← Daftar isi Pengalaman Hayat · bab 24/31

PERTUMBUHAN DALAM HAYAT (12)

Pembacaan Alkitab:

Mat. 16:21-26

WATAK

Watak kita adalah apa adanya kita, sesuatu yang kita peroleh melalui kelahiran, susunan alamiah kita. Dalam pengalaman kita, watak kita ditemukan dalam “aku”, manusia lama, diri, dan hayat jiwa (nyawa). Walaupun dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang mendefinisikan watak dengan jelas, maknanya tersirat dalam bagian-bagian tertentu dalam Alkitab. Galatia 2:19b-20 mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dalam ayat ini, watak tersirat dalam kata “aku”, yang telah disalibkan dengan Kristus. Dalam Matius 16:21-26 dan Lukas 9:22-25, watak tersirat dalam kata diri (Mat. 16:24; Luk. 9:23, 25) dan hayat jiwa (nyawa) (Mat. 16:25-26; Luk. 9:24). Dalam Matius 16:22 Petrus menegur Tuhan Yesus berdasarkan wataknya. Watak Petrus terutama terlihat pada saat ia dengan cepat dan menonjol mengekspresikan dirinya sendiri. Petrus, sebagai juru bicara dari kedua belas murid, selalu menjadi orang pertama yang mengekspresikan dirinya dalam banyak kesempatan. Tidak ada murid lain yang mengungguli Petrus dalam hal ini. Kita masing-masing memiliki watak kita sendiri. Sesuai dengan watak kita, kita mungkin juga cepat mengekspresikan diri seperti yang dilakukan Petrus. Di pihak lain, sesuai dengan watak kita, kita mungkin adalah orang yang jarang mengatakan sesuatu untuk mengekspresikan diri sendiri.

Watak kita adalah bagian dari diri kita yang sukar ditanggulangi, dan sering kali ada bagian tertentu dari watak kita yang paling sukar untuk ditanggulangi. Sepertinya sebuah gunung lebih mudah digerakkan daripada bagian tertentu dari watak kita. Watak kita adalah bagian dari diri kita. Sebagai orang Kristen, kita harus memperhidupkan Kristus melalui menolak diri sendiri. Kita harus belajar bertindak melawan watak kita.

Watak, Pertumbuhan Hayat, dan Daya Guna Kita dalam Pelayanan

Menurut pengamatan saya selama bertahun-tahun, musuh sesungguhnya dari pertumbuhan kita dalam hayat ilahi adalah watak kita. Watak kita juga merupakan faktor yang merusak daya guna kita dalam tangan Tuhan. Segera setelah saya diselamatkan, saya menerima visi tentang pemulihan Tuhan melalui tulisan-tulisan Saudara Watchman Nee, kemudian saya meninggalkan denominasi tempat saya bersidang sebelumnya. Tahun 1932, Tuhan membangkitkan gereja di lokalitas saya, dan tahun 1934 saya mulai bekerja sama dengan Saudara Watchman Nee. Sejak saat itu, sebagai orang yang merawat gereja dan memperhatikan pekerjaan, saya telah bertemu dengan banyak orang dan mengenal mereka. Saya mempelajari bahwa banyak orang kudus pada akhirnya berhenti bertumbuh dalam hayat ilahi dan tidak dapat maju lagi. Dalam beberapa tahun pertama dari kehidupan kristiani mereka, mereka bertumbuh dalam hayat ilahi dengan sangat cepat. Tetapi, pada akhirnya pertumbuhan mereka berhenti karena watak mereka yang khusus dan antik. Mereka telah membuang dunia dan telah mengorbankan banyak hal untuk Tuhan. Mereka juga mendengarkan berita-berita dan menyukainya. Tetapi unsur khusus dan antik tetap ada dalam diri mereka. Bagian dari susunan mereka tersebut menjadi penahan yang kuat yang menahan mereka untuk maju dalam pertumbuhan hayat. Bagi orang kudus yang demikian, hanya ada kemungkinan kecil untuk maju. Beberapa orang kudus tidak begitu bertumbuh dalam hayat selama lima puluh tahun.

Saya juga telah melihat beberapa orang kudus yang sangat mengasihi Tuhan, mereka sungguh penuh harapan, berkorban bagi-Nya dalam segala hal, menerima pendidikan tinggi, dan memiliki banyak pengalaman dalam penderitaan dan dalam kehidupan insani. Seharusnya, orang-orang sedemikian sangat berguna untuk Tuhan. Tetapi, karena unsur khusus dan antik dalam susunan mereka, daya guna mereka hilang. Meskipun mereka tidak bersikeras mempertahankan unsur itu dalam diri mereka, tetapi mereka membiarkannya diam di dalam mereka dan merusak serta menghentikan daya guna mereka.

Perangai khusus kita dapat dibandingkan dengan jaringan urat-urat kayu pada sepotong kayu. Seorang tukang kayu lebih suka menggunakan kayu yang mempunyai jaringan urat kayu rata. Jika seorang tukang kayu menemukan sepotong kayu yang memiliki urat kayu yang antik, ia tidak akan menggunakannya. Sepotong kayu mungkin kualitasnya baik, tetapi jika kayu itu memiliki mata kayu atau tonjolan, kayu itu tidak mudah digergaji; kayu itu tidak berguna. Orang Kristen yang tidak memiliki keantikan, perangai aneh, adalah orang yang bertumbuh paling banyak dan paling cepat. Demikian juga, saudara saudari yang paling berguna adalah mereka yang tidak memiliki perangai aneh. Dalam pelayanan, orang yang paling berguna adalah orang yang selalu menolak dan menyangkal apa adanya mereka.

Saya telah mengamati situasi dalam gereja selama bertahun-tahun. Ketika saya bersama Saudara Watchman Nee, saya melihat sejumlah kasus pemberontakan. Di Taiwan dan Amerika Serikat, saya juga telah melihat beberapa kasus seperti itu. Jika kita menganalisis kasus-kasus pemberontakan tersebut, kita dapat melihat bahwa sumber dari pemberontakan itu adalah watak orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hampir tanpa pengecualian, penyebab keterlibatan setiap orang dalam pemberontakan adalah keantikan mereka. Di satu pihak, orang-orang kudus terkasih yang telah terlibat dalam pemberontakan itu adalah orang-orang yang sangat berguna sebelumnya. Di pihak lain, ada “tonjolan” di dalam mereka, yang menyebabkan sesuatu yang negatif bertumbuh dan terkumpul. “Tonjolan” tersebut pada akhirnya menghilangkan daya guna mereka dan mengarah kepada pemberontakan. Banyak orang kudus terkasih lain yang tidak memberontak, tetapi mereka lebih berguna di tahun-tahun terdahulu daripada hari ini. Mereka tetap tinggal di dalam gereja, tetapi daya guna mereka telah hilang karena watak mereka. Dalam hidup kristiani dan dalam pekerjaan, watak adalah faktor negatif yang besar.

Watak Kita dan Kehidupan Insani Kita

Jika kita meninjau kehidupan kita, kita akan nampak bahwa banyak penderitaan kita disebabkan oleh keantikan dalam watak kita. Karena wataknya, seorang pelajar mungkin ada masalah dalam belajar, dan gurunya mungkin tidak memperhatikannya secara pribadi. Hasilnya, ia tidak mendapat nilai baik. Jika watak murid itu dapat diubah, ia akan bisa mendapatkan nilai lebih baik. Di dalam persidangan, seorang hakim mungkin terpengaruh dan terganggu dengan keantikan seseorang, menyebabkan orang itu tidak mendapatkan penghakiman yang baik. Bahkan dalam keluarga, salah satu anak mungkin lebih menderita daripada anak yang lain karena wataknya. Seorang majikan mungkin tahu bahwa karyawan tertentu memiliki perangai antik, tetapi karena perusahaan itu membutuhkannya, mereka tetap mempertahankan dia. Tetapi begitu perusahaan itu mulai mengurangi jumlah karyawan, karyawan yang antik itu mungkin adalah orang pertama yang akan diberhentikan. Kita mungkin juga menderita di dalam lingkungan kita karena perangai antik kita. Kita mungkin mengasihi orang dan senang membantu orang, tetapi karena perangai antik kita, tidak seorang pun dari tetangga kita yang menaruh perhatian pada kita.

Faktor negatif dalam kehidupan pernikahan dan kehidupan keluarga kita adalah watak kita. Kelihatannya, persoalan antara orang tua dan anak-anak dikarenakan kesalahan-kesalahan tertentu. Tetapi, kesalahan-kesalahan dapat dengan mudah ditanggulangi; kesalahan seperti debu di atas meja yang dapat dihapus. Penyebab sesungguhnya dari persoalan antara orang tua dan anak-anak adalah perangai antik dalam susunan mereka. Jika watak orang tua maupun watak anak-anaknya dapat berubah, maka tidak akan ada masalah semacam itu. Tetapi, bahkan orang tua tidak dapat mengubah diri mereka sendiri. Pada akhirnya, masalah-masalah itu akan menumpuk. Tahun demi tahun ada penumpukan masalah. Penumpukan masalah itu dapat dibandingkan dengan penyebab gempa bumi. Gempa bumi disebabkan oleh akumulasi (penumpukan) tekanan di bawah bumi secara bertahap yang pada akhirnya meledak. Walaupun orang tua dan anak-anak itu saling mengasihi dan mereka hidup untuk yang lain selama bertahun-tahun, penumpukan itu pada akhirnya akan membawa masalah yang besar.

Perangai antik kita juga menyebabkan kita menderita dalam kehidupan pernikahan kita. Seorang suami dan seorang istri mungkin saling mengasihi, tetapi setelah menikah beberapa bulan, sang istri mungkin menemukan “tonjolan” dalam suaminya. Problem sebenarnya di antara suami dan istri adalah bagian khusus dan antik dalam susunan mereka, watak mereka. Inilah faktor yang membuat suami dan istri tidak bahagia. Suami yang menyenangkan dan istri yang menyenangkan ialah mereka yang tidak memiliki perangai antik. Kecantikan seorang istri tidak membuatnya menyenangkan untuk selamanya. Seorang saudara mungkin tertarik oleh kecantikan seorang saudari ketika mereka berpacaran dan pada hari pernikahan mereka, tetapi setelah mereka hidup bersama sejangka waktu, saudara itu mungkin menemukan bahwa ia menikahi saudari cantik yang sangat sukar untuk ditanggulangi. Sejak saat itu, perangai antik itu akan menyebabkan masalah di antara mereka. Suami dan istri mungkin saling mengasihi dan menghargai, tetapi penumpukan masalah yang dihasilkan oleh perangai antik mereka pada akhirnya akan menyebabkan perceraian. Dalam hidup gereja, penumpukan masalah selama bertahun-tahun akan menyebabkan pemberontakan.

Menanggulangi Watak Kita

Dalam keempat kitab Injil, penanggulangan atas Petrus yang paling sukar di hadapan Tuhan berkenaan dengan wataknya. Bahkan sampai Galatia 2:11-21, watak Petrus belum seluruhnya ditanggulangi. Sesuatu yang mengganggu tetap tinggal di dalamnya. Tetapi menurut catatan seluruh Perjanjian Baru, pada akhirnya Petrus dapat melewatinya. Dalam Galatia 2, Paulus menegur Petrus secara langsung karena sampai tingkat tertentu, Petrus masih tinggal dalam wataknya, tetapi dalam 2 Petrus 3:15-16, Petrus sangat memuji Paulus. Jika Petrus masih tetap tinggal dalam wataknya, ia tidak akan membuat penghargaan yang begitu tinggi untuk orang yang pernah menegurnya. Teguran sangat menyakiti orang lain, tetapi Petrus tidak. Hal itu menandakan bahwa “tonjolan”, faktor yang menimbulkan masalah itu, telah tersingkir dari Petrus.

Dengan tangan manusia tidak mungkin bisa menyingkirkan faktor watak, tetapi di tangan Tuhan ada jalan. Dalam Matius 19:25 para murid bertanya kepada Tuhan, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Tuhan menjawab, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Mat. 19:26). Firman ini telah tergenapi di atas diri Petrus. Dalam 2 Petrus 1:5-11 Petrus menulis mengenai pengembangan dari apa yang telah Tuhan berikan kepada kita melalui pertumbuhan dalam hayat sampai mendapatkan hak penuh untuk masuk ke dalam kerajaan kekal. Petrus dapat menulis perkataan yang sedemikian karena ia telah mempelajari pelajaran rohani. Tuhan menerobos di dalamnya. Sukar bagi kita untuk menerobos masalah watak kita, tetapi tidak mustahil bagi Tuhan untuk melakukannya.

Dalam tahun-tahun pertama hayat rohani kita, kita mungkin bertumbuh dengan cepat. Tetapi, pertumbuhan kita mungkin menjadi lambat atau bahkan berhenti karena watak kita. Kita harus diperingatkan mengenai watak kita. Kita harus belajar memperhatikan “tonjolan” dalam susunan kita, watak kita. Jika kita menanggulangi “tonjolan” itu, kita akan bertumbuh dengan cepat dan mempunyai jalan tol dalam hayat rohani kita, tanpa halangan bagi pertumbuhan kita dalam hayat. Kita juga akan menjadi semakin berguna bagi Tuhan.

TANYA JAWAB

Tanya: Mengapa watak kita tidak mengganggu pertumbuhan kita dalam hayat pada awal hayat rohani kita?

Jawab: Pada awal hayat rohani kita, watak kita tertutup oleh keduniawian kita, kelemahan kita, dan dosa-dosa kita. Kita bertumbuh dengan cepat melalui menanggulangi dunia, kelemahan kita, dan dosa-dosa kita. Setelah kita menanggulangi perkara-perkara negatif yang dangkal itu, kita sampai pada masalah yang lebih dalam. Masalah yang lebih dalam adalah apa adanya kita. Pada diri kita, ada “tonjolan”. Jalan tol kita terputus. Kita tidak dapat terus maju, terhalang dalam hayat rohani kita. Watak kita menjadi masalah kita. Ia menghalangi kita untuk bertumbuh dalam hayat dan digunakan oleh Tuhan, hal ini menyulitkan kita, dan menyebabkan kita menderita.