MELATIH ROH
Pembacaan Alkitab: Kidung: pilih sendiri
Amsal 20:27 Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.
1 Timotius 4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
2 Timotius 1:6-7 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
I. Mengenal roh insani kita:
A. Roh kita adalah pelita Tuhan, menyelidiki semua bagian dalam kita—Ams. 20:27.
B. Roh kita adalah manusia tersembunyi dalam hati—1 Ptr. 3:4.
C. Roh kelahiran kembali kita adalah manusia batiniah kita—Ef. 3:16.
II. Mengenal keperluan roh insani kita:
A. Roh kita perlu dibangkitkan—Ezra 1:1, 5; cf. Kel. 35:21.
B. Roh kita perlu dibarakan—Rm. 12:11; Kis. 18:25.
C. Roh kita dihuni oleh Roh Kudus perlu menjadi organ doa—Ef. 6:18.
D. Roh kita perlu menjadi sarana penyembahan—Yoh. 4:24.
E. Roh kita perlu memimpin dalam menikmati Tuhan—Luk. 1:46-47.
F. Roh kita perlu mengambil inisiatif dalam ministri rohani—1 Kor. 14:32.
III. Melatih roh insani kita—1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22:
A. Melatih menjadi istilah yang kuat yang dipakai dalam Perjanjian Baru—1 Tim. 4:7:
1. Melatih diri kita sendiri untuk ibadah—1 Tim. 4:7-8:
a. Latihan badani terbatas gunanya.
b. Ibadah berguna dalam segala hal.
2. Latihan ibadah melalui melatih roh kita, di mana Tuhan ada bersama dengannya—1 Tim. 4:7; 2 Tim. 1:7; 4:22.
B. Membarakan roh kita—2 Tim. 1:6-7:
1. Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, tetapi roh kekuatan, kasih, dan ketertiban.
2. Roh kita dikelilingi oleh tiga bagian dari jiwa—pikiran, emosi, dan tekad:
a. Tekad kita seharusnya kuat, penuh dengan kuasa.
b. Emosi kita seharusnya mengasihi manusia, penuh kasih.
c. Pikiran kita seharusnya jernih, penuh dengan ketertiban.
C. Menaruh pikiran di atas roh—Rom. 8:5-6:
1. Pikiran yang diletakkan di atas daging adalah maut.
2. Pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera.
D. Memisahkan roh kita dan jiwa kita—Ibr. 4:12:
IV. Cara melatih roh:
A. Melatih roh melalui menyeru nama Tuhan.
B. Melatih roh melalui doa baca firman Allah.
C. Melatih roh melalui berdoa.
D. Melatih roh melalui mengubah organ.
E. Melatih roh melalui menuntut kebenaran.
F. Melatih roh melalui berjalan menurut Roh —Rm. 8:4-6; Gal. 5:16, 25:
1. Belajar merasakan Roh.
2. Berjalan menurut hayat dan damai di batin.
Buku-buku Referensi: The Basic Lessons on Life, bab 17 dan 18; Our Human Spirit, bab 10; The Four Crucial Elements—Christ, The Spirit, Life, and the Church, bab 7; The Spirit with Our Spirit, bab 8.
Cuplikan Berita Ministri:
MENGENAL ROH INSANI KITA
Roh kita adalah Pelita Tuhan, Menyelidiki Semua Bagian Dalam Kita
Amsal 20:27 mengatakan bahwa roh kita adalah pelita Tuhan menyelidiki semua bagian dalam kita. Ini menunjukkan bahwa di dalam manusia ada sesuatu dari Allah, dan ini adalah roh manusia yang menjadi pelita Allah. Tentu saja, di dalam pelita ada terang, sehingga di sini penerapannya sangat bermakna. Di dalam manusia ada pelita yang sedemikian, namun pelita itu perlu terang dan terang itu adalah Allah. Apa yang dimiliki manusia hanyalah pelita yang kosong. Pelita itu perlu terang untuk bersinar. Ini menunjukkan bahwa Allah sebagai terang benar-benar memiliki sesuatu di dalam manusia sebagai bejana-Nya untuk menampung Dia dan menyatakan Dia, sama seperti pelita menampung terang dan menyatakannya.
Roh Insani Kita adalah Manusia yang Tersembunyi dalam Hati
Satu Petrus 3:4 mewahyukan bahwa roh kita adalah manusia tersembunyi dalam hati kita. Manusia yang tersembunyi adalah roh yang lemah lembut dan tenang. Ketika roh kita lemah lembut dan tenang, ia tersembunyi. Satu Petrus 3:4 menunjukkan bahwa setiap bagian dari diri kita dapat dianggap sebagai satu manusia. Tubuh jasmani kita adalah manusia lahiriah, jiwa kita adalah manusia yang terekspresi, ternyatakan, dan roh kita adalah manusia yang tersembunyi.
Roh Kelahiran Kembali Kita adalah Manusia Batiniah Kita
Kita harus membantu kaum kudus untuk menyadari bahwa roh insani kita adalah pelita Allah, melayani Allah dengan suatu tujuan. Lebih jauh lagi, roh ini adalah manusia yang tersembunyi dan indah dipandangan Allah. Juga, ketika roh kita dilahirkan kembali, ia menjadi manusia batiniah (Ef. 3:16). Pengertian dari kata batin ini lebih kuat daripada pengertian dari kata tersembunyi. Manusia yang tersembunyi adalah yang tidak ternyatakan, tetapi manusia batiniah dapat menjadi sangat aktif dan agresif. Menurut Efesus 3, manusia batiniah ini haruslah sangat aktif dan agresif untuk memperhidupkan Tuhan. Setelah manusia batiniah dikuatkan, Kristus memiliki jalan untuk berumah di dalam hati kita. Ini menunjukkan bahwa manusia batiniah bukanlah sesuatu yang tersembunyi, lembut, dan tenang, melainkan sesuatu yang sangat hidup, aktif dan agresif sehingga Kristus dapat memakainya bagi diri-Nya sendiri untuk membuat rumah-Nya dalam hati kita.
Menurut Alkitab, saya percaya ketiga poin di atas adalah gambaran dasar dari apakah roh kita itu. Roh kita adalah pelita Tuhan, manusia tersembunyi yang indah di pandangan Allah, dan manusia batiniah yang hidup, aktif, dan agresif bagi Tuhan untuk menggenapkan tujuan-Nya. Tiga poin ini membantu kita mengetahui apakah roh kita itu. (The Basic Lessons on Life, hal. 135).
MENGETAHUI KEPERLUAN ROH INSANI KITA
Roh Kita perlu Dibangkitkan
Dimulai dari poin ini, kita perlu melihat apakah yang harus dilakukan oleh roh kita. Ezra 1:1 mengatakan bahwa Tuhan membangkitkan roh Koresh, Raja Persia. Kemudian ayat 5 mengatakan bahwa Allah membangkitkan roh semua sisa-sisa bangsa Israel untuk pergi membangun rumah-Nya di Yerusalem. Roh kita perlu dibangkitkan untuk kepentingan Allah (cf. Kel. 35:21). Kita tidak seharusnya menunggu sampai yang lain membangkitkan roh kita. Sebaliknnya, kita seharusnya membangkitkan roh kita melalui melatih roh kita (cf. 2 Tim. 1:6-7). Di satu pihak, Tuhan adalah Yang membangkitkan roh kita, tetapi kita tidak seharusnya menjadi pasif. Kita sendiri harus bekerjasama dengan Tuhan untuk membangkitkan roh kita.
Roh Kita Perlu Dibarakan
Roh kita perlu dibarakan. Roma 12:11 memerintahkan kita untuk membara dalam roh, dan Kisah Para Rasul 18:25 memberitahu kita bahwa Apolos berapi-api, membara dalam roh.
Roh Kita yang Dihuni oleh Roh Kudus Perlu menjadi Organ Doa Kita
Doa adalah jalan untuk melatih roh kita, tetapi banyak orang Kristen tidak berdoa dengan roh mereka. Mereka berdoa hanya menggunakan mulut dan mentalitasnya dengan emosinya. Mereka tidak memakai roh ketika mereka berdoa. Jika seseorang meminta orang lain untuk melakukan sesuatu baginya, dia mungkin dengan sederhana membuka mulutnya menurut mentalitasnya dan emosinya tanpa melatih rohnya. Banyak orang Kristen hari ini berdoa kepada Tuhan tepat dengan cara yang sama. Mereka tidak menggunakan roh mereka.
Di masa lalu kita seringkali berdoa tanpa melatih roh kita, tetapi Efesus 6:18 mengatakan bahwa kita perlu berdoa setiap waktu di dalam roh kita. Kita perlu memakai roh kita sebagai organ doa. Kita tidak dapat mendengar perkara dengan melatih mata kita atau mencium bau dengan memakai telinga kita. Dengan cara yang sama, kita harus berdoa dengan melatih roh kita sebagai organ yang tepat bagi doa kita. Organ bagi kita untuk berdoa bukanlah pikiran kita atau emosi kita tetapi roh kita. Semakin kita menekankan hal ini, semakin baik. Banyak kaum kudus dan orang-orang muda di antara kita perlu belajar bagaimana memakai rohnya dalam doa.
Roh Kita Perlu menjadi Sarana Penyembahan Kita
Menurut Yohanes 4:24, roh kita perlu menjadi sarana penyembahan kita. Kita perlu menyembah Allah Sang Roh dalam roh kita dan dengan roh kita. Banyak kaum kudus datang bersidang untuk sidang, tetapi mereka datang bukan untuk menyembah. Kita mungkin melewati formalitas sidang tanpa memberi kepada Tuhan penyembahan yang sejati yang Dia inginkan. Menyembah adalah melatih roh kita. Kapankala kita mulai melatih roh kita, penyembahan dimulai. Kita mungkin berpikir bahwa penyembahan kita dimulai ketika kita memilih kidung atau ketika kita berdoa. Tetapi penyembahan kita sebenarnya dimulai ketika roh kita dibangkitkan dan dilatih.
Sidang kita perlu penuh dengan latihan roh. Ketika kita datang bersama untuk bersidang, sebelum menyanyi, sebelum berdoa, sebelum membaca, sebelum melakukan sesuatu, kita semua harus melatih roh kita. Seharusnya ada penyembahan roh sedemikian dalam semua sidang kita. Seringkali penatua melatih roh mereka saat membuka sidang. Kemudian mereka membangkitkan roh orang lain. Ini bukanlah situasi yang terbaik. Semua kaum kudus harus bangkit untuk melatih roh mereka. Kita harus membantu kaum kudus untuk menyadari bahwa kita perlu memakai roh kita untuk menyembah. Roh kita perlu menyembah Allah secara langsung bukan bergantung pada nyanyian, pembacaan, atau berdoa secara formal.
Roh Kita Perlu Memimpin dalam Menikmati Tuhan
Roh kita perlu memimpin dalam menikmati Tuhan. Ini sepenuhnya ditunjukkan dalam Lukas 1:46-47 dalam ayat ini Maria berkata, “Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Dua ayat ini, tidak diragukan, menggambarkan kenikmatan akan Tuhan, dan di dalam kenikmatan akan Tuhan roh kita memimpin. Pertama, roh Maria ditinggikan dalam Allah; kemudian jiwanya memuliakan Tuhan. Pujian-Nya terhadap Allah dihasilkan dari rohnya dan diekspresikan melalui jiwanya. Tetapi hari ini kebanyakan kita memakai jiwa kita terlebih dahulu. Kita harus belajar segera memakai roh kita dan membiarkan jiwa menjadi pengikut roh. Roh kita harus memimpin secara agresif dalam menikmati Tuhan. Roh kita seharusnya menaklukkan jiwa kita dan membuat jiwa kita pengikutnya.
Roh Kita Perlu Mengambil Inisiatif dalam Ministri Rohani
Satu Korintus 14:32 mengatakan, ”Roh nabi takluk terhadap nabi.” Dalam ministri rohani, roh kita harus mengambil inisiatif. Jika roh kita menunggu, itu berarti roh kita lembam. Pada setiap peristiwa, roh kita seharusnya mengambil inisiatif untuk melayankan sesuatu. (hal. 135-138)
MELATIH ROH INSANI KITA
Dalam Perjanjian Baru ada sejumlah pertentangan. Sebenarnya, tentulah mereka bukanlah pertentangan. Di satu pihak, Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kita tidak seharusnya memiliki pekerjaan kita sendiri. Kita seharusnya tidak melakukan hal-hal dalam diri kita baik dalam berbagian dalam berkat Allah atau merampungkan sesuatu bagi rencana Allah. Tetapi di pihak lain Perjanjian Baru memakai kata yang kuat seperti melatih. Dalam Kolose Paulus berkata bahwa dia berjerih lelah, berjuang, dan bergumul dengan penuh penderitaan (1:29; 2:1). Kata-kata ini adalah kata-kata yang kuat yang menunjukkan sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Kita semua perlu melihat dua aspek ini. Kita tidak melakukan apa-apa itu berarti bahwa kita tidak seharusnya melakukan sesuatu dengan daging kita, dengan diri kita sendiri, atau dengan hayat alamiah kita. Tetapi di segi positif kita harus berjerih lelah, harus bergumul dalam roh kita. Sebenarnya, latihan roh kita tercakup dan tersirat dalam kata-kata ini: berjerih lelah, bergumul, bergulat, dan berjuang
Hari ini apa pun yang kita lakukan secara positif di dalam roh kita adalah sejenis latihan. Kata Yunani untuk latihan adalah dasar dari kata gymnastics. Untuk berbagian dalam gymnastics (senam), seseorang harus menggunakan semua energinya untuk melatih seluruh tubuh jasmaninya. Kita harus melatih roh kita dengan cara yang sama. Seluruh lingkungan di sekeliling kita tidak membantu kita untuk berlatih. Ia bertujuan melemahkan kita. Seluruh situasi tidak membantu kita untuk berjerih lelah. Ia membantu kita untuk menjadi malas; membantu kita menjadi tersandung. Ia adalah arus yang menurun. Arus yang menurun membantu kita untuk turun. Sebenarnya, arus ini membawa kalian. Tetapi jika kalian naik, kalian harus bergumul. (hal. 142)
Membarakan Roh Kita
Dua Timotius 1:6-7 menunjukkan bahwa kita perlu membarakan roh kita. Dalam ayat ini Paulus berkata, “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Beberapa orang berpikir bahwa ayat-ayat ini tidak berkata bahwa kita seharusnya membarakan karunia kita. Namun jika kalian masuk ke dalam ayat-ayat ini, kalian akan melihat bahwa membarakan karunia adalah membarakan roh kita. Paulus memberi tahu kita dalam ayat 6 untuk “membarakan karunia Allah” kemudian dalam ayat 7 dia berkata, ”Karena Allah tidak memberikan kepada kita roh…” roh yang diberikan Allah adalah yang harus kita barakan. Kita harus membarakan roh kita. (The Spirit With Our Spirit, hal 80)
Menaruh Pikiran Kita di atas Roh
Setelah kalian membarakan roh kalian, belajar untuk mempraktekkan hal yang lain. Selalu aturlah pikiran kalian. Janganlah biarkan pikiran kalian menjadi “kuda liar.” Pikiran adalah bagian terbesar dari jiwa dan jiwa adalah antara daging kita yang di luar dan roh kita yang di dalam. Roma 8:6 mengatakan, ”pikiran diletakkan di atas daging adalah maut, tetapi pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera.” Setelah membarakan roh kita, kita harus belajar menaruh pikiran di atas roh. Pikiran kita sangat “cerewet.” Pikiran berbicara kepada kita di mana pun sepanjang waktu. Jika kita tidak mengendalikan pikian kita, kita dapat mengembara dalam khayalan kita ke seluruh bumi dalam waktu yang singkat. Kita dapat bermimpi dalam pikiran kita bahkan selama satu hari. Inilah mengapa kita harus mengarahkan pikiran kita kepada roh. Ketika kita melakukan ini, kita akan bernyanyi bagi Tuhan, memuji Tuhan atau membicarakan Tuhan.
Memisahkan Roh Kita dan Jiwa Kita
Dalam Ibrani 4:12 kata memisahkan digunakan. Dikatakan bahwa firman Allah dapat membelah jiwa kita dan mampu memisahkan pikiran dan tujuan hati. Seringkali pikiran kita menipu. Tetapi jika kita melatih roh kita, ada pemisahan bahwa pikiran kita jahat sebab di balik pikiran itu ada tujuan yang jahat. Untuk memisahkan pikiran dan tujuan hati sama dengan memisahkan jiwa dari roh. Sepanjang waktu kalian harus menjaga roh kalian terpisah dari jiwa. Strategi musuh selalu mencampurkan roh kita dengan jiwa kita. Kapankala ada percampuran di sana, roh kalah dan jiwa menang. (hal. 84-85)
JALAN UNTUK MELATIH ROH
Salah satu rahasia dari melatih roh adalah menyeru nama Tuhan. Kita mungkin menganggap menyeru nama Tuhan sebagai rahasia terbaik dari melatih roh kita. Misalnya, rahasia melatih kaki kita adalah berjalan. Untuk berjalan, kita memakai kaki kita; untuk melihat, kita memakai mata kita; untuk mendengar kita memakai telinga kita; dan untuk berdoa kita memakai roh kita. Kapankala kita berdoa, kita perlu memakai roh kita. Beberapa orang mungkin memiliki perasaan bahwa ketika mereka berdoa mereka seringkali dalam pikiran dan bukan di dalam roh. Doa bukan hanya meminta kepada Allah tetapi lebih lagi untuk berkontak dan bersekutu dengan Allah. Karena itu cara terbaik untuk berdoa adalah menyeru nama Tuhan. Alkitab bahkan memberi tahu kita untuk berdoa dengan tak putus-putusnya (1 Tes. 5:17). Satu-satunya cara untuk berdoa dengan tak putus-putusnya adalah menyeru nama Tuhan.
Selain berdoa, kita perlu membaca Alkitab. Membaca Alkitab bukan untuk mendapatkan pengetahuan atau doktrin lebih banyak tetapi untuk menerima suplai rohani. Alkitab mengandung kebenaran yang unggul yang bukan bagi pengetahuan obyektif kaum beriman tetapi bagi pengalaman mereka yang subyektif. Untuk menyelam dalam kebenaran yang unggul itu kita perlu memakai roh kita sebab Tuhan berkata bahwa firman-Nya adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Untuk menjamah roh dalam firman Tuhan, kita perlu memakai roh kita. Ketika kita memakai roh kita, kita menyelam ke dalam kebenaran yang unggul, yang mampu membantu membuka doa kita, membuatnya lebih meresap dan lebih kaya. Apakah doa kita dalam dan kaya bergantung kepada pengetahuan akan kebenaran.
Karena itu, ada dua rahasia melatih roh kita: doa dan menuntut kebenaran. Dua hal ini saling melengkapi. Kita harus berdoa dan kita juga harus menyelam ke dalam kebenaran. Berdoa dapat membantu kita masuk ke dalam kebenaran. Semakin kita masuk ke dalam kebenaran, semakin kaya dan dalam jadinya pengalaman kita. Bahkan perasaan saat kita menyeru nama Tuhan menjadi dalam, kaya, dan berbobot. Dengan cara demikian citarasa kita dan perasaan kita untuk nama Bapa, Putra dan Roh Kudus akan menjadi sangat berbeda dari pada masa lalu. (The Four Crucial Elements—Christ, The Spirit, Life, and the Church, hal. 109-110)
Perjalanan orang Kristen adalah menurut roh (Rm. 8:4) yang adalah roh kita berbaur dengan Roh Kudus (1 Kor. 6:17). Kita telah melihat bahwa kita mengetahui hal ini melalui merasakan aspek yang berbeda dari hayat, damai atau maut. Apa pun yang kita lakukan apa pun yang kita katakan, kita harus melakukannya dan mengatakannya dengan roh, tidak dengan jiwa atau dengan daging. Apa pun yang kita lakukan, kita harus berbalik kepada Tuhan. Beberapa orang Kristen mungkin berpikir untuk berbalik kepada Tuhan berarti berbalik ke surga, tetapi berbalik kepada Tuhan dalam pengalaman kita adalah berbalik dalam roh kita sebab Tuhan ada dalam roh kita. Ini berarti menaruh pikiran di atas roh (Rm. 8:6). Menaruh pikiran di atas roh berarti membalikkan diri kita kepada Tuhan. Kita harus berbalik dari daging, jauh dari alasan, jauh dari rasa sakit dan jauh dari masalah. Bahkan pengetahuan Alkitab dan pengajaran dapat menjadi penyimpangan di mana kita harus berbalik. Hari demi hari kita telah disimpangkan dari roh kita dengan banyak perkara luaran.
Mengasihi istri kalian tidak salah, tetapi baik. Menganggap pengajaran Alkitab dan menuntut pengetahuan itu baik, tetapi dalam kasih, pertimbangan, dan penuntutan kita, kebanyakan kita sering merdeka dari Tuhan. Kita menaruh pikiran kita, yang mewakili diri kita, pada begitu banyak hal lain dari pada Tuhan sendiri dalam roh kita. Kita seringkali berada dalam jiwa atau daging kita tidak di dalam roh. Kita semua harus belajar praktek ini: apa pun yang terjadi kepada kita, kita harus berbalik kepada Tuhan. Ini berarti kita harus berbalik ke dalam roh. Di satu pihak, saya menyangkal pikiran, emosi, dan tekad yang alamiah dan merdeka yang adalah diri saya sendiri. Di pihak lain, saya belajar untuk merasakan roh. Saya hanya melakukan hal-hal ketika saya merasakan bahwa saya memiliki hayat dan damai sejahtera di batin. Untuk melakukan hal ini adalah latihan roh. Kita semua harus mempraktekkan berjalan menurut roh dalam jalan ini. (Our Human Spirit, hal. 70-71)
Pertanyaan-pertanyaan: