TIANG PENOPANG UTAMA KEDUA DALAM PEMULIHAN TUHAN — HAYAT
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 10:10b; 11:25a; 1 Yoh. 1:2; 3:9; 5:12; Kol. 3:4a;
Gal. 2:19b-20a; 1 Kor. 15:45b; Rm. 8:2;
Kol. 1:19; Ef. 4:15, 13; 2 Ptr. 1:3-4
TUHAN YESUS ADALAH KEBENARAN DAN HAYAT
Pemulihan Tuhan terutama berdasarkan empat tiang penopang utama: kebenaran, hayat, gereja, dan Injil. Kekristenan menjadi merosot dikarenakan kehilangan kebenaran dan kekurangan hayat. Alkitab memberi tahu kita bahwa Tuhan sendiri adalah kebenaran dan hayat. Dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran (realitas) dan hidup (hayat).” Dalam ayat ini realitas adalah kebenaran. Demikian, Tuhan berkata bahwa Dia sendiri adalah hayat dan kebenaran.
Kebenaran dan hayat adalah Tuhan sendiri, tetapi memiliki seluk-beluk yang berbeda. Perbedaannya yaitu kebenaran adalah definisi dan penjelasan luaran, dan hayat adalah yang batiniah, isi intrinsik (yang di dalam). Tuhan ada di dalam kita sebagai hayat kita, tetapi pengalaman hayat memerlukan penjelasan. Penjelasan ini adalah kebenaran. Jika kita menerima Tuhan menurut penjelasan ini, kita memperoleh hayat. Karena itu, agar mengalami dan menikmati Tuhan sebagai hayat, kita harus mengenal kebenaran. Mengalami Tuhan sebagai hayat adalah tinggal di dalam kebenaran-Nya. Jika kita tidak jelas tentang kebenaran dan tidak memahami atau mengenal kebenaran, kita tidak akan memiliki jalan menikmati Tuhan sebagai hayat kita. Untuk alasan ini kita harus mencurahkan sejumlah waktu yang memadai untuk belajar kebenaran.
MENGALAMI HAYAT MELALUI MENGENAL KEBENARAN
Tuhan tidak meninggalkan kita dalam kegelapan. Hari ini semua kebenaran-Nya terdapat dalam Alkitab, yang telah Dia berikan kepada kita. Kita harus menyadari bahwa Alkitab adalah kitab hayat. Alkitab adalah kitab hayat karena isinya adalah kebenaran. Semua orang Kristen berpengalaman mengakui bahwa tidak ada se-orang pun dapat menikmati Kristus sebagai hayat jika tidak mengenal Alkitab atau memahami kebenaran dalam Alkitab. Kita perlu pergi ke toko swalayan membeli makanan, supaya tubuh jasmani kita diberi makan dan dikuatkan. Dalam perkara yang sama, kita harus menghampiri Alkitab untuk menerima kebenaran yang ada di dalamnya, jika kita ingin menerima dan menikmati Tuhan sebagai hayat. Semua kebenaran dalam Alkitab adalah makanan untuk hayat rohani kita.
Alkitab bukan hanya buku pengetahuan. Sesungguhnya, semua pengetahuan yang terdapat dalam Alkitab adalah kebenaran, dan di dalam kebenaran ini tersembunyi hayat. Ketika kita membaca Alkitab, jika kita hanya mempelajari huruf-huruf, dan bukan kebenaran yang ada di dalamnya, kita tidak akan memperoleh hayat. Karena itu, setiap pembaca Alkitab harus melihat kebenaran yang disampaikan melalui firman yang tertulis. Begitu kita melihat kebenaran, dengan spontan kita akan menjamah hayat. Pelajaran-Hayat telah diterbitkan untuk membantu kita masuk ke kedalaman fir-man yang tertulis. Karena itu, setiap orang yang dengan baik-baik mempelajari Pelajaran-Hayat pasti mendapatkan sejumlah pengalaman; sebab Pelajaran-Hayat ini membawa mereka ke dalam kebenaran-kebenaran Alkitab, yang darinya mereka dapat menerima suplai hayat sejati.
Hari ini pemulihan Tuhan adalah memulihkan kebenaran dan hayat. Kita semua tahu bahwa kemerosotan kekristenan disebabkan kehilangan kebenaran dan hayat, akibatnya, timbullah banyak metode manusia dan organisasi duniawi. Semua ini bukanlah apa yang Tuhan inginkan. Tuhan tidak ingin organisasi atau metode manusia. Sebaliknya, Dia ingin gereja-Nya mengenal Dia sebagai kebenaran, menerima dan menikmati Dia sebagai hayat. Seluruh isi gereja haruslah Kristus sebagai kebenaran dan hayat, dan kemudian bertumbuh dari dalam kita. Ini sepertilah kebun buah-buahan, seluruh isinya adalah buah-buah hayat yang dihasilkan dari pohon-pohon buah itu. Di kebun buah-buahan kita tidak menemukan organisasi atau perilaku manusia apa pun. Kita hanya dapat melihat pohon-pohon buah bertumbuh dan berbuah sebagai hasil pertumbuhan mereka dalam hayat. Ini seharusnya menjadi situasi gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan hari ini. Dalam gereja Tuhan, kita tidak ingin memiliki organisasi atau metode manusia apa pun. Sebaliknya, kita ingin menyuplai umat Allah agar mereka bertumbuh melalui ditanam dan disiram, seperti yang Rasul Paulus katakan dalam 1 Korintus 3:6 dan 9.
BERBAGIAN ATAS HAYAT DAN SIFAT ILAHI
Kita harus mengenal bahwa gereja tidak sama dengan masyarakat, juga berbeda dengan berbagai organisasi kekristenan. Ketidaksamaan dan perbedaan itu terletak pada masyarakat dan kelompok-kelompok kekristenan bersandar pada organisasi dan pekerjaan manusia, sedangkan gereja hanya bersandar pada terang kebenaran untuk menikmati hayat Tuhan. Kebenaran dan hayat tidak lain adalah diri Tuhan yang hidup. Tuhan memberi tahu murid-murid, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup (hayat), dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh. 10:10). Dia bahkan berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup (hayat)” (11:25). Dia bukan hanya hayat, tetapi juga kebangkitan. Ini berarti bahwa hayat yang adalah apa adanya Dia, ialah hayat kebangkitan. Fakta bahwa hayat ini ialah hayat kebangkitan berarti hayat ini dapat menelan maut. Jika hayat ini diletakkan dalam maut, maut tidak akan dapat mengalahkannya. Sebaliknya, karena hayat ini adalah kebangkitan, hayat ini akan menelan maut. Kebangkitan ini adalah Tuhan Yesus, Dia yang kita percaya dan terima.
Hari ini Tuhan Yesus adalah Roh hayat, hidup, dan bisa menghidupkan dan menguatkan kita. Karena itu, Dia adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Dia ada di dalam kita untuk memberi kita hayat dan menyuplai kita hari demi hari supaya kita dapat bertumbuh.
Dalam enam ribu tahun sejarah manusia, ada banyak filsuf terkenal, seperti Konghucu dari China dan Socrates dari Yunani yang sangat bijak dan yang menulis banyak buku yang sangat mendalam dan misteri. Namun, tidak seorang pun dari mereka yang berani berkata bahwa dirinya adalah hayat. Pernyataan “Akulah hayat” ini sangat sederhana, namun sangat besar dan dalam maknanya. Siapa yang mampu mengucapkan pernyataan demikian? Jika hari ini seseorang memberi tahu kita, “Akulah hayat.” Kita pasti akan menganggap orang tersebut adalah orang yang sangat bodoh atau orang yang sakit jiwa. Orang yang bagaimana yang dapat membuat pernyataan demikian? Kita tidak dapat menemukan pernyataan seperti ini dalam semua buku dan pemikiran klasik sepanjang sejarah manusia. Siapa yang telah mengatakan perkataan demikian? Yesus Kristus. Dia tidak akan mampu mengucapkan perkataan demikian, kecuali Dia memiliki hikmat dan realitas yang luar biasa.
Dia tidak hanya berkata, “Akulah hayat,” tetapi juga berkata, “Akulah kebangkitan.” Selain itu, Dia berkata, “Aku datang supaya mereka memiliki hayat.” Jika Dia bukan Allah, bukan Sang Roh hidup kekal, dan jika Dia tidak memiliki hikmat yang unggul dan luar biasa, bagaimana Dia dapat berkata demikian? Perkataan ini sederhana, tetapi dalam dan misterius. Hanya berdasarkan perkataan ini saja, kita seharusnya percaya bahwa Tuhan Yesus adalah luar biasa dan jauh lebih unggul di-banding yang lain. Tidak pernah ada orang yang berani berkata bahwa dirinya adalah hayat. Hanya Tuhan Yesus yang mengatakannya, dan bahkan mengatakannya berulang-ulang. Dia dapat berkata demikian karena Dia memang adalah hayat; Dia sangat agung, Dia sangat unggul.
Setelah Tuhan mengatakan perkataan ini, Dia menggenapinya. Tuhan berkata, “Akulah hayat,” Petrus, seorang dari murid-Nya, mendengar perkataan ini dan menerimanya. Sejak itu Petrus memiliki hayat yang unggul. Dia seorang nelayan dari Galilea, orang biasa yang tidak terpelajar (Kis. 4:13), tetapi setelah menerima hayat yang unggul ini, dia menjadi orang yang unggul. Selanjutnya, dalam 2 Petrus dia menulis, “Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh . . . Dengan jalan itu telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat (sifat) ilahi” (1:3-4). Jika Petrus tidak mengalami semua hal ini, dia tidak mampu menulis perkataan demikian. Dia adalah nelayan Galilea, namun dia dapat mengatakan bahwa dia adalah orang yang menerima hayat Allah dan berbagian atas sifat Allah.
Hari ini banyak keluarga suka memelihara anjing dan bermain dengan anjingnya. Namun, saya tidak suka anjing, karena sekalipun anjing itu sangat baik, ia tidak memiliki sifat manusia. Saya suka cucu-cucu saya. Banyak dari mereka berusia tujuh atau delapan tahun, dan yang lainnya baru berusia dua atau tiga tahun. Mereka berteriak dan merangkak di lantai. Saya suka melihat mereka, bermain dengan mereka, dan membiarkan mereka bersandar pada saya. Namun, jika saya melihat anak anjing di rumah, saya akan segera menghalaunya karena ia bukan jenis yang sama dengan saya. Saya adalah manusia, dan anak anjing adalah anjing. Anak anjing tidak memiliki sifat manusia, dan saya tidak memiliki sifat anjing. Keduanya tidak dapat bersekutu. Namun, cucu-cucu saya dan saya berasal dari jenis yang sama. Ketika mereka memanggil saya, “Kakek!” hati saya melonjak girang. Ketika saya memeluk mereka, mereka senang. Sebagai orang Kristen kita memiliki sifat ilahi dan dapat bersekutu dengan Allah. Ini benar-benar perkara yang menakjubkan.
Kita memiliki hayat dan sifat Allah dikarenakan Yesus Kristus masuk ke dalam kita, menyalurkan hayat Allah ke dalam kita. Sejak itu, kita dapat merasakan bahwa kita sangat dekat dengan Allah dan dapat dengan spontan memanggil Dia, “Abba, Bapa!” Ketika kita memanggil Dia secara demikian, kita merasa manis, sukacita, dan penuh penghiburan. Semakin kita memanggil Dia, semakin kita merasakan bahwa Dia ada di dalam kita dan kita adalah milik-Nya; kita memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita dapat hidup oleh hayat-Nya dan menikmati hayat ilahi-Nya.
KRISTUS DI DALAM KITA SEBAGAI HAYAT
Kita adalah manusia, namun kita memiliki hayat dan sifat Allah. Meskipun kita adalah manusia, kita telah menjadi anak-anak Allah oleh hayat Allah. Sungguh disayangkan, kekristenan telah kehilangan kebenaran ini dan tidak mengajarkan kebenaran ini, sebaliknya malah mengajarkan banyak butir kecil yang tidak berarti. Hari ini Amerika Serikat adalah negara adidaya di dunia ini. Bangsa ini nomor satu hampir dalam semua pemikiran, kecuali dalam perkara kebenaran. Dua puluh tahun yang lalu saya datang ke Amerika Serikat dan berbicara memakai diagram tiga lingkaran. Diagram ini mengulas tiga bagian manusia — roh, jiwa, dan tubuh. Ketika saya berbicara tentang roh manusia, banyak orang Kristen Amerika Serikat dan bahkan pengkhotbah berkata bahwa mereka tidak pernah melihat dalam Alkitab bahwa manusia memiliki roh. Mereka tahu bahwa ada Roh Kudus dan roh-roh jahat, tetapi mereka tidak tahu bahwa manusia memiliki roh. Karena hal ini, saya membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan roh manusia dari Kitab Kejadian sampai Wahyu kepada mereka. Hasilnya, mereka sepenuhnya diyakinkan.
Ada orang berkata bahwa tidak pernah seorang pun yang memberi tahu mereka bahwa manusia memiliki roh. Berkata demikian sebenarnya tidaklah tepat, karena dalam kurun waktu seratus tahun ini di Amerika Serikat ada beberapa penulis rohani terkenal yang telah menyebutkan roh manusia di dalam tulisan mereka. Sebagai contoh, diagram tiga lingkaran itu diambil dari buku yang berjudul “God’s Plan of Redemption”, ditulis oleh seorang saudari Amerika Serikat, Mary E. McDonough. Ketika Anda membuka buku ini, Anda akan melihat diagram tiga lingkaran. Meskipun penulis buku ini orang Amerika Serikat, orang Kristen Amerika Serikat tidak pernah membaca bukunya. Saya, seorang China, malah membacanya dan memakainya untuk mengajar mereka.
Ada sekelompok orang Kristen di Anaheim dengan kuat menentang pengajaran kita bahwa “Kristus tinggal di dalam kita”. Mereka berkata, “Kristus begitu besar, dan kita demikian kecil; bagaimana Dia dapat tinggal di dalam kita? Tidak ada hal seperti ini. Kristus hari ini duduk di atas takhta dan tidak di dalam kita. Kini, Dia mengutus Roh Kudus sebagai wakil-Nya di dalam kita. Mengatakan bahwa Kristus tinggal di dalam kita sama sekali bidah.” Kebenaran yang mereka ajarkan sepenuhnya menyimpang, karena mereka berpikir bahwa Roh Kudus di dalam kita hanya wakil Kristus. Mereka tidak melihat bahwa Roh Kudus adalah Allah Tritunggal.
Dalam Galatia 2:19b-20a, Rasul Paulus dengan jelas mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Namun mereka mengatakan bahwa Kristus yang disebutkan dalam ayat ini bukan diri Kristus sendiri, tetapi wakil Kristus! Dengan berkata demikian berarti mereka mengubah Alkitab. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa Kristus bukan hanya di dalam dia tetapi hidup di dalam dia. Ini berarti bahwa Kristus bergerak dan bekerja di dalam dia. Sesungguhnya, Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan bahwa Kristus yang duduk di surga hanya mengutus satu wakil ke dalam kita. Sebaliknya, Perjanjian Baru menekankan bahwa Kristus duduk di surga juga ada di dalam kita, yaitu, di dalam roh kita (Rm. 8:10, 34; 2 Kor. 13:5; Kol. 1:27; 3:1; 2 Tim. 4:22). Karena Dia adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b), Roh hayat (Rm. 8:2), dan Roh itu (2 Kor. 3:17), Dia ada di mana-mana; maka, Dia dapat berada di sebelah kanan Allah dan pada waktu yang sama berada di dalam roh kita. Dia dapat berada di surga dan di bumi pada waktu yang sama.
KRISTUS ADALAH HAYAT KITA
Tuhan Yesus berkata, “Akulah . . . hayat” (Yoh. 11:25 Tl.). Kemudian Paulus berkata, “Kristus adalah hayat kita” (Kol. 3:4 Tl.). Ini adalah secara pribadi mengatakan apa yang Tuhan katakan. Kristus bukan hanya hayat, lebih-lebih Dia adalah hayat kita. Kita harus dengan berani berkata bahwa Kristus adalah hayat kita, bahwa Dia hidup di dalam kita, dan bukan kita lagi sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Kristus ini, yang adalah hayat kita, hidup di dalam kita sebagai Roh hayat. Jika Kristus bukan Roh, Dia tidak berdaya masuk ke dalam kita.
Kata Inggris “pneuma” diambil dari kata Yunani yang menunjukkan “roh”, “angin”, atau “udara”. Pada sejumlah ban tertera kata “pneumatik”, menunjukkan bahwa ban harus memiliki pneuma, udara, baru mobil bisa bergerak. Jika Anda tidak hati-hati mengendarai mobil dan satu dari ban mobil terkena paku dan bocor, ban itu akan kempis, dan mobil Anda akan berhenti bergerak. Hari ini ada banyak orang Kristen yang “kempis”. Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri setiap waktu, “Aku penuh pneuma atau aku kempis?” Kita harus selalu dipenuhi dengan pneuma. Jika ban kita kempis, kita harus pergi ke bengkel untuk memompanya. Dengan cara yang sama, jika kita “kempis” dalam batin, kita harus berpaling kepada roh kita untuk mengontak Tuhan, yang adalah pneuma, supaya kita dipenuhi dengan pneuma, yang adalah Roh Kudus.
Pada malam hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus datang ke tengah-tengah murid-murid-Nya. Dia tidak mengajar mereka dengan pembicaraan yang panjang atau mengarahkan mereka mengenai bagaimana mereka berperilaku. Dia hanya melakukan satu hal, yaitu mengembusi mereka. Tadinya semua murid telah putus asa dan kecewa, ban mobil terkena paku dan “kempis”, sama sekali tidak ada keberanian, mengira Tuhan telah mati dan mereka sama sekali tidak berpengharapan. Namun, ketika Tuhan Yesus datang, Dia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Inilah embusan kudus yang melaluinya Tuhan menyalurkan diri-Nya ke dalam mereka untuk menjadi hayat dan segala sesuatu mereka.
MENGALAMI DAN MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI HAYAT
Kebanyakan orang dalam kekristenan mengabaikan kebenaran ini. Mereka hanya memperhatikan praktek yang di luar, namun mengabaikan realitas yang di dalam. Sebagai contoh, dalam upacara pernikahan, pendeta sering mengajar bahwa istri harus taat kepada suaminya dan suami harus mengasihi istrinya; lalu mempelai laki-laki dan perempuan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Kemudian mereka pergi berbulan madu. Namun, mungkin pada hari ketiga si istri merasa bahwa suaminya tidak masuk akal, bagaimana ia dapat taat kepadanya? Suami mungkin merasa bahwa istrinya kurang bersimpati, tetapi pada hari pertama dia menahan emosinya dan tidak mengatakan apaapa, pada hari kedua dia menggertakkan giginya, tetapi pada hari ketiga dia tidak tahan lagi dan meledaklah amarahnya. Jika kita memberi orang hanya doktrin tan-pa memberi mereka suplai hayat, hasilnya adalah tidak ada kekuatan.
Kita tidak pernah dapat taat kepada suami kita atau mengasihi istri kita oleh diri kita sendiri. Jika kita mencoba melakukan hal ini, kita pasti akan melampiaskan amarah kita pada hari ketiga. Namun, kita harus menyadari bahwa karena kita adalah orang Kristen, kita memiliki Tuhan Yesus di dalam kita. Dia adalah hayat kita, karena Dia adalah Roh hayat yang menghuni kita. Ketika suami atau istri kita mempersulit kita, jangan memandang pada mereka, karena pada saat itu mereka terlihat sangat jelek. Sebaliknya, kita harus berpaling kepada Tuhan dan memandang Dia. Kita seharusnya tidak mencoba beralasan dengan suami atau istri kita, tetapi hanya berbicara kepada Tuhan Yesus yang ada di dalam kita. Kita dapat memberi tahu Tuhan bahwa jika bukan Tuhan yang memberi kita suami atau istri, kita tidak akan menikahi atau dinikahi dia; tetapi karena Tuhan yang memberi, Tuhan tentu melihat betapa tidak masuk akalnya mereka. Saya percaya bahwa selama kita memiliki sedikit percakapan dengan Tuhan, amarah kita akan mereda. Setelah Dia sepenuhnya meredakan amarah kita dan menginfus kita dengan keharuman-Nya, kita akan benar-benar penuh dengan sukacita. Akhirnya, bukan saja kita tidak marah-marah kepada suami atau istri kita, sebaliknya kita akan sangat mengasihi mereka.
Kita semua tahu kebenaran ini, tetapi sangat disayangkan, dalam realitas kehidupan kita setiap hari, bukan Kristus yang hidup, melainkan kita yang hidup. Ketika pasangan kita menatap kita dengan kesal, kita melotot balik kepadanya. Pada saat ini, kita lupa bahwa kita adalah orang Kristen. Kita yang hidup, bukan Kristus. Ketika ini terjadi, kita seharusnya tidak heran dengan bertanya mengapa kita dapat melampiaskan amarah kita dengan begitu buruk. “Aku” kita bukanlah barang yang baik, itu adalah tikus tanah, kalajengking, dan ular. Inilah sebabnya mengapa kehidupan kita begitu lemah dan getas. Bait 1 dari Kidung no. 378 mengatakan:
Hayat dan alangkah teduh!
Di batinku Kristus hidup!.
Bersama-Nya tersalibku,
Fakta mulia tebusan Hu.
Bukan lagi aku hidup,
Tapi Kristus penggantiku!
Dalam sidang mungkin kita menyanyi kidung ini dengan roh yang membubung dan suara yang menggema, tetapi ketika kita pulang ke rumah, kita mungkin berselisih tentang perkara membuka atau menutup jendela. Yang seorang mungkin berkata, “Sirkulasi udara di rumah tidak baik, lebih baik membuka jendela.” Namun, yang lainnya menjawab, “Kita seharusnya menutup jendela, aku tidak tahan dingin.” Saat mereka berdebat, mata mereka melotot, makin lama makin lebar, pendebat dan pendebat. Mereka berdua melupakan bahwa Kristus adalah hayat mereka. Maka, ini bukan lagi Kristus yang hidup, melainkan “aku” yang hidup.
Saya yakin bahwa di setiap rumah orang Kristen ada banyak barang yang tidak diperlukan, yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Toserba di Amerika Serikat mengiklankan obralan mereka setiap hari Sabtu, dan banyak saudari suka membacanya. Tidak peduli betapa nyaring mereka menyanyi dalam sidang — “Bukan lagi aku hidup, / Tapi Kristus penggantiku” — ketika mereka membaca iklan-iklan, ini “bukan lagi Kristus tetapi `aku’”. Ada saudari mungkin begitu melihat bahwa kain kesukaannya dijual dengan potongan lima puluh persen, dan melihat bahwa uang di rekening banknya masih cukup banyak, akan memutuskan mengendarai mobilnya menuju toko tersebut dan membelinya. Pada saat itu, Tuhan mungkin berkata, “Jangan lakukan ini. Kamu sudah memiliki banyak pakaian.” Namun, ia masih “bukan lagi Kristus, melainkan aku.” Ketika ia sampai di toserba, Tuhan mungkin berkata lagi, “Jangan beli kain itu. Pulang ke rumah!” Ia tetap “bukan lagi Kristus, melainkan aku”. Setelah ia masuk toko, ia mungkin mengambil sepotong kain, berpikir bahwa warnanya indah dan kualitasnya cukup baik. Pada saat ini, Tuhan mungkin berkata lagi, “Letakkan kain itu dan pulang ke rumah.” Namun, ia mungkin menjawab, “Oh Tuhan, izinkan aku kali ini saja, dan aku tidak akan melakukannya lagi. Hanya izinkan aku satu kali ini menjadi bukan lagi Kristus, melainkan aku”. Banyak dari kita yang memiliki pengalaman seperti ini.
Berapa banyak perkara dalam realitas kehidupan kita setiap hari, kita dapat mengatakan dengan pasti, “Ini bukan lagi aku, melainkan Kristus”? Kadang-kadang ketika dering telepon berbunyi, begitu telinga saudari menempel pada telepon, segera seperti sepotong logam tertarik kepada magnet. Mereka tidak dapat menyingkirkan telepon sampai mereka berbicara selama setengah jam atau satu jam. Jika meminta mereka membaca satu berita Pelajaran-Hayat, mereka akan beralasan dengan mengatakan bahwa mereka tidak punya waktu. Jika Anda meminta mereka berdoa dan membaca Alkitab, mereka akan berkata bahwa mereka tidak dapat melakukannya karena mereka sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Sebenarnya, tidak sulit untuk mengalami Kristus sebagai hayat, asal setiap kali ada masalah, kita terlebih dulu berbicara dengan Tuhan dan bersekutu dengan Dia. Dia tidak jauh dari kita; Dia ada di dalam kita. Kita harus bertanya kepada-Nya, “Tuhan, apa yang ingin Engkau lakukan? Apakah Engkau mau aku yang melakukannya? Jika Engkau mau melakukan ini, aku akan melakukannya bersama Engkau. Jika Engkau tidak mau melakukannya, aku juga tidak mau melakukannya.” Segera, kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan. Inilah menikmati Kristus sebagai hayat, menikmati sifat Allah. Demikian, kita dapat mengalami pimpinan yang jelas dari Kristus di dalam kita atas perkara demi perkara. Kita akan tahu bahwa Dia tidak ingin kita melakukan hal ini, juga tidak ingin kita melakukan hal itu. Alhasil, kita akan secara spontan memperhidupkan kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran, atributatribut ilahi Allah diekspresikan dalam kebajikankebajikan insani kita. Inilah memperhidupkan Kristus dan mengekspresikan Kristus.
RAHASIA MENGALAMI KRISTUS SEBAGAI HAYAT
Kristus adalah Roh, dan Roh ini ada di dalam Anda dan saya, di dalam roh kita setiap waktu. Sekalipun kita ingin berbicara kepada pasangan kita, jangan lang-sung berbicara; harus terlebih dulu berbicara dengan Tuhan, katakan, “Oh Tuhan, pasanganku ada di sini. Apa yang Engkau ingin agar aku katakan kepadanya? Apakah Engkau mau berbicara kepadanya? Jika Engkau tidak mau berbicara kepadanya, aku juga tidak akan berbicara kepadanya.” Tuhan dapat bersaksi bahwa sering kali ini adalah praktek saya ketika saya berbicara kepada istri saya. Sering kali ketika saya ingin berbicara kepadanya tentang sesuatu, saya memiliki perasaan di dalam rohku, mengatakan, “Kamu harus terlebih dulu berbincang dengan Tuhan, bertanya kepada Dia, apakah Dia mau berbicara.” Ketika saya demikian bertanya kepada Tuhan, dalam sepuluh kali ada delapan kali Tuhan tidak mau berbicara, akhirnya saya juga tidak berbicara. Melalui pelaksanaan ini kita dapat terhindar dari gosip dan menyia-nyiakan waktu, dan juga dapat menjaga kita hidup di dalam roh. Kita harus melatih ini, bahkan dalam hal kita berpakaian. Kita tidak seharusnya menentukan sendiri apa yang harus kita pakai. Sebaliknya, kita harus terlebih dulu bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau mau mengenakan pakaian ini? Jika Engkau mau mengenakannya, aku akan mengenakannya; jika Engkau tidak mau mengenakannya, aku pun tidak akan.” Dengan berbuat demikian kita memperhidupkan Kristus, dan hasilnya, yaitu, “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”.
Ketika orang datang untuk berdebat dengan saya mengenai doktrin tertentu, kadang-kadang ketika perkataan saya sudah berada di ujung lidah, tiba-tiba di dalam saya diingatkan bahwa saya harus terlebih dulu berpaling kepada Tuhan. Segera saya terlebih dulu bersekutu dengan Tuhan, mengatakan, “Tuhan, apakah Engkau mau berbicara? Jika Engkau berbicara, aku akan berbicara; jika Engkau tidak mau berbicara, aku tidak akan berbicara.” Dalam sepuluh kali ada delapan kali Tuhan tidak mau berbicara, maka aku pun tidak berbicara. Alhasil, banyak persoalan terhindarkan. Inilah memperhidupkan Kristus dan menikmati Kristus sebagai hayat. Inilah fakta, bukan doktrin yang kosong. Tuhan itu riil dan hidup, dan Dia ada di dalam kita. Kita harus selalu berkontak dengan Dia dan memiliki persekutuan dengan Dia. Baik kita berbicara atau melakukan sesuatu, jangan melakukannya menurut keputusan kita sendiri. Sebaliknya, terlebih dulu mengontak Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Dia. Bahkan jika kita menerima tekanan dan ingin menangis dan mencucurkan air mata, masih harus terlebih dulu bersekutu dengan Tuhan, katakan, “Tuhan, maukah Engkau menangis? Jika Engkau menangis, aku akan menangis. Jika Engkau tidak mau menangis, aku tidak akan menangis.” Jika kita semua mau berlatih demikian, hasilnya adalah memperhidupkan Kristus, yaitu mengalami Kristus sebagai hayat.
Kristus yang kita percayai adalah Allah, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Dia adalah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh; pada saat yang sama, Dia adalah Penebus dan Juruselamat kita. Hari ini Dia menjadi Roh pemberi-hayat, Roh hayat, dan bahkan Roh yang diperkuat tujuh kali ganda yang ada di dalam kita. Setiap waktu kita seharusnya tidak mengabaikan Dia, tetapi kita harus sering berlatih memiliki persekutuan dengan Dia. Bahkan ketika kita mau marah, kita harus terlebih dulu bertanya kepada Dia, “Tuhan, aku mau marah. Apakah Engkau marah? Aku mau menghukum anakku; apakah Engkau mau aku memukulnya? Aku mau memarahi mereka; maukah Engkau memarahi mereka?” Begitu kita bersekutu dengan Tuhan, kita pasti diterangi. Kita akan melihat bahwa kita tidak memiliki kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran, tetapi Dia ada di dalam kita sebagai kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. Ketika suami ingin memarahi istrinya, Tuhan segera tidak senang, ketika istri ingin membeli barang-barang yang diobral pada hari Sabtu, Tuhan segera mencegahnya. Kita benar-benar memiliki pengalaman ini. Sering kali meskipun Dia tidak mengatakan sesuatu, tetapi kita tahu maksud-Nya. Adakalanya kita memiliki kenikmatan bersekutu dengan Dia, tetapi pada titik tertentu, Dia malah memalingkan wajah-Nya dari kita, kita pun menyadari bahwa Dia tidak setuju dengan kita. Ini karena Dia adalah kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran, dan kita bukan kasih, terang, kekudusan, dan kebenaran. Akhirnya, kita akan ditundukkan oleh Dia dan akan melakukan hal-hal menurut kehendak-Nya. Ini adalah rahasia mengalami Kristus sebagai hayat.
Tuhan Yesus adalah Roh yang menembus segala sesuatu. Dia bukan hanya ada di takhta di surga, pada waktu yang sama juga ada di dalam kita. Efesus 3:17a mengatakan bahwa Dia membuat rumah-Nya di dalam hati kita. Hati kita tersusun dari semua bagian jiwa kita — pikiran, emosi, dan tekad kita — ditambah hati nurani kita, bagian utama roh kita. Agar Kristus membuat ru-mah-Nya di setiap bagian hati kita, Dia harus menyebar keluar, meresapi kita bagian demi bagian, dan Dia harus juga ke bawah, langkah demi langkah, berakar di dalam kita. Dia terus “menyerbu” di dalam kita. Dia terlebih dulu masuk ke dalam roh kita dan menanti kesempatan. Asal ada kesempatan, Dia masuk ke dalam pikiran kita. Kadang-kadang kita bergumul dengan Dia, mencoba mendorong Dia keluar, tetapi Dia sangat sabar. Dia terus berjuang untuk bergerak cepat, dan akhirnya Dia “menyerbu” pikiran kita. Kemudian Dia menanti kesempatan lain untuk masuk ke dalam emosi dan tekad kita. Kita mungkin memberi tahu Dia, “Tuhan, jangan terlalu cepat. Perlahan sedikit.” Namun, semakin kita berkata demikian, Dia semakin cepat datang. Akhirnya, Dia “menyerbu” emosi dan tekad kita.
Saya telah “diserbu” Tuhan selama lebih dari lima puluh tahun. Hari ini hampir tidak ada ruangan di dalam saya yang disisakan untuk diri saya sendiri, semua ruangan telah diduduki oleh Dia. Walaupun saya tidak ingin berkata, “Bukan lagi aku, melainkan Kristus,” tetapi saya mau tak mau harus mengatakannya, karena Dia telah menduduki seluruh diri saya. Saya tidak lagi memiliki sedikit pun ruangan bagi diri sendiri. Adakalanya saya ingin melakukan sesuatu, segera Tuhan yang ada di dalam saya berkata, “Lakukanlah sendiri; Aku tidak melakukannya.” Akhirnya, saya juga tidak dapat melakukannya karena “Bukan lagi aku, melainkan Kristus”. Dalam realitas kehidupan kita setiap hari, apakah “aku” atau “Kristus” yang hidup? Semoga persekutuan pendek dan sederhana ini bisa menjadi peringatan yang terus-menerus bagi kita.