PENGALAMAN HAYAT (13)
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 7:10, 12, 25, 40; Gal. 2:20
EMPAT AYAT PENTING DALAM 1 KORINTUS 7
Dalam berita ini kita akan membahas pengalaman akan Kristus dalam 1 Korintus 7. Saudara Watchman Nee pernah mengatakan bahwa tingkat kerohanian tertinggi bagi kaum beriman Perjanjian Baru diwahyukan dalam 1 Korintus 7. Ia mempertimbangkan bahwa kerohanian Paulus, seperti yang terlihat dalam pasal ini, berada pada puncak tertinggi, menjadikan Paulus orang yang paling rohani. Dalam 1 Korintus 7, ada empat ayat yang sangat penting dan sangat unik. Dalam ayat 10 Paulus mengatakan, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang istri jangan bercerai dari suaminya.” Frase “bukan aku, tetapi Tuhan” mirip dengan Galatia 2:20, di sana Paulus mengatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Perintah dalam ayat ini adalah perintah yang serius karena berkenaan dengan penetapan Allah atas pernikahan, maka Paulus mempunyai keyakinan untuk mengatakan “bukan aku, tetapi Tuhan”. Tetapi dalam ayat 12 Paulus mengatakan, “Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: Kalau ada seorang saudara seiman beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.” Dalam ayat ini Paulus dengan berani mengatakan perkataannya sendiri kepada orang-orang di Korintus, tetapi apa yang ia katakan menjadi bagian dari wahyu ilahi.
Dalam ayat 25 Paulus mengatakan, “Sekarang tentang orang-orang yang belum kawin. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah.” Paulus memberikan opininya mengenai perkara penting tentang bujangan berdasarkan rahmat yang telah ia terima dari Tuhan untuk setia. Paulus seolah-olah mengatakan, “Mengenai hal ini, aku belum menerima perintah dari Tuhan, tetapi aku memberikan pendapatku, perasaanku, mengenai masalah bujangan. Aku mengakui bahwa apa yang aku katakan adalah pendapatku, tetapi pendapatku telah disusun dengan rahmat Tuhan, menjadikan aku seorang yang setia.”
Dalam ayat 40 Paulus mengatakan, “Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Lagi pula aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.” Kata “pendapat” dalam ayat ini kelihatannya tidak begitu menyenangkan atau manis. Ketika Tuhan berbicara, Ia tidak harus memberi keterangan pada perkataan-Nya dengan mengatakan bahwa perkataan-Nya adalah pendapat-Nya. Ia berkata begitu saja karena sebagai Tuhan dan Tuan, Ia adalah “Majikan”. Tetapi Paulus, sebagai hamba Tuhan, pertama-tama harus memberi keterangan kepada perkataannya ketika ia mengatakan pendapatnya. Banyak yang disebut manusia rohani hari ini tidak berkata secara demikian. Sebaliknya, mereka pada umumnya mengatakan, “Saya jamin bahwa ini adalah jalan yang benar. Apa yang saya katakan adalah dari Tuhan.” Tetapi, Paulus tidak mengatakan demikian. Ia hanya mengatakan bahwa apa yang ia ajarkan adalah menurut pendapatnya. Tetapi dalam memberikan pendapatnya, ia tidak sendirian; ia mempunyai Roh Allah di dalamnya.
PENGALAMAN PAULUS ATAS KRISTUS DALAM 1 KORINTUS 7
Sebelum ia diselamatkan, Saulus dari Tarsus menganiaya orang-orang kudus dan menghancurkan gereja. Setelah ia beroleh selamat, ia menjadi orang yang berbeda dan mulai berbicara bagi Tuhan dengan cara yang telah diwahyukan dalam ayat-ayat sebelumnya. Prinsip berbicara (bertutur-sabda) bagi Allah dalam Perjanjian Lama adalah “Beginilah firman Tuhan” (Yes. 10:24; 50:1; Yer. 2:2; Yeh. 2:4). Tetapi Prinsip inkarnasi Perjanjian Baru adalah, “Aku (pembicara) memerintahkan.” Pembicara dan Tuhan adalah satu. Ketika Paulus berbicara, Anda dapat mengatakan bahwa bukan hanya Paulus yang berbicara, tetapi juga Tuhan yang berbicara. Paulus dan Tuhan adalah satu dalam prinsip inkarnasi.
INKARNASI DAN PRINSIP INKARNASI
Inkarnasi adalah Allah masuk ke dalam manusia untuk membaurkan diri-Nya dengan manusia, membuat diri-Nya satu dengan manusia. Allah berinkarnasi dalam Manusia Yesus Kristus. Ia adalah persona yang ajaib, persona yang unik, yang memiliki dua sifat. Ia memiliki sifat ilahi dan sifat insani, tetapi kedua sifat ini tidak berdiri sendirisendiri secara terpisah; mereka berbaur bersama. Ia adalah Manusia-Allah yang unik.
Kedua sifat Kristus yang berbaur dapat digambarkan dengan teh dan air. Air teh terdiri dari dua unsur: teh dan air. Ketika kita mengatakan bahwa kita minum teh, kita sesungguhnya sedang minum teh dan air. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa kita minum air teh. Allah dapat diumpamakan dengan teh, dan manusia dapat diumpamakan dengan air. Sama seperti teh dan air berbaur untuk menghasilkan air teh, Allah dan manusia berbaur bersama untuk menghasilkan Manusia-Allah, Tuhan Yesus. Manusia-Allah ini adalah perbauran dari dua unsur, dua sifat, yang menjadi satu kesatuan tanpa menghasilkan sifat ketiga. Dalam air teh, kedua unsur tersebut, yaitu teh dan air tetap berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Mereka ada bersama-sama dengan cara berbaur. Demikian juga dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai Manusia-Allah yang memiliki dua sifat, ilahi dan insani.
MENEMPUH KEHIDUPAN SALING HUNI DAN BERBAUR
BERLAWANAN DENGAN KEHIDUPAN YANG DIGANTI
Dalam teologi, istilah saling huni telah digunakan untuk menggambarkan bagaimana kedua benda tidak hanya serentak ada, tetapi juga yang satu ada di dalam yang lain. Dalam Yohanes 14:10 Tuhan mengatakan kepada murid-murid, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” Dan dalam Yohanes 15:4 Tuhan selanjutnya mengatakan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri . . .” Kedua ayat di atas menunjukkan adanya saling huni, yaitu saling mendiami dan saling berbaur dari dua unsur agar mereka menjadi satu kesatuan, kedua unsur yang berbaur ini berbeda tetapi tidak terpisah.
Masalah saling huni sering diabaikan oleh orang-orang Kristen saat mereka membaca Perjanjian Baru. Akibatnya, hubungan kita dengan Tuhan sering kali disalahartikan. Ada yang mengatakan bahwa sebagai orang-orang Kristen kita menempuh kehidupan yang diganti. Menurut pemahaman ini, Kristus membuang kehidupan insani kita yang miskin dan menggantikannya dengan kehidupan ilahi-Nya yang unggul. Jika kita membaca Galatia 2:20 secara dangkal, kita mungkin juga akan salah dan berpikir bahwa ayat ini membicarakan konsepsi penggantian. Hal ini dikarenakan Paulus mengatakan bahwa ia telah disalibkan dengan Kristus, maka bukan lagi ia yang hidup, sekarang Kristus yang hidup di dalamnya. Banyak orang Kristen saat membaca Galatia 2:20, sudah berpegang dan tetap berpegang pada konsepsi yang demikian. Biografi Hudson Taylor telah banyak membantu orang Kristen bertahun-tahun, tetapi penulis biografi tersebut, menantu Hudson Taylor, nyonya Howard Taylor, telah mengembangkan konsepsi yang salah mengenai kehidupan yang diganti.
Konsepsi yang benar mengenai hubungan kita dengan Kristus adalah saling huni — Kristus hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Kristus (Yoh. 15:4-5). Allah dalam Kristus meletakkan diri-Nya sendiri ke dalam kita (Kol. 1:27; Rm. 8:10) melalui kelahiran kembali (Yoh. 1:12-13; 3:6), kemudian kita diletakkan ke dalam Kristus melalui baptisan (Rm. 6:3; Gal. 3:27; Mat. 28:19). Kita tidak dibuang atau disingkirkan, tetapi kita diletakkan ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19). Kita bukan dibuang, tetapi kita telah diletakkan ke dalam Kristus. Sekarang Kristus di dalam kita dan kita di dalam Kristus. Ini benar-benar menakjubkan!
DOA TUHAN DALAM YOHANES 17
MENYATAKAN KESATUAN SALING HUNI
Dalam Yohanes 15 diwahyukan secara jelas fakta mengenai diri kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita (ayat 4-5). Tetapi dalam Yohanes 17 Tuhan Yesus berdoa untuk pengenalan kita akan fakta ini (ayat 20-21). Tuhan Yesus berdoa agar kita tahu bahwa kita di dalam Dia sama seperti Dia di dalam Bapa, dan Tuhan Yesus di dalam kita sama seperti Bapa di dalam Dia. Pada trinitas ilahi, ada kesatuan saling huni yang ajaib sedemikian. Kesatuan saling huni ini telah digandakan oleh Kristus dengan kaum beriman-Nya. Hari ini, Kristus di dalam kaum beriman-Nya, menyebabkan kaum beriman-Nya berada di dalam-Nya. Hal ini sama seperti Bapa di dalam Anak, menyebabkan Anak di dalam Bapa. Doa Kristus dalam Yohanes 17 adalah wahyu dari kesatuan saling huni yang sedemikian. Menurut Yohanes 15 dan 17, hubungan kita dengan Kristus adalah saling huni, bukan penggantian.
MENANGGULANGI WATAK KITA MELALUI SALIB KRISTUS
Dalam Perjanjian Baru, orang yang memiliki watak paling keras mungkin adalah Rasul Paulus. Wataknya yang di dalam sangat keras, tetapi perawakannya mungkin kecil dan kurus. Walaupun watak Paulus keras, saat membaca 1 Korintus 7, Anda tidak dapat melihat wataknya yang keras. Paulus menulis kepada kaum beriman di Korintus yang adalah orang-orang berlatar belakang logika dan filsafat Yunani. Ia menulis dengan sangat logis, Anda tidak dapat menemukan wataknya yang keras sedikit pun. Pribadi Paulus ada di sana, tetapi “ular” dari wataknya telah ditanggulangi. Dalam 1 Korintus 7, orang seperti Saulus dari Tarsus yang memiliki watak keras telah ditanggulangi, tetapi Paulus yang telah dilahirkan kembali tetap ada. Menurut perkataan Paulus dalam Galatia 2:20, ia telah disalibkan dengan Kristus. Ketersalibannya dengan Kristus telah menanggulangi wataknya.
Dalam Galatia 2:20, ada “aku” yang lama dan “aku” yang baru. “Aku” yang lama termasuk watak Saulus dari Tarsus. Walaupun wataknya sudah disalibkan, Saulus tidak dibuang. Sebaliknya, melalui kelahiran kembali, Saulus dari Tarsus sudah ditinggikan. Seperti pasir di tepi pantai ditampi untuk menemukan barang-barang berharga, Saulus dari Tarsus juga telah ditampi. Semua hal yang negatif dan jatuh telah disingkirkan, tetapi pribadi Saulus yang telah dilahirkan kembali ditinggikan dan dimurnikan. Sebagai orang berdosa yang diselamatkan, aspek-aspek negatif kita telah disingkirkan, tetapi aspek-aspek positif kita ditinggikan. Melalui kelahiran kembali, kita mempunyai keinsanian yang ditinggikan. Ini bukan berarti bahwa kita mengganti keinsanian kita yang lama dengan keinsanian yang baru. Kita masih mempunyai keinsanian yang kita terima pada saat kelahiran, tetapi sebelum kelahiran kembali, keinsanian kita usang dan berada di bawah standar. Setelah dilahirkan kembali, keinsanian kita ditampi, dan melalui suatu proses yang sedemikian, keinsanian kita telah ditinggikan dan dimurnikan. Keinsanian yang ditinggikan dan dimurnikan adalah “aku” yang baru dalam Galatia 2:20. Paulus mengatakan, “Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman . . .” Paulus hidup dengan hayat yang adalah Kristus sendiri.
Dalam 1 Korintus 7, pribadi Saulus yang menjadi Paulus tetap ada. Melalui proses penampian, Saulus menjadi Paulus, orang yang telah ditinggikan dan dimurnikan dengan standar keinsanian yang tinggi. Orang yang demikian bersatu dengan Tuhan dan satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17). Ketika Paulus menulis 1 Korintus 7, ia bersatu dengan Tuhan menjadi satu roh. Karena itu, ia dapat memberikan perintah dan mengatakan, “Aku perintahkan,” dan ia juga dapat mengatakan, “Bukan aku tetapi Tuhan.” Ia dapat mengatakan demikian karena ia satu roh dengan Tuhan. Wataknya yang keras telah ditampi melalui salib Kristus, secara obyektif, yaitu dalam fakta tersalibnya dia dengan Kristus dan secara subyektif, yaitu dalam pengalamannya akan fakta ini. Paulus mengalami salib Kristus secara subyektif melalui mengalami Kristus yang subyektif. Paulus adalah orang yang hidup di bawah bayang-bayang salib setiap saat; karena itu, ketika ia menulis 1 Korintus 7, ia adalah orang yang telah dilahirkan kembali, ditampi, ditinggikan, dan dimurnikan, seorang yang bersatu dengan Tuhan menjadi satu roh.
PRINSIP INKARNASI TERLIHAT DALAM HAYAT YANG DIOKULASIKAN
Paulus menulis 1 Korintus 7 dalam prinsip inkarnasi. Prinsip inkarnasi adalah Allah masuk ke dalam manusia dan membaurkan diri-Nya dengan manusia untuk menjadikan manusia satu dengan diri-Nya sendiri. Jadi, Allah di dalam manusia dan manusia di dalam Allah. Ini dapat digambarkan dengan pengokulasian. Ketika dua pohon diokulasikan, kedua pohon tersebut harus dipotong. Pemotongan pohon pertama adalah potongan untuk menerima pohon lain. Pohon kedua juga harus dipotong supaya dapat diletakkan ke dalam pohon pertama. Kemudian kedua potongan itu disatukan dan kedua pohon itu mulai bertumbuh bersama. Supaya kita dapat diokulasikan ke dalam Kristus, Kristus dan kita harus dipotong. Pemotongan ini dilaksanakan pada salib Kristus. Kristus sebagai pohon zaitun yang baik dan terawat (Rm. 11:17-18; Yoh. 15:1) telah dipotong melalui kematian-Nya di atas salib. Kita juga dipotong melalui ketersaliban kita bersama Kristus di atas salib (Gal. 2:20). Ketika kita percaya ke dalam Kristus, dan dibaptis ke dalam Dia, kita diokulasikan ke dalam Kristus, kedua potongan itu disatukan, dan kita mulai hidup bersama Kristus. Di sini tidak ada pergantian hayat; sebaliknya, kedua hayat telah disatukan dan mulai bertumbuh bersama secara organik (Rm. 6:4-5).
Bait dalam kidung yang ditulis oleh A.B. Simpson (Kidung nomor 217) membicarakan masalah pengokulasian:
Hukum alam semua paham: Benih mati terbenam,
barulah akan bertunas, tumbuh dan berbuah lebat.
Terjemahan bebas:
Inilah rahasia alam yang tersembunyi,
Tanaman tumbuh dari benih yang mati tertanam;
Pohon yang jelek diokulasikan dengan pohon yang baik,
Tumbuhlah buah yang manis, limpah.
MENANGGULANGI WATAK MELALUI PROSES PENAMPIAN
Dalam hayat pengokulasian, di pihak Kristus, tidak perlu ada penampian karena tidak ada yang negatif pada-Nya. Tetapi di pihak kita, perlu banyak penampian karena kita penuh dengan perkara-perkara negatif. Setelah kita diselamatkan dan masuk ke dalam hidup gereja, kita membawa sejumlah perkara negatif bersama kita. Perkara-perkara negatif itu dapat diumpamakan dengan pasir untuk ditampi. Seluruh pasir harus ditampi. Pencobaan-pencobaan yang kita alami dalam hidup gereja digunakan oleh Tuhan untuk menampi kita. Para istri, para suami, anak-anak, dan bahkan semua saudara saudari dalam hidup gereja adalah alat penampi. Dalam hidup manusia dan dalam hidup gereja, kita semua lebih senang mempunyai hidup yang damai tanpa kerusuhan atau badai. Banyak panatua gerejagereja lebih senang mempunyai hidup gereja yang mulia, tanpa masalah. Kita mungkin lebih senang hidup gereja yang demikian, tetapi sering kali kita memiliki yang sebaliknya. Sukar untuk mengatakan mana yang terbaik. Pada saat kita masuk ke dalam kekekalan dan mengenang kembali, kita mungkin akan mengatakan bahwa kita memiliki terlalu sedikit kerusuhan dan terlalu sedikit masalah yang dapat menampi kita.
Hidup gereja Paulus sering kali penuh dengan kerusuhan (2 Kor. 11:23-33). Pada perjalanan Paulus dari Kaisarea ke Roma dalam Kisah Para Rasul 27—28, banyak sekali badai dan penderitaan. Kehidupan Saudara Watchman Nee di China, dari awal ministrinya sampai akhir hidupnya, penuh dengan kerusuhan. Selama delapan belas tahun saya bersamanya dalam pekerjaan, tidak pernah ada waktu ayng penuh kedamaian. Dua puluh tahun terakhir dalam hidupnya, dari 1952 sampai 1972, dilaluinya dalam penjara; tahun-tahun dalam penjara itu berakhir dengan kematiannya.
Kerusuhan adalah suatu berkat, karena melaluinya kita ditampi. Penampian ini lebih erat hubungannya dengan watak kita daripada dengan dosa-dosa atau kesalahankesalahan kita. Jika oleh rahmat dan anugerah-Nya, kita semua dapat melewati proses penampian, kita akan tetap berguna bagi Tuhan. Daya guna kita tidak tergantung pada watak baik kita yang kita peroleh melalui kelahiran. Daya guna kita ditentukan oleh berapa banyak kita telah ditampi. Lebih baik mempunyai watak keras yang telah melewati proses penampian dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun daripada hanya mempunyai watak baik. Paulus adalah orang yang memiliki watak keras yang telah melewati proses penampian yang panjang melalui banyak badai; karena itu, ia dapat menulis pasal seperti 1 Korintus 7.
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Satu Korintus 7 adalah tulisan manusia, namun tulisan ini menjadi wahyu ilahi. Ia dapat mengatakan bahwa perkataannya bukanlah perintah dari Tuhan, tetapi perkataan yang ia berikan menjadi wahyu ilahi. Pada akhir pasal ini, Paulus menyimpulkan dengan mengatakan bahwa apa yang telah ia berikan adalah menurut pendapatnya dan ia berpendapat bahwa ia juga mempunyai Roh Allah. Ia tidak hanya memiliki pendapatnya, tetapi ia juga memiliki Roh Allah. Keduanya berbicara bersama dengan cara perbauran: Roh Allah berbicara melalui pendapatnya, dan pendapatnya menyatakan sesuatu dengan Roh Allah. Allah berbaur dengan manusia sebagai satu pribadi yang memiliki dua sifat, hidup bersama dalam satu hayat dan satu kehidupan, ini adalah pengalaman hayat yang diokulasikan dalam prinsip inkarnasi. Inilah penanggulangan watak yang sejati.