← Daftar isi Pelatihan DI Pemulihan Tuhan · bab 17/24

MENANGGULANGI HATI NURANI

Pembacaan Alkitab: Kidung: 241

Roma 2:14-15 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Ibrani 9:14 Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup?

1 Timotius 3:9 Melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.

I. Sumber dan posisi hati nurani:

A. Hati nurani manusia diciptakan oleh Allah pada waktu Dia menciptakan manusia—Kej. 2:7.

B. Setelah kejatuhan manusia, fungsi hati nurani berkembang dan dinyatakan—Kej. 3:7.

C. Hati nurani adalah salah satu fungsi roh manusia (organ yang dengannya manusia pakai untuk berkontak dengan Allah)—Rm. 9:1.

II. Fungsi hati nurani:

A. Pada waktu kejatuhan manusia, hati nurani manusia mulai memikul tanggung jawab untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat—Kej. 3:6-7.

B. Hati nurani manusia memampukan manusia untuk mengetahui apa yang Allah benarkan dan apa yang Allah hakimi, apa yang Allah kasihi dan apa yang Allah benci—Rm. 2:15.

C. Fungsi hati nurani adalah mewakili Allah memerintah atas manusia menurut sifat hukum Allah yang telah Allah ciptakan dalam hati manusia—Rm. 2:14-15.

D. Perasaan-perasaan hati nurani dikesampingkan saat manusia jatuh lebih dalam lagi dalam dosa—Titus 1:15; 1 Tim. 4:1-2; Ef. 4:19.

E. Ketika manusia diselamatkan dan dilahirkan kembali, Roh Kudus masuk ke dalam roh manusia untuk menghidupkan roh insaninya menyebabkan perasaan hati nuraninya dipulihkan dan menjadi lebih peka—Yoh. 3:6; Ef. 2:5; Kol. 2:12-13.

III. Menanggulangi hati nurani:

A. Dasarnya—darah Kristus—Ibr. 9:14.

B. Sasarannya—hati nurani itu sendiri bukanlah sasaran penanggulangan, namun perasaan hati nurani—Ef. 4:19.

C. Tiga kategori perasaan:

1. Perasaan terhadap dosa—Mzm. 51; Mat. 5:23-25.

2. Perasaan terhadap dunia—1 Yoh. 2:15-17.

3. Semua perasaan yang tidak menyenangkan lainnya—Ef. 4:18-19.

D. Batas penanggulangan hati nurani—hayat dan damai sejahtera—Rm. 8:6b.

IV. Hasil menanggulangi hati nurani:

A. Bertingkah laku dengan hati nurani yang baik di hadapan Allah, yang adalah perpalingan yang besar kepada Allah—Kis. 23:1, cat. 3.

B. Memegang iman dan hati nurani yang baik, sehingga kita terlindung dari menjadi kandas sehubungan dengan iman kita—1 Tim. 1:19, cat. 1-3.

C. Suatu hati nurani yang disucikan tanpa campuran, untuk memegang rahasia iman—1 Tim. 3:9, cat. 2; 2 Tim. 1:3.

D. Menyucikan hati nurani kita dari pekerjaan-pekerjaan yang mati untuk melayani Allah yang hidup—Ibr. 9:14, cat. 3.

E. Maju dengan hati yang benar dalam keyakinan iman yang penuh, memiliki hati yang dipercik dari kejahatan hati nurani—Ibr. 10:22.

F. Sebab kita yakin bahwa kita memiliki hati nurani yang baik, di dalam segala hal menginginkan hidup yang lebih baik—Ibr. 13:18.

G. Karena kemegahan kita adalah ini, kesaksian dari hati nurani kita—2 Kor. 1:12 cat. 1.

Buku-buku Referensi: Pengalaman Hayat, bab 6; The Pure in Heart, bab 6

Cuplikan Berita Minsitri:

Seorang Kristen yang ingin bertumbuh dalam hayat harus melakukan tiga hal: pertama, dengan tuntas mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah; kedua dengan teliti menanggulangi dosa-dosanya di hadapan manusia; dan ketiga, mempersembahkan diri kepada Allah secara mutlak. Jika kaum kudus bersedia mengambil tiga hal ini kepada Tuhan dan melaksanakannya dengan serius, mereka tentu akan memiliki kemajuan hayat. Namun, jika mereka hanya mengambil kata-kata ini sebagai doktrin, mereka tidak akan menerima banyak bantuan. Perkataan ini adalah panduan; hanya ketika kaum kudus dengan serius berjalan di jalan Tuhan maka perkataan ini menjadi bermanfaat bagi mereka. Pengalaman dari perkara-perkara ini–mengakui dosa-dosa kepada Allah, mengakui kesalahan kita di hadapan manusia, dan mempersembahkan diri dengan mutlak kepada Allah–dapat berbeda-beda dalam urutannya. Ketiga perkara ini seperti tiga utas tali, dan tidak seorang pun yang mengambil jalan Tuhan mengabaikan mereka.

Lagi pula, setelah seorang Kristen dengan tuntas mengakui dosa-dosanya, dengan teliti menanggulanginya, dan mempersembahkan dirinya kepada Allah, dia juga harus menanggulangi hati nuraninya. Ini adalah jalan yang perlu diambil oleh orang Kristen. Setelah kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, menanggulangi dosa kita di hadapan manusia, dan mempersembahkan diri kita kepada Allah, kita akan dengan segera memiliki perasaan yang dalam di dalam kita. Perasaan ini bukan hanya kesadaran dari pikiran kita, namun suatu perasaan di kedalaman diri kita yang berhubungan dengan hati nurani kita dan mendapatkan damai sejahtera dalam hati nurani kita. Karena itu, ini sangat-sangat penting untuk mengetahui asal usul, kedudukan, dan fungsi dari hati nurani.

ASAL USUL, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI HATI NURANI

Dengan kata yang sederhana, hati nurani berasal dari Allah. Orang-orang yang mengenal Allah seharusnya mengetahui bahwa sebelum kejatuhan Adam manusia hidup di hadapan Allah dan tidak memerlukan hati nurani. Misalnya, ketika kita ada dalam terang siang hari, kita tidak memerlukan lampu atau penerangan yang lain. Hanya mereka yang tidak menghadap ke matahari yang memerlukan terang. Keperluan akan hati nurani timbul sebagai akibat dari kejatuhan, ketika manusia meninggalkan wajah Allah. Pada awalnya manusia hidup di hadapan Allah, yang dapat disamakan dengan matahari. Mulanya, manusia menerima terang langsung dari Allah. Meskipun terang lilin itu lemah, namun itu bukannya tanpa fungsi; ketika matahari terbenam, terang lilin mulai berfungsi. Ini sama dengan fungsi hati nurani. Ketika manusia hidup di hadapan Allah dan memiliki terang Allah, hati nurani tidak dipakai dan fungsi hati nurani tidak dinyatakan sebab manusia tidak memerlukannya di hadapan Allah. Kita melihat dari sejarah manusia bahwa manusia jatuh tidak lama setelah dia diciptakan. Dia jatuh dari terang ke dalam kegelapan. Setelah kejatuhan ada jarak, suatu penghalang, antara Allah dan manusia. Pada poin ini Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa Allah mengambil langkah yang pasti untuk mengaktifkan fungsi hati nurani manusia. Ini mungkin dapat diserupakan dengan lampu yang bersinar ketika langit mulai gelap. Kita harus mengetahui bahwa fungsi hati nurani diaktifkan setelah kejatuhan manusia.

Kedudukan hati nurani mewakili atau dapat kita katakan berdiri di tempat Allah di dalam manusia. Maka, meskipun hidup menurut hati nurani itu baik, namun itu bukan kondisi yang tertinggi. Kondisi yang tertinggi adalah bahwa manusia hidup di hadapan Allah secara langsung. Mengapa kita perlu lampu? Kita perlu lampu karena langit gelap. Mengapa kita perlu hati nurani? Kita perlu hati nurani karena manusia jatuh. Sejak manusia jatuh dan meninggalkan wajah Allah, Allah dituntut untuk memakai hati nurani sebagai perwakilan-Nya dalam menerangi manusia. Sejarah manusia dapat dibagi menjadi beberapa dispensasi. Dispensasi pertama disebut dispensasi hati nurani; yaitu waktu manusia menerima pemerintahan langsung dari Allah. Setelah kejatuhan dispensasi kedua, dispensasi hati nurani dimulai. Pada waktu itu manusia memiliki baik dosa dan hati nurani di dalamnya. Meskipun manusia telah jatuh ke dalam kegelapan dosa, Allah masih menyediakan hati nurani, sebuah lampu bagi manusia. Hati nurani manusia masih mampu menerangi dan menyatakan fungsinya. Inilah bagaimana hati nurani diaktifkan.

Kejatuhan manusia bukanlah sebagian namun kejatuhan yang lengkap, dan terus jatuh. Manusia tidak tinggal di bawah pemerintahan hati nurani namun dia terus jatuh. Bagaimanakah manusia jatuh lebih lanjut lagi? Kita melihat dari sejarah manusia bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa mengalami kemajuan. Pertama, manusia jatuh ke dalam hati nurani, dan hati nuranilah yang menerangi dan memerintah atas manusia. Namun manusia tidak mampu berdiri teguh di bawah pemerintahan hati nurani, dan begitulah dari sana dia jatuh lagi. Setelah langkah pertama kejatuhan manusia, manusia memiliki hati nurani di dalamnya yang mewakili Allah untuk memerintah atas manusia. Namun manusia mengabaikan hati nuraninya dalam segala sesuatu yang dia lakukan dan karenanya jatuh lagi. Pada zaman hukum Taurat dimulai, dan manusia mulai dihukum karena tidak mentaati hukum bangsa-bangsa, dan manusia telah jatuh sampai pucaknya. (Pure in Heart, hal. 59-61)

Setelah kejatuhan manusia dan diusirnya dari taman Eden (Kej. 3:23), Allah di dalam pengaturan ekonomi-Nya menghendaki manusia bertanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri. Tetapi tidak hidup dan berperilaku menurut hati nuraninya, malah jatuh lebih jauh lagi ke dalam perbuatan jahat. (Kej. 6:5). Setelah penghakiman oleh air bah, Allah menetapkan manusia akan berada di bawah pemerintahan manusia (Kej. 9:6), tetapi manusia juga gagal dalam hal ini. Kemudian Allah berjanji kepada Abraham bahwa bangsa-bangsa akan mendapat berkat di dalam keturunannya, Kristus (Kej. 12:3; Gal. 3:8). Sebelum janji ini digenapi, terlebih dulu Allah menaruh manusia di bawah ujian hukum Taurat (Rm. 3:20; 5:20). Tetapi juga manusia gagal total dalam ujian ini. Semua kegagalan ini menunjukkan bahwa manusia telah jatuh dari Allah ke hati nurani, dari hati nurani ke pemerintahan manusia, dan dari pemerintahan manusia ke kedurhakaan; artinya, manusia telah jatuh ke titik yang paling rendah. Karena itu, hidup dengan hati nurani yang tidak bercela di hadapan Allah, seperti yang Paulus lakukan, adalah satu perpalingan dari kejatuhan manusia kepada Allah. (Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan, Kisah Para Rasul 23:1, catatan 3, hal. 588)

Ketika kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, Roh Kudus masuk ke dalam kita dan menghidupkan roh kita, memberi kita roh yang baru (Yeh. 36:26). Pada saat ini, ketiga fungsi roh kita dipulihkan. Kita dapat dengan bebas bersekutu dengan Allah, mengetahui kehendak-Nya secara langsung, dan dengan tajam membedakan manakah yang benar dan salah. Karena itu, hari ini, fungsi roh tidak sama lagi dengan fungsinya setelah kejatuhan. Dan keadaannya juga tidak sama dengan keadaan sebelum kejatuhan. Sekarang, ketiga fungsi itu ada bersamaan; selain itu, semuanya kuat dan tajam. (Pengalaman Hayat, hal. 132-133)

MENANGGULANGI HATI NURANI

Setiap orang yang diselamatkan harus menanggulangi hati nuraninya. Jika dia tidak menaggulangi hati nuraninya, dia tidak akan ada damai sejahtera di dalam. Jika dia tidak menanggulangi hati nuraninya, dia tidak mampu berdoa dengan tepat. Jika dia tidak menanggulangi hati nuraninya, pembacaan Alkitabnya akan hambar dan pemberitaan injilnya tidak ada kekuatan. Jika dia tidak menanggulangi hati nuraninya, dia tidak akan mampu berjalan di jalan yang terbentang di depannya. Semua orang yang diselamatkan harus melalui tahapan penanggulangan hati nuraninya jika ingin lebih jauh lagi melangkah. Hati nurani kita seperti jendela dan diri kita seperti ruangan; terang yang diterima ruangan (diri kita) harus melewati jendela (hati nurani kita). Asalnya, tidak ada terang di dalam kita, hanya ada kegelapan, tetapi hati nurani kita seperti jendela yang membiarkan terang itu masuk.

Sebelum kita diselamatkan, hati nurani kita seperti jendela yang sangat kotor dilapisi dengan debu yang melaluinya terang tidak dapat menembus. Ini menghasilkan suatu keadaan kegelapan yang total di dalam diri kita. Namun, sekali kita diselamatkan, Roh Kudus masuk ke dalam dan menerangi hati kita, menyebabkan manusia batiniah kita penuh terang. Pada waktu itulah kita merasa bahwa kita salah. Kemudian kita harus bertobat dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, dan kita seharusnya menanggulangi dosa-dosa kita di hadapan manusia. Setiap waktu kita mengakui atau menanggulangi dosa, kita melap jendela yang berdebu itu sekali. Hal yang ajaib adalah sebelum kita melap jendela, kita tidak tahu betapa kotornya jendela itu; semakin dilap, semakin kotorannya kelihatan. Sekali kita melap jendela dengan tipis, semua kotoran yang berminyak muncul. Kemudian, ketika sinar matahari bersinar melalui jendela, kelihatan lebih kotor. Namun, pada akhirnya jendela akan menjadi bersih.

Ini sama dengan hati nurani kita. Ketika kita pertama kali diselamatkan, kita mungkin berpikir bahwa kita telah melakukan sedikit kesalahan di hadapan Allah, tetapi setelah kita mulai mengakui kesalahan-kesalahan itu, kita segera melihat banyak dosa yang lebih besar. Pada akhirnya, semakin kita menanggulangi dosa, semakin sedikit dosa yang kita miliki. Ini seperti melap jendela: semakin kita melapnya, semakin sedikit kotorannya yang berminyak. Sebagai hasil dari proses ini, kita memiliki damai di dalam dan secara spontan dapat berdoa dengan mudah kepada Allah. Ketika hujan mencipratkan lumpur atau pasir ke jendela yang kotor, kita hampir tidak melihat sesuatu di dalam rumah; tetapi, setelah jendela itu dibersihkan, ketika ada sedikit pasir atau lumpur terciprat ke jendela, kita akan mengetahuinya dengan segera. Banyak orang telah melakukan sesuatu yang salah namun tidak merasakan bahwa mereka salah. Ini membuktikan bahwa mereka tidak pernah menanggulangi hati nuraninya. (Pure in Heart, hal. 67-68).

Dasar Penanggulangan Hati Nurani—Darah Kristus

Darah Kristus menyucikan hati nurani kita, agar kita melayani Allah yang hidup. Untuk melayani Allah yang hidup, kita perlu hati nurani yang disucikan oleh darah. Untuk melayani dalam agama yang mati atau melayani hal-hal yang mati, hal-hal yang di luar Allah, hati nurani kita tidak perlu disucikan. Hati nurani adalah bagian utama roh kita. Allah yang hidup yang ingin kita layani selalu datang ke roh kita (Yoh. 4:24) dengan menjamah hati nurani kita. Dia itu benar, kudus, dan hidup. Hati nurani kita yang tercemar perlu disucikan agar kita dapat melayani Dia dengan cara yang hidup. Untuk menyembah Allah di dalam pikiran secara agamawi, kita tidak memerlukan hal ini. (Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan, Ibrani 9:14, catatan 3, hal. 1097)

Sasaran Penanggulangan Hati Nurani

Sebenarnya, bukan hati nurani itu sendiri, melainkan perasaan dari hati nurani yang merupakan sasaran penanggulangan kita. Selain perasaan yang prematur, perasaan yang terlalu peka, dan perasaan dari tuduhan serta serangan Iblis, semua perasaan hati nurani yang normal adalah sasaran penanggulangan hati nurani kita. (Pengalaman Hayat, hal. 168-169)

Sepanjang zaman, kaum kudus yang memiliki penuntutan dalam hayat mengakui bahwa hati nurani adalah jendela roh kita sama seperti mata adalah jendela tubuh kita. Jendela itu sendiri tidak memiliki terang; semua terang ditransmisi dari sumber yang lain. Demikian juga hati nurani. Walaupun kita tidak berani berkata bahwa hati nurani itu sendiri tidak memiliki perasaan sama sekali, kita dapat berkata bahwa sebagian besar dari perasaanya datang dari bagian yang berdekatan: pikiran, emosi, tekad, intuisi, persekutuan, hayat Allah, dan Roh Allah. Ketujuh bagian yang berdekatan ini memiliki perasaan. Ketika perasaan mereka menembus ke hati nurani, perasaan mereka menjadi perasaan hati nurani. Inilah asal usul perasaan hati nurani. (hal. 143)

Menanggulangi Tiga Kategori Perasaan Hati Nurani

Perasaan hati nurani kaum kudus terdiri dari banyak aspek. Seseorang yang memiliki hati nurani yang peka akan memiliki perasaan hati nurani dalam segala hal. Perasaan-perasaan dari hati nurani ini dapat dibagi menjadi tiga kategori: Pertama perasaan terhadap dosa. Dalam bab mengenai menangggulangi dosa kita telah mengatakan bahwa dasar menanggulangi dosa adalah perasaan batiniah. Perasaan batiniah ini adalah perasaan hati nurani. Jika kita berdosa di hadapan Allah atau di hadapan manusia, hati nurani akan dengan segera memiliki perasaan menghakimi. Ini adalah kategori pertama dari perasaan hati nurani.

Kategori kedua adalah perasaan terhadap dunia. Dalam bab mengenai menanggulangi dunia kita telah mengatakan bahwa dasar untuk menanggulangi dunia juga adalah perasaan batiniah. Perasaan batiniah ini tetap adalah perasaan hati nurani. Jika kita mengasihi hal-hal lain atau dipenuhi oleh sesuatu di luar Allah, hati nurani juga akan memberi kita perasaan dihakimi. Inilah kategori kedua dari perasaan hati nurani.

Di samping dua kategori perasaan hati nurani ini, ada kategori ketiga: yaitu perasaan tidak damai terhadap hal-hal selain dosa dan dunia. Ada hal-hal tertentu yang bukan berdosa juga bukan dunia, tetapi hal-hal ini menyebabkan hati nurani kita kehilangan perasaan damai. Jika kita tidak menanggulangi hal-hal itu, kita tidak dapat melewatkannya. Sebagai contoh, keteledoran dan ketidaktepatan di dalam kehidupan kita sehari-hari bukanlah dosa atau dunia, tetapi hati nurani kita terganggu oleh hal-hal itu. Jika seseorang menyerakkan pakaian dan benda-benda lain, meninggalkan ruangan dalam keadaan yang tidak teratur, hati nuraninya akan menegur dia. Jika karakter kita memiliki kekurangan atau keanehan tertentu, jika tingkah laku kita terhadap yang lain tidak sesuai sebagai orang Kristen, atau jika di hadapan Allah kita memiliki sikap tertentu yang tidak diinginkan atau tidak sesuai, walaupun hal itu bukanlah dosa dan tidak duniawi, hati nurani kita akan terganggu. Semua perasaan tidak damai ini termasuk ke dalam kategori ketiga dari perasaan hati nurani. (hal. 143-145)

Batas Penanggulangan Hati Nurani

Batas penanggulangan hati nurani juga sama dengan batas penanggulangan dosa dan dunia, yaitu “hayat dan damai sejahtera.” Kita harus menanggulangi sampai sedemikian rupa sehingga kita tidak hanya merasakan “damai sejahtera” di dalam, tetapi juga merasakan “hayat.” Ini berarti, tidak hanya merasakan nyaman dan mantap, aman, tetapi juga merasakan dikuatkan, diterangi, dan dipuaskan. Jika tidak, berarti penanggulangan kita kurang tuntas.

Akan tetapi, dalam pengalaman, perasaan “hayat dan damai sejahtera” semacam ini tidak selalu dapat dipertahankan tanpa perubahan. Sebaliknya, setelah beberapa waktu, kita mungkin merasa kosong kembali dan bingung, tidak tenteram, dan tidak mantap, sepertinya perasaan hayat dan damai sejahtera itu kembali hilang. Ada dua penyebab untuk keadaan ini. Pertama adalah keteledoran dan kegagalan kita, yang menyebabkan kita tercemar lagi dan dikuasai oleh hal-hal yang tidak diperkenan Allah. Kedua adalah karena begitu kita menaati perasaan hayat, kita mendapatkan suplai hayat, maka hayat kita bertumbuh, sorotan terang Roh Kudus bertambah, dan permintaan hayat Allah yang di dalam kita juga makin tinggi. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan kita tidak merasakan hayat maupun damai sejahtera.

Mula-mula, perasaan semacam ini adalah perasaan yang membuat kita samar-samar merasa kekurangan hayat, membuat kita tidak lagi merasa “hidup.” Setiap kali kita merasa kekurangan hayat, kita harus tahu bahwa Allah memiliki pelajaran yang lebih lanjut di dalam batin kita untuk kita pelajari, ada perkara lagi yang harus kita tanggulangi. Pada saat ini, jika kita masuk lebih dalam ke hadapan-Nya, menengadah kepada sorotan terang wajah-Nya, Allah akan maju selangkah lagi dan menunjukkan kepada kita perkara apa yang perlu ditanggulangi. Ketika terang atas perkara itu menjadi jelas, perasaan kita yang samar-samar mengenai kekurangan hayat menjadilah perasaan yang pasti yang merasa tidak damai. Perasaan tidak damai ini adalah perasaan hati nurani. Saat ini, kita harus menanggulangi sesuai dengan perasaan ini sampai kita kembali memulihkan keadaan hayat dan damai sejahtera dalam batin. Siklus penanggulangan yang berulang demikian akan membersihkan kita sekali demi sekali dam membawa kita maju dalam jalan hayat. (hal. 171-172)

HASIL MENANGGULANGI HATI NURANI

Dalam Kisah Para Rasul 24:16 Paulus berkata, “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Hati nurani yang tidak bercela adalah hati nurani yang tanpa lubang atau kebocoran. Jika kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah dan menanggulangi dosa kita di hadapan manusia, manusia batiniah kita akan menjadi tanpa dosa-dosa dan hati nurani kita menjadi murni. Kita dapat melayani Allah hanya dengan hati nurani yang murni. Jika kita ingin pelayanan kita menjamah Allah, kita harus melayani dengan hati nurani yang murni. Jika hati nurani kita tidak murni, bukan hanya doa kita tidak dijawab, tetapi mereka juga tidak akan pernah menjamah Allah. Beberapa hati nurani orang seperti kapal yang kandas. Meskipun beberapa orang telah mengabaikan hati nuraninya, mereka yang telah diselamatkan tidak seharusnya meremehkan kesalahan yang kecil; sebaliknya kita harus menanggulanginya dengan tuntas. Kita tidak perlu mendorong orang untuk menjadi antusias, sebab antusias yang membabi buta tidak akan memberi keuntungan. Jika kita ingin mengikuti Tuhan dalam hayat untuk berjalan di jalan di depan kita, kita harus mengikuti Dia dan memenuhi prinsip-Nya. Jika kita ingin melayani dan menjamah Allah, kita harus selalu memiliki hadirat Allah di dalam kita, dan kita harus penuh dengan terang dan memiliki iman sepanjang waktu. Dalam jalan ini, terang, wahyu, hayat, dan kuasa akan menjadi pengalaman kita yang konstan. Selama kita dengan tuntas menanggulangi hati nurani, kita akan mampu berjalan di jalan ini dengan jalan yang lurus dan tepat. (Pure in Heart, hal. 69-70)