← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Hayat · bab 13/20

HAYAT ILAHI DISALURKAN KE DALAM KETIGA BAGIAN MANUSIA

Pembacaan Alkitab : Rm. 8:2a, 6, 8-11

GARIS BESAR

1. Hayat ilahi - ay. 2a :

a. Roh hayat

b. Dalam Kristus Yesus

2. Disalurkan ke dalam roh kita - ay. 10 :

a. Kristus di dalam kita

b. Roh adalah hayat

3. Disalurkan ke dalam pikiran kita - ay. 6b :

a. Pikiran diletakkan di atas roh

b. Pikiran menjadi hayat

4. Disalurkan ke dalam tubuh kita - ay. 11 :

a. Melalui Roh Allah yang berhuni

b. Untuk memberikan hayat kepada tubuh fana kita

5. Penyaluran Allah Tritunggal ay. 9-10a :

a. Allah

b. Roh Allah

c. Roh Kristus

d. Kristus

Roma 8 mengungkapkan hayat ilahi disalurkan ke dalam ketiga bagian manusia. Ayat 2a membicarakan tentang hukum Roh hayat dalam Kristus Yesus. Ayat 6b mengatakan, bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat (Tl.). Ayat 10 mengatakan, jika Kristus ada dalam kita, tubuh memang mati, tetapi roh itu hayat (Tl.). Lalu ayat 11 mengatakan, bahwa Roh Dia yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan memberi hayat kepada tubuh kita yang fana melalui Roh-Nya yang tinggal di dalam kita. Jadi, ayat 2 mengatakan tentang hayat ilahi, ayat 10 mengatakan bahwa roh kita adalah hayat, ayat 6 mengatakan pikiran kita dapat menjadi hayat, dan ayat 11 mengatakan bahwa bahkan tubuh kita dapat diberi hayat. Ayat 8 membicarakan tentang Allah, ayat 9 membicarakan tentang Roh Allah dan Roh Kristus, dan ayat 10 membicarakan tentang Kristus. Kita perlu membacakan ayat-ayat ini kepada kaum saleh untuk memperlihatkan, bahwa Allah Tritunggal disalurkan ke dalam ketiga bagian manusia. Ketika membaca, sangatlah berfaedah jika menunjukkan butir-butir penting dalam tiap ayat.

1. HAYAT ILAHI

a. Roh Hayat

Roma 8:2 membicarakan tentang Roh hayat. "Roh hayat" adalah frase aposisi dan sebenarnya berarti bahwa Roh itu adalah hayat. Dalam Alkitab ada beberapa frase seperti ini. Ketika Alkitab mengatakan "Roh Allah", itu berarti bahwa Roh adalah Allah; ketika Alkitab mengatakan "hayat Allah", itu berarti hayat adalah Allah; ketika Alkitab mengatakan "Roh Kristus", itu berarti bahwa Roh adalah Kristus; dan ketika Alkitab mengatakan "kasih Allah", itu berarti bahwa kasih adalah Allah.

Tentu kita tahu, bila tidak ada Roh Allah, tidak ada hayat. Hayat adalah Roh itu. Dalam Wahyu 22:1 ada gambaran tentang sungai air hayat, dan sungai ini adalah Roh itu. Sungai ini mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Ini memperlihatkan bagaimana Allah dalam Kristus sebagai Roh itu mengalirkan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya untuk menjadi hayat dan suplai hayat mereka. Sungai ini adalah aliran hayat; hayat yang bergerak.

Ini seperti arus listrik. Sebenarnya arus itu sendiri adalah listrik, bukan sesuatu yang terpisah dari listrik; arus adalah listrik itu sendid yang bergerak. Ketika listrik mengalir dan bergerak, itulah arus listrik. Arus listrik boleh diumpamakan sebagai Roh hayat. Roh hayat berarti Roh adalah hayat. Roh adalah hayat yang bergerak, Allah Tritunggal yang bergerak.

b. Dalam Kristus Yesus

Hayat ini berasal dari Roh itu dan juga di dalam Kristus Yesus. Roma 8:2 berbicara tentang Roh hayat "dalam Kristus Yesus". Frase "dalam Kristus Yesus" sangat dalam dan misterius. Saya percaya, untuk memahami kalimat ini dengan sepenuhnya, kita memerlukan waktu hingga kekekalan. Hari ini kita hanya mengerti sedikit. Tetapi bila masuk ke dalam kekekalan, kita akan terbebas dari segala keterbatasan, dan kita akan menyadari apa artinya "dalam Kristus Yesus".

Dalam menyampaikan berita seperti ini, Anda harus menjelaskan siapa Kristus itu dan siapa Yesus itu. Kedua gelar ini memiliki makna yang dalam. Kita memiliki hayat yang ada dalam Kristus Yesus. Hayat ini ada dalam Dia yang bukan hanya Allah dan Roh tetapi juga adalah Kristus Yesus. Kristus Yesus, Persona yang menakjubkan ini, tersusun dari banyak unsur yang unggul. Dia adalah Seorang yang memiliki keilahian dan keinsanian, telah melalui banyak proses dan telah merampungkan banyak hal. Hayat yang kita nikmati hari ini adalah hayat dalam alam dan ruang lingkup yang sedemikian. Alam dan ruang lingkup ini adalah suatu Persona yang tak terbatas, Kristus Yesus.

Dalam Roma 8:2 Roh hayat ada dalam Kristus Yesus, bukan dalam Yesus Kristus. Hayat itu dalam Kristus dan menelusur kembali dari Kristus ke Yesus. Kita perlu memberi tahu kaum saleh bahwa "dalam Kristus Yesus" bukanlah suatu istilah kosong. Kalau itu adalah istilah kosong, maka Paulus tidak akan menggunakannya. Tentunya ini sangat bermakna. Kita harus memberi tahu kaum saleh, bahwa hayat ilahi hari ini bukan hanya dari Roh itu, tetapi juga dalam Persona yang mengagumkan dan tak terbatas sebagai alam dan ruang lingkupnya.

2. DISALURKAN KE DALAM ROH KITA

Hayat ilahi sedemikian ini mula-mula disalurkan ke dalam roh kita. Roma 8:10 mengatakan, karena Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat (Tl.). Hal ini karena Kristus sendiri adalah hayat, dan hayat ini ada di dalam roh kita. Karena itu roh kita adalah hayat. Inilah butir yang sangat penting. Ayat 10 tidak mengatakan, bahwa karena Kristus ada dalam kita, maka hayat ada di dalam kita. Sebaliknya, ayat itu mengatakan, bahwa roh kita adalah hayat. Hari ini roh kita yang telah dilahirkan kembali adalah hayat.

Perbedaan yang disajikan dalam ayat 10 sangat menarik. Di sini dikatakan bila Kristus ada dalam kamu, tubuh memang mati. Di sini tidak dikatakan tubuhmu adalah kematian. Lawan dari mati adalah hidup. Berdasarkan ini, kelihatannya ayat 10 seharusnya mengatakan tubuh kita menjadi mati dan roh kita meniadi hidup. Tetapi di sini Paulus membuat suatu perbedaan yang kontras. Dia mengatakan tubuh kita mati dan roh kita adalah hayat. Karena Kristus ada dalam roh kita, roh kita bukan hanya dihidupkan, tetapi juga adalah hayat.

Kita mungkin telah membaca Roma 8:10 yang mengatakan bahwa roh kita adalah hayat, tetapi pemahaman kita ialah : hayat ada dalam roh kita dan bahwa roh kita dihidupkan. Kita membaca ayat ini dengan satu cara, tetapi tanpa disadari kita memahaminya dengan cara yang lain, cara alamiah. Kita tidak menyadari bahwa setelah dilahirkan kembali bersama Kristus, roh kita yang telah jatuh menjadi hayat. Ia bukan saja dihidupkan dan memiliki hayat, roh kita pun adalah hayat.

Paulus tidak menggunakan kata-kata dan kalimat ini secara sembarangan. Dia menulis Roma seperti seorang pengacara menulis suatu dokumen resmi. Dalam Roma 8, setiap kata, setiap frase, setiap anak kalimat, dan setiap kalimat, pasti telah dipertimbangkan masak-masak oleh Paulus. Paulus sangat berhati-hati tentang pengalaman hayat dan tentang kebenaran. Semua hal yang ada dalam Roma 8 sangat berkaitan dengan hayat dan kebenaran. Paulus mengatakan, karena Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat. Sekarang, karena telah diselamatkan, kita memiliki satu bagian dari diri kita yang adalah hayat.

a. Kristus di dalam Kita

Kita harus menekankan bahwa Kristus ada di dalam kita. Hayat bukanlah perilaku yang baik. Hayat adalah Kristus. Segala jenis kebajikan bukanlah hayat, tak peduli setinggi atau seunggul apa pun kebajikan itu. Hayat adalah satu persona. Hayat adalah Kristus sendiri dan Kristus ada di dalam kita. Kita harus dengan tegas menekankan hal ini. Kita tidak akan pernah keterlaluan menekankan hal ini – "Kristus ada di dalam kita". Kita kekurangan pengutaraan untuk menekankan hal ini. Dalam seluruh alam semesta tidak ada yang lebih besar daripada Kristus ada di dalam kita. Kristus ada di dalam kita adalah keajaiban yang terbesar, keajaiban dari segala keajaiban, dalam seluruh alam semesta. Kita perlu mengesankan kaum saleh tentang siapa Kristus itu. Dia adalah Allah juga manusia, memiliki baik keilahian maupun keinsanian. Kita harus menekankan berulang-ulang segala kekayaan Kristus yang ajaib. Persona sedemikian ini sekarang ada di dalam kita.

Kita tidak boleh meremehkan Roma 8. Bukan perkara kecil kalau Roma 8 ditulis dan pasal ini ada dalam Alkitab. Tanpa Roma 8, apa yang akan kita lakukan sebagai orang Kristen? Kita harus menekankan keajaiban bahwa Kristus ada di dalam kita guna mengesankan diri kita sendiri dan kaum saleh.

b. Roh Adalah Hayat

Karena Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat. Kelahiran kembali adalah suatu pekerjaan pembauran untuk membaurkan Kristus dengan roh kita. Hari ini, Kristus adalah hayat dan roh kita juga adalah hayat. Ini dikarenakan roh kita telah disatukan dengan Kristus yang adalah hayat. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Tentunya satu roh di sini mengandung Kristus dan roh kita, sehingga Kristus dan roh kita hari ini adalah hayat. Inilah sebabnya kita perlu melatih roh kita. Bila kita melatih roh, hayat akan diinfuskan ke dalam orang lain karena roh kita adalah hayat. Bila kita melatih roh untuk melayani orang lain, maka roh kita akan mencapai orang lain sebagai hayat.

3. DISALURKAN KE DALAM PIKIRAN KITA

Roma 8:6 mengatakan, bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat (Tl.). Bukan hanya roh kita adalah hayat, pikiran kita pun dapat menjadi hayat. Akan tetapi pikiran ini harus diletakkan di atas roh. Artinya, pikiran ini harus dibanjiri, dijenuhi, dan diinfus dengan roh sehingga menjadi pikiran roh. Akhirnya, roh menjadi roh dari pikiran kita. Ini disinggung dalam Efesus 4:23 (Tl.). Karena pikiran kita diletakkan di atas roh, roh kita menjenuhi pikiran dan membuat pikiran kita menjadi suatu pikiran roh. Akhirnya, roh kita menjadi roh dari pikiran kita. Pembaruan terjadi oleh roh yang menjenuhi pikiran kita. Kita harus selalu memberi tahu kaum saleh bahwa roh ini adalah roh pembauran, adalah roh kita berbaur dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.

Karena pikiran kita bersatu dengan roh kita, dihubungkan, diikat, dijenuhi, dan diinfus dengan roh kita, maka pikiran kita juga adalah hayat. Pikiran seperti ini dapat berfungsi untuk melayankan hayat kepada orang lain. Dengan pikiran alamiah, kita tak dapat melayankan hayat kepada orang lain; pikiran demikian bukan hayat. Tetapi bila pikiran kita disatukan dengan roh dan dijenuhi dengan roh kita yang adalah hayat, pikiran kita pada saat itu juga menjadi hayat.

a. Pikiran Diletakkan di atas Roh

Untuk butir ini kita harus mengatakan, bahwa pikiran diletakkan di atas roh berarti pikiran disatukan dengan roh dan bersandar kepada roh. Roh dapat diumpamakan sebagai suami dan pikiran sebagai istri. Pikiran sebagai istri harus selalu bersandar kepada roh sebagai suami. Pikiran harus selalu bersandar kepada roh. Seperti istri dan suami adalah satu pasang, pikiran dan roh juga adalah satu unit. Mereka tidak terpisahkan lagi.

Roma 1:28 membicarakan tentang pikiran yang jatuh sebagai suatu pikiran yang menolak, suatu pikiran yang terkutuk. Pikiran yang terkutuk adalah pikiran yang menolak Allah dan ditolak Allah. Ini adalah pikiran kita yang sebenarnya dalam status keiatuhannya.

Roma 7 memperlihatkan kepada kita seseorang yang telah diselamatkan berusaha melayani Allah dengan memakai pikiran alamiahnya untuk mengikuti hukum Taurat namun dikalahkan (ay. 23, 25). Dalam pasal 7, pikiran itu sudah tidak menolak lagi, tetapi masih merdeka. Pikiran itu hidup seperti seorang janda, memiliki hati dan keinginan untuk melakukan sesuatu, tetapi tanpa seorang suami untuk disandari. Pikiran dalam pasal 1 adalah yang menolak, tetapi pikiran dalam pasal 7 adalah yang mencari, mencari Allah dan berusaha untuk menyenangkan Allah, tetapi tidak bersandar pada roh.

Roma 8 juga menyinggung pikiran, tetapi pikiran di sini diletakkan di atas roh. Sekarang pikiran sebagai janda telah menikah dengan suami baru. Bukan hanya pikiran yang mencari, tetapi pikiran yang menikah, pikiran yang menikah dengan roh. Pikiran seperti ini menjadi satu dengan roh, sehingga pikiran ini menjadi hayat. Tempat keempat yang membicarakan tentang pikiran dalam Roma adalah 12:2, yang berbicara tentang pembaruan pikiran. Pikiran yang bersandar harus diperbarui. Maka, dalam Roma kita melihat pikiran yang terkutuk, pikiran yang mencari, pikiran yang bersandar, dan akhirnya pikiran yang diperbarui. Untuk memiliki pikiran yang diperbarui, kita perlu pikiran yang bersandar, bergantung pada roh.

b. Pikiran Adalah Hayat

Mula-mula roh kita menjadi hayat, lalu pikiran kita menjadi hayat. Ini berarti bahwa hayat ilahi telah tersebar dari roh ke jiwa untuk menjenuhi pikiran kita. Di sini kita perlu memberi tahu kaum saleh, bahwa pikiran kita sebenarnya mewakili jiwa kita. Bukanlah hal yang berlebihan bila kita mengatakan, bahwa pikiran di sini adalah jiwa kita. Pikiran di sini adalah jiwa karena ia adalah bagian utama dari jiwa kita. Ketika pikiran kita menikah dengan roh kita, diletakkan di atas roh kita, bersandar pada roh untuk menjadi satu dengan roh, pikiran seperti ini menjadi hayat.

4. DISALURKAN KE DALAM TUBUH KITA

Roma 8:11 mengatakan, bahwa Roh Allah yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, memberi hayat kepada tubuh fana kita, tubuh kita yang mati, melalui Roh itu yang berhuni di dalam kita. Kata "fana" dalam ayat ini bukan hanya menunjukkan pemikiran maut, tetapi juga pemikiran kelemahan. Tubuh yang fana adalah tubuh yang melemah, tubuh yang menuju kematian. Roma 7 menyebut tubuh kita yang telah jatuh sebagai tubuh maut ini (ayat 24). Bahkan tubuh yang melemah, sekarat, tubuh yang fana, tubuh maut ini masih dapat diberikan hayat.

Sejauh ini kita dapat melihat, bahwa hayat ilahi yang disinggung dalam Roma 8:2 telah dibagikan atau disalurkan ke dalam roh kita dalam ayat 10, menyebar ke dalam pikiran kita dalam ayat 6, juga disalurkan ke dalam tubuh fana kita dalam ayat 11. Jadi hayat ilahi disalurkan ke dalam ketiga bagian diri kita.

a. Melalui Roh Allah yang Berhuni

Penyaluran hayat ke dalam tubuh fana kita ini terjadi melalui Roh yang berhuni. Tanpa Roh itu berhuni dalam kita, hayat tidak dapat disalurkan dari pusat diri kita ke keliling diri kita. Roh kita adalah pusat kita dan tubuh kita adalah keliling diri kita. Jadi hayat ilahi pertama-tama disalurkan ke dalam pusat, dan dari pusat menyebar ke keliling. Maka tubuh kita dihidupkan melalui Roh yang berhuni.

b. Untuk Memberi Hayat kepada Tubuh Fana Kita

Kita telah membicarakan hal ini, tetapi ketika memberitakannya, kita perlu membicarakan butir ini dengan rinci. Sangat sedikit orang Kristen yang menyadari, bahwa hayat ilahi dapat disalurkan ke dalam tubuh kita. Kita harus memberi beberapa ilustrasi kepada kaum saleh tentang hal ini. Adakalanya pada malam hari setelah kita pulang bekerja, kita merasa sangat lelah, lemah, dan merasa tidak dapat bersidang. Tetapi jika kita mau melatih roh kita untuk berdoa dan berkontak dengan Tuhan, hal ini akan memungkinkan Roh yang berhuni bergerak di dalam kita. Dengan spontan hayat ilahi akan disalurkan ke dalam tubuh kita yang lemah, dan tubuh kita yang lemah akan dihidupkan. Demikian kita akan memiliki kekuatan fisik untuk menghadiri sidang. Ini membuktikan bahwa hayat dapat disalurkan ke dalam tubuh kita yang lemah.

Saudara Watchman Nee mempraktekkan hal ini. Ia memiliki masalah dengan jantungnya yang selalu melemahkan tubuhnya. Sering kali ketika sedang menyampaikan berita, sakitnya timbul. Tidak diragukan lagi, pada saat itu ia melatih rohnya, membiarkan Roh yang berhuni di dalamnya menghidupkan tubuhnya yang lemah, sehingga tubuhnya tidak mengganggu atau menghambat ministrinya. Dia sungguh-sungguh mengalami hayat ilahi disalurkan dari rohnya ke dalam tubuhnya yang fana. Kita juga dapat bersaksi dari pengalaman kita sendiri dalam hal ini. Tubuh kita yang melemah, sekarat, sakit ini dapat dihidupkan oleh hayat ilahi melalui Roh yang berhuni itu.

5. PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL

Hal terakhir yang perlu kita tekankan dalam berita ini adalah penyaluran Allah Tritunggal. Kita perlu berulang-ulang mengatakan, bahwa dalam Roma 8 ada penyaluran Allah Tritunggal. Dalam ayat 8 sampai 10, ada 4 sebutan yang dapat saling menggantikan : Allah, Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Allah adalah Roh Allah, Roh Allah adalah Roh Kristus, dan Roh Kristus adalah Kristus sendiri. Tanpa Allah menjadi Roh itu, Allah tidak dapat mencapai kita. Agar listrik dapat mencapai suatu bangunan, perlu menjadi suatu arus. Arus listrik adalah pencapaian listrik. Demikian juga, Roh Allah adalah pencapaian Allah kepada kita.

Juga, agar Allah mencapai kita dan agar Roh Allah mencapai kita, Dia harus menjadi Roh Kristus. Ini karena pada Kristus ada dua hal utama : keinsanian dan penebusan. Roh Allah harus menjadi Roh Kristus karena di sini ada kebutuhan akan keinsanian dan penebusan. Inkarnasi-Nya memberi keinsanian kepada-Nya, dan penyaliban-Nya menggenapkan penebusan. Melalui keinsanian dan penebusan, Roh itu menjadi Roh yang mencapai kita. Sekarang, Roh Allah adalah Roh Kristus dengan keinsanian dan penebusan untuk mencapai kita.

Kita tidak boleh meremehkan ayat-ayat ini. Kita harus mengatakan, "Tuhan, bukalah mata kami. Kami harus melihat sesuatu." Roma 8 memperlihatkan kepada kita penyaluran Allah Tritunggal sebagai hayat ilahi ke dalam ketiga bagian manusia. Akhirnya, ayat 11 mengatakan, bahwa Allah yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati memberi hayat kepada tubuh kita yang fana melalui Roh yang berhuni itu. Ayat ini memberi kita gambaran yang lengkap tentang Allah Tritunggal menyalurkan hayat ke dalam diri kita, mulai dari pusat sampai ke keliling. Penyaluran ini datang dari keempat sebutan ini : Allah, Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus.

Roma 8:9-11 memberi kita lukisan yang lengkap tentang penyaluran Allah Tritunggal untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat ilahi. Pertama-tama, Dia menyalurkan diri-Nya ke dalam roh kita, lalu Dia menyebar ke pikiran kita, dan akhirnya, Dia mencapai tubuh fana kita. Demikianlah seluruh diri kita dijenuhi dengan hayat ilahi. Sebenarnya, hayat ilahi ini adalah penyaluran Allah Tritunggal sendiri. Kita harus jelas terhadap apakah sebenarnya hayat itu. Dalam pelajaran yang lalu kita telah melihat fungsi penyaluran Allah Tritunggal tercakup dalam perasaan hayat. Dalam pelajaran ini kita melihat hayat ilahi disalurkan ke dalam ketiga bagian manusia.