← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 28/31

PENGALAMAN HAYAT (15)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 4:8

AJARAN RASUL YANG LAIN

MENGENAI MEMPERHIDUPKAN KRISTUS DARI DALAM KITA

Ajaran Paulus dalam Kitab Filipi adalah mengenai memperhidupkan Kristus dari dalam kita. Setelah banyak ajaran mengenai aspek utama dalam pokok pembahasannya, dalam 4:8 ia berkata, “Jadi, akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia (terhormat), semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Frase “jadi, akhirnya,” menunjukkan bahwa meskipun Paulus telah menulis hampir empat pasal, masih banyak yang akan dia katakan. Ia masih berbeban untuk berbicara lebih lanjut, tetapi ia tidak memiliki waktu atau cara yang cocok untuk mengakhiri perkataannya, sehingga ia berkata, “Jadi, akhirnya.” Hal-hal lain yang disebutkannya dalam ayat 8 hanyalah garis besar dari perkataannya selanjutnya. Ia tidak memberikan terlalu banyak rincian, tetapi dia memberikan garis besar yang terdiri dari delapan butir. Butir-butir ini meliputi: semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar (bereputasi baik), semua kebajikan, dan semua pujian.

YANG BENAR, MULIA, ADIL, SUCI, DAN MANIS

Pertama-tama, Anda harus sebagai orang yang benar yang terlibat dengan perkara-perkara benar. Kemudian, Anda harus sebagai orang yang berurusan dengan hal-hal yang mulia (terhormat), tidak menyentuh sesuatu yang memalukan. Anda juga harus menjadi orang yang adil dalam segala hal, terhadap Allah maupun terhadap manusia. Anda juga harus menjadi orang yang suci, hanya menyentuh hal-hal yang suci. Bagi umat Allah, kesucian mempunyai arti jauh lebih banyak daripada bagi orang-orang yang belum percaya. Bagi orang-orang yang belum percaya, apakah sesuatu itu suci atau tidak, tidak menjadi masalah. Tetapi umat Allah harus suci dalam segala hal. Sebagai anak Allah, Anda juga harus manis. Ini bukan berarti Anda harus mempunyai penampilan luar yang cantik. Sebaliknya, hal ini berarti bahwa semua hal yang Anda jamah harus manis. Sebagai seorang manusia, Anda mungkin manis, tetapi hal-hal yang Anda jamah setiap hari mungkin tidak begitu manis. Di dunia, ada banyak orang yang manis, tetapi pakaian yang mereka kenakan dan tempat-tempat yang mereka kunjungi sama sekali tidak manis.

SEDAP DIDENGAR (BEREPUTASI BAIK)

Sebagai orang Kristen, kita juga harus bereputasi baik. Dalam Efesus 1:3, kata “berkat” berarti pengutaraan atau tuturan yang baik. Allah mengucapkan kata-kata yang baik kepada kita, Dia di dalam Kristus memberkati kita dengan segala berkat rohani di dalam surga. Tetapi Si pendakwa, Iblis, tidak akan pernah mengucapkan kata-kata yang baik kepada kita. Karena itu, kita harus tahu bahwa bereputasi baik itu tidak mudah. Dalam Matius 5:11 Tuhan Yesus berkata bahwa para penganiaya akan mengatakan berbagai perkataan yang jahat untuk memfitnah, menentang kaum beriman. Berbagai perkataan jahat yang dilontarkan terhadap kaum beriman adalah cerita-cerita palsu yang dibuatbuat. Cerita-cerita itu selalu dibumbui sedikit hal yang benar di dalamnya. Meskipun kita tidak bisa memiliki nama baik karena para lawan dan penganiaya kita mengatakan hal-hal yang jahat tentang kita, kita harus berusaha sedapat mungkin untuk menjamah hal-hal yang sedap/bereputasi baik saja.

KEBAJIKAN DAN PUJIAN

Pada akhir Filipi 4:8, Paulus mengakhirinya dengan dua hal yang menyimpulkan semua butir yang telah disebutkan sebelumnya. Kedua hal ini adalah kebajikan dan pujian. Frase “. . . semua (jika ada) yang disebut kebajikan dan patut dipuji” ini sukar untuk dimengerti. Kata “pujian” di sini bukan ditujukan kepada pujian kita terhadap Allah. Sebaliknya, ditujukan kepada pujian orang lain kepada kita atas hal-hal yang kita lakukan yang patut dipuji. Kata “kebajikan” di dalam penggunaan bahasa Inggris mengacu kepada tenaga batin untuk melakukan perbuatan baik. Dalam Lukas 8:44-46 (KJV) ketika seorang perempuan menyentuh jumbai jubah Tuhan, kebajikan keluar dari-Nya untuk menyembuhkan dia. Kebajikan ini adalah tenaga atau kekuatan untuk berbuat baik. Tetapi arti kebajikan dalam Filipi 4:8 berbeda. Di sini kebajikan berarti perilaku atau kelakuan yang unggul. Anda mungkin memiliki kelakuan yang baik, tetapi jika bukan yang terbaik, itu tidak dapat dianggap sebagai kebajikan. Kebajikan adalah kelakuan tingkat tertinggi. Jika Anda memiliki kelakuan yang unggul ini, apa pun yang Anda lakukan akan dipuji orang lain. Mula-mula ada kelakuan atau kebajikan yang unggul, kemudian ada pujian dari orang lain.

Jika Anda adalah orang yang memiliki kedelapan butir ini, Anda adalah orang yang mempunyai karakter baik, orang yang mempunyai ciri-ciri khas yang unggul. Semua butir yang disebutkan di sini adalah ciri-ciri khas, dan ciri-ciri khas ini adalah ekspresi Anda. Ekspresi Anda kepada orang lain adalah karakter Anda. Karakter adalah watak Anda yang diekspresikan secara luaran. Di dalam, Anda memiliki watak Anda, dan di luar, Anda memiliki karakter Anda.

HUBUNGAN ANTARA SIFAT DENGAN KEBIASAAN

Banyak unsur dalam karakter kita sering diekspresikan secara tanpa sadar oleh sifat dan kebiasaan kita. Karakter tersusun dari tiga puluh persen sifat bawaan (yang didapat melalui kelahiran) dan tujuh puluh persen kebiasaan yang terbentuk melalui kehidupan sehari-hari. Karakter kita diekspresikan dalam banyak karakteristik (ciri-ciri khas). Ciri-ciri khas ini dibentuk oleh tiga puluh persen sifat bawaan kita dan tujuh puluh persen kebiasaan kita. Anda mungkin dilahirkan sebagai orang yang lamban. Jika Anda berada di bawah pengawasan orang tua dan guru-guru yang tegas yang tidak mengizinkan Anda berlamban-lamban, tetapi memaksa Anda untuk cepat, maka kelambanan bawaan Anda itu akan berubah sampai tingkat tertentu. Tetapi, di pihak lain, jika Anda dilahirkan sebagai orang yang lamban dan hidup bersama orang tua yang lamban juga, maka kebiasaan lamban akan terbentuk di dalam Anda. Kelambanan bawaan Anda akan bergabung dengan kebiasaan lamban untuk membentuk karakter dengan ciri khas yang buruk itu.

BELAJAR MENYUSUN KARAKTER YANG BERBEDA

Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa untuk mengikuti Tuhan, kita harus belajar menyangkal diri kita sendiri. Tetapi, kita harus bertanya, apakah diri itu? Di dalam, diri adalah watak kita, dan diri yang diekspresikan adalah karakter kita. Kita sering mengatakan bahwa anak-anak laki-laki sangat keras kepala dan anak-anak perempuan tidak. Seorang ayah mungkin sangat keras menangani anak laki-lakinya kalau anak itu melakukan kesalahan. Tetapi sering kali anaknya tetap tidak melakukan apa yang dia perintahkan, bahkan setelah anak itu mengatakan setuju kepada ayahnya untuk melakukannya. Itu menyingkapkan karakter keras kepala anak itu. Jika ia sangat keras kepala terhadap ayahnya, ia mungkin lebih keras kepala sebagai seorang saudara dalam hidup gereja atau ketika ia memiliki keluarga sendiri.

Dapat dilihat bahwa laki-laki biasanya mempunyai ciri khas keras kepala, sedangkan perempuan kelihatannya tidak keras kepala sama sekali. Sesungguhnya, baik laki-laki maupun perempuan itu keras kepala, karena keduanya adalah keturunan Adam. Meskipun laki-laki dan perempuan sama dalam beberapa aspek karakter, tetapi ada beberapa perbedaan. Wanita, atau saudari, adalah bejana yang lebih lemah (1 Ptr. 3:7), memiliki sejumlah butir kecil kelemahan. Salah satu butir kelemahan yang paling kelihatan adalah perihal meneteskan air mata. Wanita mungkin lemah secara alamiah, tetapi mereka harus melatih untuk tidak membentuk kebiasaan meneteskan air mata. Jika kebiasaan itu telah terbentuk, hal itu menjadi unsur kuat dalam karakter mereka. Karakter ini adalah diri. Tuhan berkata dalam Matius 16:24 bahwa semua orang yang ingin mengikuti-Nya harus menyangkal dirinya. Diri yang harus disangkal dalam kasus saudari adalah mencucurkan air mata.

Tetapi, saudara-saudara memiliki masalah yang berlawanan yaitu tidak meneteskan air mata. Dalam Kisah Para Rasul 20 Paulus bersaksi bahwa ia melayani Tuhan dan menasihati orang-orang kudus dengan mencucurkan air mata (ayat 19, 31). Sering kali setelah membaca ini saya menegur diri saya karena tidak mencucurkan air mata. Saya telah sampai pada satu kebiasaan yaitu ketika air mata itu akan jatuh, saya menahannya sehingga air mata itu hanya jatuh di dalam saya dan tidak keluar. Tetapi kadang-kadang, untuk mengikuti Tuhan, kita harus bisa mencucurkan air mata. Saudara-saudara harus belajar untuk melawan diri mereka sendiri dengan meneteskan air mata, dan saudarisaudari harus belajar untuk melawan diri mereka sendiri dengan tidak meneteskan air mata.

ORANG KRISTEN MEMILIKI KARAKTER TERTINGGI

Sebagai orang-orang Kristen, kita adalah orang-orang pada tingkat tertinggi. Entah kita kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak, kita adalah orang-orang yang berstandar tinggi. Kita mungkin mempunyai kedudukan rendah di masyarakat, tetapi apa pun yang kita lakukan, bahkan jika kita menyapu jalanan, hal itu harus dilakukan menurut standar yang tinggi. Karakter kita harus sangat tinggi. Sebagai contoh, kita mungkin lebih suka cepat daripada lambat. Tetapi sering kali kecepatan kita itu terlalu liar tanpa standar. Bahkan kecepatan pun harus merupakan kecepatan yang menurut standar tinggi. Cara kita merawat rambut kita pun harus berstandar tinggi, bahkan terhormat.

Kedelapan butir yang disebutkan dalam Filipi 4:8 adalah butir-butir yang harus kita ambil untuk membangun karakter kita. Kita harus menjadi orang-orang yang memiliki karakter benar dalam segala hal, terhormat dalam segala sesuatu, adil, murni di segala aspek, manis, dan bereputasi baik. Walaupun kita tidak dapat menghindari dari diremehkan, difitnah, dan dicelakai oleh para penganiaya kita, kita benar-benar memiliki jenis karakter tertentu. Karakter ini adalah sesuatu yang telah terbangun dan tersusun di dalam diri kita selama bertahun-tahun. Sebagai umat manusia, kita semua memiliki ciri khas tertentu yang merupakan butir-butir karakter kita. Karena itu, jika kita mendengar suatu tuduhan terhadap seseorang yang telah kita kenal selama bertahun-tahun, kita tidak menerimanya. Alasannya adalah karena kita mengenal karakter orang itu. Karakter orang itu memiliki ciri-ciri khas tertentu yang tidak sesuai dengan tuduhan itu.

MEMBANGUN KARAKTER MELALUI MEMUPUK KEBIASAAN BAIK

Orang muda seharusnya mencoba sekuat tenaga untuk memiliki kebiasaan baik. Salah satu kebiasaan baik yang demikian adalah merapikan tempat tidur di pagi hari. Jika saya ingin mengetahui karakter seorang anak muda, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat tempat tidurnya. Ini adalah perkara kecil, tetapi apa adanya kita lebih mudah diekspresikan dalam perkara-perkara kecil daripada dalam perkara besar. Dalam perkara besar, kita dapat berpura-pura atau bertingkah laku seperti aktor, tetapi dalam perkara kecil, kita benar-benar murni, mengeskpresikan apa adanya kita. Saya merekomendasikan buku “Karakter” kepada Anda, mungkin buku tersebut dapat menjadi bantuan dalam mengembangkan karakter Anda. Ketiga butir pertama karakter yang disajikan dalam buku itu adalah benar, tepat, dan ketat. Menjadi benar adalah menjadi apa adanya Anda tanpa sedikit pun kepura-puraan. Menjadi tepat adalah menjadi akurat, tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan. Dalam kehidupan pernikahan, banyak perpisahan dan perceraian yang terjadi dikarenakan kecerobohan dan ketidaktepatan. Dalam hidup gereja, ketidaktepatan dapat menyebabkan banyak kesulitan. Kita harus berlatih membangun karakter kita melalui belajar menjadi benar, tepat, dan ketat.

Melalui latihan, kita membangun suatu kebiasaan. Sebagai contoh, beberapa orang hanya membersihkan debu di bagian tengah perabot rumah, tetapi mengabaikan tepinya. Sedangkan yang lain membersihkan semua bagian perabot itu. Itu adalah kebiasaan. Kita harus membangun kebiasaan untuk melakukan segala hal secara menyeluruh. Kita juga harus berlatih untuk menjadi tepat. Seseorang yang tidak berlatih untuk menjadi tepat, tidak dapat mengerti Alkitab dengan benar. Jika Anda berlatih untuk menjadi tepat, ketika Anda membaca Alkitab, Anda akan membacanya dengan tepat, karena inilah kebiasaan Anda. Sebagai contoh, 1 Korintus 14:23, ayat yang sangat akrab dengan kita, mengatakan, “Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama.” Kedua kata pertama diabaikan oleh kebanyakan para pembaca. Kata “jadi” hanya menunjukkan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Tetapi kata “kalau” menunjukkan sesuatu yang lebih banyak lagi. Jika gereja sering berkumpul bersama, tidak perlu mengatakan “kalau seluruh jemaat (gereja) berkumpul bersama-sama”. “Kalau” menunjukkan bahwa seluruh gereja tidak sering berkumpul bersama. Praktek kita sesuai dengan ayat ini. Praktek sidang-sidang gereja dalam jalan Perjanjian Baru terutama adalah bersidang di rumah-rumah. Kadang-kadang, seluruh gereja berkumpul bersama, maka kata “kalau” digunakan. Ini adalah contoh mengenai ketepatan dan keketatan. Jika melalui latihan Anda telah terbangun sebagai orang yang ketat dan tepat, Anda akan menaruh perhatian pada setiap kata dalam Alkitab.

TANYA JAWAB

Tanya: Bolehkah kita memakai usaha alamiah kita untuk membangun karakter kita?

Jawab: Tidak. Sebagai orang Kristen yang menuntut Tuhan, kita tidak perlu melakukan apa-apa dengan usaha kita sendiri. Kita seharusnya melakukan segala sesuatu pertama-tama dengan berdoa. Inilah sebabnya Alkitab menyuruh kita untuk senantiasa berdoa (1 Tes. 5:17). Kita seharusnya memuji Tuhan dan memberi tahu Dia bahwa kita lemah dan tidak dapat melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kemudian, setelah berdoa sejangka waktu, kita seharusnya berlatih untuk mempercayai Tuhan dan menengadah kepada-Nya setiap hari. Jika kita menaruh perhatian atas karakter kita, kita seharusnya berdoa, percaya kepada Tuhan, dan menengadah kepada-Nya. Kita menengadah kepada-Nya untuk membantu kita membangun karakter kita dan untuk menyelamatkan kita dari kebiasaan lama kita. Inilah yang dimaksud dengan berjerih lelah. Dalam Kolose 1:29, Paulus berkata bahwa ia bergumul. Sepertinya kitalah yang bergumul, tetapi sesungguhnya kita mempercayai Tuhan untuk melakukan semuanya. Ketika kita berkata bahwa kita harus berjerih lelah untuk melakukan perkara-perkara tertentu, ini tidak berarti bahwa kita melakukannya dengan usaha kita sendiri seperti para atlet Olimpiade. Sebaliknya, kita berjerih lelah, bergumul, dan bahkan bertarung, bukan berdasarkan diri kita sendiri, melainkan melalui doa, percaya kepada Tuhan.

Tanya: Dapatkah peraturan dan tata tertib seperti yang ada di pelatihan ini membantu kita untuk membangun karakter? Semuanya sepertinya hanya di luaran. Sedangkan berdoa, mempercayai Tuhan, menengadah kepada-Nya, sepertinya lebih bersifat batiniah. Apakah keduanya berguna?

Jawab: Sukar untuk mengatakan bahwa menengadah kepada Tuhan hanya sesuatu yang di dalam. Menengadah kepada Tuhan atau percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang di luar juga yang di dalam. Kita harus memiliki sikap yang demikian dan kita juga berpegang pada roh yang sedemikian yaitu kita menengadah kepada-Nya, mempercayai Dia untuk melakukan segala sesuatu kita. Sikap yang demikian bahkan adalah salah satu jenis karakter, karakter yang baik dari orang Kristen. Inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen yang mencari Tuhan. Sepanjang hari kita harus memiliki sikap bahwa kita menengadah kepada Tuhan, percaya kepada-Nya, dan berdoa kepada-Nya. Kalau kita adalah orang yang demikian, maka teman sekerja (sekantor) kita yang selalu berada bersama kita setiap hari dan setiap minggu akan menemukan bahwa kita adalah orang yang bersandar kepada Tuhan. Inilah kerja sama kita dengan Tuhan. Kita berhubungan dengan Dia, terikat dengan-Nya, menjadi satu roh (1 Kor. 6:17). Jadi, kita harus menempuh kehidupan yang seperti ini, yaitu melakukan segala sesuatu dengan bersandar kepada-Nya melalui doa.