PERTOBATAN
Pembacaan Alkitab: Kidung: No. 206
Kisah Para Rasul 26:20 Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.
Matius 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!"
Kisah Para Rasul 2:38 Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
I. Pentingnya pertobatan:
A. Permintaan ilahi atas ekonomi Perjanjian Baru Allah–Kis. 26:20; 17:30.
B. Diproklamirkan sebagai butir penting dari pernyataan ekonomi Perjanjian Baru Allah–Luk. 24:47-48.
II. Makna pertobatan:
A. Makna sebenarnya adalah perubahan pikiran, menghasilkan penyesalan, memiliki perpalingan dalam tujuan–Mat. 3:2 cat. 1, 2.
B. Memiliki perubahan dalam pikiran kita¾pemikiran, filosofi, dan logika kita.
C. Berpaling dari segala sesuatu yang di luar Allah kepada Allah dan kerajaan-Nya–Mat. 3:2; 4:17.
III. Pelaksanaan pertobatan:
A. Pertobatan adalah mencari melalui penyorotan Roh itu–Luk. 15:8, 18.
B. Pertobatan adalah karunia yang diberikan oleh Kristus yang ditinggikan–Kis. 5:31.
C. Pertobatan harus menjadi perpalingan yang sebenarnya (riil dan pelaksanaan) kepada Allah–Kis. 26:20; 14:15b; 1 Tes. 1:9:
1. Dosa-dosa dan pelanggaran.
2. Dunia dan pengrusakannya, yang menduduki dan merusak manusia yang diciptakan Allah bagi diri-Nya.
3. Kehidupan lama yang meninggalkan Allah.
4. Pemikiran, logika, filosofi yang mengendalikan kehidupan kita.
5. Kehidupan yang menjauhi Allah dan secara langsung menentang kehendak Allah.
6. Segala sesuatu yang di luar Allah.
7. Segala sesuatu yang berlawanan dengan kerajaan Allah dan pemerintahan ilahi Allah.
IV. Hasil pertobatan:
A. Pengampunan dosa-dosa–Kis. 2:38; Luk. 24:47; 3:3.
B. Menerima hayat ilahi Allah–Kis. 11:18.
C. Menerima karunia Roh Kudus–Kis. 2:38.
D. Menerima warisan ilahi–Kis. 26:18.
Buku-buku Referensi: The Conclusion of the New Testament, Berita 119; Truth Lessons, Level 1, Vol. 3, pelajaran 29.
Cuplikan Berita Ministri:
PENTINGNYA PERTOBATAN
Pertobatan adalah Permintaan Ilahi atas Ekonomi Perjanjian Baru Allah
Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, Allah memerintahkan seluruh manusia di setiap tempat untuk bertobat (Kis. 17:30). Tanpa memandang lagi zaman kebodohan manusia, tetapi sekarang dalam Perjanjian Baru, Dia memerintahkan seluruh manusia di setiap tempat untuk bertobat dan berpaling kepada Dia. Karena itulah, Allah sengaja mengutus Yohanes Pembaptis untuk memberitakan pertobatan (Mat. 3:2), memanggil orang untuk bertobat dan berpaling kepada Dia, mempersiapkan hati manusia untuk menerima keselamatan-Nya (Luk. 1:77). Tuhan Yesus, melanjutkan pengajaran perintis-Nya, juga memberitakan pertobatan (Mat. 4:17) dan membawakan keselamatan kepada orang yang bertobat (Luk. 19:9). Pada hari Pentakosta, ketika Petrus dan sebelas murid berdiri, mereka juga mengajarkan dan menasehati orang untuk bertobat dan menerima karunia Roh Kudus (Kis. 2:38). Ketika Paulus melihat visi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dia juga menasehati mereka yang ada di Damsyik, Yerusalem, dan seluruh wilayah Yudea, dan orang Kafir, untuk bertobat dan berpaling kepada Allah (Kis. 26:20). Ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita harus bertobat kepada Allah dan berpaling kepada Dia sehingga kita dapat percaya dalam injil (Mrk. 1:15), percaya dalam Tuhan Yesus, menerima Dia sebagai Juruselamat kita (Kis. 20:21), menikmati keselamatan Allah, dan menerima karunia Roh Kudus. Karena itu, pertobatan adalah permintaan ilahi atas ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Pertobatan adalah Butir Penting yang Diproklamirkan
Ekonomi Perjanjian Baru Allah
Karena pertobatan adalah permintaan ilahi atas ekonomi Perjanjian Baru Allah, ini adalah butir pertama yang kita harus proklamirkan mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Setelah kebangkitan-Nya dari kematian, Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk memproklamirkan injil pertobatan untuk pengampunan dosa-dosa dalam nama-Nya kepada segala bangsa, dimulai dari Yerusalem (Luk. 24:47). Karena itu, ketika kita memberitakan injil, kita seharusnya menekankan butir ini, memberitahu orang harus bertobat, agar dosa-dosanya dapat pengampunan, agar mereka mendapatkan hayat kekal; dan agar mereka menerima karunia Roh Kudus dan warisan ilahi. Ini berkaitan dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah, adalah satu poin penting yang adalah butir utama yang kita harus proklamirkan mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. (Truth Lesson, Level 1, Vol. 3, hal. 53-54)
MAKNA PERTOBATAN
Memiliki Perubahan Pikiran, Berpaling dari Segala Sesuatu yang di Luar Allah kepada Allah dan Kerajaan-Nya
Kaum beriman harus memiliki perubahan pikiran, berpaling di dalam pikirannya dari hal-hal yang di luar Allah kepada Allah dan kerajaan-Nya. Dalam Matius 3:2, Yohanes Pembaptis memproklamirkan, ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Dalam Matius 4:17, Tuhan Yesus mengucapkan perkara yang sama. Seperti yang dipakai dalam ayat-ayat ini, kata “bertobat” secara literal berarti pikiran yang berbeda sesudah itu, yaitu memiliki perubahan pikiran. Bertobat adalah memiliki perubahan pikiran dengan penyesalan untuk masa yang lampau dan akan datang. Di aspek negatif, bertobat di hadapan Allah, bukan hanya bertobat dari dosa-dosa dan pelanggaran tetapi juga bertobat dari dunia dan pengrusakannya yang merampas manusia yang Allah jadikan bagi diri-Nya dan bertobat dari kehidupan lama kita yang menolak Allah. Di aspek positif, bertobat adalah berpaling kepada Allah dalam cara dan dalam segala hal, untuk menggenapkan tujuan-Nya dalam manusia ciptaan-Nya. Inilah “bertobat kepada Allah”; inilah “bertobat dan berpaling kepada Allah” (Kis. 20:20). Ketika kita bertobat, kita bukan hanya ada perubahan pikiran tetapi juga berpaling dalam pikiran kita dari segala hal yang di luar Allah kepada Allah dan Kerajaan-Nya.
Bertobat adalah memiliki perubahan di dalam pikiran, filosofi, dan logika kita. Kehidupan manusia yang jatuh seluruhnya menurut pikirannya. Apa adanya dia dan segala yang dikerjakannya adalah menurut pikirannya. Sebelum kita diselamatkan, kita dituntun oleh pikiran kita. Pikiran, logika, dan filosofi kita mengendalikan kehidupan kita, karena kita ada di bawah tuntunan pikiran kita yang jatuh. Kita menjauhi Allah, dan kehidupan kita secara langsung berlawanan dengan kehendak-Nya. Di bawah pengaruh pikiran kita yang jatuh, kita makin lama makin menjauhi Allah. Kemudian suatu hari, kita mendengarkan pemberitaan injil yang memberi tahu kita untuk bertobat, memiliki perubahan dan perpalingan dalam pikiran, filosofi, dan logika kita.
Menurut Perjanjian Baru, bertobat bukan hanya berpaling kepada Allah sendiri tetapi kepada kerajaan-Nya. Dalam Matius 3:2, dan 4:17, Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus bukan memberi tahu manusia untuk bertobat agar mereka masuk surga atau mendapatkan keselamatan. Mereka berkata untuk bertobat kepada kerajaan. Kerajaan mengacu kepada kekuasaan Allah, pemerintah-Nya. Sebelum kita diselamatkan, tidak berada di bawah pemerintahan Allah. Namun, ketika kita mendengar pemberitaan injil, kita berpaling kepada kerajaan Allah, pemerintahan Allah, dan sekarang kita berada di dalam kerajaan Allah. Kita harus berpaling dari segala perkara yang di luar Allah kepada Allah dan kerajaan-Nya, meletakkan diri kita di bawah pemerintahan-Nya supaya kita dapat berada di dalam kerajaan-Nya.
Memiliki Perpalingan yang Sebenarnya dari Segala Sesuatu,
Baik atau Buruk, kepada Allah Sendiri
Ketika kita bertobat, kita memiliki perpalingan sebenarnya dari segala sesuatu, baik atau buruk, kepada Allah sendiri. Hal ini bukan hanya perpalingan di dalam pikiran tetapi juga dalam aktivitas, dan bukan hanya berpaling dari perkara yang buruk tetapi juga dari perkara yang baik. Karena perkara yang baik juga dapat berlawanan dengan Allah, kita harus berpaling kepada Dia dari perkara yang demikian. Sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita harus berpaling secara aktivitas dan pelaksanaan kepada Allah sendiri dari segala sesuatu.
Tiga ayat Alkitab yang berbicara tentang berpaling yang sebenarnya kepada Allah adalah Kisah Para Rasul 26:20; 14:15b; dan 1 Tesalonika 1:9b. Dalam Kisah Para Rasul 26:20, Paulus bersaksi bahwa dia “memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Dalam Kisah Para Rasul 14:15b, Paulus dan Barnabas memberi tahu orang harus “meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” “Sia-sia” di sini, mengacu kepada berhala dan perihal menyembah berhala. Karena itu, bertobat adalah berpaling dari berhala kepada Allah yang hidup, yang menciptakan segala sesuatu. Kaum beriman di Tesalonika membuat perpalingan demikian dan Paulus berkata kepada mereka, ”kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (1 Tes. 1:9). Berpaling kepada Allah dari berhala-berhala bukan hanya meninggalkan ilah-ilah palsu, dengan Iblis dan roh-roh jahat yang ada di belakangnya, tetapi juga berpaling dari segala sesuatu yang di luar Allah. Hal ini melalui iman yang diinfuskan ke dalam orang baru berpaling melalui mendengar perkataan injil. Melayani Allah yang hidup dan yang benar, adalah melayani Allah yang adalah tritunggal¾Bapa, Putra, dan Roh–yang telah melalui proses menjadi hayat dan suplai hayat bagi kenikmatannya. Setelah bertobat, yang adalah perpalingan yang sungguh-sungguh kepada Dia, sekarang mereka bukan hanya harus mengalami Dia sebagai sasaran penyembahan tetapi juga sebagai Sang Almuhit yang tinggal di dalam mereka. (The Conclusion of the New Testament, hal. 1290-1292)
PELAKSANAAN PERTOBATAN
Mencari melalui Penyorotan Roh Kudus
Roh itu memisahkan kita kepada Allah dengan mencari kita melalui menyoroti kita. Penyorotan Roh Kudus ini diumpamakan oleh perumpamaan kedua dalam Lukas 15, perumpamaan seorang perempuan yang mencari dirham. Lukas 15:8 berkata, ”Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?” Pelita melambangkan firman Allah (Mzm. 119:105, 130) yang digunakan Roh itu untuk menyoroti dan menyingkapkan posisi dan kondisi orang dosa, sehingga dia dapat bertobat. “Menyapu” menunjukkan mencari dan membersihkan di dalam orang yang dosa. Pencarian Roh di sini ada di dalam orang dosa, dilaksanakan melalui pekerjaan Roh di dalam orang dosa yang bertobat.
Roh itu mencari orang dosa seperti seorang perempuan dengan cermat mencari satu dirham yang hilang sampai ia menemukannya. Ini berarti bahwa Roh itu datang untuk menemukan kita. Setelah merampungkan penebusan oleh Putra, Roh itu dapat mencari kita dan menemukan kita melalui menyoroti kita.
Seperti dijelaskan oleh perumpamaan perempuan yang mencari dirham, Roh itu menyoroti kita di batin. Roh itu mencari kita melalui menyoroti batiniah kita dengan lembut, dan teliti. Sebagai akibat penyorotan Roh itu, kita dipisahkan kepada Allah dan kita bertobat. Pertobatan yang dihasilkan dari penyorotan Roh itu adalah perihal di dalam. Pekerjaan subyektif demikian hanya dapat dikerjakan melalui penjenuhan Roh, karena Roh itu dapat menjenuhi manusia batini kita, untuk menyoroti kita dan menyingkapkan kita. (hal. 1286-1287)
Sebagai Karunia yang Diberikan oleh Kristus yang Ditinggikan
sebagai Pemimpin dan Juruselamat
Pertobatan adalah karunia yang diberikan oleh Kristus yang ditinggikan sebagai Pemimpin dan Juruselamat. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis. 5:31). Ini dengan jelas mewahyukan bahwa pertobatan adalah karunia yang diberikan kepada kita oleh Kristus yang ditinggikan. Memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kepada umat pilihan Allah memerlukan Kristus yang ditinggikan sebagai Pemimpin yang memerintah dan Juruselamat. Kedaulatan-Nya yang memerintah yang menyebabkan dan mengijinkan umat pilihan Allah bertobat, dan keselamatan-Nya berdasarkan penebusan-Nya yang memberi mereka pengampunan dosa-dosa. Pertobatan adalah untuk pengampunan dosa-dosa (Mrk. 1:4). Di pihak Allah, pengampunan dosa-dosa berdasarkan penebusan-Nya (Ef. 1:7); di pihak manusia, pengampunan dosa-dosa adalah melalui pertobatan.
Pertobatan dan pengampunan dosa-dosa adalah karunia yang besar, dan hanya Tuhan Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat yang bersyarat untuk memberikannya kepada mereka. Tidak ada orang lain yang bersyarat untuk memberikan pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kepada orang lain. (hal. 1293-1294)
HASIL PERTOBATAN
Menerima Pengampunan Dosa-dosa
Injil Tuhan menyebabkan manusia bertobat dan menerima pengampunan dosa-dosa (Luk. 24:47, 3:3; Kis. 2:38). Untuk memberi manusia kasih karunia pengampunan, Allah pertama-tama harus memberi dia hati pertobatan (5:31). Jika manusia tidak bertobat dari dosanya yang menentang Allah dan meninggalkan Allah dari dalam hatinya, dia tidak dapat percaya Tuhan Yesus juga tidak bisa mendapatkan karunia pengampunan dari Allah. Jika manusia mau diampuni, dia harus bertobat. Dia harus bertobat dari perbuatan-perbuatannya yang mati (Ibr. 6:1), dan berbalik kepada Allah.
Menerima Hayat
Dalam injil Tuhan bertujuan agar manusia diampuni dari dosa-dosanya yaitu manusia dapat menerima hayat-Nya (Kol. 2:13). Karena itu, jika manusia mau menerima hayat Tuhan, dia harus bertobat (Kis. 11:18). Manusia harus melihat bahwa hayatnya telah rusak dan kehidupannya, yang di luar Allah, adalah jahat. Melihat hal ini, dia terhukum dan dia membenci dirinya sendiri. Karena dia bertobat dan berpaling kepada Allah, dia diampuni dari dosa-dosanya dan mendapat hayat Allah.
Menerima Karunia Roh Kudus dan Warisan Ilahi
Dalam injil Tuhan bertujuan agar manusia mendapatkan pengampunan dosa-dosa, juga agar manusia menerima karunia Roh Kudus (2:38) dan warisan ilahi (26:8). Ketika manusia bertobat dan berpaling kepada Allah, maka dosa-dosanya diampuni, mereka menerima karunia Roh Kudus dan warisan ilahi. Roh Kudus, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh yang almuhit, diberikan kepada manusia ketika mereka bertobat menjadi berkat almuhit dari injil penuh Allah (Gal. 3:14) supaya mereka dapat menikmati segala kekayaan Allah Tritunggal. Warisan ilahi ini adalah Allah Tritunggal sendiri, bersama dengan segala yang dimiliki-Nya, segala yang telah Dia kerjakan, dan segala yang hendak Dia kerjakan untuk umat tebusan-Nya. Allah Tritunggal ini terwujud di dalam Kristus yang almuhit (Kol. 2:9) menjadi bagian kaum kudus (1:12). Roh Kudus, yang diberikan kepada kaum kudus, adalah pencicipan, meterai dan jaminan warisan ilahi ini (Ef. 1:14), yang kita bagi nikmatkan dan nikmati hari ini sebagai pencicipan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan akan dibaginikmatkan dan dinikmati sampai puncaknya di zaman akan datang dan dalam kekekalan (1 Ptr. 1:4). (Truth Lessons, Level 1, Vol. 3, hal. 51-52)
Pertanyaan-pertanyaan: