PERASAAN HAYAT
Pembacaan Alkitab :
Rm. 8:6, 2, 11; Ef. 4:18-19; Ibr. 8:10;
1 Yoh. 2:27; Yoh. 15:43; Flp. 2:13
GARIS BESAR
1. Arti perasaan hayat
a. Perasaan kematian pada sisi negatif - lemah, kosong, cemas, gelisah, sumpek, kering, gelap, nyeri, dan lain-lain - Rm. 8:6a
b. Perasaan hayat dan damai pada sisi positif - kuat, puas, damai, lega, bebas, lincah, segar, terang, nyaman, dan lain-lain - Rm. 8:6b
c. Berhubungan dengan perasaan hati nurani - Ef. 4:19
2. Sumber perasaan hayat :
a. Hayat ilahi dengan perasaan yang paling kaya, kuat,
dan peka - Ef. 4:18
b. Hukum hayat - kemampuan dan fungsi alami hayat - Rm. 8:2; Ibr. 8: 10
c. Roh Kudus - minyak pengurapan - Rm. 8:11; 1 Yoh. 2:27
d. Kristus yang tinggal di dalam kita - Yoh. 15:4-5
e. Allah yang beroperasi di dalam kita - F1p. 2:13
3. Fungsi perasaan hayat :
a. Membuat kita tahu apakah kita tinggal dalam hayat alamiah atau dalam hayat ilahi
b. Membuat kita tahu apakah kita tinggal dalam da ging atau dalam roh
Kita telah melihat perkara persekutuan hayat, sekarang kita akan melihat perasaan hayat. Dalam pelaiaran yang lalu kita melihat bahwa persekutuan hayat ternyata oleh perasaan hayat dan perasaan hayat memelihara persekutuan hayat.
Roma 8:6, mengatakan bahwa pikiran yang ditaruh di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang ditaruh di atas Roh adalah hayat dan damai sejahtera (Tl.). Roma 8:2 membicarakan hukum Roh hayat, dan ayat 11 membicarakan Roh itu yang berdiam, di dalam kita. Kemudian kita harus membaca Efesus 4:18-19. Dalam ayat 18 ada hayat Allah. Orang-orang yang tidak percaya dipisahkan dari hayat Allah. Lalu ayat 19 mengatakan, bahwa "perasaannya telah tumpul". Ibrani 8:10 mengatakan, bahwa dalam Perjanjian Baru Allah menuliskan hukum-hukum-Nya di dalam orang-orang yang percaya. Satu Yohanes 2:27 berbicara mengenai pengurapan yang mengajar orang-orang percaya tentang segala sesuatu. Yohanes 15:43 berbicara tentang kita saling tinggal dengan Tuhan, dan Filipi 2:13 membicarakan Allah mengerjakan di dalam kita baik kehendak maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Semua itu adalah ayat-ayat yang sangat mustika dalam Perjanjian Baru dan yang berhubungan dengan perasaan hayat. Tentu, dalam Pedanjian Baru Anda tidak dapat menemukan ayat yang secara langsung menggunakan istilah "perasaan hayat", tetapi semua ayat di atas secara jelas menyiratkan dan mengacu kepada perasaan hayat.
1. ARTI PERASAAN HAYAT
Pertama-tama, kita perlu melihat arti, definisi dari perasaan hayat.
a. Perasaan Kematian pada Sisi Negatif -
Lemah, Kosong, Cemas, Gelisah, Sumpek,
Kering, Gelap, Nyeri, dan lain-lain
Perasaan hayat pada sisi negatif adalah perasaan kematian, suatu perasaan yang negatif. Ini diungkapkan dalam Roma 8:6. Kita harus paham, bahwa Roma 8:6 adalah satu ayat mengenai perasaan, sebab ayat ini mengatakan, bahwa pikiran yang ditaruh di atas daging adalah maut. Ini bukan hanya kenyataan, tetapi juga perkara perasaan, perkara kesadaran. Jika Anda menaruh pikiran Anda di atas daging, Anda akan memiliki perasaan maut. Anda merasakan maut ada di sana.
Perasaan maut adalah perasaan batiniah pada sisi negatif seperti lemah, kosong, cemas, gelisah, sumpek, kering, gelap, nyeri, dan lain-lain (Rm. 8:6a). Ketika di dalam Anda terasa lemah, kosong, cemas, gelisah, sumpek, kering, gelap, nyeri, itu menandakan bahwa maut ada di sana. Ketika ada maut, berarti Anda telah meletakkan pikiran di atas daging. Meletakkan pikiran di atas daging berarti hidup dalam daging. Pikiran adalah kunci kehidupan sehari-hari kita. Kunci ini membuka pintu bagi kita agar kita berjalan maju. Menaruh pikiran di atas daging berarti membuka pintu daging dan berjalan di atas jalan daging. Karena itu, ketika Anda merasakan maut ada di sini, Anda harus sadar bahwa Anda telah tinggal dan berjalan di dalam daging. Inilah fungsi negatif dari perasaan hayat.
b. Perasaan Hayat dan Damai pada Sisi Positif
Kuat, Puas, Damai, Lega, Bebas, Lincah,
Segar, Terang, Nyaman, dan lain-lain
Pada sisi positif, perasaan hayat berfungsi untuk memberi kita suatu kesadaran atas hal-hal positif berikut - kuat, puas, lega, bebas, lincah, segar, terang, nyaman, dan lain-lain (Rm. 8:6b). Kita tidak lemah, tetapi kuat; kita tidak kosong, tetapi puas; kita tidak cemas dan gelisah, tetapi memiliki damai dan kelegaan; kita tidak sumpek, tetapi bebas dan lincah. Lincah adalah suatu keadaan yang hidup. Kita memiliki perasaan yang segar, terdiris sebagai lawan dari kekeringan, memiliki terang sebagai lawan dari gelap, dan juga nyaman sebagai lawan nyeri. Ini semua adalah perasaan hayat positif yang kita miliki dari fungsi perasaan hayat. Ketika kita memiliki perasaan seperti ini, kita harus sadar bahwa inilah pekerjaan perasaan hayat.
Jadi, hal utama yang tersirat dalam Roma 8:6 adalah perasaan hayat. Meletakkan pikiran di atas roh adalah hidup dan damai sejahtera. Inilah perkara perasaan dan kesadaran. Kesadaran ini adalah perasaan hayat. Fungsinya bukan hanya membimbing kita tetapi juga mengatur, mengontrol, dan mengarahkan kita. Perasaan maut dan perasaan hidup dan damai adalah dua aspek dari arti perasaan hayat.
c. Berhubungan dengan Perasaart Hati Nurani
Baik pada sisi negatif maupun pada sisi positif, perasaan hayat selalu berhubungan dengan perasaan hati nurani. Efesus 4:19 mengatakan, bahwa orang-orang yang tidak percaya memiliki "perasaan yang tumpul". "Perasaan" di sini terutama mengacu kepada perasaan hati nurani seseorang. Orang-orang yang tidak percaya pada umumnya tidak peduli akan hati nurani mereka. Orang yang paling mengabaikan perasaan batinnya adalah orang yang paling berdosa. Orang-orang yang tidak percaya yang berusaha menjadi orang yang baik tentu akan memperhatikan perasaan batin mereka. Jika hanya diperintah oleh hukum, oleh polisi, itu tidak mencapai standar moral. Bahkan untuk orang-orang yang tidak percaya, standar moral harus menurut perasaan batiniah hati nurani mereka. Tentunya, bagi orang-orang yang percaya, perasaan hayat bukan hanya perkara hati nurani, tetapi juga berhubungan dengan perasaan hati nurani menurut perasaan hayat (hayat Allah).
2. SUMBER PERASAAN HAYAT
a. Hayat Ilahi dengan Perasaart yang Paling Kaya, Kuat, dan Peka
Setiap jenis hayat memiliki perasaannya sendiri. Benda yang tidak memiliki perasaan berarti tidak memiliki hayat, adalah benda yang mati. Batu tidak memiliki perasaan apa pun, tetapi benda yang berhayat pasti memiliki perasaan. Makin tinggi hayatnya, makin kuat perasaannya. Hayat ilahi adalah hayat yang paling kuat dan paling tinggi, karena itu hayat ini memiliki perasaan yang paling kaya, kuat, dan peka (Ef. 4:18). Hayat ilahi adalah butir pertama dari sumber perasaan hayat. Menurut Efesus 4:18-19, orang-orang yang tidak percaya tumpul perasaannya, sebab mereka dipisahkan dari hayat Allah. Bila kita menjadi satu dengan hayat Allah, kita akan memiliki perasaan yang paling kaya, kuat, dan peka.
b. Hukum Hayat -
Kemampuan dan Fungsi Alami Hayat
Hukum hayat adalah kemampuan dan fungsi alami hayat (Rm. 8:2; Ibr. 8:10), ini adalah butir lain dari sumher hayat. Karena hukum hayat ini berfungsi di dalam. kita dan benar-benar memberi perasaan tertentu kepada kita, maka hukum hayat merupakan salah satu aspek dari sumber perasaart hayat. Roma 8:2 berbicara tentang hukum Roh hayat, dan Ibrani 8:10 mengatakan babwa hukum ini ditulis dalam hati kita.
c. Roh Kudus - Minyak Pengurapan
Roh Kudus - minyak pengurapan - juga adalah suatu aspek dari sumber perasaan hayat (Rm. 8:11; 1 Yoh. 2:27). Keluaran 30 berbicara mengenai minyak urapan, minyak majemuk untuk mengurapi Kemah Pertemuan dan para imam pada zaman kuno. Pada zaman dulu, Kemah Pertemuan dengan segala perkakasnya dan para imam diurapi dengan minyak. Hari ini Roh Kudus adalah minyak bagi seluruh gereja dengan semua orang-saleh. Roh Kudus mengurapi kita terus-menerus, dan pengurapan-Nya adalah semacam pekerjaan dan pergerakan batiniah yang memberi kita perasaan hayat. Roh pengurapan ini juga adalah sumber perasaan hayat.
d. Kristus yang Tinggal di dalam Kita
Kristus yang tinggal di dalam kita adalah aspek berikutnya dari sumber perasaan hayat (Yoh. 15:4-5). Sebenarnya, berhuninya Dia di dalam kita adalah fungsi hayat, bahkan memberi kita perasaan hayat.
e. Allah yang Beroperasi di dalam Kita
Allah senantiasa bekerja di dalam kita (F1p. 2:13). Pergerakan-Nya di dalam kita memberi kita perasaan hayat. Jadi, ini adalah suatu sumber perasaan hayat.
Tak peduli bagaimana bermoralnya para orang yang tidak percaya, mereka hanya memiliki hati nurani manusia untuk mengontrol perilaku mereka. Namun karena kejatuhan manusia, hati nurani manusia telah rusak. Bahkan hari ini, hati nurani orang-orang yang tidak percaya sudah rusak dan tumpul oleh perbuatan dosa mereka hari demi hari. Hati nurani mereka yang rusak tidak dapat berfungsi dengan baik. Sekalipun hati nurani orang-orang yang tidak percaya dapat bekerja dengan baik, itu adalah satu-satunya yang mereka miliki.
Pengajaran Kong Hu Chu berpusat pada pengembangan hati nurani, yang diumpamakan sebagai "kebajikan yang cemerlang". Pengajaran etika dan pengajaran-pengajaran positif para filsuf yang baik difokuskan pada pengembangan hati nurani manusia. Pengembangan kebaikan di dalam seseorang adalah pengembangan hati nurani yang diciptakan oleh Allah.
Orang-orang yang tidak percaya memiliki hati nurani, tetapi kita, orang-orang yang percaya, bukan hanya memiliki hati nurani yang diciptakan Allah, juga memiliki hati nurani yang diperbarui. Hati nurani kita adalah bagian dari roh kita (Rm. 9:1; cf. 8:16), telah diperbarui melalui kelahiran kembali roh kita. Sebagai tambahan dari hati nurani yang diperbarui ini, kita memiliki lima hal besar berikut : hayat ilahi, hukum hayat ilahi, Roh Kudus, Kristus, dan Allah. Jadi tidak bisa memperbandingkan hati nurani orang-orang yang tidak percaya dengan hati nurani kaum beriman yang diperbarui (yang dihuni oleh Allah Tritunggal sebagai hayat ilahi).
Kita, orang-orang Kristen, harus senantiasa penuh dengan perasaan. Kita tidak boleh bebal atau tumpul. Kita harus sangat peka dan penuh perasaan, sebab kita hidup dan kaya dalam hayat. Hal ini dikarenakan kita memiliki roh kelahiran kembali dengan hati nurani yang telah diperbarui. Kita juga memiliki hayat ilahi, hukum hayat ilahi, Roh Kudus, Kristus, dan Allah. Karena itu perasaan hayat di dalam kita adalah tinggi, kaya, kuat, dan peka.
3. FUNGSI PERASAAN HAYAT
Sekarang kita akan melihat fungsi perasaan hayat :
a. Membuat Kita Tahu Apakah Kita Tinggal
dalam Hayat Alamiah atau dalam Hayat Ilahi
Bila kita tinggal dalam hayat alamiah, kita akan mengalami maut, semuanya berada pada sisi negatif; demikianlah kita merasakan perasaan maut dengan segala butir negatifnya. Bila kita hidup dalam hayat ilahi, kita akan mengalami hayat, semuanya berada pada sisi positif; demikianlah kita merasakan perasaan hidup dan damai dengan segala butir positifnya. Perasaan hayat membuat kita mengetahui apakah kita tinggal dalam hayat alamiah atau dalam hayat ilahi. Perasaan hayat membimbing kita, mengatur kita, mengontrol kita, dan mengarahkan kita. Kebenaran ini telah hilang dari kekristenan hari ini. Hari ini pengajaran kekristenan kebanyakan berfokus pada moralitas dan perilaku yang bak Mereka tidak mempedulikan perasaan hayat yang berfungsi untuk memberi tahu apakah kita hidup dalam hayat alamiah atau dalam hayat ilahi. Karena kita menuntut Kristus sebagai hayat kita, kita harus memperhatikan perasaan hayat ini. Bila tidak memiliki perasaan yang kuat, puas, damai, lega, bebas, lincah, segar, terang, nyaman, dan lain-lain yang positif, kita harus sadar bahwa kita sedang tidak tinggal dalam hayat ilahi dan pasti tinggal dalam hayat alamiah.
b. Membuat Kita Tahu Apakah Kita Tinggal
dalam Daging atau dalam Roh
Fungsi perasaan hayat juga membuat kita tahu apakah kita tinggal dalam daging atau dalam roh. Tinggal dalam hayat alamiah adalah satu hal, tinggal dalam daging adalah hal lain. Anda mungkin beranggapan bahwa keduanya itu sama, sebenamya sedikit berbeda. Daging selalu buruk; tidak ada daging yang baik. Tetapi hayat alamiah kadang-kadang dapat menjadi baik. Hayat alamiah adalah lawan dari hayat ilahi dan daging adalah lawan dari roh.
Karena itu ada dua aspek fungsi perasaan hayat. Aspek pertama adalah untuk membuat Anda tahu apakah Anda tinggal dalam hayat alamiah atau dalam hayat ilahi, dan aspek kedua adalah untuk membuat Anda tahu apakah Anda tinggal dalam roh. Secara negatif, ia memberi tahu apakah Anda tinggal dalam hayat alamiah, yang alamiah, sebagai orang dan apakah Anda tinggal di dalam daging. Dalam pengalaman, kita selalu dapat membedakan kedua hal ini. Kita sering memiliki perasaan bahwa kita tinggal, berjalan, dan bertindak dalam daging. Kadang-kadang kita tidak begitu bersifat daging, tetapi kita merasa bahwa kita berjalan dalam hayat alamiah kita, dalam manusia alamiah kita, bukan dalam hayat ilahi.
Sebelum kita membicarakan pelajaran ini kepada kaum saleh, kita perlu banyak berdoa untuk dapat masuk ke dalam butir-butir ini. Pelajaran ini jangan hanya menjadi doktrin pengetahuan secara harfiah; ia harus merupakan sesuatu yang datang dari hayat oleh pengalaman kita. Kita perlu banyak berdoa, mendoakan diri kita sendiri masuk ke dalam perasaan hayat. Kemudian kita dapat menyampaikannya bukan melulu berupa pengajaran tetapi dengan riil berada dalam persekutuan. Berita kita akan menjadi suatu persekutuan, memberi tahu orang bahwa kita telah mengalami hal ini, betapa perasaan hayat ini begitu benar dan riil bagi kita, dan betapa kita berada di bawah unsur yang di dalam kita yang mengontrol, membimbing, dan mengarahkan kita hari demi hari.