← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 30/31

PENGALAMAN HAYAT (16)

Dalam berita ini saya akan memberikan kesimpulan yang lebih jauh terhadap persekutuan mengenai pengalaman hayat. Dalam kesimpulan ini, ada dua bagian yang harus kita ingat. Bagian pertama adalah mengingat bahwa sekarang kita memiliki Kristus di dalam kita sebagai Mitra kita sepanjang waktu. Kita tidak lagi hidup, bertingkah laku, bertindak, dan berjalan dengan diri kita sendiri. Kita harus ingat bahwa Tuhan hidup di dalam kita. Bagian kedua adalah mengingat orang macam apakah kita ini.

MENGINGAT BAHWA TUHAN ADA DI DALAM KITA

Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan manusia yang berbaur dengan Allah. Kehidupan dua orang yang berbaur dan hidup bersama. Bukan masalah menempuh hidup dengan diri Anda sendiri. Sebagai orang Kristen, Anda harus selalu ingat bahwa Anda bukan lagi berdasarkan diri Anda sendiri. Ada Dia yang selalu bersama Anda sebagai Mitra, baik dalam hal kecil maupun dalam hal besar. Orang-orang yang belum percaya tidak memiliki Dia yang selalu bersama mereka dalam pengalaman mereka; karena itu, mereka tidak mengerti perkataan semacam ini. Pada saat Anda melakukan kegiatan sehari-hari, Anda seharusnya tahu bahwa Dia yang tidak terlihat ada bersama Anda dan diam di dalam Anda.

Kadang-kadang, kita tidak menyukai fakta bahwa Dia diam di dalam kita, karena kita tidak lagi dapat berbuat atau berbicara dengan leluasa. Ketika kita akan marah, kita harus memperhatikan Dia. Kita harus memperhatikan apakah Dia suka marah bersama kita atau tidak. Kita memiliki Dia yang hidup di dalam kita, karena itu kita harus menempuh semacam kehidupan yang tidak pernah mengabaikan, melupakan, atau mengesampingkan Dia.

Kita harus belajar untuk selalu menempuh kehidupan dengan Dia yang berada di dalam kita. Hal ini harus selalu menjadi pengalaman spontan kita, tetapi pada hari ini hal tersebut masih merupakan pengalaman kita yang kadangkadang saja. Jika tidak mengingat bahwa Tuhan ada di dalam kita, kita mungkin bebas untuk menyukai atau tidak menyukai orang menurut pilihan kita sendiri. Tetapi ketika kita mengingat bahwa Dia bersama kita, kita hampir tidak mempunyai kemerdekaan. Pernikahan mengurangi kemerdekaan kita karena kita harus belajar untuk hidup bersama orang lain. Sebelum seorang saudara menikah, ia bebas untuk melakukan apa yang disenanginya atau tidak disenanginya dan pergi ke mana pun yang dia suka. Tetapi setelah menikah, ia selalu memiliki seseorang bersamanya. Sering kali, suami terganggu untuk melakukan apa yang disenanginya karena istrinya, dan istri juga terganggu oleh suaminya. Suami mungkin ingin tertawa, tetapi karena istrinya, ia mungkin tidak bebas melakukannya. Sebelum menikah, ia tidak memiliki batasan atau gangguan semacam itu, tetapi setelah menikah, ia memiliki banyak batasan. Memiliki suami atau istri benar-benar membatasi kemerdekaan kita, tetapi istri atau suami juga sangat menguntungkan kita, terutama dalam hal kemitraan.

Sejak muda, saya telah menuntut untuk mengetahui bagaimana menempuh kehidupan orang Kristen, bagaimana menjadi kudus, dan bagaimana menjadi menang. Saya telah membaca banyak buku kekristenan mengenai masalah ini. Pada akhirnya, saya menemukan bahwa tidak ada satu pun cara yang ada di dalam buku-buku itu yang benar-benar manjur. Menurut pengalaman pribadi saya, hanya mengingat bahwa Dia ada di dalam kita adalah cara yang manjur. Masalah yang kita miliki adalah kita sering lupa bahwa Dia ada di dalam kita. Selama kita menempuh kehidupan sehari-hari, kita tidak ingat bahwa Tuhan adalah Dia yang bersama kita. Tetapi ketika kita ingat dan tahu bahwa Dia ada di dalam kita, segala sesuatunya akan lancar.

MENGINGAT ORANG MACAM APAKAH KITA INI

Dalam pengalaman riil kita sebagai orang Kristen, kita harus selalu ingat siapakah kita ini. Kita harus ingat bahwa menurut sifat kita yang jatuh, kita rusak dan jahat. Ketika kita mengapresiasi atau menilai diri kita terlalu tinggi, kita mudah sekali salah. Sewaktu sepasang suami istri marah-marah dan bertengkar, jika si suami menganggap dirinya lebih baik daripada istrinya, kemarahannya akan meningkat. Tetapi jika si suami ingat bahwa ia jahat, kotor, buruk, dan sama sekali tidak berguna, kemarahannya akan berkurang. Kadang-kadang, ketika kita ingin mengkritik orang lain, kita diingatkan akan keadaan kita sendiri. Jika kita selalu teringat akan hal ini, kita akan selalu terjaga di tempat yang tepat dan diselamatkan dari berbuat kesalahan. Setiap hari kita semua perlu ingat orang macam apakah kita ini.

Kita diciptakan oleh Allah dengan cara yang menakjubkan, tetapi kita juga dirusak dan dicemari oleh Iblis. Kita ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan, tetapi kita masih memiliki tubuh yang telah jatuh, penuh dengan hawa nafsu yang jahat dan menjijikkan. Itulah sebabnya kita mengeluh agar kita dapat dibebaskan dari tubuh kita yang rusak dan telah jatuh (Rm. 8:23). Karena seluruh diri kita telah dicemari, kita memerlukan darah Yesus Kristus untuk membasuh kita dari segala dosa secara terus-menerus (1 Yoh. 1:7). Pembasuhan darah itu seperti pancuran air yang mengalir sepanjang waktu. Di bawah aliran pembasuhan ini, kecemaran akan disingkirkan. Tetapi ketika kita tidak berada di bawah pembasuhan ini, kecemaran datang lagi. Karena itu, kita perlu menerapkan pembasuhan darah berulang kali sepanjang hari.

Dalam Perjanjian Lama, imam-imam mempersembahkan banyak persembahan setiap hari. Persembahan-persembahan itu melambangkan Kristus dalam berbagai aspek-Nya. Kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita dan kurban penebus salah kita setiap hari untuk pembasuhan kita yang tidak berkeputusan (lihat Experiencing Christ as the Offerings for the Church Meetings, halaman 69-97, yang diterbitkan oleh Living Stream Ministry). Sepanjang hari, sering kali kita perlu menerapkan darah Kristus dalam setiap keadaan.

Ingatan akan kebusukan dan kerusakan kita bisa menyelamatkan, menjaga, dan melindungi kita. Menganggap bahwa kita lebih tinggi daripada orang lain karena tingkat pendidikan atau kekayaan benar-benar merusak kita. Kita harus selalu mengenal dan ingat bahwa kita adalah orang yang rusak, tubuh daging kita penuh nafsu, jiwa kita diresapi oleh si jahat, menjadikan diri kita perwujudan si Iblis (Mat. 16:23), dan roh kita dimatikan. Walaupun roh kita pasti telah dilahirkan kembali (Yoh. 3:6), hari ini roh kita masih berada di bawah keadaan yang mematikan. Dua Korintus 7:1 mengatakan bahwa kita harus menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani. Pencemaran roh kita adalah kematian roh kita. Roh kita sering kosong, kering, rendah, dan tercemar, dikarenakan roh kita tidak begitu hidup. Karena roh kita mati, maka kita mudah marah atau mengkritik orang lain, tetapi sukar untuk memuji Tuhan. Pada saat penyegaran pagi, roh kita mungkin menjadi sangat hidup, tetapi pada saat-saat lain di sepanjang hari, roh kita tidak begitu hidup. Karena itu, roh kita mudah dicemari. Tonggak kayu yang mati dapat dengan mudah menjadi kotor atau tercemar, tetapi tidak demikian dengan pohon yang hidup.

TIDAK PERCAYA KEPADA DAGING

Jika kita ingat bahwa kita adalah orang yang tubuhnya penuh dengan nafsu, jiwanya telah bersatu dengan Iblis, dan rohnya telah mati, kita tidak akan memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap diri sendiri. Paulus adalah orang yang demikian. Menurut Filipi 3:3, Paulus bermegah di dalam Kristus Yesus dan tidak memiliki keyakinan dalam daging (tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah). Ia tidak memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, sebab itu ia tidak percaya pada dirinya sendiri. Pengalaman ini membuat Paulus percaya kepada Tuhan. Kita perlu mengalami hal yang sama. Kita harus mengenal bahwa tidak ada seorang pun yang dapat kita percayai selain Kristus. Kita harus mutlak percaya kepada-Nya, tanpa Dia, kita adalah orang-orang yang kasihan. Kita tidak seharusnya mengatakan bahwa kita adalah sesuatu; lebih baik kita mengatakan bahwa kita bukanlah apa-apa. Kita adalah orang-orang yang kasihan yang memerlukan Tuhan.

Agar mengenal pengalaman dan pertumbuhan dalam hayat, kita benar-benar perlu mengetahui sejumlah ajaran yang berbeda dalam Alkitab. Selain itu, kita juga perlu mengetahui dua hal yang sangat penting. Pertama, kita perlu tahu bahwa Tuhan Yesus telah menjadikan diri-Nya sendiri satu dengan kita (1 Kor. 6:17). Hasilnya, kita seharusnya tidak menempuh kehidupan berdasar pada diri sendiri; kita harus menempuh hidup bersama-Nya. Kedua, kita harus mengetahui bahwa seluruh diri kita — roh, jiwa, dan tubuh — telah dirusak. Karena itu, kita seharusnya tidak percaya atau yakin terhadap diri sendiri. Dengan dua pengenalan ini, kita dapat berdoa, “Tuhan, aku tidak memiliki kepercayaan atau keyakinan terhadap diri sendiri. Aku mutlak percaya kepada-Mu. Tanpa Engkau, aku hanyalah orang yang kasihan. Tanpa Engkau atau di luar Engkau, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi di dalam diri-Mu, yang menguatkan aku, aku dapat melakukan semua perkara.” Inilah kehidupan orang Kristen.

PENGALAMAN PETRUS MENGENAL DIRINYA SENDIRI

Sebelum penyaliban Tuhan, Petrus sangat yakin akan dirinya bahwa ia tidak akan menyangkal Tuhan (Mat. 26:33-35). Maka, Tuhan di dalam kedaulatan-Nya mengatur lingkungan bagi Petrus sehingga ia menyangkal-Nya tiga kali, bahkan di depan wajah Tuhan (Luk. 22:55-61). Melalui pengalaman-pengalaman itu, Petrus ditaklukkan. Menurut Yohanes 21, setelah kebangkitan, Tuhan bertemu dengan Petrus di tempat dia dan murid-murid yang lain meninggalkan Tuhan (ayat 1). Ketika mereka menangkap ikan, Tuhan menampakkan diri di pantai. Ketika mereka melihat Tuhan, mereka baru sadar bahwa mereka tidak berpakaian (ayat 7). Ini sangat berarti. Tuhan menemui Petrus saat Petrus sedang dalam keadaan meninggalkan Tuhan, yaitu ketika ia tidak berpakaian.

Ketika mereka tiba di tepi pantai dan sedang sarapan, Petrus sangat ditaklukkan dan mungkin merasa sangat tidak nyaman. Ia mungkin merasa sangat malu karena kegagalannya baru-baru ini; ia telah menyangkal Tuhan, ia tidak tinggal di Yerusalem, walaupun Tuhan telah menyuruhnya untuk tinggal di sana (Luk. 24:49), dan ia telah memimpin yang lain untuk mundur, kembali ke Galilea dan bekerja seperti semula yaitu menangkap ikan (Yoh. 21:3). Dalam batin, Petrus mungkin sangat gembira karena telah melihat Tuhan, tetapi karena kegagalannya, mungkin tidak memiliki iman untuk mengekspresikan perasaannya.

Setelah sarapan, Tuhan bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Petrus menjawab Tuhan, “Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Jawaban Petrus sangat bermakna. Ia tidak hanya mengatakan, “Ya, Tuhan, aku mengasihi-Mu” dan tidak juga mengatakan, “Tidak, Tuhan, maafkan aku. Aku ingin mengasihi-Mu, tetapi aku tidak dapat mengasihi-Mu.” Jawaban Petrus atas pertanyaan Tuhan mengungkapkan bahwa ia benar-benar telah ditaklukkan. Ia telah kehilangan semua keyakinan terhadap dirinya sendiri. Keyakinan Petrus telah dialihkan dari dirinya sendiri kepada Tuhan. Karena ia tidak lagi memiliki keyakinan terhadap diri sendiri, ia ingin mengetahui apa yang akan Tuhan katakan. Ia mungkin teringat pernyataannya yang penuh keyakinan bahwa dia tidak akan menyangkal Tuhan dan perkataan Tuhan bahwa dia akan menyangkal Tuhan tiga kali. Melalui kegagalan itu, Petrus mengenal bahwa hanya perkataan Tuhanlah yang terhitung. Karena itu, ketika Tuhan bertanya kepada Petrus, Petrus mengembalikan pertanyaan itu kepada Tuhan untuk melihat apakah yang akan dikatakan-Nya. Melalui kalimat pendek ini kita dapat melihat bahwa Petrus tidak memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri, ia telah ditaklukkan dan diremukkan. Inilah kehidupan orang Kristen, kehidupan yang telah ditaklukkan dan diremukkan.

KATA-KATA KHUSUS UNTUK PARA PESERTA PELATIHAN MENGENAI KEMBALI UNTUK MENGUNJUNGI GEREJA YANG MENUNJANG MEREKA

Sebagai peserta pelatihan, Anda mungkin menjadi kecewa atau kecil hati karena pengalaman Anda diterangi di dalam pelatihan ini. Karena itu, Anda mungkin berniat untuk mundur dari pelatihan dan kembali ke gereja yang menunjang Anda. Jika Anda kembali dengan cara demikian, maka nasib Anda akan lebih menyedihkan lagi. Karena Anda tidak mengenal diri Anda sendiri, Anda mungkin berpikir bahwa Anda perlu melakukan sesuatu. Sebenarnya, Anda tidak perlu melakukan apa-apa. Anda hanya perlu memberi tahu Tuhan, “Tuhan, inilah aku. Aku ini kasihan. Aku tidak memiliki keyakinan terhadap diri sendiri. Keyakinan dan kepercayaanku hanyalah pada-Mu. Tanpa Engkau atau di luar Engkau, aku hanyalah orang yang kasihan.” Sampai pada pengenalan yang demikian, sangatlah positif.

Sikap Anda ketika mengunjungi gereja yang menunjang Anda, orang tua, dan famili sangatlah penting. Jika Anda kembali dengan sikap dan pengenalan bahwa Anda bukanlah apa-apa dan keyakinan Anda hanyalah pada Tuhan, ini akan sangat indah. Kesaksian yang sedemikian akan merawat setiap orang yang mendengarkan Anda. Tetapi jika Anda kembali dan mempersaksikan betapa baiknya pelatihan itu, semua yang mendengar kesaksian Anda mungkin akan terbunuh. Jika pengalaman Anda terhadap Tuhan di dalam pelatihan ini tepat, setiap hari Anda akan sangat disingkapkan. Semua yang ada di dalam pelatihan hanya bertujuan untuk menyingkapkan Anda. Pengalaman yang demikian sangat menguntungkan, karena hal itu berarti bahwa Anda mulai mengenal diri Anda. Walaupun Anda telah belajar dan telah diperlengkapi lebih banyak dalam pelatihan ini, semuanya mungkin dapat dianggap sebagai “emas” yang menghiasi Anda secara luaran. Memberikan kesan kepada orang-orang bahwa Anda sekarang dihiasi dengan emas, tidaklah memadai. Yang terbaik adalah memberikan kesan kepada orang lain bahwa Anda adalah seorang yang diremukkan dan ditaklukkan tanpa emas yang terlihat. Jika gereja yang menunjang Anda mendapat kesan yang demikian dari Anda, hal ini akan sangat menguntungkan.