← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 17/31

PENGALAMAN HAYAT (9)

Pembacaan Alkitab:

2 Kor. 3:15-18

TRANSFORMASI DAN PERTUMBUHAN DALAM HAYAT

Dalam berita sebelumnya kita telah membahas Roma 6 dan 8 serta seluruh Kitab Filipi yang berkenaan dengan pengalaman dan pertumbuhan hayat. Dalam berita ini kita akan membahas bagaimana pengubahan (transformasi) berhubungan dengan pertumbuhan kita dalam hayat. Ukuran pertumbuhan hayat tergantung pada ukuran transformasi kita.

Dua Korintus 3:15-18 mengatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan. Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Butir utama dari ayat ini adalah transformasi.

DIPINDAHKAN ADALAH UNTUK TRANSFORMASI

Dalam 2 Korintus 3 dan 4, Paulus terutama membicarakan ministri Perjanjian Lama dan ministri Perjanjian Baru. Dalam pasal 3, ia membicarakan transformasi. Allah memindahkan kita dari ministri Perjanjian Lama kepada ministri Perjanjian Baru. Perpindahan ini adalah untuk transformasi. Karena kita telah dipindahkan, kita dapat ditransformasi.

Hati yang Menyimpang Adalah Selubung di Bawah Perjanjian Lama

Di bawah ministri Perjanjian Lama, ada selubung yang menutupi hati. Dua Korintus 3:14-15 mengatakan, “Sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama . . . Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.” “Hari ini” ditujukan pada saat Paulus menulis surat kepada orang-orang Korintus, ketika ia melaksanakan ministri Perjanjian Baru. Sampai pada saat itu, orang Yahudi masih memiliki selubung yang menyelubungi hati mereka apabila mereka membaca Perjanjian Lama. Hari ini, dua ribu tahun kemudian, keadaan kebanyakan orang Yahudi masih tetap sama.

Kelihatannya guru-guru Yahudi dan orang Yahudi yang menuntut itu mengasihi Allah, tetapi kasih mereka kepada Allah adalah menurut tradisi mereka. Menurut berita akhir-akhir ini, para pemimpin agama Yahudi melarang umatnya menginjak Bukit Bait Suci, karena diduga lokasi Bait Suci ada di situ, supaya mereka jangan dengan tidak disengaja menginjak tempat bersejarah ruang maha kudus sehingga melukai hati Allah. Inilah contoh ketaatan mereka kepada Allah menurut tradisi mereka. Mereka memang mengasihi Allah, tetapi kasih mereka benar-benar berdasarkan tradisi dan tidak ada terang sedikit pun dari Tuhan. Mereka membaca Perjanjian Lama, tetapi sama sekali tidak melihat terang.

Banyak orang Yahudi yang sangat taat, tetapi mereka juga sepenuhnya terselubung. Kelihatannya hati mereka mengasihi Tuhan; sesungguhnya hati mereka masih menyimpang jauh dari Tuhan. Dalam 2 Korintus 3:15-16 Paulus mengatakan, “Ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu.” “Hati” dalam ayat 16 ditujukan kepada “hati” dalam ayat 15. Ini berarti apabila hati berbalik kepada Tuhan, selubung itu diambil dari orang itu. Selubung itu adalah hati mereka yang menyimpang. Karena arah hati mereka salah, maka mereka berselubung. Jika sudut pandang kita saat melihat suatu benda salah, kita tidak dapat melihatnya. Kita harus memperbaiki sudut pandang kita, baru kita dapat melihat dengan jelas. Diri kita yang mempunyai sudut pandang salah adalah selubung. Jika kita memalingkan diri kita ke sudut pandang yang benar, kita akan nampak. Pada zaman Paulus, banyak orang Yahudi yang mencari Allah, tetapi arah hati mereka salah. Karena arah mereka tidak tepat, maka mereka menjadi selubung bagi diri mereka sendiri. Karena itu, Paulus mengatakan, “Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari orang itu”

(2 Kor. 3:16).

Dalam Perjanjian Baru Allah Tritunggal Telah Melewati Proses

untuk Menjadi Roh Pemberi-hayat

Dalam Perjanjian Baru, selubung itu telah diambil dan Tuhan adalah Roh itu (2 Kor. 3:17). Dalam Perjanjian Lama, Tuhan sebagai Roh itu belum ada, karena Allah belum melewati proses apa pun. Dalam Perjanjian Lama, sebelum proses inkarnasi, menempuh kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan, Allah Tritunggal tetap adalah Allah yang “mentah”. Tetapi dalam Perjanjian Baru, setelah melewati semua proses ini, Tuhan menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Sekarang, Ia tidak lagi “mentah”; Ia adalah Allah Tritunggal yang telah melewati proses. Dalam kebangkitan, Tuhan sebagai Adam yang akhir menjadi Roh pemberihayat, tidak hanya memiliki keilahian, tetapi juga memiliki keinsanian. Adam yang akhir ditujukan kepada keinsanian-Nya. Adam yang pertama hanyalah manusia yang diciptakan, tetapi Adam yang akhir adalah Allah berinkarnasi, yaitu Allah sendiri dengan keinsanian-Nya menjadi Roh pemberi-hayat.

SEJARAH ALLAH TRITUNGGAL

Inkarnasi, Tersalib, Bangkit, Rampung di Dalam Roh Itu

llah menjadi manusia dan manusia ini menjadi Roh pemberi-hayat, ini adalah rahasia yang besar. Kita tidak akan pernah memahami rahasia ini sepenuhnya. Allah Tritunggal melewati proses inkarnasi, menempuh kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan untuk memberikan hayat kepada kita, ini adalah kisah yang paling ajaib dalam seluruh alam semesta. Kisah ini adalah kisah nyata. Allah Tritunggal sendiri menjadi manusia yang bertubuh daging. Ia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian Ia dengan sukarela pergi ke salib dan disalibkan selama enam jam untuk menggenapkan kematian yang almuhit. Lalu Ia dikubur, tiga hari kemudian, Ia keluar dari kematian di dalam kebangkitan. Ketika Ia hidup di bumi, pergi ke salib, disalibkan, dikubur, dan dibangkitkan, Ia ada di dalam keinsanian-Nya. Ia melaksanakan semuanya di dalam keinsanian-Nya. Melalui proses yang demikian, keinsanian-Nya dipertinggi. Ia dipindahkan dan ditransformasi dari daging menjadi Roh itu. Dipindahkannya Dia meliputi transformasi, transformasi keinsanian ke dalam keilahian. Ini adalah prosedur bagi-Nya untuk “diputrakan”. Diputrakan adalah transformasi, perpindahan, yang membuat Tuhan, persona yang memiliki keilahian dan keinsanian menjadi Roh itu. Tuhan adalah Roh itu (2 Kor. 3:17) menyiratkan semuanya ini. Sejarah terbesar di antara semua sejarah adalah Allah menjadi manusia dan dipindahkan serta ditransformasi menjadi Roh itu. Roh itu adalah perampungan sempurna sejarah ilahi.

Perbesaran, Perluasan, dan Pertambahan Kristus

Kita juga berbagian dalam sejarah ilahi yang belum lengkap ini. Kitab Kisah Para Rasul adalah sejarah Yesus yang berlangsung terus melalui kaum beriman-Nya; karena itu, kitab itu tidak mempunyai akhir atau kesimpulan, karena masih ditulis hingga hari ini. Inilah sejarah Allah di dalam Kristus bersama kaum beriman-Nya sebagai perbesaran, perluasan, dan pertambahan-Nya.

Kita, kaum beriman, adalah bagian dari perbesaran Kristus. Inilah wahyu yang diterima Paulus ketika Tuhan berbicara kepadanya dari surga dalam perjalanannya ke Damsyik dalam Kisah Para Rasul 9. Ketika Paulus menganiaya orang-orang yang percaya kepada Yesus, ia tidak pernah berpikir bahwa ia menganiaya Yesus. Tetapi ketika Tuhan Yesus berkata kepadanya, Tuhan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”(ayat 4). Firman ini menunjukkan bahwa pengikut-pengikut Yesus menjadi bagian dari diri Yesus sendiri.

DIPINDAHKAN DAN DITRANSFORMASI

Dalam 2 Korintus 3:16-18 ada lima butir yang menunjukkan bagaimana kita dipindahkan dan bagaimana kita ditransformasi. Pertama, hati berbalik kepada Tuhan. Kedua, selubung diambil. Ketiga, Tuhan adalah Roh itu. Keempat, di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan. Akhirnya, kita diubah melalui mencerminkan dan memantulkan kemuliaan Tuhan.

Dipindahkan dari Ministri Perjanjian Lama kepada Ministri Perjanjian Baru

Dipindahkan adalah dipindahkan dari ministri Perjanjian Lama kepada ministri Perjanjian Baru. Pemikiran utama dalam 2 Korintus 3 bukanlah kita dipindahkan dari Adam ke dalam Kristus. Itu adalah pemikiran dalam Roma 6—8. Sebaliknya, pemikiran di sini adalah kita telah dipindahkan dari tulisan-tulisan lama, ajaran lama, yang berdasar pada huruf yang tertulis, kepada ajaran Perjanjian Baru yang berdasar pada Roh itu. Jadi, kita telah dipindahkan dari ministri lama kepada ministri baru.

Mengajarkan Perjanjian Baru Menurut Ministri Perjanjian Lama Berlawanan dengan Mengajarkan Alkitab Menurut Ministri Perjanjian Baru

Perjanjian Baru sering diajarkan sebagai sejarah menurut ministri Perjanjian Lama dalam huruf tanpa terang yang sejati. Ajaran yang demikian menghasilkan kematian (2 Kor. 3:6). Perjanjian Baru dalam tangan orang yang berbeda akan menjadi kitab yang berbeda pula. Kitab Kisah Para Rasul dalam tangan beberapa orang dalam kekristenan telah dibuat menjadi sesuatu yang berasal dari Perjanjian Lama dalam huruf yang tertulis. Ketika masih muda, saya mempelajari Kitab Kisah Para Rasul dalam sebuah sekolah Kristen. Saya hanya diajar hal-hal seperti berapa jarak antara Samaria dan Yerusalem dan sejarah orang-orang Samaria. Semuanya itu memang ada dalam Kitab Kisah Para Rasul, tetapi mempelajari Kitab Kisah Para Rasul secara demikian hanyalah berdasar pada huruf yang tertulis. Ketika Kitab Kisah Para Rasul diajarkan berdasarkan ministri Perjanjian Baru, Kristus disuplaikan ke dalam Anda dengan terang, hayat, dan anugerah. Ministri Kristus ini akan menghasilkan Kerajaan Allah, yang adalah gereja hari ini (Rm.14:17). Tujuan ministri saya adalah membantu Anda untuk dipindahkan dari ajaran hurufhuruf yang tertulis ke dalam ajaran Roh itu. Catatan kaki dalam Perjanjian Baru Versi Pemulihan ditulis dengan tujuan ini.

Hari ini kita berada di dalam zaman Perjanjian Baru dan kelihatannya berada di bawah ministri Perjanjian Baru. Tetapi, sering kali kita tidak benar-benar berada di bawah ministri Perjanjian Baru. Meskipun kita membaca Perjanjian Baru, kita kebanyakan berada di dalam zaman Perjanjian Lama dan di bawah ministri Perjanjian Lama. Karena itu, kita harus menyadari kebutuhan kita untuk memalingkan hati kita kepada Tuhan setiap hari. Apabila kita memalingkan hati kita kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari kita, kita akan melihat Tuhan dengan jelas, dan tertarik kepada-Nya. Semakin kita melihat Dia, kita semakin mengasihi Dia. Tuhan yang kita kasihi hari ini adalah Roh itu, dan di mana ada Roh itu, di situ ada kemerdekaan.

DITRANSFORMASI MELALUI MEMANDANG

DAN MEMANTULKAN TUHAN

Dalam 2 Korintus 3:18 dikatakan, kita sebagai cermin memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Semakin cermin memandang suatu benda, cermin itu semakin memantulkan benda tersebut. Cermin diubah menjadi serupa dengan gambaran benda itu. Kita sebagai cermin yang memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan sedang ditransformasi menjadi serupa dengan gambar-Nya.

TRANSFORMASI ADALAH PROSES METABOLISME

Transformasi adalah proses metabolisme. Pertama, kita dipindahkan dari ministri Perjanjian Lama kepada ministri Perjanjian Baru. Kemudian dalam perpindahan ini, kita ditransformasi. Dalam perpindahan ini sendiri, tidak terjadi proses metabolisme, tetapi dalam transformasi sesuatu yang metabolis terjadi. Transformasi adalah proses metabolisme, unsur baru ditambahkan ke unsur semula. Air sebagai satu unsur dapat ditransformasi dengan menambahkan unsur lain seperti jeruk lemon. Air dan lemon dapat berbaur bersama. Perbauran itu adalah transformasi. Perbauran antara air dan lemon tidak sepenuhnya menggambarkan proses transformasi, karena tidak ada pekerjaan hayat di sana.

Sebagai kaum beriman, kita mempunyai hayat insani, dan Tuhan yang adalah Roh itu memberikan hayat ilahi ke dalam kita. Kedua hayat ini berbaur menjadi satu. Dalam perbauran ini, ada pekerjaan hayat pada kedua bagian hayat tersebut. Pekerjaan hayat dari kedua bagian ini pada akhirnya menjadi satu pekerjaan metabolisme. Ketika kedua unsur hayat ditambahkan, terjadilah proses metabolisme yang menghasilkan transformasi.

Dalam 2 Korintus 3:18 versi King James digunakan istilah “changed”. Di sini seharusnya digunakan istilah “transformed” dan bukan “changed”, karena istilah Yunani di sini adalah metamorphoo. Istilah changed sendiri tidak menunjukkan metabolisme atau transformasi. Jika wajah saya pucat, saya dapat mengubah penampilannya dengan menambahkan warna merah jambu pada wajah saya. Ini adalah “changed” tetapi bukan “transformed”, karena tidak terjadi sesuatu yang metabolis. Tetapi jika saya makan dengan menambahkan beberapa vitamin dalam makanan saya dan tidur dengan baik, wajah saya yang pucat pada akhirnya akan ditransformasi menjadi wajah yang kemerah-merahan. Inilah transformasi.

TRANSFORMASI MELALUI PERBAURAN

ANTARA KEINSANIAN DENGAN KEILAHIAN

Saat memindahkan kita dari Adam kepada Kristus, dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru, dari ajaran lama kepada ajaran baru, dan dari ministri Perjanjian Lama kepada ministri Perjanjian Baru, unsur ilahi ditambahkan ke dalam diri kita. Sekarang, perbauran kedua unsur ini telah menghasilkan metabolis akibat dari transformasi. Cara agar unsur ilahi terus-menerus ditambahkan ke dalam kita adalah melalui kita memandang dan memantulkan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Itulah sebabnya kita perlu penyegaran pagi setiap hari. Selanjutnya, setelah penyegaran pagi, sepanjang hari, kita masih perlu memandang dan memantulkan Tuhan yang adalah Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh pemberi-hayat, Ia memberi kita kemerdekaan. Pada saat kita memandang dan memantulkan Dia, kita menerima unsur ilahi yang menghasilkan transformasi.

DIUBAH MENJADI SERUPA DENGAN

GAMBAR KRISTUS YANG DIMULIAKAN

Kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus yang dimuliakan. Gambar kita, yang adalah ekspresi dari apa adanya kita, menjadi sama seperti Kristus yang dimuliakan. Ia kudus, kita juga kudus. Ia kasih, kita juga adalah kasih. Ia sabar, kita juga sabar. Ia penuh dengan wibawa, demikian juga kita. Inilah pertumbuhan hayat melalui transformasi.

Transformasi adalah dari Tuhan Roh (2 Kor. 3:18). Istilah majemuk Tuhan Roh ditujukan kepada satu persona. Hari ini, Allah Tritunggal adalah Tuhan Roh. Dari Dialah dihasilkan transformasi, perbauran antara keilahian dengan keinsanian.

Kesimpulannya, transformasi adalah menerima unsur ilahi ke dalam diri kita melalui memandang dan memantulkan Tuhan, yang menyebabkan terjadinya proses metabolisme. Proses metabolisme ini adalah transformasi, perbauran antara keinsanian dengan keilahian, untuk mengekspresikan gambar yang sama dengan Kristus yang mulia, yang adalah Manusia-Allah.