← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Hayat · bab 15/20

PERASAAN ROH DAN MENGENAL ROH (2)

Pembacaan Alkitab : Rm. 8:2, 6

GARIS BESAR

2. Perasaan :

a. Perasaan hayat :

(1) Makin tinggi hayatnya, makin kaya perasaannya

(2) Hayat ilahi adalah hayat yang paling tinggi, memiliki perasaan yang paling kaya

(3) Hayat ini di dalam kita membuat kita penuh dengan perasaan rohani, bisa merasakan roh dan hal-hal dari roh

b. Perasaan hukum hayat :

(1) Memiliki hukum kesadaran hayat, milik alam perasaan

(2) Hukum Roh hayat penuh dengan perasaan

c. Perasaan damai :

(1) Damai di dalam kita seluruhnya adalah perkara perasaan

(2) Perasaan akan damai membuat kita dapat tahu bahwa kita berada dalam roh

d. Perasaan maut :

(1) Maut menyebabkan kita kehilangan perasaan

(2) Maut juga menyebabkan kita memiliki perasaan maut

3. Mengenal roh meialui perasaan roh :

a. Melalui perasaan hayat :

(1) Hayat ilahi terkandung di dalam Roh Kudus

(2) Roh Kudus sendiri berbaur dengan roh kita

(3) Hayat ilahi menjadi hayat dari Roh Kudus dan roh kita

(4) Hayat ilahi ini, yang ada di dalam Roh Kudus memberi kita perasaan hayat melalui roh kita

(5) Melalui perasaan hayat seperti inilah kita menge nal roh

b. Melalui perasaan hukum hayat :

(1) Hukum hayat adalah fungsi alami hayat ilahi

(2) Fungsi hukum hayat

(3) Hukum hayat memberi kita perasaan alami pada sisi positif dan perasaan tak alami pada sisi negatif

(4) Perasaan alami hukum hayat berlawanan dengan perasaan tak alami hukum hayat

c. Melalui perasaan damai :

(1) Hayat Roh Kudus dalam roh kita adalah Allah sendiri

(2) Roh kita dengan hayat ilahi yang terkandung dalam Roh Kudus adalah manusia baru

(3) Allah sebagai hayat kita berlawanan dengan ego kita

(4) Manusia baru berlawanan dengan manusia lama kita

(5) Perasaan damai adalah hasil dari berjalan dan hidup berdasarkan hayat ilahi Hayat memiliki kesadarannya sendiri, perasaannya sen

(6) Melalui perasaan damai seperti inilah kita tahu bahwa kita hidup di dalam roh karena itu hampir tidak memiliki perasaan. Di antara hayat

d. Melalui perasaan maut :

(1) Maut adalah hasil dari daging kita, termasuk manusia lama kita manusia lama kita yatnya. Hayat insani kita lebih tinggi daripada hayat he

(2) Maut adalah lawan dari hayat dan damai

(3) Perasaan negatif maut

(4) Melalui perasaan negatif seperti inilah kita tahu bahwa kita tidak berada di dalam roh

Dalam pelajaran ini kita akan melanjutkan persekutuan mengenai perasaan roh dan mengenal roh. Dalam pelajaran yang lalu kita telah melihat empat hal yang berhubungan dengan perasaan roh : hayat, hukum, damai, dan maut. Sekarang kita akan membicarakan perasaan dari ke empat hal tersebut dan bagaimana mengenal roh melalui perasaan roh.

2. PERASAAN

a. Perasaan Hayat

(1) Makin Tinggi Hayatnya, Makin Kaya Perasaannya

Hayat memiliki kesadarannya sendiri, perasaannya sendiri. Makin tinggi hayatnya, makin kaya perasaannya. Hayat tumbuh-tumbuhan adalah hayat yang paling rendah, karena itu hampir tidak memiliki perasaan. Di antara hayat hewan ada berbagai tingkatan perasaan. Perbedaan standar perasaan hayat adalah berdasarkan perbedaan standar hayatnya. Hayat insani kita lebih tinggi daripada hayat hewan, karena itu hayat insani memiliki perasaan yang lebih kaya. Tentu, hayat ilahi memiliki perasaan yang paling tinggi.

(2) Hayat ilahi Adalah Hayat yang Paling Tinggi,

Memiliki Perasaan yang Paling Kaya

Di antara bermacam-macam hayat, hayat ilahi adalah yang paling tinggi, maka memiliki perasaan yang paling kaya.

(3) Hayat Ini di dalam Kita

Membuat Kita Penuh dengan Perasaan Rohani,

Disa Merasakan Roh dan Hal-hal dari Roh

Hayat ilahi di dalam kita membuat kita penuh dengan perasaan rohani. Makin banyak kita dipenuhi hayat ilahi ini, makin banyak kita dipenuhi oleh perasaan rohani. Ini membuat kita bisa merasakan roh dan hal-hal dari roh. Inilah perasaan hayat.

b. Perasaan Hukum Hayat

(1) Memiliki Hukum Kesadaran Hayat, Milik Alam Perasaan

Hukum hayat bukanlah suatu hukum yang tidak memiliki perasaan, tetapi adalah hukum yang memiliki kesadaran. Karena itu, hukum ini adalah milik alam perasaan.

(2) Hukum Roh Hayat Penuh dengan Perasaan

Hukum Roh hayat berada dalam lingkungan perasaan dan penuh dengan perasaan.

c. Perasaan Damai

(1) Damai di dalam Kita Seluruhnya Adalah Perkara Perasaan

Damai di dalam kita bukanlah damai dalam lingkungan, melainkan damai di dalam diri kita. Ini seluruhnya adalah perkara perasaan. Kita tahu bahwa ada damai di dalam diri kita melalui perasaan batiniah kita.

(2) Perasaan Damai Membuat Kita Dapat Tahu

bahwa Kita Berada di dalam Roh

Perasaan damai ini membuat kita tahu bahwa kita berada di dalam roh. Bila kita tidak memiliki damai, ini menandakan bahwa kita tidak berada di dalam roh. Bila kita memiliki damai, merasakan damai di dalam kita, ini memberi tahu kita bahwa kita berada di dalam roh.

d. Perasaan Maut

(1) Maut Menyebabkan Kita Kehilangan Perasaan

Pertama-tama maut menyebabkan kita kehilangan perasaan, karena orang yang mati tidak memiliki perasaan apa pun.

(2) Maut juga Menyebabkan Kita Memiliki Perasaan Maut

Di satu pihak, maut menyebabkan kita kehilangan perasaan, menjadi mati rasa. Di pihak lain maut juga menyebabkan kita memiliki perasaan maut. Perasaan maut adalah perasaan tidak tenang, tidak nyaman, sumpek, tertekan, gelap, dan kosong. Bila kita merasakan hal-hal itu di dalam kita, ini menandakan bahwa maut ada di dalam kita.

3. MENGENAL ROH MELALUI PERASAAN ROH

Setelah kita memahami perasaan hayat, hukum hayat, damai, dan maut, kita dapat mengenal roh melalui perasaan roh.

a. Melalui Perasaan Hayat

(1) Hayat ilahi Terkandung di dalam Roh Kudus

Hayat ilahi terkandung di dalam Roh Kudus. Menurut Roma 8:2 Roh Kudus adalah Roh hayat.

(2) Roh Kudus Sendiri Berbaur dengan Roh Kita

Ketika kita dilahirkan kembali Roh Kudus sendiri berbaur dengan roh kita (Rm. 8:16; 1 Kor. 6:17).

(3) Hayat ilahi Menjadi Hayat Roh Kudus dan Roh Kita

Hayat ilahi disebut dalam Roma 8:2, yang mengacu kepada hukum Roh hayat. Akhirnya, hayat ilahi menjadi hayat bukan saja dari Roh. Kudus tetapi juga dari roh kita. Sebab Roh Kudus yang di dalamnya terkandung hayat ilahi kini telah berbaur dengan roh kita. Kedua roh ini telah menjadi satu, maka hayat ilahi adalah hayat kedua roh ini, Roh Kudus dan roh kita.

(4) Hayat ilahi Ini, yang Ada di dalam Roh Kudus,

Memberi Kita Perasaan Hayat Melalui Roh Kita

Kita dapat mengenal roh melalui perasaan batiniah roh. Hayat ilahi ini, yang ada di dalam Roh Kudus, memberi kita perasaan segar, lincah, kuat, cerah, kudus, riil,puas, dan lain-lain, melalui roh kita.

(5) Melalui Perasaan Hayat Seperti Inilah Kita Mengenal Roh

Melalui perasaan hayat kita dapat mengenal roh. Bila kita merasakan semua hal di atas secara mendalam, inilah perasaan hayat, dan perasaan ini membuktikan bahwa kita berjalan menurut roh (Rm. 8:4).

b. Melalui Perasaan Hukum Hayat

(1) Hukum Hayat Menjadi Fungsi Alami Hayat Ilahi

Kita juga dapat mengenal roh melalui perasaan hukum hayat. Hukum hayat adalah fungsi alami hayat ilahi menurut sifat ilahinya. Ini berarti hukum hayat berfungsi menurut sifat ilahi dari hayat ilahi.

(2) Fungsi Hukum Hayat

Hukum hayat berfungsi untuk menyetujui dan menerima hal-hal yang sesuai dengan sifat ilahi, dan menentang serta menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan sifat Allah.

(3) Hukum Hayat Memberi Kita Perasaan Alami

Pada Sisi Positif dan Perasaan Tak Alami Pada Sisi Negatif

Hukum hayat selalu memberi kita perasaan. Kadangkadang perasaan ini alami pada sisi positif. Ini berarti kita berada dalam roh. Kadang-kadang perasaan ini tidak alami, pada sisi negatif. Ini berarti kita tidak berada dalam roh.

(4) Perasaan Alami Hukum Hayat Berlawanan

dengan Perasaan Tak Alami Hukum Hayat

Melalui perasaan alami hukum hayat kita tahu bahwa kita tinggal di dalam roh kita melalui perasaan tidak alami hukum hayat, kita tahu bahwa kita berada di luar roh. Kedua perasaam ini saling berlawanan.

c. Melalui Perasaan Damai

(1) Hayat Roh Kudus dalam Roh Kita Adalah Allah Sendiri

Hayat Roh Kudus adalah hayat Allah, dan hayat ini dalam roh kita adalah Allah sendiri. Frase "hayat Allah" (Ef. 4:18, Tl.) berarti hayat adalah Allah.

(2) Roh Kita dengan Hayat ilahi yang Terkandung

dalam Roh Kudus Adalah Manusia Baru

Hayat di dalam roh kita adalah Allah sendiri, dan roh kita dengan hayat ilahi yang terkandung dalam Roh Kudus adalah manusia baru.

(3) Allah Sebagai Hayat Kita Berlawanan dengan Ego Kita

Allah sebagai hayat kita berlawanan dengan ego kita.

(4) Manusia Baru Berlawanan dengan Manusia Lama Kita

Tidak hanya demikian, manusia baru berlawanan dengan manusia lama kita.

(5) Perasaan Damai adalah Hasil dari Berjalan

dan Hidup Berdasarkan Hayat ilahi

Bila kita berjalan dan hidup berdasarkan hayat ilahi dalam manusia baru kita, kita memiliki perasaan damai, merasa alami, tenang, nyaman, dan lega.

(6) Melalui Perasaan Damai Seperti Inilah Kita Tahu

bahwa Kita Hidup di dalam Roh

Bila kita memiliki perasaan damai batiniah dengan perasaan nyaman, tentram, lega, sukacita, dan bebas, kita tahu bahwa kita hidup di dalam roh.

d. Melalui Perasaan Maut

(1) Maut Adalah Hasif dari Daging Kita,

Termasuk Manusia Lama Kita

Roma 8:6 mengatakan, "Pikiran yang ditaruh di atas daging adalah maut" (Tl.). Daging mencakup manusia lama kita. Maut adalah hasil daging kita (mencakup manusia lama kita).

(2) Maut Adalah Lawan dari Hayat dan Damai

Roma 8:6 memperlihatkan bahwa maut adalah lawan dari hayat dan damai. Pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera.

(3) Perasaan Negatif Maut

Maut memberi kita perasaan usang, kering, lemah, kosong, sumpek, sunyi, gelap, bodoh, gelisah, tidak aman, tidak nyaman, tidak alami, sedih, masalah, dan lain-lain.

(4) Melalui Perasaan Negatif Seperti Inilah Kita Tahu

bahwa Kita Tidak Berada di dalam Roh

Bila kita memiliki perasaan negatif seperti itu, kita merasakan maut. Dengan perasaan negatif seperti inilah kita mengenal bahwa kita tidak berada di dalam roh.