← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 10/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (5)

Pembacaan Alkitab:

Ibr. 4:12-16

Roma 8 mewahyukan Allah Tritunggal yang telah melalui proses menyalurkan diri-Nya dalam trinitas ilahi-Nya ke dalam manusia tripartit. Pertama, Kristus masuk ke dalam roh kita untuk membuat roh kita menjadi hayat (ayat 10). Kemudian dari roh, Ia menyebar ke pikiran untuk membuat pikiran kita menjadi hayat (ayat 6). Ketiga, Allah Tritunggal yang telah melalui proses rampung sempurna sebagai Roh, berhuni di dalam kita, membuat tubuh kita yang fana menjadi hayat (ayat 11). Tujuan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam ketiga bagian diri kita. Pusat diri kita adalah roh kita. Roh kita, yang sebelumnya mati (Ef. 2:5; Kol. 2:13) telah dilahirkan kembali dan dihidupkan, bahkan menjadi hayat. Dia yang berhuni di dalam, Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, menyebar dari roh ke pikiran kita, dan melalui pikiran mencapai tubuh kita yang fana.

Ibrani 4 meliputi penerapan dari wahyu dalam Roma 8. Menurut pengalaman hayat kita, Roma 8 dan Ibrani 4 membicarakan perkara yang sama. Roma 8 ditulis dari sudut pandang roh kita, sedangkan Ibrani 4 ditulis dari sudut pandang surga. Dengan menjajarkan kedua ujung ini, kita akan mempunyai gambaran yang jelas mengenai wahyu ilahi. Hubungan antara roh kita pada satu sisi dengan surga pada sisi yang lain dapat dibandingkan dengan mimpi Yakub di Betel (Kej. 28:10-19). “Betel” berarti rumah Allah. Kejadian 28:12 mengatakan, “Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.” Kita dapat melihat tangga antara bumi dan surga sekali lagi dalam Yohanes 1:51. Tuhan Yesus berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.”

PEMISAHAN JIWA DENGAN ROH

Ibrani 4:12 mengatakan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai (membedakan) pikiran dan niat hati kita.” Untuk menerapkan wahyu dalam Roma 8, jiwa kita harus dipisahkan dari roh. Kita harus mengenal perbedaan antara jiwa dengan roh. Cara agar mempunyai daya pembeda tersebut adalah melalui firman. Setelah membaca bagian Alkitab di pagi hari, di dalam kita terjadi pemisahan jiwa dengan roh, bahkan tanpa kita sadari. Walaupun apa yang kita baca tidak menyebutkan jiwa dengan roh, kita merasakan bahwa sesuatu di dalam kita adalah jiwani, berasal dari diri kita, bukan dari Kristus. Orang-orang yang mengasihi Tuhan dan mengasihi firman-Nya mungkin tidak mengenal ajaran yang tepat mengenai pemisahan jiwa dengan roh. Tetapi hanya dengan membaca firman, jiwa mereka pun terpisah dari roh.

Ketika Paulus menulis Kitab Ibrani, banyak orang beriman Ibrani hidup di antara ajaran Yahudi dan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Mereka bimbang dan berputar-putar dalam pikiran. Dalam Ibrani 4 Paulus menunjukkan kepada kaum beriman bagaimana jiwa mereka dapat terpisah dari roh melalui membaca dan mengerti firman. Dengan menerima firman, mereka dapat melihat bahwa mereka harus meninggalkan ajaran Yahudi dan mengikuti roh, bukan mengikuti jiwa mereka.

Ayat 13 mengatakan, “Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban.” Dalam perkumpulan masyarakat hari ini, segala sesuatu campur aduk, tetapi di hadapan Allah tidak ada yang campur aduk, segala sesuatu jelas dan terpisah. Ketika datang ke dalam gereja, kita mulai dipisahkan. Kita belajar mengenal perbedaan antara jiwa dengan roh, dan kita belajar untuk membedakan pikiran dan niat hati kita. Jika kita belajar membedakan, maka atas diri kita tidak ada lagi yang campur aduk; segala sesuatu akan menjadi jelas. Ketika mengatakan perkataan yang salah kepada istri, kita segera tahu bahwa perkataan kita berasal dari jiwa. Kadang kala setelah membaca firman, suami datang kepada istrinya dan berkata, “Maafkan aku. Aku demikian memperlakukanmu adalah terlalu berada di dalam diri sendiri.” Sebaliknya, jika tidak mengasihi Tuhan dan jauh dari-Nya, kita tidak akan mampu mengenali sumber perkataan kita.

Firman Allah itu hidup dan berkhasiat. Begitu firman Allah beroperasi di dalam kita, ia bahkan mempunyai cara untuk menyembuhkan tubuh. Amsal 4:20-22 mengatakan, “Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” Firman adalah obat bahkan bagi tubuh jasmani kita. Banyak pengasih Tuhan dapat bersaksi bahwa semakin mereka membaca firman, mereka semakin sehat. Jika mungkin, berpuasa satu kali seminggu adalah suatu latihan yang sehat bagi kita. Pada saat itu, kita bukan makan makanan jasmani, kita makan firman Allah (Yer. 15:16). Ketika berpuasa, kita harus menyerahkan diri kita kepada firman Allah. Firman Allah akan membuat kita sehat, karena firman Allah itu hidup dan berkhasiat.

IMAM BESAR AGUNG

Ayat 14 mengatakan, “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita berpegang teguh pada pengakuan iman kita.” Dalam Roma 8, Dia yang berhuni di dalam kita adalah Kristus. Dalam Ibrani 4, Dia yang mendekati Allah adalah Imam Besar. Pada sisi kita, Ia adalah Kristus yang datang kepada kita dari Allah; pada sisi Allah, Ia adalah Imam Besar yang pergi kepada Allah bagi kita. Ketika naik ke surga, Ia adalah Imam Besar, dan ketika turun dari surga, Ia adalah Kristus. Setelah kebangkitan-Nya, Ia naik ke surga. Bagi murid-murid, kelihatannya Ia meninggalkan mereka. Tetapi, kepergian-Nya adalah kedatangan-Nya bagi mereka (Yoh. 16:5-7). Kepergian-Nya adalah bagi kedatangan-Nya.

Malaikat-malaikat dalam mimpi Yakub, bukan turun dulu kemudian baru naik. Pertama-tama mereka naik (Kej. 28:12), naik dari bumi menuju Allah. Setelah kebangkitan-Nya, Kristus tidak datang secara langsung untuk berhuni di dalam murid-murid-Nya. Pada pagi hari setelah kebangkitan, Yesus memberi tahu Maria, “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh. 20:17). Kemudian pada malam harinya, Yesus datang kepada murid-murid-Nya dan menghembuskan Roh ke dalam mereka (ayat 22). Inilah kedatangan-Nya untuk masuk ke dalam mereka. Kepergian-Nya terjadi di pagi hari, dan kedatangan-Nya terjadi pada malam hari. Mula-mula, Ia pergi ke surga untuk mempersembahkan diri-Nya kepada Allah dalam kesegaran kebangkitan-Nya demi memuaskan Bapa. Kemudian Ia datang kepada murid-murid untuk masuk ke dalam mereka menjadi hayat dan segala sesuatu mereka bagi kepuasan mereka.

DATANG KE TAKHTA ANUGERAH

Menurut lambang Perjanjian Lama, Imam Besar melayani dalam ruang maha kudus. Di dalam ruang maha kudus ada tabut kesaksian, dan di atas tabut kesaksian ada tutup pendamaian atau takhta rahmat (Kel. 25:17, 21), yang di atasnya telah dipercikkan darah pendamaian. Takhta ini melambangkan takhta Allah yang adalah takhta kekuasaan bagi seluruh alam semesta (Dan. 7:9; Why. 5:1) dan takhta anugerah bagi kita, kaum beriman (Ibr. 4:16). Di samping itu, takhta ini juga adalah takhta Allah dan Anak Domba, Kristus (Why. 22:1). Allah dan Anak Domba duduk di atas satu takhta secara saling huni, dua namun satu.

Hari ini takhta Allah berada di dalam roh kita juga berada di surga. Ini dapat digambarkan dengan listrik. Listrik ada pada sumber pembangkit tenaga listrik juga ada dalam rumah kita pada saat yang bersamaan. Kristus ada di dalam surga juga ada di dalam roh kita, dan di mana ada Kristus, di situ ada takhta Allah. Seperti listrik yang menghubungkan sumber pembangkit tenaga listrik dengan rumah kita, demikian juga dengan Kristus, Dia ada di dalam surga juga ada di dalam kita, menghubungkan kita dengan surga dan membawa surga turun kepada kita, menyatukan kita dengan surga. Hari ini, kita ada di dalam surga, dan surga ada di dalam roh kita.

Ibrani 4:16, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Cara untuk datang dengan penuh keberanian kepada takhta anugerah adalah kembali ke dalam roh kita. Untuk kembali ke dalam roh, kita tidak perlu berdoa terlalu banyak. Ketika kita berkata, “O, Tuhan,” kita mempunyai perasaan bahwa takhta anugerah ada di dalam kita. Hari ini, di dalam roh kita ada surga, takhta kekuasaan, dan takhta anugerah beserta Allah dan Anak Domba. Ketika kita menyeru nama Tuhan, kita berada di dalam roh kita, dan roh kita berada di dalam surga bersama takhta kekuasaan, takhta anugerah, dan Allah yang saling huni duduk di atas takhta. Inilah cara menerapkan Roma 8.

Setiap hari kita harus senantiasa datang dengan penuh keberanian ke takhta anugerah. Inilah pengalaman hayat yang sejati. Kapan kala saya mau berbicara di dalam sidang, bagaimanapun sibuknya saya, saya akan meluangkan waktu lima menit bersama Tuhan. Ketika menyeru nama Tuhan, saya berada di dalam roh, dan saya bertemu dengan Kristus di atas takhta anugerah. Dengan demikian saya menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya. Kemudian saya dapat berbicara bersama surga dan bersama takhta anugerah serta Allah yang saling huni yang ada di atas takhta. Berbicara seperti ini adalah berbicara di dalam kenikmatan. Semakin berbicara seperti ini, kita semakin menikmati surga, takhta anugerah, dan Allah yang saling huni.

Setelah melihat wahyu dalam Roma 8, kita perlu datang kepada Ibrani 4. Mula-mula, kita harus membedakan jiwa kita dari roh kita. Kemudian kita perlu mengalami Kristus yang berhuni di dalam dan Imam Besar yang pergi kepada Allah bagi kita. Demikian, kita akan menerima rahmat dan menemukan anugerah.