PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (9)
Pembacaan Alkitab:
2 Kor. 4:6-12, 16
MINISTRI DAN PARA MINISTER PERJANJIAN BARU
Dua Korintus dapat dianggap sebagai otobiografi Paulus. Dalam beberapa pasal pertama kitab ini, banyak butir yang mendalam mengenai hayat serta pekerjaan Paulus dan para sekerjanya sebagai para minister Perjanjian Baru. Mereka bukan sekadar dididik, diperlengkapi, atau diajar dalam ministri Perjanjian Baru. Mereka tersusun dengannya. Dalam pembicaraan rasul mengenai ministri mereka bagi Perjanjian Baru Allah, ada lima kiasan yang sangat penting dan ekspresif (menyatakan perasaan) yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana mereka sebagai para minister perjanjian baru dan ministri mereka dibentuk, bagaimana mereka bertingkah laku dan hidup, dan bagaimana mereka melaksanakan ministri mereka.
Tawanan Kristus
Pertama, para minister perjanjian baru adalah para tawanan dalam pawai kemenangan bagi perayaan kemenangan Kristus (2:14a). Mereka telah dikalahkan dan telah ditangkap. Sejak Paulus, saat masih sebagai Saulus dari Tarsus, dikalahkan dan ditangkap oleh Kristus, ia adalah tawanan di bawah kekuatan dan kekuasaan Kristus. Di satu pihak, kita telah dimerdekakan oleh Kristus; kita adalah orang-orang yang dibebaskan, sekarang kita memiliki kemerdekaan dan kebebasan. Tetapi, di pihak lain, kita telah ditangkap oleh Kristus. Setiap orang yang telah dibebaskan oleh Kristus adalah tawanan Kristus. Jika sesuatu dari Kristus ditransfusikan ke dalam kita, kita pasti adalah para tawanan. Hari ini di Amerika, setiap orang menghargai kemerdekaan, kebebasan, dan hak asasi mereka, dan tidak ada seorang pun yang ingin dianggap sebagai tawanan. Tetapi, kita adalah para tawanan Kristus.
Pembawa Ukupan untuk Menyebarkan Keharuman Kristus
Sebagai tawanan, para minister perjanjian baru juga adalah para pembawa ukupan untuk menyebarkan keharuman Kristus yang adalah jendral penakluk (2:14b-16). Kita bukan hanya tawanan Kristus, tetapi juga para pembawa ukupan-Nya, menyebarkan keharuman-Nya kepada orang lain.
Surat yang Ditulis dengan Kristus
Sebagai rasul, Paulus dan para sekerjanya adalah surat-surat, Surat Kiriman yang ditulis dengan Kristus sebagai isinya (3:1-3). Roh Allah adalah “tinta”, unsur yang digunakan untuk menulisi Paulus sehingga menjadi surat Kristus. Ia adalah surat hidup yang ditulis oleh Roh Kudus dengan semua realitas Kristus sebagai unsur tulisannya. Hari ini, ketika kita membaca otobiografi Paulus, kita dapat melihat Kristus. Kita dapat membaca Kristus di dalamnya. Apa yang ditulis di dalam Surat Kiriman Paulus hanyalah Kristus. Kristus disampaikan kepada para pembaca dalam setiap kitab yang ditulisnya.
Orang-orang Kristen tertentu menekankan bahwa kita tidak seharusnya meninggikan seorang pun. Tetapi, selama sembilan belas abad, Paulus sangat banyak dipuji. Paulus selalu dihubungkan dengan Kristus, karena Paulus adalah surat Kristus. Ketika kita membacanya, kita nampak Kristus. Tidaklah mudah untuk tidak menyebutkan Paulus ketika kita membicarakan Kristus. Keempat belas Surat Kiriman Paulus merupakan setengah dari kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru. Tanpa keempat belas Surat Kiriman ini, Perjanjian Baru tidak akan lengkap (Kol. 1:25).
Sewaktu orang-orang Korintus masih berdosa, tidak mengenal Kristus, Paulus datang kepada mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Ia melahirkan mereka di dalam Kristus melalui Injil dan menjadi bapa rohani mereka (1 Kor. 4:15). Secara prinsip, Paulus juga melahirkan kita. Selama 60 tahun yang lampau, bantuan terbesar yang saya dapatkan dari Perjanjian Baru adalah dari Surat-surat Kiriman Paulus. Tanpa keempat belas Surat Kiriman ini, akan ada kekurangan yang sangat besar. Karena Kristus itu almuhit dan rahasia, maka keempat kitab Injil saja tidaklah cukup untuk membuat-Nya menjadi jelas bagi kita. Tanpa Surat-surat Kiriman Paulus, akan sukar bagi kita untuk mengenal siapakah Kristus.
Dalam keempat belas Surat Kiriman, kita nampak Kristus sampai ke taraf yang jauh lebih tinggi daripada yang digambarkan dalam keempat kitab Injil. Kita nampak Kristus yang almuhit dan rahasia, Dia adalah rahasia Allah (Kol. 2:22) dan yang menghasilkan rahasia Kristus, yaitu gereja (Ef. 3:4). Butir yang paling mencolok dari Surat-surat Kiriman Paulus adalah di dalam surat-surat tersebut ia menyingkapkan rahasia yang kekal dan universal. Allah memiliki rahasia yang direncanakan-Nya dalam kekekalan yang lampau, tetapi keempat kitab Injil tidak berbicara banyak mengenai rencana kekal Allah sebagai rahasia seluruh alam semesta. Tetapi, Paulus menyingkapkan kepada kita rahasia Kristus yang almuhit sebagai Kepala untuk menghasilkan Tubuh. Gereja sebagai Tubuh Kristus hanya disampaikan oleh Paulus, bukan oleh Petrus, Yohanes, atau pun penulis Perjanjian Baru yang lain. Kita sungguh berhutang terhadap tulisan-tulisan Paulus.
Paulus disusun oleh Kristus dan adalah surat Kristus yang hidup. Karena tulisan-tulisan Paulus mengekspresikan apa adanya dia, maka surat-surat itu juga adalah surat Kristus. Ketika kita membaca Surat Kiriman Paulus, kita membaca Kristus. Surat Kiriman Paulus terutama bukan mengungkapkan dirinya sendiri, tetapi Kristus yang dengan-Nya dia tersusun sampai tingkat yang sedemikian rupa sehingga dia dapat berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Paulus hidup dan melakukan banyak hal, namun itu bukan lagi dia, melainkan Kristus. Ketika kita membaca Surat-surat Kiriman Paulus, kita membaca dia, tetapi apa yang kita lihat bukan Paulus sendiri, melainkan Kristus sebagai unsur penyusunnya. Kita seharusnya juga disusun dengan Kristus. Secara prinsip, nama Kristus seharusnya juga merupakan bagian dari nama kita, karena ketika orang-orang membaca kita, mereka melihat Kristus. Bukan lagi kita, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Bagi kita, hidup bukan diri kita sendiri, melainkan Kristus (Flp. 1:21). Kristus adalah pribadi kita dan realitas pribadi kita. Menurut prinsip ini, kita bukanlah orang Amerika atau orang China; kita adalah Kristus.
Cermin yang Memandang dan Memantulkan Kemuliaan Kristus
Paulus dan para sekerjanya juga adalah cermin yang memandang dan memantulkan kemuliaan Kristus dengan muka yang tidak berselubung, agar ditransformasi serupa dengan gambar mulia-Nya (2 Kor. 3:18). Manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26), dan Kolose 1:15 mengatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Gambar mulia yang diwahyukan dalam 2 Korintus 3 adalah gambar ilahi dalam Kejadian 1:26. Tetapi, pada saat Kejadian 1:26, Kristus tidak memiliki unsur inkarnasi, keinsanian, kealmuhitan-Nya, kematian-Nya yang indah, dan kebangkitan-Nya yang menakjubkan. Sekarang unsurunsur ini telah ditambahkan kepada Kristus melalui proses yang telah dilalui oleh Allah Tritunggal. Sekarang, gambar Allah bukan hanya gambar keilahian, tetapi gambar keilahian berbaur dengan keinsanian serta tersusun dengan kematian yang almuhit dan kebangkitan yang ajaib.
Bejana Tanah Liat Berisi Harta yang Melimpah-limpah
Para rasul juga adalah bejana tanah liat untuk menyimpan Kristus yang mulia sebagai harta yang melimpahlimpah (2 Kor. 4:7). Ayat 7 mengatakan, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Bejana tanah liat itu tidak berharga dan mudah pecah, tetapi harta yang tidak ternilai diisikan ke dalam bejana yang tidak berharga ini. Harta ini masuk ke dalam bejana tersebut melalui terang Allah. Ketika Allah menerangi, harta ini diinfuskan ke dalam bejana tanah liat. Isi dari harta ini adalah keilahian berbaur dengan keinsanian, tersusun dengan kematian dan kebangkitan-Nya yang indah dan almuhit. Kita perlu menikmati unsur penyusun harta tersebut. Kita seharusnya menikmati keilahian, keinsanian, dan bahkan kematian. Ada dua macam kematian dalam alam semesta. Yang pertama adalah kematian Adam, dan yang lain adalah kematian Kristus. Kita membenci kematian Adam, tetapi kita mencintai kematian Kristus yang ajaib, menakjubkan, dan almuhit.
Kekuatan yang melimpah-limpah dari harta tersebut dinyatakan dalam bejana tanah liat. Ayat 8 mengatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.” Ditindas dalam segala hal berarti penindasan dalam segala bentuk penderitaan, tetapi bukan sekadar penderitaan. Ditindas dalam segala hal menandakan kematian Kristus yang almuhit, sedangkan tidak terjepit adalah kebangkitan. Demikian juga, habis akal menandakan kematian, sedangkan tidak putus asa adalah kebangkitan. Ayat 9 mengatakan, “Kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Dianiaya dan dihempaskan juga menandakan kematian, tetapi tidak ditinggalkan sendirian dan tidak binasa mengacu kepada kebangkitan.
Ayat 10-12 mengatakan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Diserahkan kepada maut karena Yesus adalah kematian Kristus yang mulia, ajaib, manis. Hidup Yesus adalah kebangkitan.
Bejana tanah liat berisi harta adalah kiasan terakhir yang digunakan untuk menggambarkan para minister perjanjian baru dan ministri mereka. Bagian firman ini memimpin kita kepada pengalaman yang sejati atas kematian dan kebangkitan Kristus. Kita adalah bejana tanah liat, tetapi kita mempunyai harta di dalam kita. Hal ini menyatakan kekuatan yang melimpah-limpah dari harta tersebut dalam kematian dan kebangkitan. Kekuatan Kristus tidak hanya dinyatakan dalam kebangkitan tetapi juga dalam kematian. Keempat kitab Injil menunjukkan kepada kita bagaimana Kristus melewati perjalanan maut yang panjang, tetapi Dia tidak dikalahkan oleh maut; aspekaspek maut tidak dapat menahan Dia. Ia memiliki kekuatan untuk mengalahkan maut. Dalam kematian, kekuatan Kristus ternyata secara luar biasa. Dalam kebangkitan-Nya, kekuatan-Nya juga dinyatakan. Tidak ada cara untuk menaklukkan Paulus, karena sebagai bejana tanah liat dia memiliki Kristus sebagai harta di dalamnya. Dengan demikian, kekuatan yang melimpah-limpah dari harta tersebut ternyata. Hal ini bukan dari manusia, tetapi dari Allah.
Ayat 16 mengatakan, “Sebab itu, kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari.” Merosot menandakan kematian, tetapi pembaruan adalah kebangkitan. Penindasan kita mungkin dapat menyebabkan kita tawar hati, tetapi kita harus berterima kasih dan menyembah Tuhan atas penindasan itu. Tuhan mengizinkan kita untuk melewati penindasan sehingga manusia batiniah kita dapat diperbarui dari hari ke hari.
Kita semua adalah tawanan Kristus. Karena itu, kita adalah para pembawa ukupan Kristus, menyebarkan, menyalurkan, keharuman Kristus kepada orang lain. Kita juga adalah surat Kristus yang ditulis oleh Roh, bukan untuk memamerkan diri kita sendiri, melainkan untuk memamerkan diri kita bersama Kristus. Secara prinsip, “Kristus” seharusnya menjadi bagian dari nama kita. Kita juga adalah cermin, dan kita adalah bejana untuk menampung Kristus sebagai harta, sehingga dari hari ke hari kita dapat mengekspresikan kematian Kristus yang almuhit dan kekuatan kebangkitan-Nya. Seberapa banyak harta ini kita miliki di dalam kita dapat terlihat dari seberapa banyak kita mengekspresikan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya yang almuhit.
TANYA JAWAB
Tanya: Ditindas, habis akal, dianiaya, dihempaskan, dan kemerosotan manusia lahiriah, semuanya adalah aspek kematian dalam Adam. Tetapi, 2 Korintus 4:10 membicarakan tentang “senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami”. Kedua kematian ini berbeda atau sama?
Jawab: Kematian yang terjadi dalam Adam itu buruk, tetapi kematian yang sama, kalau terjadi di dalam Kristus itu manis. Adam mati, Kristus juga mati. Tetapi, kematian yang pertama itu buruk, sedangkan kematian yang terakhir itu manis. Bagi orang yang belum percaya, tidak ada penindasan yang baik, tetapi bagi kita, kaum beriman, semua penindasan itu sangat baik. Jika penindasan menimpa kita, itu bagus; tetapi jika menimpa sanak keluarga yang belum percaya, itu mengerikan. Semua aspek negatif dalam ayat 8-12 adalah aspek-aspek yang berbeda dari kematian Kristus. Kita mungkin menyebutnya penderitaan, tetapi menurut Filipi 3:10, penderitaan adalah bagian dari kematian Kristus. Filipi 3:10 mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Persekutuan, mengambil bagian dalam penderitaan-Nya adalah mengambil bagian dalam kematian-Nya. Mengambil bagian dalam kematian-Nya adalah diserupakan dengan kematian-Nya. Setiap hari kita ditindas, habis akal, dihempaskan, dianiaya, dan manusia lahiriah kita semakin merosot, menjadi tua. Inilah berbagai aspek kematian Kristus. Ketika kita mengalami hal-hal ini, kematian Kristus diterapkan kepada kita. Melalui kematian ini hayat Kristus ternyata.