PENGALAMAN HAYAT (3)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 1:21; Rm. 8:6
Dalam berita ini kita akan melanjutkan persekutuan mengenai memperhidupkan Kristus.
PERBAURAN ALLAH DENGAN MANUSIA
Alkitab, terutama Injil Yohanes, membentangkan perkara ilahi dan rahasia dengan kata-kata yang sederhana. Yohanes 14:19 mengatakan, “Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.” Tuhan Yesus mengucapkan perkataan ini agar murid-murid-Nya tahu bahwa dalam kebangkitan, Ia akan ditransfigurasi (diubah) dari tubuh jasmani-Nya yang terdiri dari darah dan daging menjadi Roh. Dalam kebangkitan-Nya, Ia akan hidup, dan mereka juga akan hidup. Kata-kata ini sangat jelas, tetapi sifat hakiki hubungan kita dengan Kristus tidak terlalu jelas hanya dari kata-kata itu saja. Perkataan yang diucapkan Tuhan ini menyiratkan perbauran Allah dengan manusia.
Kebenaran dasar dari perbauran ilahi dengan insani terlihat dalam seluruh Perjanjian Baru. Walaupun ada orang menentang penggunaan kata “berbaur” (mingle), namun kata “berbaur” seperti yang didefinisikan dalam kamus Webster’s Third International Dictionary memberikan penjelasan yang tepat mengenai hubungan kita dengan Tuhan. Kamus ini menyatakan bahwa berbaur (to mingle) adalah “menggabungkan sesuatu dengan yang lain sehingga menjadi satu, namun masing-masing unsurnya tetap dapat dibedakan dalam gabungan tersebut”.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS ADALAH KEHIDUPAN YANG BERBAUR
Filipi 1:21 mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Mengatakan bahwa kita harus memperhidupkan Kristus itu mudah dan memahami frase sederhana ini juga mudah, tetapi untuk benar-benar memperhidupkan Kristus, banyak seluk-beluknya. Memperhidupkan Kristus berarti ketika Kristus hidup, kita yang percaya kepada-Nya dan yang sekarang berada di dalam-Nya, juga hidup. Kristus hidup dan kita pun hidup (Yoh. 14:19). Ini berarti bahwa kita hidup di dalam kehidupan Kristus dan Dia hidup di dalam kehidupan kita. Jika kita hidup di dalam kehidupan-Nya, kehidupan-Nya juga akan berada dalam kehidupan kita. Inilah perbauran hidup dari dua hayat. Allah dan manusia hidup bersama. Kehidupan perbauran ini diilustrasikan oleh pengokulasian dua pohon. Ketika sebuah cabang diokulasikan kepada pohon yang lain, keduanya hidup bersama sebagai satu kesatuan. Di satu pihak, mereka adalah dua, tetapi di pihak lain, mereka adalah satu. Mereka adalah satu, tetapi sifat hakiki mereka tetap terlihat jelas dan tidak menghasilkan sifat hakiki yang ketiga.
KEHIDUPAN ORANG KRISTEN — MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Pada tahun 1935, sebagai seorang sekerja muda, saya tinggal bersama sekerja lain yang lebih tua beberapa tahun dari saya. Selama kami tinggal bersama, saya sering bersalah kepadanya atas hal-hal yang sepele, sehingga setiap hari saya sering minta maaf kepadanya. Selang beberapa hari, ketika saya minta maaf kepadanya lagi, ia berkata, “Meskipun meminta maaf itu baik, tetapi tidak bersalah kepada orang lain lebih baik lagi.” Ini membuat saya kecewa, karena saya tidak dapat berhenti membuat kesalahan. Salah satu kesalahan yang paling sering saya lakukan adalah menumpahkan beberapa tetes air di ranjangnya ketika saya membawa air dari kamar mandi ke kamar kami untuk membasuh diri. Sebenarnya ini adalah perkara yang sangat kecil, tetapi menurut hati nurani saya, saya telah melakukan pelanggaran sehingga saya harus minta maaf. Saya mempraktekkan hal ini sesuai dengan perintah yang telah saya terima demi menjaga hati nurani murni di hadapan Allah dan manusia (Kis. 24:16). Saya berusaha sekuatnya untuk mempraktekkan hal ini, tetapi sangat sulit. Jika saya adalah orang yang ceroboh, saya mungkin saja menumpahkan sedikit air di ranjang saudara tersebut tanpa merasa terganggu, tetapi kehidupan atau kebiasaan yang ceroboh dapat memutuskan persekutuan kita dengan Tuhan. Walaupun saya berlatih untuk menjaga hati nurani saya bersih tanpa pelanggaran, saat itu saya belum sepenuhnya terbantu untuk dapat memperhidupkan Kristus.
Melalui pengalaman bertahun-tahun, saya kemudian nampak bahwa kehidupan kristiani lebih positif daripada sekadar menjaga hati nurani bersih dari tuduhan. Kita, orang Kristen, harus menjaga hati nurani bersih, tetapi butir utama kehidupan kristiani kita adalah memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Kristus haruslah menjadi tujuan kita. Apakah hati nurani kita bersih atau tidak itu masalah kedua. Memperhidupkan Kristus haruslah menjadi yang utama. Semua kesulitan yang terjadi dalam kehidupan kristiani kita dikarenakan kita tidak memperhidupkan Kristus dari dalam kita.
Hanya menjaga hati nurani tetap bersih berarti berada dalam alam moral dan etika. Praktek menjaga hati nurani tetap bersih memang membantu, tetapi hal itu juga dapat menjadi jahat. Ketika merenungkan kembali pengalamanpengalaman yang lalu, saya menyadari bahwa moralitas dan etika bukanlah kehidupan kristiani. Hari ini saya tidak akan menekankan perihal menjaga hati nurani Anda bersih tanpa pelanggaran, sebaliknya saya akan menyuruh Anda melupakan semua hal lain dan memperhidupkan Kristus saja. Bagiku hidup adalah Kristus. Bagiku hidup bukanlah etika dan moralitas, melainkan Kristus.
Bagi seorang bankir, hidup adalah uang dan tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga selalu ada dalam pikirannya dan ia selalu membaca surat kabar untuk mengetahui berapa tingkat suku bunga terakhir. Bagi pialang saham, hidup adalah bursa saham. Bagi mahasiswa muda yang ambisius, hidup adalah mencapai gelar tertinggi dalam bidang yang paling baik. Bagi peserta pelatihan di pusat pelatihan, mungkin berpikir bahwa hidup adalah pelatihan. Sebenarnya, kita hidup seharusnya adalah Kristus.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS MELALUI MENGASIHI DIA
Kita begitu terikat dengan aktivitas sehari-hari, kehidupan kita seharusnya bukan aktivitas-aktivitas itu, melainkan Kristus. Pikiran kita seharusnya terpusat pada Kristus, tetapi konsentrasi pikiran kita semacam itu tergantung pada kasih kita kepada Kristus. Itulah sebabnya Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk mengasihi Kristus (Mrk. 12:30; Why. 2:4-5; Yoh. 14:23; 21:15-17; 1 Ptr. 1:8). Jika tidak mengasihi Kristus, kita tidak dapat memperhidupkan Dia; mengasihi Dia adalah cara terbaik untuk memusatkan seluruh diri kita kepada-Nya. Ketika seorang ibu muda melahirkan seorang bayi, seluruh kehidupannya adalah bayi tersebut. Baginya, hidup adalah bayinya. Ini disebabkan kasihnya terhadap anaknya. Ketika kita mengasihi Kristus sampai puncaknya, seluruh diri kita akan dikuasai oleh-Nya, dan kita akan memperhidupkan Dia. Inilah pengalaman Paulus. Karena itu, dia berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Bagi Paulus, meneruskan hidup lebih lanjut adalah Kristus, jika ia harus mati, itu adalah keuntungan.
Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu mengasihi Dia sampai puncaknya. Kadang-kadang ketika kita begitu terpikat oleh sesuatu, pada malam harinya kita akan memimpikan hal itu. Bahkan di dalam mimpi, bagi kita hidup adalah hal yang memikat itu. Kristus perlu memikat kita sampai ke tingkat yang sedemikian.
PIKIRAN YANG DILETAKKAN DI ATAS ROH ADALAH HAYAT
Roma 8:6 mengatakan, “Karena pikiran diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran diletakkan di atas Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Tl.). Dalam kehidupan kristiani yang riil, kita harus meletakkan pikiran di atas roh. Ketika kita meletakkan pikiran di atas roh, pikiran kita adalah hayat. Hayat adalah Allah, Kristus, dan Roh itu. Hayat ini menjadi praktis dan riil bagi kita ketika pikiran kita adalah hayat. Jika pikiran kita bukan hayat, Allah dan Kristus sebagai hayat kita sepertinya jauh sekali, dan Roh itu sangat obyektif bagi kita. Kristus adalah hayat kita, tetapi Kristus sebagai hayat akan sangat riil bagi kita apabila kita menaruh pikiran di atas roh, dan pikiran kita adalah hayat. Ketika pikiran kita diletakkan di atas roh, kita memiliki hayat.
PIKIRAN DILETAKKAN DI ATAS ROH
BERARTI TINGGAL DI DALAM KRISTUS
Meletakkan pikiran di atas roh juga berarti tinggal di dalam Kristus. Ketika kita tinggal di dalam Kristus, hasilnya ialah menghasilkan buah. Jika kita tidak menghasilkan buah, maka keberadaan kita di dalam kristus adalah palsu. Jika sepasang suami istri ingin memiliki anak dan setelah beberapa tahun masih belum mempunyainya, mereka mungkin pergi ke dokter untuk memisahkan diri apakah ada yang tidak beres. Kita tidak seharusnya tertipu. Keberadaan kita di dalam Kristus seharusnya menghasilkan buah. Hari ini Kristus adalah Roh itu (1 Kor. 15:45b; 2 Kor. 3:17), maka kita dapat tinggal di dalam Dia. Tinggal di dalam Kristus, menerima Kristus sebagai Roh, adalah meletakkan pikiran kita di atas roh perbauran, yaitu roh kita yang telah dilahirkan kembali. Jika kita berada di dalam Kristus secara tepat, kita pasti menghasilkan buah. Setiap orang yang menikmati Kristus akan diperintahkan Tuhan untuk pergi (Yoh. 15:16)! Kita ditugaskan “pergi” berarti kita harus pergi menempuh jarak tertentu. Kita tidak seharusnya tinggal di rumah, tetapi kita harus pergi untuk menghasilkan buah yang tetap. Inilah hasil dari tinggal di dalam Kristus, menaruh pikiran kita di atas roh.