← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 3/31

PENGALAMAN HAYAT (2)

Pembacaan Alkitab:

Yoh. 6:57; 14:19; Gal. 2:20; Flp. 1:21; Rm. 6:4-5; 11:24

WAHYU DALAM PERJANJIAN BARU

MENGENAI MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Dalam Perjanjian Baru ada empat ayat utama, dua ayat dalam kitab Injil dan dua ayat yang lain dalam Surat-surat Kiriman, yang mewahyukan perihal memperhidupkan Kristus. Ayat pertama, Yohanes 6:57 mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh (karena) Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh (karena) Aku.” Inilah ayat pertama dalam Perjanjian Baru yang secara langsung menyinggung perihal memperhidupkan Kristus. Ayat kedua juga ada dalam Injil Yohanes. Yohanes 14:19 mengatakan, “Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.” Frase “sebab Aku hidup” berarti Kristus hidup dalam kebangkitan. “Sesaat lagi” menunjukkan kematian-Nya, juga menunjukkan bahwa Ia akan hidup lagi dalam kebangkitan-Nya. Klausa “sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup” menunjukkan bahwa karena Ia hidup dalam kebangkitan, kita juga akan hidup bersama Dia dan oleh Dia. Dalam Perjanjian Baru, kedua ayat ini: Yohanes 6:57 dan 14:19, adalah ayat-ayat yang sangat penting (mendasar) yang mewahyukan kepada kita bagaimana kita dapat hidup karena Kristus dan bersama Kristus. Ayat ketiga yang mungkin adalah ayat terbaik dalam Surat-surat Kiriman yang berkenaan dengan hidup kita karena Kristus dan bersama Kristus, adalah Galatia 2:19b, 20. Ayat tersebut mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidup yang sekarang aku hidupi di dalam daging, adalah hidup oleh iman” (Tl.). Ayat keempat adalah Filipi 1:21 yang mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.”

HIDUP KARENA KRISTUS

Melalui keempat ayat ini, kita dapat nampak bagaimana memperhidupkan Kristus. Dalam hal ini, saya tidak menggunakan frase “hidup oleh Kristus”, karena kata “oleh” tidak menyiratkan pemikiran yang tepat. Dalam Yohanes 6:57, kata “oleh” menurut bahasa aslinya adalah “karena”; kata “karena” menyiratkan bahwa di sana ada satu faktor. Kata “oleh” menyiratkan sarana, bukan faktor. Hidup (berjalan) “oleh” Kristus menyiratkan bahwa Kristus adalah sarana untuk menempuh hidup; seperti tongkat adalah sarana yang digunakan untuk berjalan. Hidup “karena” Dia menunjukkan bahwa Dia adalah faktor yang menyebabkan kita menempuh hidup. Pengertian sedemikian sama dengan arti yang terkandung dalam bahasa aslinya. Yohanes 14:19 mewahyukan bahwa kita memperhidupkan Kristus dalam kebangkitan-Nya. Setelah kebangkitan-Nya, Ia hidup, kita pun hidup. Kita tidak hanya hidup oleh Dia, tetapi juga karena Dia.

Kita bukan hidup oleh Kristus, dengan Kristus sebagai sarana kita; sebaliknya, kita hidup karena Kristus, dengan Kristus sebagai faktor kehidupan kita. Makanan yang kita makan bukanlah suatu sarana, melainkan faktor yang menyuplai. Kita hidup bukan oleh makanan, melainkan karena makanan. Makanan menyuplai kita sehingga kita dapat hidup karena suplaiannya. Dalam penggunaan tongkat sebagai sarana untuk berjalan, kita tidak perlu makan tongkat tersebut; tetapi, hidup karena makanan berarti kita harus memakan makanan tersebut. Tanpa makan, makanan tidak dapat menjadi faktor kehidupan kita. Kita memperhidupkan Kristus dalam kebangkitan-Nya dan kita memperhidupkan Kristus melalui makan Dia. Makan membawa masuk faktor ke dalam diri kita. Ketika kita mempunyai sarapan yang baik di pagi hari, nutrisi yang kita terima memberikan energi kepada kita. Unsur Kristus yang memberi energi adalah suplaian, faktor, agar kita dapat memperhidupkan Kristus.

Galatia 2:20 mengatakan, “. . . bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kristus telah kita makan, sekarang Ia ada di dalam kita dan hidup di dalam kita. Ketika Ia hidup di dalam kita, Ia kita cerna. Cara Kristus hidup di dalam kita adalah melalui kita cerna. Ia sekarang menjadi suplai, faktor yang menjadikan kita hidup. Kita hidup dengan Kristus sebagai faktor yang menyuplai. Klausa “bukan lagi aku sendiri yang hidup” berarti kita sudah berakhir. Tetapi klausa berikutnya “hidup yang sekarang aku hidupi” menunjukkan bahwa kita masih terus hidup. Untuk menggambarkan pengalaman ini, kita dapat berkata, “Kristus hidup untukku.” Tetapi lebih baik mengatakan bahwa Kristus hidup di dalam kita, menjadi faktor kita hidup bersama Dia. Menurut Galatia 2:20, sepertinya ada dua persona yang hidup. Ada dua suyjek, “Kristus” dan “aku” dan kedua subyek ini bertindak dengan satu predikat — hidup. “Aku hidup” dan “Kristus hidup”.

Untuk menggambarkan satu kehidupan dengan dua hayat, Paulus menggunakan ilustrasi pengokulasian (Rm. 11:24; 6:5). Cabang yang liar telah dipotong dari pohon liar dan cabang yang liar ini pengokulasian ke pohon yang dibudidayakan, pohon yang baik. Cabang yang liar dipotong dari pohon asalnya, dan pohon yang dibudidayakan juga dipotong untuk menyediakan tempat, lalu keduanya disatukan, terjadilah pengokulasian. Sekarang keduanya menjadi satu, tetapi cabang tetaplah cabang, dan pohon tetaplah pohon. Keduanya berbeda, namun mereka hidup bersama. Cabang dan pohon itu hidup, tetapi keduanya hidup bersama sebagai satu kesatuan. Kehidupan cabang dan kehidupan pohon adalah kehidupan yang berbaur. Kehidupan mereka adalah suatu perbauran. Mengatakan bahwa cabang yang diokulasikan hidup “oleh” pohon yang dibudidayakan tidak begitu tepat. Cabang yang diokulasikan hidup “dalam” pohon yang dibudidayakan dan hidup bersama pohon itu. Jadi, pohon yang dibudidayakan hidup dan cabang yang diokulasikan hidup dalam kehidupan pohon yang dibudidayakan.

Beberapa orang dengan salah mengatakan bahwa kita, orang-orang Kristen, menempuh kehidupan yang diganti. Menurut konsepsi ini, hayat kita yang kasihan diganti dengan hayat yang baik dari Kristus. Tetapi hal ini mutlak salah. Jika hayat orang Kristen kita adalah hayat yang diganti, maka hayat kita yang kasihan akan berakhir setelah diganti dengan hayat Kristus. Walaupun Alkitab benarbenar mengatakan bahwa kita telah disalibkan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa kita masih tetap hidup (Gal. 2:20). Ketika Alkitab menyatakan bahwa kita telah disalibkan, ini berarti kita telah dipotong dari Adam, pohon yang liar. Melalui penyaliban, kita telah dipotong dari Adam, dan di dalam kebangkitan, kita telah diokulasikan ke dalam Kristus. Kita telah disalibkan, dipotong dari Adam, dan kita telah ditaruh ke dalam Kristus yang bangkit. Karena itu, kita tidak berakhir; kita tetap hidup. Namun kita tidak hidup dalam diri sendiri, kita hidup di dalam Kristus, dengan Kristus, dan karena Kristus, dengan Kristus sebagai faktor bagi kehidupan kita. Ketika Dia hidup, kita juga hidup di dalam Dia. Kita hidup di dalam hidup-Nya; jadi, hidupnya kita dan hidupnya Dia berbaur bersama sebagai satu kehidupan.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS DENGAN ROH KITA SEBAGAI PERSONA DAN JIWA KITA SEBAGAI ORGAN

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kita mempunyai manusia lama (Rm. 6:6; Ef. 4:22), juga mewahyukan bahwa kita adalah manusia baru (2 Kor. 5:17; Kol. 3:10-11; Ef. 4:24; 2:15). Sebelum diselamatkan, kita adalah manusia lama tanpa manusia baru. Tetapi setelah diselamatkan, kita menjadi manusia baru yang memiliki manusia lama. Sebelum diselamatkan, jiwa kita adalah persona, dan roh kita hanyalah organ untuk berhubungan dengan Allah dan menerima Allah. Tetapi ketika diselamatkan, kita menerima Kristus sebagai Roh pemberi-hayat ke dalam roh kita, roh kita menjadi persona yang baru, manusia baru. Manusia baru ini adalah roh kita yang telah dilahirkan kembali dengan Kristus sebagai hayatnya, Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat. Roh kita telah menjadi persona baru dan jiwa kita menjadi organ untuk melayani roh kita.

Melalui kelahiran kembali, roh kita menerima hayat ilahi yang membuatnya menjadi manusia baru. Jadi, manusia baru kita adalah roh dan jiwa kita telah menjadi organ dari manusia baru ini. Jiwa melayani roh kita dengan kemampuannya untuk berpikir, mengerti, menafsirkan, memutuskan, mengasihi, atau membenci. Semua kemampuan ini adalah untuk dipakai oleh roh guna mencapai tujuan roh. Jiwa kita tidak lagi menjadi persona kita, tetapi masih berguna sebagai organ manusia baru (roh yang dilahirkan kembali) kita.

Jika kita ingin memperhidupkan Kristus, ingin hidup karena Kristus, kita harus belajar menyangkal jiwa. Kebenaran mengenai menyangkal jiwa telah ditentang oleh beberapa orang. Ada yang mengatakan bahwa jika kita menyangkal jiwa, kita akan berakhir. Tetapi menyangkal jiwa berarti menyangkal jiwa sebagai persona, bukan menyangkalnya sebagai organ. Sebagai organ, jiwa kita — pikiran, emosi, dan tekad — sangatlah berguna. Dalam pengalaman rohani, jika kita semakin rohani, kita semakin banyak berpikir. Semakin rohani, kita semakin emosional. Sebenarnya, jika kita tidak tahu bagaimana menangis atau mencucurkan air mata, kita tidak terlalu rohani. Tetapi, kita harus memperhatikan bagaimana kita mencucurkan air mata. Jika kita mencucurkan air mata dari jiwa kita sebagai persona, itu bukan memperhidupkan Kristus.

Bertahun-tahun lamanya saya tidak mencucurkan air mata dari jiwa sebagai persona saya. Begitu saya mulai hidup dalam roh, dalam manusia baru saya, dan menggunakan jiwa sebagai organ saya, saya mulai mencucurkan air mata. Pada saat itu, saya mencucurkan air mata melalui jiwa sebagai organ saya, bukan sebagai persona. Persona yang mencucurkan air mata adalah roh saya. Hari ini pun prinsipnya tetap sama. Ketika kita mengasihi seseorang dengan jiwa kita sebagai persona, itu salah. Memang itu adalah kasih, tetapi berasal dari manusia lama dan masih berhubungan dengan daging. Mengasihi dengan jiwa sebagai persona itu salah, mengasihi dengan roh sebagai persona dan menggunakan jiwa sebagai organ barulah benar. Tidaklah mungkin mengasihi seseorang tanpa jiwa kita. Dengan tegas saya katakan bahwa roh kita tidak memiliki kemampuan untuk mengasihi. Agar dapat mengasihi, kita harus mempunyai organ untuk mengasihi. Organ untuk mengasihi adalah emosi kita, bagian dari jiwa.

Roh kita sendiri tidak dapat menangis atau mencucurkan air mata. Dalam kitab Injil, Tuhan Yesus menangis (Yoh. 11:35; Luk. 19:41). Ia menangis dari roh-Nya sebagai persona-Nya dan jiwa sebagai organ-Nya. Ia mengasihi tidak dengan jiwa sebagai persona-Nya; sebaliknya, Ia mengasihi dengan roh sebagai persona dan dengan jiwa sebagai organ-Nya. Hari ini, sebagai orang-orang Kristen, kita sama dengan Tuhan Yesus. Dalam hidup kristiani kita, jiwa kita harus ditolak sebagai persona, tetapi jiwa kita masih sangat berguna sebagai organ. Ketika jiwa bangkit menjadi persona, kita harus memberi tahu jiwa, “Jiwa yang terkasih, kamu memang personaku di masa lampau, tetapi hari ini tidak lagi. Hari ini kamu adalah organku dalam kebangkitan, personaku adalah rohku yang telah dilahirkan kembali dengan Tuhan Yesus sebagai hayatnya. Roh ini adalah manusia baru dan manusia baru ini adalah personaku. Sekarang, kamu, jiwa yang terkasih, hanyalah organku. Diamlah dan jangan mengusulkan apa pun kepadaku. Ketika aku mengasihi atau berpikir, kamu harus menjadi organku untuk mengasihi dan berpikir.”

Pada saat-saat saya secara pribadi datang kepada Tuhan, pengakuan dosa saya sebagian besar adalah karena hidup dengan jiwa sebagai persona saya. Sering kali saya lupa bahwa jiwa bukanlah persona, dan saya mendengarkannya. Jiwa saya mengatakan kepada saya untuk mengasihi, maka saya mengasihi. Saya memperhidupkan manusia lama dari dalam saya bukan untuk melakukan hal-hal yang buruk, tetapi untuk melakukan hal-hal yang baik. Hanya melakukan hal-hal yang baik saja, tidak berarti memperhidupkan Kristus; itu bukan berasal dari pohon hayat. Hal-hal baik maupun hal-hal jahat berasal dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Hanya ketika memperhidupkan Kristus dari dalam roh kita, barulah kita memperhidupkan pohon hayat. Setiap hari kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita telah memperhidupkan Kristus atau hanya bertingkah laku tepat. Sering kali saya mengaku dosa kepada Tuhan dengan berkata, “Tuhan, ampuni aku. Aku masih belum berhasil memperhidupkan Engkau. Aku mungkin memperhidupkan Engkau hanya seperempat hari. Selebihnya, aku memperhidupkan manusia lama dengan melakukan hal-hal yang baik. Paulus dapat berkata, ‘Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,’ tetapi aku tidak dapat berkata demikian. Tuhan, ampunilah aku.”

TANYA JAWAB

Tanya: Ketika kita belum beroleh selamat, kita memperhidupkan manusia lama. Sekarang, setelah beroleh selamat, kita memperhidupkan manusia baru. Dengan demikian, kelihatannya manusia lama kita telah berakhir. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa manusia lama kita, jiwa, tetap tinggal sebagai organ? Roma 6 dan 7 mewahyukan bahwa manusia lama kita tidak hanya tersalib bersama Kristus, tetapi juga terkubur bersama-Nya. Bagaimana mungkin jiwa kita, manusia lama kita, datang kembali untuk menjadi organ manusia baru kita?

Jawab: Kita tidak seharusnya melupakan bahwa Roma 6 tidak berhenti pada penguburan, tetapi terus berlanjut sampai kepada kebangkitan (ayat 4-5). Manusia yang tersalib, sudah dikubur dan dibangkitkan. Kemampuan alamiah jiwa kita telah disalibkan dan dikubur, tetapi mereka juga telah dibangkitkan. Sekarang, kita memiliki kemampuan jiwa dalam kebangkitan. Jiwa sebagai organ manusia baru, yaitu roh, tidak berada dalam keadaan alamiahnya, melainkan berada dalam keadaan yang telah dibangkitkan. Manusia alamiah kita, keberadaan alamiah kita, telah ditinggikan dalam kebangkitan Kristus. Keinsanian kita telah disalibkan, dikuburkan, dan ditinggikan melalui kebangkitan Kristus.

Tanya: Bukankah kita telah disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan, lalu apa sebenarnya yang telah dibangkitkan dari diri kita?

Jawab: Sebelum beroleh selamat, pikiran kita sangat tumpul dan bodoh; emosi kita tidak teratur dan tidak terkendali; dan tekad kita sangat keras juga sangat lemah. Tetapi, setelah kita menerima Kristus, Ia tidak hanya melahirkan roh kita kembali, tetapi Dia juga meninggikan pikiran, emosi, dan tekad kita melalui kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya segera meninggikan kemampuan alamiah jiwa kita. Karena kita adalah manusia yang telah beroleh selamat, maka pikiran, emosi, dan tekad kita pasti berbeda dengan yang dulu.

Karena kita telah diokulasikan ke dalam Kristus, maka kita bertumbuh bersama Kristus dan kemampuan jiwa kita terus ditinggikan dan diperkaya. Roma 6:5 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Sebab jika kita telah bertumbuh bersama Dia dalam apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan bertumbuh bersama Dia dalam apa yang sama dengan kebangkitan-Nya — Tl.). “Telah bertumbuh bersama Dia” ini menyatakan kesatuan organik yang di dalamnya terjadi pertumbuhan, sehingga yang satu berbagian dalam hayat dan ciri khas yang lain. Inilah pengokulasian (Rm. 11:24). Pengokulasian ini bisa: 1) menyingkirkan semua unsur negatif kita; 2) membangkitkan daya guna diri kita yang diciptakan oleh Allah; 3) meninggikan daya guna kita; 4) memperkaya daya guna kita; dan 5) menjenuhi seluruh diri kita untuk mengubah kita” (Rm. 6:5, catatan 1 - Versi Pemulihan. Lihat juga Rm. 6:5, catatan 2).

Tanya: Selama ini saya mempunyai konsepsi bahwa hayat jiwa dan daya guna jiwa adalah dua hal yang berbeda. Hayat jiwa (life of the soul) harus disangkal, tetapi daya guna jiwa, termasuk pikiran, emosi, dan tekad, perlu dijaga. Apakah ini pengertian yang tepat?

Jawab: Hayat jiwa adalah persona, sedangkan daya guna jiwa adalah jiwa sebagai organ. Jiwa adalah organ, dan daya guna jiwa adalah daya guna organ ini. Karena itu, lebih baik mengatakan bahwa kita memiliki persona jiwa dan organ jiwa.

Tanya: Roh kita mengandung Roh Kristus, yaitu persona yang memiliki pikiran, emosi, dan tekad. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita tidak memiliki daya guna ini dalam roh kita?

Jawab: Hari ini roh kita adalah manusia baru, dan di dalam manusia baru ini, di dalam roh ini, kita memiliki Kristus sebagai hayat. Kristus memang memiliki daya guna untuk mengasihi, berpikir, dan memutuskan. Tetapi daya guna Kristus adalah daya guna rohani, yaitu daya guna Allah. Daya guna-daya guna ilahi Kristus ini hanya dapat dinyatakan secara tidak langsung melalui daya guna-daya guna kita. Daya guna pemikiran Kristus tidak pernah diekspresikan secara langsung oleh pemikiran itu sendiri. Ia selalu diekspresikan melalui pikiran kita (1 Kor. 2:16).

Adam diciptakan menurut gambar Allah. Banyak pengajar Alkitab mendefinisikan gambar Allah sebagai daya guna Allah untuk mengasihi, membenci, dan berpikir. Allah mengasihi, jadi kita mengasihi; Allah membenci, jadi kita membenci; Allah penuh pemikiran, jadi kita juga penuh pemikiran. Kita memiliki gambar Allah, tetapi gambar ini tetap kosong tanpa isi sampai kita menerima Allah. Jika tanpa Allah, kita melatih pikiran kita dengan cara yang kosong tanpa Allah sebagai isi dalam pikiran kita. Tetapi ketika kita menerima Allah, Allah menjadi isi kita. Pemikiran Allah menjadi isi pikiran kita, dan kasih-Nya menjadi isi emosi kita. Sarung tangan adalah ilustrasi yang baik untuk hal ini. Sarung tangan memiliki lima jari, tetapi jari-jari ini hanya memiliki bentuk gambar jari, bukan realitas jari. Ketika tangan memasuki sarung tangan ini, jarijari tangan menjadi isi jari-jari sarung tangan. Pikiran, emosi, dan tekad kita adalah jari-jari sarung tangan. Ketika Kristus masuk ke dalam kita beserta pikiran, emosi, dan tekad-Nya, daya guna-Nya menjadi isi dari pikiran, emosi, dan tekad manusia kita.

Tidak banyak orang Kristen yang mengerti rincian hayat rohani ini, tetapi kita perlu visi mengenai rincian ini sehingga kita dapat menjadi orang yang memperhidupkan Kristus.