← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 22/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (11)

Pembacaan Alkitab:

Mat. 16:21-26

Selama beberapa tahun, saya telah mengamati dua faktor besar yang menghalangi pekerjaan Tuhan, yaitu ambisi dan opini. Dalam masyarakat, ambisi adalah masalah yang besar. Setiap orang, entah dalam lingkungan politik, perdagangan, atau pendidikan, mengejar pangkat. Bahkan di antara murid-murid sekolah, ada banyak persaingan untuk menjadi yang pertama di kelas mereka. Keinginan untuk naik pangkat adalah ambisi. Bahkan dalam pekerjaan Tuhan pun ada ambisi. Dalam hidup gereja, mungkin ada beberapa saudara yang berambisi untuk menjadi penatua. Ambisi ini tersembunyi di dalam kita. Jika saudara saudari mengatakan “amin” lebih keras untuk doa orang lain daripada untuk doa kita di dalam sidang, kita mungkin iri hati. Kita akan terganggu, dan setelah sidang kita mungkin tidak dapat makan dengan sukacita. Bahkan dalam kehidupan pernikahan, mungkin ada persaingan di antara suami dengan istri. Karena istri meragukan kekepalaan suaminya, maka suaminya sangat sakit hati. Suaminya mungkin terganggu karena kelihatannya setiap orang lebih mendengarkan istrinya daripada dia, atau anak-anaknya kelihatannya lebih setuju dengan istrinya daripada dengan dia. Pemikiran yang demikian berhubungan dengan ambisi.

MASALAH OPINI

Masalah opini dapat dilihat dalam Matius 16:21-26: “Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.’ Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, ‘Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.’ Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?’” Dalam bagian firman ini, kita dapat melihat opini (ayat 22), Iblis (ayat 23), diri (ayat 24), dan nyawa (hayat jiwa) (ayat 25-26). Watak Petrus terlihat dengan jelas dalam ayat-ayat ini. Walaupun istilah watak tidak disebutkan di sini, tetapi dapat dilihat dari unsur-unsur opini, diri, hayat jiwa, dan Iblis. Iblis ada di dalam opini kita, dan opini kita berasal dari diri kita. Itulah hasil dari watak kita. Tanpa opini, tidak akan ada watak. Watak seseorang terlihat dari opininya.

Dalam kehidupan pernikahan, dosa karena ambisi tidak muncul setiap hari, tetapi masalah opini sering kali muncul setiap hari. Baik saudara maupun saudari mempunyai opini. Tetapi, saudari mungkin lebih mudah mengekspresikannya, sementara saudara menahan opini mereka di dalam diri mereka. Opini saudara mungkin bahkan lebih kuat daripada opini saudari, tetapi saudara mungkin tidak mengekspresikannya. Ketika seorang saudara mengendarai mobil, istrinya mungkin mengekspresikan banyak opini mengenai cara mengemudikannya, tetapi saudara tersebut mungkin diam-diam melaksanakan opininya sendiri.

Dalam pekerjaan Tuhan, dalam hidup gereja, dan dalam kehidupan rohani, faktor perusak yang paling besar adalah opini kita. Selama bertahun-tahun dalam pekerjaan Tuhan, saya telah melihat banyak masalah opini. Kegunaan kita di hadapan Tuhan sangat tergantung pada masalah opini kita. Jika kita beropini, kita sudah tersingkir dari pekerjaan Tuhan. Di masa lampau, dalam pekerjaan Tuhan, saudara-saudara di atas saya lebih banyak memakai saya ketika saya tidak beropini. Ketika saya mulai beropini, mereka tidak dapat memakai saya. Sejak saya keluar dari daratan China pada tahun 1949, dengan sendirinya sejumlah orang kudus berada di bawah pimpinan saya dalam pekerjaan Tuhan. Seberapa banyak mereka dapat digunakan juga tergantung pada opini mereka. Semakin beropini, semakin tidak dapat dipakai.

Mereka yang pergi dalam kelompok-kelompok Injil untuk mengunjungi orang mungkin banyak mengalami masalah opini. Di satu pihak, ketika saya bekerja dengan para sekerja di daratan China, saya tidak memiliki opini apa pun. Di pihak lain, saya harus “menelan” opini saya. Saya tahu, jika saya mengekspresikan opini saya, saya akan tersingkir dari pekerjaan ini. Saya malah mungkin lebih baik pergi ke dunia untuk mencari pekerjaan karena para sekerja itu tidak dapat bekerja dengan saya. Jika saya beropini, saudara-saudara yang di atas saya dalam pekerjaan tidak akan memakai saya, dan saudara-saudara di bawah saya tidak dapat bekerja dengan saya.

Kelihatannya, kehidupan kristiani adalah masalah individu. Tetapi, seberapa banyak kita bertumbuh dalam hayat sangat tergantung kepada opini kita. Seberapa banyak pertumbuhan yang telah kita miliki sejak kita diselamatkan tergantung pada seberapa banyak kita telah menanggulangi opini kita. Opini adalah masalah yang besar. Ia berada di dalam kita seperti sumsum dalam tulang kita. Jika Tuhan menyuruh kita untuk menjenguk saudari tertentu, kita mungkin mengatakan bahwa kita tidak siap. Itu adalah opini kita. Dalam Matius 16:21 Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan disalibkan. Petrus mulai menegur Dia dan berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (ayat 22). Ini adalah opini Petrus. Bagi Tuhan, Petrus seperti topeng yang menyembunyikan sumber opini. Sumbernya bukan Petrus, melainkan Iblis. Tuhan berpaling kepada Petrus dan berkata, “Enyahlah Iblis!” (ayat 23). Opini adalah masalah yang besar, mengerikan, menghalangi jalan, tekad, rencana, dan ekonomi Tuhan.

Saya telah berada dalam gereja dan dalam pekerjaan di pemulihan Tuhan selama lima puluh tujuh tahun. Selama itu, saya telah melihat sejumlah huru-hara dalam gereja. Huru-hara itu seperti badai. Sejak pemulihan Tuhan ada di negara ini lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, kita hanya mengalami dua kali “badai” besar. Faktor yang menyebabkan badai-badai itu adalah ambisi dan opini. Taifun adalah badai yang berhubungan dengan iklim panas. Di pihak lain, gempa bumi terjadi karena kumpulan tekanan di dalam bumi yang tidak menemukan jalan keluar. “Panas” dan “tekanan” yang menyebabkan huru-hara dalam hidup gereja adalah ambisi dan opini. Tetapi, kita tidak seharusnya terganggu oleh badai. Tidak ada badai yang tidak berlalu dengan cepat, semakin besar badainya, berlalunya juga semakin cepat. Badai dalam hidup gereja pasti berlalu dengan cepat.

Semua pergolakan dalam hidup gereja prinsipnya sama, disebabkan oleh orang-orang yang mencari kedudukan tetapi tidak berguna karena opini mereka. Seseorang mungkin ingin menjadi penatua. Itulah ambisi. Tetapi ia mungkin adalah orang yang penuh opini, tidak dapat mengendalikan opininya, opininya justru merusak dia sehingga dia tidak bisa menjadi penatua. Pada tahun 1933, Saudara Watchman Nee meminta saya untuk tinggal di Shanghai dan bekerja dengannya. Saat itu salah seorang saudara yang tinggal bersama kami sangat ingin menjadi penatua dalam gereja. Ia “memburu” kedudukan penatua selama bertahuntahun. Tetapi, ia adalah orang yang banyak opini dan tidak cocok untuk pekerjaan Tuhan, dan perkataannya yang penuh opini sering merusak pekerjaan itu. Pada akhirnya, ia mendirikan sidang di rumahnya sendiri dan menyewa pengkhotbah keliling yang tahu banyak mengenai ajaran kita. Di bawah pengarahan saudara ini, pengkhotbah keliling tersebut menulis sebuah artikel panjang yang menyerang Saudara Watchman Nee. Badai ini datang dari satu orang yang memiliki ambisi menjadi penatua, tetapi tidak mendapatkannya, karena ia dirusak oleh opininya.

Ambisi, “si tikus tanah” dan opini, “si binatang merayap” selalu bergandengan dan menyebabkan huru-hara. Bahkan dalam situasi politik nasional dan internasional pun demikian. Pengacaunya adalah orang-orang yang berambisi besar, tetapi tidak mendapatkan apa yang mereka perjuangkan, karena mereka tidak berguna. Entah kita berguna atau tidak di tangan Tuhan tergantung pada opini kita.

Dunia dan dosa mungkin tidak menghalangi pertumbuhan dalam hayat rohani kita, tetapi penghalang yang selalu ada dan menghalangi pertumbuhan hayat rohani kita adalah opini kita. Kadang-kadang kita tidak mengekspresikan opini kita, tetapi ia tetap ada di sana. Opini adalah ekspresi watak kita, dan watak kita adalah masalah terbesar bagi pertumbuhan kita dalam hayat ilahi. Di Timur Jauh dan di Amerika Serikat, saya mengenal sejumlah orang kudus. Mereka patut dikasihi, mereka mutlak dan sungguh-sungguh bagi Tuhan. Tetapi, setelah beberapa tahun, mereka hanya bertumbuh sedikit dalam hayat. Masalah mereka satu-satunya adalah opini mereka.

Watak kita adalah diri kita. Setiap orang memiliki watak. Watak ada di dalam kita dan adalah kita. Watak kita membuat kita sulit untuk membebaskan roh kita. Dari tahun 1942 sampai tahun 1948, Saudara Watchman Nee mengalami huru-hara panjang yang menghalangi dia menunaikan ministrinya. Setelah huru-hara itu lewat, salah satu dari berita pertama yang disampaikannya adalah mengenai remuknya insan dan keluarnya roh. Sejak saat itu, inti pembicaraan Saudara Watchman Nee hampir selalu mengenai peremukan insan lahiriah. Peremukan insan lahiriah adalah peremukan watak kita. Saya juga masih belajar bagaimana menanggulangi watak saya. Saudara Watchman Nee memperingatkan kita, jika kita tidak mempelajari pelajaran peremukan insan lahiriah sebelum umur 50 tahun, kita akan mendapat kesulitan dalam hidup gereja. Lebih mudah menanggulangi watak ketika kita masih muda.

TANYA JAWAB

Tanya: Bagaimana kita menanggulangi watak kita? Apakah kita perlu berdoa untuk watak kita, atau haruskah kita menuntut pengalaman akan Tuhan lebih banyak?

Jawab: Tuhan sepertinya tidak menjawab doa semacam ini. Roma 8:13 mengatakan, “Tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Perbuatan-perbuatan tubuh kita adalah bagian dari karakter kita. Biasanya, kita selalu melakukan hal-hal dengan cara tertentu. Kita harus meletakkan kebiasaan kita dalam kematian melalui Roh yang berhuni di dalam kita. Satu-satunya yang dapat membereskan masalah watak dan karakter kita adalah salib. Kita harus memikul salib untuk meletakkan watak kita dalam kematian. Berkenaan dengan dosa, kita mungkin rela untuk meletakkan anggota-anggota tubuh kita dalam kematian. Tetapi, setiap hari tubuh kita melakukan banyak hal. Semua perbuatan tubuh ini adalah seturut dengan kebiasaan kita, karena itu semuanya juga harus ditaruh dalam kematian. Kita harus menaruh perhatian pada masalah opini dan selalu menghakimi opini kita.

Seorang saudara mungkin datang kepada kita dan berkata, “Mari pergi menginjil.” Jika kita telah belajar menaruh watak kita dalam kematian, kita akan mengatakan, “Amin! Haleluya!” Tetapi, kita mungkin merasa bahwa kita memiliki hak untuk mengekspresikan opini kita dan tidak seharusnya mengikuti saudara tersebut dengan membabibuta. Hanya kematian salib yang dapat menanggulangi watak kita. Manusia lama kita, si “aku”, telah disalibkan dengan Kristus (Rm. 6:6; Gal. 2:20). Karena itu, kita harus membiarkan opini kita, watak kita, tinggal di atas salib. Inilah peremukan insan lahiriah.

Tanya: Jika opini kita mempengaruhi daya guna kita dan kelancaran kerja sama kita dengan orang lain, lalu bagaimana kita dapat saling bersekutu dan berkoordinasi dalam pekerjaan?

Jawab: Kita harus menyingkirkan opini kita. Sukar bagi orang Kristen untuk mendiskusikan pekerjaan Tuhan. Bahkan sangat sukar untuk berbicara mengenai seia sekata. Pada bulan Februari 1986, sekitar lima ratus sekerja dan penatua datang bersama untuk sidang istimewa. Subyek sidang istimewa itu adalah seia sekata. Pada akhirnya, sidang istimewa itu menjadi sumber huru-hara. Jika tiga anggota kelompok Injil berkumpul, lalu salah seorang mengatakan sesuatu untuk mempertahankan seia sekata, ia mungkin menyakiti kedua anggota yang lain. Karena seia sekata adalah masalah yang sulit, banyak orang Kristen menjadi sama seperti politisi. Mereka mengatakan bahwa mereka setuju dengan sesuatu padahal sebenarnya tidak. Sepertinya mereka tidak mempunyai opini apa-apa, tetapi sebenarnya mereka memiliki banyak opini.

Tanya: Apakah yang harus kita lakukan jika sesuatu muncul dalam persekutuan kita, padahal kita sangat yakin bahwa itu tidak benar ?

Jawab: Kita harus memelopori untuk menjadi orang yang tidak beropini. Biarkan orang lain yang bersekutu dengan kita mengatakan apa yang mereka pikirkan. Kita hanya mengatakan, “Amin! Saya akan berjalan bersama Anda.” Maka yang lain akan mengikuti teladan kita. Jika kita berdebat dan mengoreksi orang lain, kita akan membangun teladan perdebatan dan koreksi, sehingga yang lain juga akan berdebat. Jika kita telah belajar menanggulangi opini, kita akan menjadi teladan sebagai seorang yang tidak beropini. Maka orang lain yang bersama kita juga akan belajar menanggulangi opini.

Sering kali ketika saya mengajukan sesuatu, saudarasaudara yang bersama saya akan mengajukan yang lain. Ketika hal ini terjadi, saya dengan segera mengikuti mereka. Di pihak lain, ketika saudara-saudara itu mengajukan sesuatu, saya tidak suka mengatakan sesuatu yang berbeda. Saya lebih senang mengikuti mereka dan berkata, “Sangat baik. Mari kita kerjakan.” Ini adalah masalah opini, watak kita, yang membuat kita keras kepala. Kita tidak suka diubah atau dikoreksi. Kita suka memaksakan kehendak kita. Jika kita tidak berhasil melakukannya sesuai dengan cara kita kali ini, kita akan mencobanya lagi lain kali. Jika kita seperti ini, saudara-saudara yang lebih tua tidak dapat menggunakan kita, dan saudara-saudara yang lebih muda tidak akan bekerja sama dengan kita. Akibatnya, kita akan terkucil dan menjadi tidak berguna. Kita harus selalu seiring dengan saudara-saudara, tidak beropini, meletakkan watak kita dalam kematian. Dengan demikian kita akan berguna.

Tanya: Ketika beberapa orang berkumpul untuk bersekutu, mereka menjadi pasif karena mereka tidak ingin mengekspresikan opini mereka. Bolehkah kita mengutarakan opini kita selama kita tidak memaksakannya dan bersedia jika opini itu tidak dilaksanakan?

Jawab: Hal ini tidak benar. Jika kita sungguh-sungguh meletakkan opini kita, kita harus seiring dengan yang lain secara positif. Kita mungkin mengatakan bahwa kita tidak akan melakukan sesuatu karena kita tidak ingin beropini. Tetapi, jika kita tidak seiring dengan yang lain secara positif, berarti kita memisahkan diri dan mempertahankan opini kita. Jika seorang saudara mengusulkan agar kita mengatur kursi di balai sidang dengan cara yang tidak biasa, apakah kita akan melakukannya? Kita harus belajar untuk seiring dengan saudara tersebut. Jika kita seiring dengannya, maka orang yang mengajukan opininya akan tahu bahwa ia salah. Ia akan segera mengusulkan agar kursi-kursi tersebut dikembalikan ke susunan semula. Kerjakan saja dan jangan menyalahkan dia. Pada akhirnya, kita akan menemukan cara yang tepat untuk menyusun kursi-kursi tersebut.

Ambisi ditambah opini membangun dan menyebabkan permusuhan. Ketika sepasang suami istri bepergian, mereka mungkin tidak sependapat mengenai jalur yang akan ditempuh. Mereka mungkin berdebat, menjadi tidak senang, dan membatalkan perjalanan itu. Berdebat karena opini dapat juga terjadi dalam hidup gereja. Dalam denominasi tertentu, para pemimpinnya berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah gereja. Akhirnya, mereka menjadi marah satu sama lain, dan seorang saudara melemparkan Alkitab kepada saudara yang lain.

Jika para anggota kelompok Injil berdebat mengenai keluarga mana yang akan dikunjungi, kelompok itu akan hancur. Kita harus menjadi orang yang bebas dari opini. Bahkan sedikit perdebatan akan mengikat setiap orang dalam kelompok itu. Ketika seseorang mengajukan sesuatu, kita harus berjalan mengikutinya. Dengan demikian, jika apa yang kita lakukan salah, hal itu akan tersingkap. Melakukan sesuatu yang salah adalah jauh lebih baik daripada berdebat.

Tanya: Apakah perbedaan antara saling bersekutu dan mengutarakan opini kita?

Jawab: Tujuan bersekutu adalah untuk mendapatkan penyertaan Tuhan. Jika kita masing-masing bekerja menurut cara kita sendiri dan memperhatikan bagian kita sendiri tanpa bersekutu, maka akan sangat sukar bagi kita untuk menikmati penyertaan Tuhan. Semakin banyak kita bertindak, bekerja, dan melakukan segala sesuatu bersama-sama, kita semakin memiliki penyertaan Tuhan.

Tanya: Ketika saya beropini, saya mungkin tidak mengekspresikannya agar tidak menimbulkan masalah, tetapi saya merasa munafik kalau saya setuju di luaran. Bolehkah kita berpolitik untuk menjaga agar suasana tetap menyenangkan?

Jawab: Beropini tetapi pura-pura tidak beropini itu munafik. Kita harus menghakimi hal ini. Kita harus menghakimi opini kita dan belajar membenci serta menyangkalnya. Menyangkal opini kita adalah menyangkal diri kita. Ketika kita berkumpul dengan yang lain, kita harus menyangkal diri kita, tidak beropini, dan seiring dengan orang lain, apa pun yang diusulkannya. Ini bukan munafik. Ketika para anggota kelompok Injil berkumpul dan tidak seorang pun memiliki opini, maka saat itu adalah waktu terbaik bagi Tuhan untuk melakukan sesuatu. Mereka harus berdoa, “Tuhan, pimpin kami dan arahkan kami. Kami ingin mengikuti Engkau.” Dengan demikian, sesuatu yang berasal dari Tuhan akan muncul.

Tanya: Bagaimana kita membedakan opini dan perasaan yang berasal dari pimpinan Tuhan?

Jawab: Banyak perasaan yang kita kira pimpinan Tuhan sebenarnya adalah opini kita. Ketepatan perasaan kita tergantung pada peremukan insan lahiriah kita melalui salib dan juga tergantung pada berapa banyak kita mati terhadap diri sendiri.

Tanya: Saya memiliki perasaan, agar kita dapat menghubungi orang baru setiap saat, maka selain sidang-sidang rumahan, setiap minggu kita perlu meluangkan sedikit waktu untuk mengunjungi orang-orang baru dengan cara mengetuk pintu. Jika saya mengatakan hal ini kepada kelompok Injil saya, apakah itu merupakan ekspresi opini saya?

Jawab: Untuk mempraktekkan jalan baru dalam hal bersidang dan melayani, pertama-tama kita harus keluar mengetuk pintu guna mendapatkan orang-orang yang diselamatkan dan dibaptis. Ketika kita pergi, kita tidak seharusnya mempunyai banyak orang di bawah perawatan kita. Setiap anggota kelompok seharusnya memiliki tiga atau empat orang di bawah rawatannya. Jika kita tidak memiliki jumlah yang cukup untuk dirawat, kita harus pergi lagi untuk mengetuk pintu. Pada akhirnya, kita harus berhenti mengetuk pintu dan mengasuh dua sampai empat orang baru selama sejangka waktu tertentu. Setelah itu, kita harus melanjutkan mengikuti cara yang diberikan dalam berita-berita kita mengenai praktek jalan baru. Demikian, dalam gereja akan ada situasi yang jauh lebih baik daripada yang kita miliki di masa lalu.

Tetapi, banyak orang kudus mungkin hanya mengikuti setengah dari jalan yang telah diberikan dalam berita-berita tersebut. Mereka mungkin pergi untuk mengunjungi orang dengan cara mengetuk pintu, tetapi tidak dengan cara yang diusulkan dalam berita-berita tersebut. Itu adalah opini. Hanya orang yang tidak bersikeras melaksanakan opininya yang akan mengikuti jalan yang diusulkan dalam berita-berita tersebut secara keseluruhan. Karena kita memiliki opini, Tuhan tidak dapat bekerja dengan cepat. Jika kita tidak meletakkan opini kita dan menerima apa yang diusulkan dalam berita-berita tersebut, kita tidak akan melihat hasil yang banyak. Jika kita mempraktekkan apa yang diusulkan dalam berita akhir-akhir ini, kita akan melihat hasilnya.

Hidup gereja berbeda dengan sekolah. Ketika kita di sekolah, guru-guru memberi kita tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Jika kita tidak mengerjakannya, kita tidak lulus. Namun dalam hidup gereja kita mungkin membicarakan suatu berita berkali-kali, tetapi pendengarnya mungkin masih mengikuti setengahnya. Itulah opini. Dalam pekerjaan, dalam hidup gereja, dalam kehidupan pernikahan, dalam kehidupan pribadi, dan dalam kehidupan kristiani kita, perusak terbesar dan terberat adalah opini kita.