PERSEMBAHAN DIRI
Pembacaan Alkitab: Kidung: pilih sendiri
Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
1 Korintus 6:19b-20a dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu
2 Korintus 5:14-15 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
I. Dasar persembahan diri—pembelian Allah—1 Kor. 6:19b-20a; Rm 14:7-8.
II. Motivasi persembahan diri—kasih Allah—2 Kor. 5:14-15; Rm 12:1.
III. Makna persembahan diri—menjadi kurban—Rm. 12:1; Bil. 28:2-3.
IV. Tujuan persembahan diri—untuk bekerja bagi Allah.
V. Hal-hal yang dipersembahkan:
A. Orang—Mzm. 73:25.
B. Perkara–Flp. 3:8.
C. Benda—Flp. 4:18.
D. Diri sendiri—Rm. 12:1; 1 Kor. 6:19.
VI. Hasil persembahan diri:
A. Melepaskan masa depan, dibakar menjadi abu—Im. 1:9.
B. Untuk kepentingan sendiri—dibebaskan dari dosa, menjadi hamba Allah, memiliki buah pengudusan, dan menempuh kehidupan yang menang—Rm. 6:12-23.
C. Bagi kepentingan Allah—diperkenan oleh Allah, membuktikan apa kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan dan sempurna, dan untuk merampungkan kehendak kekal Allah—Rm. 12:1-2.
Buku-buku Referensi: Pengalaman Hayat, bab 3; Hayat yang Menang, bab 11.
Cuplikan Berita Ministri:
DASAR PERSEMBAHAN DIRI—PEMBELIAN ALLAH
Butir pertama adalah dasar persembahan diri. Atas dasar apakah kita harus mempersembahkan diri kita kepada Allah? Atas dasar apakah Allah menghendaki kita mempersembahkan diri kepada-Nya? Dalam melakukan segala sesuatu, kita perlu ada dasarnya. Sebagai contoh, kita pindah ke suatu rumah dan tinggal di dalamnya, karena kita telah membayar harga untuk menyewa atau membeli rumah itu. Sewa atau pembelian adalah dasar kita untuk tinggal di dalamnya. Seorang penagih hutang menagih pembayaran hutang dari seseorang adalah karena orang itu berhutang kepadanya. Hutang itu adalah dasar penagihan hutang untuk menagih pembayaran. Allah kita adalah Allah yang paling adil, Allah yang paling tepat dalam bertindak. Semua yang dikerjakan-Nya adalah adil dan memiliki dasar. Ia tidak dapat mengambil sesuatu dari alam semesta tanpa membayar, dan Ia juga tidak dapat meminta sesuatu dari kita tanpa dasar. Karena itu, ketika Allah menghendaki kita mempersembahakan diri kepada-Nya, hal itu tidak mungkin tanpa dasar. Dalam hal ini, Ia memiliki dasar yang sangat kuat, yaitu pembelian-Nya. Ia telah membeli kita. Karena itu, Ia dapat meminta kita untuk mempersembahkan diri kepada-Nya.
Satu Korintus 6:20 mengatakan, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Persembahan diri kita adalah berdasar pada pembelian Allah. Sebagai contoh, Anda mungkin pergi ke toko buku dan melihat sejumlah besar buku di rak, tetapi Anda tidak dapat mengambilnya karena Anda tidak memiliki dasar untuk melakukannya. Tetapi kalau Anda membayar tiga dolar untuk salah satu dari buku-buku itu, maka Anda dapat meminta agar buku itu diberikan kepada Anda dan mengatakan bahwa buku itu adalah milik Anda. Permintaan ini berdasar pada pembelian Anda. Dasar persembahan diri pun demikian. Bagaimana Allah dapat meminta agar kita mempersembahkan diri kepada-Nya? Karena Ia telah membeli kita. Beberapa orang mengira bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah karena Allah telah menciptakan kita. Ini tidak benar. Persembahan diri bukan berdasar pada penciptaan Allah, tetapi berdasar pada pembelian Allah. Di dalam Keluaran 13:2, kita dapat melihat bahwa setelah Paskah, Allah memberikan perintah kepada orang Israel, ”Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung.” Ini dikarenakan semua anak sulung telah dibeli oleh Allah dengan darah anak domba. Membeli berarti mendapatkan hak kepemilikan. Ketika Allah membeli kita, Ia memiliki hak kepemilikan, yaitu Ia memiliki dasar untuk meminta kita menyerahkan diri kepada-Nya menjadi milik-Nya. Karena itu, dasar persembahan diri adalah pembelian Allah. (Pengalaman Hayat, hal. 30-31)
MOTIVASI PERSEMBAHAN DIRI—KASIH ALLAH
Motivasi persembahan diri adalah kasih Allah. Setiap kali Roh Kudus mencurahkan kasih Allah dalam hati kita, dengan sendirinya kita akan sukarela menjadi tawanan kasih dan mempersembahkan diri kepada Allah. Persembahan diri yang dimotivasi oleh kasih Allah semacam ini, disebutkan dengan sangat jelas dalam dua bagian Alkitab: 2 Korintus 5:14-15 dan Roma 12:1.
Dua Korintus 5:14-15 mengatakan, “Sebab kasih Kristus menguasai kami… Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Kata “menguasai” di sini dalam bahasa aslinya mengandung arti tekanan/dorongan aliran air deras. Dengan kata lain, ayat-ayat ini mengatakan kepada kita bahwa kasih Kristus yang rela mati untuk kita adalah seperti aliran air yang deras ke arah kita, mendorong kita untuk mempersembahkan diri kepada Allah dan hidup bagi-Nya tanpa dapat kita kendalikan.
Roma 12:1 mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup.” Kemurahan Allah di sini mengacu juga kepada kasih Allah. Karena itu, di sini Paulus ingin menggerakkan hati kita dengan kasih Allah. Dia akan membuat kita memiliki motivasi kasih, sehingga kita dapat mempersembahkan diri dengan sukarela kepada Allah sebagai persembahan yang hidup. Kita dapat melihat dari dua bagian ayat ini bahwa kasih Allah adalah motivasi persembahan diri kita
Dalam persembahan diri yang normal, motivasi kasih ini sangat diperlukan. Jika persembahan diri kita hanya karena nampak dasar persembahan diri, pengenalan akan hak Allah atas diri kita, maka persembahan diri ini hanya karena pertimbangan yang sehat; persembahan ini akan kekurangan kemanisan dan kekuatan. Tetapi jika persembahan diri kita memiliki kasih sebagai motivasinya, jika perasaan kita telah dijamah oleh kasih Allah, daya tarik kasih ini akan menyebabkan kita mempersembahkan diri dengan sukarela kepada Allah. Persembahan diri ini akan menjadi manis dan kekuatan. (hal. 38-39)
MAKNA PERSEMBAHAN DIRI—MENJADI KURBAN
Ketika seseorang nampak dasar persembahan diri dan juga mempunyai motivasi persembahan diri, ia bersedia mempersembahkan diri kepada Allah. Lalu apakah persembahan diri? Apakah makna persembahan diri? Roma 12:1 mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup.” Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa makna persembahan diri adalah menjadi “kurban”.
Apakah arti frase “menjadi kurban”? Apakah kurban itu? Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa kapan kala suatu benda disisihkan dari kedudukan dan fungsinya yang semula dan diletakkan di atas mezbah Allah, dikhususkan untuk Dia, maka benda itu menjadi kurban. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang mempersembahkan lembu dan domba sebagai kurban. Prinsipnya adalah sebagai berikut: lembu itu pada mulanya berada dalam kandang dan dipakai untuk membajak sawah serta menarik kereta. Sekarang, lembu itu diambil dari kandang dan dibawa di depan mezbah. Jadi ada perubahan kedudukan. Lalu lembu itu disembelih, ditempatkan di atas mezbah, dibakar untuk menjadi bau-bauan yang harum bagi Allah. Ini adalah perubahan fungsi. Dengan demikian lembu itu menjadi kurban. Karena itu, kurban tidak lain adalah benda yang disisihkan bagi Allah dan diletakkan di atas mezbah, ada perubahan kedudukan dan fungsi. Entah itu lembu atau domba jantan, entah itu tepung yang terbaik atau minyak, begitu dipersembahkan sebagai kurban, benda itu tidak lagi di tangan orang yang mempersembahkan dan tidak dapat lagi digunakan untuk kepentingan dan kesenangannya sendiri. Semua kurban di atas mezbah adalah milik Allah, untuk kepentingan dan kenikmatan-Nya. Singkatnya, menjadi kurban berarti dipersembahkan kepada Allah bagi kepentingan-Nya. (hal. 41-42)
TUJUAN PERSEMBAHAN DIRI— UNTUK BEKERJA BAGI ALLAH
Karena makna persembahan diri adalah menjadi kurban, maka benda yang dipersembahkan adalah mutlak bagi Allah. Tujuan persembahan diri adalah untuk digunakan oleh Allah, untuk bekerja bagi Allah. Tetapi agar kita dapat bekerja bagi Allah, pertama-tama kita harus membiarkan Allah bekerja lebih dulu yang dapat bekerja bagi Allah. Seberapa banyak kita membiarkan Allah bekerja, sebanyak itu pula kita dapat bekerja bagi Allah. Kalau kita tidak membiarkan Allah bekerja lebih dulu, pekerjaan kita tidak dapat diperkenan oleh-Nya atau diterima oleh-Nya, tidak peduli betapa rajin dan berjerih-lelahnya kita. Hal-hal yang kita kerjakan bagi Allah, yang diperkenan dan diterima oleh-Nya tidak dapat melebihi batas kita membiarkan Allah bekerja. “Membiarkan” adalah dasarnya, dan “bagi” adalah hasilnya. Ketika kita memiliki dasar “membiarkan,” baru kita dapat memiliki hasil “bagi.” Inilah prinsip yang tidak pernah berubah. Karena itu, ketika kita mempersembahkan diri kepada Allah, walaupun hal itu adalah untuk bekerja bagi Allah, tetapi dari sudut pandang kita, penekanannya adalah membiarkan Allah bekerja. Jadi, tujuan persembahan diri adalah membiarkan Allah bekerja agar kita dapat mencapai bekerja bagi Allah. (hal. 45-46)
HAL-HAL YANG DIPERSEMBAHKAN
Orang
Hal pertama yang harus kita persembahkan adalah orang yang kita cintai. Kalau seseorang tidak mencintai Tuhan lebih daripada bapa, ibu, istri, anak laki-laki atau perempuan, dan temannya, tidak layak menjadi murid Tuhan. Kalau Anda mempersembahkan diri kepada Tuhan, di dunia ini tidak ada lagi orang yang menduduki hati Anda, tidak ada lagi orang yang menguasai hati Anda. Allah telah menyelamatkan Anda; Ia ingin sepenuhnya mendapatkan Anda. O, banyak air mata yang akan menyeret Anda kembali; banyak hubungan antar manusia yang akan menyeret Anda kembali; banyak hati yang sedih yang akan menyeret Anda kembali. Anda harus berkata, “Tuhan, hubunganku dengan siapa pun telah kuletakkan di atas mezbah, aku telah putus hubungan dengan siapa pun.” …Bahkan jika Tuhan telah memberikan seseorang kepada Anda, Dia tidak akan membiarkan Anda diikat dengannya. Dia tidak akan membiarkan Anda terikat dengan istri Anda, anak-anak Anda atau teman-teman Anda. Bahkan Ishak yang Allah janjikan pun harus ditaruh di atas mezbah. Banyak orang Kristen telah gagal karena hati mereka ditawan oleh orang.
Perkara
Kita bukan hanya harus mempersembahkan orang tetapi juga perkara-perkara. Kita sering mengubah pikiran kita untuk melakukan banyak hal dan ingin menyelesaikannya. Tetapi kita tidak mencari kehendak Allah dalam perkara ini. Seorang saudara memutuskan untuk mendapatkan nilai tertinggi saat ujian kelulusan dan mendapat ranking tertinggi di kelas. Semua waktu dan tenaganya dihabiskan pada pelajarannya. Setelah dia memasuki pengalaman yang menang, dia menyerahkan perkara ini kepada Allah. Sejak waktu itu, dia rela mengikuti Allah bahkan jika dia menjadi yang terakhir dalam ujiannya….Jadi saudara saudari, kita harus mempersembahkan perkara kita kepada Allah. Saya tidak mengatakan semua orang harus menjadi penginjil, tetapi saya berkata bahwa kita seharusnya menyerahkan segala perkara kita kepada Allah. Apakah yang disebut mempersembahkan diri? Artinya kita berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, aku mau melaksanakan kehendak-Mu.” Kesalahan kita hari ini ialah mengira mempersembahkan diri adalah menjadi penginjil. Kita mempersembahkan diri adalah untuk melaksanakan kehendak Allah. Banyak orang setelah benar-benar mempersembahkan diri justru nampak bahwa Allah mengendaki dia giat berdagang (berusaha) agar bisa menyuplai keperluan pekerjaan Tuhan, malah tidak menjadi penginjil. Banyak orang karena keperluan saat ini, karena keperluan daerah terpencil, lalu khusus pergi mengabarkan Injil. Dalam beberapa tahun ini, di tengah-tengah kita kekurangan saudara yang menjadi sekerja, juga kekurangan saudari yang menjadi sekerja. Kalau Allah bekerja, tidak lama lagi akan ada banyak saudara-saudari yang mau keluar melayani Allah, karena itu harus mempersembahkan banyak perkara mereka kepada Allah.
Benda
Bukan hanya orang dan perkara yang perlu dipersembahkan, masih ada banyak benda yang perlu dipersembahkan. Ada orang mungkin perlu mempersembahkan perhiaasannya, ada orang mungkin perlu mempersembahkan rumahnya, ada orang mungkin perlu mempersembahkan pakaiannya, ada orang mungkin perlu mempersembahkan sesuatu barang miliknya. Kita tidak bisa membiarkan ada sesuatu benda yang menjadi penghalang di atas diri kita. Banyak orang mungkin menahan dua atau tiga perhiasan cincin, atau mungkin menahan perhiasan mutiara, tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Ini bukan hukum. Tetapi kalau mau mempersembahkan, mungkin perhiasan emas harus disingkirkan, mungkin pakaian yang modern harus disingkirkan, mungkin masih ada banyak benda yang harus keluar. Banyak orang memboroskan uang, ini juga tidak bisa diperkenan Allah, penyimpan uang juga tidak ada kedudukan di hadapan Allah. Kita bukan menghabiskan uang dalam sekejap mata, tetapi harus memakainya di atas perhitungan Allah. Dalam Perjanjian Baru tidak pernah ada pembicaraan sepersepuluh, melainkan semua diserahkan ke tangan Allah. Pada hari pertama kita membawa pulang uang, kita harus berkata kepada Allah, “Ya Allah, uang ini milik-Mu. Berapa besar keperluan keluarga, berilah sejumlah itu kepadaku.” Ini bukan masalah memakai berapa dan sisanya untuk Allah. Saya tidak berani berkata bahwa Allah akan mengambil semuanya atau tidak. Tetapi kalau Anda benar-benar mempersembahkan kepada Allah, maka semuanya adalah miliki Allah….Banyak saudara saudari muda, ketika mereka belum mempunyai banyak uang, masih ada persembahan; ketika mereka mempunyai banyak uang, yang dipersembahkan malah lebih sedikit daripada saat uang mereka masih sedikit. Sebab itu, kalau Tuhan mendapatkan hati kita, seharusnya Tuhan juga mendapatkan uang kita. Hati itu penting, tetapi uang juga penting. Kalau dompet kita tidak dibuka, hati kita selamanya tidak bisa dibuka.
Diri Sendiri
Bukan hanya orang harus dipersembahkan, perkara harus dipersembahkan, harta benda harus dipersembahkan, terakhir diri sendiri pun harus dipersembahkan. Kita harus mempersembahkan diri sendiri kepada Allah, berkatalah, “Ya Allah, aku mempersembahkan diriku kepada-Mu, untuk melaksanakan kehendak-Mu.” Saudara saudari, kita tidak tahu hari depan kita akan mengalami apa, tetapi ada satu hal yang kita tahu, Allah mempunyai kehendak tertentu atas setiap orang, belum tentu bahagia atau menderita, kita mau menerima. Banyak orang yang dipakai oleh Allah, dipenuhi oleh Roh Kudus, selalu menempuh kehidupan yang menang, karena mereka mempersembahkan diri kepada Allah.
Di sini, mempersembahkan apa? Mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang hidup. Alkitab tidak pernah mengatakan mempersembahkan hati, Alkitab mengatakan mempersembahkan tubuh. Tidak ada orang yang mempersembahkan diri yang masih meninggalkan tubuhnya tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Kita mempersembahkan seluruh diri kita kepada Tuhan, sejak hari ini, mulut kita bukan lagi untuk kita; telinga kita bukan milik kita; mata kita bukan milik kita; tangan kita bukan milik kita; kaki kita bukan milik kita; tubuh kita bukan milik kita. Sejak hari ini, kita hanya sebagai manajer Tuhan. Sejak hari ini, dua tangan ini milik Tuhan. Kita tidak bisa memakainya lagi.
Hari ini kita bukan hanya mempersembahkan orang, perkara, dan benda kepada Tuhan, tetapi juga perlu menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan. Setiap Minggu memasukkan uang ke kotak persembahan, artinya memasukkan diri sendiri ke dalam Tuhan. Ketika kita meletakkan diri sendiri di luar, Allah tidak mau menerima uang kita. Kalau Allah tidak lebih dulu mendapatkan “kita”, Allah tidak mau menerima “milik kita.” Allah terlebih dulu mendapatkan “kita”, baru kemudian mau menerima “milik kita.” Orang yang mempersembahkan diri kepada Tuhan, belum tentu harus menjadi penginjil. Mungkin Tuhan menyuruh menjadi seorang yang baik-baik berdagang. Di setiap pelosok dunia perlu ada terang, kita tidak bisa memilih pekerjaan kita sendiri, kita harus berkata kepada Allah, ”Ya Allah, sejak hari ini, aku telah menetapkan akan melaksanakan kehendak-Mu.” (Hayat yang Menang, hal. 259-269)
HASIL PERSEMBAHAN DIRI
Melepaskan Masa Depan Kita
Hasil persembahan diri adalah kita memutuskan semua hubungan kita dengan orang-orang, perkara-perkara, dan benda-benda, khusunya melepaskan masa depan kita dan sepenuhnya menjadi milik Allah. Kita juga perlu meninjau perkara ini berdasarkan terang tentang kurban persembahan dalam Perjanjian Lama. Ketika seekor lembu diambil untuk kurban dan dipersembahkan di atas mezbah, dengan segera lembu itu terputus dari semua hubungannya yang lalu. Ia dipisahkan dari tuannya, ternak-ternak lainnya, dan kandangnya. Setelah dibakar, lembu itu bahkan kehilangan bentuk dan perawakannya semula. Semua bagiannya yang terbaik telah berubah menjadi bau-bauan yang harum bagi Allah, dan yang tersisa hanyalah tumpukan abu. Semua terputus, dan berakhir. Inilah hasil dari lembu itu setelah dipersembahkan kepada Allah, hasilnya juga sama. Harus ada penyerahan segala sesuatu untuk dibakar oleh Allah sampai menjadi abu hingga semuanya berakhir. Jika atas diri seseorang tidak terlihat tanda-tanda bahwa ia telah mengakhiri segala sesuatu dan membakarnya hingga menjadi abu, tentu ada masalah dengan persembahan dirinya. Setelah mempersembahkan diri, beberapa saudara dan saudari masih tetap memiliki harapan-harapan untuk menjadi orang yang begini atau begitu, itu membuktikan bahwa masa depan mereka belum terputus. (Pengalaman Hayat, hal. 49-50)
Hasil Persembahan Diri
Apakah hasil dari persembahan diri? Pertama, adalah yang dikatakan dalam Roma 6; kedua, adalah yang dikatakan dalam Roma 12. Banyak orang tidak tahu perbedaannya, sebenarnya ada perbedaan yang amat besar. Persembahan dalam Roma 6 adalah supaya diri sendiri mendapatkan faedah, supaya diri sendiri menghasilkan buah pengudusan. Persembahan dalam Roma 12 adalah supaya Allah mendapatkan faedah, supaya kehendak Allah rampung. Hasil dari persembahan Roma 6 adalah terlepas dari dosa, menjadi hamba Allah, lalu memiliki buah pengudusan, hari demi hari menempuh kehidupan yang menang. Hasil dari Roma 12, bukan hanya diperkenan oleh Allah, juga bisa membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna….persembahan diri dalam Roma 12 adalah sesuatu bagi Allah. Maka, kita harus mengingat bahwa persembahan diri dalam pasal duabelas memiliki sasaran melayani Allah. Pasal enam adalah untuk kepuasan pribadi, sedangkan pasal duabelas untuk pekerjaan (Hayat yang Menang, hal. 1269-270)
Hasil persembahan diri ini adalah seperti yang dikatakan dalam Roma 12:2. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Inilah tujuan besar yang ingin kita capai pada hari ini. Dalam sidang Kemenangan bulan Januari tahun lalu, kita telah mendengar bahwa Allah mempunyai satu kehendak yang kekal, yang akan dirampungkan di atas diri Anak-Nya. Penciptaan Allah melalui Anak-Nya adalah untuk tujuan ini; penebusan adalah untuk tujuan ini; mengalahkan Iblis adalah untuk tujuan ini; menyelamatkan orang dosa adalah untuk tujuan ini. Jadi, kita harus mengetahui apa kehendak kekal yang Allah tentukan itu, kemudian kita baru merampungkan apa yang hendak Allah rampungkan. Kita di sini bukan hanya untuk menyelamatkan orang, lebih-lebih untuk merampungkan kehendak kekal Allah. Semua pekerjaan harus bergandengan dengan kehendak kekal Allah. (Hayat yang Menang, hal. 273)
Pertanyaan-pertanyaan: