← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 14/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (7)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 4:2-8

Filipi 1 membicarakan keselamatan melalui suplai yang serba lengkap dari Roh Yesus Kristus (ayat 19), memperhidupkan Kristus (ayat 21), dan memperbesar Kristus (ayat 20). Dalam pasal 2, keselamatan dibicarakan sekali lagi. Ayat 12 mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ayat 15 mengatakan bahwa kita bercahaya seperti bintang-bintang di dunia. Kita adalah bintang-bintang yang memantulkan Kristus sebagai terang. Pancaran ini adalah menyatakan firman hayat, serta menerapkan, menyajikan, dan mempersembahkan firman hayat (ayat 16). Filipi 3 membicarakan kebenaran Allah berdasarkan iman (ayat 9). Kebenaran dalam pasal 3 sama dengan keselamatan dalam pasal 1 dan 2. Pasal 3 juga membicarakan sasaran kita (ayat 14) dan penuntutan kita (ayat 12).

MEMIKIRKAN HAL YANG SAMA DAN BERSUKACITA DALAM TUHAN

Masalah pertama yang dibicarakan dalam Filipi 4 adalah memikirkan hal yang sama. Ayat 2 mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir (memikirkan hal yang sama) dalam Tuhan.” Sesuai dengan sifat kita yang suka berselisih, kita sering tidak dapat sepaham dengan orang lain. Jika seseorang mengusulkan agar kita melakukan sesuatu, kita mungkin akan mengajukan usul yang bertentangan. Sebelum anak kecil mengenal banyak istilah, ia sudah dapat mengatakan “tidak!” kepada ibunya. Sejak kecil, kita sudah belajar mengatakan “tidak” kepada orang lain dan “ya” kepada diri sendiri. Inilah penolakan atau perselisihan; ini adalah pemberontakan.

Keinginan untuk menjadi terkenal dan dihormati adalah akar perselisihan. Bahkan jika kita salah mengenai sesuatu, kita tetap mencoba untuk mempertahankan gengsi kita dalam situasi itu. Kita dapat melihat kejatuhan perilaku manusia di mana saja. Kebanyakan perdebatan yang terjadi di dalam keluarga di antara anak-anak adalah berkisar pada masalah gengsi. Mempertahankan gengsi dan perselisihan yang ditimbulkannya berasal dari diri.

Ayat 4 mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Jika kita memikirkan hal yang sama dan tidak berbeda pendapat, kita dapat bersukacita. Menurut pengalaman, orang yang berbeda pendapat jarang bersukacita. Sebaliknya, mereka yang berbeda pendapat akan penuh dengan keluhan, sungutsungut, dan perbantahan (2:14). Filipi 4:5 mengatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Baik hati berarti memperlakukan orang dengan patut, tenggang rasa, memperhatikan orang lain, tidak kaku dalam menuntut hak absah seseorang. Orang-orang yang baik hati mudah setuju dan mengikuti orang lain. Tetapi, jika kita adalah orang-orang yang berbeda pendapat, kita tidak akan berbaik hati terhadap orang lain. Sebagai akibatnya, kita akan penuh kekhawatiran (ayat 6). Jalan untuk mendapatkan damai sejahtera dan bebas dari kekhawatiran adalah baik hati terhadap setiap orang.

KRISTUS ADALAH REALITAS KEBAJIKAN INSANI KITA

Ayat 8 mengatakan, “Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Butir-butir yang tertulis dalam ayat-ayat ini adalah kebajikan-kebajikan insani yang tepat. Ketika kita tidak berselisih, kita dapat bersukacita dan berbaik hati. Sebagai orang-orang yang baik hati terhadap orang lain, kita akan menempuh kehidupan yang benar, mulia (terhormat), adil, suci, dan tulus, tidak mempunyai motivasi yang campur aduk. Kemudian kehidupan kita akan sangat manis dan bereputasi baik. Sebagai hasilnya, kita akan mempunyai kebajikan-kebajikan dan patut dipuji. Inilah kehidupan insani yang tepat.

Seluruh butir yang dibicarakan dalam Filipi 1—3 adalah unsur-unsur kehidupan insani yang tepat dalam pasal 4. Memperhidupkan Kristus dalam pasal 1 adalah menempuh kehidupan yang benar, terhormat, adil, suci, manis, dan bereputasi baik, penuh dengan kebajikan, dan pujian. Sebagai bintang yang memantulkan Kristus dalam pasal 2, ekspresi kita adalah kehidupan yang suci, adil, terhormat, dan benar. Jalan untuk menempuh kehidupan seperti ini adalah memperhidupkan Kristus. Tetapi, banyak orang yang belum percaya berusaha untuk memiliki kebajikan-kebajikan insani itu berdasarkan diri mereka sendiri. Mereka seperti sarung tangan yang tidak memiliki tangan di dalamnya. Kebajikan-kebajikan mereka kosong dan tanpa realitas. Ketika kita memperhidupkan Kristus, kita mempunyai realitas seluruh kebajikan insani, termasuk kebenaran, kehormatan, keadilan, dan kesucian.

Ketika beberapa orang yang baru beroleh selamat mulai mencari Tuhan, mereka mungkin ingin menjadi seperti malaikat. Tetapi yang kita perlukan adalah menjadi manusia yang tepat. Seorang manusia yang tepat adalah seorang yang dipenuhi dengan Kristus sebagai realitas dari kebajikan-kebajikan insaninya. Kristus harus menjadi kebenaran, kehormatan, keadilan, kesucian, dan setiap butir dari kebajikan insani kita. Menjadi manusia yang tepat seperti itu berarti mengekspresikan Allah melalui atribut-atribut ilahi-Nya dalam kebajikan-kebajikan insani kita, menempuh kehidupan insani yang dipenuhi dengan Kristus sebagai realitas dari atribut-atribut Allah. Orang yang tepat penuh dengan kebajikan-kebajikan, dan Kristus sebagai perwujudan Allah adalah isi dan realitas dari kebajikan-kebajikannya.

Menjadi orang yang penuh dengan Kristus sebagai kebajikan-kebajikan yang tepat adalah mengalami keselamatan Allah. Dalam Filipi 1, keselamatan adalah memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus dalam setiap keadaan. Pasal 2 menunjukkan bahwa keselamatan ini adalah memantulkan Kristus dengan menyatakan firman hayat. Dalam pasal 3, keselamatan adalah kebenaran Allah, yaitu Allah sendiri diwujudkan dalam Kristus. Kemudian dalam pasal 4, ada kehidupan yang benar, terhormat, adil, suci, manis, bereputasi baik, serta penuh dengan kebajikan dan pujian.

Realitas kehidupan seperti ini adalah Kristus. Itulah sebabnya keempat pasal dari Kitab Filipi mengacu kepada persona hidup dari Kristus yang almuhit. Dalam pasal 1, Kristus adalah keselamatan jangka panjang kita; dalam pasal 2, Kristus adalah keselamatan kita sehari-hari; dalam pasal 3, Kristus adalah kebenaran Allah. Kemudian dalam pasal 4, Kristus adalah seluruh kebajikan insani kita.

KRISTUS ADALAH KEBAJIKAN SEHARI-HARI KITA

Kita harus membangun kehidupan sehari-hari yang tepat dengan karakter yang tepat. Berperilaku dengan cara tertentu adalah sandiwara, hampa. Kehidupan kita tidak seharusnya berupa sandiwara. Sebaliknya, kita harus menjadi orang yang tepat yang memiliki kehidupan yang tepat. “Memperhidupkan Kristus” bukan hanya sebuah slogan. Memperhidupkan Kristus harus menjadi realitas kehidupan sehari-hari kita. Wahyu mengenai keselamatan dan kebenaran Allah dalam Filipi 1—3 sangatlah tinggi. Tetapi, semuanya mengacu kepada memperhidupkan Kristus sebagai realitas ilahi dalam kebajikan-kebajikan insani kita. Karena itu, dalam pasal 4 Paulus menerapkan wahyu ini dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam ayat 2 ia mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya memikirkan hal yang sama dalam Tuhan.” Menurut ayat 3, mereka ini adalah saudari-saudari yang baik yang sangat membantu Paulus. Saudari-saudari ini memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus sampai tahap tertentu. Akan tetapi mereka masih memiliki perbedaan pendapat (perselisihan). Ditinjau dari aspek rohani, mereka sangat terpuji. Nama-nama mereka ada dalam kitab hayat, dan mereka berjerih lelah bersama Paulus dan Klemens (ayat 3); tetapi, dalam kehidupan riil mereka, ada masalah yang besar. Demikian juga, kita mungkin membicarakan hal-hal yang rohani, tetapi diri kita mungkin tidak benar, tidak terhormat, tidak adil, tidak suci, dan tidak bereputasi baik.

Salah satu aspek dari kehidupan sehari-hari kita adalah cara kita berpakaian. Kita harus belajar berpakaian pantas setiap waktu. Berpakaian pantas hanya ketika ada tamu berarti munafik. Itu bukan kehidupan sehari-hari yang sejati. Jika kita kendur dalam hal berpakaian, kita juga kendur dalam segala sesuatu. Demikian juga, jika kita tidak merapikan tempat tidur kita setelah bangun setiap pagi, kita tidak mungkin dapat mempelajari Alkitab dengan baik.

Kristus yang kita perhidupkan dan Kristus yang kita beritakan harus menjadi kebajikan kita setiap hari. Kasih kita kepada orang-orang tidak seharusnya hanya berupa kasih manusia, tetapi kasih manusia yang dipenuhi dengan kasih ilahi dan mengekspresikan kasih ilahi, yaitu Kristus, perwujudan Allah Tritunggal yang sudah melalui proses. Filsuf-filsuf etika China menekankan pengembangan kebajikan insani. Mereka mengajarkan bahwa kita perlu mengembangkan perasaan hati nurani kita, yang mereka sebut dengan “kebajikan yang cemerlang”. Jika seseorang pergi ke China untuk mengajar mereka tentang Kristus sebagai kasih ilahi yang memenuhi kasih kita, maka para pelajar China dapat ditaklukkan. Kita tidak hanya mempunyai hati nurani; kita juga mempunyai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melewati proses, yang hari ini adalah Roh Yesus Kristus, Roh yang almuhit, yang telah rampung sempurna, dan yang diperkuat tujuh kali. Kristus yang demikian adalah daya penggerak kita, kekuatan penggerak di dalam kita. Kristus sebagai kekuatan penggerak dapat dibandingkan dengan motor listrik yang memberi kekuatan kepada kebajikan-kebajikan insani kita.

Dalam Filipi 1 penggeraknya adalah Roh Yesus Kristus (ayat 19) yang merupakan suplai yang serba lengkap, almuhit, serba mampu, dan serba cukup. Kristus melalui Roh yang almuhit telah melewati proses inkarnasi, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan naik takhta. Sekarang, Roh yang adalah Allah Tritunggal yang sudah rampung, ada di dalam roh kita. Dalam pasal 2, penggerak ini adalah Allah yang bekerja di dalam kita (ayat 13), Allah Tritunggal yang telah melewati proses terwujud dalam Kristus yang menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Dalam pasal 3, penggeraknya adalah kuat kuasa kebangkitan Kristus, dan kuat kuasa ini juga adalah Allah Tritunggal yang telah melewati proses sebagai Roh Yesus Kristus yang almuhit. Roh Yesus Kristus, Allah yang bekerja di dalam, dan kuat kuasa kebangkitan Kristus, mengacu kepada persona yang sama.

Penggerak dalam pasal 4 terlihat dalam ayat 13, yang mengatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Penggerak ini adalah Roh Yesus Kristus, Allah yang bekerja, dan Allah Tritunggal yang rampung sempurna sebagai kuat kuasa kebangkitan. Tidak hanya Dia yang berada di dalam kita, tetapi kita juga berada di dalam Dia. Di dalam Dia yang memberi kekuatan dan menguatkan kita, kita dapat melakukan segala perkara. “Segala hal” mengacu kepada setiap aspek dari kebajikan insani kita, seperti yang dibicarakan dalam pasal 1—4. Kita dapat menjadi benar, terhormat, adil, suci, manis, dan bereputasi baik di dalam Dia. Kita dapat menempuh kehidupan insani yang tinggi, penuh dengan kebajikan insani yang diisi dengan atribut-atribut ilahi.

TANYA JAWAB

Tanya: Bagaimana kita menghubungkan ajaran yang tinggi dalam Filipi 1—3 dengan penekanan mengenai rincian kehidupan sehari-hari kita dalam pasal 4?

Jawab: Memperhidupkan Kristus dan kehidupan kita sehari-hari tidak perlu dihubungkan; keduanya adalah satu. Kristus yang kita perhidupkan dan kita perbesar dalam Filipi 1, dalam pasal 4 harus menjadi kebajikan-kebajikan kita dalam kehidupan sehari-hari. Realitas dari semua butir kebajikan kita, seperti kebenaran, kehormatan, keadilan, dan kesucian, adalah Kristus, yaitu kebenaran Allah berdasarkan iman.

Tanya: Bagaimana mungkin memperhatikan rincian kehidupan sehari-hari dapat membantu kita?

Jawab: Memperhatikan rincian akan membantu kita datang kepada Kristus. Kita harus melakukan penyegaran pagi untuk bertemu dengan Tuhan Yesus, menikmati dan berkontak dengan-Nya. Kita perlu yakin bahwa melalui pembasuhan darah-Nya, kita memiliki pengurapan. Pengurapan ini adalah Kristus yang bergerak di dalam kita, dan pergerakan Kristus adalah penyertaan-Nya. Pagi hari, bagaimanapun sibuknya, setidaknya kita harus mempunyai waktu untuk tinggal di hadirat Tuhan. Dengan demikian, kita akan bertemu dengan-Nya, dan Ia akan menyuplai kita. Ia akan menjadi penggerak dan “motor” bagi kehidupan kristiani kita. Jadi, jika dalam kehidupan sehari-hari, kita bersalah dalam beberapa hal, Ia akan mengganggu kita di batin. Dengan demikian, kita akan belajar bagaimana memperhidupkan Kristus.