← Daftar isi Pelatihan DI Pemulihan Tuhan · bab 16/24

PERSEKUTUAN HAYAT

Pembacaan Alkitab: Kidung: 533

1 Yohanes 1:2-3 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

1 Yohanes 1:7, 9 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

I. Sumber persekutuan hayat—hayat kekal—1 Yoh. 1:2-3.

II. Makna persekutuan hayat—1 Yoh. 1:3 cat. 3:

A. Persekutuan, dalam bahasa Yunani berarti partisipasi bersama, partisipasi secara umum.

B. Persekutuan adalah hasil dari hayat kekal dan sebenarnya aliran dari hayat kekal di dalam semua kaum beriman, yang telah menerima dan memiliki hayat ilahi–Why. 22:1.

C. Persekutuan di sini mengacu kepada penanggalan semua kepentingan pribadi dan penyatuan dengan orang lain untuk tujuan bersama.

III. Dua aspek persekutuan hayat:

A. Persekutuan dengan rasul-rasul dan gereja yang mereka wakili—1 Yoh. 1:2-3; 1 Kor. 12:28; Kis. 2:41-42.

B. Persekutuan dengan Allah dan Tuhan Yesus—1 Yoh. 1:3.

IV. Sarana persekutuan hayat—Roh Kudus–persekutuan Roh Kudus—2 Kor. 13:13.

V. Tanggung jawab kaum beriman sehubungan dengan persekutuan hayat:

A. Bertekun—Kis. 2:42.

B. Menaati pengajaran pengurapan—1 Yoh. 2:27.

C. Berjalan di dalam terang—1 Yoh. 1:7.

D. Mengakui dosa-dosa kita—1 Yoh. 1:7-9.

VI. Hasil persekutuan hayat:

A. Menerima terang Allah—1 Yoh.1:5-7.

B. Menerima pembasuhan Tuhan dengan darah-Nya—1 Yoh. 1:7.

C. Menerima tinggalnya Tuhan di dalam—Yoh. 15:5.

D. Menghasilkan banyak buah untuk memuliakan Allah—Yoh. 15:5, 8.

VII. Gangguan persekutuan hayat:

A. Hubungan antara kaum beriman dan Allah tidak dapat dirusak—Yoh.10:28-29.

B. Persekutuan antara kaum beriman dan Allah dapat diganggu—1 Yoh. 1:7.

VIII. Pemulihan persekutuan hayat—melalui pengakuan dosa-dosa kita—1 Yoh. 1:9, 7.

Buku-buku Referensi: Pengenalan Hayat, bab 6; Pokok-pokok Penting dalam Alkitab, vol. 4, pel. 22; Catatan Kaki Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan; Pelajaran Hayat, pel. 31.

Cuplikan Berita Ministri:

SUMBER PERSEKUTUAN HAYAT

Dari mana datangnya persekutuan hayat? Apa menyebabkannya? Dari mana itu berasal? Satu Yohanes 1:2-3 mengatakan, “….kami (para rasul) bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, ….supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para rasul memberitakan tentang “hayat kekal” kepada kita supaya kita beroleh “persekutuan.” Hayat kekal adalah hayat Allah, dan hayat Allah masuk ke dalam kita sehingga memungkinkan kita beroleh persekutuan. Karena persekutuan ini berasal dari hayat Allah, maka persekutuan ini berasal dari hayat. Jadi persekutuan hayat datang dari hayat Allah; ada karena hayat Allah; berasal dari hayat Allah; dan dibawa kepada kita oleh hayat Allah. Begitu di dalam kita mendapatkan hayat Allah, hayat Allah ini membuat kita memperoleh persekutuan hayat. Karena itu, hayat Allah merupakan sumber persekutuan hayat. (Pengenalan Hayat, hal. 74)

MAKNA PERSEKUTUAN HAYAT

Istilah Yunaninya berarti partisipasi bersama, partisipasi secara umum. Persekutuan adalah pengaliran hayat kekal, dan sebenarnya merupakan pengaliran hayat kekal dalam semua orang beriman, yang telah menerima dan mendapatkan hayat ilahi. Hal ini digambarkan dengan aliran air hayat dalam Yerusalem Baru (Why. 22:1). Semua orang beriman yang sejati ada di dalam persekutuan ini (Kis. 2:42). Persekutuan ini dibawakan oleh Roh itu dalam roh kita yang dilahirkan kembali. Sebab itu, persekutuan ini disebut “persekutuan Roh Kudus” (2 Kor. 13:13) dan “persekutuan roh (kita)” (Flp. 2:1). Dalam persekutuan dari hayat kekal inilah kita, kaum beriman, berbagian dalam segala apa adanya Bapa dan Putra melalui Roh itu; karena itu, dalam Kisah Para Rasul 2:42, persekutuan ini disebut “persekutuan rasul-rasul,” dan dalam ayat ini “persekutuan (rasul) kami,” yaitu persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus. Ini adalah suatu misteri ilahi. Persekutuan misteri dari hayat kekal ini seharusnya dianggap sebagai pokok dari Surat ini.

Di sini, persekutuan menunjukkan penanggalan kepentingan pribadi, dan penyatuan dengan orang lain untuk satu tujuan bersama. Jadi, bersekutu dengan para rasul, mengadakan persekutuan dengan para rasul, dan bersekutu dengan Allah Tritunggal dalam persekutuan rasul, adalah mengesampingan kepentingan pribadi kita, dan bersatu dengan rasul-rasul dan Allah Tritunggal untuk merampungkan ketetapan kehendak Allah. Menurut tulisan Yohanes yang berikutnya, ketetapan kehendak ini ganda: (1) agar kaum beriman bertumbuh dalam hayat ilahi dengan tinggal dalam Allah Tritunggal (2:12-27) dan berdasarkan kelahiran ilahi, menempuh hidup yang berciri kebenaran ilahi dan kasih ilahi (2:28–5:3) untuk mengalahkan dunia, maut, dosa, Iblis, dan berhala (5:4-21); dan (2) agar gereja-gereja lokal terbangun sebagai kaki pelita untuk kesaksian Yesus (Why. 1–3) dan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi penuh Allah, sampai selama-lamanya (Why. 21–22). Partisipasi kita dalam kenikmatan rasul-rasul atas Allah Tritunggal adalah penyatuan kita dengan mereka dan dengan Allah Tritunggal untuk merampungkan ketetapan kehendak ilahi-Nya, yang sudah umum bagi Allah, rasul-rasul, dan semua orang beriman. (Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan, catatan kaki 3 dari 1 Yohanes 1:3)

DUA ASPEK PERSEKUTUAN HAYAT

Persekutuan dengan Para Rasul dan Gereja yang Mereka Wakili

Karena hayat Allah telah masuk ke dalam kita dan semua orang yang mempunyai hayat Allah, maka dengan sendirinya kita mempunyai persekutuan dengan mereka. Persekutuan ini ada di dalam hayat Allah yang sama, sebab itu membuat kita dengan mereka menjadi satu di dalam hayat ini. Kita yang mempunyai hayat ini, meskipun banyak, tetapi hayat yang kita punyai hanya satu. Kita semua bersama-sama mendapatkan hayat Allah yang unik, sebab itu hayat yang kita miliki, tidak saja semacam, juga hanya satu. Dalam satu hayat ini, kita semua tidak saja bisa bersama-sama, bahkan bisa bersatu, bisa dalam kesatuan saling bersekutu. Sama seperti bola lampu di rumah ini bisa bersama-sama dengan ribuan bola lampu di kota ini, bersatu di dalam satu aliran listrik, sehingga bisa saling bersekutu. Ketika kita berjumpa satu saudara atau saudari di dalam Tuhan, kalau tidak ada halangan, dalam kita segera saling bereaksi, saling mempunyai persekutuan, sama seperti di dalam telah mempunyai aliran listrik. Persekutuan semacam ini sangat berharga, akan membuat kita mendapatkan pendirisan dan suplaian hayat. (Pokok-pokok Penting dalam Alkitab, vol. 4, hal. 10)

Persekutuan dengan Allah dan Tuhan Yesus

Hayat Tuhan di dalam kita, di satu pihak, menyebabkan kita mempunyai persekutuan dengan Allah dan Tuhan, di pihak lain juga menyebabkan kita bersekutu dengan gereja yang diwakili oleh rasul-rasul, dan semua orang yang memiliki hayat Tuhan. Sama seperti aliran listrik dalam bola lampu, di satu pihak membuat bola lampu ini bersekutu dengan pusat pembangkit listrik, di pihak lain membuat bola lampu ini bersekutu dengan semua bola lampu di kota ini. Bila salah satu bola lampu putus hubungan dengan pusat pembangkit listrik, ia akan putus hubungan dengan bola lampu di rumah ini dan bola lampu di seluruh kota ini. Begitu juga, seorang yang mempunyai hayat Tuhan, kalau putus persekutuan dengan Tuhan, akan putus persekutuan dengan semua orang yang mempunyai hayat. Meskipun Anda dan saya sama-sama telah mempunyai hayat Tuhan, tetapi kalau salah satu dari kita putus hubungan dengan Tuhan, maka Anda dan saya tidak bisa mempunyai persekutuan dalam hayat Tuhan. Kalau Anda ada masalah dengan Tuhan, tidak perlu Anda memberi tahu saya, begitu bertemu muka, sudah tidak bisa bersekutu. Karena Anda tidak sambung dengan Tuhan, pusat pembangkit listrik kita, sebab itu Anda dan saya juga tidak bisa sambung. (hal. 12)

SARANA PERSEKUTUAN HAYAT—ROH KUDUS–

PERSEKUTUAN ROH KUDUS

Hayat Allah ada dalam Roh Kudus Allah, dan masuk ke dalam kita melalui Roh Kudus Allah, dan hidup di dalam kita. Jadi, persekutuan yang dibawa kepada kita oleh hayat Allah, meskipun berasal dari hayat Allah, namun datang melalui Roh Kudus Allah. Karena itu, Alkitab juga menyebut persekutuan ini “persekutuan Roh Kudus” (2 Kor. 13:13). (Pengenalan Hayat, hal. 75)

Baik kita bersekutu dengan Allah dan Tuhan, atau bersekutu dengan gereja atau kaum beriman, semuanya berada dalam Roh Kudus, dan berdasarkan Roh Kudus. Sebab itu, ketika kita hidup dalam Roh Kudus, bertindak tanduk menurut Roh Kudus, persekutuan hayat yang di dalam Roh Kudus dan berdasarkan Roh Kudus ini, barulah menjadi pengalaman hayat dan realitas rohani kita. (Pokok-pokok Penting dalam Alkitab, vol. 4, hal. 14)

TANGGUNG JAWAB TERHADAP PERSEKUTUAN HAYAT

Bila kita ingin bertekun tinggal di dalam persekutuan hayat Tuhan, perlu menurut pengajaran pengurapan tinggal di dalam Tuhan, harus taat kepada pengajaran pengurapan.…pengajaran pengurapan adalah pengoperasian Roh Kudus di dalam kita. Kita harus taat kepada pengoperasian Roh Kudus di dalam kita, menurut pengoperasian ini tinggal di dalam Tuhan, supaya kita bisa terus menerus hidup di dalam persekutuan hayat Tuhan. Begitu kita tidak taat kepada pengoperasian Roh Kudus, persekutuan kita dengan Tuhan akan terputus.

Jika kita hidup dalam persekutuan dengan hayat, kita pasti berada dalam terang hayat Tuhan. Terang hayat Tuhan ini, dalam persekutuan hayat-Nya, akan membuat kita nampak dosa kita sendiri. Kita di dalam persekutuan hayat Tuhan, karena terang hayat Tuhan, begitu nampak, juga merasakan dosa kita, harus segera mengaku dosa terhadap Allah. Kalau kita mau dengan demikian mengaku dosa terhadap Allah, dosa kita akan diampuni Allah, dan supaya kita semakin dalam masuk ke dalam persekutuan hayat Tuhan; kalau tidak, dosa kita akan tertinggal di atas diri kita, sehingga persekutuan kita dengan Tuhan terputus. (hal. 19-20)

HASIL DARI PERSEKUTUAN HAYAT

Menerima Pembasuhan Darah

Ketika kita berada dalam persekutuan hayat Tuhan, menerima penerangan hayat Tuhan, nampak dosa kita sendiri dan mengaku dosa terhadap Allah, darah Tuhan akan menyucikan dosa kita. Sebab itu, setelah kita beroleh selamat, menerima lagi penyucian dosa kita oleh darah Tuhan, adalah hasil dari persekutuan hayat Tuhan. Bukannya setelah kita beroleh selamat, kemudian berdosa lagi, kemudian dengan sembarangan mengaku dosa terhadap Allah, lalu mendapat penyucian darah Tuhan. Kalau setelah beroleh selamat kita berbuat dosa lagi, kemudian ingin mendapatkan penyucian darah Tuhan, harus dalam persekutuan hayat Tuhan mendapatkan penerangan hayat Tuhan. Penyucian darah Tuhan, tidak bisa kekurangan persekutuan hayat Tuhan. Tanpa persekutuan hayat Tuhan, kita tidak akan mendapatkan penerangan; kalau tidak ada penerangan hayat Tuhan, kita tidak dapat nampak dosa kita sendiri, tidak dapat mengaku dosa terhadap Allah; bila dosa kita belum tertampak oleh kita lalu mengaku dosa terhadap Allah, belum bisa mendapat penyucian darah Tuhan. Karena dosa yang kita lakukan setelah beroleh selamat, harus melalui pengakuan dosa kita terhadap Allah, baru bisa tercuci oleh darah Tuhan. Bila ingin mengaku dosa kepada Allah, harus terlebih dulu menerima penerangan; bila ingin menerima penerangan, harus hidup dalam persekutuan hayat. Sebab itu, persekutuan hayatlah yang membuat dosa yang kita perbuat setelah beroleh selamat, disucikan oleh darah Tuhan.

Mendapatkan Tuhan Tinggal di dalam Kita

Jika kita hidup di dalam persekutuan hayat, akan tinggal di dalam Tuhan. Kalau kita tinggal di dalam Tuhan, akan mendapatkan Tuhan tinggal di dalam kita. Tuhan tinggal di dalam kita, adalah menjadi hayat, kekuatan, sukacita, damai sejahtera, dan segala-gala kita, supaya kita dapat pengalaman yang riil menikmati diri-Nya, dan segala kelimpahan hayat-Nya. Sebab itu, mendapatkan Tuhan tinggal di dalam kita, menjadi segala-gala kita, juga salah satu hasil dari hidup dalam persekutuan hayat.

Berbuah Banyak untuk Kemuliaan Allah

Sebagai ranting yang tinggal di dalam pokok, tidak bersekatan dengan pokok, mendapatkan suplaian yang limpah dari pokok, kemudian berbuah banyak, demikian juga kita yang tinggal di dalam Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, juga mendapatkan suplaian hayat Tuhan, dan berbuah banyak. Sebab itu, bila kita tinggal di dalam Tuhan, bersekutu dengan Tuhan, akan berbuah banyak, buah hayat rohani.

Jika kita berbuah banyak, buah hayat rohani, Allah akan dipermuliakan, hayat Allah akan diekspresikan. Tetapi untuk menghasilkan banyak buah hayat rohani, harus tinggal di dalam Tuhan, bersekutu dengan Tuhan. Sebab itu, bisa mengeluarkan banyak buah hayat rohani, sehingga Allah dimuliakan, hayat Allah diekspresikan, juga salah satu hasil dari persekutuan hayat. (hal. 22-24)

GANGGUAN PERSEKUTUAN HAYAT

Ketika kita hidup dalam terang ilahi, kita berada di bawah penerangannya, dan berdasarkan sifat ilahi Allah dan melalui sifat Allah di dalam kita, terang itu menyingkapkan segala dosa, pelanggaran, kegagalan, dan kekurangan kita, yang bertentangan dengan terang-Nya yang murni, kasih-Nya yang sempurna, kekudusan-Nya yang mutlak, dan kebenaran-Nya yang unggul. Pada saat demikian, dalam hati nurani kita yang diterangi, kita merasakan keperluan akan pembasuhan darah penebusan Tuhan Yesus, dan darah itu membersihkan hati nurani kita dari semua dosa agar persekutuan kita dengan Allah dan dengan satu sama lain dapat terpelihara. Hubungan kita dengan Allah tidak dapat dirusak, tetapi persekutuan kita dengan Dia mungkin dapat terganggu. Yang pertama berasal dari hayat, sedangkan yang kemudian meskipun juga berasal dari hayat namun berdasar pada kehidupan kita. Yang pertama tidak bersyarat, yang kemudian beryarat. Persekutuan kita yang bersyarat, perlu dipelihara dengan pembersihan terus menerus oleh darah Tuhan. (Alkitab Perjanjian Baru Versi Pemulihan 1 Yohanes 1:7, catatan 3, hal. 1218-1219)

PEMULIHAN DARI PERSEKUTUAN HAYAT—

MELALUI PENGAKUAN DOSA-DOSA KITA

Puji syukur kepada Allah, meskipun persekutuan hayat kita dengan Allah bisa terputus, tetapi juga bisa dipulihkan. Persekutuan itu terputus karena kita telah berdosa, jadi pemulihannya juga harus melalui pengakuan dosa. Kalau kita mau menurut penerangan Tuhan mengaku dosa kepada Allah. Dia pasti menurut keadilan dan kesetiaan-Nya, menurut firman-Nya, karena darah Tuhan, mengampuni dan menyuci bersih dosa kita, supaya persekutuan hayat kita dengan Allah bisa dipulihkan. Begitu kita mengaku dosa kepada Allah, Dia pasti mengampuni, menyuci bersih, supaya hati nurani kita sentosa, tidak merasa terhukum, dan memulihkan persekutuan hayat kita dengan Allah. Ini seperti seorang anak yang mencuri permen dan memakannya. Segera setelah dia meminta maaf kepada ibunya, dia akan mengampuni anak itu dan persekutuan dengan ibunya dipulihkan kembali. Kita dapat memulihkan persekutuan kita yang terganggu dengan Allah kapanpun. Pemulihan ini berdasarkan darah adi Tuhan yang berkhasiat kekal, juga melalui pengakuan dosa kita. (Pokok-pokok Penting dalam Alkitab, vol. 4, hal. 29-30)

HUBUNGAN PERASAAN HAYAT DENGAN PERSEKUTUAN HAYAT

1.

Kalau kaum beriman tidak mempedulikan perasaan hayat, segera akan kehilangan persekutuan hayat. Persekutuan hayat dipertahankan dalam perasaan hayat, kalau kita tidak mempedulikan perasaan hayat, persekutuan hayat akan segera terputus dan hilang.

2.

Begitu kaum beriman kehilangan persekutuan hayat, perasaan hayat akan menjadi tumpul. Persekutuan hayat dipelihara dalam perasaan hayat, perasaan hayat juga melalui persekutuan hayat menjadi lebih tajam/peka. Sebab itu, kalau persekutuan hayat hilang, perasaan hayat akan menjadi tumpul.

3.

Jika kaum beriman taat kepada perasaan hayat yang akan terpendam, maka persekutuan hayat akan dipulihkan. Hilangnya persekutuan hayat dikarenakan kita tidak menuruti perasaan hayat, sebab itu kalau kita mau menuruti perasaan hayat yang akan padam, persekutuan hayat segera pulih.

4.

Jika kaum beriman memulihkan persekutuan hayat, perasaan hayat akan menjadi tajam dan peka. Karena kehilangan persekutuan hayat membuat perasaan hayat kita tumpul, sebab itu, kalau persekutuan hayat dipulihkan, perasaan hayat dengan sendirinya menjadi tajam.

5.

Jika perasaan hayat kaum beriman semakin tajam, persekutuan hayat juga semakin dalam, persekutuan hayat akan semakin tajam. Keduanya ini saling mempengaruhi, bergantian tak henti-hentinya, sehingga kaum beriman bertumbuh di dalam hayat. Perasaan hayat menuntut kita mempunyai persekutuan hayat; persekutuan hayat menambah perasaan hayat kita. Kita semakin mempunyai perasaan hayat, akan semakin mempunyai persekutuan hayat, akan semakin mempunyai perasaan hayat. Keduanya ini silih berganti dan bertambah banyak, membuat hayat Tuhan bertumbuh besar di dalam kita. (hal. 31-32)

Pertanyaan-pertanyaan:

1. Apakah sumber dan makna persekutuan hayat?

2. Menurut Alkitab, apakah dua aspek persekutuan hayat?

3. Menurut Alkitab, apakah sarana persekutuan hayat?

4. Apakah tanggung jawab kaum beriman terhadap persekutuan hayat?

5. Apakah hasil persekutuan hayat?

6. Bagaimana kita dapat memulihkan dan menjaga persekutuan hayat ketika terganggu?