← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 20/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (10)

ESENS PERJANJIAN BARU

Apa yang telah kita bahas dalam seri berita yang berjudul “Pengalaman dan Pertumbuhan dalam Hayat” adalah sari dari seluruh Perjanjian Baru. Di dalam setiap substansi ada esensnya, unsur-unsur penyusun yang mendasar dari substansi itu. Sebuah apel adalah substansi, tetapi di dalam substansi itu ada sari apel sebagai esensnya. Sangat mudah bagi kebanyakan pembaca Alkitab untuk mengerti cerita tentang Yesus. Tetapi untuk melihat sari dari apa yang dikatakan Perjanjian Baru mengenai Yesus tidaklah mudah. Sejarah Yesus adalah substansi Perjanjian Baru, tetapi kita perlu melihat esens dari substansi ini. Beberapa orang telah mendapat gelar doktor dalam mempelajari Alkitab, tetapi mereka mungkin hanya melihat substansinya. Mereka dapat memberi tahu Anda apa yang diajarkan dalam keempat kitab Injil, dalam Kisah Para Rasul, dalam Surat-surat Kiriman Paulus, Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas, serta dalam Wahyu. Mereka telah melihat substansi Perjanjian Baru, tetapi sangat sedikit pembaca Alkitab yang telah melihat esens Perjanjian Baru. Jika kita melihat esens Perjanjian Baru, kita akan bersukacita. Esens Perjanjian Baru adalah perbauran antara Roh ilahi dengan roh insani. Kedua roh ini berbaur menjadi satu (1 Kor. 6:17).

Roh Ilahi

Roh ilahi adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam diri kita. Unsur dari Roh ini adalah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — dengan sifat insani yang ditambahkan kepada-Nya di dalam inkarnasi, kehidupan insani selama tiga puluh tiga setengah tahun, kematian almuhit yang dirampungkan-Nya dalam ketersaliban, dan kebangkitan yang penuh kuasa. Pengenalan sedemikian terhadap Roh itu adalah wahyu ilahi dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Sebagai kesimpulan dari seluruh Alkitab, Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’” Jika kita belum nampak esens Alkitab, sangat sukar untuk mengerti ayat ini. Kebanyakan pembaca Perjanjian Baru mengira bahwa Roh dalam ayat ini adalah Roh Kudus. Tetapi, melihat hal ini saja berarti melihat substansi, bukan esens Roh itu. Jika telah melihat esens Roh itu, kita akan nampak bahwa Roh itu tidaklah sederhana. Kita perlu seluruh Alkitab, enam puluh enam kitab, untuk menjelaskan kebenaran Roh itu.

Roh itu adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Istilah perampungan sempurna menyiratkan suatu prosedur atau suatu proses tertentu. Proses-proses yang telah dilalui Allah Tritunggal mungkin dapat dibandingkan dengan memasak. Sebelum inkarnasi-Nya, Allah Tritunggal adalah Allah yang “mentah”. Meskipun Ia adalah persona yang ilahi, kekal, namun tanpa keinsanian dan tanpa kehidupan insani. Sama seperti beberapa rempah-rempah ditambahkan kepada makanan dalam proses memasak; banyak unsur seperti keinsanian, menjadi daging dalam kehidupan insani, ditambahkan kepada Allah Tritunggal dalam proses-proses ini. Melalui melewati proses-proses ini, Allah Tritunggal “dimasak”. Hari ini Allah yang kita cintai dan yang telah kita terima bukanlah Allah yang “mentah”, melainkan Allah yang telah “dimasak”. Hari ini, Allah yang telah dimasak ini adalah Yesus Kristus, dan Yesus Kristus adalah Roh yang telah rampung sempurna untuk menjadi hayat dan segala sesuatu bagi kaum beriman-Nya (1 Kor. 15:45b).

Roh Insani Kita

Seperti yang telah kita lihat, sari dari Perjanjian Baru adalah perbauran antara Roh ilahi dengan roh kita. Roh kita tidaklah sederhana. Roh kita diciptakan dengan nafas Allah. Kejadian 2:7 mengatakan, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Nafas hidup dalam Kejadian 2:7 menjadi roh kita. Amsal 20:27 mengatakan, “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Istilah Ibrani untuk nafas dalam Kejadian 2:7 (neshamah) sama dengan istilah untuk roh dalam Amsal 20:27. Dalam Perjanjian Baru, istilah Ibrani yang sering digunakan untuk Roh itu adalah ruach. Istilah Ibrani ruach dan istilah Yunani pneuma, seperti dalam Yohanes 3:8, berarti roh, nafas, angin, dan udara. Nafas hidup dalam Kejadian 2:7 bukanlah Roh Allah, tetapi sesuatu yang sangat dekat dengan Roh Allah. Roh kita berasal dari nafas Allah, karena itu sangat dekat dengan Allah. Karena itu, roh adalah sesuatu di dalam susunan kita yang hampir sama dengan diri Allah. Allah adalah Roh (Yoh. 4:24). Roh manusia bukanlah Roh Allah, tetapi nafas hidup Allah.

Bagian yang paling aktif, agresif, dan hidup dari manusia adalah rohnya. Tanpa roh, manusia hanyalah tanah liat tanpa hayat. Bahkan setelah manusia dibentuk dari debu tanah, ia masih tidak bergerak sampai Allah menghembuskan nafas hidup ke dalamnya. Kemudian, manusia menjadi makhluk (jiwa) yang hidup. Hayat manusia datang dari nafas hidup Allah yang dihembuskan ke dalamnya. Jiwa manusia yang hidup adalah hasil dari nafas hidup yang masuk ke dalam manusia yang tidak bergerak, bejana tanah liat.

Kedua Roh Berbaur Menjadi Satu Roh

Tetapi, karena kejatuhan manusia, rohnya tercemar, rusak, dan menjadi mati (Ef. 2:1, 5). Ketika kita mati dalam roh kita, Yesus, sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang menjadi Roh pemberi-hayat, datang kepada kita. Kita menerima Dia dan Ia masuk ke dalam roh kita. Sari Allah Tritunggal, Roh itu, ditambahkan ke dalam roh kita. Sari ini adalah Allah Tritunggal yang menjadi manusia, menempuh kehidupan insani, mati di atas salib, dan bangkit dari kematian. Banyak unsur disertakan dalam sari ini, termasuk keilahian, keinsanian, kehidupan insani, kematian yang almuhit, dan kebangkitan yang penuh kuasa. Ketika kita menerima sari ini, kita menerima semua unsur yang ada di dalamnya. Sari ini ada di dalam roh kita, membuat roh kita yang mati dilahirkan kembali. Sekarang, di dalam roh kita ada keilahian, keinsanian yang telah ditinggikan dan berstandar tinggi, kehidupan insani yang tepat, penyaliban yang almuhit, dan kebangkitan yang penuh kuasa. Entah kita mengerti semua unsur sari ini atau tidak, sari ini tetap ada di dalam kita, merawat dan memberi kita kekuatan.

Di dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali ada kematian Kristus yang almuhit. Temperamen kita, daging kita, manusia lama kita, manusia alamiah kita, dan semua adanya kita ditanggulangi secara almuhit oleh kematian Kristus yang almuhit. Sekarang, kita perlu belajar bagaimana menerapkan kematian ini melalui kembali ke dalam roh kita dan menetap di sana. Menetap di dalam roh juga merupakan jalan untuk menerapkan keilahian Allah Tritunggal, keinsanian Yesus yang ditinggikan dengan standar tertinggi, dan kebangkitan Kristus yang penuh kuasa. Dengan kembali ke dalam roh dan menetap di sana, kita menikmati apa yang telah kita terima dan miliki sekarang. Hari ini salib Kristus bukan di Golgota, melainkan di dalam roh kita. Jika istri seorang saudara memberinya muka yang tidak menyenangkan, ia tidak perlu memikirkan bagaimana menerapkan salib Kristus. Yang diperlukannya hanyalah kembali ke dalam roh dan menetap di sana. Di sana ia akan mempunyai kenikmatan akan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan keilahian-Nya, keinsanian-Nya, kehidupan insani-Nya yang ditinggikan, kematian-Nya yang almuhit, dan kebangkitan-Nya yang penuh kuasa.

Esens Perjanjian Baru adalah dua roh, Roh ilahi dan roh insani, berbaur menjadi satu roh. Jika kita nampak hal ini, kita akan menjadi orang yang berbeda, senantiasa bersukacita. Sungguh ajaib, orang-orang di bumi dapat hidup di dalam dan oleh roh perbauran yang sedemikian.

Sekarang, marilah kita menyanyikan kidung singkat ini:

Balik ke rohmu, diam di sana,

Nikmat sarinya, takkan sama.

Balik ke rohmu, diam di sana,

Nikmat sarinya, takkan sama.

(Nada: koor Kidung nomor 265).

Terjemahan langsung:

Balik ke rohmu, menetaplah di dalam roh,

Menikmati sari roh, berbeda dengan yang lalu.