← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 4/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (2)

Pembacaan Alkitab:

Kej. 1:26; Rm. 11:24; Rm. 6:5; Gal. 2:20

MANUSIA ADALAH BEJANA, MENURUT JENIS ALLAH

Hayat adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi bagian yang telah ditentukan bagi kita. Allah menciptakan kita sebagai bejana agar kita dapat menampung Dia sebagai hayat kita. Tanpa Dia, bejana ciptaan adalah kosong, tidak mendapat bagian dari apa yang telah ditentukan, dan keberadaannya adalah sia-sia. Semua orang cerdik pandai menyadari bahwa hidup manusia adalah siasia. Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Raja Salomo yang berpengalaman dan bijaksana. Dalam Kitab Pengkhotbah dikatakan, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2). Segala perkara di bumi adalah kesia-siaan di atas kesia-siaan. Terpisah dari Allah, manusia adalah kosong. Manusia diciptakan sebagai bejana yang kosong untuk menerima Allah sebagai bagiannya, yaitu sebagai hayat, suplai hayat, dan segala sesuatunya.

Allah menciptakan manusia dengan cara yang sangat ajaib. Entah seseorang itu telah menerima Allah atau ateis yang tidak bersedia menerima Allah, ia harus mengakui bahwa manusia adalah karya agung ciptaan Allah. Benda pertama dari ciptaan Allah adalah benda-benda yang tidak memiliki hayat. Kedua, adalah benda-benda yang memiliki hayat terendah, hayat tumbuhan. Mereka tidak dapat berbicara atau mengerti; mereka tidak mempunyai pikiran, emosi, dan tekad. Kemudian hayat yang lebih tinggi, hayat binatang, diciptakan. Di antara hayat binatang, ada hayat yang lebih tinggi dan ada pula yang lebih rendah. Hayat serangga tidak setinggi hayat anjing dan hayat anjing tidak sekuat hayat binatang yang lebih tinggi lainnya. Bagaimanapun, hayat binatang bukanlah hayat yang paling tinggi. Hayat yang paling tinggi dalam ciptaan Allah adalah hayat manusia.

Semua makhluk hidup diciptakan menurut jenisnya masing-masing (Kej. 1:12, 24). Tetapi hayat manusia tidak diciptakan menurut jenis manusia, melainkan menurut jenis Allah (Kej. 1:26). Kita diciptakan menurut jenis Allah karena diciptakan seturut dengan Allah, memiliki gambar dan rupa Allah. Gambar mengacu kepada atribut-atribut ilahi. Allah adalah Allah yang mengasihi, ini adalah gambar-Nya; karena itu, kita juga mengasihi. Allah itu murni, dan ketika kita diciptakan juga murni, walaupun hari ini kita telah jatuh. Allah ada di dalam terang, dan kita juga damba berada di dalam terang; kita tidak suka berada di dalam gelap. Inilah beberapa atribut ilahi Allah. Atributatribut yang kita miliki sama seperti atribut-atribut Allah, tetapi sifat hakikinya berbeda. Atribut Allah itu ilahi; atribut-atribut kita tidak ilahi. Apa yang kita miliki adalah gambar Allah. Karena itu, manusia beserta atribut-atributnya adalah bejana untuk diisi Allah.

Rupa mengacu kepada bentuk lahiriah (luar). Menurut penampilannya, manusia, malaikat, dan Allah berada dalam satu jenis. Malaikat terlihat sama seperti manusia. Setelah Tuhan Yesus bangkit, murid-murid-Nya datang ke kubur-Nya, di sana mereka melihat dua orang laki-laki (Luk. 24:4). Sebenarnya, mereka bukanlah manusia, tetapi malaikat (Yoh. 20:12). Pada satu sisi, Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah tidak memiliki bentuk yang kelihatan. Tetapi, ketika Dia datang mengunjungi Abraham bersama dua malaikat dalam Kejadian 18, Ia muncul sebagai seorang manusia (ayat 1-2). Abraham menyambut ketiganya dan menyiapkan air bagi mereka untuk membasuh kaki mereka. Istrinya menyiapkan hidangan dan mereka semua makan, termasuk Yehova dan kedua malaikat tersebut. Ketika Yehova pergi, Abraham menemani-Nya, berjalan dan bercakap-cakap dengan-Nya. Yehova berbicara dengan Abraham seperti teman akrab dalam rupa manusia (ayat 16-33; Yak. 2:23).

HAYAT YANG DIOKULASIKAN

Agar bertumbuh dalam hayat, kita perlu nampak bahwa hayat orang Kristen adalah hayat yang diokulasikan (Rm. 11:24; 6:5; Gal. 2:20). Dua pohon dari jenis yang berbeda tidak dapat diokulasikan. Mereka tidak dapat tumbuh bersama karena mereka tidak sejenis. Karena manusia diciptakan menurut jenis Allah, maka manusia dan Allah dapat diokulasikan bersama. Jika kita tidak jelas mengenai prinsip pengokulasian, kita tidak akan dapat mengerti hayat dengan tepat. Kita akan membuat kesalahan yang berkaitan dengan hayat. Banyak orang Kristen menekankan ayat-ayat tertentu yang berkenaan dengan hayat orang Kristen seperti Roma 6:5 dan Galatia 2:20. Mereka merasa bahwa ayat-ayat tersebut mengacu kepada hayat yang diganti. Tetapi hayat yang diokulasikan bukanlah hayat yang diganti. Hayat orang Kristen adalah perbauran dua hayat, hayat dari dua sifat hakiki. Kedua hayat itu tetap ada dalam pengokulasian.

Yesus sepenuhnya adalah persona yang diokulasikan, persona dengan dua sifat hakiki. Di satu pihak, ketika Dia hidup di bumi, Ia adalah Allah yang sejati. Di pihak lain, Ia adalah manusia yang mengekspresikan Allah. Ia adalah Allah yang diekspresikan melalui manusia. Kita juga adalah persona-persona dengan dua sifat hakiki, insani dan ilahi. Ketika menerima hayat ilahi, hayat insani kita tidaklah berakhir. Hayat insani kita tetap ada.

Walaupun hayat insani dan hayat ilahi adalah sejenis, yang satu lebih kuat daripada yang lain. Sekarang, di dalam kita ada hayat yang lebih lemah dan hayat yang lebih kuat. Bila hayat yang lebih lemah dibiarkan hidup bersama hayat yang lebih kuat, maka hayat yang lebih kuat mengalahkan yang lebih lemah. Saudari sebagai bejana yang lebih lemah menikah dengan saudara yang adalah bejana yang lebih kuat. Itulah sebabnya para istri memakai nama keluarga suami di belakang namanya. Dalam hal ini, para istri ditundukkan. Pada hari pernikahan, para saudari menyadari hal ini dan mengenakan tudung pada kepala mereka. Selama pernikahan, hanya kepala suami yang dapat dilihat. Ini menunjukkan bahwa keduanya harus menempuh satu kehidupan.

Dalam sidang, kita mungkin mengumumkan dengan gembira, “Aku adalah bagian dari Kristus, aku bersatu dengan Kristus, dan aku berbaur dengan Kristus.” Tetapi setelah sidang, kita mungkin ingin menjadi kepala dan menghendaki Kristus menjadi yang ditudungi. Kita harus selalu ingat bahwa kita adalah istri dan Dia adalah suami. Karena itu, kita adalah dua persona yang memperhidupkan satu hayat secara bersama-sama tanpa pemisahan. Yang satu hidup di dalam yang lain dan melalui yang lain. Dengan demikian, hayat yang diokulasikan dapat tetap hidup.

Ketika mengasihi, kita mengasihi bukan berdasarkan diri sendiri, tetapi kita mengasihi bersama Kristus, melalui Kristus, dan di dalam Kristus, dan Kristus mengasihi melalui kita. Kasih semacam ini tidak mengekspresikan kebajikan insani kita saja, tetapi kebajikan insani beserta atribut ilahi Kristus. Kasih ilahi-Nya menjadi esens kasih insani kita. Ini bukan dua kasih yang ada bersama-sama, tetapi satu kasih hidup di dalam yang lain. Ini dapat dibandingkan dengan tangan yang berada di dalam sarung tangan. Tangan dan sarung tangan tidak hanya sebagai dua benda yang ada bersama-sama. Bahkan lebih dari itu, tangan dimasukkan ke dalam sarung tangan, sehingga kedua obyek tersebut menjadi satu. Saat kita mengasihi orang lain, Kristuslah yang mengasihi, tetapi bukan oleh diri-Nya sendiri, melainkan Kristus mengasihi melalui kita. Dia adalah “tangan” dan kita adalah “sarung tangan”, bukan sebagai pasangan yang saling terpisah, melainkan yang satu berada di dalam yang lain. Hayat manusia memiliki hayat ilahi di dalam sebagai isinya, dan hayat ilahi memiliki hayat insani sebagai ekspresinya. Jika kita tidak jelas mengenai hal ini, kita tidak akan pernah mengerti hayat orang Kristen.

Syukur kepada Tuhan karena ada pengokulasian. Bait ketiga kidung yang digubah oleh A.B. Simpson, pendiri Christian and Missionary Alliance, (Kidung No. 365) mengatakan:

Hukum alam semua paham: Benih mati tertanam,

Barulah akan bertunas, tumbuh dan berbuah lebat.

(Terjemahan versi lain: Tuaian tumbuh dari biji yang mati tertanam

Buruk-baik diokulasikan, hasilnya: manis, limpah)

Kita harus belajar melihat hayat yang diokulasikan dan belajar mengalami serta mempraktekkannya. Kita tidak seharusnya bersatu dengan Kristus sebagai pasangan. Kita harus bersatu dengan-Nya dengan cara saling huni. Dia tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam-Nya.

Hayat orang Kristen adalah hayat yang diokulasikan, perbauran dua hayat yang sejenis. Untuk nampak hal ini dan mempraktekkannya, kita perlu tinggal di dalam roh. Kita perlu berjalan dalam hayat menurut roh dan tidak melakukan apa-apa tanpa Kristus. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan Kristus dan melalui Kristus. Jika kita tidak yakin bahwa kita melakukan sesuatu dengan Kristus dan melalui Kristus, kita harus berhenti. Prinsip ini harus dipraktekkan sepanjang hidup kristiani kita.