PENGALAMAN HAYAT (8)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 4:5-8
NYATAKANLAH DALAM SEGALA HAL KEINGINANMU KEPADA ALLAH
Filipi 4:5-6 mengatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Doa itu umum, mengandung unsur penyembahan dan persekutuan; permohonan khusus untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Baik doa maupun permohonan kita harus disertai ucapan syukur kepada Tuhan. Kata depan “kepada” dalam frase “kepada Allah” dalam bahasa Yunaninya adalah kata depan pros. Kata depan ini sering kali diterjemahkan “dengan” (Yoh. 1:1; Mrk. 9:19; 2 Kor. 5:8; 1 Yoh. 1:2). Istilah ini menunjukkan suatu gerakan menuju suatu arah, dalam hal suatu komunikasi dan kesatuan yang hidup, yang menyiratkan persekutuan. Jadi, maksud “kepada Allah” di sini adalah dalam persekutuan dengan Allah. Yohanes 1:1 menggunakan kata depan pros dalam frase “Firman itu bersama-sama dengan (pros) Allah”. Kata ini membuat kita teringat akan lalu lintas, sesuatu yang bolak-balik. Mengacu kepada gerakan yang mengarah ke obyek tertentu, yang menghasilkan suatu gerakan yang meliputi kesatuan yang hidup. Berdasarkan kesatuan ini, ada lalu lintas, yaitu komunikasi atau persekutuan.
Setiap kali kita berdoa, menaikkan permohonan kita dengan tepat, seharusnya ada lalu lintas antara kita dengan Allah. Sesuatu dari kita harus bergerak ke arah Allah, yang menyebabkan Allah bereaksi terhadap kita. Gerakan bolak-balik ini adalah persekutuan. Inilah makna yang tepat dari kata persekutuan. Persekutuan sesungguhnya adalah penyaluran Allah untuk diterima manusia. Persekutuan yang kita miliki dengan Allah, di pihak Allah adalah penyaluran-Nya, dan di pihak kita adalah penerimaan kita. Dia menyalurkan, kita menerima. Semakin banyak persekutuan yang kita miliki, kita semakin banyak menerima sesuatu dari Allah melalui penyaluran-Nya.
Ketika kita kekurangan sesuatu, kita mungkin khawatir. Kita tidak seharusnya menanggung kekhawatiran ini sendiri. Kita harus membuat Allah tahu melalui kita menyatakan segala keinginan kita kepada Allah melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Inilah jenis doa yang harus kita miliki. Kita tidak perlu berdoa dengan cara meminta-minta agar Allah melakukan banyak hal bagi kita. Kita hanya perlu memberi tahu Dia apa yang kita perlukan, yaitu membuat Dia tahu, tidak menyimpan apa pun di dalam diri kita. Jika kita memiliki kecemasan atau kekhawatiran, beritahukan saja kepada-Nya. Pemberitahuan kita kepada-Nya adalah gerakan kita yang mengarah kepada-Nya. Kemudian reaksi-Nya adalah penyaluran-Nya, pembauran diri-Nya dengan diri kita, bahkan sebelum Dia menjawab permohonan kita. Perbauran antara keilahian dan keinsanian ini adalah perbauran dari dua hakiki, yaitu perbauran hakiki ilahi dengan hakiki insani.
Filipi 4:6 kelihatannya adalah sebuah ayat yang sangat sederhana, karena ia menasihati kita agar tidak khawatir dan menyatakan segala keinginan kita kepada Allah. Tetapi realitas yang diwahyukan firman ini tidak sederhana atau dangkal. Listrik kelihatannya juga sangat sederhana. Jika Anda perlu panas atau terang, Anda hanya perlu menekan tombol, maka Anda mendapatkan panas atau terang. Jika ingin udara dingin, Anda cukup menekan tombol lain. Penerapan listrik sangatlah sederhana, tetapi pengetahuan listrik tidaklah sesederhana itu. Jika listrik disalurkan tanpa batas, Anda akan mati karena aliran listrik. Semakin tinggi aliran listrik, Anda semakin cepat mati. Tetapi untuk “listrik ilahi”, penyaluran ilahi, tidak demikian. Semakin banyak Anda menerima Allah, Anda semakin hidup. Di satu pihak, ketika Anda menerima listrik ilahi, manusia lama Anda mati, tetapi di pihak lain, manusia baru hidup. Penyaluran ilahi juga adalah suatu ilmu pengetahuan, dan penelaahan terhadap penyaluran ilahi ini tidak pernah habis.
KEBAIKAN HATI ADALAH TOTALITAS KEBAJIKAN INSANI
Filipi 4:5-8 merupakan satu bagian dan butir pertama yang dibicarakan adalah kebaikan hati. Isi dari kebaikan hati meliputi semua kebajikan insani yang disinggung dalam ayat 8. Kebaikan hati adalah totalitas dari kebajikan insani kita. Kebaikan hati adalah kebajikan tertinggi karena meliputi segala sesuatu. Pada akhirnya, kebaikan hati ini adalah Kristus itu sendiri.
Dalam ayat 5 kita dinasihati untuk mengekspresikan Kristus sebagai kebaikan hati kita. Tetapi yang menjadi lawan kebaikan hati adalah kekhawatiran kita (ayat 6). Kekhawatiran adalah lawan kebaikan hati. Jika Anda memperhidupkan Kristus, ekspresi karakter Anda adalah kebaikan hati. Tetapi jika Anda adalah seorang yang penuh dengan kekhawatiran, ekspresi karakter Anda adalah khawatir. Kekhawatiran kita dapat berubah menjadi kebaikan hati melalui memberitahukan setiap kebutuhan dan keinginan kepada Allah (ayat 6) dan melalui bercakap-cakap dengan Dia. Bercakap-cakap menyiratkan lalu lintas dua arah. Setiap pagi, bagaimanapun sibuknya, kita perlu lalu lintas yang sedemikian antara kita dengan Allah. Lalu lintas seperti ini mendatangkan penyaluran ilahi, mengurangi kekhawatiran kita, dan membangun kebaikan hati kita. Melalui lalu-lintas yang demikian, yaitu persekutuan antara kita dengan Allah, kita dapat menikmati penyaluran ilahi.
Ketika Anda penuh dengan kebaikan hati, sangat sukar bagi Anda untuk marah, menghakimi, atau mengkritik orang lain. Anda juga tidak akan memuji orang lain terlalu tinggi. Anda akan cocok dalam segala keadaan. Sebagai tamu di rumah seseorang, Anda mungkin disuguhi teh. Jika Anda adalah orang yang penuh dengan kebaikan hati, tidak peduli teh itu panas, dingin, atau suam-suam kuku, Anda tidak akan mengekspresikan apa-apa. Demikian juga seharusnya dalam hidup gereja. Jika Anda adalah pribadi yang penuh dengan kebaikan hati, sekalipun hidup gereja mungkin penuh dengan kekacauan, tetapi bagi Anda yang baik hati, hidup gereja itu indah. Perasaan ini mungkin berlawanan dengan kenyataannya, tetapi bagi Anda yang baik hati, gereja benar-benar indah. Gereja selalu indah menurut sifatnya; tetapi kadang-kadang, menurut keadaannya, gereja tidak begitu indah. Tidak peduli keadaannya seperti apa, kita seharusnya selalu berjalan seiring dengan gereja menurut sifatnya. Ayah Anda adalah ayah menurut kelahiran, bukan berdasarkan keadaan. Kadang-kadang keadaannya mungkin tidak begitu baik, tetapi ia tetap ayah Anda.
Kebaikan hati berarti sangat lembut (hangat) dan sangat alami, tidak terlalu panas atau dingin. Dengan kebaikan hati, kita dapat cocok dengan siapa saja, tidak peduli bagaimana temperamen atau watak bawaan orang lain. Tetapi jika kita bergerak dan bertingkah laku hanya menurut kesenangan dan ketidaksenangan kita, kita tidak memiliki kehidupan yang baik hati. Ketika kita telah belajar pelajaran di dalam hayat ilahi, kita mudah menyesuaikan diri dengan orang lain dalam keadaan mereka tanpa keluhan. Kalau mereka berjalan cepat, kita akan berjalan cepat. Jika mereka berjalan lambat, kita akan berjalan lambat. Jika mereka berhenti, kita akan berhenti. Jika mereka duduk, kita akan duduk. Kebaikan hati adalah ujian yang sesungguhnya terhadap kehidupan yang kita tempuh. Sebagai contoh, di dalam mobil, saat suami sedang mengemudi, sering kali istri tidak dapat duduk tanpa mengajukan keluhan atas cara mengemudi suaminya. Sangat sukar bagi istri untuk baik hati sementara suaminya mengemudi.
SEMUA YANG TERHORMAT
Kebajikan yang disebutkan dalam Filipi 4:8 adalah “terhormat” (Tl.). Hormat sama dengan martabat. Di pihak Allah, dalam keilahian-Nya, adalah masalah kemuliaan-Nya, tetapi di pihak kita, dalam keinsanian kita, adalah masalah kehormatan. Ketika Kristus terangkat ke surga, Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:7) karena Ia adalah pribadi yang ilahi sekaligus insani. Dalam keilahian-Nya Ia menerima kemuliaan, dan dalam keinsanian-Nya Ia menerima kehormatan.
KEBAJIKAN DAN PUJIAN
Filipi 4:8 diakhiri dengan dua perkara, yaitu kebajikan dan pujian. Kebajikan adalah untuk kita, dan pujian adalah untuk Allah. Kedelapan butir yang disebut dalam ayat 8 dibagi dalam dua kategori. Keenam butir pertama dikategorikan sebagai “semua yang”; kedua butir yang kedua, kebajikan dan pujian, dikategorikan sebagai “semua yang disebut (kalau ada)”. Ini menunjukkan bahwa kedua butir yang terakhir adalah kesimpulan dari keenam butir sebelumnya, yang semuanya merupakan kebajikan atau keunggulan dan sesuatu yang patut dipuji. Keenam butir yang pertama, kebenaran, kehormatan, keadilan, kesucian, kemanisan, dan reputasi baik, adalah kebajikan manusia yang disimpulkan dengan frase “semua yang disebut kebajikan”. “Semua yang patut dipuji” menyimpulkan seluruh ayat termasuk semua hal yang telah disebut terdahulu. “Pujian” mengacu kepada ekspresi Allah. Pujian berarti Allah diekspresikan sampai tingkat yang sedemikian rupa sehingga orang lain memuji Allah. Ekspresi Allah menyebabkan orang lain memuji Allah. Kebajikan dan pujian menunjukkan bahwa keinsanian beserta kebajikan-kebajikannya mengekspresikan Allah. Ketujuh butir dalam Filipi 4:8 ini pada akhirnya tersimpul dalam pujian.
Dalam menulis kata-kata ini, Rasul Paulus pasti telah mempertimbangkannya baik-baik. Dari ratusan kebajikan manusia, Paulus hanya memilih enam. Kemudian sebagai kesimpulannya, ia hanya menggunakan dua butir, yaitu kebajikan dan pujian. Kebajikan merangkum keenam butir sebelumnya, dan pujian menyimpulkan seluruhnya. Ketika kebajikan insani kita mengekspresikan atribut ilahi Allah, pujian dipersembahkan kepada Allah. Pemikiran ini sama dengan Matius 5:16. Ketika orang lain melihat perbuatan baik (kebajikan insani) kita, mereka memuliakan (memuji) Bapa kita yang ada di surga. Kehidupan kristiani adalah kehidupan yang selalu mengekspresikan Allah di dalam kebajikan insani. Sebagai hasilnya, kehidupan yang demikian selalu membawa kemuliaan dan pujian untuk Allah.
Jalan untuk menempuh kehidupan yang penuh dengan kebajikan yang mengekspresikan Allah serta mendatangkan kemuliaan dan pujian kepada Allah adalah di dalam Kristus, yaitu di dalam Dia yang menguatkan kita (Flp. 4:13). Sarjana etika China mengajarkan pengembangan kebajikan manusia. Tetapi pengembangan kebajikan manusia yang diajarkan mereka tidak dapat menghasilkan kemuliaan atau pujian kepada Allah. Ketika kita mengasihi dan menghormati orang tua, kasih dan penghormatan kita harus berbeda dari penghormatan manusia yang diajarkan oleh para sarjana etika China. Penghormatan mereka tidak memiliki cita rasa atau aroma ilahi. Penghormatan kita kepada orang tua seharusnya penuh dengan keinsanian yang memiliki aroma ilahi di dalamnya. Aroma dan cita rasa Allah inilah yang membedakan penghormatan antara orang yang belum percaya dengan yang sudah percaya. Penghormatan orang Kristen memiliki cita rasa dan aroma atribut ilahi. Dalam pengalaman kita, sering kali penghormatan kita kekurangan kualitas ilahi. Ini karena kita gagal memperhidupkan Kristus. Jika kita tidak memperhidupkan Kristus, kita mungkin masih menghormati orang tua, tetapi penghormatan itu tidak akan mempunyai aroma ilahi. Karena itu, kita perlu bertumbuh dalam hayat ilahi dan memperhidupkan Kristus. Dengan demikian, penghormatan kita kepada orang tua akan memiliki aroma ilahi.
Ketika para misionaris Barat datang ke China, orang-orang China terpelajar bertanya, mengapa mereka harus menjadi orang Kristen kalau ajaran mereka sendiri mengenai penghormatan lebih tinggi daripada ajaran dalam Alkitab. Banyak misionaris tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan mereka. Tetapi, hari ini kita memiliki jawabannya. Tidak peduli setinggi apa ajaran etika China mengenai penghormatan, tidak ada sesuatu yang ilahi di dalamnya. Walaupun penghormatan orang Kristen tampaknya agak lebih rendah daripada penghormatan orang-orang China terpelajar itu, dalam realitasnya, penghormatan orang Kristen yang tepat itu jauh lebih tinggi, karena memiliki aroma ilahi.
Dalam pergaulan dunia Barat, perihal mengasihi sesama sangat dihargai. Bahkan orang ateis pun dapat berbicara mengenai mengasihi orang lain. Beberapa orang kaya telah memberikan kekayaan mereka kepada rumah sakit atau yayasan sosial lain. Mereka mungkin mengasihi orang lain dengan cara menyumbangkan kekayaan mereka kepada rumah sakit atau sekolah, tetapi tidak ada aroma Allah di dalam pemberian mereka. Sebaliknya, aromanya adalah kesombongan. Ini dikarenakan siapa pun yang menyumbangkan uang untuk rumah sakit mungkin menerima penghargaan atas pemberiannya berupa batu peringatan untuk mengenang dia. Kasih semacam itu tidak memiliki aroma dan rasa Allah. Tetapi seorang saudara yang tidak memiliki banyak uang mungkin menunjukkan kasihnya melalui memberikan sebagian besar simpanannya kepada orang kudus yang membutuhkan tanpa sepengetahuan orang lain. Kasih semacam itu memiliki aroma Allah, dan berbeda dari sekadar kasih manusia. Perbedaannya adalah di dalam sifat dan sumber kasih itu. Untuk memiliki kasih yang beraromakan Allah sangat tergantung pada orang yang melakukannya, bukan pada apa yang dilakukannya. Jika Anda melakukannya di dalam diri Anda sendiri, maka tidak ada aroma Allah. Tetapi jika Anda melakukannya melalui Allah dan Allah melakukannya melalui Anda, akan ada banyak aroma Allah.
Filipi 4:8 dimulai dengan kebenaran dan diakhiri dengan pujian. Kehidupan kristiani adalah hidup yang penuh dengan kebajikan insani yang menghasilkan kemuliaan dan pujian bagi Allah. Ayat 5-8 menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan kristiani yang tepat adalah kehidupan perbauran antara keilahian dengan keinsanian.
MANUSIA MEMILIKI GAMBAR ALLAH,
MENGEKSPRESIKAN ATRIBUT-ATRIBUT ILAHI
YAITU KASIH, TERANG, KUDUS, DAN BENAR
Kejadian 1:26 adalah salah satu dari ayat-ayat yang paling penting dalam seluruh Alkitab, terutama dalam Perjanjian Lama. Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, Ia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” “Baiklah Kita” menunjukkan percakapan di antara trinitas ilahi — Bapa, Putra, dan Roh — mengenai penciptaan manusia. Ayat ini mengandung rahasia yang besar. Buku “Rahasia Hidup Manusia” sangat menekankan rahasia yang ada dalam Kejadian 1:26. Rahasia hidup manusia adalah manusia diciptakan menurut gambar Allah dan menurut rupa Allah. Gambar mengacu kepada apa adanya Allah, dan rupa mengacu kepada bentuk lahir.
Manusia diciptakan menurut gambar dari apa adanya Allah. Menurut sifat-Nya, Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), sedangkan menurut gambar-Nya, Allah adalah kasih, terang, kudus, dan benar. Menurut sifatnya, cincin emas adalah emas, tetapi menurut gambarnya, cincin adalah cincin. Allah sebagai Roh mengacu kepada sifat hakiki-Nya, tetapi Allah sebagai kasih, terang, kudus, dan benar mengacu kepada gambar-Nya.
Dalam Perjanjian Lama, Sepuluh Perintah Allah adalah potret dari apa adanya Allah, potret dari Dia yang memberikan hukum. Hukum yang digunakan pada kebanyakan masyarakat hari ini dibuat berdasarkan hukum Roma. Hukum Roma ditulis terutama berdasar pada Sepuluh Perintah Allah. Unsur yang menyusun Sepuluh Perintah Allah adalah kasih, terang, kudus, dan benar. Keempat unsur ini adalah atribut dari gambar Allah. Menurut gambar-Nya, Allah adalah kasih, terang, kudus, dan benar. Karena itu, ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, Allah menciptakan manusia menurut kasih, terang, kudus, dan benar. Umat manusia, entah Kristen atau bukan, memiliki karakter kasih, terang, kudus, dan benar. Tidak ada seorang pun yang suka gelap; semua orang suka berada di dalam terang. Tidak ada seorang pun yang suka menjadi biasa-biasa saja; setiap orang ingin menjadi berbeda atau unik. Tidak ada seorang pun yang suka salah; setiap orang suka betul. Hewan tidak memiliki karakter seperti ini, tetapi kita, umat manusia memilikinya.
Karena kejatuhan Adam, karakter-karakter manusia ini dirusak oleh si jahat ketika ia masuk ke dalam kita. Karena itulah, sering kali ada peperangan di dalam kita. Di satu pihak, kita mengasihi orang tua, tetapi ketika marah, kita menjadi begitu marah kepada mereka. Itu adalah peperangan. Kita senang jujur, tetapi sering kali, ketika menghadapi situasi tertentu, kita mungkin berbohong. Walaupun kadang-kadang kita menang dalam peperangan itu, tetapi sering kali sifat kita yang jatuh tidak cukup kuat untuk bertahan menghadapi unsur-unsur negatif. Dalam Roma 7:19-20 Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.” Dosa dianggap sebagai suatu pribadi, mengambil tindakan seperti satu pribadi di dalam kita.
Melalui keselamatan Allah, kita ditaruh di dalam Allah, dan Allah juga masuk ke dalam kita. Sekarang, di dalam kita ada perbauran antara ilahi dengan insani. Sarung tangan bersatu dengan tangan sebagai isinya. Tangan dan sarung tangan telah menjadi satu kesatuan. Tangan di dalam sarung tangan, dan sarung tangan di luar tangan. Sarung tangan itu mengekspresikan tangan, dan tangan menguatkan serta memberi kekuatan kepada sarung tangan, menjadikan sarung tangan itu nyata. Inilah hidup kristiani. Sebagai orang Kristen, kita harus ingat bahwa kita adalah orang yang sangat kompleks. Kita adalah orang yang telah berbaur dengan persona ilahi, menjadikan kita satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17). Meskipun mengatakan bahwa Kristus adalah isi kita dan kita adalah ekspresi-Nya itu benar, tetapi hubungan kita dengan Kristus lebih dalam dan lebih tinggi daripada itu. Kita telah dibaurkan dengan Kristus. Ini seperti pengokulasian, sebatang ranting dari suatu pohon bertumbuh dan hidup bersama dengan pohon lain (Rm. 11:24).
Kehidupan orang Kristen adalah perbauran antara keilahian dengan keinsanian. Ketika mengasihi, kita harus mengasihi dengan kasih kita, dan kasih Allah sebagai isi dan realitasnya. Kelihatannya hanyalah kasih manusia; tetapi sesungguhnya adalah kasih ilahi. Bukan hanya kasih ilahi sebagai isi dan kasih manusia sebagai ekspresinya, tetapi kasih ilahi berbaur dengan kasih insani sehingga kedua kasih ini menjadi satu kasih. Dengan demikian, sangat sukar bagi kita untuk mengatakan apakah kasih ini merupakan kasih insani atau kasih ilahi. Dalam Filipi 4:8 kasih insani itu termasuk dalam keenam butir kebajikan yaitu kebenaran, kehormatan, kebenaran, kemurnian, kemanisan, dan reputasi baik, sedangkan kasih ilahi diekspresikan dalam butir yang terakhir, pujian.
Perbauran riil antara ilahi dengan insani dilaksanakan melalui persekutuan yang digambarkan dalam ayat 6. Kita harus sering datang kepada Allah melalui berdoa. Itulah sebabnya Perjanjian Baru menyuruh kita untuk tidak berhenti berdoa (1 Tes. 5:17). Berdoa adalah menghirup Allah masuk. Berdoa juga berarti memiliki lalu lintas antara kita dengan Allah. Lalu lintas dua arah ini adalah kesatuan, komunikasi, dan persekutuan kita. Arus listrik adalah lalu lintas dan persekutuan listrik. Tanpa arus listrik, kita tidak dapat menikmati alat-alat listrik seperti lampu. Demikian juga antara kita dengan Allah. Di dalam kita harus selalu ada lalu lintas, aliran, antara kita dengan Allah. Ketika kita berhenti berdoa, lalu lintas itu berhenti. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan adalah sesuatu dalam diri sendiri tanpa Allah. Ketika kita berdoa tak berkeputusan, menjaga diri kita sendiri di dalam aliran, persekutuan, komunikasi, lalu lintas, maka kita menikmati perbauran antara keilahian dengan keinsanian. Dengan demikian, ketika kita menggunakan kasih kita, kita mengekspresikan kasih Allah. Kasih kita adalah kebajikan kita yang berbaur dengan kasih Allah, atribut Allah. Kemudian kita menjadi satu wujud perbauran — manusia Allah, memiliki keilahian yang berbaur dengan keinsanian kita.