← Daftar isi Kejadian dan Keluaran · bab 5/10

MENGALAMI DAN MENYUPLAIKAN KRISTUS

Mengenai kebenaran, kita perlu memahami dan menjelaskannya. Mengenai Kristus, kita perlu mengalami dan menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Kristus yang kita sebut di sini bukanlah Kristus yang obyektif yang duduk di surga, melainkan Kristus yang subyektif yang adalah hayat kita. Karena itu, mengalami Kristus itu berarti mengalami hayat, dan menyuplaikan Kristus itu berarti menyuplaikan hayat.

BELAJAR MEMOTONG DENGAN LURUS DAN MEMBICARAKAN FIRMAN KEBENARAN

Hari ini di antara orang-orang Kristen ada satu kekurangan dalam hal kebenaran dan Kristus. Kebanyakan pengkhotbah bisa membahas banyak topik dalam khotbah-khotbah mereka, tetapi kesulitan untuk menyajikan dengan tegas kebenaran tertentu kepada orang. Misalnya, kebanyakan pengkhotbah tidak bisa memberikan satu definisi yang tepat tentang inkarnasi. Selain itu, sekalipun satu definisi yang jelas dan tepat tentang inkarnasi itu bisa disajikan, banyak orang tetap saja lupa apa yang telah mereka dengar. Karena itu, kita harus berulang-ulang mempelajari kebenaran dan berlatih membicarakannya sampai kita benar-benar mengenalnya, hingga kita bisa membicarakannya dengan akurat bahkan dalam mimpi kita. Misalnya, ketika kita membicarakan tentang atribut-atribut Allah, urutannya seharusnya adalah kasih, terang, kudus, dan benar; kita tidak boleh membalikkan urutannya. Ini dengan jelas diuraikan secara rinci dalam Pelajaran-Hayat dan catatan-catatan kaki dari Perjanjian Baru versi Pemulihan. Catatan 3 dari 1 Yohanes 1:5 mengatakan bahwa kasih menunjukkan hakiki esens Allah, dan terang menunjukkan hakiki ekspresi Allah. Dengan kata lain, kasih adalah esens, dan terang adalah ekspresi. Kasih adalah yang pertama dan terang adalah yang kedua, karena kasih adalah esens Allah dan terang adalah ekspresi-Nya. Lagi, kudus berhubungan dengan sifat Allah, dan benar berhubungan dengan pergerakan Allah. Sifat Allah itu kudus, sedangkan pergerakan-Nya, tindakan-tindakan-Nya itu benar. Karena itu, kita harus terlebih dulu menyinggung kudus, kemudian baru benar.

Ini menuntut kita baik-baik belajar dan mengkaji kebenaran dengan serius. Kita harus belajar membedakan kasih dengan terang, kudus dengan benar, dan harus membicarakannya dengan akurat. Misalnya, Anda pergi ke satu restoran dan memesan satu makanan seharga dua puluh dolar. Setelah memesannya, Anda membayar dengan uang seratus dolar ke kasir dan ia mengembalikan sembilan puluh dolar kepada Anda. Andaikata setelah menerima sembilan puluh dolar, Anda menganggapnya seolah-olah tidak ada masalah, Anda makan dan minum sebagaimana biasanya, kemudian pulang ke rumah dan bermegah atas apa yang telah terjadi dan menunjukkannya kepada keluarga Anda. Perilaku semacam ini bukan berhubungan dengan kekudusan, melainkan berhubungan dengan kebenaran. Jika Anda mengambil sesuatu yang harganya dua puluh dolar, tetapi Anda hanya membayar sepuluh dolar, itu sama dengan mencuri sepuluh dolar. Tindakan semacam ini tidak benar. Marilah kita pakai contoh lainnya. Misalnya, Anda pergi ke satu restoran dan membeli makanan. Se-lain itu, Anda juga membeli beberapa rokok dan anggur. Kemudian Anda makan, merokok, dan minum. Meskipun ini bukanlah sesuatu yang tidak benar, tetapi ini tidak kudus. Allah tidak akan pernah membenarkan minum-minum dan merokok, karena Dia itu kudus, dan Dia tidak akan pernah mengambil keuntungan dari orang, karena Dia itu benar. Karena itu, kita terlebih dahulu membicarakan kekudusan-Nya kemudian kebenaran-Nya.

Kasih, terang, kudus dan benar adalah kebajikankebajikan bagi manusia. Namun, bagi Allah, hal-hal itu adalah atribut-atribut. Dalam kehidupan insani-Nya, Tuhan Yesus mengekspresikan kasih, terang, kudus, dan benar sebagai kebajikan-kebajikan insani-Nya. Dalam keilahian-Nya, Dia juga memiliki kasih, terang, kudus, dan benar, tetapi hal-hal itu tidak diekspresikan secara lahiriah. Sebaliknya, hal-hal itu tersembunyi secara batiniah sebagai atribut-atribut ilahi-Nya, yaitu isi yang kaya dari kebajikan-kebajikan-Nya. Misalnya, baik sarung tangan maupun tangan memiliki lima jari tangan, tetapi lima jari tangan dari tangan itu adalah isi batiniah yang memperkaya, sedangkan lima jari tangan dari sarung tangan itu adalah ekspresinya. Lima jari tangan dari sarung tangan itu adalah bagi ekspresi lahiriah, yaitu bagi satu penampilan yang indah. Jadi, lima jari tangan dari sarung tangan itu seperti kebajikan-kebajikan insani. Lima jari tangan dari tangan adalah yang tersembunyi di dalam sarung tangan itu; lima jari tangan ini bukanlah bagi satu penampilan yang indah, melainkan bagi isinya yang kaya. Karena itu, lima jari tangan dari tangan ini seperti atribut-atribut ilahi. Lima jari tangan dari tangan, sebagai atribut-atribut, yang tersembunyi di dalam lima jari tangan dari sarung tangan adalah untuk memperkaya dan menguatkan sarung tangan itu. Maka, yang terlihat secara lahiriah itu adalah kebajikan-kebajikan, yang tersembunyi secara batiniah itu adalah atribut-atribut.

Konghucu, orang China bijaksana pada zaman dulu juga membicarakan moralitas dan kebajikan-kebajikan, tetapi kebajikan-kebajikan yang ia ajarkan itu tidaklah diperkaya dan dikuatkan oleh atribut-atribut ilahi. Pada akhirnya, kebajikan-kebajikan itu seperti sarung tangan tanpa tangan di dalamnya, memiliki lima jari tangan yang kosong. Kebajikan-kebajikan yang disinggung dalam Alkitab memiliki atribut-atribut ilahi sebagai isinya dan dengan demikian menjadi kaya, kuat, dan unggul. Ini mirip dengan sebuah sarung tangan dengan tangan di dalamnya. Tuhan Yesus adalah Allah juga manusia. Dia adalah Allah, dan Dia adalah manusia, karena itu Dia adalah Manusia-Allah. Dia adalah manusia dengan keinsanian, dan Dia adalah Allah dengan keilahian. Dalam keinsanian-Nya ada kebajikan-kebajikan dan dalam keilahian-Nya ada atribut-atribut. Kebajikan-kebajikan insani-Nya menampung atribut-atribut ilahi-Nya, dan atribut-atribut ilahi-Nya memperkaya kebajikankebajikan insani-Nya. Karena penguatan dari atributatribut ilahi-Nya, maka kebajikan-kebajikan insani-Nya diperkaya. Inilah standar moralitas yang tertinggi — moralitas dari Manusia-Allah. Tuhan Yesus memiliki kehidupan yang demikian di bumi ini — kehidupan Ma-nusia-Allah.

PENGENALAN YANG TEPAT AKAN MENGHASILKAN PENGALAMAN YANG SUBYEKTIF

Sekadar memiliki kebenaran tanpa pengalaman itu sia-sia; karena itu, kita semua perlu memiliki pengalaman. Apakah kebenaran itu? Kebenaran adalah Allah, dan Allah adalah Kristus. Karena itu, terhadap kebenaran, kita tidak bisa hanya memiliki pengenalan yang doktrinal; kita harus mengalami Kristus. Misalnya, Anda memberi tahu orang bahwa Kristus memiliki keinsanian, di dalam keinsanian-Nya ada kebajikan-kebajikan insani, yang meliputi kasih, terang, kudus, dan benar. Anda juga memberi tahu mereka bahwa Kristus juga memiliki keilahian, di dalam keilahian-Nya ada atribut-atribut ilahi, yang meliputi kasih, terang, kudus, dan benar; dan karena Kristus memiliki atribut-atribut ilahi, maka kebajikan-kebajikan insani yang Dia ekspresikan itu unggul. Namun, mereka mungkin bertanya kepada Anda, “Apa hubungannya hal itu dengan aku?” Jika mereka bertanya demikian, Anda bisa memberi tahu mereka, “Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Karena Anda adalah seorang manusia, maka Anda diciptakan menurut gambar Allah, tetapi Anda tidak memiliki Allah di dalam Anda. Allah adalah Allah Sang kasih, terang, kudus, dan benar, karena itu Anda juga memiliki kebajikan-kebajikan seperti kasih, terang, kudus, dan benar. Namun, kebajikan-kebajikan ini seperti lima jari tangan dari sebuah sarung tangan, yang lunglai lemas. Ini karena Anda tidak memiliki Allah di dalam Anda. Namun, Allah ada di dalam Tuhan Yesus sebagai isi yang kaya yang terdiri dari kasih, terang, kudus, dan benar. Anda perlu menerima Yesus ini ke dalam Anda. Dia mati bagi Anda, dibangkitkan, dan telah menjadi Roh pemberi-hayat. Roh ini adalah Yesus Kristus, Allah itu sendiri. Begitu Anda berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka Roh ini akan masuk ke dalam Anda, yang berarti, Allah akan masuk ke dalam Anda. Kemudian, Dia sebagai kasih, terang, kudus, dan benar yang sesungguhnya akan sepenuhnya memperkaya kasih, terang, kudus, dan benar Anda.” Pembicaraan semacam ini akan menggugah kebutuhan batiniah mereka.

Untuk mempermudah orang mengalami dan menerapkan kebenaran secara subyektif, kita bisa memakai ilustrasi berikut ini. Misalnya, seseorang sangat mengasihi istrinya. Kasih ini diciptakan oleh Allah, tetapi kasih insaninya ini tidak tahan lama. Begitu istrinya marah dan memberinya muka masam, kasih insaninya itu berkurang. Ini membuktikan bahwa kasih manusia itu seperti lima jari tangan dari sarung tangan yang lunglai lemas; tidak diperkaya dan tanpa suplai dari kasih Allah. Namun, jika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, ia akan mendapatkan Allah. Kasih Allah akan ada di dalam kasihnya, dan hasilnya, ia akan mampu mengasihi istrinya, tidak peduli bagaimana istrinya memperlakukan dia. Dengan kata lain, sebagai sebuah “sarung tangan” yang kosong, ia telah dipenuhi dengan Allah sebagai “tangannya.” Dengan jarijari tangan yang sesungguhnya di dalamnya, maka jarijari tangan dari sarung tangan itu diperkaya dan dikuatkan. Sekarang ia mampu mengekspresikan satu kasih yang unggul. Demikian juga, kita memiliki kesabaran, yang diciptakan oleh Allah; itu seperti jari-jari tangan dari sarung tangan yang kosong. Kita perlu menerima Allah ke dalam kita. Begitu kita menerima Allah, Dia akan menjadi kesabaran di dalam kita, memperkaya dan menguatkan kesabaran kita. Akhirnya, kesabaran kita akan dikuatkan sama seperti jari-jari dari sarung tangan yang kosong itu diteguhkan ketika diisi oleh jari-jari dari tangan. Kesabaran Allah akan “dimasukkan” ke dalam kesabaran kita, dan kesabaran yang kita ekspresikan itu akan menjadi satu kebajikan yang unggul. Karena itu, untuk memiliki kebajikan-kebajikan yang unggul, kita harus memiliki atribut-atribut ilahi di dalam kita.

KEPERLUAN YANG MENDESAK UNTUK MEMPELAJARI KEBENARAN

Saya harap semua orang beriman, khususnya orang-orang muda mau mempelajari kebenaran secara demikian. Paulus mengatakan bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang penuh akan kebenaran (1 Tim. 2:4). Kita tidak boleh menjadi seperti anggota-anggota gereja yang tua dalam kekristenan, telah diselamatkan puluhan tahun, tetapi tetap ceroboh dalam kebenaran. Misalnya, banyak orang Kristen yang telah beroleh selamat bertahun-tahun namun tidak jelas tentang makna nama Yesus Kristus. Ada yang mengira Yesus itu sama dengan Kristus dan Kristus adalah Penyelamat. Jika Anda bertanya kepada mereka apa perbedaan antara istilah “Penebus” dan “Penyelamat”, mereka akan menganggap kedua istilah ini sama saja. Bahkan banyak orang beriman di antara kita yang tidak mengetahui rahasia dan seluk beluk yang ada di dalamnya. Saya tidak bermaksud menyingkapkan kelemahan orang, tetapi saya ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa kita ini terlalu terpengaruh tradisi-tradisi kristiani yang usang. Meskipun kita telah membicarakan banyak kebenaran yang tinggi di masa lampau, tetapi kita belum pernah dengan tepat mendefinisikan makna nama Yesus Kristus. Akibatnya, kita mungkin mengenal sesuatu tentang makna itu, tetapi tidak begitu yakin tentang hal itu. Inilah situasi umum dari orang-orang Kristen pada hari ini.

Singkatnya, “Yesus” berarti “Yehova Juruselamat”. Secara terperinci, kata Ibrani untuk “Yesus” tersusun dari dua kata. Kata pertama “Ye” berarti “Yehova” dan kata kedua “sus” berarti “Juruselamat”. Karena itu, “Yesus” berarti “Yehova Juruselamat”. Ini adalah definisi yang jelas dari nama Yesus. Kata Kristus berarti “Yang Diurapi”. Jadi, Yesus Kristus berarti Yehova Juruselamat adalah Yang Diurapi Allah.

Hal yang baik dari pendidikan sekolah adalah setiap perkara diberi definisi yang tepat, sehingga kita bisa mempelajari definisi yang tepat untuk hal-hal yang kita kenal secara umum. Jika seseorang tidak benar-benar memahami definisi dari berbagai hal, maka pembicaraannya mengenai hal-hal itu tidak akan begitu tegas dan akurat. Ketika orang-orang mendengarkannya, mereka akan tahu bahwa ia belum menerima banyak pendidikan. Orang-orang Kristen hari ini berkebaktian setiap minggu, menyembah Allah setahun lima puluh dua kali, namun setelah sepuluh atau dua puluh tahun, mereka mungkin tetap tidak yakin tentang kebenaran-kebenaran Alkitab. Hampir tidak ada satu pun dari antara mereka yang bisa menjelaskan makna-makna dari kasih, terang, kudus, dan benar. Inilah sebabnya orang-orang Kristen pada hari ini begitu lemah dan begitu miskin. Ini karena mereka belum dididik dengan tepat.

Gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan harus belajar dalam hal ini. Setiap orang beriman di setiap gereja harus terdidik dalam kebenaran. Ada satu kidung yang mengatakan bahwa gereja itu bukan sekolah atau pabrik, melainkan taman organik Allah untuk menumbuhkan Kristus (Suplemen 712). Yang kita lakukan di dalam taman adalah menanam dan menyiram. Namun, kita harus melihat bahwa pendidikan Alkitab bukan berarti menyuruh orang membuka sekolah; pendidikan Alkitab harus dilaksanakan di rumah-rumah. Para orang tua, angkatan yang lebih tua, harus mengajar anak-anak, yaitu angkatan yang lebih muda. Pada zaman dahulu, orang-orang Yahudi tidak memiliki sekolah-sekolah. Pendidikan mereka lakukan di rumah masing-masing dengan para orang tua yang memikul tanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka. Meskipun gereja bukanlah satu sekolah, melainkan satu keluarga, tetapi gereja tetap perlu melaksanakan fungsi mengajar. Kita harus menerima pendidikan di dalam gereja, bukan seperti pendidikan di sekolah, melainkan dengan pendidikan di rumah — para orang tua mengajar anak-anak yang lebih tua dan anak-anak yang lebih tua mengajar anak-anak yang lebih muda. Akhirnya, setiap orang akan tahu bagaimana berbicara dan mengajar. Dengan cara demikian, gereja akan dipenuhi dengan atmosfer saling belajar dan saling mengajar, dan semua orang beriman akan maju pesat dalam kebenaran.

Hari-hari ini saya sangat gembira karena ketika mengunjungi Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Filipina, saya melihat bahwa orang-orang muda di dalam gereja sedang menuntut kebenaran. Mereka bisa mengajar satu sama lain, dan bahkan mengajar kaum beriman yang lebih tua. Mereka bisa dengan tegas memberi tahu orang bahwa Yesus adalah Yehova Juruselamat dan bahwa Kristus adalah Yang Diurapi Allah, karena mereka telah mempelajari hal-hal ini dari Pelajaran-Hayat. Dulu, doktrin-doktrin lama yang kita ajarkan itu seperti kabut yang melayang di udara, sedikit pun tidak ada ketegasan. Namun, sekarang Pelajaran-Hayat menyajikan semua kebenaran dengan jelas dan tepat, sehingga orang bisa memahami kebenaran begitu membacanya. Karena itu, mulai sekarang dan seterusnya, kita harus mengubah tradisi keluarga kita. Jangan terpengaruh oleh kekristenan yang ceroboh; sebaliknya, kita harus sepenuhnya meninggalkan semua praktek yang usang. Ini bukan berarti kita harus membuang Alkitab, melainkan kita harus keluar dari kabut itu. Kita damba memiliki satu langit yang jernih terang, setiap kebenaran memiliki satu definisi yang jelas. Kita harus belajar sampai kita seluruhnya memahami dan bisa membicarakan kepada orang lain apa pembenaran itu, apa pengudusan itu, apa pembaruan itu, dan apa pengubahan itu.

MEMPELAJARI KEBENARAN UNTUK MENGALAMI DAN MENYUPLAIKAN KRISTUS

Setelah kita mempelajari kebenaran, kita masih harus mengalami Kristus, supaya Dia bisa menjadi realitas kita. Dengan demikian, ketika kita berbicara kepada orang lain, kita tidak akan memberikan pengetahuan atau doktrin kepada mereka, melainkan menyuplaikan Kristus kepada mereka. Misalnya, jika kita memberi tahu orang tentang manfaat Coca Cola namun tidak memberi mereka sekaleng Coca Cola untuk diminum, maka tidak peduli bagaimana menariknya pembicaraan kita, mereka tidak akan bisa menikmati manfaat dari Coca Cola itu. Ini hanya bisa berbicara tetapi tanpa suplai. Dulu kita kebanyakan hanya tahu menyuplai, tetapi tidak pandai berbicara; itu juga salah. Praktek yang tepat adalah kita semua mau belajar membicarakan Kristus dan menyuplaikan Kristus kepada orang lain.

Kisah Para Rasul 5:42 mengatakan bahwa para mu-rid sebermula memberitakan Yesus adalah Kristus (LAI: Mesias) ini berarti mereka memberitakan Yesus Kristus sebagai Injil. Yang mereka beritakan bukanlah satu doktrin yang kosong, atau satu Injil yang sukar dipahami, melainkan Yesus Kristus yang hidup, yang adalah realitas dan isi dari Injil itu. Setelah pemberitaan mereka, begitu orang-orang menerima Injil, dengan sendirinya mereka menerima Yesus Kristus.

Dalam Efesus 3:8, Paulus mengatakan bahwa ia memberitakan kepada orang-orang kekayaan Kristus yang tidak terduga itu sebagai Injil. Ini berarti Paulus tidak memberitakan beberapa doktrin, melainkan menyuplai mereka secara riil dengan kekayaan-kekayaan dari Tuhan Yesus Kristus. Misalnya, Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus memiliki keilahian dan keinsanian (Rm. 1:3-4). Ini berarti Dia adalah Allah dan manusia, yang memiliki semua atribut ilahi dan kebajikan insani. Ini adalah satu butir dari kekayaan Kristus. Selain itu, Dia juga telah melalui kehidupan insani, memahami semua kesusahan dan kesengsaraan dalam kehidupan insani, mengalami semua penderitaan dalam keinsanian. Kemudian Dia pergi ke salib dan mati; dalam kematian-Nya, Dia mengakhiri segala sesuatu dan menggenapkan penebusan bagi kita. Selanjutnya Dia bangkit dari kematian dan menjadi Roh pemberi-hayat. Roh pemberi-hayat ini adalah Allah Tritunggal, yang meliputi Bapa, Putra, dan Roh itu. Semua atribut Bapa, Putra, dan Roh itu yang meliputi kasih, terang, kudus, benar, hayat, kekuatan, kekuasaan, damai sejahtera, sukacita dan sebagainya, adalah butir-butir dari kekayaan-kekayaan yang tidak terduga. Namun, bagaimanakah semua kekayaan ini bisa menjadi pengalaman riil kita? Bagaimanakah kita menyuplaikan Kristus yang demikian kepada orang lain dalam pembicaraan kita?

Kita harus memberi tahu orang bahwa Kristus, yang memiliki seluruh kekayaan yang tidak terduga ini, sekarang adalah Roh pemberi-hayat. Dia adalah Penebus yang telah menggenapkan penebusan bagi kita, dan Dia adalah Penyelamat yang sedang menunggu untuk menyelamatkan kita. Roh ini, mahahadir, ada di dalam hati kita, di dalam mulut kita. Asal kita mengaku dosa, bertobat, dan berseru kepada nama Tuhan Yesus, membuka mulut kita dan percaya di dalam hati kita, Roh itu segera masuk ke dalam kita. Ketika Roh itu masuk ke dalam kita, Dia datang dengan segala kekayaan-Nya. Sejak itu, asalkan kita berseru kepada-Nya, menghirup Dia, dan menikmati Dia hari demi hari, seluruh kekayaan-Nya itu akan menjadi pengalaman kita, dan atributatribut-Nya seperti kasih, terang, kudus, dan benar akan menjadi kebajikan-kebajikan kita. Kemudian kita akan menemukan bahwa kasih kita itu tidak terbatas, kesabaran kita itu tahan lama, unggul, dan kekuatan kita itu besar. Tidak hanya demikian, kita akan berdoa bersama mereka. Begitu mereka berdoa, Roh itu akan masuk ke dalam mereka dan membuat mereka bisa menjamah realitas dan memahami serta menerima Kristus. Inilah cara menyuplaikan Kristus kepada orang. Pertama, kita harus membicarakan kebenaran dan menyajikan Kristus dengan jelas kepada mereka. Kemudian kita berdoa bersama mereka untuk menyuplai mereka secara riil di dalam roh dengan apa yang kita bicarakan kepada mereka, sehingga mereka bisa mendapatkan Kristus yang kita beritakan itu.

PERLUASAN GEREJA TERGANTUNG PADA PENYEBARAN KEBENARAN

Pertambahan jumlah orang yang lambat di dalam gereja-gereja adalah karena fakta bahwa kita tidak tahu bagaimana membicarakan kebenaran atau bagaimana menyuplaikan Kristus. Kita tidak tahu bagaimana memberitakan Kristus dengan jelas sebagai kebenaran kepada orang, kita juga tidak tahu bagaimana menyuplai mereka dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Inilah sebabnya beberapa tahun ini, kita sulit sekali mempertahankan orang-orang untuk tetap tinggal di dalam hidup gereja. Saya harap mulai sekarang, kita semua mau meluangkan waktu untuk mempelajari kebenaran, kemudian menyuplaikan Kristus kepada orang lain bagi perlipatgandaan dan perluasan gereja.

Misalnya, sebagai mahasiswa, Anda memiliki tiga puluh sampai empat puluh teman di kelas Anda. Anda bisa mencari sedikitnya dua atau tiga teman dari mereka untuk diajak membicarakan kebenaran. Para mahasiswa itu suka mendengarkan kebenaran. Jika Anda tidak memberitakan kebenaran, sebaliknya hanya mengobrol saja, membicarakan berbagai macam topik setiap hari, maka setelah empat tahun berlalu dan Anda lulus, Anda tidak akan membawa seorang pun kepada Tuhan. Sekarang Anda harus berubah dan menebus waktu ini. Selain waktu untuk tugas sekolah Anda, Anda tidak boleh menghamburkan waktu apa pun, melainkan selalu meraih setiap kesempatan untuk membicarakan kebenaran kepada teman sekelas Anda. Semakin jelas Anda menyajikan kebenaran, mereka akan makin menikmatinya.

Mereka juga akan menghormati Anda karena Anda mengenal Alkitab dan Kristus. Mungkin mereka telah menghadiri misa selama dua puluh tahun, atau telah berkebaktian pada hari Minggu di denominasi-denominasi selama lebih dari sepuluh tahun, tetapi mereka mung-kin belum pernah mendengarkan hal-hal yang Anda katakan kepada mereka. Selama Anda membicarakan Kristus dengan jelas, baik, dan logis, mereka akan mendengar perkataan Anda dengan rasa hormat.

Kita harus bisa sepenuhnya memahami dan menjelaskan kebenaran-kebenaran mengenai penebusan dan keselamatan kepada orang. Penebusan dan keselamatan adalah dua aspek. Penebusan membereskan masalah dosa-dosa kita, menebus kita kembali kepada Allah, membereskan masalah kedudukan kita. Penebusan ini meliputi pengampunan, pembasuhan, pembenaran, pendamaian, dan penerimaan oleh Allah. Keselamatan berhubungan dengan tujuan Allah dan meliputi kelahiran kembali, pengudusan, pembaruan, pengubahan, dan penyerupaan dengan gambar-Nya, akhirnya kemuliaan-Nya akan terekspresikan dari dalam kita, sehingga kita sepenuhnya dimuliakan. Semakin jelas kita membicarakan hal ini, orang-orang akan semakin menikmatinya dan pada akhirnya, mereka akan ditundukkan oleh kita dan akan mengapresiasi dan menghormati apa yang kita bicarakan.

Jika orang-orang muda bisa sering berbicara secara demikian kepada teman-teman sekelas mereka, mereka akan membangun satu keyakinan di antara mereka dan memperoleh penghormatan dan kepercayaan mereka.

Jika kita memotong kebenaran dengan lurus dan mewahyukan terang Alkitab kepada mereka, dengan spontan mereka akan menunjukkan rasa hormat mereka dan Roh Kudus juga akan bekerja di dalam mereka. Ketika kita berbicara kepada orang, Roh Kudus akan menjamah mereka, membuat mereka merasa diyakinkan dan kemudian bertobat, mengaku dosa, berdoa, dan beroleh selamat. Demikian, memimpin orang untuk diselamatkan bukanlah satu hal yang sulit. Jika kita tidak bisa membicarakan kebenaran, hanya bisa memberi tahu orang, “Gereja kami sungguh baik, ketika kami menyanyi, setiap orang bersorak riang ‘Haleluya’; ketika seseorang membagi nikmat, lainnya mengatakan, ‘Amin’.” Namun, jika orang bertanya kepada kita, mengapa kita berbuat demikian, saya khawatir kita tidak bisa menjawab karena kita sendiri juga mungkin tidak jelas. Dengan demikian orang-orang ini tidak bisa percaya.

Kita harus mempraktekkan hal ini dengan berhikmat. Jangan sekaligus berbicara terlalu banyak. Misalnya, dalam empat tahun di perguruan tinggi, Anda akan memiliki beberapa teman sekelas yang menghadiri kelas-kelas dan belajar bersama Anda. Anda bisa merencanakan untuk berbicara kepada mereka satu demi satu. Mungkin dalam dua bulan pertama, Anda tidak menemukan satu kesempatan yang baik, tetapi Anda bisa membicarakan sedikit. Lambat laun, mereka akan memperhatikan bahwa pengenalan Alkitab Anda itu maju dan bahwa pengenalan Anda terhadap kebenaran itu sangat jelas. Pada saat ini, kapan saja ada kesempatan, Anda harus membuka Alkitab dan berbicara kepada mereka. Anda bisa memberi tahu mereka bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, karena itu, kita semua memiliki gambar Allah; kita bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang bernilai, karena kita diciptakan menurut gambar Allah. Mereka akan terkejut mendengar hal ini dan ingin mendengar lagi. Demikian Anda bisa berbicara kepada mereka sedikit demi sedikit setiap kali Anda bertemu mereka. Jika Anda berbuat demikian, satu demi satu temanteman sekelas Anda akan diselamatkan melalui Anda.

Kita harus melakukan ini bukan hanya di sekolahsekolah, melainkan juga kepada para tetangga kita. Tidak lama berselang, semua tetangga kita akan menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang mengenal Alkitab, yang jelas tentang kebenaran, dan yang mengalami Kristus. Mereka akan merasa bahwa kita berperilaku baik dan memiliki satu karakter yang luhur, sehingga mereka akan menghargai pembicaraan kita. Jika begitu kita membuka mulut, mereka menghargai apa yang kita katakan, hasilnya pasti ada beberapa orang yang akan diselamatkan. Kita juga harus berbicara kepada para orang tua kita dan sahabat-sahabat kita secara demikian. Begitu mereka menghargai dan mempercayai kita, tidak akan terlalu sulit bagi kita untuk membawa mereka kepada keselamatan. Inilah cara menyuplaikan kebenaran kepada orang dan membawa orang kepada Tuhan.

Saya harap kita semua bisa setiap tahun membawa satu orang kepada Tuhan. Jangan mengira pertambahan secara demikian ini terlalu lambat; pada faktanya ini sangat cepat. Ambillah Taipei sebagai contoh. Sekarang ada lima ribu orang beriman di gereja di Taipei, dan populasi Kota Taipei adalah dua juta. Ada 365 hari atau 52 minggu, dalam setahun. Akan sangat mudah bila setiap tahunnya setiap orang beriman memimpin satu orang untuk diselamatkan. Dengan demikian, kita akan menggandakan jumlah kita setiap tahunnya. Kemudian dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, kita akan menginjilisasi seluruh Kota Taipei.

Kita sudah menunjukkan bahwa gereja adalah taman Allah. Karena gereja adalah taman, maka gereja tentu harus menghasilkan buah. Misalnya, ada pohon buah yang hanya berbuah satu buah dalam setahun, baik itu buah pisang atau buah mangga. Melihat ini, kita akan gembira atau sedih? Pertambahan begitu lam-bat, karena kita tidak tahu bagaimana membicarakan kebenaran. Jika kita sendiri tidak bisa menjelaskan nama “Yesus” dan “Kristus” dengan jelas, bagaimana mungkin kita bisa menjamah orang-orang? Jika kita hanya mengandalkan sidang-sidang Injil, kita akan menyia-nyiakan energi kita dan pada akhirnya, orang-orang tidak akan mau datang. Kita tidak bisa mengandalkan sidang-sidang Injil lagi. Sebaliknya, kita semua harus membicarakan kebenaran. Kita semua harus berbicara kepada teman-teman sekelas, para tetangga dan kenalan-kenalan kita. Jangan sekaligus berbicara terlalu banyak, berbicaralah kepada mereka sedikit demi sedikit, seminggu dua kali. Pada satu kesempatan, Anda mungkin memberi tahu mereka bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, pada kesempatan lainnya, Anda mung-kin memberi tahu mereka tentang kejatuhan manusia, dan selanjutnya Anda membicarakan tentang penebusan Kristus, penyaluran Allah.

Misalnya, pada awalnya, kita secara sederhana mung-kin berkata kepada orang, “Anda sangat baik, tetapi pernahkah Anda marah-marah? Jika Anda selalu bersungut-sungut, dan iri hati terhadap orang lain, itu membuktikan bahwa Anda adalah orang dosa. Namun, Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia yang memiliki keilahian dan keinsanian. Dia adalah Allah Sang kasih, terang, kudus, dan benar. Jika kita percaya kepada-Nya dan menerima Dia, kita akan dapat memperhidupkan kebajikan-kebajikan kasih, terang, kudus, dan benar. Karena itu, kita harus percaya kepada-Nya dan menerima-Nya.” Jika kita berbicara kepada orang-orang seperti ini seminggu dua kali, saya percaya, sejangka waktu kemudian, kita akan membawa satu orang kepada Tuhan.

Namun, kuncinya terletak pada kita memimpin orang untuk berdoa dan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kita harus memberi tahu mereka, “Hari ini Tuhan adalah Roh yang riil dan hidup, Dia ada di dalam mulut Anda. Asalkan Anda mau bertobat, membuka mulut Anda untuk berseru kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, dan percaya kepada-Nya, Dia akan masuk ke dalam Anda dan membawa Anda ke dalam pengalaman atas segala kekayaan-Nya.” Akhirnya, Anda bukan hanya akan memimpin satu orang kepada keselamatan dalam satu tahun, melainkan memimpin empat sampai lima orang. Pertambahan semacam ini akan luar biasa.

Singkatnya, alasan kita tidak bisa memimpin orang kepada Tuhan adalah karena kita tidak tahu bagaimana membicarakan kebenaran, tidak bisa menyuplaikan Kristus. Karena itu, jerih lelah kita menjadi sia-sia. Sekarang, saya harap kita semua mau dibangunkan, mau bangkit untuk mempelajari kebenaran, dan mau mengalami Kristus. Hanya kebenaran yang bisa menundukkan dan mendapatkan orang. Kita harus belajar, dimulai dari dasar dan terus maju memahami dan mempelajari kebenaran-kebenaran yang lebih dalam. Jika kita berbuat demikian, saya percaya bahwa dalam waktu lima tahun, kita akan menjadi sekelompok orang beriman yang menakjubkan, yang bukan hanya tahu bagaimana membicarakan kebenaran, tetapi juga bisa menyuplaikan Kristus kepada orang melalui Roh itu, berdoa bersama mereka, dan membuka mata mereka agar mereka juga bisa mendapatkan Kristus dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Demikian, gereja pasti bisa mengalami pertambahan.

MENEBUS WAKTU, MEMPELAJARI KEBENARAN

Saya harap tidak ada seorang pun di antara kita yang mengatakan bahwa ia tidak punya waktu. Ada orang yang berkata bahwa mereka benar-benar sibuk; tetapi begitu mengangkat telepon dan ngobrol, habislah waktu setengah jam sampai satu jam. Jika kita mau menghemat waktu-waktu kita untuk mempelajari kebenaran, kita akan memiliki waktu lebih dari cukup. Mudah sekali bagi kita untuk menghamburkan waktu dalam hidup kita sehari-hari. Karena itu, Paulus menyuruh kita untuk “menebus” waktu (Ef. 5:16; Kol. 4:5) dan mengerti kehendak Tuhan (Ef. 5:17). Menebus waktu berarti memegang setiap kesempatan; dan cara untuk menebus waktu adalah tidak sembarangan (gampang) menelepon, tidak bergosip, dan tidak menghamburkan waktu. Sebaliknya, harus menghemat semua waktu kita untuk mempelajari kebenaran.

Dulu, kalau ada orang ingin mempelajari kebenaran, ia kesulitan menemukan buku-buku referensi, tetapi sekarang ada banyak terbitan rohani di tengah-tengah kita, dan kebanyakan berhubungan dengan kebenaran. Jika kita damba untuk masuk ke dalam kebenaran, kita tidak akan kekurangan buku-buku referensi, dan tidak sulit untuk memasukinya. Asalkan kita mau berusaha, kita semua akan segera bisa membicarakan kebenaran. Saya harap kita semua mau memenuhi tuntutan Tuhan dan menetapkan minat nazar yang demikian, sehingga mulai hari ini, kita akan menghemat waktu kita dengan tidak bergosip, tidak melakukan percakapan telepon yang tidak perlu, dan tidak menghamburkan waktu kita. Sebaliknya, kita berusaha memakai waktu untuk mempelajari kebenaran, mengenal kebenaran, membicarakan kebenaran, mengalami Kristus melalui kebenaran, dan menyuplaikan Kristus kepada orang bersandarkan Roh itu. Jika demikian, Tuhan akan mendapatkan satu jalan yang luas dan terbuka di setiap tempat.