangkal lingkungan adalah iman. Dalam Bilangan 13 dan 14, Yosua dan Kaleb menerima firman Allah sebagai iman mereka. Orang-orang Israel yang tidak percaya melihat raksasaraksasa di Kanaan dan memberikan laporan yang jahat. Tetapi Yosua dan Kaleb mengatakan, “Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis” (Bil. 14:9). Jangan mengakui lingkungan. Jangan mengatakan bahwa balai sidang adalah puncak gunung dan rumah Anda sangat kasihan. Jika Anda mengatakan demikian, Anda memihak Iblis. Rumah Anda jauh lebih baik daripada balai sidang. Itu seperti langit tingkat ketiga dan ruang maha kudus, karena di mana Kristus berada, di situlah ruang maha kudus.
Kadang-kadang kita membantu Iblis melakukan banyak hal. Suami atau istri kita mungkin tidak terlalu buruk, tetapi karena kita mengatakan bahwa mereka buruk, mereka berubah menjadi buruk. Semakin banyak kita berkata-kata begitu, mereka akan menjadi semakin buruk. Perkataan semacam itu membuka pintu bagi Iblis. Kita perlu menutup pintu dengan menyatakan sesuatu yang positif. Kita harus berkata, “Aku tidak kalah. Keadaanku yang kalah adalah bohong. Iblis, kebohongan ini harus kembali kepadamu.” Memproklamirkan demikian adalah melatih iman. Iman berlawanan dengan lingkungan.
Tanya: Beberapa orang yang kita kunjungi terlibat dalam perkara yang tidak tepat. Haruskah kita memberi tahu mereka untuk tidak mencoba mengubah diri mereka sendiri?
Jawab: Kita tidak seharusnya memberi tahu mereka demikian. Kita seharusnya hanya membawa mereka kepada Kristus. Kita perlu membantu mereka untuk percaya kepada Kristus dan berdoa. Tuhan Yesus tidak memberi tahu Zakheus bahwa dia harus mengembalikan empat kali lipat dari apa yang telah diambilnya dari orang lain. Tuhan hanya menyuplaikan diri-Nya sendiri kepada Zakheus, melakukan sesuatu di dalam dirinya. Bukan Zakheus sendiri yang dapat memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin, melainkan Tuhan yang di dalam dirinya. Ia mengalami penyelamatan yang penuh kuasa.
Ketika pergi mengunjungi seseorang, kita harus belajar membicarakan Kristus, berbicara berdasarkan Roh itu, yaitu menyuplaikan (melayankan) Kristus dan Roh hayat kepada mereka. Demikian, keselamatan yang mereka terima adalah yang penuh kuasa dan organik, bukan sesuatu yang berasal dari ajaran. Keselamatan mereka bukanlah menerima suatu agama untuk mengubah cara hidup mereka. Karena itu, kita perlu banyak berdoa. Pada saat kita hendak pergi untuk berbicara kepada orang, kita perlu berdoa, “Tuhan, bagaimanapun baiknya kata-kataku, itu adalah sia-sia. Engkaulah realitas. Pada saat aku berbicara, Engkau harus keluar bersama dengan kata-kataku.”