← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 26/31

PENGALAMAN HAYAT (14)

KESAKSIAN MENGENAI PANGGILAN TUHAN

Pada musim panas tahun 1933, saya dipanggil oleh Tuhan untuk melayani sepenuh waktu, tetapi saya bergumul dengan Tuhan mengenai masalah ini kurang lebih tiga minggu. Walaupun pada akhirnya saya menyerahkan surat pengunduran diri kepada majikan saya, di dalam, saya terus bergumul untuk beberapa waktu. Pada hari saya menyerahkan surat pengunduran diri saya, malam itu juga setelah sidang doa, saya bersekutu dengan seorang saudara terkemuka dan saudari terkemuka mengenai keputusan saya meninggalkan pekerjaan untuk melayani Tuhan. Walaupun mereka semua mengkonfirmasi keputusan saya, saya masih merasa bahwa saya kekurangan konfirmasi dari Tuhan. Tetapi ketika saya pergi ke hadapan Tuhan setelah itu, pada malam itu juga, saya dengan segera ditegur oleh Tuhan karena saya kekurangan iman dalam mempercayai Dia. Pada akhrinya, melalui pengalaman itu, saya menjadi jelas bahwa Tuhan benar-benar ingin saya meninggalkan pekerjaan saya. Keesokan harinya konfirmasi datang dalam bentuk surat undangan dari sekelompok orang Presbiterian di Mancuria. Undangan yang menunggu saya di kantor pos itu tiba pada hari yang sama ketika saya mengundurkan diri. Ini benar-benar konfirmasi pimpinan Tuhan bagi saya. Berdasarkan undangan ini, saya pergi ke majikan saya dan meminta izin untuk pergi ke Mancuria selama beberapa waktu dan pada waktu saya kembali, saya akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan saya dengannya. Ia setuju.

Di Mancuria saya membaptis sekitar dua puluh orang beriman, dan orang-orang beriman itu menjadi permulaan hidup gereja di daerah tersebut. Hal ini membuat saya sangat bersukacita. Ketika saya di Mancuria, ada surat datang dari majikan saya, ia meminta saya untuk tetap tinggal di perusahaan itu dan ia juga berjanji untuk menaikkan gaji saya. Selain itu, ada juga kebijaksanaan perusahaan untuk memberikan bonus yang besar bagi karyawannya pada akhir tahun. Bonus yang akan datang itu menjadi godaan yang sangat besar bagi saya. Saya mulai beralasan di dalam diri saya sendiri, mengatakan, “Sekarang bulan September, dan saya hanya mempunyai waktu tiga bulan. Mengapa tidak menunggu sampai akhir Desember baru pergi? Apakah tiga bulan akan membuat perbedaan besar? Jika saya menunggu sampai Desember, saya dapat memperoleh bonus besar itu.” Karena alasan yang demikian, saya kembali ke Chefoo dengan keputusan untuk tetap bekerja di perusahaan itu sampai awal Januari. Tetapi ketika saya sampai di rumah, ada surat dari Saudara Watchman Nee, pada waktu itu Saudara Watchman Nee sedang dalam perjalanan kembali ke China dari Inggris. Surat itu hanya berisi catatan singkat, mengatakan, “Saudara Witness, mengenai masa depanmu, saya merasa bahwa Anda harus melayani Tuhan sepenuh waktu. Apa perasaan Anda mengenai hal ini? Semoga Tuhan membimbing Anda.” Saya sangat tersentuh oleh surat singkat itu, karena saya tahu bahwa bukanlah kebiasaan Saudara Watchman Nee untuk menulis surat yang sedemikian kepada orang lain. Saya lebih terjamah lagi ketika saya melihat tanggal surat itu hampir tepat dengan waktu pergumulan saya. Ini berarti bahwa pada saat saya bergumul, entah bagaimana, ia bisa mengetahuinya. Ini sangat mengejutkan saya. Surat Saudara Watchman Nee dengan tegas berlawanan dengan surat majikan saya, bahkan dengan kuat menjamah dan menguatkan saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke kantor dan menyerahkan pekerjaan saya kepada orang lain secepat mungkin. Saya juga memutuskan untuk mengunjungi Saudara Watchman Nee dan menanyakan bagaimana dan di mana ia menulis surat itu. Setelah saya meninggalkan pekerjaan, saya pergi ke Shanghai pada musim gugur tahun 1933 untuk mengunjungi Saudara Watchman Nee dan menanyakan mengapa dia menulis surat itu untuk saya. Ia menjawab bahwa pada hari ia berlayar dari Inggris ke China, di atas Laut Tengah, pada saat ia bersama Tuhan, Tuhan memberinya perasaan bahwa ia harus menulis surat kepada saya. Ia lalu menulis surat singkat, mengirimkannya ke toko buku di Shanghai, dan toko buku itu meneruskannya kepada saya di Chefoo.

Saya sangat terjamah oleh suratnya, karena saya tahu bahwa ia mengirim surat itu bukanlah suatu kebetulan; hal ini pasti berasal dari Tuhan. Saya juga sangat terkesan dengan Saudara Watchman Nee, karena hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang sangat dekat dengan Tuhan. Jika tidak, bagaimana ia dapat memiliki perasaan yang demikian, menulis surat kepada saya di China sementara ia berada sangat jauh dalam perjalanan dari Inggris ke China? Ia adalah orang yang memiliki penyertaan Tuhan; bahkan sampai hari ini saya dapat menyatakan bahwa saya mempercayai dia sepenuhnya. Saudara Watchman Nee juga bukan seorang yang selalu mengatakan kepada orang lain apa yang harus orang itu lakukan. Sering kali para saudara datang kepadanya dan menanyakan apakah dia merasa bahwa mereka harus pergi ke satu tempat atau melakukan pekerjaan tertentu. Sering kali Saudara Watchman Nee tidak menjawab mereka karena ia menolak untuk berada di dalam prinsip nabi Perjanjian Lama. Ia mengajarkan bahwa dalam Perjanjian Lama, jika seseorang ingin mengetahui sesuatu mengenai Allah, ia akan pergi kepada nabi, seperti Elia, tetapi dalam Perjanjian Baru, kaum beriman memiliki pengurapan (1 Yoh. 2:20, 27). Karena itu, kita tidak perlu seorang pun mengajar kita. Ia mempraktekkannya dengan tegas, tetapi dalam peristiwa khusus ini, ia menulis surat yang sedemikian untuk saya. Ini memberi saya ketegasan bahwa hal ini benar-benar sesuatu yang berasal dari Tuhan.

BELAJAR UNTUK DIPENUHI OLEH FIRMAN TUHAN SAAT INI

Pada musim semi tahun 1934, Saudara Nee memberikan serangkaian berita mengenai sentralitas dan universalitas Kristus. Dalam kurun waktu yang sama, ia juga berbicara mengenai para pemenang, menggunakan Abraham sebagai ilustrasi. Pada saat itu, istilah sentralitas dan universalitas sangat baru bagi saya, dan saya sangat terkesan ketika Saudara Nee menyampaikan perihal ini. Dalam berita-berita itu, yang dicetak dalam majalah “Kesaksian Masa Kini”, Saudara Nee membicarakan Kristus sebagai Yang sulung dari segala yang diciptakan (Kol. 1:15). Ia mengatakan bahwa Kristus bukan hanya Pencipta, tetapi sebagai Yang sulung dari segala yang diciptakan, Ia juga adalah ciptaan. Sebagai Pencipta, Dia adalah Allah, dan sebagai Penyelamat kita di dalam keinsanian-Nya dengan sifat insani, Ia adalah ciptaan. Ia meninggalkan kedudukan Allah untuk datang dan mengambil kedudukan seorang manusia.

Saudara Nee menyampaikan berita ini tahun 1934, dan berita itu baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tetapi dalam terjemahan bahasa Inggris, kata kedudukan diubah menjadi tempat. Terjemahan itu mengatakan bahwa Kristus sebagai Allah telah meninggalkan tempat Allah dan datang ke tempat manusia. Walaupun kata kedudukan dan tempat itu artinya hampir sama, tetapi ada perbedaan yang penting. Izinkan saya menjelaskannya. Mengatakan bahwa ratu Inggris meninggalkan kedudukannya di Inggris untuk mengambil kedudukan sebagai warga negara di Hongkong berarti bahwa ratu Inggris menjadi seorang warga negara biasa. Tetapi mengatakan bahwa ratu Inggris meninggalkan tempat ratu untuk datang ke tempat seorang warga negara di Hongkong hanya berarti bahwa tempatnya, lokasinya, bukan kedudukannya sebagai ratu, yang berubah. Dengan kata lain, ratu Inggris meninggalkan tempatnya di Inggris untuk mengunjungi tempat warga negara di Hongkong, tetapi dia tidak menjadi warga negara Hongkong. Tetapi dalam inkarnasi, Kristus tidak hanya datang ke tempat manusia, tetapi juga datang ke kedudukan manusia (Flp. 2:5-7). Ini menandakan suatu perubahan besar telah terjadi. Dengan kata lain, Kristus, yang adalah Allah Pencipta, telah menjadi ciptaan.

Berita-berita yang disampaikan oleh Saudara Nee tersebut sangat mengesankan saya sehingga pikiran saya dipenuhi olehnya siang dan malam untuk waktu yang lama. Setelah sidang istimewa itu, saya tinggal di Shanghai selama beberapa bulan, kemudian, saya kembali ke Chefoo. Di Chefoo saya segera mengadakan sidang istimewa dan membagikan apa yang telah Saudara Nee katakan di dalam sidang istimewa di Shanghai kata demi kata. Karena kalian adalah peserta dalam pelatihan ini, saya berharap dan mengharapkan kalian pada akhirnya juga dapat melakukan hal yang sama, terutama terhadap berita terakhir dari Sidang Istimewa Thanksgiving yang diadakan di Anaheim. Berita-berita itu memberi tahu kita apakah gereja menurut makna hakikinya. (Lihat The Organic Building Up of the Church as the Body of Christ to Be the Organism of the Processed and Dispensing Triune God, yang diterbitkan oleh Living Stream Ministry).

SIFAT INTRINSIK(HAKIKI) GEREJA

DAN FAKTOR INTRINSIK ANGIN PENGAJARAN

Gereja memiliki empat faktor intrinsik pada aspek positifnya: esens intrinsiknya, pertumbuhan intrinsiknya, pembangunan intrinsiknya, dan persekutuan intrinsiknya. Pada aspek negatif, ada satu hal intrinsik yang berkaitan dengan gereja, yaitu angin pengajaran.

Esens intrinsik, pertumbuhan intrinsik, pembangunan intrinsik, dan persekutuan intrinsik gereja adalah organik. Gereja dibangun secara intrinsik, secara organik. Dibangun secara organik adalah bertumbuh di dalam hayat secara intrinsik, yaitu bertumbuh di dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sekarang sedang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita. Ketika kita bertumbuh, kita dibangun. Gereja, yang adalah Tubuh Kristus dan rumah Allah, adalah organisme dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya, seperti yang terlihat dalam pohon anggur universal dalam Yohanes 15.

Banyak orang Kristen tidak mengerti atau memperhatikan gereja sebagai sesuatu yang intrinsik. Sebaliknya, mereka menganggap gereja adalah istilah luaran dan bahkan sebagai sesuatu yang bersifat lahiriah. Pengenalan luaran mengenai gereja semacam itu adalah faktor kekacauan di antara gereja-gereja. Jika kita tidak mengetahui esens intrinsik, pertumbuhan intrinsik, pembangunan intrinsik, dan persekutuan intrinsik dari gereja, kita dapat ditampi. Tanpa pandangan yang tepat mengenai gereja menurut keempat perihal intrinsik ini, kita semua dapat diombang-ambingkan oleh angin pengajaran. Tetapi jika kita mengetahui keempat perihal intrinsik ini, kita tidak akan diombang-ambingkan atau digoncangkan. Itulah sebabnya saya merasa terdorong untuk menyampaikan berita dalam Sidang Istimewa Thanksgiving yang baru lalu di Anaheim.

Secara positif, esens, pertumbuhan, pembangunan, dan persekutuan gereja semuanya bersifat intrinsik. Secara negatif, angin pengajaran juga memiliki faktor intrinsik — permainan palsu manusia (Ef. 4:14). Melalui melihat gereja secara luaran, Anda tidak dapat mengetahui apakah gereja itu. Untuk mengetahui apakah gereja itu, Anda harus masuk ke dalam unsur intrinsik dari gereja. Demikian juga dengan kekacauan dan penentangan. Di permukaan, tidak mudah untuk melihat angin pengajaran dengan jelas, tetapi di bawah permukaan, faktor intrinsik dari angin pengajaran adalah permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Permainan palsu, kelicikan, berasal dari manusia, tetapi sistemnya berasal dari Iblis. Iblis telah membuat sistematis beberapa ajaran yang kelihatannya baik dan sesuai dengan Alkitab, tetapi ajaran-ajaran tersebut memiliki pandangan yang merusak dan menghancurkan iman orang-orang kudus, merusak dan menghambat pembangunan gereja, dan mencerai-beraikan orang-orang kudus. Dalam kekacauan baru-baru ini, menanyakan siapakah yang benar dan siapakah yang salah bukanlah pokok persoalan yang sebenarnya. Anda harus bertanya apakah berita yang disampaikan oleh orang-orang yang menentang itu telah meneguhkan iman orang-orang kudus dan pertumbuhan mereka dalam hayat. Apakah berita-berita itu benar-benar membangun Tubuh Kristus?

Angin pengajaran melemahkan iman dan menimbulkan keragu-raguan terhadap hidup gereja dan pemulihan Tuhan. Walaupun banyak orang kudus tetap positif, keragu-raguan dan kecurigaan di dalam mereka telah menjadi faktor yang melemahkan dan bahkan mengguncangkan iman mereka. Ada yang begitu terpengaruh dengan angin pengajaran sehingga mereka undur dari kehidupan bersidang dan jatuh ke dalam aktivitas duniawi yang penuh dosa. Angin pengajaran dalam permainan palsu manusia sangat halus (tidak kentara) dan menyebabkan kehancuran dan kerusakan bagi gereja.

KESAKSIAN MENGENAI HIDUP GEREJA DI CHINA

Masalah-masalah dalam hidup gereja dan di antara gereja-gereja datang dari sesuatu yang tidak intrinsik dan organik, yaitu, sesuatu yang bukan berasal dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang sedang menyalurkan diri-Nya. Ketika saya menelusuri sejarah kita di daratan China dari tahun 1922 sampai tahun 1949, saya memiliki kesan yang sangat dalam mengenai gereja di Shanghai. Di antara satu kelompok yang terdiri atas lima orang kudus (tiga saudara dan dua saudari) yang merupakan inti penting gereja, tidak pernah ada perbantahan, opini, atau ambisi. Tentu saja selama tahun-tahun itu kekacauan datang beberapa kali, tetapi itu selalu terjadi di luar kelima orang ini. Prinsip yang kami pegang adalah tidak memiliki apa pun bagi diri kami sendiri. Kami tidak berjerih lelah untuk apa pun bagi diri kami sendiri; kami hanya berjerih lelah bagi pemulihan Tuhan. Di saat yang sama, kami hidup dalam esens intrinsik gereja. Ada koordinasi yang kuat di antara kami berlima, saudara dan saudari, dan masing-masing mengetahui dan tinggal di dalam batas atau areanya. Kami juga memiliki kepercayaan penuh dan lengkap seorang terhadap yang lain.

Saudara Watchman Nee pergi ke Hongkong pada tahun 1950 dan mendatangkan kebangunan besar bagi gereja di sana. Ia lalu menyuruh saya untuk pergi ke sana guna mengatur semua pelayanan para sekerja, penatua, dan diaken. Ia juga menyuruh sekelompok kecil orang kudus yang bertanggung jawab mengenai pembelian tanah bagi balai sidang untuk melakukan apa saja yang saya katakan mengenai pembelian tanah itu. Sekali lagi, inilah jalan kami mempraktekkan hidup gereja; setiap orang tinggal di dalam batasannya masing-masing, dan setiap orang mengetahui di mana dirinya berada. Saya berharap bahwa kita semua akan belajar melayani Tuhan dengan cara intrinsik yang sedemikian.