← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Hayat · bab 14/20

PERASAAN ROH DAN MENGENAL ROH (1)

Pembacaan Alkitab : Rm. 8:2, 6

GARIS BESAR

1. Empat hal :

a. Hayat - ay. 2a

(1) Roh hayat

(2) Roh itu berisi hayat dan milik hayat

(3) Roh itu adalah sumber hayat dan hayat adalah hasil dari Roh itu - ay. 6b

b. Hukum - ay. 2a:

(1) Roh itu bukan hanya milik hayat, juga mempunyai hukum hayat

(2) Hayat adalah isi dan hasil Roh itu; hukum hayat adalah kemampuan dan pergerakan roh itu

(3) Melalui mengontak hayat, kita meniamah roh itu; melalui merasakan hukumnya, kita merasakan roh itu

c. Damai - ay. 6b

(1) Damai juga adalah hasil roh itu

(2) Menjamah roh, kita bukan hanya menjamah hayat, juga damai

d. Maut - ay. 6a

(1) Maut adalah hasil dari daging mengatiikon hahwia pikiran yang diletakkan di atas daging

(2) Perasaan maut menyebabkan kita mengenal hal-hal daging, menyingkapkan roh itu dari sisi negatif

Dalam pelajaran ini kita akan melihat perasaan roh dan mengenal roh. Roh di sini mengacu kepada roh kita yang dihuni okh Roh Allah, jadi ini adalah roh pembauran. Kita sekali lagi akan membicarakan tentang Roma 8:2 dan 6. Ayat 2 mengatakan tentang hukum Roh hayat, dan ayat 6 mengatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera.

Dalam kedua ayat ini ada empat hal pokok yang perlu diperhatikan. Dalam ayat 2 kita perlu memperhatikan kata "hayat" dan "hukum"; dalam ayat 6 kita perlu memperhatikan kata "damai" dan "maut". Untuk mengenal perasaan roh, kita harus mengenal keempat hal ini : hukum, hayat, damai, dan maut. Sebenarnya, perasaan roh dinyatakan melalui keempat hal ini.

1. EMPAT HAL :

a. Hayat

(1) Roh Hayat

Kita melihat dalam pelajaran sebelumnya bahwa "Roh hayat" sebenarnya berarti bahwa Roh itu adalah hayat. Apakah hayat itu? Hayat adalah Roh itu, maka Roh itu disebut Roh hayat. Hayat ini bukanlah hayat fisik kita atau hayat jiwa kita, tetapi hayat ilahi, hayat Allah, hayat yang kekal, yang tidak diciptakan, yang telah disalurkan ke dalam roh kita untuk meniadi hayat kita.

Di dalam diri setiap orang Kristen sejati terdapat tiga hayat : hayat jasmani, hayat jiwani, dan hayat rohani (hayat ilahi). Tiga istilah Yunani yang berbeda digunakan untuk ketiga hayat ini : bios - hayat jasmani, psuche -hayat jiwani, dan zoe - hayat rohani. Yang kita bicarakan dalam pelajaran ini adalah zoe, yang adalah hayat ilahi, hayat kekal, hayat Allah, menjadi hayat rohani kita. Hayat ini adalah Roh Allah sendiri.

(2) Roh itu Berisi Hayat dan Milik Hayat

Kita harus menekankan bahwa hayat yang dibicarakan di sini adalah isi Roh itu, dan Roh itu adalah milik hayat ini. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hayat kekal itu sebagai semacam situasi atau lingkungan yang kekal dan diberkati. Bagi mereka, itu adalah suatu tempat yang akan mereka tuju untuk menikmati hal-hal yang baik sampai kekal. Anggapan demikian mutlak salah. Kita harus menekankan, bahwa hayat ilahi adalah satu Persona, adalah Roh itu sendiri.

Banyak orang menyinggung tentang hayat, namun mereka tidak tahu bahwa ada tiga kata Yunani yang berbeda untuk hayat. Mereka berpikir bahwa hayat itu mengacu kepada hayat kita. Di tengah-tengah orang Kristen, perkara hayat sangatlah kabur. Injil Yohanes mengatakan, begitu kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita mendapatkan hayat yang kekal (3:16, 36a - Tl.). Hayat ini adalah satu Persona, dan Persona ini hari ini adalah Roh itu. Hayat adalah isi Persona ini, dan Persona ini adalah milik hayat ini.

(3) Roh Itu Adalah Sumber Hayat dan

Hayat Adalah Hasil dari Roh Itu

Di sini kita perlu menggunakan Roma 8:6b yang inengatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat (Tl.) dan damai sejahtera. Ini menunjukkan bahwe Roh itu adalah sumber hayat, dan hayat adalah hasil dari Roh itu. Dengan kata lain, hayat ini bersatu dengan Roh itu. Hayat ini tidak dapat dipisahkan dari Roh itu. Roh itu adalah wadah dan hayat ini adalah isinya; Roh itu adalah sumbernya dan hayat ini adalah hasilnya.

b. Hukum

(1) Roh Itu Selain Milik Hayat Juga Mempunyai Hukum Hayat

Roma 8:a berbicara tentang "hukum Roh hayat". Ini memperlihatkan bahwa Roh itu selain milik hayat, juga mempunyai hukum hayat, yakni hukum dari hayat.

(2) Hayat Adalah Isi dan Hasil Roh Itu;

Hukum Hayat Adalah Kemampuan dan Pergerakan Roh itu

Hayat adalah isi dan hasil Roh itu, sedangkan hukum hayat adalah kemampuan dan pergerakan Roh itu. Bila Roh itu berfungsi, kemampuan ini adalah hukumnya. Bila Roh itu bergerak, pergerakan ini adalah hukumnya.

(3) Melalui Mengontak Hayat Kita Menjamah Roh Itu;

Melalui Merasakan Hukumnya, Kita Merasakan Roh Itu

Kita dapat menyadari Roh itu melalui mengontak hayat dun melalui merasakan hukumnya. Dengan ini kita dapat melihat bahwa frase "bukum Roh hayat" adalah sesuatu yang rumit. Hukum, Roh itu, dan hayat, tergabung sebagai satu unit. Hayat adalah isi dan hasil Roh itu dan hukum adalah kemampuan dan pergerakan Roh itu. Jadi ketika mengontak hayat, kita menjamah Roh itu, dan ketika merasakan hukumnya, kita merasakan Roh itu. Ini dikarenakan hayat dan hukum adalah satu dengan Roh itu.

c. Damai

(1) Damai fuga Adalah Hasil Roh Itu

Roma 8:6b mengatakan, bahwa meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat (Tl.) dan damai sejahtera. Selain hayat, damai juga adalah hasil dari roh.

(2) Menjamah Roh,

Kita Bukan Hanya Menjamah Hayat juga Damai

Kita tidak boleh lupa bahwa ini adalah satu, kelanjutan dari persekutuan kita dalam pelajaran sebelas mengenai perasaan hayat. Kita harus menunjukkan bahwa rasa damai adalah perasaan batiniah dari ketenangan, kenyamanan, keharmonisan, kelegaan, sukacita, dan kebebasan. Ketika menjamah roh, kita menjamah hayat; pada saat yang sama juga menjamah damai.

d. Maut

(1) Maut Adalah Hasif dari Daging

Roma 8:6a mengatakan, bahwa pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut. Hayat adalah hasil dari roh; maut adalah hasil dari daging. Maut timbul dari daging.

(2) Perasaan Maut Menyebabkan Kita Mengenal Hal-hal Daging,

Menyingkapkan Roh Itu dari Sisi Negatif

Perasaan maut menyebabkan kita mengenal hal-hal daging. Kita mengenal maut karena kita memiliki perasaan dan kesadaran akan maut. Perasaan batiniah yang berupa ketidak-puasan, kekosongan, keusangan, kekeringan, kegelapan, dan sumpek adalah aspek-aspek perasaan maut yang berlawanan dengan perasaan hayat. Juga perasaan batiniah yang berupa perselisihan, perpecahan, ketidak-nyamanan, kegelisahan, nyeri, keterikatan, dan dukacita adalah aspek-aspek perasaan maut yang berlawanan dengan perasaan damai.

Dengan keempat hal ini - hayat, hukum, damai, dan maut - kita dapat memahami perasaan roh. Kemudian dengan perasaan roh, kita dapat mengenal roh. Roh dapat disamakan seperti listrik. Tidak ada yang dapat melihatnya. Ia hanya dapat dipahami dari hasilnya. Kita tahu bahwa listrik ada dalam suatu ruangan karena adanya cahaya dalam ruangan tersebut. Roh juga sama. Tidak ada yang dapat melihat roh, tetapi roh menghasilkan banyak hal, seperti hayat, hukum, damai, dan maut. Maut adalah hasil yang negatif, hasil pada sisi negatif untuk menunjukkan kepada kita sesuatu pada sisi positif. Melalui perasaan hayat, lirrusitan hukum, perasaan damai, dan perasaan maut, kita dapat merasakan roh. Kita dapat mengenal roh melalui perasaan roh.