← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Hayat · bab 2/20

Pelajaran 2

Bejana Allah

Pembacaan Alkitab :

Kej. 2:7-9, 15-17; Rm. 9:21, 23; 2 Kor. 4:7; Yoh. 1:11-12; Kol. 2:6

GARIS BESAR

1. Memiliki roh sebagai penerima untuk menerima Allah :

a. Roh manusia sangat dekat dengan Allah Sang Roh

b. Roh manusia dapat berhubungan dengan Allah dan menjadi satu dengan Dia - Yoh. 4:24; Rm. 8:16

2. Memiliki pikiran untuk memahami Allah - Luk. 24:45; Rm. 12:2

3. Memiliki emosi untuk mengasihi Allah - Mat. 22:37

4. Memiliki tekad untuk memilih Allah :

a. Dua pohon menandakan dua kehendak, dua sumber, dan dua kemungkinan yang harus dipilih manusia

b. Diamanatkan untuk makan pohon yang benar, menandakan Allah menciptakan tekad bebas bagi ma nusia dan Allah menginginkan manusia menggunakan tekad bebasnya untuk memilih Dia

5. Allah melarang manusia makan pohon pengetahuan, menandakan Allah menginginkan manusia menerima Dia sebagai hayat melalui menikmati Dia - Yoh. 1: 11-12; Kol. 2:6

6. Manusia perlu menjadi bejana Allah untuk diisi Allah - Ef. 3:17a

Fokus : Fokus berita ini adalah manusia menjadi bejana Allah.

Dalam berita ini kita akan melihat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah adalah bejana Allah.

1. MEMILIKI ROH SEBAGAI PENERIMA

UNTUK MENERIMA ALLAH

Maksud Allah menciptakan manusia adalah untuk memperoleh suatu bejana yang dapat diisi oleh-Nya guna mengekspresikan-Nya. Dalam berita ini kita akan menekankan satu butir penting ini - manusia ciptaan Allah adalah suatu bejana. Konsep ini tidak ada pada kebanyakan orang Kristen. Kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa manusia haruslah menjadi alat yang dipakai oleh Allah. Pemikiran tertinggi yang mereka miliki adalah manusia harus menjadi pelayan Allah. Pemikiran bahwa manusia sebagai bejana Allah tidak ada pada diri mereka, sebab pemikiran ini tidak ada dalam otak manusia kita.

Dalam pemikiran Allah, manusia adalah suatu wadah, bukan suatu sarana atau alat. Selain manusia menjadi bejana, suatu wadah untuk diisi Allah dan untuk dipenuhi oleh Allah, manusia tidak dapat digunakan oleh Allah untuk merampungkan kehendak-Nya. Bileam, nabi kafir, adalah orang yang dipakai Allah tetapi dengan cara yang sangat negatif. Ini dikarenakan meskipun dia adalah seorang nabi, tetapi dia tidak menjadi bejana untuk diisi Allah, dia bukanlah wadah Allah.

Dalam Roma 9:21 dan 23 Paulus memberi tahu kita, bahwa Allah menciptakan manusia adalah untuk menghasilkan, menciptakan manusia sebagai bejana, guna merampungkan kehendak-Nya. Allah menciptakan manusia sebagai bejana untuk diisi oleh-Nya, sama seperti tukang peduk membuat bejana tanah liat untuk diisi sesuatu. Dua Korintus 4:7 juga menyampaikan pemikiran ini. Rasul Paulus menganggap dirinya sebagai bejana tanah liat untuk diisi harta mustika, dan harta itu adalah Kristus, adalah Allah. Karena itu dalam Roma 9 dan 2 Korintus 4 kita dapat melihat wahyu yang jelas, bahwa manusia diciptakan Allah sebagai bejana-Nya untuk diisi Dia.

Sebagai bejana untuk diisi Allah, manusia memerlukan organ penerima untuk menerima Allah, dan inilah satu-satunya perbedaan antara manusia ciptaan Allah dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Selain kepada manusia, Allah tidak memberikan roh kepada makhluk ciptaan yang lain. Menurut Kejadian 17, Allah menciptakan manusia dengan debu untuk membentuk tubuh. Lalu Dia mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia dan manusia menjadi jiwa yang hidup. Kejadian 2:7 memperlihatkan kepada kita gambaran manusia sebagai bejana buatan Allah.

Di dalam manusia perlu organ penerima untuk menerima dan menampung Allah. Radio hari ini memiliki kontak luar dan penerima di dalam untuk menerima gelombang radio yang tidak kelihatan. Kejadian 2:7 memperlihatkan, bahwa manusia memiliki tubuh di luar yang terbuat dari tanah, dan penerima di dalam yang dihasilkan oleh nafas hidup Allah. Penerima di dalam ini adalah roh manusia.

a. Roh Manusia Sangat Dekat dengan Allah Sang Roh

Roh manusia sangat dekat dengan Allah Sang Roh. Banyak pembaca Alkitab salah mengerti, mengira bahwa nafas hidup yang diembuskan ke dalam hidung manusia yang terbuat dari debu itu adalah hayat Allah. Mereka menganggap bahwa pada saat penciptaan, Allah memberikan hayat-Nya ke dalam tubuh manusia. Mereka tidak melihat perbedaan antara pengembusan nafas hidup ke dalam manusia oleh Allah dalam Kejadian 2:7 dengan pengembusan Roh Kudus ke dalam murid-murid oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 20:22. Ketika Tuhan Yesus mengembuskan Roh Kudus ke dalam murid-murid-Nya, hayat yang kekal masuk ke dalam murid-murid. Tetapi ketika Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam tubuh manusia, nafas hidup tersebut menjadi roh manusia.

Ada 2 prinsip yang mencegah kita mengatakan, bahwa hayat Allah masuk ke dalam manusia pada saat penciptam ketika Allah mengembuskan nafas hidup-Nya. Prinsip pertama adalah karena tekad bebas manusia. Bila Allah telah menaruh hayat kekal-Nya ke dalam manusia pada saat penciptaan, maka manusia tidak perlu menggunakan tekad bebasnya. Itu berarti penciptuan Allah telah menggenapkan kehendak-Nya tanpa penggunaan tekad manusia. Itu berlawanan dengan prinsip ilahi Allah yang memberikan tekad yang bebas kepada manusia.

Tidak hanya demikian, mengatakan bahwa manusia menerima hayat kekal Allah pada saat penciptaan, menurut Alkitab, itu bukan hanya berlawanan dengan prinsip ilahi tentang tekad bebas manusia, tetapi juga berlawanan dengan ekonomi Allah. Alkitab memperlihatkan bahwa setelah penciptaan Allah, Allah menginginkan manusia memilih Dia, sehingga Dia menempatkan manusia di depan pohon hayat, mengharapkan manusia dengan bebas memilih menerima hayat Allah ke dalam dirinya sebagai hayat. Akan sangat berlawanan dengan ekonomi-Nya bila Allah menaruh hayat-Nya ke dalam manusia pada saat penciptaan.

Setelah kejatuhan manusia, Allah menutup jalan menuju pohon hayat. Menurut wahyu dari Kejadian 3 bagian akhir, Allah menutup jalan yang menuju pohon hayat, agar manusia yang telah jatuh tidak dapat hidup selamanya dengan sifat jahatnya (ay. 22-24). Ini memperlihatkan, bahwa manusia tidak memiliki hayat kekal Allah pada saat penciptam. Sebetulnya, manusia tidak dapat menerima hayat kekal Allah sampai Tuhan Yesus melalui kematian dan kebangkitan menggenapkan penebusan untuk menyelesaikan masalah dosa manusia dan untuk membebaskan hayat kekal Allah.

Banyak orang salah mengatakan, bahwa manusia menerima hayat Allah pada saat penciptaan. Mereka mengutip Lukas 3:38 yang mengatakan, bahwa Adam adalah anak Allah. Mereka mempertahankan bahwa Adam pasti memiliki hayat Allah; kalau tidak, dia tidak bisa menjadi anak Allah. Tetapi para malaikat juga disebut anak-anak Allah (Ayub 1:6; 38:7). Itu tidak berarti bahwa para malaikat memiliki hayat ilahi Allah dengan sifat ilahi Allah. Dalam Alkitab, kata anak sedikitnya memiliki dua arti. Arti pertama ialah orang yang dilahirkan dari Bapa oleh hayat Bapa dengan sifat Bapa. Arti kedua ialah orang yang diciptakan Allah. Karena Adam dan para malaikat diciptakan oleh Allah, maka mereka disebut anak-anak Allah. Allah adalah sumber mereka. Bahkan anak angkat walau disebut anak dari ayah angkatnya, tetapi dia tidak memiliki hayat dan sifat ayahnya. Adam dianggap anak Allah sebab dia diciptakan oleh Allah, bahkan pujangga-pujangga kafir juga menganggap semua orang adalah keturunan Allah (Kis. 17:28). Manusia hanya diciptakan oleh Allah, bukan keturunan-Nya. Ini tentu berbeda dengan orang-orang yang percaya dalam Kristus yang menjadi anak-anak Allah. Orang beriman telah dilahirkan oleh Allah, dilahirkan kembali oleh Allah, dan memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:12-13, 3:16; 2 Ptr. 1:4).

Walaupun manusia tidak menerima hayat Allah pada saat penciptaan, namun manusia diciptakan dengan memiliki roh yang berasal dari nafas hidup Allah. Maka walaupun roh manusia bukan Roh Allah atau hayat ilahi Allah, roh manusia sangat dekat dengan Roh Allah. Inilah sebabnya roh manusia dapat menerima Allah Sang Roh. Suatu benda, misalnya tembaga, memiliki kemampuan untuk menerima listrik; tetapi kayu atau kertas tidak. Antara listrik dengan tembaga tidak ada sekatan, tetapi ada sejenis transmisi. Demikian juga antara Allah Sang Roh dengan roh manusia kita ada sejenis transmisi; tidak ada sekatan. Namun antara tubuh fisik kita dengan Roh Allah atau antara jiwa kita dengan Roh Allah ada sejenis sekatan; tidak ada transmisi. Karena roh manusia berasal dari nafas hidup Allah, roh manusia kita sangat dekat dengan Allah Sang Roh. Kita harus menekankan hal ini, sebab hal ini akan meletakkan dasar yang baik untuk pelajaran selanjutnya tentang hayat. Kita tidak dapat membantu orang lain dalam hayat, bila kita kehilangan butir yang sangat penting ini.

b. Roh Manusia Dapat Berhubungan dengan Allah

dan Menjadi Satu dengan Dia

Karena roh manusia sangat dekat dengan Allah dan ada semacam transmisi antara Allah Sang Roh dengan roh manusia, maka roh manusia dapat berhubungan dengan Allah dan menjadi satu dengan Allah. Yohanes 4:24 mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiqpa menyembah Dia hanis menyembah-Nya dalam roh..." Ini membuktikan bahwa roh kita dapat berhubungan dengan Allah. Roma 8:16 mengatakan, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita." Ayat ini menggunakan kata depan "dengan", berarti Roh Allah bersatu dengan roh kita. Kata "dengan" ini sangat penting, menandakan bahwa sekarang roh kita bersatu dengan Roh Allah. Kita perlu menekankan butir-butir ini berulang-ulang, terutama kepada orang - orang yang baru percaya. Mereka yang baru memasuki kehidupan gereja dalam dua tahun belakangan ini memerlukan bantuan semacam ini.

2. MEMILIKI PIKIRAN UNTUK MEMAHAMI ALLAH

Begitu diciptakan manusia bukan hanya ada roh, tetapi juga ada pikiran untuk memahami Allah (Luk. 24:45; Rm. 12:2). Berkontak dengan Allah, menerima Allah, dan diisi Allah adalah satu perkara; memahami Allah adalah perkara yang lain. Kita memiliki roh untuk menerima Allah, tetapi kita juga memiliki jiwa, "psuche". Menyinggung manusia, Alkitab menyebutnya jiwa (Kel. 1:5; Kis. 2:41). Setiap orang adalah satu jiwa. Kita adalah makhluk psikologis, yakni jiwa, dengan kemampuan untuk memahami. Manusia ciptaan Allah memiliki pikiran, satu bagian dari jiwa, karena itu manusia dapat memahami Allah. Memahami adalah fungsi pikiran. Lukas 24:45 mengatakan, bahwa Tuhan membuka pikiran murid-murid untuk memahami Kitab Suci. Ini adalah ayat yang sangat baik untuk membuktikan bahwa kita perlu memahami Allah.

3. MEMILIKI EMOSI UNTUK MENGASIHI ALLAH

Manusia yang diciptakan juga memiliki emosi untuk mengasihi Allah (Mat. 22:37). Alkitab memperlihatkan bahwa dalam hakiki psikologis kita, selain pikiran sebagai alat untuk mengerti, juga ada emosi sebagai alat untuk mengasihi. Matius 22:37 mengatakan, bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan segenap pikiran kita. Pikiran adalah bagian dari hati, namun di sini disinggung secara terpisah. Karena pikiran disinggung secara terpisah, tentunya ini menandakan bahwa hati mengacu pada fungsi mengasihi dari hati, yaitu emosi. Setelah menerima Allah, kita harus mengerti Dia. Setelah mengerti Dia, tentunya kita harus mengapresiasi Dia, menyukai Dia, mengasihi Dia, dan menghargai Dia. Maka emosi, fungsi mengasihi kita, dipersiapkan bagi kita oleh Allah.

4. MEMILIKI TEKAD UNTUK MEMIL1H ALLAH

Manusia yang diciptakan juga memiliki satu tekad untuk memilih Allah. Tanpa tekadnya, manusia tidak memiliki pilihan, keputusan, arah, dan sasaran. Karena itu Allah menciptakan suatu organ pemilih yang kuat bagi manusia. Dalam hakiki psikologis kita, tekad kita adalah bagian yang paling kuat. Bahican setelah keiatuhan manusia, Allah masih mempertahankan tekad manusia untuk kehendak-Nya. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, itu adalah suatu keputusan yang kuat dari pihak kita yang dilakukan oleh penggunaan tekad kita. Martin Luther adalah contoh orang yang memiliki tekad yang sangat kuat, karena itu ia memiliki iman yang besar. Iman yang kuat sangat tergantung pada tekad yang benar-benar kuat.

a. Dua Pohon Menandakan Dua Kehendak, Dua Sumber,

dan Dua Kemungkinan yang Harus Dipilih oleh Manusia

Allah menempatkan manusia di hadapan dua pohon, menandakan bahwa manusia memiliki tekad yang bebas. Dua pohon itu memperlihatkan bahwa dalam alam semesta ini ada dua kehendak, dua sumber, dan dua kemungkinan yang harus dipilih oleh manusia. Allah menempatkan manusia di hadapan kedua pohon dalam posisi netral. Ini menandakan bahwa pada saat itu manusia tentu memiliki tekad bebas yang kuat; jika tidak, Allah tidak akan menempatkannya di hadapan dua pilihan.

b. Diamanatkan untuk Makan Pohon yang Benar,

Menandakan Allah Menciptakan Tekad Bebas bagi Manusia

dan Allah Menginginkan Manusia

Menggunakan Tekad Bebasnya untuk Memilih Dia

Setelah menempatkan manusia di hadapan dua pilihan, Allah lalu memperingatkan manusia untuk tidak memilih pohon yang salah dan mengamanatkan dia untuk memakan pohon yang benar (Kej. 2:16-17). Ini menandakan bahwa Allah menciptakan tekad bebas bagi manusia dan menginginkan manusia menggunakan tekad bebasnya untuk memilih Dia.

5. ALLAH MELARANG MANUSIA MAKAN POHON PENGETAHUAN,

MENANDAKAN ALLAH MENGINGINKAN

MANUSIA MENERIMA DIA SEBAGAI HAYAT

MELALUI MENIKMATI DIA

Allah melarang manusia makan pohon pengetahuan, menandakan bahwa Allah menginginkan manusia menerima Dia sebagai hayat melalui menikmati Dia (Yoh. 1: 11-12; Kol. 16). Makan adalah masalah kenikmatan. Allah ingin manusia menerima Dia dengan sukacita dan dengan kenikmatan, bukan dengan cara lain.

6. MANUSIA PERLU MENJADI BEJANA ALLAH

ADALAH UNTUK DIISI ALLAH

Manusia harus menjadi bejana Allah untuk diisi Allah. Ini adalah kesimpulan dari berita ini. Untuk menitik-beratkan hal ini, kita harus menggunakan Efesus 3:17a, "Kristus diam (berumah) di dalam hatimu." Kita perlu memberi tahu kaum saleh bahwa rumah adalah wadah yang besar. Semua penghuni mengisi rumah mereka. Rumah kita diisi oleh kita. Maka kita harus menjadi bejana Allah untuk diisi Allah.

Dalam kitab Efesus, Paulus dengan tegas mendorong kita untuk menjadi tempat tinggal Kristus. Dia damba melihat Kristus dapat berumah dalam hati kita, sehingga kita dapat menjadi bejana-Nya yang sejati. Ajaran kekristenan kehilangan hal ini. Mereka menekankan hal-hal etika, bukan menekankan kita harus membiarkan Tuhan berumah didam hati kita, sehingga kita dapat menjadi bejana-Nya untuk diisi Dia. Fokus berita ini adalah manusia menjadi bejana Allah.