PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (8)
Pembacaan Alkitab:
Rm. 5:10-11; 6:4-5; 8:2, 10, 6, 11, 13
DIPERDAMAIKAN MELALUI KEMATIAN ANAK ALLAH,
DISELAMATKAN DALAM HAYAT-NYA,
DAN BERMEGAH DALAM ALLAH
Roma 5:10-11 mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab melalui Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Ayat 10 membicarakan kematian Kristus dan hayat Kristus. Kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Kristus, dan sekarang kita diselamatkan dalam hayat Kristus.
Menurut ayat 11, kita juga bermegah dalam Allah. Bermegah juga mengandung arti bergejolak riang, sangat gembira. Kita bermegah, bergejolak riang, sangat gembira dalam Allah, karena kita telah diselamatkan dalam hayat-Nya. Bergejolak riang adalah sangat gembira. Ketika kita diselamatkan dalam hayat Kristus, kita tidak seharusnya tenang-tenang saja. Setiap hari kita harus bermegah, bergejolak riang, sangat gembira. Ini harus menjadi ekspresi keselamatan kita dalam hayat Kristus.
Kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Kristus, dan sekarang kita diselamatkan dalam hayat-Nya. Keselamatan ini bukan keselamatan kekal kita, tetapi keselamatan sehari-hari kita, keselamatan dari saat ke saat. Jika pencobaan yang kita alami sepertinya berlarut-larut, itu menunjukkan bahwa kita tidak menikmati keselamatan dari saat ke saat. Jika kita mengalami keselamatan ini, kita akan bermegah dan bergejolak riang, dan pencobaan-pencobaan akan lewat dengan cepat. Melalui pengaturan Tuhan, kita sering ditempatkan dalam keadaan yang penuh pencobaan. Cara menikmati keselamatan dalam keadaan seperti itu adalah bermegah, bergejolak riang dan gembira dalam Allah.
Ketika Paulus menulis Roma 5:10-11, ia sangat hatihati. Selain itu, ia tidak menyusun ayat-ayat ini hanya berdasarkan ajaran, tetapi juga berdasarkan pengalamannya. Ia tidak mengatakan bahwa kita bermegah, bergejolak riang, sangat gembira dalam keselamatan kita, melainkan di dalam persona Allah. Kita menikmati keselamatan kita di dalam Allah. Ini menunjukkan bahwa kita mempunyai hubungan langsung, kesatuan, dan persatuan dengan Allah. Kenikmatan kita di dalam Allah mungkin dapat dibandingkan dengan kenikmatan seorang anak terhadap ibunya. Anak kecil hanya memperhatikan kehadiran ibunya. Semakin kecil seorang anak, ia semakin dekat dengan ibunya. Anda dapat mengambil segala sesuatu dari seorang bayi, hal itu tidak akan membuatnya merasa terganggu, tetapi Anda tidak dapat mengambil kehadiran ibunya. Demikian juga dengan kita, kita menikmati keselamatan Kristus dalam persona Allah.
Perkataan Paulus dalam ayat-ayat ini sangat indah, khususnya dalam penggunaan kata depan. Melalui kematian Anak Allah, kita diperdamaikan dengan Allah, tetapi dalam hayat-Nyalah kita diselamatkan setiap hari. Ini berarti bahwa jika kita tidak berada dalam Allah secara pengalaman, kita tidak dapat diselamatkan dalam hayat Kristus. Kita harus memiliki kesatuan yang langsung dan terusmenerus dengan Allah. Untuk diselamatkan dari menit ke menit, kita harus berada dalam Allah, di dalam kesatuan yang langsung, terus-menerus, dan seketika dengan Allah. Selanjutnya, kita dapat bermegah, bergejolak riang, dan gembira, bukan di dalam kematian Kristus atau bahkan di dalam hayat-Nya, tetapi di dalam persona Allah Tritunggal. Kita bersatu dengan-Nya dari saat ke saat.
HIDUP DALAM KEBARUAN HAYAT
DAN MENJADI SATU DENGAN RUPA KEBANGKITAN-NYA
Roma 6 dan 8 adalah penjelasan mengenai diselamatkan dalam hayat Kristus dari saat ke saat. Roma 6:4-5 mengatakan, “Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru (kebaruan hayat). Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Diselamatkan dalam hayat Kristus dalam Roma 5:10 berhubungan dengan hidup dalam kebaruan hayat dalam 6:4. Jika kita diselamatkan dalam hayat-Nya, maka kita akan hidup dalam kebaruan hayat. Kadang kala suami memberi istrinya muka yang tidak sedap dipandang. Dalam keadaan seperti itu, saudari harus hidup dalam kebaruan hayat. Inilah diselamatkan dalam hayat Kristus. Akan tetapi, jika ia membalas dengan memberikan muka yang tidak menyenangkan pula, ia tidak hidup dalam kebaruan hayat Kristus. Sebaliknya, ia berada dalam keusangan kematian Adam.
Kebaruan hayat dalam ayat 4 sama dengan kebangkitan dalam ayat 5. Ketika Tuhan Yesus keluar dari kubur, Ia memiliki kebaruan hayat. Kebangkitan adalah kebaruan hayat, tetapi kematian adalah keusangan. Orang yang mati tidak mempunyai apa-apa kecuali keusangan, tetapi dalam diri orang yang bangkit, ada kebaruan hayat. Ketika sang suami memberi muka yang kurang menyenangkan kepada istrinya, sang istri seharusnya membalas dengan wajah yang bersukaria. Wajah yang demikian adalah wajah di dalam rupa kebangkitan. Keselamatan kita dalam kehidupan sehari-hari adalah hidup dalam kebaruan hayat, dan hidup dalam kebaruan hayat adalah menempuh kehidupan dalam kebangkitan hayat.
Untuk hidup dalam kebangkitan, pertama-tama kita harus mati. Tanpa mati, tidak akan ada kebangkitan. Ayat 4 mengatakan, “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian.” Kita telah dikuburkan ke dalam kematian Kristus. Mula-mula Yesus dibunuh dan kemudian dikubur, tetapi kita mula-mula dikubur baru kemudian mati. Dalam baptisan, kita menguburkan persona yang hidup ke dalam kematian. Tetapi kematian ini tetap tinggal di dalam kolam baptisan. Ketika kita keluar dari air, kita dibangkitkan. Kita semua perlu nampak visi kematian Kristus dan kebangkitan-Nya. Ketika Ia disalibkan, kita juga disalibkan dengan-Nya (Gal. 2:20a). Ketika Ia disalibkan, di atas salib, kita semua termasuk di dalam-Nya. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, telah disalibkan di atas salib pada saat yang sama dan dalam kematian yang sama. Selain itu, ketika Ia bangkit, jutaan kaum beriman-Nya juga dibangkitkan bersama Dia (Ef. 2:6; 1 Ptr. 1:3).
Ketika kita percaya, kita percaya ke dalam-Nya. Kata depan “ke dalam” menunjukkan bahwa kini seseorang telah berada di dalam orang lain. Tadinya kita berada di dalam Adam, tetapi ketika kita percaya Kristus Yesus, kita percaya ke dalam-Nya. Kita telah dipindahkan. Sekarang kita berada di dalam Kristus yang telah mati dan bangkit. Karena berada di dalam Dia, maka apa pun yang Dia alami, menjadi sejarah kita. Kita mati di dalam Kristus kurang lebih dua ribu tahun yang lalu dan juga dikubur bersama Dia di dalam kubur-Nya. Sekarang kita berada di dalam kebangkitan-Nya. Karena itu, kita tidak seharusnya hidup dalam hayat yang lama. Hayat yang lama telah diakhiri dan bahkan dikubur. Sekarang kita harus hidup dalam hayat kebangkitan, dalam kebangkitan Kristus.
Para suami dan para istri yang wajahnya bergejolak riang, hidup dalam hayat Kristus. Ekspresi hayat ini adalah kebangkitan. Kebangkitan Kristus adalah ekspresi sesuatu yang baru. Karena itu, hidup dalam hayat Kristus adalah hidup dalam kebaruan hayat. Roma 6 menunjukkan kepada kita bahwa kita telah mati dan dikubur dan sekarang berada dalam kebangkitan-Nya. Ketika hidup dalam kebangkitan ini, kita hidup dalam kebaruan hayat Kristus. Jika kita ingin diselamatkan setiap hari dan terus-menerus, kita harus mengenal bahwa kita adalah orang-orang yang telah mati dan dikubur. Tetapi kita tidak lagi di dalam kubur; sekarang kita berada dalam kebangkitan.
Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kubur; Ia meninggalkan kain kafan dan kain peluh yang membungkus-Nya (Yoh. 20:5-7). Ketika Petrus datang ke kubur dan melihat semuanya rapi tersusun, ia tahu bahwa Tuhan telah bangkit. Segala sesuatu yang ditinggalkan di dalam kubur merupakan kesaksian kebangkitan Tuhan. Kain kafan dan kain peluh melambangkan ciptaan lama yang dikenakan Tuhan untuk masuk ke dalam kubur. Ia disalibkan bersama ciptaan lama dan juga dikuburkan bersama ciptaan lama. Ketika bangkit, Ia meninggalkan ciptaan lama di dalam kubur-Nya dan menjadi buah sulung, penunasan ciptaan baru Allah. Segala milik ciptaan lama, termasuk kita, telah diakhiri dan ditinggalkan di dalam kubur Kristus. Kita adalah bagian dari ciptaan lama yang dilambangkan oleh kain kafan dan kain peluh yang dikenakan Tuhan Yesus. Kita semua terkubur dengan Dia, dan ketika Ia bangkit, Ia meninggalkan kita di dalam kubur. Sekarang, kita harus tetap tinggal di dalam kubur. Pengakhiran dan penguburan ciptaan lama sepenuhnya dilambangkan oleh baptisan. Ciptaan lama telah dikubur di dalam air baptisan.
Memberikan wajah yang asam kepada pasangan kita adalah membangkitkan manusia lama yang telah dikubur. Kita seharusnya tidak mengizinkan manusia lama kembali hidup bersama kita. Jika kita mengizinkan manusia lama kembali, kita tidak hidup dalam kebaruan hayat. Sebaliknya, kita berada dalam keusangan kematian. Kita harus menempuh hidup dalam kebangkitan, dan hidup ini berdasar pada kematian Kristus yang almuhit. Cerita orang Kristen adalah cerita yang ajaib. Ada aspek sejarah yang berisi fakta-fakta dan ada juga aspek pengalaman, aspek kehidupan kita sehari-hari. Menurut sejarah, manusia lama telah dikubur, tetapi dalam hidup sehari-hari kita, manusia lama tetap tinggal bersama kita. Rumah adalah tempat tinggal bagi orang hidup, sedangkan kubur adalah tempat tinggal orang mati. Demikian juga, tubuh kita adalah kubur bagi ciptaan lama. Kita harus memberi tahu manusia lama, “Aku bukan rumah bagimu untuk hidup. Aku adalah kubur bagimu untuk dikubur.”
JALAN UNTUK MENGALAMI HAYAT
Roma 8 memberi kita jalan untuk mengalami hayat Kristus. Dalam pasal ini ada lima ayat penting yang berhubungan dengan hayat. Ayat 2 membicarakan Roh hayat. Ayat 10 mengatakan, jika Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat. Ayat 6 mengatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat. Ayat 11 mengatakan bahwa Roh yang berhuni di dalam kita memberikan hayat bahkan kepada tubuh kita yang fana. Roh itu adalah hayat, roh kita adalah hayat, pikiran kita adalah hayat, dan bahkan tubuh kita adalah hayat. Akhirnya, ayat 13 mengatakan bahwa kita perlu mematikan perbuatanperbuatan tubuh oleh Roh yang berhuni di dalam kita. Jika kita melakukannya, seluruh diri kita akan hidup. Di satu pihak, ayat-ayat ini berbicara dari Roh Kudus, dan di pihak lain dari roh manusia. Kedua roh ini berbaur menjadi satu roh. Penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita menjadikan kita hayat dalam ketiga bagian diri kita: pertama, dalam roh kita; kedua, dalam pikiran kita, bagian utama dari jiwa kita; dan ketiga, dalam tubuh kita. Kita menjadi persona di dalam hayat. Dengan demikian, kita diselamatkan dalam hayat Kristus dari saat ke saat dan kita menempuh hidup dalam kebangkitan. Selain itu, unsur kebangkitan adalah kebaruan dari hayat ini. Sekarang, setelah diperdamaikan dengan Allah, kita diselamatkan dalam hayat yang demikian, hayat yang telah melewati kematian dan dikubur, dan hari ini berada dalam kebangkitan.
TANYA JAWAB
Tanya: Roma 6:4 mengatakan bahwa kita telah dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan dalam kematian. Kemudian ayat 5 mengatakan bahwa kita menjadi serupa dengan kebangkitan-Nya. Akan tetapi, catatan 3 dari Filipi 3:10 dalam Versi Pemulihan mengatakan, “Bagi Kristus, penderitaan dan kematian datang lebih dulu, diikuti oleh kebangkitan-Nya. Bagi kita, kuasa kebangkitan-Nya datang lebih dulu, diikuti oleh partisipasi dalam penderitaan-Nya dan penyerupaan dengan kematian-Nya.” Sebenarnya, kita mengalami kematian dulu atau kebangkitan dulu?
Jawab: Dalam Roma 6, kematian adalah yang pertama, kemudian diikuti dengan kebangkitan. Menurut fakta, kebangkitan berdasar pada kematian. Fakta-fakta tersebut adalah sejarah kita; pertama, kita mati dengan Kristus, kemudian dibangkitkan. Tetapi Filipi 3 bukan ditulis menurut fakta, melainkan menurut pengalaman. Dalam pengalaman kita, kebangkitan diikuti dengan kematian. Kekuatan kebangkitan adalah Kristus sendiri. Karena Dia ada di dalam kita, kita mempunyai kekuatan kebangkitan. Dengan kekuatan ini, kita mampu menempuh hidup pada jalan kematian Kristus, di dalam cetakan kematian-Nya.
Tanya: Sering kali ketika keadaan di luar dugaan kita, ada reaksi dari manusia lama di dalam kita. Bagaimana menanggulangi reaksi ini? Apakah pada saat itu kita hanya mengatakan, “Tidak,” kepada manusia lama, atau kita harus tinggal “pada puncak gunung” setiap saat agar siap menghadapi segala keadaan?
Jawab: Tuhan Yesus dengan ketiga murid-Nya tinggal di puncak gunung tidak lama (Mat. 17:1-8). Ketika turun dari gunung, mereka menemukan kasus kerasukan setan (ayat 14-21). Kita harus nampak bahwa lingkungan kita berubah setiap waktu. Tuhan Yesus ada di puncak gunung, Ia juga ada di lembah. Menurut penyertaan-Nya, tidak ada perbedaan antara gunung dengan lembah. Ia selalu sama. Kita tidak seharusnya memperhatikan keadaan; kita seharusnya hanya memperhatikan penyertaan-Nya. Kita tidak hidup menurut lingkungan. Bagi orang-orang yang belum percaya, aspek pengalaman mereka satu-satunya adalah lingkungan. Tetapi kita, kaum beriman, hidup menurut penyertaan Tuhan. Hal ini memerlukan pengalaman terhadap Tuhan dari hari ke hari. Jika kita mempunyai pengalaman yang memadai akan Tuhan setiap hari; kita tidak akan terpengaruh ketika lingkungan berubah.