PENGALAMAN HAYAT (6)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 1:20-21; 2:5-16; 3:12, 14; 4:10, 12-13
MENGALAMI KRISTUS
Perjanjian Baru mewahyukan Kristus, dan setiap kitab dalam Perjanjian Baru adalah untuk mengalami Kristus. Mengalami Kristus adalah kunci yang membuka setiap kitab dalam Perjanjian Baru. Dalam berita ini kita akan membahas pengalaman akan Kristus dalam Kitab Filipi.
PERLUASAN INJIL ADALAH FAKTOR
UNTUK MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Pengalaman akan Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Filipi meliputi beberapa hal. Dalam pasal 1 Kristus adalah hayat dan kehidupan kita. Menerima Kristus sebagai hayat kita di dalam dan kehidupan kita di luar berarti memperhidupkan Kristus dari dalam kita (ayat 21a). Pasal ini juga mewahyukan bahwa alasan kita untuk memperhidupkan Kristus dari dalam kita, menerima Kristus sebagai hayat dan kehidupan kita, adalah untuk meluaskan Injil (ayat 5, 12). Pengalaman akan Kristus sebagai hayat dan kehidupan kita menghasilkan perluasan Injil. Semakin kita mempunyai persekutuan dalam Injil, dalam koordinasi dengan rasul, kita semakin memperhidupkan Kristus dari dalam kita. Faktor untuk memperhidupkan Kristus dari dalam kita adalah perluasan Injil yang dilaksanakan secara korporat.
Ada orang memisahkan pemberitaan Injil dari pengalaman akan Kristus. Itu adalah konsepsi yang salah. Pengalaman kita akan Kristus, kehidupan kita yang memperhidupkan Kristus, adalah faktor perluasan Injil. Tanpa faktor yang demikian, perkataan kita tentang memperhidupkan Kristus adalah sia-sia. Paulus dan orang-orang Filipi memperhidupkan Kristus, menerima Kristus sebagai hayat mereka di dalam dan menerima Kristus sebagai kehidupan mereka di luar, karena mereka semua berada di dalam persekutuan korporat dari Injil. Rasul sangat berbeban bagi perluasan Injil, dan orang-orang Filipi berkoordinasi dengannya. Paulus dan orang-orang Filipi bersukacita dalam perluasan Injil, dan mereka semua menikmati Kristus sebagai hayat mereka di dalam dan menikmati Kristus sebagai kehidupan mereka yang di luar. Filipi 1 tidak hanya mewahyukan faktor, tetapi juga hasil. Faktornya adalah perluasan Injil bersama rasul, dan hasilnya adalah kenikmatan atas Kristus, pengalaman atas Kristus, baik sebagai hayat kita di dalam maupun sebagai kehidupan kita di luar. Ketika Anda pergi memberitakan Injil, Anda menikmati Kristus bukan secara doktrinal, tetapi secara pengalaman.
Ada orang berkata bahwa kita tidak seharusnya melakukan begitu banyak kegiatan, tetapi kita harus belajar menikmati Kristus dengan menghadiri sidang-sidang, berusaha sedapat mungkin meningkatkan mutu sidangsidang sehingga orang lain dapat menikmati Kristus. Tetapi tanpa faktor perluasan Injil, kita tidak dapat menikmati Kristus sebanyak itu. Ada orang juga berkata bahwa kita harus kembali kepada kenikmatan atas Kristus, hal ini menyiratkan bahwa memberitakan Injil bukan menikmati Kristus. Kenikmatan kita atas Kristus harus mempunyai faktor, dan juga harus mempunyai hasil. Perluasan Injil adalah faktor dari kenikmatan kita atas Kristus. Selain itu, semakin kita menikmati Kristus, kita semakin ada bagian dalam perluasan Injil. Jadi, perluasan Injil juga adalah hasil dari kenikmatan kita atas Kristus.
Kenikmatan atas Kristus akan menyebabkan Anda mengunjungi orang-orang di rumah-rumah mereka untuk memberitakan Injil. Kenikmatan atas Kristus tidak akan membuat Anda mengantuk, sebaliknya akan membangkitkan Anda. Ketika kita menikmati Kristus sampai pada puncaknya, kita tidak akan tahan. Semakin kita menikmati Kristus, kita akan semakin aktif. Ketika kita menikmati Kristus, kita tidak akan bisa tenang atau diam.
Paulus menikmati Kristus sampai pada suatu tahap sehingga ia dapat mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). “Keuntungan” di sini adalah kehadiran Kristus. Hidup adalah Kristus, dan mati adalah menikmati kehadiran Kristus. Paulus boleh jadi berkata, “Aku rasa, aku lebih baik mati, karena mati berarti tinggal bersama Tuhan. Di bumi tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan aku lagi; tetapi jika aku mati, aku akan bersama Kristus. Ini jauh lebih baik bagiku, tetapi demi kalian, orang-orang Filipi, aku memilih untuk tetap di sini, guna memperhidupkan Kristus, menyalurkan Kristus, dan mempersekutukan Kristus dengan kalian.”
Saya tidak berani membandingkan diri saya dengan Rasul Paulus, tetapi dalam pengalaman saya, saya mempunyai perasaan yang sama seperti yang diekspresikan dalam Filipi 1:21-24. Sebagai seorang yang telah tua, saya telah mempunyai banyak pengalaman di bumi. Saya kehilangan cita rasa saya terhadap segala sesuatu yang ada di bumi kecuali Kristus. Orang muda sangat mudah tertarik oleh perkara-perkara lain. Tetapi, sebagai seorang yang telah tua, tanpa Tuhan Yesus, saya akan kehilangan selera untuk hidup. Ini dikarenakan tidak ada yang baik di bumi. Satu-satunya kesenangan, cita rasa, dan kenikmatan yang saya miliki pada saat tinggal di bumi adalah membantu orang-orang berdosa menerima Kristus, membantu Anda semua menikmati Kristus semakin banyak, dan membantu gereja terbangun secara organik sebagai Tubuh Kristus yang hidup. Inilah yang benar-benar saya nikmati.
Selama lima minggu terakhir dari pelatihan ini, saya sibuk bekerja sampai larut malam. Tetapi, saya dapat tidur dengan nyenyak setiap malam. Sering kali, Iblis menyerang dari berbagai arah, tetapi Tuhan memberi saya pelajaran agar tidak terjamah atau tergerak oleh apa pun yang terjadi. Saya dapat bersaksi bahwa tidak ada sesuatu apa pun di bumi ini yang dapat mengecewakan orang yang menikmati Kristus. Inilah pengalaman Paulus. Paulus menulis surat kepada orang-orang Filipi dari penjara di Roma saat ia sedang menghadapi mati martir. Ia tahu bahwa ia akan dibunuh, tetapi ia tidak bingung atau sedih; sebaliknya, ia mengharapkan Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhnya baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Ia berkata demikian pada saat tubuhnya dalam keadaan terbelenggu. Perhatiannya bukan ditujukan kepada belenggunya, tetapi kepada orang-orang Filipi, agar kenikmatan mereka atas Kristus dapat ditingkatkan. Ketika ada pemberian dari orang-orang Filipi untuknya (4:10-17), ia sangat senang, karena itu menunjukkan bahwa perhatian mereka terhadap perluasan Injil yang sebelumnya telah terbengkalai kini berkembang lagi. Pengalaman mereka atas Kristus membuatnya sangat senang.
KRISTUS ADALAH TELADAN DAN EKSPRESI KITA
Subyek dari pasal 2 adalah menerima Kristus sebagai teladan (Flp. 2:5-11) dan mengalami Kristus sebagai ekspresi kita (Flp. 2:12-16). Ketika kita menerima Dia sebagai teladan, secara spontan kita akan mengekspresikan teladan tersebut.
KRISTUS ADALAH SASARAN DAN PENUNTUTAN KITA
Dalam pasal 1, Kristus adalah hayat dan kehidupan kita, dalam pasal 2, Kristus adalah teladan dan ekspresi kita, dan dalam pasal 3, Kristus adalah sasaran dan penuntutan, pencarian kita (ayat 12, 14). Kita semua harus mempunyai sasaran, dan sasaran kita haruslah Kristus. Ia adalah yang kita cari, yang kita kejar. Dari hari ke hari, kita mencari Kristus. Ia bukan hanya tujuan kita, tetapi juga sasaran kita. Kadang kala kita mencapai tujuan tertentu tetapi kehilangan sasaran. Pada saat menembakkan senapan, peluru dapat mencapai target, tetapi mungkin tidak mengenai pusat target tersebut. Kita harus berlari tidak hanya untuk mencapai tujuan, tetapi juga untuk mendapatkan sasaran.
KRISTUS ADALAH KEKUATAN DAN RAHASIA KITA
Dalam pasal 4, Kristus adalah kekuatan kita (ayat 13) dan rahasia kita (ayat 12). Paulus mengatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ayat 13). Untuk melakukan segala sesuatu, kita perlu kekuatan, selain itu kita juga perlu mengetahui rahasia atau kiatnya, cara untuk menyelesaikan tugas tersebut. Anda mungkin mempunyai banyak kekuatan, tetapi jika tidak tahu rahasia atau kiatnya, Anda akan menghamburkan kekuatan Anda. Bahkan mengatur tanaman di dalam rumah atau menggantung foto di dinding, juga ada caranya, kiatnya untuk melakukannya. Kristus bukan hanya kekuatan kita sehingga kita mampu melakukan sesuatu, Ia juga adalah rahasia atau kiat kita. Rahasia atau kiatnya tidaklah kaku atau formal, melainkan sangat fleksibel. Ia selalu fleksibel dan tersedia untuk diterapkan setiap waktu dan di segala tempat.
MENGALAMI KRISTUS MELALUI SUPLAI YANG SERBA LENGKAP
DARI ROH YESUS KRISTUS
Sebagai orang Kristen, kita harus menikmati Kristus sebagai hayat kita, kehidupan kita, teladan kita, ekspresi kita, sasaran kita, tuntutan kita, kekuatan kita, dan rahasia (kiat) kita. Cara kita menikmati dan mengalami Kristus sebagai semua butir-butir ini adalah melalui suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19). Roh itu dalam ayat ini disebut Roh Yesus Kristus. Roh ini adalah Roh yang telah rampung sempurna. Dalam kekekalan yang lampau, Allah Tritunggal belum melewati proses apa pun. Tetapi dalam waktu, Allah Tritunggal melewati proses inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan. Setelah seluruh proses itu, Ia menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b), yakni Roh yang telah rampung sempurna. Roh yang telah rampung sempurna ini adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Sekarang, setelah seluruh proses tersebut, Allah tidak lagi “mentah”. Ia telah melalui proses, telah “masak”. Allah Tritunggal yang telah “masak” ini adalah Roh itu, yaitu Allah Tritunggal yang telah rampung sempurna.
Setelah kebangkitan-Nya dan sebelum keterangkatan-Nya, Tuhan Yesus kembali kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Dalam seluruh Alkitab, di sinilah Allah Tritunggal disebutkan secara lengkap dan sempurna untuk kali pertama. Saat itu, setelah kebangkitan, Allah Tritunggal telah rampung sempurna. Dalam kekekalan yang lampau, Ia adalah Allah Tritunggal, sempurna selamanya, tetapi tidak lengkap. Ia tidak mempunyai sifat insani dan pengalaman kehidupan insani, Ia belum mati dan bangkit. Melalui inkarnasi, Ia mengenakan sifat insani; dengan demikian, keinsanian ditambahkan kepada keilahian-Nya. Kemudian Ia menempuh kehidupan insani. Ini sungguh ajaib, tetapi Ia masih belum mengalami kematian. Ia masuk ke dalam kematian dan menempuh kematian yang almuhit, menyelesaikan seluruh masalah negatif dalam alam semesta. Mulai saat itu, unsur kematian ada pada-Nya. Kematian dalam Adam adalah buruk, tetapi kematian yang dirampungkan oleh Kristus sangat akrab, mustika, manis, dan penuh kasih. Sekarang, kematian yang manis ini ada pada Allah Tritunggal.
Setelah kebangkitan-Nya, Ia datang kembali kepada murid-murid-Nya dan menghembusi mereka dengan Roh yang telah rampung sempurna (Yoh. 20:22). Roh ini bukan hanya Roh Allah, tetapi juga Roh Yesus (Kis. 16:7), dan Roh Kristus (Rm. 8:9). Roh ini adalah Roh yang sudah rampung sempurna, Roh almuhit, adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang sudah melewati proses. Roh yang demikian ini sekarang ada di dalam kita. Allah Tritunggal — Bapa, Putra dan Roh itu — sekarang ada di dalam kita (Ef. 4:6; 2 Kor. 13:5; Rm. 8:11). Jika kita mau menikmati Kristus dan mengalami Kristus, tidak ada jalan lain kecuali melalui Roh yang almuhit sebagai suplai yang serba lengkap.
Paulus mengatakan bahwa Roh Yesus Kristus telah menjadi keselamatannya (Flp. 1:19). Roh itu menyelamatkan dia dari apa? Roh itu tidak menyelamatkan dia dari rantai atau belenggunya, melainkan menyelamatkan dia dari kelemahan, sehingga ia dapat memperbesar Kristus. Oleh Roh ini, Paulus di dalam penjaranya dapat memperbesar Kristus tanpa dikalahkan. Inilah keselamatan tingkat paling tinggi. Jika kita dibawa oleh para penganiaya dan diperlakukan dengan mengerikan, kita mungkin berdoa, “Tuhan, selamatkan aku dari mati martir.” Doa semacam ini menunjukkan bahwa kita sudah kalah. Sebaliknya, kita harus berdoa, “Tuhan, suplailah aku dengan suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus, sehingga aku dapat menang atas mati martir.” Inilah keselamatan tingkat paling tinggi.
Ketika saya masih seorang Kristen muda, teman-teman dan sanak keluarga saya yang tidak mengasihi Tuhan kadang kala berdebat dengan saya, mereka berkata, “Lihatlah betapa Rasul Paulus mengasihi Kristus, tetapi apakah Kristus menyelamatkan dia dari penjara Roma? Apakah Kristus menyelamatkan dia dari mati martir? Kamu seharusnya tidak percaya kepada-Nya atau mengasihi Dia karena Ia tidak dapat dilihat, dan Ia tidak dapat melakukan apa pun bagimu. Yesus Kristus tidak melakukan apa-apa bagi Rasul Paulus, sehingga ia mati martir. Di manakah keselamatanmu?” Keselamatan ini mungkin tidak melepaskan kita dari mati martir; namun memberi kita kemenangan dalam mati martir.
Pada tahun 1930 saat Komunis tersebar di China, mereka menangkap dan membunuh dua orang misionaris. Salah seorang di antara orang-orang komunis itu berkata bahwa wajah orang yang mati martir seperti wajah malaikat dan hatinya seperti hati singa. Misionaris itu mengalami keselamatan sampai pada puncaknya. Rasul Paulus juga menikmati Kristus bahkan saat menghadapi mati martir melalui suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus. Paulus mungkin berdoa, “Tuhan, terima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memilih aku, memberi amanat kepadaku, dan mengutus aku. Kaisar tidak membawaku ke sini, tetapi Engkaulah yang membawaku ke sini. Tuhan, aku rela dan siap untuk mati martir. Betapa mulianya kalau aku dapat mati bagi-Mu.” Roh Yesus Kristus menjadi keselamatan puncak Paulus.
Kita mungkin menghadapi berbagai macam keadaan dalam hidup pernikahan kita, dalam pekerjaan, dan dalam hubungan kita dengan saudara saudari lain. Keadaan-keadaan itu mungkin menyebabkan kita dikalahkan. Jalan satu-satunya untuk tidak dikalahkan adalah melalui suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus.
Anda mungkin tidak mempuyai pekerjaan. Jika Anda berdoa untuk mendapatkan pekerjaan dan Tuhan memberi Anda pekerjaan, Anda mungkin gembira dan mengatakan bahwa hal itu adalah keselamatan Anda. Sesungguhnya, itu bukan keselamatan. Sebaliknya, seandainya Anda kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan pekerjaan lain, terpaksa harus menunggu dua atau tiga bulan. Jika Anda mempunyai kekuatan untuk mengalahkan penderitaan karena kehilangan pekerjaan demi memperhidupkan dan memperbesar Kristus melalui suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus, ini baru keselamatan yang paling puncak.
Walaupun istilah “Roh itu” singkat dan sederhana, ia mengacu kepada sesuatu yang almuhit. Roh itu adalah rahasia kemenangan kita. Dalam hidup manusia, satu hal yang paling sulit dilakukan adalah mengampuni orang. Mengingat kesalahan orang itu mudah, tetapi mengampuni kesalahan orang sangat sukar. Mengampuni berarti melupakan. Mengampuni kesalahan orang sampai pada suatu taraf hingga Anda lupa akan kesalahannya, memerlukan suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus.
Berdasarkan Roh ini, Anda menerima Kristus sebagai hayat Anda untuk kehidupan Anda. Berdasarkan Roh ini Anda menerima Kristus sebagai teladan Anda untuk ekspresi Anda. Berdasarkan Roh ini Anda menerima Kristus sebagai sasaran dan tuntutan Anda di dalam pencarian. Berdasarkan Roh ini Anda benar-benar mampu melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang menguatkan Anda, dan inilah rahasia (kiat) Anda.