MENGHASILKAN DAN MERAWAT DOMBA KECIL BAPA DIMULIAKAN ADALAH BAPA DIEKSPRESIKAN MELALUI PELIPATGANDAAN HAYAT
Walaupun keempat kitab Injil menyinggung tentang pemberitaan Injil, tetapi catatan Injil Yohanes sangatlah khusus. Pada akhir Injil Matius, Tuhan memerintahkan murid-murid untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20), pada akhir Injil Markus dan Injil Lukas, Tuhan juga memberi perintah serupa (Mrk. 16:15-16; Luk. 24:46-48). Namun, dalam Injil Yohanes, Tuhan tidak memerintahkan murid-murid untuk memberitakan Injil, melainkan memberi tahu mereka untuk berbuah. Injil Matius menyajikan pemberitaan Injil kerajaan, Injil Markus menyajikan pemberitaan Injil kepada seluruh makhluk, dan Injil Lukas menyajikan pemberitaan Injil pengampunan dosa. Namun, Injil Yohanes adalah kitab Injil mengenai hayat. Maka, dalam Injil Yohanes, pemberitaan Injil terutama bukan melalui memberitakan, tetapi dengan cara melepaskan (membebaskan) hayat.
Dalam Yohanes 15:4-5, Tuhan berkata kepada muridmurid, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga
kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Ranting-ranting tinggal pada pokok anggur bukanlah memberitakan Injil, tetapi mengalirkan hayat batiniah. Sebagai contoh, pohonpohon buah di kebun buah-buahan tidak memberitakan Injil di sana; mereka hanya bertumbuh. Ketika mereka bertumbuh, mereka mengalirkan hayat batiniah mereka. Pengaliran hayat ini akan menghasilkan banyak buah. Karena itu, berbuahnya ranting-ranting pohon buah adalah hasil aliran hayat batiniah mereka.
Dalam Yohanes 15 kita melihat gambar yang sama. Di sana dikatakan bahwa Bapa dimuliakan jika kita berbuah banyak (ayat 8). Banyak orang Kristen tidak tahu apa arti Bapa dimuliakan. Bapa dimuliakan adalah diri-Nya dilipatgandakan. Sebagai contoh, seorang pemuda tidak memiliki anak setelah menikah sepuluh tahun. Tiga puluh tahun kemudian, dia masih belum memiliki anak. Akhirnya, ketika dia berusia sembilan puluh tahun, tetap tidak memiliki anak. Jika Anda pergi mengunjungi dia di rumahnya, Anda hanya akan melihat laki-laki tua dengan tubuhnya yang lemah beserta istrinya yang juga tua dan yang sudah sulit berjalan. Anda tidak akan merasa mulia, malah akan merasa kasihan. Namun, seandainya ada orang yang setelah menikah lebih dari dua puluh tahun memperanakkan dua belas anak laki-laki dan delapan anak perempuan, dan semua anaknya memperanakkan anak laki-laki dan perempuan setelah mereka menikah, memberi dia lima belas cucu. Dia mungkin hanya berusia lima puluh lima tahun, namun dia sudah memiliki sejumlah keturunan. Jika kita melihat betapa banyak keturunan yang dia miliki, kita akan mengagumi dia dan berkata, “Mulia, mulia! Ini benar-benar mulia! Anda telah menghasilkan banyak keturunan.”
Bapa kita dimuliakan, yaitu jika kita berbuah banyak. Ini berarti hayat ilahi Bapa diekspresikan melalui kita berbuah, seperti ranting-ranting pokok anggur yang berbuah banyak; demikianlah Dia dimuliakan. Ketika kita melihat banyak orang muda dalam gereja bangkit mengasihi dan melayani Tuhan dan begitu banyak orang yang dibawa ke dalam gereja, kita berseru dengan girang, “Mulia!” Kita berseru karena hayat ilahi Bapa dilipatgandakan.
Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya mengunjungi Filipina, banyak di antara pewajib pada saat itu terlihat seperti pohon-pohon yang sulit bertumbuh, dan beberapa orang tidak tahu apakah mereka itu tanaman atau batu; dua puluh tahun kemudian, mereka semua telah beruban. Andaikata di Filipina hanya ada sekelompok orang beriman tua demikian, tidak ada orang muda; jangankan membawa orang-orang setempat ke dalam gereja, bahkan anak-anak dari kaum beriman tua pun telah hilang; jika demikian, hati kita akan membeku. Jika kita mendengar kaum beriman tua menyanyi dengan lemah dan pelan, kita akan benar-benar mencucurkan air mata dan tersedu-sedu, karena jika gereja tidak memiliki orang muda, gereja tidak memiliki keturunan dan karena itu tidak ada masa depan. Namun, ketika kita melihat orang-orang muda, khususnya orang-orang baru bangkit, dan ketika kita mendengar mereka menyanyi dalam sidang, ini sungguh mulia. Ini menegaskan apa yang Tuhan katakan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak.” Jika balai-balai sidang di tempat kita dipenuhi dengan orang-orang muda, betapa mulia jadinya!
Untuk ini kita semua perlu diingatkan bahwa kita harus pergi dan berbuah. Setiap orang dari kita harus bernazar di hadapan Allah akan berbuah satu orang setiap tahun. Jika kita tidak dapat membawa satu orang kepada Tuhan; yaitu, menghasilkan satu buah bagi Tuhan dalam satu tahun (tiga ratus enam puluh lima hari), kita akan malu. Boleh jadi minggu demi minggu kita datang sendirian ke sidang-sidang dengan membawa Alkitab dan kidung kita. Lima tahun yang lalu keadaannya demikian, dan sekarang, lima tahun kemudian, masih sama — kita tidak membawa satu orang bersama kita. Jika demikian, tidak akan ada kemuliaan. Namun, andai musim semi tahun depan, setiap orang dari kita membawa satu domba, dan di pertengahan tahun kedua setiap orang membawa domba yang lain. Kita semua akan memiliki perasaan mulia dalam batin kita. Jika setiap orang dari kita bisa membawa dua domba pada pertengahan tahun berikutnya, semua tempat duduk di balai sidang akan penuh, kemudian keadaannya akan ternyata semakin mulia.
PROBLEM HAYAT ROHANI, TIDAK BERBUAH
Saya dapat bersaksi kepada kalian bahwa saya memiliki domba-domba kecil di setiap tempat. Itulah sebabnya saya begitu gembira. Ke mana pun saya pergi, ada kawanan domba menerima perawatan saya. Ketika saya merawat mereka, hati saya merasa sukacita dan mulia. Saya harap kalian semua mau menjawab panggilan Tuhan, melupakan segala sesuatu dan tidak mempedulikan keadaan sidang-sidang, dengan baik-baik pergi dan berbuah, membawa domba-domba ke dalam hidup gereja.
Saya tidak bermaksud menghasut siapa pun; saya hanya ingin menekankan jalan hayat kepada kalian. Kita tidak memiliki pertumbuhan hayat karena kita tidak berbuah. Karena itu, kita harus meletakkan segala hal lainnya, dengan sederhana pergi dan berbuah. Ketika kita berbuah, semua penyakit kita dengan spontan akan disembuhkan. Mereka yang lemah akan menjadi kuat; mereka yang kerohaniannya tidak sehat akan menjadi normal dan sehat.
Setiap orang tua memiliki pengalaman ini. Kadangkadang mereka sangat sibuk, letih, dan bahkan menjadi sakit; tetapi ketika mereka melihat anak-anaknya, sakitnya hilang dan mereka semua menjadi kuat. Ketika seseorang sakit, dia mungkin minta izin meninggalkan kantornya, tetapi dia tidak mungkin minta izin meninggalkan anak-anaknya. Ketika dia melihat anak-anaknya, semua sakitnya akan hilang. Begitu pula, ketika kita melihat “domba-domba” kita, orang-orang yang telah kita pimpin untuk diselamatkan, semua masalah kita dan semua penyakit kita akan hilang, baik yang jasmaniah atau rohaniah, semua akan lenyap.
Kemarin ketika makan siang, karena terlalu banyak makan, badan terasa tidak nyaman dan sakit. Kemarin malam, setelah saya menyampaikan berita dalam sidang, saya mengukur suhu badan di rumah dan menemukan bahwa saya demam. Mungkin saya mulai demam ketika saya menyampaikan berita, tetapi untuk kepentingan perawatan domba-domba saya, saya tidak mempedulikan diri sendiri. Setelah merawat dombadomba, saya baru sadar bahwa suhu badan saya naik. Setelah saya minum obat, demam saya hilang. Ketika saya bangun pagi hari berikutnya, saya merasa sangat lapar dan tidak memiliki kekuatan. Awalnya, saya bermaksud istirahat hari itu, tetapi ketika saya mengingat bahwa domba-domba perlu dirawat, saya datang menghadiri sidang. Begitu saya membuka mulut, kekuatan datang mengalir. Jadi, saya sangat percaya bahwa ketika kita pergi untuk berbuah dan menggembalakan domba-domba, semua penyakit kita akan hilang dan semua kelemahan kita akan sirna. Selain itu, kita akan benarbenar bertumbuh dalam hayat rohani.
BUKAN HANYA MENGHASILKAN DOMBA-DOMBA MELALUI BERBUAH, TETAPI JUGA MERAWAT DOMBA-DOMBA
Cara Yohanes menulis Injil Yohanes sangat khusus. Dalam pasal 15 dia mengatakan bahwa kita harus pergi dan berbuah. Buah ini adalah buah tumbuh-tumbuhan. Sampai pasal 21, dia berkata bahwa kita harus merawat (memelihara) domba-domba (ayat 15-17). Ini berarti hayat tumbuh-tumbuhan menjadi hayat binatang; setiap buah menjadi seekor domba. Berbuah itu relatif mudah, tetapi tidak mudah untuk mengasuh, merawat dombadomba. Setiap orang tua tahu bahwa walaupun menderita, melahirkan anak itu agak mudah. Namun, setelah anak itu lahir, tidak mudah membesarkan dia sampai dewasa. Menurut perkataan Yohanes, memimpin seseorang beroleh selamat adalah berbuah. Pada awalnya, orang ini seperti anggur; namun, setelah dia beroleh selamat, dibaptis, dan dilahirkan kembali menjadi anak Allah, dia menjadi domba yang perlu perawatan makan agar bertumbuh dalam hayat. Ini benar-benar tugas yang melelahkan.
Hari ini kita semua ingin memimpin orang kepada keselamatan, tetapi ketika banyak yang dibaptis, kita umumnya menyerahkan mereka kepada gereja, kepada para penatua untuk dirawat. Namun, gereja hanya memiliki sedikit penatua. Sekalipun mereka semua berpengalaman menjadi “ibu”, mereka tetap tidak dapat memelihara begitu banyak anak. Karena itu, banyak anak yang “mati prematur” atau diambil oleh orang lain. Mungkin kita mendapat seratus orang, namun hanya lima orang yang tertinggal dalam gereja. Sekali lagi banyak yang dilahirkan kembali melalui sidang pembaptisan gereja, tetapi setelah mereka dibaptis, sepertinya tidak ada yang melanjutkan merawat. Ini karena kita hanya mau melahirkan bayi-bayi, tetapi tidak mau dengan baik-baik mengasuh mereka.
Di masa lalu gereja di Taipei juga memiliki masalah yang sama. Gereja di sana memimpin banyak orang beroleh selamat dan bahkan membaptis delapan puluh sampai sembilan puluh orang setiap kali pembaptisan. Namun, orang-orang yang dibaptis itu banyak yang hilang, karena tidak ada orang yang bertanggung jawab merawat mereka. Mulai sekarang, setiap orang beriman dalam gereja harus belajar menjadi orang tua yang bertanggung jawab dan mengubah keadaan “menyerahkan” orang baru tadi. Setelah Anda melahirkan bayi, Anda seharusnya tidak menyerahkannya kepada orang lain; sebaliknya, Anda harus memelihara dia dengan baik dan merawat dia. Jika Anda membawa masuk orang baru, Anda harus memikul tanggung jawab untuk menggembalakan dia. Karena dia adalah bayi Anda, Anda harus memelihara dan merawat dia. Hanya dengan cara ini kita dapat memperhatikan orang baru agar mereka menjadi buah-buah yang tetap. Jika kita hanya memimpin orang kepada keselamatan tanpa memikul tang-gung jawab untuk menggembalakan mereka, kelak kita masih harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Perkataan Tuhan kepada Petrus dengan jelas mewahyukan bahwa kita harus menggembalakan domba-domba yang telah Tuhan amanatkan kepada kita.
BERBUAH DAN MERAWAT DOMBA MENGHASILKAN PERTUMBUHAN DAN PELIPATGANDAAN GEREJA
Ketika kita memenuhi kewajiban memelihara dan merawat domba-domba, kita akan menemukan bahwa pengetahuan kita atas kebenaran sangat tidak memadai dan kita perlu belajar dan diperlengkapi lagi. Pada saat yang sama, kita juga akan menyadari bahwa pengalaman kita atas Kristus tidak memadai dan karena itu kita perlu mengejar pengalaman yang lebih dalam atas Kristus, hanya seperti orang tua, merawat anak-anak mereka, menyadari kekurangannya dan memaksa mereka untuk belajar lagi dan melaksanakan lagi. Hanya ini yang akan menghasilkan pertumbuhan seluruh gereja.
Saya tidak bermaksud mengkritik setiap orang, tetapi faktanya adalah kaum beriman yang senior cenderung mudah tertarik kepada hal-hal yang usang. Semua orang beriman yang senior harus mengenal bahwa keadaan hari ini berbeda dengan dua puluh tahun yang lampau dan sangat berbeda dengan setengah abad yang lampau. Karena itu, jangan memperhatikan bagaimana keadaan gereja pada tahun 1934 atau 1964. Kita seharusnya tidak mengurung diri sendiri sampai tua dengan cara-cara tradisional. Sebaliknya, kita harus pergi (maju) dan berbuah. Pemulihan Tuhan di Filipina telah memiliki sejarah dua puluh sampai tiga puluh tahun, tetapi jumlah kaum beriman tidak sampai sepuluh ribu, hanya 0,2% dari seluruh jumlah penduduk. Selain bagian selatan Filipina, kita memiliki tidak sampai seribu orang beriman di seluruh wilayah metropolitan Manila. Keadaan ini tidak mulia, tetapi memalukan bagi kita. Jangan berkata bahwa para penatua harus memikul tang-gung jawab ini. Hanya ada sedikit penatua, dan bahkan jika mereka berjerih lelah, mereka masih tidak dapat memikul tanggung jawab demikian.
Saya mengatakan hal ini supaya kalian tergerak, pergi dan menghasilkan buah. Setiap orang percaya dalam gereja harus pergi dan berbuah. Ketika buah dihasilkan, buah ini menjadi domba. Kita seharusnya tidak menjadi domba-domba. Kita harus menjadi gembalagembala kecil yang merawat domba-domba. Jika kita semua merawat domba-domba kita, mereka juga akan terpengaruh oleh kita untuk pergi berbuah dan merawat domba-domba. Ini akan menjadi kebiasaan keluarga dalam pemulihan Tuhan. Gereja akan dilipatgandakan terus-menerus dan diperluas dan bertumbuh tahun demi tahun. Dengan cara ini, ketika orang datang ke gereja dan melihat bahwa ada banyak orang baru yang bertumbuh dengan sehat, mereka akan benar-benar memiliki perasaan mulia.
UNTUK MERAWAT DOMBA-DOMBA, HARUS DIPERLENGKAPI DALAM KEBENARAN DAN BERTUMBUH DALAM HAYAT
Injil Yohanes adalah kitab mengenai hayat, tetapi Yohanes juga senang memakai kata “kebenaran” dalam tulisannya. Maka, dalam Surat Kirimannya, seperti dalam Injilnya, dia pertama-tama menyebutkan kebenaran dan kemudian menyajikan perkara hayat. Ini memperlihatkan kepada kita prinsip rohani. Jika tidak ada kebenaran, tidak akan ada hayat; jika tidak ada hayat, juga tidak akan ada kebenaran.
Dalam Yohanes 14:6, Tuhan meletakkan hayat dan kebenaran bersama-sama. Kemudian dalam pasal 15 Tuhan membicarakan perkara berbuah. Ini menunjukkan bahwa berbuah berhubungan erat dengan hayat dan kebenaran. Dari pengalaman, tidak berbuahnya kita menyingkapkan kekurangan kita dalam hayat. Mengapa kita tidak berbuah? Karena kita tidak kaya dalam hayat. Jika kita memiliki kelimpahan hayat, kita akan dengan spontan berbuah. Jika kita mau memperhatikan berbuah, kita harus memperhatikan pertumbuhan hayat. Jika kita mau memperhatikan pertumbuhan hayat, kita harus juga memperhatikan menuntut kebenaran. Ketika kita memiliki kebenaran, kita akan dipimpin ke dalam pengalaman atas Kristus. Dengan cara ini kita akan dapat menggembalakan domba-domba kita. Kalau tidak, kita tidak bisa merawat domba-domba dan tidak ada jalan memelihara mereka. Tanpa mengenal kebenaran atau bertumbuh dalam hayat, kita mungkin masih dapat memimpin orang beroleh selamat dan dibaptis; namun, jika kita kekurangan pengetahuan kebenaran dan pengalaman atas Kristus, kita tidak dapat dengan tepat memenuhi tanggung jawab perawatan.
Orang tua merawat anak-anaknya melalui memberi mereka makanan untuk dimakan dan susu untuk diminum. Demikian pula, untuk merawat domba-domba, kita harus menyiapkan makanan dan minuman rohani. Firman Tuhan adalah roti hayat (Yoh. 6:35, 63) dan susu rohani (1 Ptr. 2:2). Jika kita mengenal kebenaran dalam Alkitab, firman Tuhan, kita akan mampu memberi domba-domba kita banyak perawatan. Sebagai contoh, kita bisa memakai Injil Yohanes untuk merawat orang lain, berkata, “Yohanes 1 mengatakan bahwa Tuhan adalah Allah, dan sebagai Allah Dia menjadi daging. Bersama dengan Dia, datang juga kebenaran, yang adalah firman Allah. Kemudian pasal 8 mengatakan bahwa kebenaran akan memerdekakan kita; pasal 17 mengatakan bahwa kita dikuduskan dalam kebenaran. Akhirnya, kebenaran tidak lain adalah diri Tuhan Yesus sendiri. Jadi, kita harus mengasihi Tuhan, berdoa kepada Dia setiap waktu, dan membaca firman-Nya setiap hari.” Betapa baiknya hal ini! Injil Yohanes membicarakan hayat dan kebenaran. Hayat dan kebenaran ini adalah Tuhan Yesus, dan hari ini Dia adalah Roh itu yang hidup di dalam kita dan menyuplai kita hari demi hari. Karena itu, pasal 6 mengatakan bahwa Tuhan adalah roti hayat untuk kita makan (ayat 35, 48). Ketika kita makan Dia, kita hidup oleh Dia (ayat 57).
Jika kita memiliki pengenalan yang kaya atas kebenaran dan banyak pengalaman atas hayat, ketika kita pergi mengunjungi domba-domba kita, kita akan mampu menyuplai mereka dengan susu firman menurut keperluan mereka. Ini adalah pelaksanaan yang tepat atas perawatan domba-domba. Sayangnya, kebanyakan dari kita begitu melihat domba-domba, hanya dapat berkata, “Dapatkah Anda menghadiri sidang Hari Tuhan? Kenapa Anda tidak datang bersidang? Sidang itu sungguh baik; Anda sebenarnya harus datang.” Kita hanya bisa berkata sedemikian kepada domba-domba kita. Akhirnya, mereka menjadi bosan, dan pelan-pelan mereka tidak suka melihat kita lagi. Karena mereka tahu bahwa kita tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan kecuali, “Sidang itu sungguh baik; silakan datang.” Ini bukan merawat, melainkan seperti mengirimi mereka panggilan untuk menghadap pengadilan. Mereka bukan hanya tidak tersuplai, malah bosan terhadap kita.
Karena itu, ketika kita melihat domba-domba kita, jangan lagi berkata, “Sidang itu baik; silakan datang.” Sebaliknya, kita membicarakan kebenaran kepada mereka. Kebenaran adalah firman Allah. Mungkin ada orang yang akan berkata, “Ada banyak tempat dalam firman yang tidak saya pahami; saya tidak dapat mengerti Injil Yohanes.” Tuhan telah membukakan seluruh Perjanjian Baru kepada kita dalam satu seri Pelajaran-Hayat. Jika seseorang tidak memahami Injil Yohanes, silakan membaca Pelajaran-Hayat Yohanes, di sana semua “kebenaran” dibukakan. Begitu dia membaca berita-berita Pelajaran-Hayat, dia akan bisa memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Setelah mempelajari kebenaran dan bertemu dengan domba-domba kita lagi, kita tidak lagi berkata, “Sidang itu sungguh baik; silakan datang.” Malahan, kita akan mengajak mereka bersama membaca Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita . . . penuh anugerah dan kebenaran.” Kemudian kita boleh menjelaskan kepada mereka, “Kebenaran di sini adalah realitas, dan kebenaran adalah penjelasan Kristus. Penjelasan ini ditemukan di seluruh Injil Yohanes. Yohanes 8:31-36 mengatakan bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Namun, kebenaran akan memerdekakan kita. Karena itu kita harus menuntut kebenaran, dan ketika kita memiliki kebenaran, kebenaran akan memerdekakan kita.” Perkataan sederhana ini akan menyuplai mereka dengan secangkir “susu firman” dan dua potong kecil “makanan keras” sehingga mereka dapat terawat dengan mantap.
Ketika mereka pulang, Roh Kudus akan bekerja melalui pembicaraan kita, karena firman Tuhan adalah Roh, dan mereka akan memiliki Roh itu beroperasi di dalam mereka. Walau mereka tidak diminta datang ke sidang, mereka akan hadir pada kesempatan yang akan datang.
Selanjutnya, kita dapat berkata kepada mereka, “Kebenaran bukan hanya akan memerdekakan kita, kebenaran ini juga menjelaskan Tuhan. Tuhan adalah hayat dan ada di dalam kita. Yohanes 15 mengatakan bahwa kita harus tinggal di dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam kita. Dengan demikian kita akan saling tinggal dengan Tuhan. Kita bisa menikmati Dia, dan Dia juga bisa menjadi hayat kita. Alhasil, kita bisa berbuah agar Bapa dimuliakan.” Jika kita sekali demi sekali secara demikian merawat mereka, setelah dua atau tiga bulan, mereka akan bertumbuh dalam hayat, mengalirkan hayat, berbuah, dan membawa orang kepada Tuhan. Buah mereka kemudian akan menjadi domba-domba mereka, dan mereka akan merawat domba-domba mereka menurut cara mereka disuplai oleh kita. Dengan cara ini satu mata rantai terhubung satu sama lain — kita merawat mereka sebagai domba-domba kita, mereka merawat orang lain sebagai domba-domba mereka, dan domba-domba mereka merawat orang lain sebagai domba-dombanya. Betapa mulia keadaan ini. Inilah mengalirkan hayat dan menyajikan hayat.
PELAKSANAAN SEPENUH WAKTU
Gereja-gereja di Amerika Serikat telah mulai melaksanakan hal ini: para mahasiswa menyisihkan dua tahun setelah mereka lulus untuk melayani gereja. Tentu, ini bukan peraturan, melainkan berasal dari kehendak be-bas orang beriman sendiri. Ketika mereka lulus dari perguruan tinggi, mereka belajar melayani dalam gereja. Mereka memakai empat jam di pagi hari, lima hari setiap minggu, memfokuskan diri pada berita-berita Pelajaran-Hayat untuk mempelajari kebenaran-kebenaran dalam Perjanjian Baru. Setelah dua tahun, mereka telah mempelajari seluruh Perjanjian Baru satu kali. Sore hari mereka pergi mengunjungi orang di rumah-rumah atau mengontak pelajar-pelajar di kampus. Setiap malam mereka dapat bergabung di sidang-sidang atau pergi keluar untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan. Pelaksanaan ini sangat efektif, dan mereka yang melayani dengan cara ini juga menerima banyak faedah. Setelah dua tahun gereja akan memutuskan, menurut daya guna dan pilihan mereka, juga menurut pimpinan Tuhan, apakah mereka tetap sepenuh waktu atau pergi bekerja.
Jika para mahasiswa muda dalam pemulihan Tuhan mau mempersembahkan dua tahun setelah lulus untuk pergi memberitakan Injil dan menerima pendidikan rohani, masa depan pemulihan Tuhan akan tak terkira. Lagi pula, dalam gereja harus ada orang yang melayani Tuhan sepenuh waktu. Dalam pemulihan Tuhan, pelayanan sepenuh waktu bukan berarti Anda berprofesi sebagai pengkhotbah dan mencari nafkah Anda melalui berkhotbah. Alkitab dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa hal ini tidak demikian. Sebagai contoh, Paulus adalah orang yang melayani sepenuh waktu, tetapi sewaktu ada keperluan, dia juga membuat kemah (Kis. 18:3; 20:34-35). Akwila dan Priskila juga pembuat kemah dengan keterampilan seperti Paulus, tetapi mereka juga seperti sepenuh waktu. Ke mana pun mereka pergi, mereka membuka rumahnya, seluruhnya bagi gereja dan orang-orang beriman (Rm. 16:3-5a; 1 Kor. 16:19b). Jadi, pelayanan sepenuh waktu adalah suatu pelaksanaan, bukan profesi. Lulus kuliah menyisihkan dua tahun dan kemudian pergi bekerja. Setelah sejangka waktu, jika gereja memerlukan atau mereka merasa bahwa mereka harus memperoleh pelajaran selanjutnya, mereka dapat keluar untuk melayani sepenuh waktu lagi. Pelaksanaan ini hidup dan organik, tanpa unsur pengaturan.
Sebenarnya, kita semua harus mempersembahkan waktu kita kepada Tuhan. Semakin banyak waktu kita persembahkan, semakin baik. Khususnya, ada banyak ibu rumah tangga di antara kita. Setiap hari banyak orang harus pergi bekerja atau sekolah, tetapi ibu-ibu rumah tangga ini memiliki banyak waktu. Maka, mereka seharusnya memberikan waktunya untuk dipakai Tuhan. Cara yang konkret untuk melakukan ini adalah membuka rumah dan mengundang kerabat dan temantemannya untuk mendengarkan Injil. Namun, jangan mengundang para penatua datang dan memberitakan; mereka sendiri yang harus memberitakan Injil. Mungkin banyak dari mereka akan mencoba membuat alasan, mengatakan bahwa mereka tidak mampu memberitakan Injil. Namun, ketidakmampuannya adalah alasan tepat bahwa mereka perlu belajar kebenaran dan diperlengkapi dengan kebenaran. Ingatlah baik-baik, jika Anda mengundang para penatua atau orang-orang berkarunia untuk memberitakan Injil, hasilnya belum tentu baik. Hanya ketika Anda sendiri yang memberitakan dan membicarakan, Injil akan menjadi hidup dan efektif.
Jika semua orang beriman dapat melayani dan berfungsi, tidak mengandalkan orang-orang berkarunia, tetapi dengan rajin belajar kebenaran, mengalami Kristus, berusaha memberikan waktunya, membuka rumahnya, dan berusaha sekuatnya untuk memberitakan Injil, hasilnya akan sangat besar. Di Taipei kita juga menyinggung beban pelayanan sepenuh waktu, mengherankan, banyak orang dengan segera merespons. Sekarang ada kira-kira enam ratus orang yang memiliki kedambaan untuk melayani sepenuh waktu, dan ada enam ratus orang lainnya yang ingin melayani sebagian waktu. Kita sangat sukacita karena hal ini. Seribu dua ratus orang beriman ini dapat dianggap masa depan gereja di Taipei.
Dalam prinsip yang sama, saya harap akan ada cukup banyak orang di setiap tempat yang mau melayani sepenuh waktu, sehingga Tuhan dapat memiliki jalan bebas untuk melakukan apa pun yang Dia ingin lakukan di setiap tempat.