PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (14)
PRINSIP INKARNASI BAGI KEHIDUPAN ORANG KRISTEN
Kehidupan Orang Kristen Berada dalam Prinsip Inkarnasi
Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan yang berada dalam prinsip inkarnasi. Karena banyak orang Kristen yang tidak melihat prinsip inkarnasi, maka telah terjadi banyak perdebatan mengenai sifat kehidupan orang Kristen. Ada yang mengatakan bahwa kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang diganti. Tetapi, pemahaman yang demikian tidak tepat. Sebagai orang Kristen, kita mempunyai dua sifat. Kita bukan hanya manusia, kita adalah para “manusia-Allah”. Sebelum inkarnasi Yesus, Perjanjian Baru belum ada. Perjanjian Baru tidak mungkin ada tanpa inkarnasi. Inkarnasi Yesus mengawali dan mengantar Perjanjian Baru. Sekarang kita, kaum beriman Perjanjian Baru, adalah orang-orang yang ajaib yang memiliki Allah di dalam kita dan telah menjadi satu dengan Allah. Betapa mulianya menjadi satu dengan Allah, menjadi manusia-Allah.
Allah Berbicara dalam Prinsip Inkarnasi
Dalam Perjanjian Lama, ketika nabi-nabi bernubuat bagi Allah, nubuat mereka sering kali dimulai dengan, “Firman TUHAN datang kepadaku” (Yer. 1:4; Yeh. 3:16; Yes. 38:4) atau “Beginilah firman TUHAN Allah” (Yes. 7:7; Yer. 2:2; Yeh. 2:4). Itu menunjukkan bahwa Tuhan terpisah dari nabi-nabi. Perkataan Tuhan datang secara obyektif di atas para pembicara, dan mereka menyatakan bahwa itu bukan perkataan mereka, tetapi perkataan Tuhan. Namun, di dalam 1 Korintus 7:25 Paulus berkata, “Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Dan pada saat memberikan pendapatnya ia berkata, “Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (7:40). Paulus menunjukkan bahwa apa yang ia katakan bukanlah perkataan dari Tuhan, tetapi adalah pendapatnya. Namun pemberian pendapatnya adalah perkataan Allah. Allah hidup di dalam Paulus dan berkata di dalam perkataan Paulus, bahkan di dalam pendapatnya, sebab Allah telah menjadi satu dengan Paulus dan telah membuat Paulus menjadi satu dengan-Nya. Pada saat kita berbicara, bukan hanya kita yang berbicara, tetapi Kristus, perwujudan Allah, yang berbicara dengan kita dan berbicara di dalam perkataan kita. Inilah prinsip inkarnasi.
Ibrani 1:1-2a mengatakan, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.” Di satu pihak, penulis kitab Ibrani tidak mencantumkan namanya. Dalam kitab ini, Perjanjian Lama dikutip tanpa menyebutkan nama-nama pembicaranya (1:5-13; 2:6-8a; 3:7-11; 4:3-5; 8:8-12; 10:5-7, 15-17). Di pihak lain, Ibrani adalah perkataan Allah di dalam Putra. Ibrani 3:7 mengatakan, “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus,” dan 10:15 mengatakan, “Dan Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita.” Pembicara dalam Ibrani bukan hanya Paulus, pemazmur, atau Yeremia, tetapi Roh itu.
Seluruh Perjanjian Baru, dari Matius sampai Wahyu, adalah perkataan Allah di dalam Putra. Dalam keempat kitab Injil, Allah berbicara di dalam Putra, dan di dalam Kitab Kisah Para Rasul sampai Wahyu, Allah terus berbicara di dalam Putra. Dalam keempat kitab Injil, Ia berbicara melalui Yesus Kristus, tetapi di dalam Kitab Kisah Para Rasul sampai Wahyu, cara berbicara-Nya berubah, Ia berbicara di dalam Putra melalui rasul-rasul. Perkataan rasul-rasul adalah perkataan Putra, karena rasul-rasul telah menjadi satu dengan Putra. Kristus adalah Putra sulung Allah, dan kita adalah putra-putra Allah (Rm. 8:29; Ibr. 2:10). Allah mempunyai banyak putra, dan putra-putra ini telah disatukan. Putra sulung ditambah banyak putra adalah kumpulan putra, putra korporat. Itulah sebabnya, perkataan Allah melalui para rasul mengacu kepada perkataan Allah di dalam Putra.
Ketika Tuhan Yesus sebagai Roh itu berbicara melalui Petrus, itulah Allah yang berbicara di dalam Putra karena Petrus adalah satu dengan Putra. Paulus menulis lebih banyak daripada Petrus, karena Paulus telah menerima ama-nat untuk melengkapkan firman Allah mengenai rahasia-Nya dalam ekonomi-Nya (Kol. 1:25-26), tetapi Kitab Wahyu, kesimpulan dari firman kudus, ditulis oleh Yohanes. Walaupun demikian, seluruh Perjanjian Baru adalah perkataan Allah yang telah melalui proses di dalam persona Putra (Ibr. 1:2). Selain itu, Putra bukan hanya seorang diri saja, melainkan Putra bersama anggota-anggota-Nya. Kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, dan Tubuh ini terdiri dari seluruh anak-anak Allah. Allah melahirkan banyak anak untuk menjadi anak-anak-Nya, dan anak-anak ini adalah penyusun-penyusun Tubuh Kristus. Karena itu, kita adalah anggota-anggota Putra. Hari ini Allah masih berbicara di dalam Putra korporat dalam prinsip inkarnasi.
KEHIDUPAN ORANG KRISTEN ADALAH
KEHIDUPAN BERSAMA ALLAH YANG TELAH MELALUI PROSES
DAN YANG SEDANG MENYALURKAN DIRI-NYA
Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan bersama antara orang-orang yang telah dipilih oleh Allah, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan dengan Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya. Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan yang khusus. Tidak setiap orang dapat menempuh kehidupan yang demikian. Hanya kita yang telah dipilih, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah dapat hidup bersama Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya. Inilah kehidupan dalam prinsip inkarnasi, dan inilah kehidupan yang berbaur, suatu kehidupan di mana Allah dan manusia berbaur bersama.
Apa pun yang kita lakukan, kita harus tahu bahwa kita adalah orang-orang yang berbaur dengan Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya. Kita tidak sendirian. Ketika kita berdebat dengan pasangan kita, kita harus tahu bahwa Allah ada di dalam kita. Ini akan menghentikan perdebatan. Ketika kita akan pergi ke suatu tempat tertentu, kita harus ingat bahwa kita adalah orang-orang yang berbaur dengan Allah dan Allah sedang pergi dengan kita. Ketika kita diingatkan bahwa kita berbaur dengan Dia, kelihatannya kita sendirilah yang teringat. Tetapi, pada saat itu ingatan kita sesungguhnya bukan berasal dari diri kita. Ingatan kita datang dari Kristus sebagai “Mitra” kita yang bersatu dengan kita. Ketika orang yang belum percaya pergi ke bioskop, ia tidak pernah berpikir bahwa Allah pergi bersamanya, karena ia belum memiliki Kristus sebagai Mitranya. Tetapi, ke mana pun kita pergi, kita mempunyai Mitra.
Kita adalah orang-orang yang khusus, orang-orang yang unik. Di mana pun kita berada, kita tidak sendirian. Ada satu orang lain yang bersama dengan kita setiap saat. Banyak orang Kristen dapat mempersaksikan pengalaman mereka terhadap Allah dalam hal ini. Ada orang-orang tertentu yang biasa berjudi sebelum mereka diselamatkan, tetapi setelah beroleh selamat, mereka tidak mampu lagi berjudi. Sebelum percaya, saya lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain sepak bola. Setelah saya beroleh selamat, saya tetap bermain sepak bola, karena saya merasa sepak bola itu tidak berdosa. Tetapi, pada suatu hari, ketika saya menerima bola di lapangan sepak bola, saya seolaholah tidak dapat menggunakan kaki saya untuk menendangnya. Saya berbalik dan meninggalkan lapangan. Sejak saat itu saya tidak pernah kembali untuk bermain sepak bola. Bahkan pada saat itu saya belum menyadari bahwa saya tidak sendirian, melainkan Tuhan Yesus bersama saya. Saya mengira bahwa saya sendirilah yang meninggalkan lapangan. Banyak orang Kristen mempunyai pengalaman yang sama. Kita tidak tahu bahwa bukan kita sendirilah yang bertindak, tetapi Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya, yang adalah Kristus yang telah rampung sempurna sebagai Roh itu.
Kehidupan orang Kristen adalah suatu kehidupan bersama antara kita, orang-orang yang dipilih, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah dengan Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya, suatu kehidupan yang ditempuh oleh dua persona yang berbaur dan hidup bersama sebagai satu persona. Baik kita bermaksud menempuh kehidupan yang demikian atau tidak, selama kita adalah orang-orang Kristen, khususnya orang-orang Kristen yang menuntut, kita hidup bersama Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang almuhit, Bapa, Anak, dan Roh pemberi-hayat. Bahkan jika kita tidak mau lagi menjadi orang Kristen, itu sudah terlambat. Sesuatu telah masuk ke dalam kita, dan kita tidak akan pernah dapat membuangnya. Pemulihan Tuhan adalah memulihkan kehidupan yang demikian, yaitu orang-orang yang telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan oleh Allah dapat hidup bersama dengan Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya baik secara sadar maupun tidak, sengaja maupun tidak sengaja. Ketika kita menempuh kehidupan yang demikian, kita menyatakan bahwa kita dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan oleh Allah. Kita bukan milik kita sendiri. Kita adalah orang-orang yang dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan oleh Allah. Kita menyatakan bahwa Allah yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya hidup bersama kita. Bukan hanya kita hidup dengan-Nya, tetapi Ia hidup dengan kita.
Sebelum kita diselamatkan, kita mungkin jarang bertanya kepada diri sendiri, apakah yang sedang kita lakukan itu tepat. Kita mungkin mengira bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah benar. Tetapi kini, Tuhan sering mengusik kita dan menanyakan apakah yang sedang kita lakukan. Kita mungkin mengira bahwa kita sedang bertanya kepada diri sendiri. Tetapi, kita harus tahu bahwa itu bukan hanya kita, tetapi Mitra kita yang bertanya. Mitra kita bersatu dengan kita dan kadang-kadang kelihatannya seperti kita. Galatia 2:20 mengatakan, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Bagian pertama dari ayat ini, “aku” adalah manusia lama; pada bagian kedua, “aku” adalah manusia baru yang bersatu dengan Kristus sebagai Mitranya.
Selalu ada seseorang di dalam kita yang mengingatkan kita bahwa kita bersatu dengan-Nya. Sebelum saya diselamatkan, saya dapat melakukan segala sesuatu tanpa batas. Tetapi sekarang, saya adalah orang yang berbeda. Kadang kala ketika saya terlalu banyak tertawa, Mitra saya bertanya apakah tertawa saya berasal dari roh, maka saya berhenti tertawa. Sebelum saya diselamatkan, ketika saya marah, saya lepas tanpa kendali. Tetapi, setelah saya beroleh selamat, saya mengalami bahwa pada saat saya sedang marah, ada sesuatu di dalam saya yang sedang mengendalikan saya. Pengalaman yang demikian membuktikan bahwa kita telah beroleh selamat. Di sini, Allah tidak hanya bersama kita, tetapi juga bersatu dengan kita. Ia hidup bersama kita dalam kehidupan kita, dan Ia menantikan kerja sama kita, sehingga kehidupan kita dapat menjadi satu dengan-Nya.
Dalam Yohanes 14:19 Yesus berkata, “Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.” Kelihatannya, Tuhan hidup oleh diri-Nya sendiri dan kita hidup oleh diri kita sendiri. Tetapi, Yohanes 14:16-20 memberi tahu kita bahwa kita hidup bersama-sama. Pada saat Ia hidup, kita hidup dalam kehidupan-Nya, dan pada saat kita hidup, Ia hidup dalam kehidupan kita. Ini adalah rahasia yang sangat dalam. Kelihatannya, Yohanes 14:19 adalah perkataan yang sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Allah yang demikian hidup bersama manusia, manusia yang berdosa dan tercemar yang telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan. Inilah kehidupan orang Kristen.
Haleluya, kita telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diselamatkan. Kita tidak memilih-Nya. Sebaliknya, kita mungkin menolak-Nya. Kita tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sehingga kita percaya kepada Tuhan. Semuanya tidak tergantung pada diri kita. Kita hanya mengubah pikiran kita dan menyeru nama-Nya. Sekarang, kita adalah orang yang berbaur dengan Tuhan. Ketika kita berjalan seiring dengan-Nya, kita gembira. Ketika kita tidak berjalan seiring dengan-Nya, kita tidak memiliki perhentian. Orang Kristen belum tentu orang yang berada dalam perhentian. Sering kali kita diganggu oleh sesuatu di dalam. Kita bahkan menghabiskan lebih banyak waktu dalam kebingungan daripada menikmati perhentian. Orang yang mengganggu kita adalah Mitra kita. Karena Dia, kita berada di sini dalam hidup gereja dan telah meninggalkan banyak hal untuk memusatkan diri demi menempuh kehidupan orang Kristen.
Jika kita mengenal apakah kehidupan orang Kristen itu, kita benar-benar diberkati. Kita bersatu dengan Dia. Inilah perhentian kita dan kesaksian kita. Tanpa sadar dan secara langsung, kita menempuh kehidupan bersama Allah. Ketika kita hidup, Ia hidup. Ketika kita berbicara, Ia berbicara. Ke mana pun kita pergi, Ia juga pergi. Kita tidak dapat menyangkal realitas ini, dan kita tidak dapat menolaknya. Inilah kehidupan orang Kristen. Kehidupan orang Kristen bukan bergumul dan berusaha untuk melakukan sesuatu yang baik. Pergumulan itu hanya akan berhasil untuk sesaat saja. Kita seharusnya menempuh kehidupan bersama Allah. Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Dalam kehidupannya, ia bersatu dengan Kristus, memperhidupkan Kristus, dan mengekspresikan Kristus. Akhirnya, bukan lagi kita yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita.