PENGALAMAN HAYAT (10)
Pembacaan Alkitab:
Flp. 2:12-14; 3:10
Beberapa minggu yang lalu, kita telah melihat pengalaman dan pertumbuhan hayat dalam Kitab Roma, Filipi, dan 2 Korintus. Beban saya dalam menyampaikan beritaberita ini adalah agar kalian mendapatkan faktor-faktor dan unsur-unsur penting mengenai pengalaman dan pertumbuhan dalam hayat, bukan hanya sedikit pengetahuan umum.
KITA PERLU MENGALAMI FAKTOR-FAKTOR PENTING DARI KRISTUS, KEMATIAN-NYA DAN KEBANGKITAN-NYA
Beberapa faktor dan unsur penting bagi pengalaman dan pertumbuhan hayat kita disebutkan dalam Filipi 2:12-14. Kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan menanggulangi masalah bersungut-sungut dan berbantahbantahan. Dalam ayat 12-14, bersungut-sungut dan berbantah-bantahan disebutkan bersama dua faktor besar dari operasi Allah dan pekerjaan kita terhadap keselamatan Allah. Kelihatannya, bersungut-sungut dan berbantah-bantahan adalah masalah kecil dan tidak begitu berarti, tetapi dalam pengalaman hayat kita, bersungut-sungut dan berbantah-bantahan adalah dua hal yang sangat penting yang perlu kita tanggulangi.
Setiap orang bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Menanggulangi sungut-sungut dan perbantahan tidaklah mudah, karena hanya orang mati yang tidak bersungut-sungut. Bertekad untuk tidak bersungut-sungut tidak akan berhasil. Walaupun sukar untuk menahan diri dari bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, kita harus nampak bahwa selama kita bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, kita kalah dalam mengerjakan keselamatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengerjakan keselamatan ini, kita harus berdoa, “Tuhan, buatlah aku mengenal Engkau dan kuasa kebangkitan-Mu dan persekutuan dalam penderitaan-Mu, serta diserupakan dengan kematian-Mu.” Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia tidak pernah bersungut-sungut, karena Ia menempuh kehidupan yang tersalib, kehidupan yang selalu berada di bawah salib. Jalan untuk dilepaskan dari bersungut-sungut dan berbantahbantahan hanyalah mati, tetapi kita tidak dapat menyalibkan diri kita sendiri. Saudara Watchman Nee pernah mengatakan bahwa tidak seorang pun dapat melakukan bunuh diri dengan menyalibkan dirinya sendiri, karena penyaliban perlu melibatkan orang lain. Kita perlu mengenal persekutuan penderitaan-Nya, yaitu berbagian dalam penderitaan Kristus.
Dalam kehidupan pernikahan, jika seseorang tidak berhati-hati dalam hal bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, hasilnya mungkin adalah perpisahan atau perceraian. Dengan kata lain, kehidupan pernikahan mewakili segala jenis kehidupan korporat. Ketika sejumlah orang bekerja bersama, berbicara bersama, atau bermain bersama, mereka dianggap sebagai satu kelompok. Pasangan yang sudah menikah atau keluarga dapat juga dianggap sebagai satu kelompok. Hidup gereja (church life) adalah kehidupan kelompok.
Rasul Paulus sangat ingin mengetahui tiga faktor penting: Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan diserupakan dengan kematian Kristus (Flp. 3:10). Tanpa ketiga faktor ini, kita tidak memiliki realitas hayat. Beberapa filsuf mengajarkan bagaimana memiliki standar etika yang tinggi. Tetapi tanpa Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan kematian-Nya, semua ajaran itu hanyalah perkataan yang kosong. Ajaran Paulus tidaklah sia-sia, karena ajarannya penuh dengan ketiga faktor ini. Ketiga faktor ini — Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, dan kematian-Nya seharusnya tidak hanya tinggal sejarah bagi kita; semuanya ini harus menjadi pengalaman dan keselamatan sehari-hari kita.
TANYA JAWAB
Tanya: Kadang kala ketika saya menikmati Tuhan, saya menerima anugerah-Nya, sehingga ketika suatu masalah muncul, saya mampu mengalahkannya untuk tetap tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan. Tetapi di waktu lain, ketika Tuhan kelihatannya sangat jauh, masalah muncul, saya bereaksi, dan kelihatannya memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan keadaan damai yang pernah saya alami. Apakah ini normal?
Jawab: Kehidupan orang Kristen bukanlah kehidupan filosofis yang penuh alasan. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan dari ketiga faktor yang telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu persona yang hidup beserta sejarah kematian dan kebangkitan-Nya. Persona ini dengan sejarah-Nya seharusnya menjadi pengalaman kita hari ini. Kita seharusnya melupakan segala macam filsafat. Hari ini, kebanyakan guru Kristen mengganti ajaran Alkitab menjadi sesuatu yang filosofis. Meskipun saya setuju bahwa Alkitab adalah kitab yang paling filosofis, kitab yang paling dalam, tetapi membuat ajarannya menjadi filsafat adalah kesalahan besar. Alkitab tidak mewahyukan berbagai macam filsafat. Alkitab mewahyukan persona yang hidup, yang hari ini adalah Roh itu sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melewati proses. Persona ini adalah keperluan kita.
Ada banyak sekali pengetahuan ilmiah mengenai listrik. Kebutuhan kehidupan sehari-hari kita bukanlah pengetahuan itu, tetapi daya listrik. Demikian juga, Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya seharusnya tidak menjadi sebuah filsafat bagi kita, tetapi sesuatu yang hidup dan dapat dialami. Dalam Filipi 3 Paulus menuntut untuk mengenal Kristus sebagai persona yang hidup, berbagian dalam penderitaan-Nya, dan diserupakan dengan kematian-Nya. Ini bukanlah sebuah filsafat bagi Paulus, tetapi persona yang hidup dengan dua butir kehidupan. Kita harus mempunyai kedambaan yang sama, bahkan visi yang sama seperti Paulus. Ketika kita melihat visi yang demikian ini, banyak doa kita yang tidak tepat dan pencarian kita yang bodoh akan berakhir. Kita perlu memiliki wahyu agar nampak visi Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya.
Saya prihatin, banyak anak muda hanya mempelajari sesuatu dalam pelatihan ini seperti yang mereka lakukan di sekolah dengan “buku panduan”, tanpa benar-benar melihat sesuatu. Beban saya yang sesungguhnya adalah membantu Anda melihat sesuatu. Pada saat Anda membaca berita ini, saya harap Anda dapat melihat persona Kristus yang hidup, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya sekali demi sekali.
Kidung nomor 414 tidak hanya mengajar kita; sebaliknya, mewahyukan realitas rohani kepada kita. Keperluan kita tidak hanya belajar teori, tetapi membuka diri kita kepada Tuhan sehingga kita dapat melihat sesuatu. Kita seharusnya berdoa, “Tuhan, aku membuka diri kepada-Mu. Aku ingin nampak Engkau lebih dalam sebagai persona yang almuhit. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana kematian dan kebangkitan-Mu yang almuhit mencakup aku.” Kemudian, ketika kita mendengarkan pembicaraan mengenai Kristus, kita akan mulai melihat sesuatu. Apa yang kita lihat menjadi realitas di dalam kita. Kemudian, kita hidup berdasarkan apa yang telah kita lihat.
Kematian dan kebangkitan Kristus harus menjadi visi kita. Di atas salib, bukan hanya Kristus yang disalibkan di sana, tetapi semua benda yang ada dalam alam semesta juga disalibkan bersama Dia. Di atas salib, Ia mewakili seluruh ciptaan lama; karena itu, ketika Ia mati, kita mati bersama Dia. Kematian-Nya adalah kematian kita. Demikian juga, ketika Ia dibangkitkan, kita dibangkitkan bersama Dia, menjadi umat ciptaan baru-Nya. Kebangkitan-Nya adalah kelahiran, penunasan ciptaan baru. Kristus adalah persona yang almuhit, maka kebangkitan-Nya, yang berdasar pada kematian-Nya yang almuhit, juga almuhit. Beban saya adalah membantu Anda untuk melihat visi ini.
Visi datang dari pendengaran dan pendengaran datang dari pembicaraan. Dalam kekristenan, musuh yang licik telah memotong pembicaraan yang tepat mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi puji Tuhan, karena hari ini Ia masih berbicara. Selama Ia berbicara dan Anda mendengar, Anda juga melihat visi. Begitu Anda melihat sesuatu, Anda juga menikmati realitas. Realitas terutama terdiri dari tiga faktor: Kristus yang almuhit sebagai persona yang hidup, kematian-Nya yang almuhit. dan kebangkitan-Nya yang almuhit. Ketika kita melihat faktorfaktor ini, kita dibawa ke dalam pengenalan dan pengalaman terhadap faktor-faktor tersebut.
Tanya: Setelah melihat sesuatu mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya yang almuhit, mengapa kelihatannya sukar untuk mengalami semuanya ini?
Jawab: Karena visi kita sering kali tidak jelas. Kita melihat sesuatu, tetapi tidak begitu jelas. Kita harus tahu bahwa percaya yang sejati adalah berdasarkan apa yang kita lihat. Ketika kita memberitakan Injil, kita harus benar-benar paham bahwa kita sedang menyajikan realitas kepada orang-orang. Pembicaraan kita adalah penyajian realitas. Ketika para pendengar kita mendengarkan penyajian kita, mereka melihat sesuatu dan percaya. Apa yang mereka lihat menjadi iman mereka. Masalahnya adalah sering kali pembicaraan kita lemah dan pendengarnya juga lemah; karena itu, kepercayaan dan penglihatannya juga lemah. Kekuatan dari apa yang kita lihat dan percayai tergantung pada kekuatan pendengaran kita. Pendengaran kita kuat atau tidak tergantung pada kekuatan pembicara.
Tanya: Apakah visi tentang Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya datang dengan tiba-tiba dalam satu kali pengalaman atau datang secara berangsur-angsur selama sejangka waktu?
Jawab: Sering kali sangat sulit untuk menentukan apakah yang kita lihat hari ini adalah wahyu yang tiba-tiba atau sesuatu yang datang secara berangsur-angsur melalui pengalaman kita. Ketika kita menyusuri suatu jalan, kita dapat melihat benda-benda di jalan itu karena kita ada dalam posisi yang tepat untuk melihatnya. Satu hari, kita melihat satu benda, dan di hari yang lain kita melihat lebih banyak lagi. Dengan prinsip yang sama, ketika kita menghadiri sidang-sidang gereja, mula-mula kita mungkin tidak melihat terlalu banyak. Tetapi jika kita terus menghadiri sidang-sidang gereja dan mendengar pembicaraan di sana, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, berangsurangsur kita mulai melihat sesuatu.
Kita jarang memiliki pengalaman melihat sesuatu secara tiba-tiba. Sesungguhnya, menurut pengalaman saya, visi yang tiba-tiba dan seketika tidak begitu berharga. Visi yang paling berharga adalah sesuatu yang telah terbangun di dalam Anda. Jika sejak hari Anda diselamatkan, Anda membina kebiasaan untuk selalu hadir dalam sidang-sidang di sepanjang tahun, baik sidang besar maupun sidang kecil, hal ini akan menyusun suatu visi di dalam Anda, yang akan menjadi sesuatu yang kokoh di dalam Anda. Melalui sidang-sidang, sesuatu telah ditaburkan ke dalam Anda. Kumpulan dari apa yang telah ditaburkan di dalam Anda adalah penglihatan Anda, visi Anda. Untuk mendapatkan visi yang demikian perlu waktu. Kita tidak seharusnya mengharapkan untuk melihat visi Kristus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya dengan tiba-tiba. Secara berangsurangsur, pada saat kita maju dalam pengalaman kita akan Tuhan, kita akan melihat lebih dalam.
Murid-murid, khususnya Petrus, adalah gambaran yang baik mengenai hal ini. Banyak guru dan pelajar Alkitab di sepanjang sejarah gereja telah mencoba menentukan kapan Petrus diselamatkan. Pada beberapa kesempatan, Petrus mempunyai pengalaman yang sangat berarti dengan Tuhan. Pengalaman pertama adalah ketika ia dibawa kepada Tuhan oleh saudaranya, Andreas (Yoh. 1:40-42). Pada kesempatan itu, Tuhan mengubah namanya dari Simon menjadi Petrus, sebuah batu. Tetapi, pengalaman itu tidak banyak mengubah Petrus, karena tidak lama setelah itu ia kembali menjala ikan. Kemudian Tuhan pergi ke danau Galilea dan memanggil Petrus pada saat ia sedang menebarkan jala di danau (Mat. 4:18-19). Tuhan memikat dia, mungkin melalui mukjizat yang tercatat dalam Lukas 5:4-11. Pada satu saat, ia sedang menebarkan jalanya untuk menangkap ikan, dan pada saat berikutnya, karena telah dipanggil oleh Tuhan Yesus, ia mulai mengikuti Tuhan. Setelah mengikuti Tuhan selama tiga tahun, Petrus dan murid-murid yang lain dibawa oleh Tuhan ke Kaisarea Filipi (Mat. 16:13). Tuhan bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Petrus menjawab, “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!” (ayat 16). Ini adalah pengalaman lain yang berarti. Setelah pengalaman-pengalaman ini, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali, bahkan di hadapan Tuhan (Luk. 22:54-61). Dan pada hari kebangkitan Kristus, malaikat secara khusus menyebutkan agar Petrus diberi tahu mengenai kebangkitan Tuhan (Mrk. 16:7). Kemudian pada malam kebangkitan, Tuhan kembali untuk menghembuskan diri-Nya ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22).
Melalui pengalaman-pengalaman ini, sangatlah sukar untuk menentukan kapan Petrus dilahirkan kembali. Sepertinya Petrus sudah diselamatkan ketika ia membuat pernyataan dalam Matius 16:16, menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Tetapi, tanpa diragukan lagi, Petrus telah dilahirkan kembali ketika Tuhan menghembuskan diri-Nya sendiri ke dalam murid-murid. Kelihatannya, pengalaman-pengalaman sebelumnya telah menjadi suatu kumpulan yang rampung dalam pengalaman di Yohanes 20:22.
Secara prinsip, hal itu sama dengan kita hari ini. Karena pengalaman-pengalaman kita akan Tuhan terkumpul lewat waktu, kita mungkin mempunyai perasaan bahwa pengalaman kita beberapa tahun yang lalu tidak semurni hari ini. Meskipun pengalaman kita kelihatannya sangat tiba-tiba, mereka sebenarnya adalah kumpulan selama beberapa tahun. Hal-hal yang kita lihat hari ini, yang kelihatannya agak tiba-tiba, setelah beberapa tahun, akan dikenali sebagai langkah dalam proses akumulasi.
Sering kali sepertinya kita belum banyak melihat atau mengalami, padahal pada saat itu kita benar-benar melihat dan mengalami banyak tanpa menyadarinya. Di pihak lain, kita sering mengira bahwa kita telah melihat sesuatu, padahal pada faktanya kita melihat dan mengalami sangat sedikit. Akibatnya, kita mudah tertipu. Cara terbaik adalah berjalan di jalan hayat, hari demi hari, tanpa menganalisa terlalu banyak. Sekali lagi, para murid adalah contoh yang baik mengenai hal ini. Petrus dan murid-murid yang lain mengikuti Tuhan dengan agak kebodoh-bodohan selama tiga setengah tahun. Sangat diragukan kalau Petrus telah jelas mengenai segala sesuatu yang ia lihat selama tahun-tahun bersama Tuhan tersebut. Ia sepertinya jelas ketika ia berbicara mengenai Kristus adalah Anak Allah yang hidup, tetapi kemudian ketika ditanya apakah Tuhan membayar bea Bait Allah, jawabannya sama sekali tidak benar (Mat. 17:24-27). Hal itu menyingkapkan bahwa ia belum melihat secara jelas bahwa Yesus sebagai Anak Allah tidak perlu membayar bea semacam itu.
Ketika Tuhan sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk disalibkan, murid-murid juga berdebat di antara mereka sendiri, mempertengkarkan siapakah yang terbesar di antara mereka (Mrk. 9:33-34). Mereka tidak peduli dengan Tuhan atau dengan apa yang telah Dia katakan mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Sepertinya setelah tiga setengah tahun murid-murid melihat sangat sedikit dan waktu yang telah Tuhan habiskan bersama mereka sia-sia saja. Bahkan, para saudari seperti Maria Magdalena, Maria ibu Yesus, serta ibu Yohanes dan Yakobus, melihat jauh lebih banyak daripada para saudara. Meskipun hal ini mungkin benar, sesungguhnya, mereka semua, kecuali Yudas, telah menerima sesuatu dari Tuhan di tahun-tahun itu.
Kita harus nampak bahwa setiap waktu yang kita luangkan bersama Tuhan tidak pernah sia-sia. Semakin banyak waktu yang kita luangkan bersama Tuhan, kita semakin belajar, dan harta itu semakin terkumpul di dalam diri kita. Karena itu, kita harus terus menuntut Tuhan sesuai dengan kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang demikian meliputi penyegaran pagi setiap hari, hidup oleh Roh itu setiap hari, menghadiri sidang-sidang secara teratur, dan lain sebagainya. Di balik semua kegagalan kita, kita seharusnya tetap mempertahankan kebiasaan semacam itu. Latihan yang sedemikian di hadapan Tuhan, tidak akan pernah sia-sia.
Tanya: Saya mempunyai pertanyaan mengenai menyuplaikan sesuatu kepada orang lain. Sering kali ketika saya berada dalam sidang rumahan dan suasana di sana hidup, saya mempersekutukan sesuatu kepada orang yang baru percaya, secara doktrin saya benar, tetapi sepertinya aromanya adalah saya. Saat kita menyuplaikan sesuatu kepada orang lain, apakah kita bisa merasa bahwa Tuhan sedang mempunyai jalan yang tembus melalui kita tanpa sedikit pun aroma diri kita?
Jawab: Perasaan kita sama seperti cuaca — berubahubah dan tidak dapat dipercaya. Mengenai pelayanan kita, kita seharusnya hanya pergi dan menyuplaikan sesuatu, tidak menganalisis terlalu banyak. Kita seharusnya hanya berjerih lelah dalam sidang-sidang rumahan, sidang-sidang kelompok, dan sidang-sidang besar. Pada akhirnya kita akan melihat berkat Tuhan dan kita akan mencapai sasaran. Menurut pengalaman saya, sering kali saya mengira bahwa saya mengerjakan sedikit sekali ketika saya menyuplaikan sesuatu di tempat tertentu. Menurut perasaan saya, itu adalah kegagalan. Beberapa tahun kemudian, sejumlah besar orang-orang kudus dari tempat itu membagi nikmat (sharing) kepada saya bahwa mereka benar-benar mendapat bantuan dari berita yang telah saya berikan pada waktu itu. Di pihak lain, suatu waktu ketika saya membagi nikmat, saya merasa bahwa saya telah mencapai langit tingkat tiga. Pada akhirnya, tidak ada hasil yang besar seperti yang saya harapkan.
Meskipun banyak orang Kristen mencari apa yang disebut kerohanian, kita harus nampak bahwa pada akhirnya kita akan sangat manusiawi. Kita juga harus menyadari bahwa aroma kita akan tetap bersama kita bahkan saat kita masuk ke dalam Yerusalem Baru. Perjanjian Baru ditulis oleh banyak penulis. Kapan kala kita membaca tulisan Petrus, kita tahu bahwa itu adalah Petrus, karena ada aroma Petrus. Demikian juga, ketika kita membaca tulisan Paulus, ada aroma Paulus. Bahkan dalam Yerusalem Baru, kita tidak akan kehilangan identitas dan aroma pribadi kita.