PENGALAMAN HAYAT (7)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 1:19-21; 2:12-16; 3:9-10; 4:2-8, 1213
Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaan-Mu dan kekayaan pengurapan-Mu. Tuhan, kami tahu bahwa inilah yang kami perlukan. Tuhan, kami tetap menengadah kepada-Mu, tunjukkanlah jalan hayat-Mu kepada kami. Tunjukkanlah kepada kami bagaimana Engkau ingin kami maju terus dalam jalan ini. Bukakanlah firman-Mu kepada kami, supaya kami mengenal kedalaman rahasia diri-Mu sebagai hayat bagi kami. Amin.
KESELAMATAN ADALAH MEMPERBESAR KRISTUS
Filipi 1:19-21 mengatakan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Pemikiran utama dalam ayat ini adalah keselamatan. Bagi Paulus, keselamatan adalah memperbesar Kristus dari dalam dirinya walaupun ia berada di bawah penganiayaan dan di dalam penjara. Jika Paulus gagal memperbesar Kristus dari dalam dirinya, ia akan beroleh malu; tetapi jika ia memperbesar Kristus, hal itu akan menjadi keselamatannya. Bagi Paulus, keselamatan adalah memperbesar Kristus tidak peduli keadaannya bagaimana.
DISELAMATKAN DARI BERSUNGUT-SUNGUT
DAN BERBANTAH-BANTAHAN
Dalam pasal 1, penderitaan menjadi keselamatan; tetapi dalam pasal 2, kita harus mengerjakan keselamatan kita. Filipi 2:12-16 mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungutsungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat (angkatan yang bengkok) dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada (menyatakan) firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.”
Keselamatan dalam pasal 2 adalah keselamatan dari bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Para saudari bersungut-sungut dan para saudara berbantah-bantahan. Bersungut-sungut dan berbantah-bantahan adalah dua musuh kecil yang menghalangi kita mengalami Kristus. Karena kelihatannya begitu kecil, kita sering tidak memperhatikannya, tetapi keduanya adalah tanda yang menunjukkan bahwa dalam memperhidupkan Kristus, kita telah dikalahkan. Orang yang memperhidupkan Kristus tidak akan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Bersungut-sungut dan berbantah-bantahan meniadakan kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Kita harus menempuh kehidupan tanpa sungut-sungut dan perbantahan. Di antara suami dan istri, ayah dan ibu, saudara dan saudari, ada banyak sungutsungut dan perbantahan. Perempuan kebanyakan bersungutsungut, dan laki-laki kebanyakan berbantah-bantahan. Bahkan di dalam apa yang disebut “hidup gereja yang mulia”, ada juga hal-hal ini. Karena bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, maka kita gagal mengerjakan keselamatan kita.
Keselamatan dalam pasal 2 mempunyai banyak unsur. Mengerjakan segala hal tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan adalah dua unsur keselamatan yang harus kita kerjakan. Unsur keselamatan yang lain juga tercantum dalam ayat 15, yang mengatakan, “Supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat (angkatan yang bengkok) dan sesat ini.” Supaya tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok dan sesat ini, kita harus diselamatkan dari sungut-sungut dan perbantahan. Istilah “sesat” dalam ayat ini berarti melengkung atau membelit. Angkatan yang sesat hari ini adalah melengkung dan membelit. Dalam angkatan yang demikian, kita sebagai anak-anak Allah yang memiliki hayat dan sifat Allah, “bercahaya seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada (menyatakan) firman kehidupan” (ayat 15-16).
Kita harus bercahaya seperti bintang-bintang. Bintang di sini dalam bahasa aslinya mengacu kepada benda-benda terang, adalah benda-benda yang memantulkan terang, bukan dengan terang dari dirinya sendiri; ia bersinar karena memantulkan terang. Kristus adalah terang sejati (Yoh. 1:9; 8:12) yang dilambangkan oleh terang matahari. Kita sebagai benda-benda terang memantulkan terang ini ke dalam dunia. “Bersinar sebagai terang” sama dengan “menyatakan firman hayat”. “Berpegang” di sini dalam bahasa Yunani berarti menerapkan, menyajikan, mempersembahkan. Kita harus selalu mempunyai sesuatu dari Kristus untuk diberikan dan dipersembahkan kepada orang-orang dunia. Menyatakan Kristus berarti bersinar. Hanya berbicara tidaklah cukup, kita harus bersinar. Sinar ini tergantung pada apa adanya kita, bukan pada perkataan kita. Kita harus menjadi orang yang bersinar dengan memantulkan Kristus sebagai terang.
Keselamatan dalam pasal 2 meliputi beberapa unsur: tidak bersungut-sungut, tidak berbantah-bantahan, tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah di tengahtengah angkatan yang bengkok, yang sesat, kacau, dan berbelit, bersinar seperti bintang untuk memantulkan Kristus, dan menyatakan firman hayat. Keselamatan ini dengan semua unsurnya adalah keselamatan yang harus kita kerjakan.
KESELAMATAN ADALAH KEBENARAN ALLAH
Dalam Filipi 3:9-10 Paulus ingin “ditemukan di dalam Dia, bukan dengan kebenarannya sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan (iman) . . . mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, sehingga diserupakan dengan Dia dalam kematian-Nya”. Ditemukan di dalam Kristus dan mempunyai kebenaran yang berasal dari Allah berdasarkan iman, berarti memiliki diri Allah sendiri yang terwujud dalam Kristus sebagai kebenaran. Kristus yang diperhidupkan dalam pasal 1 adalah kebenaran kita dalam pasal 3. Kebenaran Allah berdasarkan iman dalam pasal 3 adalah Kristus yang harus kita perhidupkan dan perbesar dari dalam kita dalam pasal 1. Ketika kita memperhidupkan dan memperbesar Kristus dari dalam kita sesuai dengan pasal 1, orang-orang akan menemukan kita di dalam Kristus, bukan dengan kebaikan atau kebajikan alamiah kita, tetapi dengan Kristus sebagai kebenaran kita.
Ketika melihat visi pengalaman hayat dan melihat keadaan kita hari ini, kita harus mengakui bahwa kita sangat jauh dari pengalaman yang demikian. Kita mungkin mempelajari Alkitab dan banyak berdoa, tetapi kita masih saja berada di dalam diri sendiri dan tidak banyak berada di dalam Kristus. Kita terbiasa berada di dalam diri sendiri, hanya mempunyai perilaku yang baik. Ciri khas seorang saudara mungkin adalah kelambanannya, sedangkan ciri khas saudara yang lain adalah kecepatannya. Ketika saya berhubungan dengan saudara yang demikian, saya menemukan bahwa mereka hanya sebagian kecil berada di dalam Kristus, kebanyakan ada di dalam ciri khas mereka yang antik. Tetapi ciri khas Rasul Paulus adalah kebenaran Allah, Kristus yang diperhidupkan dan diperbesar dari dalam dirinya. Dalam Filipi 1 Paulus sangat merindukan dan mengharapkan untuk memperhidupkan dan memperbesar Kristus dari dalam dirinya. Kemudian dalam pasal 3 ia ingin ditemukan di dalam Kristus yang diperhidupkan dan diperbesar. Ditemukan di dalam Kristus berarti ia tidak mempunyai kebaikan dari dirinya sendiri, tetapi kebenaran Allah, yang adalah Kristus sebagai perwujudan Allah.
Setiap pasal dari Kitab Filipi memberikan aspek khusus dari keselamatan ini. Kita mengalami Kristus sebagai keselamatan kita, aspek demi aspek. Keselamatan mempunyai aspek jangka pendek dan aspek jangka panjang. Pasal 1 membicarakan aspek keselamatan jangka panjang, dan pasal 2 membicarakan aspek keselamatan sehari-hari atau jangka pendek. Keduanya adalah dua aspek dari keselamatan yang sama. Akhirnya, keselamatan ini juga mempunyai aspek menjadi kebenaran Allah seperti yang terlihat dalam pasal 3.
Dalam Kitab Filipi, Paulus berbicara mengenai keselamatan Allah secara sangat riil, membahas aspek jangka panjang, aspek sehari-hari, dan aspek menjadi kebenaran Allah. Aspek terakhir ini meliputi Kristus sebagai perwujudan Allah yang diperhidupkan dan diperbesar dari dalam kita. Kebenaran Allah dalam pasal 3 sama dengan keselamatan yang disebutkan dalam dua pasal sebelumnya. Dalam aspek sehari-hari, disebutkan perkara-perkara kecil seperti bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, karena kehidupan sehari-hari dari orang-orang di bumi ini penuh dengan sungutsungut dan perbantahan.
SEHATI SEPIKIR (MEMIKIRKAN HAL YANG SAMA)
Dalam Filipi 4:2 Paulus mengatakan bahwa ia memohon Euodia dan Sintikhe supaya memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan. Untuk memperhidupkan Kristus dari dalam kita, hal yang paling sulit dilakukan adalah memikirkan hal yang sama. Menikmati Kristus kelihatannya mudah, tetapi tanpa kenikmatan yang sejati atas Kristus, kita akan berbeda pendapat, tidak memikirkan hal yang sama. Kita berbeda pendapat bukan hanya dengan para penatua, tetapi juga dengan setiap orang. Kita hanya setuju dengan diri sendiri. Ketika kita datang membantu mengatur kursi, kita mungkin mengatur kursi sambil bersungut-sungut karena cara mengatur kursi dan cara membersihkannya tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena sifat kita yang jatuh penuh dengan perselisihan, maka sangatlah sulit bagi kita untuk melihat keharmonisan yang sejati dalam kehidupan keluarga maupun dalam hidup gereja (church life). Keharmonisan dalam hidup gereja benar-benar berharga.
Dalam pengalaman menikmati Kristus, memperhidupkan Kristus, dan memperbesar Kristus, ada banyak hambatan. Hambatan pertama adalah bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Hambatan kedua adalah berbeda pendapat. Paulus adalah seorang penulis yang sangat ahli. Ketika menulis tentang kedua saudari yang baik ini, ia mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sinthike kunasihati, supaya sehati sepikir (memikirkan hal yang sama) dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: Tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang namanamanya tercantum dalam kitab kehidupan” (Flp. 4:2-3). Paulus pertama-tama menjamah masalah negatif mengenai perselisihan di antara kedua rekan sekerjanya, menasihati mereka untuk memikirkan hal yang sama. Kemudian ia memuji mereka karena aspek positif pelayanan mereka dalam Injil. Dan sebagai kesimpulannya, ia menyuruh mereka bersukacita (ayat 4).
MENERIMA KRISTUS SEBAGAI KEBAIKAN HATI KITA
Filipi 4:5 mengatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Ini berarti Anda harus ditemukan di dalam kebaikan hati Anda oleh semua orang kudus. Istilah kebaikan hati sukar dijelaskan secara lengkap. Banyak orang mengartikan istilah kebaikan hati di sini sebagai sabar atau tahan menderita. Tetapi, istilah kebaikan hati yang digunakan di sini mempunyai arti lebih luas daripada sabar atau tahan menderita. Kebaikan hati yang dimaksud di sini berarti memperlakukan orang dengan patut, tenggang rasa, memperhatikan orang lain, tidak kaku dalam menuntut hak absah seseorang. Pertama, jika kita baik hati, kita harus bertindak dengan patut dan adil. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan patut dan adil. Kedua, kita harus memperhatikan orang lain. Baik hati berarti memperhatikan betapa kelakuan atau perkataan kita dapat mempengaruhi orang lain. Kita harus memperhatikan apakah perkataan kita dapat melukai orang atau tidak. Kita harus sangat berhati-hati saat berhubungan dengan orang lain, hindarilah kekerasan.
“Baik hati” di sini juga mempunyai arti “sesuai (cocok) dengan keadaan orang lain”. Ketika kita tidak berbaik hati; kita tidak dapat cocok dengan keadaan orang lain. Mungkin saudara atau saudari hidup bersama di sebuah apartemen dengan sangat menyenangkan. Begitu ada saudara atau saudari lain yang tidak berbaik hati datang, maka masalah akan timbul sehingga merusak keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, jika ada saudara atau saudari yang sangat baik hati datang ke tempat yang bermasalah, ia akan menjadi pembawa damai. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh saudara atau saudari itu membuat setiap orang merasa nyaman. Setiap orang akan tenang, dan setiap orang akan merasa tidak ada masalah dalam apartemen tersebut.
Walaupun setiap ayat dalam Filipi 4 menyebutkan butir baru mengenai pengalaman akan Kristus, seluruh butir ini saling berhubungan. Jika kita menempuh hidup kristiani yang tepat dalam memperhidupkan dan memperbesar Kristus, kita tidak akan berselisih dengan orang lain, tetapi selalu bersukacita, selalu baik hati, dan tidak khawatir (ayat 6). Kehidupan semacam ini akan menikmati damai sejahtera Allah (ayat 7).
EKSPRESI KEHIDUPAN YANG MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Dalam Filipi 4:8 Paulus memberikan enam butir yang mengekspresikan kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Ayat ini mengatakan, “Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, . . .” Butir-butir ini membentuk tiga kelompok. Kelompok pertama adalah benar dan mulia (terhormat). Kelompok kedua adalah adil dan suci. Kelompok ketiga adalah manis dan sedap didengar. Ayat 8 menyimpulkannya dengan dua perkara, “Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Seluruh butir ini sangat manusiawi. Beberapa orang kudus sangat damba memperhidupkan Kristus, tetapi dengan cara yang tidak manusiawi. Keenam butir ini beserta kedua butir kesimpulannya menunjukkan bahwa kita harus tetap manusiawi pada saat memperhidupkan Kristus. Kita harus benar, tidak pura-pura atau palsu. Kita harus terhormat, yang berarti bahwa kita adalah orang-orang yang mendatangkan rasa hormat, penghargaan, dan rasa segar dari orang lain. Sebagai orang yang memperhidupkan Kristus, kita harus adil di hadapan Allah dan manusia, dan juga harus suci. Adil berarti benar di lahir; suci berarti tulus dalam keinginan dan motivasi di batin. Kita harus benar di lahir dan suci di batin. Kita juga harus manis dan sedap didengar. Manis berarti patut disayangi, disetujui, dan dikasihi. Sedap didengar berarti mempunyai reputasi yang baik, dikenal baik, menarik, menawan, akrab, dan bahkan mempesona.
Walaupun semua butir ini merupakan kebajikan insani, kita harus nampak bahwa semua kebajikan insani ini adalah bejana yang diciptakan oleh Allah untuk diisi atribut-atribut-Nya. Sarung tangan dibuat menurut bentuk dan gambar tangan sebagai bejana untuk diisi tangan dan jarijarinya. Tanpa tangan dan jari-jari, sarung tangan akan kosong. Demikian juga, kita dibuat menurut gambar dan rupa-Nya. Ia adalah Allah yang sejati, Ia menciptakan kita supaya kita dapat diisi oleh-Nya. Allah itu benar, dan manusia juga bisa menjadi benar. Allah itu terhormat, manusia ciptaan Allah juga terhormat. Butir-butir dalam Filipi 4:8 bukan hanya kebajikan insani, tetapi juga atribut-atribut Allah.
Kita adalah bejana yang diciptakan untuk diisi Allah, menjadi ekspresi-Nya, itulah sebabnya kita mempunyai penampilan luar dari atribut-atribut tersebut, tetapi tidak mempunyai realitasnya. Ketika kita memperhidupkan Kristus yang adalah perwujudan Allah dengan segala atribut-atribut Allah, Ia akan memenuhi seluruh kebajikan kita yang kosong. Dengan demikian, atribut-atribut Allah menjadi kebajikan-kebajikan kita. Jadi, memperhidupkan Kristus membuat kita menjadi sangat manusiawi. Kita tidak seharusnya hanya rohani dan surgawi, kita juga harus benar, terhormat, adil, suci, patut dikasihi, dan memiliki reputasi baik. Kebajikan-kebajikan insani ini beserta atribut-atribut ilahi adalah rincian ekspresi dari Kristus yang kita perhidupkan dan perbesar. Jika kita tidak patut dikasihi, tidak terhormat, kita tidak mengekspresikan Kristus. Jika kita tidak menempuh kehidupan yang terhormat, kita tidak memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan dan memperbesar Kristus, kita pasti menempuh satu kehidupan yang terhormat.
CARA MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Cara kita memperhidupkan Kristus dan seluruh kebajikan insani serta atribut-atribut ilahi ada dalam ayat 13, yang mengatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Kita bisa menjadi benar, terhormat, adil, suci, kasih, dan bereputasi baik di dalam Kristus, yang menguatkan kita. Di dalam Kristus yang kita perhidupkan, kita dapat melakukan segala sesuatu.
MENERIMA KRISTUS SEBAGAI RAHASIA (KIAT) KITA
Kristus yang kita perhidupkan bukan hanya kekuatan kita, tetapi juga rahasia (kiat) kita. Filipi 4:12 mengatakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan.” “Berkelimpahan” berarti kaya, dan “berkekurangan” berarti miskin. Paulus tahu bagaimana menghadapi kekurangan maupun kelimpahan. Kekurangan tidak akan mengalahkan dia, dan kekayaan tidak akan merusak dia. “Kenyang” berarti memiliki lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk makan, dan “kelaparan” berarti miskin, kekurangan, tidak cukup untuk makan. Paulus telah belajar rahasia (kiat) menjadi kaya maupun menjadi miskin.
Kitab Filipi diakhiri dengan kehidupan tanpa perselisihan dengan orang lain, penuh kebaikan hati, tanpa kekhawatiran, dan penuh kebajikan insani. Kitab Filipi diakhiri dengan seorang yang begitu benar, terhormat, adil, suci, kasih, dan bereputasi baik. Orang yang seperti inilah yang penuh dengan kebajikan-kebajikan insani beserta atributatribut ilahi sebagai isi mereka untuk mengekspresikan Kristus secara manusiawi. Kita juga harus menjadi orang yang demikian. Rahasia (kiat) hidup seperti itu adalah Kristus yang menguatkan kita. Memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus, serta memiliki kebenaran Allah berdasarkan iman, adalah keselamatan kita.