PENGALAMAN HAYAT (11)
Pembacaan Alkitab:
Mat. 16:26; Luk. 9:25
WATAK DAN KARAKTER
Dalam berita ini kita akan bersekutu mengenai menanggulangi watak dan karakter kita. Istilah watak (disposition) dan karakter (character) keduanya mempunyai berbagai arti dalam kamus-kamus. Kita sangat sering menggunakan istilah-istilah ini dalam arti rohaninya selama empat puluh sampai lima puluh tahun belakangan ini. Pada salah satu permulaan pelatihan di Taiwan, kami menyajikan tiga puluh butir karakter yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Karakter”. Setelah itu, kami mulai menekankan perihal watak. Saya menemukan bahwa karakter adalah ekspresi dari watak yang di dalam. Di luar adalah karakter, tetapi di dalam adalah watak. Menanggulangi karakter tetapi mengabaikan watak adalah sia-sia.
Dalam ministri saya yang berkenaan dengan hayat rohani, saya telah menggunakan istilah watak dan karakter karena saya harus menemukan istilah-istilah yang membantu orang-orang kudus untuk memahami hayat jiwa, diri, “aku”, dan manusia lama. Istilah “hayat alamiah” dan “alamiah” juga telah digunakan berkenaan dengan pengalaman rohani dalam menanggulangi diri kita. Diri adalah hayat jiwa kita, dan hayat jiwa adalah sesuatu yang alamiah. Sebagai tambahan istilah-istilah ini, Paulus menyebutkan manusia lama dalam Roma 6:6. Setiap istilah ini mengacu kepada realitas rohani tertentu. Pada manusia ada yang disebut diri, hayat jiwa. Hayat jiwa juga disebut manusia lama. Diri, hayat jiwa, dan manusia lama, semuanya adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu yang berasal dari hayat alamiah.
Dalam persekutuan mengenai watak dan karakter, kita tidak menggunakan definisi atau denotasi (arti lugas) yang biasa digunakan dalam kamus-kamus. Sebaliknya, kita mendefinisikan istilah-istilah ini sesuai dengan makna rohaninya. Watak mengacu kepada sesuatu di dalam diri kita, dan karakter mengacu kepada sesuatu di luar diri kita. Di dalam, kita mempunyai watak, di luar, kita mempunyai karakter. Watak adalah apa adanya kita di dalam, dan karakter adalah apa yang kita ekspresikan di luar. Watak yang di dalam dan karakter yang di luar adalah sari, esens diri kita. Jika karakter dan watak kita disingkirkan, tidak ada sesuatu pun yang tertinggal dalam diri kita.
Istilah karakter dan watak tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru, tetapi faktanya tersirat dalam ayat-ayat seperti Matius 16:26 dan Lukas 9:25. Matius 16:26 dan Lukas
9:25 sama-sama menggunakan istilah diri dan hayat jiwa,dan menganggap keduanya mempunyai arti yang sama. Matius 16:26 mengatakan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (hayat jiwanya)?” Lukas 9:25 mengatakan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Hayat jiwa (nyawa) dalam Matius 16:26 adalah dirinya sendiri dalam Lukas 9:25. Jiwa adalah hayat dari diri. Perihal watak dan karakter sangat erat hubungannya dengan keduanya, diri dan jiwa.
Watak
Untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan watak, kita dapat menggunakan binatang-binatang yang berbeda, seperti kura-kura dan kelinci. Kura-kura berjalan pelan dan kelinci berlari cepat. Aktivitas setiap binatang berhubungan dengan ciri khusus yang ada di dalam sifat hakiki setiap binatang. Ciri khusus yang di dalam inilah yang kita sebut watak. Kura-kura dan kelinci masing-masing mempunyai wataknya sendiri, susunannya sendiri.
Dalam pengalaman kristiani kita, ada sesuatu di dalam kita yang disebut watak kita. Watak ini adalah apa adanya kita menurut susunan kita. Kita masing-masing mempunyai watak yang khusus dan unik. Di dalam, dalam watak kita, kita berbeda seorang dengan yang lain.
Watak Anda menunjukkan apa adanya Anda menurut susunan Anda melalui kelahiran. Apa adanya bawaan Anda, adalah watak Anda. Jika Anda pelan, Anda telah dibuat pelan melalui bawaan Anda; pelan adalah watak Anda. Demikian juga, jika Anda cepat; cepat adalah watak Anda. Seseorang mungkin pendiam atau banyak bicara; keduanya adalah masalah watak di dalam. Meskipun watak kita adalah sesuatu yang diciptakan Allah, namun masih perlu ditanggulangi oleh Allah. Hal ini kelihatannya berlawanan — sesuatu yang diberikan oleh Allah masih harus ditanggulangi oleh Allah. Tetapi, ini sangat sesuai dengan wahyu ilahi dan juga cocok dengan pengalaman kita.
Karakter
Karakter mengacu kepada ekspresi kita di luar. Istilah karakter dalam bahasa Mandarin berarti bentuk luar yang mengekspresikan sifat batin. Jadi karakter adalah bentuk luar yang mengekspresikan batin kita. Watak selalu terekspresi secara jelas dalam karakter kita. Setidaknya, karakter adalah bagian dari ekspresi watak. Jika Anda dilahirkan sebagai seorang yang pelan, maka pelan selalu menjadi bagian dari ekspresi luaran Anda, karakter Anda. Jika Anda dilahirkan sebagai seorang yang rendah hati atau sombong, maka kerendahan hati atau kesombongan akan menjadi bagian dari ekspresi luaran, karakter Anda.
Karakter tersusun dari sekitar tiga puluh persen sifat bawaan dan sekitar tujuh puluh persen kebiasaan. Sebagai contoh, jika seorang anak dibesarkan dalam keluarga China, ia akan benar-benar serupa dengan orang China. Jika anak yang sama dibesarkan dalam keluarga dari bangsa lain, ia akan mirip orang dari bangsa lain itu ketika ia dewasa. Karakter luaran kita tersusun dari sifat bawaan kita yang kita peroleh melalui kelahiran dan kebiasaan kita yang kita dapatkan melalui kehidupan sehari-hari. Menanggulangi watak kita adalah menanggulangi apa adanya batiniah kita, tetapi menanggulangi karakter kita adalah menanggulangi apa yang kita ekspresikan di luar, termasuk apa adanya batiniah kita. Unsur hakiki dari karakter luaran kita adalah sifat batin kita yang kita peroleh melalui kelahiran.
Kita tidak dapat mengubah sifat batin, tetapi dapat mengubah atau memperbaiki karakter luaran kita. Anjing tidak dapat dilatih menjadi kucing, tetapi ia dapat dilatih untuk bertingkah laku seperti kucing. Banyak saudara telah dilatih di pusat militer. Ketika kali pertama masuk ke dalam pusat militer, mereka tidak begitu tepat waktu, tetapi setelah melewati beberapa pelatihan dan pendisiplinan yang keras, mereka disetel menjadi tepat waktu. Pusat militer juga melatih ekspresi mereka agar tidak banyak bicara, tidak sembarangan menyatakan sesuatu. Pelatihan semacam itu mengubah karakter luaran mereka.
MENANGGULANGI WATAK DAN KARAKTER KITA
Penanggulangan kita terhadap dosa-dosa, sifat dosa, dunia, dan hati nurani adalah penanggulangan yang permukaan, tetapi penanggulangan terhadap watak adalah penanggulangan yang paling dalam. Menanggulangi dosa-dosa dan sifat dosa agak mudah, tetapi menanggulangi watak dan karakter kita sangatlah sulit. Menurut apa yang saya pelajari dari Perjanjian Baru, kita disuruh mengakui dosadosa dan kesalahan-kesalahan kita (1 Yoh. 1:8-9), tetapi tidak ada perintah untuk mengaku mengenai watak atau karakter kita. Sering kali watak kita mungkin tidak benar, tetapi sulit mengatakan bahwa watak kita penuh dosa. Kadang-kadang kita hanya berada di dalam watak kita, bukan di dalam sesuatu yang penuh dosa. Tetapi, kita harus nampak bahwa watak kita yang jatuh, sangat dekat dengan pinggiran sumur dosa dan kesalahan-kesalahan. Jadi, sangat mudah bagi kita untuk jatuh ke dalam sumur itu.
Menanggulangi watak dan karakter kita akan melindungi kita dari berbuat dosa dan melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran erat hubungannya dengan watak dan karakter kita. Karena kita mempunyai jenis watak tertentu, maka kita melakukan kesalahan-kesalahan. Demikian juga, kita mudah melakukan kesalahan-kesalahan karena kita mempunyai jenis karakter tertentu.
TANYA JAWAB
Tanya: Adakah bagian dari watak kita yang berhubungan dengan kebiasaan?
Jawab: Karakter terdiri dari tiga puluh persen watak dan tujuh puluh persen kebiasaan. Karakter lebih merepotkan daripada watak, karena karakter terdiri dari watak ditambah dengan kebiasaan. Menanggulangi kebiasaan kita saja tidak cukup, karena kebiasaan kita hanyalah ekspresi luaran dari karakter kita. Dalam kitab-kitab Injil, sejak Tuhan memanggil Petrus untuk kali pertama, Tuhan menggunakan setiap kesempatan untuk menanggulangi karakter dan watak Petrus.
Tanya: Ketika saya menggunakan istilah “menanggulangi”, yang saya maksudkan adalah ada sesuatu yang dibongkar, disingkirkan, diubah, atau diganti. Itukah arti menanggulangi watak dan karakter kita?
Jawab: Menanggulangi sesuatu mempunyai banyak arti dalam penggunaannya. Dapat berarti menjaga, menghukum, memperbaiki, juga menghindari. Karena watak dan karakter kita menyebabkan masalah dalam hidup kristiani kita, kita harus menanggulangi, menjaga, atau memperbaikinya, dan bahkan meletakkannya dalam kematian. Istilah menanggulangi di sini memiliki segi positif maupun segi negatif.
Tanya: Apa contoh riil dari menanggulangi watak kita?
Jawab: Dalam Perjanjian Baru, watak dan karakter tersirat dalam istilah-istilah seperti “jiwa”, “hayat jiwa”, “manusia lama”, dan “aku” dalam Galatia 2:20. Semua ini berhubungan dengan hayat alamiah. Tetapi, istilah ini terlalu umum, sehingga arti dan makna khususnya telah hilang. Tetapi, mengatakan bahwa kita harus menanggulangi watak dan karakter kita sangatlah khusus. Sesungguhnya, menanggulangi watak kita berarti menanggulangi diri kita, manusia lama kita, hayat jiwa kita, dan “aku”.
Tanya: Apakah transformasi merupakan penambahan unsur Allah ke dalam watak yang Allah berikan kepada kita?
Jawab: Dalam menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan, banyak istilah berbeda yang telah digunakan. Istilahnya mungkin berbeda, tetapi faktanya sama. Namun, beberapa istilah tidak begitu tepat dan dapat menyesatkan. Ada yang mengatakan bahwa kita, sebagai orang-orang Kristen, menempuh kehidupan yang diganti. Istilah ini tidak tepat. Lebih baik mengatakan bahwa kita memperhidupkan hayat yang diokulasikan. Menempuh kehidupan yang diganti dapat digambarkan seperti menukar sebuah jam dengan kacamata. Jam dan kacamata adalah dua benda yang berbeda. Tetapi memperhidupkan hayat yang diokulasikan berarti dua hayat telah diokulasikan, bahkan berbaur. Walaupun telah diokulasikan, tetapi kedua hayat tersebut tetap ada. Di satu pihak, kita berakhir, tetapi di pihak lain, kita masih hidup, seperti yang diwahyukan dalam Galatia 2:20. Kita berakhir dalam kematian Kristus, dan kita hidupdalam kebangkitan Kristus. Jadi, bahkan dalam kekekalan kita akan tetap hidup dengan unsur ilahi yang ditambahkan, diokulasikan, dan dibaurkan dengan diri kita. Hal ini tidak mengubah sifat atau ciri khas kita. Sifat dan ciri khas kita akan tetap ada selama-lamanya, tetapi ditambah sesuatu yang hidup dan baru.
Sebelum kita menerima Kristus, kita hanyalah diri kita sendiri dengan sifat dan ciri khas kita. Setelah kita menerima Kristus, kita masih tetap diri kita sendiri, tetapi ada penambahan sesuatu yang baru dan hidup. Unsur yang baru dan hidup ini tidak menghapus sifat kita. Diri kita masih tetap ada. Dalam kekekalan, kita akan melihat dan mengenali semua saudara saudari, tetapi mereka sudah lebih baru dan lebih hidup. Dulu, sebelum kita menerima Kristus, kita hidup dengan diri sendiri; tetapi sekarang, kita hidup dengan Kristus yang tinggal di dalam kita (Gal. 2:20), bukan dengan cara lama, tetapi dengan cara yang mutlak baru.
Transformasi terutama menanggulangi watak kita, dan pembaruan terutama menanggulangi karakter kita. Baik transformasi maupun pembaruan hanya berarti menanggulangi watak dan karakter kita. Seseorang yang telah ditransformasi tidak akan tetap tinggal dalam wataknya yang lama, dan seseorang yang dibarui tidak akan tinggal dalam karakter atau ekspresinya yang lama.
Tanya: Apakah menanggulangi watak dan karakter berbeda dengan diubah oleh penyaluran ilahi?
Jawab: Penyaluran ilahi selalu bekerja untuk mentransformasi (to transform) kita, bukan hanya memperbaiki atau mengubah (to change) kita. Mengubah (to change) adalah mengubah diri sendiri dengan usaha Anda. Mentransformasi (to transform) menandakan sesuatu yang ilahi, yang dari Tuhan, yang tidak Anda peroleh melalui kebiasaan ataupun kelahiran. Melalui penyaluran ilahi, unsur ilahi disalurkan ke dalam Anda. Unsur ini bekerja di dalam Anda untuk mentransformasi Anda. Jika wajah Anda pucat, melalui makan, unsur makanan akan mentransformasi warna pucat Anda menjadi warna sehat. Warna sehat ini adalah warna transformasi. Tanpa unsur ilahi yang disalurkan ke dalam Anda, Anda hanya dapat memiliki perubahan (change), bukan transformasi (transformation).
Agar mengalami transformasi ini, kita perlu meremukkan watak dan karakter kita, karena watak dan karakter kita adalah halangan terbesar bagi penyaluran diri Allah ke dalam kita dan bagi pekerjaan transformasi dan pembaruan-Nya di atas diri kita.