PENCIPTAAN MANUSIA
Pembacaan Alkitab :
Kej. 1:26-27; 2:7-9; Ams. 20:27; 1 Tes. 5:23
GARIS BESAR
1. Sang Pencipta - Allah Tritunggal
2. Menurut gambar Allah - Kol. 1: 15; 2 Kor. 4:4
3. Menurut rupa Allah - Rm. 5:14
4. Dengan debu tanah membentuk tubuh manusia, agar manusia bisa eksis
5. Dengan nafas hidup menciptakan roh manusia, agar manusia dapat menerima Allah - Ams. 20:27; Yoh. 4:24; Rm. 8:16
6. Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam manusia
7. Timbullah jiwa, agar manusia dapat hidup berdasarkan pikiran, emosi, dan tekad
8. Tujuan Allah menciptakan manusia
9. Menempatkan manusia di depan pohon hayat, menunjukkan bahwa Allah menginginkan manusia menerima Dia sebagai hayat
10. Manusia diciptakan sebagai bejana untuk menerima dan menampung Allah
Rangkaian berita singkat mengenai hayat dan pelayanan ini diberikan dengan tujuan untuk melatih kaum saleh. Anda perlu banyak berdoa untuk memasuki beritaberita ini, bahkan membiarkan berita-berita ini masuk ke dalam Anda. Bila hanya mengulangi apa yang ada di sini secara hitam di atas putih, hal itu akan menjadi pembicaman doktrin yang mati menurut huruf-huruf yang mati. Anggaplah berita-berita ini sebagai bahan-bahan makanan yang perlu Anda masak dengan cara yang hidup melalui doa yang cukup banyak, Anda harus dengan cara yang hidup mendoakan diri Anda sendiri masuk ke dalam berita, mendoakan diri Anda ke dalam bebannya, dan berdoa sehingga berita itu menjadi berita pribadi Anda. Berita-berita ini hanya merupakan bahan-bahan saja, Anda harus mengolahnya. Anda harus berjerih-lelah atas semua butir ini, dan Anda harus berdoa agar Anda memasuki berita itu dan membuatnya menjadi berita Anda sendiri. Kemudian yang Anda bicarakan bukan lagi berita saya, tetapi berita Anda sendiri; bahkan ketika Anda membicarakannya, Anda bisa dari seluruh diri Anda dengan sekuatnya menggunakan roh Anda. Demikianlah apa yang Anda bicarakan akan menjadi hidup, menjadi bagian pribadi, dan memiliki daya dobrak yang hidup. Saya harap kita bukan melaksanakan pelatihan ini dengan ringan, tetapi dengan penuh doa, penuh Roh, dan penuh hayat.
Dalam pelajaran pertama mengenai hayat ini, kita akan membicarakan penciptaan manusia. Kita perlu membaca semua ayat yang tercantum dalam pembacaan Alkitab di atas dan mendapat kesan atas butir-butir utama dari ayat-ayat tersebut.
I. SANG PENCIPTA - ALLAH TRITUNGGAL
Pencipta manusia adalah Allah Tritunggal - Bapa, Putra, dan Roh. Terciptanya manusia berkaitan erat dengan Allah Tritunggal. Bukan hanya Allah yang menciptakan manusia, melainkan Allah Tritunggal. Dasarnya adalah Kejathan 1:26, yang mengatakan, “Berfirmanlah Allah : Baiklah Kita menjadikan (menciptakan) manusia menurut gambar dan rupa Kita." Di sini menggunakan kata ganti jamak "Kita", menunjukkan Allah yang hendak menciptakan manusia adalah Allah Tritunggal - Bapa, Putra, dan Roh. Menurut Kejadian 1:26, sepertinya sebelum Allah menciptakan manusia, Allah Tritunggal mengadakan semacam "rapat ke-Allahan", rapat di antara Trinitas, untuk memutuskan bagaimana menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Keputusan menciptakan manusia ditetapkan oleh Allah Tritunggal, ini menyatakan bahwa penciptaan manusia adalah untuk tujuan Allah Tritunggal. Trinitas keAllahan bukan untuk doktrin teologi, melainkan untuk penyaluran diri Allah ke dalam manusia sesuai dengan ekonomi ilahi-Nya. Itulah sebabnya begitu Allah hendak menciptakan manusia, Allah memutuskan melakukannya dalam keTrinitasan-Nya. Karena itu Dia berkata, "Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar Kita." Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk merampungkan ekonomiNya, yaitu menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia.
2. MENURUT GAMBAR ALIAH
Kolose 1: 15 mengatakan, bahwa Dia, Anak Allah yang kekasih adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan, dan 2 Korintus 4:4 menyebutkan, bahwa Kristus adalah gambaran Allah. Allah memutuskan dalam ke-AllahanNya untuk menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan berdasarkan Alkitab, gambar Allah tak lain adalah Kristus. Gambar di sini bukan berarti bentuk fisik, melainkan ekspresi hakiki Allah dalam semua atribut dan kebajikan-Nya. Semua atribut dan kebajikan Allah tak terlihat. Semua itu adalah unsur pokok diri Allah. Allah penuh dengan atribut dan kebajikan yang tak terlihat. Kristus adalah ekspresi segala atribut dan kebajikan Allah, dan ekspresi ini adalah gambaran. Jadi, gambar Allah adalah ekspresi Allah dalam segala hakiki-Nya.
Kita harus menunjukkan kepada orang bahwa, "gambar Allah" bukan berarti satu tokoh atau bentuk gambar untuk disembah orang, melainkan berarti ekspresi dari hakiki Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, artinya, manusia ciptaan Allah itu memiliki atribut dan kebajikan yang ada pada Allah. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia menurut gambarNya, menurut atribut dan kebajikan-Nya, agar manusia dapat mengekspresikan Allah melalui atribut dan kebajikan itu. Misalnya, Allah memiliki kasih, dan Allah juga mengasihi. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia membuat manusia memiliki kasih dan dapat mengasihi. Allah memiliki hikmat dan memiliki tujuan, karena itu, Allah menciptakan manusia agar manusia berhikmat dan bertujuan. Allah bisa berpikir, menimbang, mengasihi, merasa suka dan tidak suka, memilih, memiliki tujuan dan mengambil keputusan. Allah menciptakan manusia juga dalam keadaan yang sama agar manusia dapat mengekspresikan Dia. Namun, apa yang dimiliki manusia hanya merupakan gambaran atribut dan kebajikan Allah saja, belum memiliki realitas-Nya. Manusia harus menerima diri Allah menjadi hayat dan isinya, kemudian Allah dengan segala atribut dan kebajikan-Nya memenuhi manusia untuk menjadi realitas atribut dan kebajikan manusia.
Manusia dijadikan menurut gambar Allah, yaitu Kristus. Ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan agar Kristus dapat masuk ke dalam manusia, sehingga Dia memenuhi manusia dan memakai manusia menjadi wadah-Nya untuk mengekspresikan Dia. Manusia adalah sebuah wadah. Wadah selalu dibuat sesuai dengan isi yang akan dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Misalnya barang yang akan dimasukkan berbentuk persegi, Anda pasti membuat wadah berbentuk persegi. Bila barang yang akan dimasukkan bentuknya bulat, Anda membuat wadah berbentuk bulat. Wadah dibuat sesuai dengan barang yang akan diisikan ke dalamnya. Manusia diciptakan Allah menurut gambar Allah, yaitu Kristus, dengan tujuan suatu hari kelak manusia didapatkan oleh Kristus serta dipenuhi oleh Kristus, sehingga manusia menjadi wadah Kristus dan Kristus menjadi isi manusia.
3. MENURUT RUPA ALLAH
Gambar Allah adalah hakiki batiniah-Nya, rupa Allah adalah bentuk lahiriah-Nya. Di dalam, Allah memiliki hakiki-Nya, memiliki semua atribut dan kebajikan-Nya; dan di luar, Allah memiliki rupa. Di satu aspek Allah tidak kelihatan. Namun kalau Allah tidak kelihatan bagaimana bisa memiliki rupa? Hal ini sungguh sulit bagi kita sebagai manusia untuk memahami dan menjelaskannya. Dalam Kejadian 18, Allah menyatakan diri kepada Abraham dalam rupa manusia. Kita tidak bisa berkata, bahwa dalam Kejadian 18 Allah tidak terlihat dan tidak memiliki rupa. Allah menampakkan diri kepada Abraham secara terlihat dalam rupa manusia. Kejadian 18 menunjukkan, Allah memiliki rupa manusia. Rupa manusia menuruti rupa Allah. Kita manusia memiliki tubuh fisik dan ini adalah rupa kita. Kita juga memiliki hakiki yang di dalam. Demikian juga, Allah memiliki hakiki-Nya yang di dalam dan juga rupa-Nya yang di luar. Tubuh luar manusia diciptakan menurut rupa Allah. Sebelum Allah berinkarnasi menjadi manusia - Yesus, Dia sudah menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa manusia. Rupa manusia adalah bentuk rupa Allah, karena manusia diciptakan menurut rupa Allah.
4. DENGAN DEBU TANAH MEMBENTUK TUBUH
AGAR MANUSIA BISA EKSIS
Kejadian 2:7 menyebutkan Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah. Tubuh fisik manusia adalah bagi eksistensi manusia. Tanpa tubuh fisik yang dibentuk dari debu tanah, manusia tak dapat eksis. Saat tubuh manusia mati, manusia itu mati juga; jacii eksistensi manusia tergantung pada tubuh fisiknya.
5. DENGAN NAFAS HIDUP MEMBENTUK ROH
AGAR MANUSIA DAPAT MENERIMA ALLAH
Allah dengan nafas hidup menciptakan roh untuk manusia agar manusia dapat menerima Allah. Ini juga tercatat dalam Kejadian 17. Setelah Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah, lalu Dia mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya. Kata "nafas" dalam Kejadian 2:7 dalam bahasa Ibraninya sama dengan yang diterjemahkan sebagai "roh" dalam Amsal 20:27. Amsal 20:27 berbunyi demikian, “Roh manusia adalah pelita Tuhan." Ini merupakan bukti kuat, bahwa nafas hidup yang diembuskan Allah ke dalam tubuh manusia, akhirnya menjadi roh manusia.
Tubuh kita yang berasal dari debu tanah adalah organ fisik, dan roh kita yang berasal dari nafas hidup Allah adalah organ rohani. Kita memiliki tubuh dari debu tanah sebagai organ fisik untuk berhubungan dengan dunia fisik di luar; kita juga memiliki roh yang berasal dari nafas hidup Allah sebagai organ yang di dalam dan rohani, sehingga kita dapat berhubungan dengan Allah dalam dunia rohani. Jadi jelas, manusia ciptaan Allah memiliki dua organ: tubuh yang dibentuk dari debu tanah dan roh yang berasal dari nafas hidup.
Di sini perlu kita tunjukkan, bahwa nafas hidup yang diembuskan Allah saat manusia diciptakan, tidak seharusnya dianggap sebagai hayat kekal Allah. Saat Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam manusia, Dia tidak memberi hayat kekal-Nya ke dalam manusia. Nafas hidup bukan hayat kekal, karena tujuan Allah adalah agar manusia bisa menggunakan kebebasannya sendiri untuk memilih hayat kekal Allah. Karena itu, Allah tentu tidak bisa menaruh hayat kekal-Nya ke dalam manusia hanya berdasarkan keinginan-Nya sendiri, keputusan-Nya sendiri, tanpa membiarkan manusia menggunakan tekadnya, yakni tekad yang bebas, untuk memilih hayat ilahi. Sesuai dengan prinsip ilahi-Nya, Allah membiarkan manusia menggunakan kebebasannya untuk memilih Allah menjadi hayatnya. Hayat ini adalah hayat kekal yang tidak dimiliki manusia pada saat ia diciptakan.
Bukti lain bahwa manusia belum memiliki hayat kekal Allah pada saat ia diciptakan, ialah setelah manusia makan buah pengetahuan baik dan jahat, Allah menutup jalan yang menuju pohon hayat agar jangan sampai manusia berbagian dengan pohon hayat sehingga hidup selama-lamanya dengan sifat jahatnya (Kej. 3:22-24). Ini membuktikan, pada saat manusia diciptakan, manusia tidak memiliki hayat Allah. Apa yang dimiliki manusia adalah nafas hidup yang masuk ke dalamnya dan menjadi rohnya, yang menjadi organ untuk menerima Allah ke dalamnya dan menjadi hayat kekalnya. Kita harus jelas terhadap hal ini.
Menurut Alkitab, manusia tak pernah dapat menerima hayat kekal Allah, kecuali sampai pada waktu Tuhan Yesus datang dan mati di atas salib, merampungkan penebusan bagi kita. Mulai saat itulah baru terbuka jalan bagi manusia untuk menghampiri Allah sebagai pohon hayat. Setelah kematian dan kebangkitan Kristus, manusia dapat percaya ke dalam Tuhan Yesus dan menerima Dia menjadi hayat kekal. Sebelum kematian dan kebangkitan Kristus, manusia tidak mungkin dapat memiliki hayat Allah.
6. ALLAH MENGEMBUSKAN NAFAS HIDUP
KE DALAM MANUSIA
Allah menciptakan manusia dengan nafas hidup agar manusia memiliki roh yang berfungsi sebagai wadah penerima untuk diisi Allah.
7. TIMBULLAH JIWA,
AGAR MANUSIA DAPAT HIDUP
DENGAN BERDASARKAN PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD
Timbulnya jiwa manusia juga tercantum dalam Kejadian 2:7. Di situ disebutkan, pada saat nafas hidup diembuskan ke dalam lubang hidung manusia, manusia menjadi jiwa yang hidup (Tl.). Allah menggunakan dua bahan untuk menciptakan manusia. Dengan debu tanah membentuk tubuh manusia dan dengan nafas hidup untuk menghasilkan roh manusia. Ketika kedua bahan ini bertemu, segera manusia menjadi jiwa yang hidup. Ini berarti, jiwa adalah hasil yang ditimbulkan oleh masuknya nafas hidup ke dalam tubuh fisik manusia.
Jadi jelas, manusia terdiri dari tiga bagian: tubuh yang di luar, roh yang di dalam, dan jiwa sebagai hakiki manusia. Itulah sebabnya 1 Tesalonika 5:23 menyebutkan, bahwa manusia tersusun dari roh, jiwa, dan tubuh. Jiwa sebagai hakiki manusia, tubuh sebagai organ luar yang kelihatan, dan roh sebagai organ di dalam. Jiwa sebagai hakiki manusia terdiri dari pikiran, emosi, dan tekad. Ini sesuai dengan wahyu Alkitab. Alkitab menunjukkan bahwa dalam jiwa kita terdapat pikiran untuk berpikir, mempertimbangkan (Mzm. 13:3 TI.); terdapat emosi untuk mengasihi atau membenci (1 Sam. 18:1; 2 Sam. 5:8 TI.), sukacita atau kurang senang (Yes. 61:10; Mzm. 86:4); dan kita pun memiliki tekad untuk mengambil keputusan, menentukan pilihan (Ayb. 7:15 TI.; 6:7 Tl.; 1 Taw. 22:19). Semua itu adalah fungsi jiwa.
8. TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia bisa dengan pikirannya memahami kehendak Allah, dengan emosinya menyukai kehendak Allah, dengan tekadnya memilih, mengambil, menerima Allah, dan akhimya menggunakan rohnya untuk menerima Allah sebagai hayatnya. Allah menciptakan pikiran bagi manusia; melalui pikiran itu manusia bisa memahami kehendak Allah. Allah menciptakan emosi bagi manusia; melalui emosi itu manusia bisa menyukai kehendak Allah. Allah menciptakan tekad yang bebas bagi manusia, dan manusia bisa menggunakan tekad yang bebas ini untuk memilih, membuat keputusan, mengambil dan menerima Allah ke dalamnya sebagai hayat. Akhirnya, manusia bisa menggunakan rohnya untuk menerima Allah sebagai hayatnya. Inilah tujuan Allah menciptakan manusia.
Allah menciptakan manusia agar manusia bisa mengambil, menerima Allah ke dalam dirinya menjadi hayatnya. Manusia diciptakan oleh Allah dengan pikiran, emosi, dan tekad, juga dengan roh dalam pusat hakiki manusia sebagai wadah baginya untuk menerima Allah. Jadi, dengan pikiran manusia bisa memahami apa yang dikehendaki Allah; dengan emosi manusia bisa menyenangi, mengasihi, menyukai apa yang disukai Allah; dan dengan kebebasan tekadnya manusia bisa menentukan untuk memilih, menerima Allah. Selanjutnya manusia juga memiliki roh sebagai organ bahkan sebagai wadah untuk menerima Allah ke dalamnya sebagai hayat. Inilah tujuan Allah menciptakan manusia.
9. MENEMPATKAN MANUSIA DI DEPAN POHON HAYAT,
MENYATAKAN BAHWA ALLAH
MENGINGINKAN MANUSIA MENERIMA DIA SEBAGAI HAYAT
Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat, menyatakan bahwa Allah ingin agar manusia menerima Dia sebagai hayat. Kita harus nampak, bahwa sejak semula Allah tidak bermaksud menyuruh manusia memelihara hukum Taurat, berbuat baik, atau menanggung suatu beban apa pun. Sejak awal, begitu Allah selesai menciptakan manusia, Allah menaruh manusia di depan pohon hayat. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin manusia menerima Dia sebagai hayatnya, yang dilambangkan dengan pohon hayat. Allah juga memperingatkan manusia agar hati-hati terhadap apa yang ia makan. Sudah tentu, apa yang dilakukan manusia terserah pada kebebasan tekadnya. Terserah padanya untuk memilih apa yang akan dimakannya. Tetapi maksud Allah adalah agar manusia memilih pohon hayat, yang berarti manusia memilih Allah sebagai hayatnya.
10. MANUSIA DICIPTAKAN SEBAGAI BEJANA
UNTUK MENERIMA DAN MENAMPUNG ALLAH
Manusia diciptakan sebagai bejana untuk menerima dan menampung Allah. Ini jelas terungkap dalam Roma 9:21, 23 dan 2 Korintus 4:7. Disebutkan dalam Roma 9, bahwa Allah adalah Penjunan dan kita adalah tanah liat. Penjunan membuat tanah liat menjadi bejana, dan Allah membuat kita menjadi bejana belas kasihan, bejana yang berharga, bahkan bejana untuk kemuliaan. Kita dijadikan bejana untuk diisi Allah bukan karena kita baik dan diperkenan Allah, ini semata-mata karena belas kasihan Allah. Allah membelaskasihani kita, dan Dia mau kita menjadi bejana-Nya, karena itu kita adalah bejana belas kasihanNya. Kita adalah bejana yang berharga, karena kita diisi dengan Allah yang mustika. Akhirnya, kita semua dipenuhi kemuliaan Allah dan dimuliakan dalam kemuliaan Allah, menjadi bejana yang mulia. Jadi Allah menjadikan kita sebagai bejana-bejana belas kasihan, bejana yang berharga, bejana yang dimuliakan untuk diisi Allah.
Kita harus nampak, bahwa ciptaan Allah atas diri kita adalah menjadikan kita sebagai bejana untuk diisi olehNya. Dalam berita ini kita harus menekankan satu butir - manusia diciptakan sebagai bejana, yang memiliki roh sebagai wadah untuk menerima Allah. Inilah berita pertama tentang hayat dalam pelatihan ini. Kita harus membuat hal ini sangat jelas dan terkesan secara mendalam kepada para peserta pelatihan, bahwa penciptaan manusia adalah menjadikan manusia sebagai bejana, sebagai wadah untuk menerima, yakni roh kita, untuk diisi Allah menjadi hayat kita.