← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 12/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (6)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 3:7-10

Filipi 3:7-9 mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada (ditemukan) dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Ditemukan dalam Kristus adalah perkara yang besar. Kita ada di dalam Kristus, tetapi mungkin saja orang tidak menemukan kita di dalam Dia. Ada berjuta-juta orang Kristen di Amerika Serikat, tetapi sering kali kita tidak mampu mengenali mereka karena tidak banyak yang memperhidupkan Kristus dari dalam mereka. Pertama-tama Paulus ingin mendapatkan Kristus dan kemudian ditemukan di dalam Kristus oleh orang lain. Pada saat Paulus menulis surat ini kepada orang-orang Filipi, dia ada di dalam penjara Roma. Dia berharap untuk ditemukan oleh teman sepenjaranya dan bahkan oleh anggota keluarga kaisar (4:22) sebagai orang yang berada di dalam Kristus.

MENGENAL KRISTUS DALAM PENGALAMAN

Ayat 10 melanjutkan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia . . .” Kemuliaan pengenalan akan Kristus (ayat 8) yang dimiliki Paulus adalah berdasar pada dan berdasarkan wahyu yang dia terima. Sebelum dia diselamatkan, Paulus buta secara rohani. Dia bergairah dan menggebugebu bagi Allah yang disembah oleh nenek moyangnya. Tetapi dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan menjumpai dia (Kis. 9:1-9). Pada saat itu, dia menerima wahyu langsung dari Tuhan (Gal. 1:15-16) mengenai Kristus yang ajaib, perwujudan Allah yang disembah oleh nenek moyangnya. Pengenalan Paulus akan Kristus dari wahyu tersebut menghasilkan kemuliaan pengenalan akan Kristus. Namun, setelah menerima kemuliaan pengenalan dari wahyu, dia masih menuntut pengenalan lebih lanjut, yaitu pengenalan bukan dari wahyu, tetapi dari pengalaman.

“Mengenal” di sini dalam bahasa aslinya adalah kata kerja infinitif, menunjukkan bahwa masalah yang disinggung dalam ayat sebelumnya adalah syarat bagi Paulus untuk mengenal Kristus lebih lanjut secara pengalaman. Syarat-syarat ini adalah: 1) menganggap hal-hal yang berkenaan dengan agama yang dulunya merupakan keuntungan, kini sebagai kerugian karena Kristus; 2) menganggap segala sesuatu adalah kerugian jika dibandingkan dengan kemuliaan pengenalan akan Kristus; dan 3) ditemukan dalam Kristus, memiliki kebenaran Allah berdasarkan iman. Kita mungkin memiliki pengetahuan yang luar biasa atas makanan tertentu hanya dengan melihat sebuah menu, tetapi tidak pernah mencicipi makanan itu. Untuk mencicipi makanan membutuhkan syarat-syarat tertentu. Paulus memenuhi syarat untuk mengenal Kristus karena berada dalam kedudukan dan keadaan yang tepat. Dia menanggalkan hal-hal yang berasal dari agama tradisional, termasuk statusnya dahulu dalam ajaran agama Yahudi (Flp. 3:5-7). Selain itu, dia menganggap segala sesuatu rugi karena Kristus agar dia mendapatkan Kristus dan ditemukan di dalam-Nya, tidak berdasarkan kebenarannya sendiri yang berasal dari hukum Taurat, melainkan berdasarkan kebenaran yang berasal dari Allah. Orang Yahudi mencari kebenaran dari hukum Musa, tetapi Paulus hidup dalam kebenaran Allah, yang adalah Allah sendiri di dalam Kristus sebagai perwujudan-Nya. Karena berada dalam keadaan yang demikian, Paulus memenuhi syarat untuk mengenal Kristus dalam pengalaman.

MENGENAL KUAT KUASA KEBANGKITAN-NYA

Ayat 10 mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Ketika Paulus menulis surat kepada orang-orang Filipi, dia memiliki pengenalan secara pengalaman atas Kristus dan sedang mengalami kuat kuasa kebangkitan-Nya. Padahal, dalam penjara di Roma, dia mungkin terbelenggu oleh pasungan di bawah tekanan akan dipenggal atau dilemparkan kepada binatang buas di arena. Dalam situasi itu dia perlu mengenal kuat kuasa kebangkitan Kristus. Kuat kuasa kebangkitan Kristus adalah hayat kebangkitan-Nya yang membangkitkan Dia dari antara orang mati (Ef. 1:19-20). Inilah Kristus yang dibangkitkan dan Kristus yang bangkit. Kuat kuasa ini ada di dalam Paulus sebagai suplai serba lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19). Realitas dari kuat kuasa kebangkitan Kristus adalah Roh itu (Rm. 8:11), dan suplai serba lengkap dari Roh itu adalah kuat kuasa kebangkitan. Hakiki dari kebangkitan Kristus adalah Roh Yesus Kristus. Tanpa Roh Yesus Kristus, tidak ada kebangkitan.

Hari ini, Roh itu ada di dalam roh insani kita. Jalan untuk mengenal kuat kuasa kebangkitan secara pengalaman adalah berpaling ke dalam roh dan tinggal dalam roh kita. Kita mungkin tidak perlu berdoa dulu agar bisa tinggal di dalam roh. Kita cukup memuji, bernyanyi haleluya, dan bersorak kemenangan. Inilah jalan untuk mengalami kuat kuasa kebangkitan Kristus.

Untuk mengalami kuat kuasa kebangkitan, kita dibawa masuk ke dalam penderitaan. Paulus mengalami kuat kuasa kebangkitan dalam penjara di Roma. Jika kita tidak mengalami penderitaan, kita tidak dapat mengenal kuat kuasa ini. Dengan kata lain, kuat kuasa kebangkitan perlu sebuah “penjara”. Hidup pernikahan adalah contoh dari penjara semacam ini. Secara positif, pernikahan tidak membawa kita kepada perjamuan, tetapi ke dalam sebuah “penjara”.

Salib Kristus mungkin bisa diumpamakan dengan sebuah cetakan kue. Ketika adonan dimasukkan ke dalam cetakan dan dipanggang, hasilnya adalah roti atau kue dalam bentuk cetakan tersebut. Kita adalah “adonan” yang telah ditaruh ke dalam “cetakan” salib oleh kuat kuasa kebangkitan. Hidup pernikahan kita adalah bagian dari cetakan tersebut. Di satu pihak, hidup pernikahan bukanlah kehidupan yang penuh kenikmatan; tetapi kehidupan yang penuh penderitaan. Paulus mengatakan bahwa mereka yang menikah ditimpa kesusahan badani (1 Kor. 7:28). Tetapi, pernikahan telah ditetapkan oleh kedaulatan Tuhan. Jika seseorang tidak menerima karunia khusus dari Tuhan (Mat. 19:10-12), dia seharusnya menikah. Anak-anak kita juga adalah bagian dari cetakan salib ini. Saya telah melihat banyak orang tua menderita karena anak-anak mereka.

Untuk mengenal kuat kuasa kebangkitan Kristus secara pengalaman, kita perlu ditaruh di dalam cetakan penderitaan. Dalam Filipi 3:10 Paulus membicarakan persekutuan dalam penderitaan Kristus. Tuhan Yesus memanggil kita untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya, memikul salib (Mat. 16:24). Memikul salib adalah menikmati persekutuan penderitaan Tuhan Yesus.

DISERUPAKAN DENGAN DIA DALAM KEMATIAN-NYA

Filipi 3:10 pertama-tama membicarakan pengenalan akan Kristus sebagai persona yang ajaib. Kita tidak pernah habis-habisnya membicarakan siapakah Dia. Kedua, ayat ini membicarakan pengenalan akan kuat kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan penderitaan-Nya. Ketika kita menikmati persekutuan penderitaan-Nya, secara pengalaman kita diserupakan dengan kematian-Nya. Kematian Kristus adalah cetakan. Kita hidup dalam cetakan kematian ini. Kematian Kristus haruslah menjadi cetakan kehidupan kita. Pada akhirnya, kita semua akan memproklamirkan, “Aku tidak hanya hidup; aku juga mati. Aku mati terhadap segala sesuatu; aku adalah orang yang mati. Hidupku ada di dalam cetakan kematian Kristus.”

Kita tidak diserupakan dengan kematian Adam. Kematian Adam menyedihkan, tetapi kematian Kristus manis. Ketika kita hidup, kita mati dalam cetakan kematian-Nya. Kita menikmati pengenalan akan Kristus secara pengalaman; kita menikmati pengenalan akan kuat kuasa kebangkitan Kristus; kita menikmati pengenalan akan persekutuan penderitaan-Nya. Ketika kita sedang berada dalam kenikmatan atas pengenalan secara pengalaman ini, kita diserupakan dengan cetakan kematian-Nya.

Kidung 464 mengatakan:

Bila kenal kuasa bangkit, pasti cinta ‘kan salib;

Mati niscayalah tumbuh, tanpa mati tak hidup.

Koor: Tanpalah mati, takkanlah hidup! Mati niscayalah tumbuh, mati ‘kan hidup.

Kristus terbentuk dalamku, tersingkirlah diriku;

Hidup bawah naungan salib, hidup jiwa terbasmi.

Allah demi Roh yang kekal, menyalibku serta-Nya;

Berperan maut atasku, hidup lantas terwujud.

Kita adalah orang-orang yang hidup di bawah bayangbayang salib Kristus. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang hidup, juga kehidupan yang mati. Kita hidup, tetapi kita hidup dalam cetakan kematian Kristus. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Dia disalibkan setiap hari. Setiap hari Dia menempuh kehidupan yang tersalib. Kita juga dapat menempuh kehidupan semacam itu, karena kita memiliki kuat kuasa kebangkitan-Nya. Seperti yang telah kita lihat, kuat kuasa ini adalah persona Kristus, dan hari ini Kristus adalah Roh Yesus Kristus yang ada di dalam roh kita. Selama kita tinggal di dalam roh, kita mengalami kuat kuasa kebangkitan dalam bayang-bayang kematian Kristus. Setiap hari pasangan kita dan anak-anak kita adalah “bayang-bayang kematian” bagi kita. Mula-mula, anakanak kita mungkin menyenangkan. Tetapi, suatu hari mereka akan menjadi bayang-bayang, dan semakin mereka bertumbuh, bayang-bayang itu akan menjadi semakin gelap. Akhirnya, anak-anak kita akan menempatkan kita dalam cetakan salib. Kita seharusnya hanya tinggal di sana dan berkata, “Haleluya!”

Bukan kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga kita saja yang merupakan cetakan salib, bahkan hidup gereja (church life) juga menjadi cetakan salib bagi kita. Ada orang kudus mungkin heran, mengapa ada kesulitan dalam “hidup gereja yang mulia”, sehingga akhirnya hidup gereja menjadi tidak begitu mulia bagi mereka. Setiap saudara saudari mungkin terlihat seperti “bayang-bayang gelap”. Inilah yang mungkin menyebabkan beberapa orang berpikir untuk pindah ke lokal baru. Tetapi mereka akan menemukan bahwa gereja di lokal baru bahkan lebih gelap. Selanjutnya, jika mereka meninggalkan gereja, keadaan mereka akan semakin gelap. Kita tidak punya tempat untuk melarikan diri. Setiap lokal adalah sebuah salib. Inilah nasib kita. Kita telah ditetapkan untuk melewati salib. Hanya ketika berada dalam Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru, kita akan keluar dari bayang-bayang maut. Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada malam dan bayang-bayang lagi (Why. 21:25). Tetapi hari ini, di mana-mana ada bayang-bayang salib.

Puji Tuhan, karena di dalam kita ada kuat kuasa kebangkitan. Paulus mengatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Dia yang menguatkan kita adalah kuat kuasa kebangkitan. Oleh-Nya kita dapat menempuh kehidupan yang mengekspresikan dan memperbesar Kristus dari dalam kita (Flp. 1:20).