PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (13)
Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa watak kita adalah apa adanya batiniah kita, dan karakter kita adalah ekspresi luar dari apa adanya kita. Dalam sidang istimewa baru-baru ini kita melihat empat hal intrinsik dari gereja - yaitu esens intrinsik, pertumbuhan intrinsik, pembangunan intrinsik, dan persekutuan intrinsik (lihat The Organic Building Up of the Church as the Body of Christ to Be the Organism of the Processed and Dispensing Triune God yang diterbitkan oleh Living Stream Ministry). Keempat intrinsik ini berlawanan dengan watak dan karakter kita. Mereka berlawanan dengan apa adanya batiniah kita dan ekspresi lahiriah kita. Tanpa apa adanya batiniah kita dan ekspresi lahiriah kita, tidak ada sesuatu yang tertinggal dalam gereja, kecuali Allah sebagai unsur intrinsik.
ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES
DAN YANG MENYALURKAN DIRI-NYA MENJADI ESENS,
PERTUMBUHAN, PEMBANGUNAN,
DAN PERSEKUTUAN INTRINSIK DARI GEREJA
Keempat hal intrinsik dari gereja adalah Allah sendiri. Esens intrinsik dari gereja adalah hayat ilahi, dan hayat ilahi adalah Allah sendiri. Allah adalah esens intrinsik, pertumbuhan intrinsik, pembangunan intrinsik, dan persekutuan intrinsik dari gereja. Unsur intrinsik dari gereja adalah Allah. Allah ini bukanlah Allah yang “mentah”, tetapi Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sekarang sedang menyalurkan diri-Nya, yang diwujudkan di dalam Kristus Yesus (Kol. 2:9). Allah, yang adalah unsur intrinsik dari gereja, adalah Kristus. Kristus adalah Kepala gereja (Ef. 1:22), manusia baru yang universal, dan Kristus juga adalah Tubuh (1 Kor. 12:12; Kol. 3:11). Satu Korintus 12:12 mengatakan, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Kristus bukan hanya Kepala, tetapi juga Tubuh. Karena itu, Kristus sebagai perwujudan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sekarang sedang menyalurkan diri-Nya adalah totalitas dari gereja.
Kolose 3:11 mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Apa pun yang ada di dalam manusia baru adalah Kristus. Dalam manusia baru tidak ada orang Yunani, tidak ada orang Yahudi, tidak ada orang Barbar, tidak ada orang Skit, tidak ada budak, dan tidak ada orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua. Kristus adalah Anda dan Kristus adalah saya. Kristus adalah segala sesuatu. Dalam manusia baru, Kristus adalah semua, juga di dalam semua. Dalam Kolose 3:11, “semua” ditujukan kepada semua anggota yang menyusun manusia baru. Semua anggota adalah Kristus. Tidak ada satu pun ada orang China, tidak ada orang Inggris, tidak ada hitam atau putih, dan tidak ada lakilaki atau perempuan. Jika ayat 11 diakhiri dengan “Kristus adalah semua”, kita akan merasakan bahwa Kristus telah menggantikan semua anggota dalam gereja. Akan tetapi, Paulus menambahkan, “dan di dalam segala sesuatu”. Semua anggota masih tetap di dalam gereja, tetapi Kristus ada di dalam semua anggota, dan Kristus bahkan adalah semua anggota. Kristus yang almuhit adalah gereja sebagai kesatuan yang korporat karena esens intrinsik, pertumbuhan intrinsik, pembangunan intrinsik, dan persekutuan intrinsik dari gereja adalah Allah Tritunggal yang sedang menyalurkan diri-Nya dan yang telah melewati proses yang diwujudkan di dalam Kristus.
Kristus adalah perwujudan Allah. Ia adalah Allah yang lengkap dalam trinitas ilahi-Nya, Ia juga adalah manusia yang sempurna. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus, yang adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, menjadi Roh itu (1 Kor. 15:45b; 2 Kor. 3:17). Roh yang almuhit ini adalah Allah Tritunggal yang sudah rampung sempurna. Dalam kekekalan yang lampau Allah Tritunggal belum rampung sempurna, tetapi melalui proses inkarnasi, menempuh kehidupan insani, kematian yang almuhit, dan kebangkitan, Ia telah rampung sempurna menjadi Roh yang almuhit. Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’” Alkitab diakhiri dengan sebutan yang ilahi, yang almuhit — “Roh itu”.
Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal, dan Roh itu adalah realisasi Kristus. Efesus 4:4 mengatakan ada “satu Tubuh dan satu Roh”. Ayat ini menunjukkan bahwa Roh itu dan Tubuh bukanlah dua kesatuan, melainkan satu kesatuan. Esens, pertumbuhan, pembangunan, dan persekutuan gereja adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sekarang sedang menyalurkan diri-Nya yang diwujudkan di dalam Kristus, yang direalisasikan sebagai Roh yang almuhit, perampungan sempurna dari Allah Tritunggal yang telah melewati proses.
PEMBANGUNAN GEREJA MELALUI PEMURNIAN WATAK KITA
Pada mulanya, dalam penciptaan Allah hanya ada satu manusia, Adam. Hawa tidak ada pada permulaan penciptaan Allah. Allah mengambil salah satu tulang rusuk Adam dan membangunnya menjadi seorang perempuan untuk menjadi pasangan Adam (Kej. 2:21-22). Sebagai pasangan Adam, Hawa adalah pasangan yang sesuai baginya. Tidak ada ciptaan lain yang dapat menjadi pasangan yang sesuai dengannya. Allah hanya perlu waktu yang singkat untuk membangun tulang rusuk Adam menjadi Hawa, tetapi untuk membangun kaum beriman menjadi gereja, Ia memerlukan hampir dua ribu tahun. Allah telah membangun dan masih sedang membangun, dan pembangunan gereja memerlukan waktu yang sangat panjang.
Karena pembangunan telah berlangsung begitu lama, kaum beriman, yang adalah bahan-bahan bangunan, mempunyai “kesempatan” untuk berselisih satu dengan yang lain dan menimbulkan kerusuhan dalam proses dibangun tersebut. Semua kerusuhan itu adalah untuk pembangunan gereja. Pembangunan perempuan dari tulang rusuk Adam adalah sebuah lambang. Penggenapan dari lambang itu adalah pembangunan gereja, dan pembangunan gereja telah melewati banyak kerusuhan. Kerusuhan dalam gereja telah disaring (ditampi). Pada zaman Paulus ada penyaringan. Paulus mengatakan, “. . . semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari aku” (2 Tim. 1:15). Gereja-gereja di Asia menolak ministrinya. Akan tetapi, bukan berarti bahwa tidak ada seorang pun di Asia yang tetap setia kepada ministri Tuhan. Dalam Wahyu 1 dan 2, ketujuh gereja di Asia masih tetap berada di bawah ministri Tuhan. Kerusuhan yang digambarkan dalam Bilangan 16 juga adalah penyaringan. Dalam Bilangan 16 Korah dan seluruh keluarganya tertelan oleh bumi (ayat 32). Akan tetapi, beberapa Mazmur ditulis oleh keturunan Korah (Mzm. 42; 44-49; 8485; 87-88). Masih ada yang tertinggal dari keluarga Korah yang menjadi orang-orang kudus dan pemazmur.
Mereka yang menyebabkan kerusuhan mungkin tidak ingin melakukannya. Tetapi, watak mereka menyebabkan mereka melakukannya. Mereka mungkin tidak senang menimbulkan masalah, tetapi mereka tidak dapat berbuat apaapa. Demikian juga, kita mungkin tidak suka marah kepada suami atau istri kita. Ketika kita marah, pada akhirnya kita akan menyesal dan mungkin berjanji untuk tidak mengulanginya. Tetapi, setengah jam kemudian kita mungkin marah lagi, karena itu adalah watak kita yang melakukannya. Di pihak lain, kita mungkin dilahirkan dengan watak jenis lain. Kita mungkin menjadi orang yang sangat marah di dalam, tetapi mampu “menelan” kemarahan kita dan tidak mengekspresikannya. Kita mungkin terkenal baik karena perilaku kita, tetapi di batin, kita sama dengan mereka yang marah-marah. Selain itu, karena watak kita, maka sangat sukar bagi kita untuk marah dengan tepat seperti yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap para penukar uang di dalam bait (Yoh. 2:14-17). Dalam hidup gereja, kita terlalu banyak hidup berdasarkan watak kita. Karena itu, gereja tidak murni dan tidak mutlak merupakan susunan Allah, Kristus, dan Roh itu.
Tidak seorang pun senang akan kerusuhan. Menurut perasaan kita, kerusuhan itu tidak baik. Tetapi kerusuhan itu diperlukan untuk menanggulangi watak kita. Kelihatannya watak kita adalah bagian dari diri kita, tidak dapat diremukkan dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Bagi kita, mengubah watak kita adalah seperti mengubah struktur tulang kita. Karena itu, demi watak kita, kerusuhan diperlukan untuk membangun gereja. Pada waktu yang lalu, beberapa orang kudus berwatak sangat keras. Tetapi mereka sangat menderita karena kerusuhan tersebut dan berteriak kepada Tuhan. Air mata mereka adalah “deterjen” yang terbaik untuk mencuci bersih watak mereka. Hari ini, mereka tidak begitu berada dalam watak mereka dibandingkan sebelumnya.
Ketika kita datang ke dalam pemulihan Tuhan untuk kali pertama, kita mengira bahwa gereja itu sangat indah. Itu adalah saat “bulan madu” kita. Kita mungkin mengharapkan bahwa bulan madu akan berlangsung seumur hidup kita. Tetapi, pada akhirnya bulan madu menjadi bulan “cuka”. Kita mungkin bertanya kepada diri sendiri, “Inikah hidup gereja yang indah?” Sering kali kerusuhan dalam hidup gereja seperti cuka bagi kita. Hidup gereja yang indah bukan hanya kehidupan dengan “madu”, tetapi juga dan bahkan lebih banyak dengan “cuka”. Sering kali kelihatannya “cuka” ada di mana-mana dalam hidup gereja. Tetapi, pada saat lain, ada kemanisan dalam hidup gereja. Tuhan adalah dokter yang terbaik. Ia mengetahui berapa banyak “madu” dan berapa banyak “cuka” untuk resep kita. Baru-baru ini, saya kena penyakit kulit, dan ahli dermatologi memberi tahu saya untuk mencuci daerah yang sakit dengan air cuka sehari dua kali. Cuka sangat efektif untuk membunuh kuman-kuman. Pada akhirnya, karena pemurnian melalui kerusuhan dalam hidup gereja yang seperti cuka, Tuhan akan menyatakan bahwa “kuman-kuman” dalam gereja telah tercuci bersih.
BERTUMBUH DALAM HAYAT
MELALUI PERTUMBUHAN ALLAH DI DALAM KITA
Sekarang kita ingin melanjutkan untuk melihat bahwa pembangunan gereja sebagai Tubuh Kristus adalah melalui pertumbuhan kita dalam hayat, dan pertumbuhan kita dalam hayat adalah melalui pertumbuhan Allah di dalam kita. Kolose 2:19 mengatakan bahwa seluruh Tubuh bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Ini berarti pertumbuhan kita di dalam hayat ilahi memerlukan Allah bertumbuh di dalam kita. Ketika Allah bertumbuh di dalam kita, kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah.
Ini sungguh dalam dan sangat rahasia. Kita mungkin heran bagaimana Allah dapat bertumbuh, tetapi Kolose 2:19 memberi tahu kita bahwa jika kita mau bertumbuh, kita perlu bertumbuh dengan beberapa pertumbuhan. Kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Kita hanya dapat bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Allah itu sempurna dan lengkap, lalu bagaimana Sang sempurna dan lengkap ini dapat bertumbuh? Bertumbuh adalah untuk kematangan, tetapi kita tahu bahwa Allah sudah ada sejak dahulu. Ia tidak tua, tetapi Ia sudah ada sejak dahulu. Perjanjian Lama memanggil-Nya “Yang Lanjut Usianya” (Dan 7:9, 13, 22). Apakah Dia yang lanjut usianya perlu bertumbuh? Jawabannya adalah: di dalam diri-Nya sendiri, Allah tidak perlu bertumbuh, tetapi di dalam Anda dan saya, Ia perlu bertumbuh.
Allah ada di dalam kita, tetapi berapa banyak Allah yang ada di dalam kita? Kita, orang-orang Kristen adalah anak-anak Allah, dan kita mempunyai Allah di dalam kita. Allah dan kita berbaur bersama sebagai satu persona, tetapi kita harus memeriksa keadaan kita sebenarnya. Apakah ada lebih banyak diri kita dan lebih sedikit Allah, atau lebih banyak Allah dan lebih sedikit diri kita? Kita mungkin menyatakan bahwa kita memiliki Allah dan bahwa Allah dan kita adalah satu, tetapi bagaimanakah dengan fakta keadaan kita akhir-akhir ini? Banyak di antara kita harus mengakui bahwa pada diri kita ada lebih banyak diri kita dan lebih sedikit Allah.
Kita lebih banyak dan Allah lebih sedikit, karena kita tidak memberi Dia ruangan di dalam kita. Kita tidak bekerja sama dengan Dia. Memberi Dia ruangan di dalam kita berarti membiarkan Dia bertumbuh. Semua perkara organik memerlukan ruangan untuk bertumbuh dengan benar. Dalam Matius 13, benih melambangkan firman yang memiliki hayat ilahi di dalamnya (ayat 3-23). Benih ini telah ditaburkan ke dalam hati kita. Ia memerlukan ruangan yang memadai untuk bertumbuh secara tepat dan sempurna. Menurut Matius 13, dalam beberapa keadaan, benih tidak dapat bertumbuh karena ada banyak hal di dalam hati kita, sehingga tidak ada ruangan baginya untuk bertumbuh. Ada banyak hal selain Allah yang menduduki hati kita. Tuhan memberi tahu kita bahwa duri-duri itu adalah kekhawatiran zaman ini dan tipu daya kekayaan yang menghimpit firman itu (ayat 22). Segala perkara selain Allah adalah hal-hal yang menghimpit. Hal-hal itu menghimpit hayat ilahi, yang adalah Allah, di dalam kita. Karena hal-hal yang menduduki hati kita, benih hayat di dalam kita tidak mempunyai ruangan, tidak mempunyai kemungkinan untuk bertumbuh. Supaya kita dapat bertumbuh dengan pertumbuhan Allah, kita harus memberi Allah ruangan di dalam kita.
Di dalam setiap sidang yang kita hadiri, kita harus memberi Allah ruangan di dalam kita. Kita harus bekerja sama dengan-Nya. Sidang-sidang orang Kristen adalah tempat bagi Allah untuk berbicara. Jika Allah tidak dapat berbicara, Ia tidak mendapatkan apa-apa. Kebanyakan umat manusia tidak mengizinkan Allah berbicara. Allah menyelamatkan orang dan menghimpun mereka bersama dalam sidang-sidang, sehingga Ia dapat berbicara di dalam perkataan mereka. Siapa yang akan membiarkan Allah berbicara di bumi ini? Allah menyelamatkan, menolong, memisahkan kita dari dunia, dan menghimpun kita bersama sehingga Ia dapat berbicara, tetapi Ia tidak dapat berbicara sendiri. Dalam zaman Perjanjian Baru, Allah melakukan segala sesuatu di dalam prinsip inkarnasi. Ia tidak melakukan segala sesuatu sendiri. Ia selalu melakukan segala hal dengan manusia, di dalam manusia, dan melalui manusia, yaitu melalui menjadi satu dengan manusia dan melalui manusia menjadi satu dengan-Nya. Hari ini, Jika Dia mau berbicara, Ia tidak dapat berbicara sendiri. Ia harus berbicara melalui kita.
Allah damba berbicara, tetapi apakah kita berbicara? Praktek dalam kekristenan adalah satu orang berbicara dan yang lainnya mendengarkan. Karena tidak banyak anak Allah yang berbicara, beberapa orang profesional dilatih untuk berbicara bagi perhimpunan. Tentu saja Allah tidak senang akan hal itu, maka kita berusaha sedapat mungkin untuk mengesampingkan praktek itu dan memberi Allah kesempatan berbicara. Allah ada di dalam kita, dan Ia ingin berbicara. Ia ingin kita berbicara sehingga Ia dapat berbicara di dalam perkataan kita. Tetapi mengapa kita tidak berbicara? Kita tidak berbicara karena pada kita ada terlalu banyak diri kita dan sangat sedikit diri Allah Tritunggal. Jika kita bekerja sama dengan Allah untuk berbicara, Ia akan mendapatkan ruangan di dalam kita untuk bertumbuh.
Sering kali dan dalam banyak hal, kita tidak memberi Allah ruangan di dalam kita. Ia menunggu kesempatan di dalam kita untuk bertumbuh. Ia ingin bertumbuh di dalam kita. Kita perlu memberi Dia ruangan di dalam kita setiap saat. Jika kita memberi Dia ruangan di dalam kita, Ia bertumbuh, dan pertumbuhan-Nya di dalam kita menjadi pertumbuhan kita. Hari ini, di dalam banyak orang Kristen tidak ada ruangan bagi Allah yang berhuni untuk bertumbuh. Bahkan di dalam kita, menurut pengamatan saya, tidak banyak ruangan bagi-Nya untuk bertumbuh. Pada hari Tuhan, di pagi hari, banyak di antara kita datang ke sidang dan tidak berbicara. Allah ada di dalam kita, tetapi kita tidak memberi Dia ruangan untuk bertumbuh. Kita dapat memberi Dia sedikit ruangan melalui berbicara. Kita perlu berbicara bagi Tuhan dan berbicara menyampaikan Tuhan. Semakin kita berbicara, kita semakin memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Semakin kita berbicara, kita semakin bisa berbicara. Semakin kita berbicara, kita semakin belajar bagaimana berbicara. Dan semakin kita berbicara, kita semakin menerima suplaian Allah. Semakin kita berbicara, kita semakin memberi Allah ruangan di dalam kita. Demikian, Ia bertumbuh di dalam kita.
Mengapa kita berjerih lelah dan membayar harga yang begitu besar untuk mengubah jalan kita dari satu orang berbicara menjadi semua orang berbicara, semuanya itu adalah supaya Allah dapat bertumbuh di dalam kita. Prinsip membiarkan Allah bertumbuh bukan hanya saat berbicara dalam sidang-sidang, tetapi juga dalam segala hal dalam hidup kita sehari-hari. Dalam Yohanes 3:30, Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Inilah jalan Allah. Ia bertambah, dan kita berkurang. Kata “bertambah” dan kata “bertumbuh” di sini dalam bahasa aslinya adalah kata yang sama. Bertumbuh adalah bertambah. Kita harus membiarkan Allah bertumbuh, yang berarti kita harus memberi Dia tempat di dalam kita untuk bertambah. Dengan demikian Ia mempunyai jalan untuk bertumbuh di dalam kita dalam segala sesuatu.