MENYANYIKAN KIDUNG
Pembacaan Alkitab: Suplemen: No. 116
Efesus 5:18-19 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati,
Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
I. Mengenal kidung:
A. Perkembangan kidung dalam pemulihan Tuhan.
B. Tiga persyaratan dasar untuk kidung:
1. Memiliki dasar kebenaran.
2. Memiliki bentuk dan struktur puisi.
3. Memiliki realitas dan perasaan rohani.
C. Kategori dan poin penting mengenai isi kidung.
D. Standar, perasaan, penyusunan kata, dan nada kidung.
II. Praktek menyanyikan kidung:
A. Sasaran yang kepadanya kita menyanyi:
1. Terhadap Allah—Mzm. 51.
2. Terhadap manusia—Mzm. 37, 133.
3. Terhadap diri sendiri—Mzm. 103, 121.
4. Terhadap malaikat dan iblis di sekeliling —Hymns, #890.
5. Terhadap satu dengan yang lain—Kol. 3:16.
B. Kita seharusnya melatih roh kita melalui menyanyikan kidung untuk dipenuhi oleh Roh Kudus.
C. Kita seharusnya menghafal lirik dari kidung untuk mengalir dalam pujian.
D. Kita seharusnya belajar berbicara satu dengan yang lain dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani—1 Kor. 14:26; Kol. 3:16;
III. Empat faktor utama dari sidang Perjanjian Baru – firman, Roh, nyanyian, dan doa.
A. Pusatnya—Roh Kudus.
B. Kunci dan prinsipnya—setiap orang berbicara dan mendengarkan satu dengan yang lainnya—1 Kor. 14:26, 31; Ibr. 10:25.
C. Empat faktor utama—firman, Roh itu, nyanyian, dan doa.
Buku-buku Referensi: Words of Training for the New Way, berita 8, 16, 18, dan 22; Messages for Building Up New Believers, vol. 1, bab 15; Vessels Useful to the Lord (dalam bahasa in China), berita 1; Four Crucial Elements of the Bible—Christ, the Spirit, Life, and the Church, bab 6 dan 9; Meeting to Speak the Word of God, berita 3; The Divine Speaking, bab 2; Speaking Christ for the Building Up of the Body of Christ, berita 7; The Exercise and Practice of the God-Ordained Way, berita 15 dan 30; The God-Ordained Way to Practice the New Testament Economy, berita 7 sampai 9.
Cuplikan Berita ministri:
MENGENAL KIDUNG
Perkembangan Kidung dalam Pemulihan
Saya ingin berbicara singkat mengenai kidung kita. Tahap pertama dimulai lebih dari enam puluh tahun yang lalu ketika kita dibangkitkan oleh Tuhan. Kidung-kidung yang dipakai oleh kekristenan pada waktu itu tidaklah cocok dengan penggunaan kaum kudus dalam pemulihan Tuhan. Kita membaca dari kidung terbitan Kaum Saudara selama masa keemasan mereka. Saudara Nee meminjam daftar isi kidung mereka sebagai struktur dasar bagi kita dan menambahkan dua topik lagi yang berhubungan dengan peperangan rohani dan pengalaman yang subyektif atas salib. Daftar ini disusun menjadi satu Kidung. Kidung ini dimulai dengan pujian kepada Bapa bagi penyembahan Bapa. Ada juga apresiasi terhadap Tuhan bagi peringatan kita akan Tuhan. Ini memberikan bantuan yang besar bagi sidang pemecahan roti. Pada waktu itu, kidung kita hanyalah seratus delapan puluh tiga lagu dan kita memakainya sampai kita datang ke Taiwan. Pada tahun 1949, pekerjaan orang muda dimulai di Taiwan. Kita merasa bahwa seratus delapan puluh tiga tidaklah memadai, maka kami menerbitkan kidung kita volume kedua. Mulai tahun 1961, kita mulai melihat ekonomi Allah. Saya menulis delapan puluh lima kidung yang disebut “Suplemen 85 Kidung”. Mereka semua berhubungan dengan ekonomi Allah dan termasuk kidung seperti, “Tuhan Kau lah hayatku,” “Kristus Mulia Juruslamat,” dan “Oleh Roh dengan Roh lahir dan menyembah” [tidak ada dalam bahasa Inggris]. Pada tahun 1967, setelah saya menyelesaikan kompilasi kidung bahasa Inggris di Amerika, saya kembali ke Taiwan dan digabungkan dengan dua volume dari kidung bahasa Mandarin, ”Suplemen 85 Kidung”, dan nyanyian injil ke dalam satu volume. Tambahan, saya menambahkan dua ratus kidung lebih. Hasilnya adalah kidung bahasa Mandarin yang kita gunakan hari ini. (Words of Training for the New Way, hal. 100-101)
Tiga Persyaratan Dasar untuk Kidung
Pertama, kata-kata dari suatu kidung haruslah bersandarkan kebenaran. Banyak kidung memenuhi dua persyaratan lainnya tetapi mengandung kesalahan dalam kebenaran. Jika kita meminta anak-anak Allah untuk menyanyikan kidung-kidung ini, mereka akan dituntun ke dalam kesalahan. Kita menaruh kesalahan manusia kepada mereka ketika mereka pergi kepada Tuhan; kita mengarahkan mereka ke dalam perasaan yang tidak tepat. Ketika anak-anak Allah menyanyikan kidung, perasaan mereka diarahkan terhadap Allah. Jika kidungnya memiliki doktrin yang salah, mereka akan tertipu dalam perasaan mereka dan tidak menjamah realitas. Allah tidak bertemu dengan kita menurut perasaan puitis dari kidung; Dia bertemu dengan kita menurut kebenaran yang dinyatakan dalam kidung. Kita hanya dapat datang di hadapan Allah dalam kebenaran. Jika kita tidak datang kepada Allah dalam kebenaran, kita ada dalam kesalahan dan tidak menjamah realitas.
Kedua, doktrin yang akurat sendiri tidak akan menyusun suatu kidung. Suatu kidung perlu puitis dalam bentuk dan strukturnya. Kebenaran sendiri tidak cukup. Setelah ada kebenaran, masih ada keperluan untuk puisi dalam bentuk dan strukturnya. Hanya ketika ada puisi kidung itu seperti kidung. Menyanyi bukanlah pemberitaan. Kita tidak dapat menyanyikan suatu berita. Ada satu kidung yang dimulai dengan kata: ”Allah yang sejati menciptakan langit, bumi dan manusia.” Ini mungkin sesuatu yang bagus untuk pemberitaan, tetapi tidak untuk dinyanyikan. Ini adalah doktrin, bukan satu kidung. Semua nyanyian dalam kitab mazmur adalah puisi. Setiap mazmur itu lembut dan halus dalam bentuk dan ekspresi dan mengutarakan pikiran Allah dalam cara puisi. Jika setiap baris hanya mengikuti irama tertentu, itu tidak akan menyusun suatu kidung. Strukturnya haruslah puitis dan bentuknya haruslah puitis.
Ketiga, di samping mempunyai kebenaran dan struktur dan bentuk puisi, suatu kidung perlu memiliki kontak rohani. Ia harus menjamah realitas rohani. Misalnya, Mazmur 51 adalah mazmur pertobatan Daud. Dalam membacanya, kita menemukan pertobatan Daud secara doktrinal yang benar, kata-katanya dipilih dengan cermat, dan struktur mazmur ini rumit. Namun lebih daripada itu, kita merasakan sesutau di dalam kata-kata itu; ada realitas rohani, perasaan rohani di dalam mazmur. Kita dapat menyebut ini beban dari kidung. Daud bertobat, dan perasaan pertobatannya meresapi seluruh Mazmur. Seringkali dalam membaca kitab Mazmur, ada sesuatu yang menyambar—setiap sentimen yang diekspresikan di dalam mazmur ini sejati. Ketika pemazmur bergirang, dia melompat dan berteriak karena sukacita. Ketika dia sedih, dia menangis. Mazmur-mazmur ini bukanlah kata-kata yang kosong dari realitas. Ada realitas rohani di balik kata-kata itu. (Messages for Building Up New Believers, hal. 228-231.)
Kita semua mengetahui bahwa puisi dan nyanyian adalah kristalisasi, esens dari literatur. Ketika seseorang telah mencapai puncak dalam penggalian sastranya, dia akan mampu menghasilkan puisi dan nyanyian dalam jenis yang berbeda-beda. Lebih lanjut lagi, puisi dan nyanyian juga didasarkan pada pengalaman kehidupan manusia; ini adalah hasil dari ekspresi perasaan manusia…Untuk belajar bagaimana menulis kidung, kita harus memiliki tiga persyaratan awal: pengetahuan kebenaran, pengalaman hayat, dan pencapaian dalam sastra. (Vessels useful to the Lord, hal. 8-9, dalam bahasa China)
Kategori dan Poin Penting dari Isi Kidung
Kidung kita ditulis bukan berdasarkan ide kita tetapi menurut kebenaran dalam Alkitab. Untuk menjelaskan kebenaran Alkitabiah bukanlah perkara yang mudah. Untuk mengekspresikan kebenaran-kebenaran dalam puisi dan lirik memerlukan lebih daripada pemahaman yang menyeluruh atas kebenaran. Jika kita damba belajar dan menuntut kebenaran yang unggul dalam Alkitab, kita harus melakukannya dengan memakai kidung kita bersama dengan Alkitab dan dibantu oleh pelajaran hayat dan buku-buku rohani. Kadang-kadang bahkan satu baris kidung penuh dengan kekayaan kebenaran.
Saya menyusun kidung kita saat ini pada tahun 1966. Kalian tidak dapat menemukan suatu kidung dalam kekristenan yang seperti kidung kita, yang penuh dengan kebenaran dalam isinya. Daftar isinya sendiri meliputi lima halaman, menunjukkan urutan kebenaran, sehingga melalui membacanya seseorang dapat dengan mudah menerima terang. Pengkajian dari kidung sendiri adalah pengkajian dari teologi tertinggi dalam pemulihan Tuhan. Mempelajari daftar isi dari kidung kita sampai kita sepenuhnya memahaminya dan menemukan dasar dari kebenaran Alkitab dari tiap kidung akan memerlukan waktu paling sedikit empat tahun. Buku-buku rohani kita dan pelajaran hayat kita adalah ekspresi dari kebenaran secara tertulis, dan kidung kita adalah perubahan dari kata-kata ke dalam puisi dan lirik. Untuk mengarang suatu kidung adalah untuk mencapai puncak, mencapai titik yang akhir, dari pengkajian akan kebenaran…Saya berharap bahwa kita semua dapat belajar kebenaran yang terkandung dalam kidung kita dengan sungguh-sungguh. (Four Crucial Elements—Christ, The Spirit, Life, Church, hal. 135-136)
Tidaklah mudah memilih kidung yang tepat. Kidung Inggris yang kita susun memiliki seribu delapan puluh kidung di mana lebih dari dua ratus ditulis oleh kita. Sisanya delapan ratusan dikoleksi dari antara sepuluh ribu kidung. Kita dapat berkata bahwa yang terbaik dari kidung ditulis sepanjang abad, termasuk kidung Pentakosta tertentu, hampir keseluruhannya termasuk dalam kidung kita. Daftar isi pada permulaan kidung kita menunjukkan bahwa pengetahuan kita akan kebenaran sangat almuhit. …Kita memiliki fokus dan penekanan, dan kita tidak memotong diri kita dari kebenaran. Hari ini tidak ada koleksi lain seperti kidung kita yang meliputi semua kebenaran utama. Ketika kita mengeluarkan kidung Inggris kita, seorang saudari tua dari Amerika yang telah menghabiskan beberapa tahun di China, membaca daftar isi dan memberitahu kita bahwa sangatlah berharga karena semua aspek dari kebenaran tercakup di dalamnya. Kita melakukan ini karena kita menginginkan saudara dan saudari untuk mengetahui kebenaran di setiap sisi, namun kita masih memiliki penekanan dan fokus. Ini secara khusus ternyata dalam lebih dari dua ratus kidung yang ditulis oleh kita, beberapa secara ekslusif mengenai Roh itu dengan roh kita dan dua roh mejadi satu roh. (hal. 85-86)
Standar, Perasaan, Penyusunan Kata, dan Nada Kidung
Nyanyian kidung dari kaum saleh dalam sidang-sidang dimulai oleh Daud dalam Perjanjian Lama. Hari ini yang disebut melodi yang sakral (sacred melodies) diturunkan dari Daud, kemudian kepada gereja Katolik, dan kemudian dari gereja Katolik kepada gereja protestan. Mereka yang mengetahui musik seharusnya memahami bahwa yang disebut sacred music-hymnology memiliki gayanya yang unik, yang agung dan khidmat. Setelah Perang Dunia Kedua, orang Amerika, yang selalu menyukai hal yang baru, menyebut nada yang sakral sebagai “Old Timers” dan karenanya mengabaikannya; sebaliknya mereka mengarang beberapa nada baru. Setelah tiga puluh tahun, hampir semua nada baru tidak mampu dipertahankan sebab mereka tidak cukup agung; oleh karenanya, tidak banyak di antara mereka yang berharga. Namun, kita memilih beberapa dari nada baru yang cukup berharga dan memasukkan mereka dalam kidung kita. Misalnya, ada kidung yang disebut “Di dalam taman.” Isi kidung ini adalah gambaran bagaimana Maria Magdalena bertemu Tuhan Yesus di taman pada pagi hari kebangkitan-Nya, dan bagaimana keduanya bercakap-cakap dan bersekutu satu dengan yang lain. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu ketika saya mendengar nada dari kidung ini, saya memakainya untuk menyusun Kidung #382, “Kristus Mulia Juru’slamat.” Ini juga nada yang kita gunakan untuk kidung injil kita…kidung yang bagus semua memiliki nada yang khidmat. (Vessels useful to the Lord, hal. 7-8, dalam bahasa China)
PRAKTEK MENYANYIKAN KIDUNG
Obyek kepada Siapa Kita Menyanyi
Terhadap Allah
Obyek dari puisi ini adalah Allah. Kebanyakan dari mazmur di kitab Mazmur adalah puisi yang diarahkan kepada Allah. Mazmur 51 adalah mazmur yang terkenal dari doa kepada Allah. Semua kidung pujian, ucapan syukur, dan doa dinyanyikan bagi Allah.
Terhadap Manusia
Mazmur lainnya ditujukan kepada manusia. Mazmur 37 dan 133 adalah contoh dari mazmur sedemikian. Kidung sejenis ini memberitakan kepada manusia atau mendorong orang-orang di Perjanjian Lama untuk pergi kepada Allah. Semua kidung injil dan kidung nasihat dinyanyikan kepada manusia.
Kolose 3:16 mengatakan, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Di sini kita melihat bahwa mazmur dan kidung dapat digunakan untuk mengajar dan menegur. Ini terhadap manusia. Namun pada waktu yang sama, ia mencakup “bernyanyi dengan kasih karunia dalam hatimu kepada Allah.” Ini juga terhadap Allah. Karena itu, bahkan kidung yang diarahkan kepada manusia juga diarahkan kepada Allah.
Di dalam gereja seharusnya tidak banyak kidung yang diarahkan kepada manusia. Di kitab mazmur, nyanyian semacam ini menduduki bagian yang kecil. Kita dapat memiliki kidung yang diarahkan kepada manusia, tetapi tidak tepat untuk memiliki banyak kidung yang sedemikian, kita disimpangkan dari tujuan utama dari kidung. Sasaran utama dari kidung adalah mengarahkan manusia terhadap Allah.
Terhadap Diri Sendiri
Masih ada kidung jenis ketiga dalam Alkitab – kidung yang dinyanyikan untuk diri kita sendiri. Banyak bagian di dalam kitab Mazmur termasuk frase O jiwaku! Semua kidung ini diarahkan kepada diri sendiri. Mazmur 103 dan 121 adalah contoh yang bagus dari kidung sedemikian. Kidung jenis ini adalah persekutuan seseorang dengan jiwanya sendiri. Adalah seseorang berbicara dengan hatinya sendiri dan bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Setiap orang yang mengenal Allah mengetahui arti persekutuan dengan hatinya sendiri. Ketika seseorang memiliki persekutuan dengan Allah, dia secara spontan belajar bagaimana bersekutu dengan hatinya sendiri. Pada waktu sedemikian, seseorang bernyanyi bagi dirinya sendiri, berteriak bagi dirinya sendiri, menujukan pada dirinya sendiri, dan mengingatkan dirinya sendiri. Kidung yang sedemikian seringkali berakhir dengan berbalik kepada Allah. Seseorang mungkin mulai dengan bersekutu dengan hatinya sendiri, namun tanpa kecuali dia mengakhirinya dengan persekutuan dengan Allah.
Terhadap Satu dengan Yang Lain
Baik Kolose 3:16 dan Efesus 5:19 berbicara tentang perkara menyanyi bersama. Di dalam menyanyi bersama, setelah seorang saudara menyanyi, saudara lainnya merespon dengan nyanyian. Saudara pertama mungkin bernyanyi lagi, dan saudara lainnya merespon lagi. Atau beberapa saudara dapat bernyanyi dan kelompok saudara lainnya bernyanyi.
Ada perkara seperti menyanyi satu dengan yang lain di dalam Alkitab. Karena itu, kita seharusnya menyanyi satu dengan yang lain. Kita mungkin menyanyi bergantian bait demi bait, antara saudari dan saudara, antara satu orang dengan seluruh jemaat, atau antara kelompok-kelompok yang berbeda. Orang yang duduk di depan dapat bernyanyi bergantian dengan mereka yang duduk di belakang, atau yang duduk di sebelah kiri dapat menyanyi bergantian dengan mereka yang duduk di sebelah kanannya. Semua ini adalah cara yang baik untuk bernyanyi. (Messages for Building Up New Believers, vol. 1, hal. 241-243)
Melatih Roh Kita melalui Menyanyikan Kidung
untuk Dipenuhi dengan Roh Kudus
Kalian perlu melatih rohmu. Ketika kalian melatih rohmu dan memakai rohmu, Roh Kudus akan memenuhi rohmu. Cara terbaik untuk melatih roh kalian adalah melalui doa dan menyanyi. Saya mendorong kalian untuk mencobanya. Tetaplah berdoa dan tetaplah bernyanyi. Semakin kalian berdoa dan semakin kalian bernyanyi, semakin kalian melatih rohmu. Hasilnya adalah roh kalian akan dipenuhi dengan Roh Kudus. Ketika kalian datang ke sidang, secara spontan kalian akan berbicara dan bernyanyi dengan mazmur dan kidung…Saya berharap semua dapat dengan sungguh-sungguh belajar kebenaran yang menjadi isi kidung kita. (Meeting to Speak the Word of God, hal. 36)
Membicarakan Kristus dengan Kidung
Di dalam sidang rumahan kita, kita juga perlu memberitakan dan mengajarkan Yesus. Kita semua harus berbicara! Tetapi banyak orang di antara kita tidak mengetahui bagaimana harus berbicara. Karena alasan ini saya ingin membagikan kepada kalian bahan-bahan bagi pembicaraan kalian. Dalam kidung kita, kita memiliki seribu delapan puluh kidung. Kita mengkoleksi semua kidung terbaik dari tulisan-tulisan Kristen. Lebih dari sepuluh ribu kidung kita hanya memilih kira-kira delapan ratus. Setelah dipilih, saya mencoba yang terbaik untuk mengelompokkan mereka ke dalam daftar isi untuk isi kidung. Saya meminta orang-orang muda untuk mempelajarinya. Daftar ini menghabiskan empat setengah halaman dengan tiga puluh kategori kidung. Dalam tiga puluh kategori ini ada lebih dari empat ratus butir. Di dalam kategori Pengalaman akan Kristus ada tiga puluh dua butir. Butir-butir ini adalah kekayaan Kristus. (Divine Speaking, hal. 21)
Dalam Efesus 5:18-19 Paulus berkata, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Kita dipenuhi dengan Allah Tritunggal sebagai Roh yang almuhit dan rampung dalam roh kita. Pemenuhan ini terjadi, bukan melalui pembicaraan kita dalam bahasa yang umum dan duniawi, melainkan melalui berbicara satu dengan yang lain dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Dalam kidung kita ada banyak kidung yang bagus penuh dengan kebenaran. Setiap kidung, terutama mereka yang ditulis oleh kita, adalah berita-berita yang baik penuh dengan kekayaan Kristus…Kita harus belajar membicarakan Kristus dengan kidung. (hal. 23-24)
Sidang-sidang kita, apakah sidang rumahan, sidang kelompok, atau bahkan sidang yang lebih besar, adalah suatu perkara pembicaraan Firman Tuhan dengan roh. Satu Korintus 14:26 mengatakan, “Kapankala kamu datang bersama-sama, setiap orang memiliki mazmur…” Di dalam mentalitas kita, sekali suatu mazmur disebutkan, kita berpikir tentang bernyanyi. Namun, Perjanjian Baru menunjukkan kepada kita bahwa mazmur tidaklah utamanya untuk bernyanyi, melainkan untuk berbicara. Efesus 5:18-19 mengatakan, “kamu penuh dengan Roh dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hatimu.” Dari sini kalian dapat melihat bahwa mazmur utamanya adalah untuk berbicara, dan kemudian untuk bernyanyi. Juga, Kolose 3:16, adalah ayat yang sama dengan Efesus 5:19, mengatakan hal yang sama. Dikatakan di sini bahwa kita seharusnya mengajar dan menasihati satu dengan yang lain dalam mazmur, kidung, dan nyanyian rohani. Kita tidak pernah mempaktekkan perkara ini dengan tepat. Kita telah dipengaruhi secara mendalam oleh kekristenan. Sekarang ini, mengenai masalah bersidang, kita harus kembali dengan mutlak kepada Firman Alkitab – untuk mengajar dan menasihati satu dengan yang lain dalam mazmur. (Words of Training for the New Way, hal. 105-106)
Kesimpulannya, jika kita ingin memiliki sidang yang menurut cara alkitabiah, kita harus mengetahui kidung. Kita harus mengetahui poin penting dari kidung, standar kidung, perasaan kidung, penyusunan kata kidung, dan nada kidung. Kita harus ingat bahwa kidung bukan hanya untuk dinyanyikan, namun lebih lagi untuk dibicarakan dalam sidang. Pembicaraan kita dari kidung yang tepat satu dengan yang lain dan nyanyian kita kepada Tuhan akan memperkaya, menghidupkan, mengangkat, menyegarkan, dan menguatkan sidang. (Speaking Christ, hal. 82)
EMPAT FAKTOR UTAMA DARI SIDANG PERJANJIAN BARU—
FIRMAN, ROH, NYANYIAN DAN DOA
Dalam Perjanjian Baru, ekonomi Allah telah membuang segala sesuatu dari Perjanjian Lama. Allah tidak ingin hukum Taurat menjadi pusat dari sidang-sidang umatnya lagi, melainkan Dia ingin Roh-Nya menjadi pusat. Sidang-sidangnya bukan dari huruf, melainkan dari hayat; mereka bukan dari pengetahuan, melainkan realitas. Karena sidang-sidang Perjanjian Baru memiliki Roh Allah sebagai pusatnya, mereka berasal dari hayat dan realitas. (Words of Training for the New Way, Vol 1, hal. 73-74)
Menurut wahyu dalam Perjanjian Baru, sidang umat Allah juga ada dalam prinsip saling. Bahkan ketika seluruh gereja berkumpul bersama, seharusnya dan pastilah dalam hal ini, “setiap orang memiliki” (1 Kor. 14:26). Kalian berbicara, dia berbicara, saya berbicara, dan setiap orang berbicara. Setiap orang berbicara satu sama lainnya dan mendengarkan satu dengan yang lainnya. Ini adalah prinsip yang mengendalikan sidang dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. (Words of Training for the New Way, Vol. 2, hal. 42)
Ketika kita dipenuhi dalam roh, penuh dengan Roh, empat faktor utama dari sidang kita– Firman, Roh, nyanyian dan– semua akan menjadi berguna. Empat faktor utama ini berhubungan dengan Roh. Tanpa Roh, firman mati. Tanpa Roh, nyanyian dan doa juga mati. Semua nyanyian kita seharusnya mengalir dari roh dan dinyanyikan dari roh…Bagaimanapun juga, kita harus menjadi orang yang hidup, dipenuhi dengan Roh Kudus, supaya bersyarat memiliki sidang-sidang Kristen. (Words of Training for the New Way, Vol. 1, hal. 80)
Ada poin penting lainnya seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru; yaitu dalam sidang-sidang ini, pertama-tama, perlu ada firman. Setiap orang seharusnya membicarakan firman Allah. Kedua, perlu ada Roh. Setiap orang seharusnya melatih roh dan menjadi hidup. Ketiga, perlu berdoa. Keempat, perlu bernyanyi. Empat butir ini, firman, Roh, doa dan nyanyian seharusnya menjadi isi dari sidang-sidang kita. Alasan dari sidang rumahan dan sidang kelompok kita tidak baik adalah bahwa firman tidak dibicarakan dengan tepat, roh tidak dileluasakan, doanya miskin, dan nyanyiannya kurang. Jika empat hal ini tidak dilaksanakan dengan tepat, sidang-sidang kita akan habis, dan tidak akan ada yang mau datang lagi. (hal. 71-72)
Pertanyaan-pertanyaan: